Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac > 
5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala 
sembunyikan teks

Orang Israel dari zaman Perjanjian Lama berhubungan dengan orang Kanaan, Mesir, Babel, dan bangsa-bangsa lain yang menyembah ilah-ilah palsu. Allah mengingatkan umat-Nya untuk tidak meniru perilaku tetangga mereka yang menyembah berhala, tetapi orang Israel tidak mematuhi Dia. Berulang-ulang mereka terjerumus ke dalam penyembahan berhala.

Apakah yang disembah oleh bangsa-bangsa penyembah berhala ini? Dan bagaimana penyembahan mereka dapat menarik orang Israel hingga menjauhi Allah yang benar?

Dengan meneliti kebudayaan para penyembah berhala ini, kita mengetahui bagaimana manusia mencoba untuk menjawab persoalan utama kehidupan sebelum ia menemukan terang kebenaran Allah. Kita juga mulai mengerti dunia tempat Israel diam - Israel dipanggil untuk menjadi berbeda sama sekali dari dunia ini, baik dalam hal etika maupun dalam hal ideologi.

Sebelum memulai penelitian seperti itu, kita harus memperhatikan beberapa peringatan. Pertama, kita perlu mengingat bahwa paling tidak kita berada sejauh dua sasrawarsa dari kebudayaan-kebudayaan yang hendak kita gambarkan. Buktinya (naskah, gedung, artefak) sering kali amat kurang lengkap. Jadi kita harus berhati-hati bila menarik kesimpulan.

Kedua, kita harus menyadari bahwa kita diam dalam sebuah masyarakat yang pluralistik, di mana setiap orang bebas untuk percaya atau tidak percaya menurut pilihannya sendiri; tetapi orang-orang pada zaman purba merasa bahwa mereka memerlukan agama. Seorang agnostik atau "orang yang tidak mengakui ajaran agama" akan merasa tidak nyaman bila tinggal di antara orang Mesir, orang Het, atau bahkan orang Yunani dan orang Romawi. Agama ada di mana-mana. Agama adalah hakikat masyarakat purba. Orang memuja dewa-dewa dari kampung, kota, atau peradabannya. Apabila ia pindah ke rumah yang baru atau bepergian ke negeri asing, ia wajib menghormati dewa-dewa di sana.

 I. Ciri-Ciri Umum Agama Penyembah Berhala: 
sembunyikan teks

Ciri-ciri tertentu biasa terdapat pada kebanyakan agama penyembah berhala. Mereka semua mempunyai pandangan hidup yang sama, yang dipusatkan pada tempat dan martabatnya. Perbedaan-perbedaan di antara agama bangsa Sumer dan Asyur-Babel atau di antara agama Yunani dan Romawi sangat kecil.

 II. Agama Resmi Lawan Agama Populer.
sembunyikan teks

Agama-agama politeis pada zaman purba bekerja pada dua tingkat; agama resmi dari negara beragama yang kuno dan agama populer yang sebenarnya adalah takhayul.

 III. Agama Penyembah Berhala Dalam Sastra.
sembunyikan teks

Bila kita berpaling kepada sastra dunia purba, kita memperoleh gambaran yang paling jelas mengenai agama-agama penyembah berhala. Hampir seluruh sastra dunia purba mencerminkan agama dari kebudayaannya: nyanyian pujian, doa, prasasti raja, mantera, naskah sejarah, dan syair kepahlawanan. Kepercayaan suatu bangsa terlihat paling jelas ketika mereka menghadapi persoalan-persoalan seperti: Siapakah saya? Dari mana saya berasal? Apakah dunia ini? Bagaimana orang harus menjelaskan kesenangan dan penderitaan? Kita menemukan jawaban mereka untuk soal-soal ini dalam kisah-kisah penciptaan tua (yang secara teknis disebut kosmogoni), dan hampir tidak ada satu kaum pun yang tidak memiliki tradisi mengenai hal ini.

 IV. Hari-Hari Suci. 
sembunyikan teks

Orang Israel merayakan sejumlah perayaan agama selama setahun. (Lihat "Upacara-Upacara Yahudi.") Tetangga mereka yang menyembah berhala mempunyai hari-hari sucinya sendiri, dan kebiasaan-kebiasaan ini memberikan pengertian lebih lanjut mengenai pandangan rohani mereka.

Orang Babel menjalankan perayaan bulan pada hari-hari tertentu dalam sebulan: hari pertama, ketujuh, kelima belas, dan kedua puluh delapan. Mereka juga merayakan hari-hari "ketujuh" yang khusus - hari ketujuh, keempat belas, kedua puluh satu, dan kedua puluh delapan dari setiap bulan. Mereka mengambil tindakan-tindakan pencegahan khusus untuk menghindari kemalangan pada hari-hari "ketujuh" ini. Dan mereka sama sekali tidak bekerja pada hari kelima belas dalam sebulan karena mereka percaya bahwa tidak mungkin terdapat nasib baik pada hari itu: hari perhentian ini dinamakan shappatu. Pada hari shappatu, orang Babel berusaha menenangkan para dewa dan meredakan kemarahan mereka dengan mengadakan hari sesalan dan doa.

Dalam agama penyembahan berhala sebuah kurban adalah makanan untuk dewa, sumber nutrisinya. "Bagaikan lalat" para dewa mengerumuni kurban Utnapisytim sesudah ia turun dari kapalnya. Sulit untuk percaya bahwa ada orang yang betul-betul percaya bahwa berhala itu makan sedikit ketika tak seorang pun melihat. Barangkali hidangan-hidangan itu dibawa kepada raja untuk dimakan setelah itu dipersembahkan kepada berhala. Makanan itu, karena memiliki pancaran kesucian, dianggap dapat menyucikan orang yang memakannya - dalam hal ini, raja. Bila sejumlah besar makanan dipersembahkan Sebagai kurban, seperti di Mesir atau Persia, makanan itu akan diberikan kepada para pegawai kuil. Cerita apokrifa tentang Bel dan Ular Naga menggambarkan kebiasaan ini.

Di samping hari-hari baik dan buruk yang telah kita bicarakan di atas, perayaan terbesar di Babel adalah akitu (yaitu Hari Raya Tahun Baru). Orang Babel merayakan akitu pada bulan Maret dan April, ketika alam mulai hidup kembali. Empat hari yang pertama dilewatkan dengan berdoa kepada Marduk, dewa utama Babel. Pada hari keempat malam, mereka menceritakan kisah penciptaan (Enuma Elish). Dengan menceritakan kembali kemenangan yang semula dari ketertiban (Marduk) atas kekacauan (Tiamat), orang Babel mengharapkan bahwa kemenangan yang sama akan ternyata dalam tahun yang baru. Orang Babel percaya bahwa kata-kata yang diucapkan itu memiliki kuasa. Jadi, pada hari kelima, raja tampil di depan patung Marduk dan menyatakan bahwa ia tidak melakukan kesalahan dan telah memenuhi semua kewajibannya. Kita tidak tahu pasti apa yang dilakukan orang Babel beberapa hari berikutnya, tetapi pada hari kesembilan dan kesepuluh mereka mengadakan pesta. Pada hari kesebelas para petenung meramal nasib selama tahun berikutnya.

 V. Berbagai Pandangan mengenai Akhirat. 
sembunyikan teks

Dua paham yang sama sekali berbeda mengenai akhirat muncul dalam penyembahan berhala di Timur Tengah. Di Mesopotamia, sedikit sekali orang yang percaya bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Epik Gilgames berkata begini, "Gilgames, ke manakah engkau berlari? Hidup, yang kaucari, tidak akan kau temukan. Ketika para dewa menjadikan umat manusia, mereka memberikan Kematian kepada manusia, tetapi Hidup mereka pegang dalam tangan mereka sendiri."35

Di ujung lain dari spektrum itu terdapat orang Mesir. Agama mereka penuh dengan kepercayaan akan kehidupan di akhirat. Orang Mesir percaya bahwa orang mati akan pergi ke suatu daerah yang diperintah oleh Osiris. Di sana orang harus mempertanggungjawabkan perbuatan baiknya dan perbuatan jahatnya. Di balik kepercayaan ini terdapat legenda Osiris, yang menceritakan bagaimana Osiris, penguasa yang baik, dibunuh oleh Seth, saudara laki-lakinya yang jahat, yang memotong tubuhnya berpenggal-penggal. Isis, istrinya, mencari tubuhnya yang berpenggal-penggal itu dan menghidupkannya kembali. Akhirnya, Osiris turun ke dunia orang mati sebagai hakim orang mati. Putranya, Horus, membalas kematian ayahnya dengan membunuh Seth. Sesudah itu mitos kematian dan kebangkitan Osiris merangsang harapan orang Mesir akan keabadian. Bagi Osiris, hidup mengalahkan maut; kebaikan mengalahkan kejahatan. Jadi, orang Mesir menyimpulkan bahwa hal yang sama dapat terjadi pada dirinya.

Akan tetapi, di sini kita menemukan perbedaan lain yang mendasar antara agama Mesir dan iman alkitabiah. Perjanjian Lama menegaskan bahwa hidup akan berlangsung terus sesudah kematian jasmani, setidak-tidaknya untuk orang yang benar (bdg. Mzm. 49:16; Ams. 14:32; Yes. 57:2). Jadi, dalam iman alkitabiah ada kehidupan di akhirat bagi setiap orang yang setia kepada Allah, entahkah orang itu raja atau budak. Agama Mesir penuh dengan kehidupan di akhirat; tetapi kehidupan itu hanya untuk firaun dan para pejabat tinggi. Alkitab mengajarkan bahwa tak seorang pun mempunyai hak istimewa atas kehadiran Allah dan tak seorang pun dibebaskan dari hukum moral Allah. Pada hakikatnya, perbedaannya menjadi suatu agama untuk raja (kafir) lawan iman untuk semua orang percaya (alkitabiah).



TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA