Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  7. Orang Babel dan Orang Asyur > 
III. Orang Babel Zaman Purba. 
sembunyikan teks

Para penyerbu Semit dari Kanaan dan Gurun Arab merebut Mesopotamia dari kekuasaan Elam pada sekitar 2000 sM. Penguasa Babilonia, seorang yang bernama Hammurabi, tampil sebagai penguasa baru atas negeri "di antara dua sungai" itu.

 A. Hammurabi (1792-1750 sM).
sembunyikan teks

Hammurabi mempersatukan kota-kota Mesopotamia seperti yang telah dilakukan Sargon sebelum dia. Ia mendirikan sebuah sistem pos kerajaan, jaringan jalan yang baru, dan garis komando yang efektif bagi para pejabat pemerintahannya. Hammurabi menyusun undang-undang Mesopotamia dalam bentuk tertulis yang disederhanakan. Undang-undang ini diukir pada sebuah tiang batu raksasa yang ditemukan di Susa. Para sarjana modern telah menyatakan Kitab Undang-Undang Hammurabi ini sebagai "sebuah monumen kebijaksanaan dan keadilan."46

 B. Sastra Babel.
sembunyikan teks

Lempeng-lempeng cuneiform dan monumen-monumen batu dari Babilonia memberikan amat banyak informasi mengenai kehidupan di Imperium Babilonia tidak lama setelah zaman Abraham. Bukti sastra ini mencakup surat-surat yang sangat pribadi sampai prasasti-prasasti umum yang sangat besar yang membanggakan kuasa dan martabat raja.

Dokumen yang paling tersohor dari kurun waktu ini adalah Kitab Undang-Undang Hammurabi. Hammurabi menggunakan deklarasi yang akbar ini untuk menegaskan bahwa para dewa mendukung pemerintahannya. Ia menulis, "Saya, Hammurabi, raja yang sempurna di antara raja-raja yang sempurna, tidak bersikap serampangan dan juga tidak lamban berkenaan dengan warga negara Sumer dan Akad, yang telah dikaruniakan oleh Enlil kepada saya. Juga kepada saya, Marduk telah mempercayakan tugas memelihara mereka. Saya senantiasa mencari tempat-tempat yang aman bagi mereka, saya mengatasi berbagai kesulitan serius, saya menyebabkan terang bersinar untuk mereka. Dengan senjata-senjata dahsyat yang dipercayakan oleh Zababa dan Isytar kepada saya, dengan hikmat yang diberikan Ea kepada saya, dengan kemampuan yang diberikan Marduk kepada saya, maka saya menumbangkan musuh-musuh di atas dan di bawah, saya meredakan berbagai bencana, tanah air yang sangat luas ini saya jadikan daerah yang menyenangkan dengan irigasi . . . Saya adalah raja diraja yang sangat ulung, perkataan saya berharga, kemampuan saya tak ada tandingannya. Sesuai dengan perintah dewa matahari, hakim yang mulia atas langit dan bumi, semoga undang-undang saya dinyatakan di tanah air."

Bagian ini menggambarkan cita-cita pemerintahan dari salah seorang penakluk yang besar dalam sejarah. Pada monumen batu yang besar ini, Hammurabi mencatat 282 undang-undang untuk mengatur kehidupan sehari-hari di imperium itu. (Lihat "Undang-Undang dan Peraturan.")

Para arkeolog telah menemukan banyak lempeng tanah liat yang memerikan pemujaan bermacam dewa Babel. Arca dan ukiran dewa-dewa ini tidak begitu mengesankan. Sebenarnya, rupanya orang Babel lebih memuja raja daripada dewa yang diwakilinya. Dewa-dewa itu adalah lambang patriotis dari berbagai kota di Babilonia. Maka orang-orang Babel yang mengadakan perjalanan selalu berusaha untuk menghormati dewa dari kota-kota yang mereka kunjungi, agar tidak menyinggung perasaan dari warga kota itu.

Agama mewarnai setiap aspek dari kehidupan di Babilonia. Puing-puing kota-kota di Babilonia memuat berbagai inskripsi doa untuk tiap kesempatan yang dapat dipikirkan. Beberapa doa ini tidak ditujukan kepada dewa yang khusus, dan berbunyi seperti ini, "Semoga dewa yang tidak dikenal berbaik hati kepada saya."

Naskah-naskah agama lainnya dari Babilonia mengaku dosa-dosa si pemuja dan memohon pengampunan pada para dewa. Pakar-pakar menamakan salah satu lempeng ini, "Ratapan Penderita Yang Benar."

Sayang sekali, sangat sedikit dokumen dari Babilonia purba yang menggambarkan peristiwa-peristiwa politik dari zaman itu. Kita harus menyusun kembali sejarah dari petunjuk-petunjuk sambil lalu pada monumen-monumen dan surat-surat kerajaan. Demikianlah, kesusastraan Babilonia kurang membantu dalam menetapkan tarikh peristiwa-peristiwa alkitabiah; untuk ini kita harus mengandalkan catatan-catatan dari kebudayaan ketiga yang besar di Mesopotamia - yaitu orang Asyur.

 


TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA