Orang Israel dari zaman Perjanjian Lama berhubungan dengan orang Kanaan, Mesir, Babel, dan bangsa-bangsa lain yang menyembah ilah-ilah palsu. Allah mengingatkan umat-Nya untuk tidak meniru perilaku tetangga mereka yang menyembah berhala, tetapi orang Israel tidak mematuhi Dia. Berulang-ulang mereka terjerumus ke dalam penyembahan berhala.
Apakah yang disembah oleh bangsa-bangsa penyembah berhala ini? Dan bagaimana penyembahan mereka dapat menarik orang Israel hingga menjauhi Allah yang benar?
Dengan meneliti kebudayaan para penyembah berhala ini, kita mengetahui bagaimana manusia mencoba untuk menjawab persoalan utama kehidupan sebelum ia menemukan terang kebenaran Allah. Kita juga mulai mengerti dunia tempat Israel diam - Israel dipanggil untuk menjadi berbeda sama sekali dari dunia ini, baik dalam hal etika maupun dalam hal ideologi.
Sebelum memulai penelitian seperti itu, kita harus memperhatikan beberapa peringatan. Pertama, kita perlu mengingat bahwa paling tidak kita berada sejauh dua sasrawarsa dari kebudayaan-kebudayaan yang hendak kita gambarkan. Buktinya (naskah, gedung, artefak) sering kali amat kurang lengkap. Jadi kita harus berhati-hati bila menarik kesimpulan.
Kedua, kita harus menyadari bahwa kita diam dalam sebuah masyarakat yang pluralistik, di mana setiap orang bebas untuk percaya atau tidak percaya menurut pilihannya sendiri; tetapi orang-orang pada zaman purba merasa bahwa mereka memerlukan agama. Seorang agnostik atau "orang yang tidak mengakui ajaran agama" akan merasa tidak nyaman bila tinggal di antara orang Mesir, orang Het, atau bahkan orang Yunani dan orang Romawi. Agama ada di mana-mana. Agama adalah hakikat masyarakat purba. Orang memuja dewa-dewa dari kampung, kota, atau peradabannya. Apabila ia pindah ke rumah yang baru atau bepergian ke negeri asing, ia wajib menghormati dewa-dewa di sana.




