Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac > 
6. Orang Mesir 
sembunyikan teks

Rupanya banyak rintangan memisahkan Mesir dengan Negeri Perjanjian. Mesir berada di benua yang lain, terpisah dari Palestina oleh Jazirah Sinai yang berbatu-batu dan oleh banyak rawa dan telaga di antara Laut Tengah dan Laut Merah. Mesir kaya dalam hasil bumi, ternak, dan logam mulia, sedangkan Palestina hanya dapat menukarkannya dengan sedikit barang. Kebudayaan Mesir sama sekali berbeda dengan kebudayaan orang Kanaan dan Israel. Orang Mesir berasal dari ras yang lain. Namun, beberapa perubahan yang tak diduga dalam sejarah telah mempersatukan orang Mesir dan orang Israel, dan lebih dari 550 kali Perjanjian Lama mengacu kepada Mesir. Selama berabad-abad, Mesir memerintah daerah pesisir Palestina; kebudayaan dan agamanya berpengaruh dari Gaza sampai Suez.

 I. Orang Mesir dan Bahasa Mereka. 
sembunyikan teks

Kita tidak mengetahui asal usul ras yang tepat dari orang Mesir, tetapi patung-patung dan lukisan-lukisan dalam kuil mereka memberikan gambaran yang rinci tentang mereka selama zaman alkitabiah. Jenazah-jenazah yang dibalsem dari para raja Mesir memberikan bukti lebih lanjut tentang rupa mereka.

Kebanyakan orang Mesir agak pendek, berkulit sawo matang, dengan rambut coklat yang kaku, yaitu ciri khas orang-orang di daerah pesisir selatan Laut Tengah. Orang Nubia dari daerah hulu Sungai Nil di selatan tidak berlayar ke hilir sungai dan bergaul dengan orang Mesir sampai sekitar tahun 1500 sM.

Sebaliknya, orang-orang Israel mula-mula berasal dari kehidupan kota yang mapan di Mesopotamia selatan. Jadi, Abraham dan keturunannya barangkali setinggi orang Mesir, tetapi mereka berkulit kuning langsat dengan rambut coklat tua atau hitam.

Orang Mesir mengacu kepada orang-orang dari negeri-negeri lain menurut lokasi geografis mereka: "orang Libia", "orang Nubia," dan seterusnya. Tetapi mereka menyebut, dirinya sendiri hanya sebagai "anak negeri."36

Bahasa mereka berasal dari latar belakang Hamito-Semit. Dengan kata lain, bahasa tersebut mempunyai ciri-ciri bahasa dari Afrika Utara ("Hamit", menurut dugaan dari keluarga Ham - Kej. 10:6-20) dan dari bagian selatan Asia Kecil ("Semit", menurut dugaan dari keluarga Sem - Kej. 10:21-31). Walaupun struktur dasar bahasa Mesir (seperti pembuatan bentuk kata kerja) mirip dengan berbagai bahasa Semit seperti bahasa Ibrani, bahasa Mesir lebih mirip dengan bahasa-bahasa Hamit para tetangga Afrika dari Mesir sepanjang daerah pantai Laut Tengah.

Kapten Bouchard dari bala tentara Napoleon Bonaparte menemukan Batu Rosetta di bagian barat Delta Nil pada tahun 1799. Pada batu itu terdapat sebuah inskripsi dalam tiga bahasa - Yunani dan dua bentuk bahasa Mesir - yang menghormati Ptolemeus V Epifanes, seorang penguasa Helenistis di Mesir yang hidup 200 tahun sebelum Kristus. Seorang pakar ilmu fisika dari Inggris, Thomas Young, dan seorang ahli bahasa dari Perancis, Jean Frangois Champollion, memakai bagian bahasa Yunani dari batu itu untuk mengartikan kedua tulisan bahasa Mesir.

almanac
 II. Geografi dan Pertanian. 
sembunyikan teks

Kawasan Mesir meliputi pinggiran Afrika di timur laut, dibatasi oleh Gurun Sahara di bagian barat, hutan rimba tropis Nubia di bagian selatan, Laut Merah di timur, dan Laut Tengah di utara. Sungai Nil adalah bagaikan aliran darah Mesir kuno. Air Sungai Nil membawa hidup kepada dataran-dataran gersang yang diolah dan ditanami oleh rakyat Mesir pada zaman Alkitab.

Setiap tahun pada pertengahan bulan Juli, Sungai Nil meluap. menyediakan air untuk sistem irigasi yang dibangun untuk mendapat manfaat dari penggenangan ini. Akan tetapi, meskipun waktu penggenangan itu dapat diramalkan, luasnya tidak. Luapan Sungai Nil yang terlalu rendah atau terlalu tinggi berarti bencana, dalam hal pertama untuk para petani, dan hal kedua untuk pemukiman-pemukiman. Sungai itu menjadi suatu berkat dan juga suatu kutuk bagi para petani (fellahin) Mesir.

Sungai Nil mengairi sebuah lembah hijau yang berbeda-beda lebarnya dari satu sampai dua puluh mil. Orang Mesir menamakan tanah subur di lembah ini "Tanah Hitam," dan gurun di sekelilingnya dinamakan "Tanah Merah."

Setiap bulan Juni, hujan di Afrika tengah dan salju yang mencair di Abisinia menyebabkan air sungai naik lebih dari 4,5 m sehingga meluap. Banjir itu mencapai Syene (sekarang Aswan) pada pertengahan Juni, dan sungai itu berada dalam keadaan banjir lebih dari seminggu. Biasanya, para fellahin senang melihat air Sungai Nil menggenangi tanah mereka, karena mereka tahu bahwa sungai itu akan meninggalkan lapisan lumpur yang tebal, yang akan memberikan panen yang berlimpah kepada mereka pada musim gugur. Apabila air Sungai Nil tidak naik setinggi biasanya terjadi, mereka akan mengalami paceklik atau "tahun kelaparan" (bdg. Kej. 41:30 dst.). Akan tetapi, kalau sungai itu naik terlalu banyak, ia akan membinasakan segala sesuatu yang menghalanginya. Demikianlah, para petani dan peternak berada dalam kekuasaan sungai itu.

almanac

".... Sejak masa prasejarah, orang Mesir adalah orang yang berlayar di sungai dan pada th. 3000 sM. mereka telah membawa kapal mereka ke laut bebas . . . Di Laut Merah. Kapal-kapal Mesir berkuasa dalam perdagangan ke arah selatan ke negeri kemenyan, mur, getah, dan gading . . ."38

Sewaktu Mesir memperluas perdagangannya dan menjadi bangsa yang makmur, Mesir harus mengembangkan cara-cara pertanian yang lebih baik. Bahan makanan dan serat tekstil menjadi pokok kekuatan ekonominya, jadi para petani harus merencanakan cara-cara yang lebih tepat guna untuk mengairi ladang-ladang mereka, serta menggunakan sebaik-baiknya jalur tanah sempit mereka sepanjang Sungai Nil. Mereka membangun tanggul untuk melindungi panen mereka dari sungai pada tahun-tahun banjir yang hebat; mereka mengeringkan rawa-rawa di kawasan Delta; mereka memasang alat-alat irigasi yang sederhana dari kayu untuk mengangkat air dari sungai; dan mereka meninggalkan cangkul yang harus dipegang karena bajak kayu yang ditarik oleh lembu.

Dibandingkan dengan Lembah Sungai Nil yang subur itu, daerah pantai timur adalah suram dan tidak ramah. "Rupanya sepanjang pantai selalu terdapat sejumlah danau, yang dipisahkan dari laut oleh beting-beting pasir yang rendah, dan digunakan sebagai tempat-tempat pembuatan garam. Pada masa Yunani dan Roma, yang terbesar dari danau-danau ini terkenal sebagai Rawa atau Payau Serbonia (Sirbonia). Payau ini mempunyai nama yang sangat buruk. Pasir kering yang ditiup melintasi payau ini membuatnya kelihatan seperti tanah padat, yang cukup kuat untuk menahan berat orang yang berani untuk berjalan di atasnya, hanya sampai mereka sudah tidak dapat melarikan diri atau tidak dapat diselamatkan lagi. Payau ini telah menelan lebih dari sebuah bala tentara yang naas."39

Daerah Delta dan pantai mempunyai suhu yang tinggi dan kelembaban yang tinggi pada musim panas dan hujan yang lebat pada musim dingin. Angin panas yang membakar yang terkenal sebagai Khamsin meniup melintasi Delta di antara bulan Maret dan Mei, serta membuat penduduk merasa letih dan lekas marah. Angin Sobaa menimbulkan badai debu yang membuat orang tak dapat melihat dan dalam waktu beberapa menit dapat mengubur sebuah kafilah dagang.

Iklim yang berubah-ubah ini membawa banyak penyakit pada bangsa Mesir. Sebenarnya, Musa memperingatkan orang Israel bahwa bila mereka tidak setia kepada Allah, Ia akan mendatangkan segala wabah Mesir" kepada mereka (Ul. 7:15; 28:60). Anggota-anggota bala tentara Napoleon menderita bisul-bisul dan demam ketika mereka berkemah di Mesir Hilir; para pengunjung masa kini pun merasa sukar untuk menyesuaikan diri dengan iklim di Mesir.

Namun, iklim Mesir menguntungkan penduduknya dalam cara-cara lain. Angin sepoi-sepoi yang hangat dari Laut Tengah memberi Mesir musim menanam sepanjang tahun, yang dimanfaatkan para fellahin sampai ke batas-batas kemampuan teknis mereka. Pada saat bersamaan, kekeringan gurun kersang sepanjang pinggiran Lembah Nil mengawetkan jenazah yang dibalsem (mumi) dari para firaun dan barang peninggalan mereka. Dan daerah tandus keliling Mesir menjadi perbatasan alami yang mudah dipertahankan.

 III. Agama dan Sejarah. 
sembunyikan teks

Ketika Manetho, seorang imam Mesir (kr. thn. 305 - 285 sM) menulis sebuah sejarah Mesir dalam bahasa Yunani, ia membagi sejarah para raja menjadi 30 (kemudian diperluas menjadi 31) periode yang dikenal sebagai "wangsa." Wangsa-wangsa itu kemudian dikelompokkan menjadi kerajaan: Kerajaan Lama (kr. 2800 - 2250 sM: wangsa 3-6), Kerajaan Pertengahan (kr. 2000 - 1786 sM; wangsa 11-12), dan Kerajaan Baru (1575 - 1085 sM; wangsa 18-20). Manetho menamakan masa para firaun yang terakhir sebagai Akhir Periode Wangsa (kr. 663 - 332 sM; wangsa 26-31). Dua wangsa pertama termasuk Awal Periode Wangsa (3100 - 2800 sM). Di antara Kerajaan Lama dan Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru terjadi masa-masa yang rusuh, yang secara berturut-turut dikenal sebagai Periode Peralihan Pertama dan Periode Peralihan Kedua. Masa di antara Kerajaan Baru dan Akhir Periode Wangsa dikenal sebagai Periode Peralihan Ketiga (1085 - 661 sM).

Penaklukan oleh Aleksander Agung memperkenalkan sebuah periode baru dalam sejarah Mesir, yang dikenal sebagai Periode Ptolemeus (332 - 30 sM). Dengan kemenangan atas Cleopatra VII, Kaisar Augustus menjadikan Mesir sebuah propinsi Romawi (30 sM - 395 TM.).

Perkembangan agama Mesir telah ditinjau di bagian yang berjudul "Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala," tetapi di sini kita harus memperhatikan kesetiaan firaun-firaun yang berbeda kepada dewa-dewa Mesir yang berbeda pula. Kepercayaan beragama seorang firaun sering kali menyatakan sesuatu mengenai watak pribadinya dan berbagai ambisi politiknya.



TIP #33: Situs ini membutuhkan masukan, ide, dan partisipasi Anda! Klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA