Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala > 
III. Agama Penyembah Berhala Dalam Sastra. 
sembunyikan teks

Bila kita berpaling kepada sastra dunia purba, kita memperoleh gambaran yang paling jelas mengenai agama-agama penyembah berhala. Hampir seluruh sastra dunia purba mencerminkan agama dari kebudayaannya: nyanyian pujian, doa, prasasti raja, mantera, naskah sejarah, dan syair kepahlawanan. Kepercayaan suatu bangsa terlihat paling jelas ketika mereka menghadapi persoalan-persoalan seperti: Siapakah saya? Dari mana saya berasal? Apakah dunia ini? Bagaimana orang harus menjelaskan kesenangan dan penderitaan? Kita menemukan jawaban mereka untuk soal-soal ini dalam kisah-kisah penciptaan tua (yang secara teknis disebut kosmogoni), dan hampir tidak ada satu kaum pun yang tidak memiliki tradisi mengenai hal ini.

 A. Berbagai Cerita Penciptaan dari Mesir.
sembunyikan teks

Mesir mempunyai paling sedikit lima cerita yang berbeda yang menjelaskan asal usul dunia, dewa-dewa, dan manusia. Dua di antara lima cerita ini sudah cukup untuk menggambarkan kepercayaan orang Mesir.

Kota Heliopolis menurunkan cerita bahwa Amun-Re muncul dari himpunan air (Nun) dengan kekuatannya sendiri. Lalu ia memperanakkan dari dirinya sendiri pasangan dewa yang pertama, Shu dan Tefnut (udara dan embun, pria dan wanita). Pasangan ini kawin dan menghasilkan suatu generasi dewa yang lain, Geb (bumi) dan istrinya Nut (langit). Dan demikianlah proses kehidupan dimulai.

Dalam sebuah cerita lain (ini berasal dari kota Hermopolis), penciptaan mulai dengan empat pasangan dewa. Keempat pasangan ini menciptakan sebuah telur. Dari telur ini lahirlah matahari (Re). Kemudian Re menciptakan dunia.

Orang Mesir menceritakan kisah-kisah penciptaan ini untuk berusaha membuktikan bahwa kota mereka adalah tempat penciptaan. Memfis, Thebes, Heliopolis, dan Hermopolis menyatakan bahwa di daerah mereka itulah segala sesuatu dimulai.

Pemujaan Kaisar

Orang-orang Romawi menemukan bermacam-macam bahasa, agama, dan kebudayaan di antara bangsa-bangsa yang telah mereka taklukkan. Secara berangsur-angsur Kekaisaran Romawi mengasimilasi kepercayaan-kepercayaan asing ini, termasuk pemujaan para pemimpin politik.

Propinsi-propinsi di bagian timur mempunyai kebiasaan untuk memuja penguasa mereka yang masih hidup. Bangsa Mesir menganggap bahwa para firaun adalah keturunan dewa matahari, sedang bangsa Yunani memuja para pahlawan besar mereka yang telah wafat. Aleksander Agung mendirikan sebuah kultus pemuja untuk dirinya sendiri di Aleksandria. Wangsa Seleukos dari Siria dan wangsa Ptolemeus dari Mesir mengikuti tradisi ini, serta menyebutkan diri mereka dewa-dewa yang tinggal di bumi. Ketika kekuasaan Roma mulai menggantikan raja-raja ini, pemujaan Roma (pendewaan negara Romawi) mulai menggantikan kultus mereka. Bangsa-bangsa yang ditaklukkan mulai memuja orang-orang Romawi yang tersohor - Sulla, Marcus Antonius, Julius Caesar.

Pertama-tama, orang Romawi meremehkan pemujaan penguasa. Akan tetapi, mereka memuja roh nenek moyang mereka yang sudah mati (lares) dan roh ilahi dari kepala keluarga (paterfamilias).

Augustus Caesar menggabungkan gagasan-gagasan pemujaan penguasa dan pemujaan nenek moyang dalam pemujaan kaisar. Di propinsi-propinsi, warga negara Romawi memuja Roma dan Augustus bersama-sama sebagai suatu tanda dari kesetiaan mereka kepada kaisar.

Di seluruh kekaisaran itu, warga negara Roma menggabungkan pemujaan kaisar ke dalam agama setempat.

Di propinsi-propinsi, warga negara yang terkemuka menjadi imam dalam pemujaan kaisar untuk mempererat hubungan mereka dengan Roma. Akan tetapi, Augustus membebaskan orang Yahudi dari pemujaan kepada kaisar.

Kaisar Caligula (tahun 37-41 M.) menyatakan dirinya sebagai dewa; ia membangun dua kuil untuk dirinya - satu dengan biaya masyarakat, dan yang lain dengan biayanya sendiri. Dengan berpakaian sebagai Yupiter, ia mengucapkan berbagai ramalan. Setelah mengubah kuil Castor dan Pollux menjadi ruang depan istananya, ia tampil di antara area dewa-dewa itu untuk menerima pujaan, Ia dituduh telah mengikuti kebiasaan wangsa Ptolemeus yaitu menikahi saudara perempuannya sendiri. Pada tahun 40 M., mungkin karena digusarkan oleh kenyataan bahwa beberapa orang Yahudi telah menghancurkan sebuah mezbah yang didirikan kepadanya, maka Caligula memerintahkan agar sebuah patung Yupiter yang memiliki roman mukanya ditempatkan di bait suci di Yerusalem. Orang Yahudi menanggapi dengan mengatakan bahwa "apabila ia hendak menempatkan patung itu di antara mereka, ia harus lebih dahulu mengorbankan seluruh bangsa Yahudi" (Flavius Yosefus, Wars, Vol. 2, Bk. 10, Sec. 4). Petronius, gubernur di Siria, berhasil membuat perintah ini dibatalkan.

Claudius, pengganti Caligula, mengembalikan kebebasan beragama kepada bangsa Yahudi dan menghindari usaha-usaha untuk memuja dirinya. la berkata, "Karena saya tidak ingin kelihatan kampungan kepada orang-orang yang hidup sezaman dengan saya dan saya berpendapat bahwa kuil-kuil dan yang semacam itu sudah berabad-abad dihubungkan dengan dewa-dewa saja."

Kisah yang paling tersohor dari kebijaksanaan orang Romawi terhadap orang Kristen terdapat dalam korespondensi antara Plinius Muda (thn. 62-113 M.) dan kaisar Trayanus (memerintah thn. 98-117 M.). Plinius telah diutus ke Bitinia (sekarang Turki) untuk menyelidiki tuduhan ketidakbijaksanaan dalam pemerintahan. Orang-orang Bitinia mengadukan tetangga Kristen mereka, tetapi Plinius tidak yakin akan Cara menangani mereka. Ia memberi tahu kepada kaisar:

" ... Cara yang telah saya jalankan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai orang Kristen adalah begini: Saya menanyai mereka apakah mereka orang Kristen; jika mereka mengaku, saya mengulang pertanyaan itu dua kali lagi dengan menambahkan ancaman hukuman mati; jika mereka masih bersikeras, saya memberi perintah untuk menghukum mati mereka .... Orang yang menyangkal bahwa mereka dahulu atau pernah menjadi Kristen, dan yang mengucapkan sesudah saya suatu doa kepada dewa-dewa, dan mempersembahkan pujaan, dengan anggur dan kemenyan, kepada patung yang Mulia . . . dan yang akhirnya mengutuk Kristus - konon, mereka yang benar-benar Kristen tidak dapat dipaksa untuk melakukan satu pun dari perbuatan-perbuatan ini - orang-orang ini saya anggap patut dibebaskan ...

Karena saya anggap penting untuk memohon petunjuk Yang Mulia mengenai perkara ini - terutama mengingat jumlah orang yang terancam. Orang dari semua tingkat dan usia serta pria dan wanita akan terlibat dalam penganiayaan ini. Karena takhayul yang mudah menjalar ini tidak terbatas pada kota-kota saja, tetapi telah tersebar ke desa-desa dan daerah-daerah pedusunan; akan tetapi, tampaknya ada kemungkinan untuk menahan dan melenyapkannya" (Epistle X, 96).

Jawaban Trayanus menyimpulkan kebijaksanaan ini, "Cara yang telah Anda gunakan, Plinius yang baik, dalam menyaring kasus-kasus yang dilaporkan kepada Anda sebagai orang Kristen adalah sangat tepat ... Jangan mengadakan pencarian untuk orang-orang ini; bila mereka dilaporkan dan didapati bersalah mereka harus dihukum; akan tetapi, dengan pembatasan bahwa bila pihak itu menyangkal menjadi Kristen, dan akan memberi bukti bahwa ia bukan Kristen (yaitu dengan memuja dewa-dewa kami) ia akan diampuni atas dasar pertobatannya" (Epistle X, 97).

Pemujaan kaisar berlangsung sebagai agama penyembahan berhala yang amat resmi di kekaisaran itu sampai agama Kristen diakui di bawah pimpinan Kaisar Constantinus (memerintah thn. 305-337 M.).

 B. Cerita Penciptaan dari Babel. 
sembunyikan teks

Cerita penciptaan yang paling lengkap dari Babel biasanya disebut Enuma Elish. Inilah dua kata yang pertama dari cerita tersebut dan diterjemahkan sebagai "Ketika di ketinggian . . . "

Pada mulanya ada dua dewa, Apsu dan Tiamat, yang mewakili air tawar (laki-laki) dan air laut (perempuan). Keduanya tinggal bersama sebagai suami istri dan menghasilkan makhluk-makhluk ilahi generasi kedua. Tidak lama kemudian Apsu menderita insomnia karena dewa dan dewi yang muda itu berisik: ia sama sekali tak dapat tidur. Ia ingin membunuh mereka, sekalipun Tiamat, istrinya, memprotes. Namun, sebelum ia dapat melakukannya, Ea, dewa kebijaksanaan dan sihir, memantrai Apsu sehingga tertidur dan membunuhnya.

Karena tidak mau dikalahkan, Tiamat merencanakan pembalasan terhadap pembunuh suaminya dan mereka yang membantu dalam pembunuhan itu. Tindakan pertamanya ialah mengawini suami yang kedua, yang bernama Kingu. Kemudian ia mengumpulkan bala tentara untuk rencana pembalasannya.

Pada saat ini para dewa menghimbau kepada dewa Marduk untuk menyelamatkan mereka. Dengan senang hati Marduk menerima tantangan itu, dengan syarat bahwa jika ia menang dari Tiamat, mereka harus menjadikan dia kepala atas semua dewa.

Konfrontasi antara Tiamat dan Marduk berakhir dengan kemenangan yang gemilang untuk Marduk. Ia menawan para pengikut Tiamat dan menjadikan mereka budaknya. Kemudian ia memotong mayat Tiamat menjadi dua, serta menciptakan langit dari separuh mayat itu dan menciptakan bumi dari bagian separuh yang lain. Ia memerintah mereka yang tadinya mendukung Tiamat untuk mengurus bumi.

Tidak lama kemudian, Marduk menyusun sebuah rencana lain. Ia suruh membunuh Kingu dan mengatur agar Ea menjadikan manusia dari darah Kingu. Dalam kata-kata.cerita itu, nasib manusia adalah "dibebani dengan kerja keras para dewa." Untuk memperlihatkan rasa terima kasih mereka kepada Marduk, para dewa membantu dia membangun kota Babel yang besar dan kuilnya yang mengagumkan. Cerita ini berakhir dengan menggambarkan jamuan besar para dewa untuk menghormati Marduk dan dengan mencatat ke-50 namanya. Tiap-tiap nama itu dianggap menunjuk suatu kekuatan atau prestasi yang menjadi cirinya.

Perhatikanlah beberapa hal yang ditekankan cerita ini. Menurut cerita ini pada mulanya ada dua dewa, Apsu,dan Tiamat, laki-laki dan perempuan. Hal ini nyata sekali berbeda dari kisah penciptaan di Kejadian 1-2, yang menyatakan bahwa pada mulanya ada Allah yang esa, bukan dua. Apa sebabnya penting untuk mengetahui bahwa Allah tidak mempunyai istri, dan sendirian? Oleh karena hal ini menunjuk bahwa Allah memperoleh kepuasan di dalam diri-Nya sendiri dan tidak memerlukan sumber-sumber lain di luar diri-Nya. Pasal pembukaan kitab Kejadian tidak menyebutkan hal lain yang menemukan kepuasan di dalam dirinya. Semua makhluk ciptaan Tuhan memperoleh kepuasan di dalam sesuatu atau seorang lain di luar diri Mereka.

Tidak ada masalah bagi orang Babel yang menyembah berhala untuk percaya bahwa pada mulanya ada dua allah. Sepanjang yang menyangkut dirinya, tidak ada masa depan dengan satu allah saja. Bagaimana bisa terjadi penciptaan dan proses memperanakkan jika hanya ada satu allah'? Bila orang penyembah berhala berbicara tentang para dewanya, ia hanya berbicara menurut kategori manusiawi. Ia tidak dapat membayangkan dewa yang berbeda dengan manusia.

Kedengarannya aneh bahwa dewa Babel, yaitu Apsu, mengeluh karena ia ingin tidur. Tetapi ketika Pemazmur mengatakan bahwa Allah kita "tidak terlelap dan tidak tertidur" (Mzm. 121:4), ia sedang mengatakan sesuatu yang tidak jelas pada zamannya itu. Hal ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kepercayaan Israel pada Allah sama sekali unik di antara bangsa-bangsa dunia purba.

Apsu siap untuk membunuh karena anak-anaknya membuat dia tak bisa tidur. la tidak mempunyai motif moral yang tegas. Dewa itu marah - bukannya sebab manusia telah memenuhi bumi dengan kekerasan atau kebusukan, tetapi karena dunia itu begitu berisik sampai ia tak dapat tidur! Kelihatannya aneh bahwa dewa seperti Apsu dapat bertindak dengan alasan-alasan yang begitu mementingkan diri. Akan tetapi, pikiran orang penyembah berhala menyimpulkan bahwa, apabila manusia fana dapat bertindak seperti itu, mengapa dewa-dewa tidak?

Maksud sesungguhnya dari Enuma Elish bukanlah berkisah tentang penciptaan dunia. Kisah ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana dewa Marduk menjadi dewa utama dari Babel, kota yang hebat itu? Mungkin sekali, orang Babel membaca kisah yang khusus ini pada perayaan Tahun Baru mereka, dengan harapan bahwa hal ini akan menjamin tahun yang baik di depan. Marduk mewakili kekuatan-kekuatan ketertiban, sedangkan Tiamat mewakili kekuatan-kekuatan kekacauan. Jalan pemikiran ini menyimpulkan bahwa apabila seseorang mengucapkan kata yang tepat pada saat yang tepat, kesempatannya untuk berhasil akan meningkat. Pemikiran ini memandang perayaan atau membaca doa kepada para dewa sebagai semacam jimat yang sakti.

Mitos para penyembah berhala memandang penciptaan manusia sebagai suatu pikiran yang timbul kemudian. Mereka mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi hamba para dewa, untuk melakukan "pekerjaan licik" mereka. Orang Babel percaya bahwa manusia itu jahat karena Marduk telah menjadikan dia dari darah dewa yang membangkang, Kingu. Pasti kisah ini tidak memiliki keagungan yang kita temukan di sekitar penciptaan manusia di kitab Kejadian.

Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya, berbeda dari segala yang lain yang telah diciptakan Tuhan (Kej. 1:26, 27). Dari semua sastra purba, hanya Alkitablah yang mempunyai kisah penciptaan perempuan yang terpisah (Kej. 2:21-25).

 C. Berbagai Mitos Air Bah dari Bangsa-Bangsa Kafir. 
sembunyikan teks

Di Alkitab, kisah penciptaan segera disusul oleh kisah Air Bah yaitu tanggapan Allah terhadap kejahatan manusia yang berulang-ulang dilakukan (Kej. 6-9). Baik di Mesir maupun di Kanaan kita menemukan berbagai narasi tentang dewa-dewa yang berang yang melampiaskan murka mereka kepada umat manusia, kadang-kadang disertai banjir yang besar.

Dalam mitologi Mesir, dewi Sekhmet bermaksud untuk memusnahkan umat manusia. Rencananya digagalkan ketika para dewa yang lain membanjiri dunia dengan bir yang telah diberi warna merah darah. Karena ia haus darah, maka Sekhmet minum sepuas-puasnya dan ia tertidur oleh bir itu.

Sastra Kanaan menceritakan cerita yang serupa mengenai dewi Anath (istri Baal), yang mengamuk terhadap manusia. Tak ada detail berdarah yang dihilangkan dari cerita itu waktu Anath menceburkan diri dalam pertempuran dengan bersenjatakan sebuah pentung dan busur, "Di bawah Anath (terbang) kepala-kepala bagaikan burung pemakan bangkai. Di atasnya (terbang) tangan-tangan bagaikan belalang ... Ia terjun sampai ke lututnya dalam darah para pahlawan. Setinggi lehernya dalam darah kental para tentara . . . Anath membesarkan hatinya dengan tawa. Hatinya penuh sukacita. Karena di tangan Anath ada kemenangan."31

Sastra Mesopotamia meliputi sebuah naskah yang penting sekali yang memaparkan air bah sebagai hukuman ilahi. Naskah yang khusus dinamakan Syair Kepahlawanan Gilgames. Tokoh utamanya sendiri alah kombinasi sejarah dan legenda. Sebenarnya, dia adalah raja ke-5 dari wangsa Uruk (sekitar 2600 sM), dan muncul dalam legenda sebagai orang yang mirip Simson. Dua hal menonjol dalam tradisi-tradisi tentang Gilgarnes. Pertama, cerita itu mengatakan bahwa sepertiga bagiannya adalah manusia dan dua per tiga bersifat ilahi. Kedua, menurut dugaan asal-usulnya campuran manusia dan dewa; ibunya adalah dewi Ninsun dan ayahnya adalah Lugal-banda, raja Uruk yang sebelumnya.

Syair Kepahlawanan Gilgames menceritakan bagaimana Gilgames berlaku kejam kepada taklukannya. Untuk melunakkan dia, rakyat Uruk membujuk dewi Aruru untuk menjadikan seorang laki-laki bernama Enkidu. Akhirnya Enkidu bertemu dengan Gilgames dan keduanya menjadi sahabat baik. Sesudah itu, mereka berperang melawan bermacam-macam monster, termasuk Humbaba, naga yang jahat. Gilgames itu tampan - begitu tampan sehingga dewi Isytar mengusulkan untuk menikah dengannya. Gilgames menolak pinangannya karena ia seorang istri dan kekasih yang bersetubuh dengan siapa saja. Dengan menggerutu, Isytar mendapat izin dari bapanya, Anu, untuk membinasakan Gilgames dengan Banteng Surga. Perkelahian yang garang menyusul, dan sekali lagi Gilgames dan Enkidu menang.

Tetapi Enkidu jatuh sakit dan meninggal. Sementara memikirkan kematian sahabatnya, Gilgames memutuskan untuk bertemu dengan seorang laki-laki bernama Utnapisytim. Dialah satu-satunya manusia fana yang kini sanggup hidup selama-lamanya karena ia telah bertahan selama air bah. Gilgames ingin mengetahui bagaimana ia dapat hidup selama-lamanya. Setelah banyak petualangan yang mengerikan di dunia orang mati, akhirnya Gilgames berjumpa dengan Utnapisytim.

Utnapisytim bercerita kepada Gilgames bagaimana para dewa secara rahasia memutuskan untuk mengirim air bah ke bumi, terutama dengan perantaraan Enlil, dewa badai. Ea, salah satu dewa, memberi tahu rencana ini kepada Utnapisytim dan mendorong dia untuk membangun sebuah kapal untuk menyelamatkan dirinya, keluarganya, beberapa jenis logam mulia, dan berbagai jenis hewan. Utnapisytim membawa semuanya naik kapal bersama dengan beberapa anak buah yang pandai. Hujan turun selama tujuh hari dan tujuh malam. Setelah hujan berhenti kapal Utnapisytim mendarat atas sebuah gunung. Ia mengirim berbagai burung untuk menentukan apakah air telah surut atau tidak. Ketika akhirnya ia meninggalkan kapal itu, ia mempersembahkan kurban kepada para dewa, yang "berkerumun bagaikan lalat" di sekeliling kurban itu. Enlil marah sekali karena dua orang dapat luput dari malapetaka yang didatangkannya dan mula-mula mengancam tetapi kemudian menganugerahkan sifat kedewaan kepada Utnapisytim dan istrinya - bukan sebagai pahala, tetapi sebagai alternatif selain membinasakan manusia.

Akan tetapi, semua ini tidak berarti apa-apa bagi Gilgames. Penyelamatan Utnapisytim adalah suatu kekecualian, bukan suatu preseden. Untuk menghiburnya, Utnapisytim memberikan Tanaman Kehidupan kepada Gilgames; tetapi ini pun dicuri oleh seekor ular. Frustrasi lepas frustrasi! Dengan muram Gilgames berjalan pulang ke Uruk. Ia tahu ia harus mati, tetapi setidak-tidaknya ia akan dikenang karena prestasinya di bidang pembangunan - keabadiannya terdapat dalam karya tangannya sendiri. Syair ini adalah salah satu syair kepahlawanan yang besar dalam bahasa Akad.

Terjalin dalam mitos ini adalah cerita air bah dari Mesopotamia, dengan persamaan-persamaan yang mempesonakan dengan nas Alkitab. Namun, mitos Mesopotamia ini sama sekali tidak membuat orang meragukan kebenaran kitab Kejadian.

Ada banyak perbedaan ideologis di antara kedua cerita air bah ini. Epik Gilgames itu tidak memberikan alasan yang jelas mengapa Enlil mengirim air bah. Pasti ia tidak marah karena kemerosotan akhlak umat manusia. Bagaimana ia dapat merasa demikian? Dewa-dewa para penyembah berhala tidak menjadi suri teladan kebaikan dan kesucian serta tidak memperjuangkannya. C. H. Gordon, seorang cendekiawan mutakhir, berkata, "Penyelidik yang modern jangan sampai keliru berpikir bahwa orang Timur pada zaman purba mengalami kesulitan dalam mencocokkan ide kedewaan dengan tindakan-tindakan yang mencakup penipuan, penyuapan, hal membuka-buka secara tak senonoh sebagai lelucon, dan perbuatan homoseksual."32

Juga, perhatikan bahwa Epik Gilgames menekankan penggunaan keterampilan manusiawi oleh Utnapisytim dalam menyelamatkan dirinya dari air bah. Oleh sebab itu ada mualim di kapal; ini merupakan tandingan dari kecerdasan manusia dan kecerdasan para dewa. Kisah dalam kitab Kejadian sama sekali tidak menceritakan hal-hal seperti ini; di bahtera tidak terdapat peralatan navigasi, juga tidak ada pelaut-pelaut profesional. Jikalau Nuh, istrinya, dan keluarganya harus diselamatkan, itu akan terjadi oleh kasih karunia Allah, bukan oleh keahlian atau kecerdikan manusia.

Ketiga, cerita Gilgames pada dasarnya tidak memiliki nilai pendidikan dan nilai moral jangka panjang. Alkitab menjelaskan pentingnya Air Bah untuk generasi-generasi yang berikut dengan mengutip perkataan sebuah perjanjian dengan Allah, "Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu ... tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi" (Kej. 9:11).

Keempat, Alkitab menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan Nuh untuk memelihara umat manusia. Mitos Utnapisytim tidak mencerminkan rencana dewa seperti itu. Ia diselamatkan secara kebetulan, oleh sebab salah satu dewa membuka rahasia niat Enlil kepadanya.

 D. Naskah-Naskah Ramalan. 
sembunyikan teks

Naskah-naskah yang membicarakan ramalan merupakan golongan tunggal terbesar yang kedua dari sastra cuneiform Mesopotamia (sesudah naskah-naskah ekonomi). Pada tingkatnya yang paling dasar, ramalan adalah usaha untuk menguraikan kehendak para dewa dengan menggunakan berbagai teknik ilmu. gaib. Para penyembah berhala percaya bahwa mereka dapat menggunakan ketrampilan dan kecerdikan manusia untuk memperoleh pengetahuan dari para dewa mengenai situasi-situasi tertentu. Dalam perkataan Yehezkiel Kaufmann, seorang peramal adalah "seorang ilmuwan yang tidak memerlukan wahyu ilahi."33

Ramalan biasanya mengikuti cara induktif atau cara intuitif. Dalam cara induktif, si peramal mengamati berbagai kejadian dan kemudian menarik berbagai kesimpulan darinya. Cara yang paling umum ialah mengamati isi perut domba atau kambing yang telah disembelih. Para peramal biasanya mengamati hati (suatu teknik yang disebut hepatoskopi). Suatu formula ramalan yang khas mungkin berbunyi seperti ini, "Kalau hati itu berbentuk X, maka hasil pertempuran/penyakit/perjalanan itu akan seperti berikut . . . . "

Sistem yang khusus ini baik untuk raja dan orang kaya, tetapi untuk warganegara yang biasa diperlukan berbagai teknik yang lebih murah. Paling tidak ada setengah lusin teknik yang murah, seperti lecanolnancy (membiarkan tetes-tetes minyak jatuh ke dalam secangkir air dan memperhatikan gambar yang kelihatan) atau libanomancy (memperhatikan berbagai bentuk dari asap dupa).

Dalam jenis ramalan yang intuitif, si peramal kurang aktif: ia lebih banyak bertindak sebagai pengamat dan penafsir. Jenis ramalan intuitif yang paling terkenal adalah menafsirkan mimpi (oneiromancy). Cara ini telah menghasilkan sekumpulan sastra tafsiran mimpi yang berbunyi, "Kalau Anda bermimpi seperti itu, maka artinya . . . . " Cara-cara lain untuk meramal adalah naskah-naskah yang dikenal sebagai menologi dan hemerologi. Jenis yang pertama mencatat bulan-bulan dalam setahun dan memberi tahu bulan-bulan mana yang baik untuk jenis-jenis tugas tertentu. Jenis yang kedua mencatat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada atau dijauhi untuk setiap hari dalam sebulan. Dari semua cara ini lahirlah astrologi.

Perjanjian Lama melarang semua teknik ramalan (bdg. Ul. 18:10; Im. 20:6; Yeh. 13:6-8). Alkitab menyebut ramalan itu suatu "kekejian"; karena alasan itulah maka di Israel tidak terdapat peramal profesional. Ramalan menaruh kepercayaan pada kebijaksanaan manusia dan hal itu merupakan penghinaan kepada Allah, karena mencerminkan keengganan untuk mempercayai penyataan kebenaran-Nya.

 E. Sastra Keagamaan.
sembunyikan teks

Sebagian besar naskah yang bercerita tentang kuil penyembahan berhala, persembahan, kurban, dan keimaman sedang menggambarkan agama raja. Biasanya hal-hal itu tidak berlaku untuk agama rakyat jelata. Leo Oppenheim telah berkata dengan tepat, "Orang biasa . . . tetap tidak dikenal, unsur tak dikenal yang paling penting dalam agama Mesopotamia."34 Pasti, hal yang sama dapat dikatakan tentang Mesir. Tidak mungkin. bahwa "orang biasa" dapat menerima wahyu dari para dewa. Menerima wahyu adalah hak istimewa raja.

Di sini terdapat perbedaan yang sangat besar antara Alkitab Kristen dan agama-agama penyembahan berhala. Di Perjanjian Lama, Allah berfirman tidak hanya kepada para pemimpin seperti Musa dan Daud, tetapi juga kepada wanita tunasusila, sampah masyarakat, orang berdosa, dan lain-lain. Misalnya, perhatikanlah bahwa orang pertama yang disebut di Alkitab sebagai orang yang dipenuhi dengan Roh Allah adalah seorang bernama Bezaleel (Kel. 31:3), mandor yang mengepalai pembangunan kemah suci.

Entah itu di Mesir atau di Mesopotamia, para penyembah berhala percaya bahwa dewa-dewa mereka tinggal di dalam kuil-kuil yang telah dibangun untuk mereka. Sebagai tempat kediaman dewa maka kuil itu dianggap suci. Nyanyian-nyanyian kepada kuil-kuil sangat umum dalam sastra para penyembah berhala.

Dalam hal ini, doa Salomo ketika menahbiskan bait suci di Yerusalem menyatakan tekanan yang jelas menentang penyembahan berhala. Pertimbangkan ayat ini, "Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini" (I Raj. 8:27).

Raja kafir mengelola kuil dan melakukan pelayanan sebagai imam bagi dewa-dewanya. Ia dianggap sebagai pengantara antara manusia dengan para dewa. Ia memerintah untuk para dewa (seperti di Mesopotamia) atau sebagai dewa (seperti di Mesir).

Sambil lalu, di sini kita bertemu dengan salah satu ciri yang paling khas dari iman alkitabiah. Agama-agama kafir tidak pernah menghasilkan jurubicara - yang berani membantah raja, seperti yang dilakukan para nabi di Alkitab. Para penyembah berhala tidak mempunyai konsep tentang "imunitas kenabian." Hanya di Israel seorang raja dapat disalahkan oleh seorang nabi dengan kata-kata, "Engkaulah orang itu!" (II Sam. 12:7). Betapa pun, jikalau raja itu berdaulat, ilahi, dan imam kepala, siapa dapat mengatakan kepadanya bahwa ia bersalah? Inilah sebabnya Izebel, yang berasal dari lingkungan Fenisia, tidak dapat mengerti mengapa suaminya, yang orang Israel, gemetar ketakutan di hadapan Nabi Elia (bdg. I Raj. 16:31; 21:6, 20-27).



TIP #27: Arahkan mouse pada tautan ayat untuk menampilkan teks ayat dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA