Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala >  III. Agama Penyembah Berhala Dalam Sastra. > 
C. Berbagai Mitos Air Bah dari Bangsa-Bangsa Kafir. 
 sembunyikan teks

Di Alkitab, kisah penciptaan segera disusul oleh kisah Air Bah yaitu tanggapan Allah terhadap kejahatan manusia yang berulang-ulang dilakukan (Kej. 6-9). Baik di Mesir maupun di Kanaan kita menemukan berbagai narasi tentang dewa-dewa yang berang yang melampiaskan murka mereka kepada umat manusia, kadang-kadang disertai banjir yang besar.

Dalam mitologi Mesir, dewi Sekhmet bermaksud untuk memusnahkan umat manusia. Rencananya digagalkan ketika para dewa yang lain membanjiri dunia dengan bir yang telah diberi warna merah darah. Karena ia haus darah, maka Sekhmet minum sepuas-puasnya dan ia tertidur oleh bir itu.

Sastra Kanaan menceritakan cerita yang serupa mengenai dewi Anath (istri Baal), yang mengamuk terhadap manusia. Tak ada detail berdarah yang dihilangkan dari cerita itu waktu Anath menceburkan diri dalam pertempuran dengan bersenjatakan sebuah pentung dan busur, "Di bawah Anath (terbang) kepala-kepala bagaikan burung pemakan bangkai. Di atasnya (terbang) tangan-tangan bagaikan belalang ... Ia terjun sampai ke lututnya dalam darah para pahlawan. Setinggi lehernya dalam darah kental para tentara . . . Anath membesarkan hatinya dengan tawa. Hatinya penuh sukacita. Karena di tangan Anath ada kemenangan."31

Sastra Mesopotamia meliputi sebuah naskah yang penting sekali yang memaparkan air bah sebagai hukuman ilahi. Naskah yang khusus dinamakan Syair Kepahlawanan Gilgames. Tokoh utamanya sendiri alah kombinasi sejarah dan legenda. Sebenarnya, dia adalah raja ke-5 dari wangsa Uruk (sekitar 2600 sM), dan muncul dalam legenda sebagai orang yang mirip Simson. Dua hal menonjol dalam tradisi-tradisi tentang Gilgarnes. Pertama, cerita itu mengatakan bahwa sepertiga bagiannya adalah manusia dan dua per tiga bersifat ilahi. Kedua, menurut dugaan asal-usulnya campuran manusia dan dewa; ibunya adalah dewi Ninsun dan ayahnya adalah Lugal-banda, raja Uruk yang sebelumnya.

Syair Kepahlawanan Gilgames menceritakan bagaimana Gilgames berlaku kejam kepada taklukannya. Untuk melunakkan dia, rakyat Uruk membujuk dewi Aruru untuk menjadikan seorang laki-laki bernama Enkidu. Akhirnya Enkidu bertemu dengan Gilgames dan keduanya menjadi sahabat baik. Sesudah itu, mereka berperang melawan bermacam-macam monster, termasuk Humbaba, naga yang jahat. Gilgames itu tampan - begitu tampan sehingga dewi Isytar mengusulkan untuk menikah dengannya. Gilgames menolak pinangannya karena ia seorang istri dan kekasih yang bersetubuh dengan siapa saja. Dengan menggerutu, Isytar mendapat izin dari bapanya, Anu, untuk membinasakan Gilgames dengan Banteng Surga. Perkelahian yang garang menyusul, dan sekali lagi Gilgames dan Enkidu menang.

Tetapi Enkidu jatuh sakit dan meninggal. Sementara memikirkan kematian sahabatnya, Gilgames memutuskan untuk bertemu dengan seorang laki-laki bernama Utnapisytim. Dialah satu-satunya manusia fana yang kini sanggup hidup selama-lamanya karena ia telah bertahan selama air bah. Gilgames ingin mengetahui bagaimana ia dapat hidup selama-lamanya. Setelah banyak petualangan yang mengerikan di dunia orang mati, akhirnya Gilgames berjumpa dengan Utnapisytim.

Utnapisytim bercerita kepada Gilgames bagaimana para dewa secara rahasia memutuskan untuk mengirim air bah ke bumi, terutama dengan perantaraan Enlil, dewa badai. Ea, salah satu dewa, memberi tahu rencana ini kepada Utnapisytim dan mendorong dia untuk membangun sebuah kapal untuk menyelamatkan dirinya, keluarganya, beberapa jenis logam mulia, dan berbagai jenis hewan. Utnapisytim membawa semuanya naik kapal bersama dengan beberapa anak buah yang pandai. Hujan turun selama tujuh hari dan tujuh malam. Setelah hujan berhenti kapal Utnapisytim mendarat atas sebuah gunung. Ia mengirim berbagai burung untuk menentukan apakah air telah surut atau tidak. Ketika akhirnya ia meninggalkan kapal itu, ia mempersembahkan kurban kepada para dewa, yang "berkerumun bagaikan lalat" di sekeliling kurban itu. Enlil marah sekali karena dua orang dapat luput dari malapetaka yang didatangkannya dan mula-mula mengancam tetapi kemudian menganugerahkan sifat kedewaan kepada Utnapisytim dan istrinya - bukan sebagai pahala, tetapi sebagai alternatif selain membinasakan manusia.

Akan tetapi, semua ini tidak berarti apa-apa bagi Gilgames. Penyelamatan Utnapisytim adalah suatu kekecualian, bukan suatu preseden. Untuk menghiburnya, Utnapisytim memberikan Tanaman Kehidupan kepada Gilgames; tetapi ini pun dicuri oleh seekor ular. Frustrasi lepas frustrasi! Dengan muram Gilgames berjalan pulang ke Uruk. Ia tahu ia harus mati, tetapi setidak-tidaknya ia akan dikenang karena prestasinya di bidang pembangunan - keabadiannya terdapat dalam karya tangannya sendiri. Syair ini adalah salah satu syair kepahlawanan yang besar dalam bahasa Akad.

Terjalin dalam mitos ini adalah cerita air bah dari Mesopotamia, dengan persamaan-persamaan yang mempesonakan dengan nas Alkitab. Namun, mitos Mesopotamia ini sama sekali tidak membuat orang meragukan kebenaran kitab Kejadian.

Ada banyak perbedaan ideologis di antara kedua cerita air bah ini. Epik Gilgames itu tidak memberikan alasan yang jelas mengapa Enlil mengirim air bah. Pasti ia tidak marah karena kemerosotan akhlak umat manusia. Bagaimana ia dapat merasa demikian? Dewa-dewa para penyembah berhala tidak menjadi suri teladan kebaikan dan kesucian serta tidak memperjuangkannya. C. H. Gordon, seorang cendekiawan mutakhir, berkata, "Penyelidik yang modern jangan sampai keliru berpikir bahwa orang Timur pada zaman purba mengalami kesulitan dalam mencocokkan ide kedewaan dengan tindakan-tindakan yang mencakup penipuan, penyuapan, hal membuka-buka secara tak senonoh sebagai lelucon, dan perbuatan homoseksual."32

Juga, perhatikan bahwa Epik Gilgames menekankan penggunaan keterampilan manusiawi oleh Utnapisytim dalam menyelamatkan dirinya dari air bah. Oleh sebab itu ada mualim di kapal; ini merupakan tandingan dari kecerdasan manusia dan kecerdasan para dewa. Kisah dalam kitab Kejadian sama sekali tidak menceritakan hal-hal seperti ini; di bahtera tidak terdapat peralatan navigasi, juga tidak ada pelaut-pelaut profesional. Jikalau Nuh, istrinya, dan keluarganya harus diselamatkan, itu akan terjadi oleh kasih karunia Allah, bukan oleh keahlian atau kecerdikan manusia.

Ketiga, cerita Gilgames pada dasarnya tidak memiliki nilai pendidikan dan nilai moral jangka panjang. Alkitab menjelaskan pentingnya Air Bah untuk generasi-generasi yang berikut dengan mengutip perkataan sebuah perjanjian dengan Allah, "Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu ... tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi" (Kej. 9:11).

Keempat, Alkitab menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan Nuh untuk memelihara umat manusia. Mitos Utnapisytim tidak mencerminkan rencana dewa seperti itu. Ia diselamatkan secara kebetulan, oleh sebab salah satu dewa membuka rahasia niat Enlil kepadanya.



TIP #28: Arahkan mouse pada tautan catatan yang terdapat pada teks alkitab untuk melihat catatan ayat tersebut dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA