Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  4. Arkeologi >  IV. Kurun-Kurun Sejarah Purbakala. >  C. Zaman Perunggu. > 
2. Zaman Perunggu Tengah I. 
 sembunyikan teks

Menjelang akhir sasrawarsa ke-3 (mulai sekitar 2300 sM) kebudayaan urban yang makmur dari Periode Perunggu Purba mulai ambruk di hadapan serbuan kaum pengembara. Mereka menyebabkan salah satu penghancuran yang paling hebat dalam sejarah Palestina. Tak satu pun kota dari Zaman Perunggu Purba yang selamat dari kehancuran total dan semuanya tidak didiami paling sedikit selama beberapa abad. Transyordania tidak menjadi kuat kembali selama hampir seribu tahun (hanya tepat waktu untuk melawan orang Israel). Beberapa tempat tidak pernah didiami lagi. Di Palestina, suatu "zaman gelap" terjadi (meskipun temuan-temuan baru sedang melengkapi keterangan yang kurang dalam gambaran tentang zaman itu). Dalam banyak hal, para penyerbu itu "terkebelakang". Kebanyakan mereka tinggal dalam goa-goa dan perkemahan di atas puing-puing kota. Tetapi, jelaslah mereka membawa beberapa tradisi mereka sendiri yang sudah maju. Barang tembikar mereka berbeda dalam bentuk dan hiasan dari tembikar Perunggu Purba; sering kali pembakarannya kurang baik dan tembikarnya rapuh.

Akan tetapi, para penyerbu ini menjadi terkenal karena mereka membangun makam sangat banyak. Para arkeolog telah menemukan tanah kuburan mereka yang luas, terutama dekat Yerikho dan Hebron. Berbeda dengan pemakaman banyak orang dalam satu kubur yang dilakukan pada Zaman Perunggu Purba dan sisanya zaman Perunggu Tengah, para pengembara ini pada umumnya menguburkan satu jenazah saja dalam satu kubur. Biasanya kubur itu mempunyai terowongan vertikal yang digali sampai ke jalan masuk horizontal yang menuju ke kubur. Kebanyakan tulang yang ditemukan berada dalam keadaan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang berkabung membawa kembali orang mereka yang sudah meninggal ke tanah kuburan suku mereka setelah musim migrasi mereka berakhir (bdg. Yakub dan Yusuf, Kej. 50). Dekat Yerikho para arkeolog menemukan sebuah kuil terbuka yang tak bertembok yang telah diresmikan kaum pengembara itu dengan mengorbankan anak-anak (bdg. Mzm. 106:37-38, yang menceritakan bagaimana orang Israel mengambil alih kebiasaan ini).

Siapakah para penyerbu baru ini? Tentu saja, kita tidak memiliki laporan tertulis. Akan tetapi, kebanyakan sarjana berpendapat bahwa mereka paling tidak adalah sebagian dari golongan yang umumnya dinamakan orang Amori. Istilah ini mula-mula berarti "Orang Barat" dan orang Mesopotamia menggunakannya untuk para penyerbu yang memasuki negeri mereka dari Barat. Anggota-anggota lain dari golongan ini mungkin telah menyerbu Mesir kira-kira pada waktu yang sama (masa yang disebut di Mesir sebagai Periode Pertengahan yang Pertama).

Alkitab menggunakan istilah orang Amori dalam arti yang sedikit lebih umum dan populer, serta mengacu kepada penduduk pribumi negeri itu sebelum bangsa Israel masuk. Dengan demikian maka istilah Orang Amori pada dasarnya menjadi searti dengan orang Kanaan. Pada waktu orang Israel menyerbu Kanaan, kedua istilah itu sudah dipakai bertukar-tukar. Tetapi apakah hubungan yang semula di antara kedua golongan ini? Para arkeolog yang yakin bahwa orang Amori telah bermukim di Palestina selama Zaman Perunggu Tengah I menganggap bahwa "orang Kanaan" adalah golongan penyerbu dari Zaman Perunggu Tengah II A, yang pindah dari Fenisia ke sepanjang pantai Laut Tengah. Akan tetapi, kesusastraan Timur Dekat baru kemudian hari menyebut orang Kanaan. Pada waktu itu kata Kanaan dipakai untuk mengacu kepada suatu lokasi geografis. Karena itu kebanyakan arkeolog modern menganggap bahwa "orang Kanaan" hanya merupakan nama yang kemudian dipakai untuk orang Amori. Sayang sekali, tidak semua ahli sepakat tentang hal ini. Bagaimanapun juga, hal ini merupakan masalah yang urgan untuk orang yang percaya Alkitab, karena ini akan membantu untuk mengenali tarikh dari bapa-bapa leluhur.

Untuk waktu yang lama, Albright, Glueck, dan banyak arkeolog lainnya menyangka bahwa para bapa leluhur entah bagaimana ada pertalian dengan orang Amori. Bagaimanapun, orang Amori menetap di daerah Negev yang setengah gersang yang menjadi daerah pengembaraan para bapa leluhur. Akan tetapi, bapa-bapa leluhur itu juga tinggal di berbagai kota (Sikhem, Betel, dan Hebron) dan selama periode Perunggu Tengah I tidak ada pusat-pusat perkotaan di Palestina. Lagi pula, bapa-bapa leluhur melaksanakan pemakaman orang banyak dalam satu kubur (Kej. 23:7-20), berbeda dengan kebiasaan Perunggu Tengah I yang mengadakan pemakaman perseorangan. Maka kami enggan untuk menyatakan bahwa para bapa leluhur identik dengan "orang Amori"; rupanya tidak cocok dengan kejadian-kejadian di Palestina, juga tidak cocok dengan kejadian-kejadian di negeri-negeri tetangga. Para arkeolog masa kini bahkan tidak mencoba untuk mengenali para penyerbu Perunggu Tengah I, dan mereka menarikhkan para bapa leluhur beberapa waktu kemudian tahun 1900 M.

Ada bukti dari luar Palestina yang menunjukkan bahwa bapa-bapa leluhur mendiami daerah-daerah gurun pasir di dekat pusat-pusat perkotaan pada masa itu. Kota-kota Mesopotamia, Mari dan Nuzi, dalam banyak hal menyerupai kebudayaan para bapa leluhur. Tarikh kota Mari ditetapkan pada abad ke-18 sM dan kota Nuzi pada abad ke-16 sM. Hal ini menunjukkan bahwa bapa-bapa leluhur hidup pada Zaman Perunggu Tengah II A dan bukan pada Zaman Perunggu Tengah I (waktu dari kaum penyerbu yang baru).

Beberapa informasi dari Ebla menunjukkan bahwa para bapa leluhur mungkin hidup jauh sebelum tahun 2000 sM. Tetapi beberapa laporan sekular dari luar Palestina tidak meneguhkan bahwa mereka hidup pada kurun waktu ini.



TIP #04: Coba gunakan range (OT dan NT) pada Pencarian Khusus agar pencarian Anda lebih terfokus. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA