Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 16 No. 2 Tahun 2001 >  TINJAUAN BUKU > 
ISI BUKU 
sembunyikan teks

Misiologi Kristen sedang berkembang dengan cepat menjadi sebuah bidang ilmu yang bersifat multi disiplin (14 ff.). Dalam dunia global masa kini yang ditandai dengan berbagai problem dan tantangan yang begitu kompleks; baik secara ekonomi, kultural, sosial, dan religius, kita tidak akan mampu mewujudkan misi Kristen yang efektif dengan mengandalkan pendekatan-pendekatan, metode-metode, dan konsep-konsep yang konvensional. Di dalam dunia yang pluralis dan yang kompleks ini, misi Kristen ditantang untuk mampu mengembangkan konsep-konsep dan perangkat-perangkat misiologia yang canggih (203 ff.) Hal ini membutuhkan inklusi aspek-aspek positif berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, statistik, antropologi, dan lain-lain. Kontekstualisasi Injil sebagai isu misi Kristen terkemuka pada masa kini pada hakekatnya bersifat multi disiplin.

Selama kurang lebih empat dekade para pakar dan praktisi misi telah memperoleh keuntungan yang besar dalam usaha-usaha misi mereka dengan memanfaatkan konsep-konsep dan metode-metode antropologi. Salah satu cabang antropologi yang seringkali digunakan dalam bidang misi adalah antropologi budaya (cultural anthropology). Beberapa pakar Kristen telah memanfaatkan banyak konsep dan metode antropologi budaya ini. Mereka berusaha mengintegrasikannya ke dalam misi Kristen. Buku Louis Luzbetak ini merupakan produk usaha integrasi ini.

Louis Luzbetak adalah seorang pakar antropologi misi (missiologica/ anthropologist) terkemuka di dunia. Beliau sangat berpengalaman di bidang ini baik sebagai akademikus maupun praktisioner. Maka tidaklah terlalu mengherankan apabila beliau mampu menulis sebuah buku tentang antropologi misi Kristen yang ekselen, yang menggabungkan aspek-aspek misiologi dan antropologi dengan contoh-contoh kongkrit yang sangat gamblang dan applicable. Buku ini adalah sebuah magnum opus atau "mahakarya", baik dalam kedalaman maupun kekomprehensifannya.

Buku ini terdiri dari delapan bab yang panjang (rata-rata 50 halaman) dan merupakan perpaduan dari informasi (data dan fakta), diskusi atau analisis kritikal serta berbagai contoh kongkret yang hidup dan menarik. Salah satu keunikan yang ditemukan pada setiap bab adalah pembahasan signifikansi misi dari materi yang baru saja diuraikan; yang nampaknya dimaksudkan sebagai kulminasinya.

Pada bab I, Luzbetak meletakkan dasar-dasar teologis dari bukunya. Dalam bab II, penulis mendiskusikan dua aspek antropologi misi baik dari perspektif misiologi maupun antropologi. Di sini penulis berusaha keras mengintegrasikan kedua bidang ilmu ini. Bab ketiga berisi pembahasan beberapa model misi, seperti: ethnocentric model, accomodation model, dan contextual model, secara teoretikal dan historikal. Dalam bab keempat, penulis membicarakan "tanda-tanda zaman," yang meliputi berbagai diskusi tentang topik-topik seperti moratorium, gerakan-gerakan independensi gereja, teologia-teologia lokal, komitmen terhadap kaum miskin, komunitas-komunitas dasar, agama-agama populer, pelayanan-pelayanan gaya baru, dan konsili Vatikan II. Tiga bab berikutnya, yaitu bab V-VII, merupakan bagian terpenting buku ini (penulis menyebutnya sebagai the heart of inculturation theory, xix) Bab-bab ini secara brilian mengupas budaya dengan berbagai dimensinya, yaitu: natur, integrasi, dan dinamikanya. Buku ini diakhiri dengan sebuah epilog yang mengekspos lima model gereja yang diusulkan Avery Dulles (gereja sebagai komunitas, sakramen, pemberita, hamba, dan institusi) yang merupakan konteks di mana antropologi diterapkan dalam usaha-usaha misi. Bagian akhir yang berupa bibliografi yang panjang, tuntas, dan kritis yang mampu meyakinkan pembacanya tentang adanya banyak aspek antropologi yang dapat diadopsi dan digunakan sebagai alat bantu untuk mengembangkan misi Kristen yang efektif.



TIP #17: Gunakan Pencarian Universal untuk mencari pasal, ayat, referensi, kata atau nomor strong. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA