Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  4. Arkeologi >  IV. Kurun-Kurun Sejarah Purbakala. > 
C. Zaman Perunggu. 
sembunyikan teks

Para arkeolog telah menemukan banyak artefak dari Zaman Perunggu - begitu banyak temuan mereka sehingga mereka sanggup menemukan beberapa periode budaya yang berbeda di dalam Zaman Perunggu.

 1. Zaman Perunggu Purba.
sembunyikan teks

Dengan Zaman Perunggu Purba dan sasrawarsa ke-3 sM, kita meninggalkan "prasejarah" dan memasuki kurun waktu "sejarah" - apabila kita mendefinisi sejarah sebagai hadirnya catatan-catatan tertulis. Berbagai kebudayaan dari lembah kedua sungai besar (Nil dan Tigris-Efrat) lebih unggul dari Palestina, terutama ketika mereka mengembangkan seni menulis pada paruhan akhir dari sasrawarsa ke-4. Bangsa Mesopotamia (proto-Sumer?) memelopori tulisan, tetapi Mesir dengan segera menyadari keuntungannya.

Perkembangan tulisan dapat dirunut secara terperinci sekali, dari AW mulanya dalam catatan-catatan di bidang usaha melalui piktografi tulisan berbentuk gambar) sampai ke simbol-simbol yang lebih abstrak. (Lihat "Bahasa dan Tulisan.") Mesopotamia mengembangkan tulisan cuneiform - yaitu, dengan memakai pena untuk menekankan huruf-huruf berbentuk baji ke dalam lempeng tanah liat yang lembek, yang kemudian dibakar. Mula-mula bangsa Sumer yang bukan Semit merancang tulisan cuneiform itu untuk diri mereka sendiri, tetapi sistem tulisan itu dengan segera dipakai oleh bangsa-bangsa Semit yang mengganti mereka, dan bahkan oleh berbagai rumpun bangsa Indo-Eropa (yaitu, rumpun bangsa yang tersebar dari India sampai Eropa Barat). Pada dasarnya cuneiform menjadi tulisan yang universal sampai alfabet Aram menggantinya di bawah Imperium Persia.

Asal mula alfabet yang modern adalah di Mesir. Dalam satu arti, orang Mesir tidak mengembangkan tulisan lebih jauh daripada tahap piktografis yang awal, yang menghasilkan hieroglif Mesir yang lazim (arti harfiah "ukiran suci"). Walaupun lambang-lambang Mesir itu menggambarkan suku kata (seperti simbol-simbol Mesopotamia), lambang-lambang itu juga berisi arti alfabetis yang dini; tiap lambang menggambarkan sebuah huruf bukan sebuah suku kata.22

Walaupun orang-orang Kanaan tidak dapat menandingi kebudayaan dari lembah-lembah sungai besar, Zaman Perunggu Purba adalah suatu masa urbanisasi besar-besaran di Palestina juga. Sebenarnya, hampir semua kota Kanaan yang besar didirikan pada masa ini. Di Palestina, kota-kota ini tetap merdeka dan tidak pernah bergabung menjadi imperium yang lebih besar. Pada dasarnya kita menemukan sistem politik negara kota yang sama selama lebih dari 1000 tahun kemudian pada masa penyerbuan oleh Yosua. Kerajaan Raja Daud mungkin merupakan yang pertama untuk menggantikannya sama sekali.

Meskipun tradisi melakukannya, sebenarnya tidak tepat untuk menyebut periode ini Zaman Perunggu Purba di Palestina. "Perunggu" adalah campuran tembaga dan timah putih, yang tidak dapat diperoleh sampai sekurang-kurangnya seribu tahun kemudian. Jika hendak menggunakan istilah logam yang memadai, maka. "tembaga" adalah lebih baik. Nama-nama alternatif untuk kurun waktu ini tidak pernah menjadi populer secara luas. Betapa pun, dua jenis saran ada manfaatnya.

Kathleen Kenyon ingin menyebut periode ini Periode Urban karena orang cenderung membangun kota-kota besar. Akan tetapi, para sarjana Israel lebih suka menyebutnya Periode Orang Kanaan (diikuti oleh Periode Orang Israel dan Periode Orang Persia); nama-nama ini memperkenalkan kekuasaan politik pada tiap periode itu.

Masalah peristilahan bahkan lebih gawat lagi untuk sasrawarsa ke-3 sM. Soalnya adalah istilah mana yang paling tepat menunjukkan baik kesinambungan maupun perbedaan antara periode-periode itu?

 2. Zaman Perunggu Tengah I. 
sembunyikan teks

Menjelang akhir sasrawarsa ke-3 (mulai sekitar 2300 sM) kebudayaan urban yang makmur dari Periode Perunggu Purba mulai ambruk di hadapan serbuan kaum pengembara. Mereka menyebabkan salah satu penghancuran yang paling hebat dalam sejarah Palestina. Tak satu pun kota dari Zaman Perunggu Purba yang selamat dari kehancuran total dan semuanya tidak didiami paling sedikit selama beberapa abad. Transyordania tidak menjadi kuat kembali selama hampir seribu tahun (hanya tepat waktu untuk melawan orang Israel). Beberapa tempat tidak pernah didiami lagi. Di Palestina, suatu "zaman gelap" terjadi (meskipun temuan-temuan baru sedang melengkapi keterangan yang kurang dalam gambaran tentang zaman itu). Dalam banyak hal, para penyerbu itu "terkebelakang". Kebanyakan mereka tinggal dalam goa-goa dan perkemahan di atas puing-puing kota. Tetapi, jelaslah mereka membawa beberapa tradisi mereka sendiri yang sudah maju. Barang tembikar mereka berbeda dalam bentuk dan hiasan dari tembikar Perunggu Purba; sering kali pembakarannya kurang baik dan tembikarnya rapuh.

Akan tetapi, para penyerbu ini menjadi terkenal karena mereka membangun makam sangat banyak. Para arkeolog telah menemukan tanah kuburan mereka yang luas, terutama dekat Yerikho dan Hebron. Berbeda dengan pemakaman banyak orang dalam satu kubur yang dilakukan pada Zaman Perunggu Purba dan sisanya zaman Perunggu Tengah, para pengembara ini pada umumnya menguburkan satu jenazah saja dalam satu kubur. Biasanya kubur itu mempunyai terowongan vertikal yang digali sampai ke jalan masuk horizontal yang menuju ke kubur. Kebanyakan tulang yang ditemukan berada dalam keadaan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang berkabung membawa kembali orang mereka yang sudah meninggal ke tanah kuburan suku mereka setelah musim migrasi mereka berakhir (bdg. Yakub dan Yusuf, Kej. 50). Dekat Yerikho para arkeolog menemukan sebuah kuil terbuka yang tak bertembok yang telah diresmikan kaum pengembara itu dengan mengorbankan anak-anak (bdg. Mzm. 106:37-38, yang menceritakan bagaimana orang Israel mengambil alih kebiasaan ini).

Siapakah para penyerbu baru ini? Tentu saja, kita tidak memiliki laporan tertulis. Akan tetapi, kebanyakan sarjana berpendapat bahwa mereka paling tidak adalah sebagian dari golongan yang umumnya dinamakan orang Amori. Istilah ini mula-mula berarti "Orang Barat" dan orang Mesopotamia menggunakannya untuk para penyerbu yang memasuki negeri mereka dari Barat. Anggota-anggota lain dari golongan ini mungkin telah menyerbu Mesir kira-kira pada waktu yang sama (masa yang disebut di Mesir sebagai Periode Pertengahan yang Pertama).

Alkitab menggunakan istilah orang Amori dalam arti yang sedikit lebih umum dan populer, serta mengacu kepada penduduk pribumi negeri itu sebelum bangsa Israel masuk. Dengan demikian maka istilah Orang Amori pada dasarnya menjadi searti dengan orang Kanaan. Pada waktu orang Israel menyerbu Kanaan, kedua istilah itu sudah dipakai bertukar-tukar. Tetapi apakah hubungan yang semula di antara kedua golongan ini? Para arkeolog yang yakin bahwa orang Amori telah bermukim di Palestina selama Zaman Perunggu Tengah I menganggap bahwa "orang Kanaan" adalah golongan penyerbu dari Zaman Perunggu Tengah II A, yang pindah dari Fenisia ke sepanjang pantai Laut Tengah. Akan tetapi, kesusastraan Timur Dekat baru kemudian hari menyebut orang Kanaan. Pada waktu itu kata Kanaan dipakai untuk mengacu kepada suatu lokasi geografis. Karena itu kebanyakan arkeolog modern menganggap bahwa "orang Kanaan" hanya merupakan nama yang kemudian dipakai untuk orang Amori. Sayang sekali, tidak semua ahli sepakat tentang hal ini. Bagaimanapun juga, hal ini merupakan masalah yang urgan untuk orang yang percaya Alkitab, karena ini akan membantu untuk mengenali tarikh dari bapa-bapa leluhur.

Untuk waktu yang lama, Albright, Glueck, dan banyak arkeolog lainnya menyangka bahwa para bapa leluhur entah bagaimana ada pertalian dengan orang Amori. Bagaimanapun, orang Amori menetap di daerah Negev yang setengah gersang yang menjadi daerah pengembaraan para bapa leluhur. Akan tetapi, bapa-bapa leluhur itu juga tinggal di berbagai kota (Sikhem, Betel, dan Hebron) dan selama periode Perunggu Tengah I tidak ada pusat-pusat perkotaan di Palestina. Lagi pula, bapa-bapa leluhur melaksanakan pemakaman orang banyak dalam satu kubur (Kej. 23:7-20), berbeda dengan kebiasaan Perunggu Tengah I yang mengadakan pemakaman perseorangan. Maka kami enggan untuk menyatakan bahwa para bapa leluhur identik dengan "orang Amori"; rupanya tidak cocok dengan kejadian-kejadian di Palestina, juga tidak cocok dengan kejadian-kejadian di negeri-negeri tetangga. Para arkeolog masa kini bahkan tidak mencoba untuk mengenali para penyerbu Perunggu Tengah I, dan mereka menarikhkan para bapa leluhur beberapa waktu kemudian tahun 1900 M.

Ada bukti dari luar Palestina yang menunjukkan bahwa bapa-bapa leluhur mendiami daerah-daerah gurun pasir di dekat pusat-pusat perkotaan pada masa itu. Kota-kota Mesopotamia, Mari dan Nuzi, dalam banyak hal menyerupai kebudayaan para bapa leluhur. Tarikh kota Mari ditetapkan pada abad ke-18 sM dan kota Nuzi pada abad ke-16 sM. Hal ini menunjukkan bahwa bapa-bapa leluhur hidup pada Zaman Perunggu Tengah II A dan bukan pada Zaman Perunggu Tengah I (waktu dari kaum penyerbu yang baru).

Beberapa informasi dari Ebla menunjukkan bahwa para bapa leluhur mungkin hidup jauh sebelum tahun 2000 sM. Tetapi beberapa laporan sekular dari luar Palestina tidak meneguhkan bahwa mereka hidup pada kurun waktu ini.

 3. Zaman Perunggu Tengah II. 
sembunyikan teks

Kita telah memperhatikan bahwa satu gelombang lain dari kaum penyerbu dari utara telah memasuki Palestina sebelum Zaman Perunggu Tengah II A (kira-kira tahun 1900 sM). Colin McEvedy mengatakan bahwa "barangkali ini suatu segi lain dari migrasi orang Amori."23

Kurun waktu Perunggu Tengah II B diantar oleh suatu penyerbuan lain lagi dari utara. Kaum penyerbu ini mendesak melalui Palestina sampai ke Mesir, dan memulai Periode Tengah Kedua di negeri itu. Di Mesir' kaum penyerbu baru ini dikenal sebagai kaum Hiksos ("penyerbu-penyerbu asing"). Mereka memusatkan kegiatan mereka keliling kota Tanis dan Avaris di bagian timur laut Mesir, yang lebih dekat dengan tanah air mereka. Alkitab mengacu pada Avaris sebagai Soan, dan Bil. 13:22 menentukan tanggal pendiriannya sesudah masa Abraham. Oleh karena kaum Hiksos mungkin berkerabat dengan atau adalah keturunan orang Amori, mereka mungkin menganggap orang Israel sebagai saingan untuk merebut takhta. Banyak sarjana percaya bahwa kaum Hiksos memerintah Mesir selama tahun-tahun Israel hidup dalam perbudakan.

Sekali lagi pemakaman banyak orang dalam satu kabar menjadi umum selama periode Hiksos. Sebenarnya banyak kali makam-makam itu dibuka kembali. Anggota pasukan berkuda Hiksos kadang-kadang dikuburkan bersama kuda dan perlengkapan senjata mereka, bersama dengan barang tembikar, perhiasan, dan alat-alat lain untuk kehidupan sehari-hari. Dekat Yerikho, Dr. Kenyon menemukan beberapa makam jenis ini yang terpelihara baik dari Zaman Perunggu Tengah II.24

Mungkin periode kaum Hiksos ini bertahan dari tahun 1750 sampai 1550 sM. Paruhan akhir dari kurun waktu itu (setelah tahun 1650 sM) biasanya dinamakan Perunggu Tengah II C. Sebuah suku "Indo-Arian" (segolongan orang bukan Semit yang berasal dari dataran tinggi Iran) mulai berkuasa di Timur Dekat pada waktu ini. Barangkali mereka itu orang Huri (atau "orang Hori" seperti mereka disebut oleh Alkitab). Kira-kira satu abad kemudian mereka membangun imperium Mitanni yang untuk sementara waktu sama-sama berkuasa dengan Mesir. Orang Huri kawin mengawini dengan orang Amori. Barangkali hal ini menjelaskan mengapa Nuzi, kota orang Huri, menunjukkan kesamaan yang dekat dengan kebudayaan para bapa leluhur.

Para arkeolog telah menemukan bahwa bangsa Indo-Arian mempunyai pengaruh yang kuat atas Palestina. Rupanya mereka memperkenalkan banyak senjata dan alat baru. Mereka membawa kereta-kereta yang ditarik oleh kuda, busur dari kayu dan tanduk, dan jenis-jenis kubu pertahanan yang baru. Mereka memperlengkapi hampir setiap kota utama dari Siria Tengah sampai ke Delta Nil dengan sebuah tembok pertahanan yang dinamakan glacis. Glacis ini dibuat dari berbagai lapisan yang berganti-ganti dari tanah yang ditumbuk, tanah liat, dan kerikil, lalu semuanya ditutupi gips. Tembok itu melandai dari tembok-tembok kota dari batu ke parit yang kering di bawah. Mungkin glacis itu dirancang untuk menghalangi serangan pasukan berkuda dan alat-alat pendobrak. Kota-kota Indo-Arian ini juga memiliki tembok-tembok raksasa - sebaris batu-batu besar yang bersandar pada tanggul tanah yang sangat besar. Penduduk juga sering kali membangun tanah-tanah berpagar yang berbentuk persegi panjang di sebelah kota yang berkubu itu, dikelilingi oleh benteng yang tinggi. Tempat-tempat berpagar ini mungkin dipakai sebagai perkemahan tentara atau tempat untuk kuda-kuda; tetapi tidak lama kemudian rumah-rumah pribadi dibangun di tempat-tempat itu sehingga menjadi kota-kota satelit dari benteng-benteng itu. Hazor di Tanah Suci merupakan contoh yang bagus sekali.

Zaman Perunggu Tengah II (mungkin pada masa ini bapa-bapa leluhur memasuki Kanaan) adalah salah satu periode yang paling makmur di Palestina. Para arkeolog telah menggali banyak benteng kuil raksasa yang dibangun selama periode ini. Akan tetapi, manuskrip dari kurun waktu ini hanya sedikit sekali, karena itu kita tidak mengetahui banyak tentang politik atau sejarah sekularnya. Sedikit saja yang disebut Alkitab tentang dunia sekular.

 4. Zaman Perunggu Akhir.
sembunyikan teks

Periode Perunggu Akhir mulai sekitar 550 sM. Orang Mesir merebut takhta mereka kembali dan mengusir orang Hiksos dari negeri mereka sekitar masa ini. Musa dilahirkan Pada masa ini yang penuh kesukaran. Pada tahun 1500 sM kebanyakan kota Hiksos di Palestina telah dihancurkan pada tahun 1468 sM, Thutmose III mengalahkan orang Hiksos dalam sebuah pertempuran yang tersohor di Jurang Megido. Firaun ini meninggalkan banyak cerita tentang pertempuran ini di dalam prasasti-prasastinya. Pasukan-pasukan Mesir maju ke utara dan akhirnya mencapai Sungai Efrat. Namun, penguasaan politik penuh dari Mesir tidak diperluas sejauh itu.



TIP #18: Centang "Hanya dalam TB" pada Pencarian Universal untuk pencarian teks alkitab hanya dalam versi TB [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA