Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala >  III. Agama Penyembah Berhala Dalam Sastra. > 
B. Cerita Penciptaan dari Babel. 
 sembunyikan teks

Cerita penciptaan yang paling lengkap dari Babel biasanya disebut Enuma Elish. Inilah dua kata yang pertama dari cerita tersebut dan diterjemahkan sebagai "Ketika di ketinggian . . . "

Pada mulanya ada dua dewa, Apsu dan Tiamat, yang mewakili air tawar (laki-laki) dan air laut (perempuan). Keduanya tinggal bersama sebagai suami istri dan menghasilkan makhluk-makhluk ilahi generasi kedua. Tidak lama kemudian Apsu menderita insomnia karena dewa dan dewi yang muda itu berisik: ia sama sekali tak dapat tidur. Ia ingin membunuh mereka, sekalipun Tiamat, istrinya, memprotes. Namun, sebelum ia dapat melakukannya, Ea, dewa kebijaksanaan dan sihir, memantrai Apsu sehingga tertidur dan membunuhnya.

Karena tidak mau dikalahkan, Tiamat merencanakan pembalasan terhadap pembunuh suaminya dan mereka yang membantu dalam pembunuhan itu. Tindakan pertamanya ialah mengawini suami yang kedua, yang bernama Kingu. Kemudian ia mengumpulkan bala tentara untuk rencana pembalasannya.

Pada saat ini para dewa menghimbau kepada dewa Marduk untuk menyelamatkan mereka. Dengan senang hati Marduk menerima tantangan itu, dengan syarat bahwa jika ia menang dari Tiamat, mereka harus menjadikan dia kepala atas semua dewa.

Konfrontasi antara Tiamat dan Marduk berakhir dengan kemenangan yang gemilang untuk Marduk. Ia menawan para pengikut Tiamat dan menjadikan mereka budaknya. Kemudian ia memotong mayat Tiamat menjadi dua, serta menciptakan langit dari separuh mayat itu dan menciptakan bumi dari bagian separuh yang lain. Ia memerintah mereka yang tadinya mendukung Tiamat untuk mengurus bumi.

Tidak lama kemudian, Marduk menyusun sebuah rencana lain. Ia suruh membunuh Kingu dan mengatur agar Ea menjadikan manusia dari darah Kingu. Dalam kata-kata.cerita itu, nasib manusia adalah "dibebani dengan kerja keras para dewa." Untuk memperlihatkan rasa terima kasih mereka kepada Marduk, para dewa membantu dia membangun kota Babel yang besar dan kuilnya yang mengagumkan. Cerita ini berakhir dengan menggambarkan jamuan besar para dewa untuk menghormati Marduk dan dengan mencatat ke-50 namanya. Tiap-tiap nama itu dianggap menunjuk suatu kekuatan atau prestasi yang menjadi cirinya.

Perhatikanlah beberapa hal yang ditekankan cerita ini. Menurut cerita ini pada mulanya ada dua dewa, Apsu,dan Tiamat, laki-laki dan perempuan. Hal ini nyata sekali berbeda dari kisah penciptaan di Kejadian 1-2, yang menyatakan bahwa pada mulanya ada Allah yang esa, bukan dua. Apa sebabnya penting untuk mengetahui bahwa Allah tidak mempunyai istri, dan sendirian? Oleh karena hal ini menunjuk bahwa Allah memperoleh kepuasan di dalam diri-Nya sendiri dan tidak memerlukan sumber-sumber lain di luar diri-Nya. Pasal pembukaan kitab Kejadian tidak menyebutkan hal lain yang menemukan kepuasan di dalam dirinya. Semua makhluk ciptaan Tuhan memperoleh kepuasan di dalam sesuatu atau seorang lain di luar diri Mereka.

Tidak ada masalah bagi orang Babel yang menyembah berhala untuk percaya bahwa pada mulanya ada dua allah. Sepanjang yang menyangkut dirinya, tidak ada masa depan dengan satu allah saja. Bagaimana bisa terjadi penciptaan dan proses memperanakkan jika hanya ada satu allah'? Bila orang penyembah berhala berbicara tentang para dewanya, ia hanya berbicara menurut kategori manusiawi. Ia tidak dapat membayangkan dewa yang berbeda dengan manusia.

Kedengarannya aneh bahwa dewa Babel, yaitu Apsu, mengeluh karena ia ingin tidur. Tetapi ketika Pemazmur mengatakan bahwa Allah kita "tidak terlelap dan tidak tertidur" (Mzm. 121:4), ia sedang mengatakan sesuatu yang tidak jelas pada zamannya itu. Hal ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kepercayaan Israel pada Allah sama sekali unik di antara bangsa-bangsa dunia purba.

Apsu siap untuk membunuh karena anak-anaknya membuat dia tak bisa tidur. la tidak mempunyai motif moral yang tegas. Dewa itu marah - bukannya sebab manusia telah memenuhi bumi dengan kekerasan atau kebusukan, tetapi karena dunia itu begitu berisik sampai ia tak dapat tidur! Kelihatannya aneh bahwa dewa seperti Apsu dapat bertindak dengan alasan-alasan yang begitu mementingkan diri. Akan tetapi, pikiran orang penyembah berhala menyimpulkan bahwa, apabila manusia fana dapat bertindak seperti itu, mengapa dewa-dewa tidak?

Maksud sesungguhnya dari Enuma Elish bukanlah berkisah tentang penciptaan dunia. Kisah ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana dewa Marduk menjadi dewa utama dari Babel, kota yang hebat itu? Mungkin sekali, orang Babel membaca kisah yang khusus ini pada perayaan Tahun Baru mereka, dengan harapan bahwa hal ini akan menjamin tahun yang baik di depan. Marduk mewakili kekuatan-kekuatan ketertiban, sedangkan Tiamat mewakili kekuatan-kekuatan kekacauan. Jalan pemikiran ini menyimpulkan bahwa apabila seseorang mengucapkan kata yang tepat pada saat yang tepat, kesempatannya untuk berhasil akan meningkat. Pemikiran ini memandang perayaan atau membaca doa kepada para dewa sebagai semacam jimat yang sakti.

Mitos para penyembah berhala memandang penciptaan manusia sebagai suatu pikiran yang timbul kemudian. Mereka mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi hamba para dewa, untuk melakukan "pekerjaan licik" mereka. Orang Babel percaya bahwa manusia itu jahat karena Marduk telah menjadikan dia dari darah dewa yang membangkang, Kingu. Pasti kisah ini tidak memiliki keagungan yang kita temukan di sekitar penciptaan manusia di kitab Kejadian.

Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya, berbeda dari segala yang lain yang telah diciptakan Tuhan (Kej. 1:26, 27). Dari semua sastra purba, hanya Alkitablah yang mempunyai kisah penciptaan perempuan yang terpisah (Kej. 2:21-25).



TIP #17: Gunakan Pencarian Universal untuk mencari pasal, ayat, referensi, kata atau nomor strong. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA