Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  6. Orang Mesir > 
III. Agama dan Sejarah. 
 sembunyikan teks

Ketika Manetho, seorang imam Mesir (kr. thn. 305 - 285 sM) menulis sebuah sejarah Mesir dalam bahasa Yunani, ia membagi sejarah para raja menjadi 30 (kemudian diperluas menjadi 31) periode yang dikenal sebagai "wangsa." Wangsa-wangsa itu kemudian dikelompokkan menjadi kerajaan: Kerajaan Lama (kr. 2800 - 2250 sM: wangsa 3-6), Kerajaan Pertengahan (kr. 2000 - 1786 sM; wangsa 11-12), dan Kerajaan Baru (1575 - 1085 sM; wangsa 18-20). Manetho menamakan masa para firaun yang terakhir sebagai Akhir Periode Wangsa (kr. 663 - 332 sM; wangsa 26-31). Dua wangsa pertama termasuk Awal Periode Wangsa (3100 - 2800 sM). Di antara Kerajaan Lama dan Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru terjadi masa-masa yang rusuh, yang secara berturut-turut dikenal sebagai Periode Peralihan Pertama dan Periode Peralihan Kedua. Masa di antara Kerajaan Baru dan Akhir Periode Wangsa dikenal sebagai Periode Peralihan Ketiga (1085 - 661 sM).

Penaklukan oleh Aleksander Agung memperkenalkan sebuah periode baru dalam sejarah Mesir, yang dikenal sebagai Periode Ptolemeus (332 - 30 sM). Dengan kemenangan atas Cleopatra VII, Kaisar Augustus menjadikan Mesir sebuah propinsi Romawi (30 sM - 395 TM.).

Perkembangan agama Mesir telah ditinjau di bagian yang berjudul "Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala," tetapi di sini kita harus memperhatikan kesetiaan firaun-firaun yang berbeda kepada dewa-dewa Mesir yang berbeda pula. Kepercayaan beragama seorang firaun sering kali menyatakan sesuatu mengenai watak pribadinya dan berbagai ambisi politiknya.

 A. Awal Periode Wangsa dan Kerajaan Lama. 
sembunyikan teks

Sebelum Menes mempersatukan Mesir (kr. 3200 sM), negeri itu terbagi atas dua kerajaan yang kira-kira cocok dengan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Set, dewa pelindung kota Ombos, telah menjadi dewa Mesir Hilir sedangkan Horus, dewa pelindung kota Behdet, telah menjadi dewa Mesir Hulu. Ketika Menes dari Thinis mempersatukan kedua Mesir itu (kr. 3200 sM), ia menjadikan Horus, dewa langit, sebagai dewa nasional dan menyatakan bahwa dirinya adalah penjelmaan Horus. Sebagian besar firaun dari Kerajaan Lama (2800 - 2250 sM) melakukan hal yang sama, dan orang Mesir membangun sekumpulan besar mitos mengenai Horus. Kerajaan Lama juga diingat karena piramide-piramidenya yang tersohor.

 B. Periode Peralihan Pertama.
sembunyikan teks

Periode Peralihan Pertama terjadi sesudah Kerajaan Lama. Masa pergolakan sosial ini menyaksikan keruntuhan total pemerintah pusat. Para pangeran dan tuan tanah Setempat memperoleh kekuasaan selama wangsa ke-6: akhirnya mereka menjadi merdeka sama sekali. Selama wangsa ke-11 para penguasa Thebes mengembalikan ketenteraman kepada bangsa yang dilanda kesukaran, tetapi mereka tidak berhasil untuk mempersatukan Mesir kembali. Pada waktu ini Abraham datang ke Mesir untuk memperoleh kelegaan dari kelaparan yang terjadi di Palestina (Kej. 12:12-20), "Firaun" yang hendak dikelabui oleh Abraham boleh jadi seorang raja dari Thebes, tetapi kemungkinan besar ia seorang penguasa dari daerah Mesir Hulu.

 C. Kerajaan Pertengahan. 
sembunyikan teks

Kerajaan Pertengahan mulai sekitar tahun 2000 sM ketika Amenemhet I dari Thebes memaksa para bangsawan negeri itu untuk menunjukkan kesetiaan kepadanya meskipun dengan enggan. Amenembet menjadikan Amun, dewa Thebes, dewa nasional dari Kerajaan Pertengahan yang baru. Dengan menegakkan Amun sebagai lambang rohani dari wangsa barunya, Amenemhet menguji kesetiaan politis warga negaranya. Orang Mesir yang setia memuja Amun karena patuh kepada firaun baru mereka, seperti yang kemudian dilakukan oleh para patriot sebuah negeri yang bersatu keliling bendera mereka. Selama lebih dari 200 tahun (2000 - 1780 sM) para firaun Amenemhet dan Senwosret memakai Thebes sebagai pusat kekuasaan mereka dan memuja Amun sebagai "raja para dewa."

Yusuf dibawa ke Mesir sebagai seorang budak sekitar tahun 1876 sM (bdg. Kej. 37:5-28). Beberapa tahun kemudian ia menjadi wasir (seorang perwira yang menjadi nomor dua di bawah firaun sendiri) dalam kerajaan Mesir yang bersatu dan berkuasa (bdg. Kej. 41:38-46). Selama periode Kerajaan Pertengahan ini, Mesir mulai sadar akan dunia. Ia mulai berdagang barang-barang komersial dengan Kreta, Palestina, Siria, dan negara-negara lain. Kesenian dan kesusastraan berkembang dan keadaan yang aman sentosa pada umumnya berlaku. Ketika Yakub dan keluarganya bermigrasi ke Mesir, sudah pasti mereka merasa aman dari serangan dan penganiayaan.

 D. Periode Peralihan yang Kedua.
sembunyikan teks

Menjelang tahun 1700 sM, raja-raja Hyksos ("penguasa-penguasa asing") merebut kekuasaan atas Mesir dan menjadikan Heliopolis ibu kota mereka yang baru. Mereka menerima Re, dewa setempat di Heliopolis, sebagai dewa nasional dari kerajaan baru mereka. Re adalah dewa matahari yang lain; para seniman menggambar dia sebagai manusia berkepala elang dengan cakram matahari di atas kepalanya. Raja-raja Hyksos memakai Re untuk menekankan bahwa Heliopolis menguasai seluruh Mesir. Sebenarnya, raja-raja Hyksos menguasai Mesir Hilir saja, sedangkan para raja di Lembah Nil Hulu tetap berkuasa di daerah mereka masing-masing. Mesir di bawah pimpinan kaum Hyksos tidak terorganisasi dengan baik seperti pada masa Kerajaan Lama dan Kerajaan Pertengahan. Akan tetapi, kesusastraan dan kebudayaannya jauh melampaui apa pun di Palestina pada waktu itu, yang juga sedang mengalami pergolakan politik dan ekonomi.

Beberapa pakar beranggapan bahwa peristiwa Keluaran terjadi selama masa raja-raja Hyksos; tetapi pakar lain berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah kaum Hyksos dikeluarkan dari Mesir. Sayang sekali, nas Alkitab dan bukti arkeologis tidak saling mendukung dalam hal ini. Tarikh yang paling mungkin untuk peristiwa Keluaran (thn. 1446 sM) dibicarakan di bawah "Kronologi Alkitab". Seorang penguasa Hyksos mungkin adalah "firaun yang tidak mengenal Yusuf" (Kel. 1:8). Kaum Hyksos Semit ini mungkin merasa bersaing dengan orang Ibrani dan ingin menindas mereka sebanyak-banyaknya. Bahkan setelah kaum Hyksos ini digulingkan, para penguasa Mesir tetap menindas orang Ibrani.

Setelah sekitar satu abad, Raja Kamose dari Thebes mematahkan kekuasaan para raja Hyksos di Mesir dan mempersatukan bangsa itu di bawah kota Thebes sekali lagi. Kamose, adiknya Ahmose, dan para pengganti mereka membaharui agama Mesir sekali lagi. Perubahan-perubahan dalam agama ini merupakan suatu kiat politik. Para imam yang menguasai berbagai kuil dan kota berjuang untuk memperoleh kuasa politik atas firaun. Mereka menghidupkan pemujaan kepada Amun lagi, menggabungkannya dengan agama Re, dan menamakan dewa nasional yang baru itu Amun-Re. Hal ini mempersiapkan jalan bagi sebuah zaman baru dalam politik Mesir, yang dinamakan Kerajaan Baru (1575 - 1085 sM). Ahmose menikahi saudara perempuannya, Putri Ahmose Nofretari, dan menyatakan bahwa dia adalah istri Amun. Dengan demikian mereka berdua memperoleh martabat rohani.

 E. Kerajaan Baru. 
sembunyikan teks

Secara resmi Kerajaan Baru mulai ketika putra Ahmose, Amenhotep I, mengganti dia pada tahun 1546 sM. Perhatikanlah bahwa Amenhotep menamakan dirinya menurut dewa ayahnya, Amun-Re; ia juga menyebut dirinya "Putra Re".

Secara berangsur-angsur orang Mesir mulai berpikir tentang firaun mereka sebagai dewa dalam keadaan manusia, dan mereka menyembah firaun sebagai dewa. Misalnya, sejarah resmi Mesir menunjukkan bahwa ketika Thutmose II wafat (kr. thn. 1504 sM) ia "pergi ke surga dan bersahabat dengan dewa-dewa.40

Firaun-firaun lain dari Kerajaan Baru mengikuti kebiasaan untuk menamai diri mereka menurut Amun-Re (misalnya, Amenophis, Tutarikharren). Ketika Hatshepsut mengambil kekuasaan firaun setelah wafatnya Thutmose II (dialah satu-satunya wanita yang berbuat demikian), ia menamai dirinya "Putri Re". Ia menggambarkan dirinya sebagai "semata-mata ilahi", dan mengatakan bahwa semua dewa Mesir telah berjanji akan melindungi dirinya.

Putranya Thutmose III, juga menganut gagasan perlindungan para dewa ini untuk sang firaun. Ketika panglimanya, Djehuti, meraih kemenangan besar di Yope, ia mengirim berita kepada Thutmose III yang berbunyi, "Bersukacitalah! Dewa tuan, Amun, telah menyerahkan musuh Yope kepada tuan, seluruh rakyatnya, dan seluruh kotanya. Utuslah orang-orang untuk membawa mereka sebagai tawanan agar tuan dapat memenuhi rumah ayah tuan, Amun-Re, dengan budak-budak laki-laki dan perempuan ....41

Firaun-firaun berikutnya dari Kerajaan Baru, terutama Amenhotep III (1412-1375 sM) membangun makam-makam besar untuk diri mereka. Makam-makam itu memuji kekuatan Amun-Re yang merupakan klaim mereka atas keabadian.

Amenhotep IV menghindari pemujaan Amun-Re karena dewa matahari, Aton. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaton dan membangun sebuah ibu kota baru di Amarna, di mana ia berusaha menegakkan Aton sebagai dewa baru yang universal di Mesir. Akan tetapi, ketika ia wafat pada th. 1366 sM, penggantinya, Tutankhamen memindahkan ibu kota kembali ke Thebes dan mengembalikan Amun-Re sebagai dewa yang utama di kerajaan itu. Di makam Tutankhamen terdapat banyak simbol Osiris, dewa orang mati; dan bukti lain menunjukkan bahwa pemujaan Osiris menjadi lebih menonjol pada Waktu ini.

Raja Ramses I yang sudah tua memulai wangsa ke-19 dengan pemerintahannya selama setengah tahun yang singkat (1319-1318 sM)

Wangsa ini menghidupkan kembali kemuliaan Mesir kuno selama masa yang singkat, sesudah kekacauan politik yang disebabkan oleh Akhenaton. Putra Ramses, Seti I, mengadakan perang penaklukan yang baru sampai memasuki Palestina serta menghalau bangsa Het.

Para firaun dari wangsa yang baru ini mendirikan ibu kota mereka di Karnak di kawasan Delta Nil. Walaupun mereka masih menyembah Amun-Re, pemujaan kepada Osiris diangkat ke tingkat baru perkenanan raja. Mereka meresmikan kota Abydos untuk menghormati Osiris dan memuliakan dewa orang mati ini dalam makam-makam megah mereka di Abu Simbel dan kuil-kuil di Medinet Habu. Para firaun Ramses juga memajukan penyembahan kepada Re-Harakhti. Dalam diri dewa ini mereka menggabungkan sifat-sifat Horus (dewa langit) dan Re (dewa matahari). Namun, mereka masih menganggap Amun-Re sebagai kepala dewa dari sistem agama mereka.

Ramses II memilih putranya, Merneptah, untuk mengganti pada tahun 1232 sM. Merneptah dan raja-raja berikutnya secara berangsur-angsur kehilangan kekuasaan yang telah diperoleh raja-raja Ramses, tetapi Merneptah melancarkan serangan-serangan yang tak kenal ampun terhadap Palestina. Para arkeolog telah menerjemahkan sebuah inskripsi dari sebuah tiang batu yang dinamakan Batu Peringatan Israel. Pada batu peringatan ini Merneptah telah menggambarkan berbagai kemenangannya di daerah itu, "Askelon dibawa pergi: Gezer direbut; Yanoam dijadikan seperti kota yang tak pernah ada: Israel telah dirusakbinasakan, keturunannya sudah tiada ....42

Hal ini sudah pasti terjadi selama masa para hakim; jadi gambaran Merneptah menguatkan situasi yang kacau di Israel, di mana "bangkitlah . . . angkatan yang lain, yang tidak mengenal Tuhan atau pun perbuatan yang dilakukannya bagi orang Israel" (Hak. 2:10). Namun, berbagai kesukaran yang dialami Merneptah di tanah air tidak mengizinkan dia tinggal di Palestina, dan karena itu ia membiarkan suku-suku Israel yang tercerai-berai itu di dalam kekuasaan orang Filistin.

Firaun Sethnakht mempersatukan kembali berbagai negara kota Mesir pada sekitar th. 1200 sM. Putranya, Ramses III (1198 - 1167 sM), menghindari serbuan oleh "Orang Laut" - orang Filistin yang mendarat di pantai Laut Tengah negeri Mesir. Para senimannya memahat ukiran-ukiran timbul yang besar di Kuil Medinet Habu yang menggambarkan kemenangan-kemenangan ini. Tetapi Ramses III mangkat karena terbunuh, dan para penggantinya lambat laun kehilangan penguasaan mereka atas pemerintahan. Sungguh ironis, para imam Amun memperoleh lebih banyak wibawa selama periode-periode yang sama.

 F. Periode Peralihan yang Ketiga. 
sembunyikan teks

Sekitar th. 1100 sM, seorang panglima Nubia yang bernama Panehsi mengangkat salah seorang letnannya yang bernama Hrihor sebagai imam besar Amun di Karnak. Segera Hrihor menjadi panglima tertinggi bala tentara itu sendiri dan merebut takhta dari Ramses XI (thn. 1085 sM). Dengan demikian mulailah suatu pola baru dalam pemerintahan Mesir: setiap firaun menunjuk salah seorang putranya menjadi imam besar Amun sebagai langkah pertama anak itu menuju takhta. Dari saat itu keluarga raja menyatakan bahwa mereka merupakan keluarga yang sangat beragama, serta menggunakan pengaruh Amun untuk menegaskan otoritas mereka.

Pada waktu itu, Daud dan Salomo sedang membangun Israel sampai ke puncak kekuasaannya. Ketika Yoab, panglima tertinggi Daud, menghalau Pangeran Hadad yang masih sangat muda dari Edom, para Pegawainya membawa dia ke Mesir (I Raj. 11:14-19). Seorang firaun menerima dia dalam keluarganya, dan Hadad menikah dengan adik ipar firaun itu. Kemudian Hadad kembali dan menjadi gangguan bagi Raja Salomo (I Raj. 11:21-25). Jadi, Mesir berperan dalam urusan politik Israel selama periode ini (bdg. I Raj. 3:1; 9:16).

Pada waktu itu, Daud dan Salorno sedang membangun Israel sampai ke puncak kekuasaannya. Ketika Yoab, panglima tertinggi Daud, menghalau Pangeran Hadad yang masih sangat muda dari Edom, para Pegawainya membawa dia ke Mesir (I Raj. 11:14-19). Seorang firaun menerima dia dalam keluarganya, dan Hadad menikah dengan adik ipar firaun itu. Kemudian Hadad kembali dan menjadi gangguan bagi Raja Salomo (I Raj. 11:21-25). Jadi, Mesir berperan dalam urusan politik Israel selama periode ini (bdg. I Raj. 3:1; 9:16).

Akan tetapi imperium Mesir dengan berangsur-angsur hancur, dan para penguasa Nubia membentuk daerah selatan dan mendirikan ibu kota mereka di Napata. Raja-raja Nubia ini juga menyatakan bahwa mereka secara istimewa berkenan pada Amun. "Negara harus dianggap sebagai suatu model teokrasi dan rajanya adalah pengawal yang benar dari watak dan kebudayaan Mesir yang murni."43 Kesukaran-kesukaran Mesir mirip sekali dengan kesukaran Israel selama kurun waktu ini; keduanya terdiri atas kerajaan yang pecah. (Lihat Kronologi.")

Raja-raja Libia (di sebelah barat) menggulingkan para firaun yang lemah di Thebes pada abad ke-10 sM. Mereka menggaji tentara dari daerah Delta Nil untuk memelihara perdamaian di Mesir Hilir. Salah seorang raja Libia ini, Sheshonk I, menjarah bait suci di Yerusalem pada tahun ke-5 dari pemerintahan Raja Rehabeam (I Raj. 14:25-26 perhatikan bahwa Alkitab menamakan dia "Sisak"). Sheshonk dan raja-raja Libia lainnya menerima pemujaan yang tradisional kepada Amun-Re. Namun, dengan simbol kekuasaan nasional ini pun, mereka gagal untuk mewujudkan cita-cita mereka yaitu menghidupkan kembali imperium Mesir.

Pangeran-pangeran Nubia (Etiopia) berlayar ke hilir Sungai Nil dan mengalahkan raja-raja Libia sekitar tahun 700 sM. Selama 50 tahun berikutnya, mereka berusaha untuk mempersatukan Mesir kembali. Salah seorang dari raja-raja baru ini (Alkitab menyebutnya "Zerah") menyerang kerajaan Yehuda dengan bala tentara yang sangat besar. Tak pelak lagi, ia sedang berusaha untuk melindungi batas kerajaannya di sebelah timur, seperti yang telah dilakukan oleh banyak firaun sebelum dia. Tetapi Asa mengalahkan dia dengan telah, "Dari orang-orang Etiopia itu amat banyak yang tewas, sehingga tidak ada yang tinggal hidup ("sehingga tentara mereka tidak berdaya," BIS)" (II Taw. 14:13).

Tidak lama kemudian orang Asyur menyerang Yehuda. Raja Hosea dari Yehuda memohon bantuan kepada raja Etiopia yang baru, tetapi orang-orang Etiopia tidak dapat berbuat apa-apa. "Sebab itu raja Asyur menangkap dia (Hosea) dan membelenggu dia di dalam penjara" (II Raj. 17:4). Orang Asyur merebut Yehuda, kemudian menyerbu Mesir dan meruntuhkan kerajaan Etiopia itu pada tahun 670, sM.

almanac 
 G. Akhir Periode Wangsa. 
sembunyikan teks

Namun, orang Asyur tidak dapat mempertahankan penguasaan mereka atas Mesir dan 7 tahun kemudian Pangeran Psammetikhus dari Sais menghalau mereka kembali ke Semenanjung Sinai. Psammetikhus mempersatukan kembali Mesir Hulu dan Mesir Hilir dan menegakkan wangsa ke-26, membangkitkan kembali kebudayaan Mesir sampai thn. 663 sM. (ketika orang Persia menaklukkan Mesir). Psammetikhus mendirikan kembali pemujaan Amun-Re sebagai dewa nasional Mesir. Akan tetapi, imam-imamnya tidak mampu mempunyai pengaruh yang mengendalikan dan menyatukan yang dahulu dimiliki para imam raja atas rakyat Mesir.

Agama Mesir kini memburuk menjadi bermacam-macam kultus hewan. Para raja dari wangsa ke-26 membangun kuil-kuil untuk menghormati hewan keramat tertentu, seperti buaya dan kucing. "Begitu ekstrem semangat pada masa ini sehingga menjadi kebiasaan untuk membalsem tiap-tiap hewan keramat yang mati dan menguburkannya dengan penuh upacara di kuburan-kuburan khusus yang telah diresmikan untuk maksud tersebut."44

Nekau ("Nekho") menggantikan ayahnya Psammetikhus I sebagai firaun pada tahun 610 sM. Ia menyadari ancaman yang semakin besar dari Babilonia, dan membariskan bala tentaranya melalui Kanaan untuk membantu orang Asyur memerangi musuh bersama mereka ini. Raja Yosia berusaha menghentikan dia di Megido, tetapi Nekau mengalahkan dia dan melanjutkan ekspedisinya (II Raj. 23:29-30). Nebukadnezar menghancurkan tentara Mesir di Karkemis di Sungai Efrat pada tahun 605 sM. Tetapi Nekau luput, menawan raja baru Yehuda, dan menjadikan Yehuda sebagai negara penahan antara Babilonia dan Mesir (II Taw. 36:4). Ketika Nebukadnezar menyerang Yehuda pada tahun 601 sM., Mesir mampu menghentikan dia untuk sementara waktu. Firaun Apries memberi semangat kepada Raja Yoyakhin untuk melawan para pengacau dari Babel. Tetapi Nebukadnezar berhasil merebut Yerusalem pada th. 586 sM. dan membawa penduduknya ke dalam pembuangan. Nebukadnezar melantik Gedalya sebagai gubernur dari propinsi Yehuda yang baru; tetapi rakyat Gedalya membunuh dia dalam waktu beberapa bulan (II Raj. 25:25). Karena takut akan dibantai oleh orang Babel sebagai pembalasan, orang Yahudi yang tersisa di Yerusalem lari ke Mesir. Di antara mereka terdapat Nabi Yeremia (Yer. 43:5-7).

Raja Koresy dari Persia menaklukkan Imperium Babilonia pada thn. 539 sM.; penggantinya, Kambises, merebut Mesir pada thn. 525 sM. Raja-raja Persia menempatkan raja boneka di takhta Mesir selama abad berikutnya, dan masing-masing mereka berpura-pura memuja dewa Amun-Re. Akan tetapi, kekuatan yang sesungguhnya di balik takhta adalah bala tentara Persia, bukan mistik tradisional dari dewa-dewa Mesir.

 H. Periode Ptolemeus.
sembunyikan teks

Aleksander Agung menaklukkan Mesir pada tahun 332 sM. Ia wafat sembilan tahun kemudian dan keluarga Ptolemeus mengambil pimpinan atas Mesir dan Palestina. Wangsa Ptolemeus menempatkan anggota-anggota dari keluarga mereka sendiri atas takhta di Thebes, dan mereka berupaya untuk mengembalikan kemuliaan zaman emas Mesir. Misalnya, Ptolemeus Euergetes II mendewakan Amenhotep I pada tahun 140 sM.; dengan menghormati firaun ini yang mendirikan Kerajaan Baru di Mesir, Euergetes berharap dapat berlagak sebagai seorang Mesir tulen. Akan tetapi, orang pribumi Mesir hanya memberikan kesetiaan yang tidak sungguh-sungguh. Ia harus mengandalkan pasukan Romawi untuk melindungi dirinya dari serangan kerajaan Seleukeia di bagian utara Palestina.

Pompeius, jenderal Romawi, merebut Yerusalem pada tahun 63 sM. dan mengatasi ancaman wangsa Seleukus; tetapi Mesir berada di ambang keruntuhan. Pada akhirnya muncullah Kleopatra dari wangsa Ptolemeus dan berusaha untuk menyelamatkan bangsa itu oleh tipu daya politik dan uang suap. Kleopatra mencari persahabatan dari Augustus Caesar dan Markus Antonius; tetapi ketika armada Caesar mengalahkan armadanya di Aktium pada tahun 30 sM, Kleopatra bunuh diri karena kehilangan harapan. Sejak waktu itu, Mesir dilindungi oleh kekaisaran Romawi.

Selama masa pemerintahan mereka yang singkat di atas takhta Mesir, para penguasa Helenis membangun kota-kota Yunani di daerah pantai Mesir dan membawa orang Yunani yang menetap di negeri itu. Dengan demikian mereka menambahkan unsur-unsur asing kepada cara hidup Mesir, terutama pada agama Mesir.

Orang Mesir lebih terbuka pada proses Helenisasi daripada orang Yahudi. (Lihat "Orang Yunani dan Helenisme.") Para imam menamai dewa-dewa Mesir menurut nama dewa Yunani yang seimbang dengannya: Horus menjadi Apollo; Thoth menjadi Hermes; Amun menjadi Zeus; Ptah menjadi Hefaistos; Hathor menjadi Afrodite; dan demikian seterusnya. Orang Mesir memuja para penguasa Ptolemeus dan istri mereka, sama seperti mereka telah memuja firaun mereka.

Orang Yahudi yang menetap di Mesir selama pembuangan di Babel telah membangun berbagai komunitas Yahudi yang berkembang dengan baik di sana. Gulungan-gulungan papirus dalam bahasa Aram menunjukkan bahwa sebuah koloni penting orang-orang Yahudi terdapat di Aswan, di pulau Elefantin. Kelompok ini kurang mematuhi Taurat Musa dan akhirnya mereka meniadakan korban binatang. Tidak lama sesudah tahun 404 sM komunitas itu dibinasakan.

Keadaan komunitas Yahudi lainnya lebih baik dan di bawah pemerintahan wangsa Ptolemeus mereka memperoleh kedudukan hukum. Surat Aristeas menyatakan bahwa Ptolemeus I membawa lebih dari 100.000 orang Yahudi dari Palestina dan memakai mereka sebagai tentara upahan dalam angkatan bersenjata Mesir. Orang-orang Yahudi ini meneruskan ibadah mereka kepada Allah, tetapi mereka sanggup menyesuaikan diri dengan cara hidup Yunani-Roma.

Tanda-tanda penerimaan pajak yang kuno menunjukkan bahwa di Mesir ada orang-orang Yahudi yang bekerja sebagai pemungut pajak. Orang Yahudi juga mengisi jabatan-jabatan lain dalam pemerintahan. Dalam sepucuk surat yang ditulis Klaudius kepada warga kota Aleksandria, ia meminta agar orang-orang Yahudi tidak diizinkan untuk mencalonkan diri untuk jabatan gymisiarch, yang mengurus pertandingan-pertandingan atletik yang dibenci oleh orang-orang Yahudi yang keras (bdg. I Mak. 1:14-15).

Filo, sejarawan yang kuno, mengatakan bahwa sejuta orang Yahudi tinggal di Mesir. Mereka sedikit sekali mengetahui bahasa Ibrani atau Aram. Karena itu, Alkitab Ibrani diterjemahkan ke bahasa Yunani, versi Septuaginta. Orang Yahudi di Aleksandria yang mula-mula menggunakan Septuaginta; kemudian Alkitab ini dibaca di sinagoge di seluruh Imperium Romawi.

Filo dari Aleksandria adalah filsuf Yahudi yang mengambil gagasan-gagasan Yunani dari filsafah aliran Stoa dan Plato. Ia membalut kepercayaan Yahudi dalam berbagai kategori pemikiran filsafah Yunani. Dari Aleksandrialah datang penafsiran alegoris dari Alkitab. Kota Mesir ini menjadi pusat penting dari kesarjanaan Yahudi pada periode intertestamental. (Lihat Orang Yahudi pada Masa Perjanjian Baru.")

Ketika Maria dan Yusuf menyembunyikan bayi Yesus di sana pada sekitar tahun 4 sM (Mat. 2:13-15), beberapa komunitas Yahudi masih ada di daerah Delta Nil di mana mereka telah menetap pada zaman Yeremia. Kami menganggap bahwa Maria dan Yusuf telah mendapat perlindungan di salah satu desa ini.

PERIODE-PERIODE DALAM SEJARAH MESIR

PERIODE-PERIODE DALAM SEJARAH MESIR
Periode
Tanggal
Peristiwa Alkitab
I. Awal Periode Wangsa (Wangsa 1-2) 3100-2800 sM
II. Kerajaan Lama (Wangsa 3-6) 2800-2250 sM
III. Periode Peralihan Pertama (Wangsa 7-9) 2250-2000 sMAbraham datang ke Mesir
IV. Kerajaan Pertengahan (Wangsa 9-12) 2000-1786 sMYusuf dan Yakub datang ke Mesir
V. Periode Peralihan Kedua (Wangsa 13-17) 1786-1575 sMPeriode Hiksos (± 1667-1559 sM)
VI. Kerajaan Baru (Wangsa 18-20) 1575-1085 sMPeristiwa Keluaran (1446 sM)
VII. Periode Peralihan Ketiga (Wangsa 21-25)1085-663 sM Sheshonk I ("Sisak') merusak Bait Allah (927 sM)
VIII. Akhir Periode Wangsa (Wangsa 26-31) 663-332 sM Pembuangan (586 sM); para pengungsi melarikan diri ke Mesir
IX. Periode Ptolemeus 332-30 sM
X. Zaman Romawi 30 sM-395 TMMaria dan Yusuf melarikan diri ke Mesir (4 sM)


TIP #21: Untuk mempelajari Sejarah/Latar Belakang kitab/pasal Alkitab, gunakan Boks Temuan pada Tampilan Alkitab. [SEMUA]
dibuat dalam 0.04 detik
dipersembahkan oleh YLSA