Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  7. Orang Babel dan Orang Asyur > 
V. Zaman Emas (1211-539 sM). 
 sembunyikan teks

Raja Kasit yang terakhir di Babilonia menghalau orang Asyur dari daerahnya pada tahun 1211 sM. Dengan demikian terjadilah keseimbangan kuasa yang tidak tenang antara orang Babel dan orang Asyur, yang memberi kesempatan kepada kedua bangsa itu untuk mencapai puncak kejayaan mereka.

 A. Nebukadnezar I (kr. 1135 sM).
sembunyikan teks

Bangsa Babel mengusir raja-raja Kasit pada tahun 1207 sM dan menempatkan satu keluarga baru dari raja-raja bumiputra di atas takhta. Raja keenam dari keturunan ini adalah Nabukadnezar I, yang mulai memerintah sekitar tahun 1135 sM. Beberapa kali Nabukadnezar dikalahkan oleh orang Asyur, namun ia mampu memperluas daerah kerajaan Babilonia. Ia juga berhasil menahan orang Elam pada perbatasan di sebelah timur. Putranya dan cucunya mengadakan serangan-serangan yang berhasil di daerah Asyur.

 B. Tiglat-Pileser I (kr. 1100 sM).
sembunyikan teks

Selama pemerintahannya, raja Asyur Tiglat-Pileser menaklukkan banyak bangsa di sekelilingnya. la masuk sampai jauh ke tengah-tengah daerah Babilonia dan merebut kota Babel untuk waktu yang singkat. Para katib istana Tiglat-Pileser mendirikan sebuah monumen batu yang bersegi delapan untuk mencatat berbagai kemenangannya, dan ia membangun kembali ibu kota Asyur yang lama. Kira-kira pada waktu ini Saul naik takhta di Israel.

Selama dua abad berikutnya, Babilonia dan Asyur mengalami masa-masa yang sukar. Perang saudara, komplotan, dan pengepungan bergabung untuk melemahkan mereka dan menghalangi keinginan mereka akan penaklukan. Sementara kedua raksasa ini bergumul dengan masalah mereka, bangsa Israel menikmati "zaman emasnya" sendiri di bawah pemerintahan Daud dan Salomo.

Tiglat-Pileser II (kr. 950 sM) memulai suatu keturunan raja yang baru di Asyur. Raja-raja ini membaharui usaha Asyur untuk membangun.sebuah imperium yang akan meliputi dunia yang dikenal pada waktu itu.

 C. Asyurnasirpal II (883-859 sM).
sembunyikan teks

Raja berikutnya di Asyur, Asyurnasirpal II, memimpin bala tentaranya melawan orang Aram di utara dan kemudian maju ke barat menuju pesisir Laut Tengah. Asyurnasirpal memaksa kota-kota yang ditaklukkan untuk membayar upeti yang berat kepada perbendaharaan kerajaannya dan sering kali ia mengirim raja-raja yang telah ditaklukkan ke penjara di ibu kotanya (Niniwe) untuk menjamin rakyatnya akan tetap setia. Ia mengadakan ekspedisi militer ini sementara pemerintahan Ahazia dan Atalya dari Yehuda. la juga membangun kembali Kalah, ibu kota Asyur yang lama.

 D. Salmaneser III (858-824 sM).
sembunyikan teks

Raja Asyur berikutnya, Salmaneser III, melanjutkan penaklukan ayahnya. Ia mengalihkan pandangannya ke selatan kepada kerajaan yang pecah, Israel dan Yehuda. Raja Ahab dari Israel dan Benhadad dari Damsyik menggabungkan kekuatan mereka untuk melawan para penyerbu ini (I Raj. 20:13-34). Pengganti Ahab, Raja Yehu, menyerah kepada orang Asyur. Tugu hitam Salmaneser memperlihatkan Yehu sujud kepada raja Asyur itu. Dengan sombong Salmanaser mengatakan bahwa ia "menginjak-injak negeri itu bagaikan sapi jantan yang liar."47

Imperium Asyur mengalami kemunduran yang parah di bawah keturunan Salmaneser. Putranya, Syamsyi Adad V (823-811 sM) mengalahkan suatu persekutuan dari orang Babel, orang Elam, dan beberapa bangsa timur lainnya. Raja berikutnya berusaha untuk mempersatukan Babilonia dan Asyur dengan membawa lambang-lambang keagamaan Babel ke Niniwe. Akan tetapi, siasat ini gagal. Rakyat Babel memberontak, dan serentetan kelaparan dan kekalahan militer menunjukkan keadaan Asyur yang berangsur-angsur merosot.

 E. Tiglat-Pileser III (745-727 sM). 
sembunyikan teks

Tiglat-Pileser III menghidupkan kembali pengharapan Asyur untuk menjadi sebuah imperium dunia. Ia memperoleh kembali daerah Babilonia, merebut kembali kota-kota Aram, dan mengembalikan bala tentara Asyur ke medan pertempuran di Palestina. Dukumen-dokumen kerajaan Tiglat-Pileser menyatakan bahwa kota-kota asing telah "dihancurkan bagaikan banjir yang hebat" oleh gerak majunya yang tiba-tiba itu.48 Tiglat-Pileser merebut Israel dan Damsyik pada tahun 732 sM, lalu menempatkan Hosea di takhta Israel sebagai seorang raja boneka (II Raj. 15-16).

almanac
 F. Penghancuran Israel.
sembunyikan teks

Raja Hosea mengambil keputusan yang bodoh untuk memberontak terhadap pengganti Tiglat-Pileser, Salmanaser IV. Ia mengadakan persekutuan dengan firaun dari Mesir dan berhenti membayar upeti kepada ibu kota Asyur. Salmanaser menyerang dan menawan Hosea, lalu mengepung kota Samaria. Salmanaser wafat tepat sebelum kota itu menyerah pada tahun 721 sM (II Raj. 17).

Inilah hembusan napas Israel yang terakhir. Raja Asyur yang baru, Sargon (722-705 sM), membuang bangsa Israel ke daerah pedalaman dari Imperium Asyur yang berkembang. Suku-suku ini takkan pernah kembali ke Negeri Perjanjian.

 G. Penghancuran Yehuda.
sembunyikan teks

Salmaneser dan para penggantinya, Sargon (722-705 sM) dan Sanherib (705-681 sM), harus menumpas beberapa pemberontakan di bangsa Israel yang telah dikalahkan (II Raj. 17:24-18:12). Sanherib merebut kota-kota yang dibentengi di Yehuda dan menuntut penyerahan Yerusalem (II Raj. 18), tetapi ia harus menarik mundur pasukan-pasukannya untuk memerangi Merodakhbaladan, raja Babel yang memberontak.

Setelah hidup di bawah pemerintahan Asyur sejak 1100 sM, orang Babel mengambil kesempatan ini untuk menyatakan kemerdekaan mereka dari Imperium Asyur yang berkembang. Sanherib mengalahkan Merodakhbaladan, tetapi seorang raja yang lebih berkuasa bernama Nabopolasar naik takhta Babilonia. Ia mampu mempersatukan semua negara kota dari Imperium Babilonia yang lama dan memulihkan sebagian besar dari kemuliaan Babilonia yang sebelumnya. Nabopolasar dan putranya Nebukadnezar II, memimpin pasukan mereka melawan Nekho firaun di Mesir, yang berusaha untuk memperoleh kekuasaan atas Imperium Asyur yang makin lemah. Bala tentara mereka bertemu di Karkemis, di mana orang Babel mengalahkan orang Mesir dalam salah satu pertempuran yang besar di dunia purba (604 sM).

Para firaun Mesir menghasut pemberontakan di antara raja-raja Yehuda untuk mengalihkan perhatian musuh mereka, orang Babel. Ketika Yoyakim dari Yehuda menolak untuk membayar upeti kepada Nebukadnezar II, raja Babel itu merebut Yerusalem dan mengasingkan sebagian penduduknya pada tahun 597 sM (II Raj. 24:8-17). Pengganti Yoyakim, Raja Zedekia, juga mengikuti nasihat buruk dari orang Mesir, dan Nebukadnezar menyerang Yerusalem lagi. Kali ini ia membinasakan kubu-kubu kota Yerusalem dan membawa tertawan bagian terbesar dari penduduknya (II Raj. 25). Dengan demikian berakhirlah kerajaan yang pecah, Israel dan Yehuda, pada tahun 586 sM.

 H. Kegagalan Nebukadnezar II.
sembunyikan teks

Nebukadnezar menyerbu Mesir dan kota-kota pesisir Palestina untuk melindungi perbatasan dari imperiumnya yang baru. Selama lebih dari dua puluh tahun sesudah kejatuhan Yerusalem, Nebukadnezar memerintah Imperium Babilonia yang berkuasa. Para arsiteknya mengangkat ibu kota Babel ke puncak kemegahannya, serta menghiasinya dengan taman-taman gantung yang tersohor.

"Secara sadar para pemimpin berusaha untuk kembali kepada cara-cara dan adat istiadat yang lama. Kata orang kurun waktu ini pantas disebut Renaisans Babilonia Kuno."49



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA