Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  8. Ugarit dan Orang Kanaan > 
II. Pemerintahan Kanaan. 
sembunyikan teks

Berbeda dengan Mesir, Mesopotamia, atau Asia Kecil, Kanaan purba tidak mempunyai seorang penguasa tunggal yang berkuasa atas seluruh negeri itu. Orang Kanaan tidak pernah menghasilkan seorang firaun atau raja yang tersohor. Tiap-tiap kota ini diperintah oleh seorang penguasa bawahan. Persatuan penguasa-penguasa ini yang berkuasa di atas seluruh Kanaan.

 A. Konsep Negara Kota.
sembunyikan teks

Kanaan terdiri atas beberapa negara kota, yang berpemerintahan sendiri dan sampai tingkat tertentu berswasembada. Seorang raja, lebih tepat disebut seorang bangsawan, memerintah di tiap negara kota. Pada Zaman Perunggu Tengah (20001500 sM) dan Zaman Perunggu Akhir (1500-1100 sM) setiap negara kota ini biasanya berada di bawah kekuasaan orang Mesir atau orang neo Het. Perhatikan bahwa kitab Yosua ps. 12 mencatat 31 orang raja yang diperangi oleh orang Israel ketika menaklukkan Kanaan.

 B. Para Raja Ugarit.
sembunyikan teks

Sukar bagi para sejarawan untuk menentukan dengan tepat bilamana, dan oleh siapa, wangsa raja-raja bawahan ini dimulai dalam sejarah Ugarit. Raja-raja dari Zaman Perunggu Akhir menggunakan sebuah meterai yang berinskripsi. "Yagarum putra Niqmad Raja Ugarit." Meterai ini mungkin sudah dipakai sejak abad ke-19 sM.

Para sarjana Alkitab tidak tahu siapa yang menjadi pemimpin atas komunitas di Ugarit selama beberapa abad berikutnya. Namun, kita dapat merunut para penguasa Ugarit dari abad ke-14 sM sampai ke penghancuran Ugarit pada abad ke-11 sM. Para penguasa Ugarit yang kemudian ini, menurut urutan suksesi, adalah:

1. Ammishtamru I

2. Niqmad II

3. Ar Khalba

4. Nigmepa

5. Ammishtamru II

6. Ibiranu

7. Nigmad II

8. Hammurapi' (bukan kerabat Hammurabi, hlm. 228)

Setidak-tidaknya dua raja yang pertama pada daftar ini adalah raja taklukan yang setia kepada Mesir dan secara teratur menyurat ke negeri tersebut. Buktinya kita temukan dalam surat-surat Amarna.

Niqmad II (atau Nigmaddu, dapat dieja begitu juga) hidup sezaman dengan firaun Mesir yang termasyhur, Akhenaton, yang juga dikenal sebagai Amenhotep IV (sekitar tahun 1360 sM). Nama Akhenaton dan Nefertiti, istrinya yang sama-sama termasyhur, terdapat pada jambangan-jambangan batu pualam putih yang ditemukan di Ugarit. Karena terbujuk akan mendapat tanah yang lebih luas, maka Nigmad II mengalihkan kesetiaannya dari firaun Mesir kepada seorang raja Het, Suppiluliuma. Nigmepa mempunyai pemerintahan yang terlama di antara semua penguasa Ugarit (kr. 1336-1265 sM). Ia berpihak pada bangsa Het melawan orang Mesir dan Firaun Raamses II pada pertempuran yang tersohor di Kadesy pada tahun 1285 sM. Pertempuran ini berakhir dengan jalan buntu dan bangsa-bangsa yang bersaingan ini membentuk sebuah pakta perdamaian. Pakta ini menguntungkan bagi Ugarit.

Raja kelima pada daftar kita, Ammistamru II, adalah putra Niqmepa. Ammishtamru hendaknya diingat karena riwayat tertulis mengenai pernikahan dan perceraiannya dari istrinya yang berzina. Bangsa Het memaksa Ammishtamru II data putranya, Ibiranu, untuk menyediakan uang dan tentara untuk membela mereka terhadap ancaman yang baru dari timur, orang Asyur. Orang-orang dari timur ini dikirim oleh Salmaneser I dan Tukulti-Ninurta I.

Pemerintahan raja-raja terakhir di Ugarit, Niqmad III dan Hammurapi, singkat dan tidak berarti. Selama masa pemerintahan mereka musuh dari barat, "Orang Laut", rupanya telah menjadi ancaman yang lebih berbahaya daripada orang Asyur, sementara beberapa bencana alam, seperti gempa bumi, mungkin telah melemahkan semua negara kota itu. "Orang Laut" menyerang, membakar, membinasakan sebagian besar penduduk, dan mengubur kota Ugarit sekitar tahun 1200 sM. Demikianlah keadaannya sampai kota itu ditemukan kembali oleh seorang petani Siria pada tahun 1928 M.



TIP #26: Perkuat kehidupan spiritual harian Anda dengan Bacaan Alkitab Harian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA