Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac > 
41. Gereja yang Mula-Mula 
sembunyikan teks

Kata Yunani yang oleh Alkitab diterjemahkan sebagai jemaat atau gereja, adalah ekklesia, yang berasal dari kata Yunani kaleo ("Aku memanggil" atau "Aku memerintahkan"). Dalam bacaan sekular, kata ekklesia merujuk kepada suatu perkumpulan orang, tetapi di dalam Perjanjian Baru kata tersebut mempunyai arti yang lebih khusus. Bacaan sekular mungkin menggunakan kata ekklesia untuk mengacu kepada suatu kerusuhan, kampanye politik, pesta pora, atau pertemuan dengan tujuan-tujuan lainnya. Tetapi Perjanjian Baru menggunakan kata ekklesia hanya untuk merujuk kepada pertemuan-pertemuan orang Kristen untuk menyembah Kristus. Itulah sebabnya para penerjemah Alkitab menggunakan kata jemaat, dan bukan menggunakan istilah-istilah yang lebih umum, seperti pertemuan atau perkumpulan.

Apakah jemaat atau gereja itu? "Pertemuan" ini terdiri atas orang-orang seperti apakah? Apa yang dimaksud Paulus ketika ia menyebut gereja atau jemaat sebagai "tubuh Kristus"?

Untuk menjawab pertanyaan ini secara menyeluruh, kita perlu memahami konteks sosial dan sejarah dari gereja pada masa Perjanjian Batu. Gereja mula-mula itu lahir pada persimpangan antara budaya Ibrani dan budaya Helenistis. Kita telah menyelidiki kedua kebudayaan itu dalam dua bab terdahulu, "Orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru" dan "Orang Yunani dan Helenisme."

Dalam bab ini kita mengalihkan perhatian kita kepada sejarah gereja mula-mula itu sendiri. Kita akan melihat paham orang-orang Kristen mula-mula itu mengenai misi mereka, dan bagaimana orang-orang yang tidak percaya memandang mereka.

 I. GEREJA DIDIRIKAN. 
sembunyikan teks

Empat puluh hari setelah kebangkitan Yesus, Ia memberikan perintah-perintah terakhir kepada para murid-Nya dan naik ke surga (Kis. 1:1-11). Para murid kembali ke Yerusalem dan mengasingkan diri selama beberapa hari untuk berpuasa dan berdoa, serta menantikan kedatangan Roh Kudus, yang dijanjikan oleh Yesus. Sekitar 120 orang pengikut Yesus yang menanti dalam kelompok tersebut.

Lima puluh hari setelah hari Paskah, pada hari Pentakosta, suatu bunyi seperti angin ribut memenuhi rumah tempat kelompok itu sedang berkumpul. Lidah-lidah api tampak di atas mereka semua, dan mereka mulai berbicara dalam bahasa yang bukan bahasa mereka seperti yang diberikan oleh Roh Kudus kepada mereka untuk mengatakannya. Beberapa orang asing heran mendengar para murid berbicara dalam bahasa mereka. Sebagian dari mereka mengejek para murid, dan mengatakan bahwa mereka pasti sedang mabuk (Kis. 2:13).

Tetapi Petrus menenangkan orang banyak itu dan menjelaskan bahwa mereka sedang menyaksikan pencurahan Roh Kudus yang dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama (Kis. 2:16-21; bdg. Yl. 2:28-32). Beberapa orang asing itu bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk menerima Roh Kudus. Petrus berkata, "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus" (Kis. 2:38). Sekitar 3000 orang menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka pada hari itu (Kis. 2:41).

Selama beberapa tahun Yerusalem menjadi pusat gereja. Banyak orang Yahudi percaya bahwa para pengikut Yesus hanyalah sebuah sekte lain dari agama Yahudi. Mereka curiga bahwa orang-orang Kristen itu sedang mencoba untuk memulai sebuah "agama rahasia" yang baru seputar tokoh Yesus dari Nazaret.

Memang benar bahwa banyak orang Kristen mula-mula itu masih beribadah di Bait Allah (bdg. Kis. 3:1) dan sebagian dari mereka berpendapat bahwa orang-orang bukan Yahudi yang bertobat haruslah disunat (bdg. Kis. 15). Namun, segera para pemuka Yahudi sadar bahwa orang-orang Kristen bukan sekadar suatu sekte. Yesus telah memberi tahu kepada orang-orang Yahudi bahwa Allah akan mengadakan sebuah perjanjian yang baru dengan orang-orang yang setia kepada-Nya (Mat. 16:18); Ia telah memeteraikan perjanjian ini dengan darah-Nya sendiri (Luk. 22:20). Karena itu orang Kristen mula-mula dengan berani menyatakan bahwa mereka telah mewarisi hak-hak istimewa yang pernah dimiliki oleh Israel. Mereka bukanlah sekadar bagian dari Israel - mereka adalah Israel yang baru (Why. 3:12; 21:2; bdg. Mat. 26:28; Ibr. 8:8; 9:15). Para pemuka Yahudi takut bahwa ajaran baru yang aneh ini bukan agama Yahudi yang picik, melainkan menggabungkan hak-hak istimewa Israel ke dalam pernyataan yang agung mengenai satu Bapa seluruh umat manusia.96

 II. USAHA-USAHA MISI.
sembunyikan teks

Kristus telah mendirikan gereja-Nya pada persimpangan dunia lama. Jalur-jalur perdagangan membawa para pedagang dan para utusan pemerintahan melewati daerah Palestina, di mana mereka dapat mendengar Injil. Oleh karena itu, di dalam Kitab Kisah Para Rasul kita membaca tentang pertobatan pejabat-pejabat dari Roma (Kis. 10:1-48), Etiopia (Kis. 8:26-40), dan negeri-negeri lain.

Tidak lama setelah kematian Stefanus, gereja mulai menjalankan usaha yang sistematis untuk menyebarkan Injil ke bangsa-bangsa lain. Petrus mengunjungi kota-kota utama di Palestina, memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan bukan Yahudi. Para rasul lain pergi ke Fenesia, Siprus, dan Antiokhia di Siria. Ketika mendengar bahwa Injil diterima dengan baik di daerah-daerah tersebut, gereja di Yerusalem mengutus Barnabas untuk memberi semangat kepada orang-orang yang baru menjadi Kristen di Antiokhia (Kis. 11:22-23). Kemudian Barnabas pergi ke Tarsus untuk menemui seorang muda yang baru bertobat, bernama Saulus. Barnabas membawa Saulus kembali ke Antiokhia, di mana mereka mengajar di gereja selama lebih dari setahun (Kis. 11:26).

Seorang nabi bernama Agabus meramalkan bahwa Kekaisaran Romawi akan menderita kelaparan besar di bawah Kaisar Klaudius. Herodes Agripa sedang menganiaya gereja di Yerusalem; ia telah membunuh Yakobus saudara Yohanes, dan menjebloskan Petrus ke dalam penjara (Kis. 12:1-4). Maka orang-orang Kristen di Antiokhia mengumpulkan uang untuk dikirim kepada sahabat-sahabat mereka di Yerusalem. Mereka mengutus Barnabas dan Saulus untuk membawa ke Yerusalem bersama dengan seorang muda yang bernama Yohanes, yang disebut juga Markus (Kis. 12:25).

Pada waktu itu, beberapa pemberita Injil telah muncul di dalam gereja di Antiokhia, karenanya jemaat mengutus Barnabas dan Saulus sebagai utusan Injil ke Asia Kecil (Kis. 13-14). Perjalanan ini merupakan perjalanan pertama dari tiga perjalanan penginjilan besar yang dilakukan oleh Saulus (yang kemudian dikenal dengan Paulus) untuk membawa Injil ke pelosok-pelosok Kekaisaran Romawi. (Baca "Paulus dan Perjalanan-Perjalanannya")

Para misionaris Kristen mula-mula menitikberatkan pengajaran mereka kepada Oknum dan karya Yesus Kristus. Mereka menyatakan bahwa la adalah hamba yang tidak berdosa dan Anak Allah yang telah memberikan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa setiap orang yang percaya kepada-Nya (Rm. 5:8-10). Dialah yang dibangkitkan oleh Allah dari antara orang mati untuk mengalahkan kekuatan dosa (Rm. 4:24-25; I Kor. 15:17). Untuk penjelasan yang lebih terinci tentang doktrin gereja mula-mula, baca "Sejarah Alkitab."

 III. KEPEMIMPINAN GEREJA.
sembunyikan teks

Pada mulanya, para pengikut Kristus tidak melihat perlunya mengembangkan suatu sistem kepemimpinan gereja. Mereka mengharapkan Yesus segera kembali, karenanya mereka menghadapi masalah-masalah intern, bila ada yang timbul - biasanya dengan cara yang sangat informal.

Akan tetapi, ketika Paulus menulis surat kepada gereja-gereja, orang Kristen menyadari perlunya mengorganisir pekerjaan mereka. Perjanjian Baru tidak memberikan suatu gambaran yang terperinci tentang kepemimpinan gereja mula-mula ini. Kelihatannya, seorang atau lebih penatua (presbiter) mengetuai/mengatur masalah-masalah dalam setiap jemaat (bdg. Rm. 12:6-8; I Tes. 5:12; Ibr. 13:7, 17, 24), sama seperti yang dilakukan para penatua di dalam sinagoge Yahudi. Para penatua ini dipilih oleh Roh Kudus (Kis. 20:20), meskipun para rasul yang mengangkat mereka (Kis. 14:23). Jadi, Roh Kudus bekerja melalui para rasul untuk menetapkan para pemimpin bagi pelayanan mereka. Beberapa pelayan yang disebut pemberita Injil kelihatannya telah mengadakan perjalanan dari satu jemaat ke jemaat yang lain, seperti yang dilakukan para rasul. Gelar mereka berarti "orang yang mengajarkan Injil." Ada sarjana yang berpikir bahwa mereka adalah wakil langsung dari para rasul, seperti Timotius menjadi wakil Paulus; yang lainnya berpikir bahwa mereka menjadi ternama karena menyatakan karunia penginjilan yang khusus. Para penatua memikul tugas-tugas pastoral biasa di antara saat-saat kunjungan para penginjil itu.

Dalam beberapa jemaat, para penatua mengangkat diaken-diaken untuk mengatur pembagian makanan bagi mereka yang membutuhkan atau mengurus kebutuhan material yang lain (bdg. I Tim. 3:12). Pala diaken yang pertama adalah orang-orang "yang terkenal baik" yang dipilih oleh para penatua di Yerusalem untuk melayani para janda dalam jemaat (Kis. 6:1-6).

Beberapa surat dalam Perjanjian Baru menyebut istilah bishop (KJV) atau penilik dalam jemaat yang mula-mula. Hal ini sedikit membingungkan, karena para "penilik" (uskup) ini tidak merupakan kelompok atas dalam kepemimpinan gereja, seperti yang dikenal di beberapa gereja sekarang ini. Paulus mengingatkan para penatua di Efesus bahwa mereka adalah penilik (uskup) (Kis. 20:28), dan kelihatannya ia memakai kedua istilah itu, penatua dan penilik (uskup) secara bergantian (Tit. 1:5-9). Baik para penatua dan penilik (uskup) ditugaskan untuk mengawasi sebuah jemaat. Rupanya kedua istilah tersebut mengacu pada para pelayan yang sama di dalam gereja mula-mula, yaitu para presbiter.

Paulus dan para rasul yang lain memahami bahwa Roh Kudus mengaruniakan kemampuan memimpin yang khusus kepada orang-orang tertentu (I Kor. 12:28). Karena itu ketika mereka menganugerahkan suatu gelar resmi kepada seorang saudara atau saudari seiman, mereka hanyalah menegaskan apa yang telah dikerjakan Roh Kudus.

Tidak ada pusat kekuasaan duniawi di dalam gereja mula-mula. Jemaat Kristen mengerti bahwa Kristus adalah pusat dan sumber dari seluruh kekuasaan jemaat (Kis. 20:28). Pekerjaan melayani berarti berbakti dengan rendah hati, dan bukan memerintah dari sebuah kantor yang megah (bdg. Mat. 20:26-28). Pada waktu Paulus menulis surat-surat penggembalaannya, orang-orang Kristen telah menyadari pentingnya menjaga ajaran-ajaran Kristus yang disampaikan melalui para pelayan jemaat yang mengabdikan diri kepada pelajaran yang khusus untuk "berterus terang memberitahukan perkataan kebenaran itu" (II Tim. 2:15).

Gereja mula-mula itu tidak memberikan kekuatan-kekuatan gaib kepada orang-orang melalui berbagai upacara atau cara lainnya. Jemaat Kristen mengundang orang-orang yang belum percaya untuk ikut dalam kelompok mereka, yaitu tubuh Kristus (Ef. 1:23), yang akan diselamatkan sebagai satu kesatuan. Para rasul dan pemberita Injil menyatakan bahwa Kristus akan kembali bagi umat-Nya, "pengantin perempuan Kristus" (bdg. Why. 21:2; 22:17). Mereka menyangkal bahwa orang-orang bisa memperoleh kekuatan khusus dari Kristus untuk tujuan-tujuan pribadi yang mementingkan diri mereka (Kis. 8:9-24; 13:7-12).

 IV. POLA-POLA IBADAH.
sembunyikan teks

Pada waktu jemaat Kristen mula-mula beribadah bersama, mereka membentuk pola-pola ibadah yang agak berbeda dengan ibadah di rumah sembahyang. Kita tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai ibadah dalam jemaat Kristen mula-mula sampai tahun 150, ketika Yustinus Martir menjelaskan pola yang khas mengenai pelayanan ibadah yang khas dalam tulisan-tulisannya. Kita memang mengetahui bahwa jemaat Kristen mula-mula itu melaksanakan ibadah mereka pada setiap hari Minggu, hari pertama dalam tiap minggu. Mereka menyebut hari itu sebagai "hari Tuhan" karena pada hari itu Kristus bangkit dari antara orang mati. Orang-orang Kristen yang mula-mula itu bertemu setiap hari Minggu di Bait Allah di Yerusalem, di sinagoge atau rumah sembahyang, atau di rumah-rumah pribadi (Kis. 2:46; 13:14-16; 20:7-8). Beberapa pakar beranggapan bahwa Paulus mengajar di ruang kuliah "Tiranus" (Kis. 19:9). Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen mula-mula itu kadang-kadang menyewa gedung-gedung sekolah atau sarana-sarana lainnya.98 Kita tidak mempunyai bukti bahwa orang-orang Kristen membangun sarana-sarana khusus untuk ibadah mereka untuk lebih dari satu abad setelah Kristus. Ketika terjadi penganiayaan terhadap orang Kristen, mereka harus beribadah di tempat-tempat rahasia seperti katakomba-katakomba (kuburan-kuburan bawah tanah) di Roma.

Para pakar percaya bahwa jemaat Kristen pertama melakukan ibadah pada setiap hari Minggu sore, dan bahwa ibadah mereka berpusat pada Perjamuan Tuhan. Tetapi pada suatu saat, mereka mulai melakukan ibadah dua kali pada hari Minggu seperti yang diungkapkan oleh Yustinus Martir - sekali pada waktu subuh dan sekali pada waktu sore hari. Jam-jam kebaktian dipilih demi kerahasiaan dan disesuaikan dengan orang-orang yang bekerja, yang tidak bisa mengikuti kebaktian pada siang hari.

 V. KONSEP-KONSEP PERJANJIAN BARU TENTANG GEREJA.
sembunyikan teks

Sungguh menarik untuk menyurvei bermacam-macam konsep Perjanjian Baru tentang gereja. Kitab Suci menyebut jemaat Kristen mula-mula itu sebagai keluarga Allah. dan Bait Allah, sebagai kawanan domba dan pengantin wanita Kristus, sebagai garam dan ragi, sebagai penjala manusia, sebagai benteng yang menjaga kebenaran Allah, dan ada banyak lagi. Gereja dipandang sebagai satu-satunya persekutuan orang-orang percaya di seluruh dunia, dan setiap jemaat lokal merupakan sebuah bagian yang menonjol dan contoh dari persekutuan tersebut. Para penulis Kristen masa lalu, sering mengacu kepada gereja sebagai "tubuh Kristus" dan "Israel batu." Kedua konsep ini mengungkapkan banyak hal tentang pengertian jemaat Kristen mula-mula terhadap misi mereka di dunia.

 VI. DOKTRIN-DOKTRIN PERJANJIAN BARU.
sembunyikan teks

Alkitab mengemukakan ajaran-ajaran dasar iman Kristen. Gereja mula-mula hidup menurut doktrin-doktrin ini dan telah mengabadikannya untuk kita sekarang. Mari kita pusatkan perhatian kita kepada cara Perjanjian Baru mengemukakan Kekristenan.



TIP #12: Klik ikon untuk membuka halaman teks alkitab saja. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA