Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  4. Arkeologi >  IV. Kurun-Kurun Sejarah Purbakala. >  C. Zaman Perunggu. >  4. Zaman Perunggu Akhir. > 
a. Palestina: Zaman Amarna. 
sembunyikan teks

Kanaan tidak makmur selama masa ini, di ambang penaklukan oleh Israel. Rupanya kepemimpinan para firaun Mesir lemah terhadap pemerintahan boneka mereka di Palestina; waktu mereka dihabiskan oleh petualangan militer ke daerah utara. Maka negeri Kanaan secara berangsur-angsur menjadi sekelompok negara kota kecil yang tidak berhubungan dan sering bertengkar. Kecenderungan-kecenderungan suka bertengkar ini memuncak pada abad ke-14, yang dinamakan Zaman Amarna. Nama ini datang dari nama modern yang diberikan kepada reruntuhan ibu kota raja Mesir yang tak suka menuruti kebiasaan yang berlaku, yaitu Amenhotep IV atau Akhnaton. Ia menolak ibu kota dan keimaman Mesir yang tradisional dan mendirikan ibu kotanya sendiri di daerah Nil tengah. Lagi pula, Akhnaton tidak menyukai politik dan urusan pemerintahan imperium Mesir di Palestina.

Dari situasi ini terbitlah apa yang dinamakan surat-surat Amarna, yang dikirim oleh raja-raja kecil di Palestina kepada firaun. Rupanya ia hanya membuang surat-surat itu di tempat di mana para arkeolog modern menemukannya. Walaupun surat-surat Amarna itu ditulis dalam cuneiform Akkad (bahasa diplomasi internasional pada masa itu), surat-surat itu sangat dipengaruhi oleh logat Kanaan setempat. Surat-surat Amarna memberikan banyak informasi tentang bahasa setempat menjelang penyerbuan oleh orang Israel. Para penguasa dari berbagai negara kota itu mengaku setia kepada firaun, tetapi jelaslah bahwa banyak di antara mereka hanya berusaha untuk memajukan karier mereka sendiri dengan mengorbankan sesama mereka.

Yang secara khusus menarik perhatian adalah banyaknya surat-surat yang memohon bantuan dari firaun terhadap serangan-serangan orang Habiru. Seorang penguasa menulis, "Orang Habiru sedang menjarah semua tanah raja. Apabila tidak ada masukan yang datang tahun ini juga, maka semua tanah raja akan hilang."25 Dari segi ilmu bahasa, kata Habiru mirip sekali dengan "Hebrew" (Ibrani), tetapi keduanya tidak ada pertalian satu dengan yang lain. Istilah Habiru dapat, ditemukan di seluruh Asia barat dari akhir sasrawarsa ke-3 sampai dengan akhir sasrawarsa ke-2. Istilah ini pada dasarnya tidak bersifat etnis atau politis, tetapi sosiologis. Yang dimaksudkan dengan istilah ini adalah orang dari hampir jenis apa saja yang tidak mempunyai tanah, biasanya setengah pengembara yang menjual jasa mereka kepada penduduk kota pada masa damai, tetapi yang mengancam kestabilan mereka ketika kota-kota itu menjadi lemah. Penguasa dari berbagai negara kota di Kanaan mungkin sekali menganggap orang Israel termasuk orang Habiru, tetapi istilah ini mengacu kepada banyak kaum yang lain juga. Perhatikan bahwa orang Israel tidak menyebutkan diri mereka sendiri sebagai "orang Ibrani" sampai jauh kemudian; sebaliknya, mereka menyebut diri mereka "bani (keturunan) Israel."

Beberapa ahli berpendapat bahwa "penyerbuan Israel" sebenarnya adalah pemberontakan dalam negeri dari budak-budak pengolah tanah yang ditindas terhadap tuan-tuan tanah di kota-kota. Budak-budak ini bersekongkol dengan para pendatang baru dari seberang Yordan. Sekalipun kaum petani Kanaan mungkin benar-benar telah memberontak melawan para pemilik tanah, Alkitab menunjukkan dengan jelas bahwa para budak pengolah tanah ini hanya memainkan peranan yang kurang penting dalam penyerbuan itu, apabila mereka terlibat juga.



TIP #02: Coba gunakan wildcards "*" atau "?" untuk hasil pencarian yang leb?h bai*. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA