Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  6. Orang Mesir >  III. Agama dan Sejarah. > 
D. Periode Peralihan yang Kedua. 
sembunyikan teks

Menjelang tahun 1700 sM, raja-raja Hyksos ("penguasa-penguasa asing") merebut kekuasaan atas Mesir dan menjadikan Heliopolis ibu kota mereka yang baru. Mereka menerima Re, dewa setempat di Heliopolis, sebagai dewa nasional dari kerajaan baru mereka. Re adalah dewa matahari yang lain; para seniman menggambar dia sebagai manusia berkepala elang dengan cakram matahari di atas kepalanya. Raja-raja Hyksos memakai Re untuk menekankan bahwa Heliopolis menguasai seluruh Mesir. Sebenarnya, raja-raja Hyksos menguasai Mesir Hilir saja, sedangkan para raja di Lembah Nil Hulu tetap berkuasa di daerah mereka masing-masing. Mesir di bawah pimpinan kaum Hyksos tidak terorganisasi dengan baik seperti pada masa Kerajaan Lama dan Kerajaan Pertengahan. Akan tetapi, kesusastraan dan kebudayaannya jauh melampaui apa pun di Palestina pada waktu itu, yang juga sedang mengalami pergolakan politik dan ekonomi.

Beberapa pakar beranggapan bahwa peristiwa Keluaran terjadi selama masa raja-raja Hyksos; tetapi pakar lain berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah kaum Hyksos dikeluarkan dari Mesir. Sayang sekali, nas Alkitab dan bukti arkeologis tidak saling mendukung dalam hal ini. Tarikh yang paling mungkin untuk peristiwa Keluaran (thn. 1446 sM) dibicarakan di bawah "Kronologi Alkitab". Seorang penguasa Hyksos mungkin adalah "firaun yang tidak mengenal Yusuf" (Kel. 1:8). Kaum Hyksos Semit ini mungkin merasa bersaing dengan orang Ibrani dan ingin menindas mereka sebanyak-banyaknya. Bahkan setelah kaum Hyksos ini digulingkan, para penguasa Mesir tetap menindas orang Ibrani.

Setelah sekitar satu abad, Raja Kamose dari Thebes mematahkan kekuasaan para raja Hyksos di Mesir dan mempersatukan bangsa itu di bawah kota Thebes sekali lagi. Kamose, adiknya Ahmose, dan para pengganti mereka membaharui agama Mesir sekali lagi. Perubahan-perubahan dalam agama ini merupakan suatu kiat politik. Para imam yang menguasai berbagai kuil dan kota berjuang untuk memperoleh kuasa politik atas firaun. Mereka menghidupkan pemujaan kepada Amun lagi, menggabungkannya dengan agama Re, dan menamakan dewa nasional yang baru itu Amun-Re. Hal ini mempersiapkan jalan bagi sebuah zaman baru dalam politik Mesir, yang dinamakan Kerajaan Baru (1575 - 1085 sM). Ahmose menikahi saudara perempuannya, Putri Ahmose Nofretari, dan menyatakan bahwa dia adalah istri Amun. Dengan demikian mereka berdua memperoleh martabat rohani.



TIP #17: Gunakan Pencarian Universal untuk mencari pasal, ayat, referensi, kata atau nomor strong. [SEMUA]
dibuat dalam 0.04 detik
dipersembahkan oleh YLSA