Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala >  II. Agama Resmi Lawan Agama Populer. > 
A. Berbagai Kategori Ilah-Ilah. 
sembunyikan teks

Setiap sistem agama purba mempunyai kepala dewa yang lebih berkuasa daripada yang lain. Bagi orang Mesir, kepala dewa ini mungkin Re, Horus, atau Osiris; bagi bangsa Sumer dan Akad, mungkin Enlil, Enki/Ea, atau Marduk; bagi orang Kanaan, kepala dewa itu mungkin El; dan bagi orang Yunani, Zeus. Kebanyakan kali, para penyembah berhala membangun kuil dan mengucapkan liturgi untuk menghormati ilah-ilah yang tinggi ini. Biasanya raja memimpin penyembahan ini, serta bertindak sebagai wakil dewa dalam sebuah jamuan, pernikahan atau pertempuran ritual. Inilah agama yang resmi.

"Kuil adalah rumah dewa itu, dan para imam adalah para pembantu rumahnya .... Tugas staf kuil itu setiap hari adalah melayani 'kebutuhan jasmani' dewa itu sesuai dengan rutin yang sudah tetap ....

"Tetapi dewa itu bukan hanya kepala kuil itu, ia juga adalah tuan dan pemimpin atas bangsanya, dan sebagai pemimpin ia berhak untuk menerima bermacam-macam persembahan dan upeti .. . . "28

Dewa-dewa dari agama negara yang resmi terlalu jauh dari rakyat biasa hingga tidak berguna baginya.

Mesir purba dibagi atas berbagai distrik yang disebut nome. Pada awal bangsa Mesir ada 22 nome di Mesir Hulu (bagian selatan) dan 20 nome di daerah delta di utara. Tiap nome mempunyai sebuah kota penting atau ibu kota dan dewa setempat yang disembah di daerah itu: Ptah di Memfis, Amun-Re di Thebes, Thoth di Hermopolis, dan lain sebagainya. Begitu juga di Mesopotamia, setiap kota menjadi kota suci bagi satu dewa atau dewi: Nanna/Sin di Ur (tempat kelahiran Abraham), Utu/Shamasy di Larsa, Enlil di Nippur, dan Marduk di Babel. Bangsa Kanaan memuja "Baal" (dewa kesuburan setempat), tetapi orang-orang dari setiap komunitas mempunyai baal mereka sendiri, seperti yang dapat kita ketahui dari nama-nama tempat seperti Baal-Zefon, Baal-Peor, dan Baal-Hermon (semuanya disebut di Perjanjian Lama - misalnya, Kel. 14:2; Bil. 25:5; Hak. 3:3). Di Timur Dekat kuno, agama yang resmi berkiblat kepada negara, sedangkan agama yang populer berkiblat kepada tempat geografis. Manusia pada zaman purba tidak menganggapnya tidak konsekuen untuk percaya pada dewa-dewa di "atas Sana" dan dewa yang lain "di sini" - semuanya bersaing untuk mendapat perhatian dan perhambaannya. Ini merupakan kesadaran yang sebagian dari masalah pokok yang menyangkut imanensi dan transendensi.



TIP #24: Gunakan Studi Kamus untuk mempelajari dan menyelidiki segala aspek dari 20,000+ istilah/kata. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA