Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  1. Sejarah Alkitab > 
I. Sejarah Perjanjian Lama. 
sembunyikan teks

Tepat sekali untuk mempelajari sejarah Perjanjian Lama dalam empat bagian: (1) dari Penciptaan sampai ke Abraham, (2) dari Abraham sampai ke Musa, (3) dari Musa sampai ke Saul, dan (4) dari Saul sampai ke Kristus.

"Ada satu tema pokok yang ... terulang dalam semua cerita Perjanjian Lama," kata William Hendriksen. "Tema itu adalah Kristus yang akan datang."1 Ingatlah hal ini waktu kita meneliti tiap bagian dari Perjanjian Lama.

 A. Dari Penciptaan sampai ke Abraham. 
sembunyikan teks

Allah menyatakan kepada Musa bagaimana Ia menciptakan segala sesuatu, dan Musa menceritakan Penciptaan itu dalam Kitab Kejadian, kitab pertama di Alkitab. Menurut Kitab Kejadian, Allah menjadikan dunia dan segala isinya dalam jangka waktu enam hari, dan la menyatakan bahwa segalanya itu "sungguh amat baik". Pada hari ketujuh la beristirahat dari segala pekerjaan menciptakan itu. Para sarjana Kristen berselisih pendapat tentang berapa lamanya "hari-hari" ini atau apakah hari-hari itu merupakan kurun waktu.

Tetapi kita harus mendasarkan pengertian kita tentang makna "hari" pada apa yang dikatakan oleh Alkitab sendiri. Pertanyaan-pertanyaan lain apa pun yang dibiarkan belum terjawab, kisah alkitabiah itu tidak memungkinkan kita menerima teori modern bahwa kehidupan manusia telah melalui proses evolusi yang berjuta-juta tahun lamanya.

Orang Kristen juga berselisih pendapat mengenai tanggal Penciptaan. Daftar-daftar generasi di Alkitab mungkin telah melompati nama-nama, seperti yang kadang-kadang dilakukan oleh daftar-daftar silsilah lainnya. Karena itu banyak sarjana merasa bahwa tidak aman untuk sekadar menjumlahkan usia orang-orang yang tercatat untuk memperoleh jumlah tahun dalam sejarah Perjanjian Lama. Jumlah yang diperoleh dengan cara demikian mungkin terlalu kecil. Ada juga kesulitan-kesulitan lain dalam menghitung tanggal Penciptaan - kesulitan-kesulitan yang terlalu rumit untuk dibicarakan di sini (Lihat "Kronologi Alkitab").

Setelah Allah menciptakan manusia (Adam), la menempatkannya dalam sebuah taman yang dinamakan Eden. Di sana, Allah menetapkan bahwa lelaki dan perempuan (Hawa) yang pertama harus menyembah Dia dan memerintah bumi. (Hal ini kadang-kadang dinamakan "mandat budaya" kita.) Allah memerintah bahwa lelaki dan perempuan itu tidak boleh makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Apabila mereka makan, mereka akan mengetahui apa artinya untuk mengambil bagian dalam kejahatan, dan kehidupan berbahagia di Eden itu akan diambil dari mereka!

Kita mungkin berpikir bahwa tidak akan sukar bagi Adam dan Hawa untuk mematuhi perintah ini. Akan tetapi, satu makhluk lain muncul: Iblis, yang memimpin roh-roh jahat yang bersekongkol untuk mengalahkan Allah. Iblis menjadi seekor ular; dustanya membujuk Hawa untuk makan buah terlarang, dan Adam ikut makan dengannya. Mereka berdua berdosa terhadap Allah. Daripada hidup rukun dan damai dengan Tuhan, mereka mulai hidup dalam dosa dan kesengsaraan dan Allah tidak lagi berkenan pada mereka.

Allah berjanji kepada Adam dan Hawa bahwa Ia akan mengutus seorang Penebus (juga disebut Juruselamat atau Mesias), yang akan membinasakan Iblis dan mengembalikan mereka kepada hubungan yang benar dengan Dia (Kej. 3:15). Alkitab menceritakan bagaimana Allah melaksanakan rencana penyelamatan ini. Tentu saja, karena Alkitab memusatkan perhatian pada aspek yang satu ini dari sejarah dunia, kita tidak dapat mengharapkannya akan menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada masa purbakala. Alkitab hanya mencatat apa yang kita perlukan untuk mengerti sejarah penebusan.

Beberapa peristiwa penting terjadi di antara zaman Adam dan zaman Abraham, "bapa semua orang percaya" (Rm. 4:11). Misalnya, pembunuhan pertama terjadi. Adam dan Hawa mempunyai banyak anak laki-laki dan perempuan (Kej. 5:4), tetapi Alkitab menyebut dua saja karena mereka itu penting untuk sejarah penebusan. Hawa menyangka bahwa anak sulungnya, Kain, adalah orang yang akan membinasakan Iblis dan melepaskan mereka dari kutuk dosa dan kematian (Kej. 4:1). Akan tetapi, Kain membunuh Habel, adiknya, karena iri hati. Allah menghukum Kain dengan menghalau dia dari masyarakat orang-orang yang hidup bagi Allah. (Kita tahu Adam dan Hawa terus beribadah kepada Tuhan karena anak-anak mereka mempersembahkan kurban bakaran kepada-Nya (Kej. 4:3-5), Perjanjian Baru menyebut Habel seorang beriman sejati (Ibr. 11:4). Namun, Allah menyelamatkan Kain dari hukuman penuh atas kejahatannya; Ia menaruh tanda pada Kain sehingga orang lain akan mengetahui bahwa Tuhan tidak menghendaki dia dibunuh. Kita tidak tahu pasti apa tanda Tuhan itu, tetapi pasti itu tampak dengan jelas bagi orang lain.

Kemudian Allah memberikan kepada Adam dan Hawa anak laki-laki yang ketiga, Set, yang mengganti Habel. Penebus dunia akan datang dari keluarga Set.

Tetapi bagaimana tentang keluarga Kain? Alkitab menunjukkan bahwa anak laki-laki Kain, Lamekh, mewarisi cara hidup yang jahat dari ayahnya (Kej. 4:19-24). Lamekh menyombongkan diri bahwa ia tidak memerlukan perlindungan Tuhan karena ia dapat memakai pedangnya (Kej. 4:23-24). Ia menolak norma-norma kudus Allah untuk pernikahan dan mengambil lebih dari seorang istri. Sebetulnya, ia begitu meremehkan nyawa manusia sehingga ia membunuh orang yang memukul dia.

Kejahatan menjalar ke seluruh umat manusia (Kej. 6:1-4). Alkitab mengatakan bahwa orang-orang raksasa atau "orang-orang perkasa" hidup pada waktu itu, tetapi kehidupan rohani mereka sudah jelas tidak sebanding dengan tinggi badan mereka!

Tuhan mengirim Air Bah yang besar untuk menghukum umat manusia yang berdosa dan inilah kejadian yang terpenting dari zaman purba itu. Akan tetapi, Tuhan telah memelihara kehidupan Nuh dan keluarganya dalam sebuah bahtera (sebuah kapal kayu yang besar), agar akhirnya Ia dapat menepati janji-Nya untuk menebus umat manusia. Kini banyak orang Kristen yakin bahwa Air Bah itu telah menutupi seluruh dunia. Menurut II Ptr. 3:6, " . . . Bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah." Gleason L. Archer menunjukkan secara rinci bahwa bahtera itu cukup besar untuk memuat segala jenis binatang yang ada sekarang.2 Jika demikian, maka pasti bahtera itu dapat muat segala jenis kehidupan yang ada pada zaman Nuh. Perhatikan bahwa Tuhan mengirim tujuh pasang binatang halal ke bahtera itu (Kej. 7:2), sedangkan binatang yang haram hanya sepasang (Kej. 7:15).

Setelah Air Bah, Tuhan menetapkan hukuman mati untuk pembunuhan dan mengangkat manusia sebagai pelaksana hukuman mati itu (Kej. 9:1-7). la juga menempatkan pelangi di langit untuk mengingatkan umat-Nya bahwa la takkan pernah membinasakan umat manusia dengan air (Kej. 9:13-17).

Namun segera setelah Air Bah itu, anak laki-laki Nuh yaitu Kanaan (atau "Ham") berbuat dosa terhadap Tuhan (Kej. 9:20-29). Tuhan mengutuk Kanaan oleh sebab ia tidak menghormati ayahnya, Nuh (ay. 25).

Lalu Tuhan berfirman melalui Nuh untuk menggambarkan jalan sejarah berikutnya. Ia berfirman bahwa seorang keturunan Sem akan membawa keselamatan ke dalam dunia, dan keturunan Yafet akan mengambil bagian dalam keselamatan itu. Keluarga Yafet pindah ke bagian utara dan menjadi leluhur dari bangsa-bangsa bukan Yahudi pada zaman Perjanjian Baru (Kej. 10:2).

Satu hal lagi terjadi sebelum Abraham tampil. Penduduk kota yang sombong berusaha mencapai surga dengan membangun sebuah menara di Babel (Kej. 11). Allah menghukum cara hidup mereka yang tinggi hati itu dengan menceraiberaikan mereka menjadi kelompok-kelompok bahasa yang aneka ragam, kemudian menyebarkan mereka untuk tinggal di daerah-daerah.yang berbeda (Kej. 10:4; bdg. 9:1). Rupanya, dengan cara demikian mulailah berbagai rumpun bahasa yang besar di dunia.

Hal apakah yang diberi tahu oleh semua kejadian ini kepada kita? Jelaslah, hal ini menunjukkan bahwa kejahatan terus bertambah dari masa Air Bah sampai Abraham. Kita tahu bahwa orang-orang pada kurun waktu ini memuja banyak ilah (Yos. 24:2; bdg. Kej. 31:29-31), dan perbuatan dursila merajalela. Maka Allah, yang bermaksud menyelamatkan umat manusia, memutuskan untuk mulai kembali dengan satu keluarga . . . "olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

 B. Dari Abraham sampai ke Musa. 
sembunyikan teks

Tuhan memilih keluarga Abraham untuk mendatangkan keselamatan kepada orang-orang lain. Abraham tinggal di kota Ur (ibu kota kerajaan Sumer pada zaman dahulu).- Sekitar 2000 sM, Tuhan memanggil Abraham untuk meninggalkan rumah ayahnya dan pergi ke suatu negeri yang baru. Alkitab merunut langkah-langkah Abraham dari Ur ke Haran (di utara Palestina), melalui negeri Palestina, ke Mesir dan kembali ke Palestina. Allah berjanji akan memberi seorang putra kepada Abraham dan anak-anaknya akan menjadi suatu bangsa yang besar. Allah juga berjanji untuk menjadikan keturunan Abraham suatu berkat untuk segala bangsa (Kej. 12:2-3; 17:1-6). Mula-mula, Abraham percaya apa yang difirmankan Allah; tetapi kemudian ia sangsi apakah Allah akan melakukan apa yang dijanjikan-Nya, lalu ia berusaha untuk memaksa Allah dengan tindakannya. Demikianlah, ketika Tuhan tidak memberi dia seorang anak laki-laki secepat yang diharapkannya, Abraham mengambil hamba perempuan istrinya, Hagar, dan mendapatkan seorang anak laki-laki melalui dia. Meskipun dunia purba menerima cara ini untuk mendapatkan seorang ahli waris, perbuatan ini melanggar hukum Allah untuk pernikahan (Kej. 2:24), dan Abraham sangat menderita karena dosanya. Ismael, anak sulungnya, berbalik melawan Ishak, anak perjanjian yang dilahirkan 13 tahun kemudian. Maka Ismael harus meninggalkan rumah tangga Abraham.

Tetapi ketika tahun berganti tahun, Abraham dengan sepenuhnya percaya kepada Allah. Akhirnya Tuhan menyuruh dia mempersembahkan Ishak sebagai kurban bakaran untuk membuktikan kasihnya kepada Tuhan (Kej. 22). Pada saat itu, Abraham tahu bahwa Tuhan berharap ia akan taat. Demikianlah dengan mempercayai Tuhan, Abraham membaringkan anaknya di atas mezbah (bdg. Ibr. 11:17-19). Pada saat terakhir, Tuhan melarang dia untuk membunuh Ishak dan memberikan seekor domba jantan untuk dipersembahkan.

Lain kali, Abraham memohon kepada Allah untuk tidak membinasakan kota-kota yang berdosa tempat Lot, keponakannya, tinggal. Akan tetapi, Lot tidak berhasil menyelamatkan orang-orang di sekitarnya (bdg. II Ptr. 2:8); Tuhan tidak menemukan sepuluh orang benar di kota-kota itu. Karena itu Tuhan membinasakan kota-kota tersebut sebagaimana telah direncanakan-Nya. Sekali lagi, Tuhan sedang mendidik Abraham dan keluarganya untuk menaati Dia.

Setelah itu, Alkitab mengalihkan pandangan kita kepada kehidupan Yakub, putra kedua Ishak. Yakub hidup sekitar 1850 sM. Tuhan memilih Yakub untuk mewarisi janji-janji yang telah dikaruniakan kepada Ishak. Ia menyebut keluarga Yakub sebagai keluarga yang akan mendatangkan Sang Penebus ke dunia.

Pilihan itu betul-betul tidak masuk akal! Yakub menjadi dewasa sebagai seorang yang memikirkan dirinya sendiri dan pembohong. la mengakali kakaknya dan berbohong kepada ayahnya supaya ia dapat mencuri hak kesulungan Esau. Kemudian ia melarikan diri ke rumah pamannya, Laban, agar lolos dari kemarahan kakaknya. Tuhan menghadapi dia ketika ia melarikan diri, namun Yakub tidak menyerah.

Maka dengan perlahan-lahan dan dengan makan waktu yang lama Tuhan mulai mengajar Yakub untuk mempercayai Dia. Ia memberikan istri yang baik dan banyak harta kepada Yakub. Pamannya mengakali dia untuk mengawini Lea, seorang gadis yang tidak diingininya, maka ia bertahan terus untuk mengawini Rakhel, adiknya juga. Yakub menjadi kaya, tetapi keserakahannya menimbulkan kesukaran dalam keluarga dan ia harus meninggalkan negeri Laban. Ia kembali ke rumah ayahnya di Palestina. Ia mendapati bahwa Tuhan telah menyediakan jalan baginya dan kakaknya tidak marah lagi.

Namun, kesulitan Yakub belum berakhir. Bertahun-tahun kemudian, sepuluh anak laki-lakinya cemburu kepada adik laki-laki mereka, Yusuf, karena ternyata Yakub lebih menyukai dia. Yusuf telah bermimpi bahwa mereka akan tunduk kepadanya kelak bersama orang tua mereka. Kesepuluh saudaranya merasa tersinggung karena hal ini. Mereka menjebak Yusuf, menjual dia sebagai budak, dan memberi tahu ayah mereka bahwa ia sudah meninggal.

Para pedagang budak itu membawa Yusuf ke Mesir di mana ia menjadi salah seorang pelayan Potifar. Tuhan memakai Yusuf untuk mengartikan mimpi-mimpi Firaun dan pemuda ini diangkat menjadi orang kedua dalam pemerintahan di bawah Firaun.

Kemudian suatu bala kelaparan di Palestina mendorong keluarga Yusuf ke Mesir untuk mencari makanan. Mula-mula kakak-kakaknya datang. Ketika mereka menundukkan kepala di depan Yusuf, ia segera mengenali mereka; tetapi ia tidak memberi tahu mereka siapa dia. Pada akhirnya Yusuf memaksa mereka untuk membawa Benyamin, adiknya, ke Mesir juga. Lalu ia menyatakan identitasnya dan mengampuni mereka karena telah menjualnya sebagai budak. Yusuf mengajak mereka untuk membawa seluruh keluarganya. Firaun menyambut mereka dengan hangat dan memperbolehkan mereka menetap di daerah yang subur di Mesir.

 C. Dari Musa sampai ke Saul. 
sembunyikan teks

Sekarang Alkitab mengalihkan lampu sorotnya kepada Musa (sekitar 1526-1406 sM), yang menduduki tempat yang penting dalam sejarah penebusan. Keturunan Yakub mempunyai begitu banyak anak sehingga para firaun takut kalau-kalau mereka akan menguasai negeri itu. Karena itu seorang firaun yang baru memperbudak mereka dalam memerintahkan agar semua bayi laki-laki orang Israel dibunuh. Ibu Musa membaringkan dalam sebuah keranjang kecil dan membawanya ke istana dan membesarkan dia sebagai anak angkatnya. Ibu Musa menjadi inang penyusunya dan mungkin sekali ia merawatnya sampai jauh sesudah saatnya ia disapih (Kel. 2:7-10).

Sebagai pemuda Musa mulai merasa tertekan karena nasib umat-Nya: ia ingin mengeluarkan mereka dari perbudakan (Kel. 2:11; Kis. 7:24-25). Ketika Musa berusia 40 tahun, ia melihat seorang Mesir memukul seorang Israel; ia menjadi sangat marah lalu membunuh orang Mesir itu. Karena takut akan dihukum mati oleh firaun, Musa melarikan diri ke Gurun Midian (Kel. 2:14-15). Di sana ia menikah dengan seorang anak perempuan Yitro (juga disebut "Rehuel"), seorang imam kafir. Musa setuju untuk menggembalakan kambing domba Yitro (Kel. 2:16-21).

Setelah sekitar empat puluh tahun, Tuhan berfirman kepada Musa dari semak duri yang, menyala tetapi tidak dimakan api. Tuhan menyuruh Musa kembali ke Mesir dan memimpin bani Israel ke Palestina, negeri yang telah dijanjikan-Nya kepada Abraham. Musa merasa tidak mampu dan ia mengemukakan berbagai alasan untuk tidak pergi. Tuhan memecahkan setiap alasannya dan memberikan kuasa kepada Musa untuk mengadakan berbagai mukjizat yang akan membujuk orang Israel untuk mengikut dia. Tuhan menyatakan nama-Nya yang kudus YHWH (kadang-kadang diterjemahkan sebagai "Yehova") kepada Musa. Musa masih coba menolak dengan mengatakan, "Aku ini tidak pandai bicara..." karena mungkin ia sukar berbicara. Karena itu Tuhan mengirim Harun, kakak Musa, bersama dia untuk menerjemahkan perkataan Musa (Kel. 7:1).

Musa dan Harun meyakinkan orang Israel untuk mengikut mereka, tetapi firaun menolak untuk mengizinkan mereka meninggalkan Mesir. Tuhan mendatangkan sepuluh tulah yang menghancurkan ke atas Mesir untuk mengubah hati firaun (Kel. 7:17-12:36). Tulah yang terakhir membunuh putra yang sulung dalam tiap rumah yang pintunya tidak ditandai darah. Oleh sebab orang Israel menaati perintah Allah, maka malaikat maut melewati anak sulung orang Israel. (Tuhan memerintah orang Israel untuk merayakan peristiwa ini dengan hari raya setiap tahun yang disebut Paskah, artinya "melewati".) Tulah kematian ini membuat firaun menyerah; ia setuju untuk membiarkan bani Israel kembali ke tanah air mereka. Tetapi segera setelah mereka berangkat, firaun mengubah pikirannya lagi. la mengirim tentaranya untuk membawa bani Israel kembali.

Tuhan memimpin umat-Nya ke Laut Merah, di mana la membelah air laut dan memimpin mereka berjalan di tempat kering. Beberapa ahli, seperti Leon Wood, memperkirakan bahwa kejadian ini terjadi sekitar 1446 sM.3

Musa memimpin umat itu dari Laut Merah ke Gunung Sinai. Dalam perjalanan itu, secara ajaib Tuhan menyediakan roti dan burung puyuh untuk menjadi makanan mereka. Di Gunung Sinai, melalui Musa, Tuhan menyatakan undang-undang dan rancangan-rancangan sosial yang akan membentuk bani Israel menjadi bangsa yang kudus (Lihat "Hukum dan Ketetapan"). Kesepuluh Hukum termasuk dalam undang-undang ini.

Dari Sinai, Tuhan memimpin bani Israel ke Kadesy, di mana mereka mengutus pengintai-pengintai ke Palestina. Para pengintai melaporkan bahwa negeri itu kaya dan subur, tetapi penuh raksasa. Kebanyakan pengintai menganggap bahwa raksasa-raksasa itu akan menghancurkan mereka apabila mereka berusaha untuk merebut negeri itu. Hanya dua orang - Kaleb dan Yosua - yakin bahwa mereka patut berjuang untuk memperoleh negeri itu. Bani Israel menerima nasihat mayoritas yang tidak percaya dan mereka meninggalkan Palestina. Tuhan menghukum mereka untuk mengembara di padang belantara selama 40 tahun karena mereka tidak percaya pada-Nya.

Pada akhir pengembaraan mereka, mereka berkemah di dataran Moab. Di situ Musa berbicara kepada mereka untuk terakhir kalinya dan perkataannya tersurat dalam Kitab Ulangan. Musa menyerahkan kepemimpinannya kepada Yosua. Lalu ia memberi petunjuk-petunjuk terakhirnya kepada bani Israel dan menutup dengan sebuah kidung puji-pujian kepada Tuhan. Perhatikanlah bahwa Musa tidak dapat memasuki Negeri Perjanjian oleh karena ia telah memberontak melawan Tuhan di Meriba (Bil. 20:12). Akan tetapi, sesudah ucapan perpisahan Musa kepada orang Israel, Tuhan memimpin dia ke puncak Gunung Nebo untuk melihat negeri yang tidak dapat dimasukinya. Di puncak gunung itulah ia meninggal.

Dalam pertempuran dengan orang Amalek (Kel. 17:8-16), Yosua telah membuktikan bahwa ia seorang pemimpin yang cakap atas bala tentara Israel. Kini Tuhan memakai Yosua untuk memimpin bangsa Israel dalam menaklukkan dan menetap di Negeri Perjanjian. Yosua adalah salah seorang pengintai yang pertama kalinya melihat Negeri Perjanjian itu. Oleh sebab Yosua dan Kaleb mempercayai Allah, maka merekalah satu-satunya orang dewasa dari generasi mereka yang diizinkan Allah untuk memasuki negeri itu. Semua yang lain telah mati di padang belantara.

Demikianlah Musa mengangkat Yosua untuk menggantikan dia dan mengumumkan bahwa Allah akan menyerahkan Palestina ke dalam tangan Yosua. Setelah Musa meninggal, Allah berfirman kepada Yosua dan mendorong dia untuk tetap setia kepada panggilannya (Yos. 1:1-9).

Dengan segera Yosua memimpin Israel ke Negeri Perjanjian. Tuhan mengganjar iman Yosua dengan membantu Israel merebut negeri itu. Pertama, Tuhan membelah Sungai Yordan yang meluap-luap airnya sehingga orang Israel dapat menyeberang atas tanah yang kering (Yos. 3:14-17). Kemudian malaikat Tuhan memimpin orang Israel secara ajaib sehingga mereka mengalahkan kota Yerikho, kota pertama yang mereka rebut di Negeri Perjanjian. Ketika orang Israel meniup sangkakala mereka menurut perintah Tuhan, runtuhlah tembok-tembok kota Yerikho (Yos. 6). Di bawah pimpinan Yosua, Israel mulai menaklukkan seluruh negeri itu (Yos. 21:23-45). Mereka hanya menderita kekalahan di Ai, ketika seorang di antara mereka tidak menaati perintah Tuhan untuk pertempuran itu. Setelah menarik pelajaran dari kekalahan itu, orang Israel memutuskan untuk mematuhi perintah-perintah Tuhan dan berusaha sekali lagi, dan kali ini mereka mengalahkan Ai. Mereka menaklukkan 31 raja di daerah yang baru itu. Yosua membagi tanah itu di antara suku-suku Israel sesuai dengan petunjuk Allah. Menjelang kematiannya, Yosua mendorong bangsanya untuk terus mempercayai Tuhan dan menaati segala perintah-Nya.

Tetapi mereka tidak berbuat demikian. Setelah Yosua meninggal, "setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri" (Hak. 21:25). Para pemimpin besar dari kurun waktu ini bertindak mirip dengan Musa dan Yosua; mereka adalah pahlawan militer dan hakim kepala di pengadilan Israel dan kita menamakan mereka "hakim-hakim". Yang paling penting adalah: Otniel, Debora (satu-satunya hakim wanita), Gideon, Yefta, Simson, Eli, dan Samuel. (Rut hidup pada masa ini juga.)

Sewaktu Anda membaca kisah-kisah yang menarik dari para pahlawan zaman dahulu ini, luangkanlah waktu lebih banyak untuk membaca kisah Samuel. Ia salah seorang tokoh terpenting dari zaman itu.

Ibu Samuel telah berdoa memohon seorang anak laki-laki, sebab itu ia memuji Allah ketika Samuel lahir (I Sam. 12:1-10). Orang tua Samuel menyerahkan dia kepada imam kepala Eli, supaya ia dap