Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 14 No. 1 Tahun 1999 > 
KONSULTASI TEOLOGI: APA ITU METODE KRITIK SEJARAH DAN BAGAIMANA SIKAP KAUM INJILI TERHADAP METODE INI? 
sembunyikan teks

Sebagaimana yang para pembaca ketahui, bahwa mulai penerbitan PZ kali ini akan dibuka ruang "Konsultasi Teologi" yang diasuh oleh Pdt. Henry Efferin, Ph.D. Pertanyaan kali ini dari seorang pelanggan Jurnal Pelita Zaman mengenai metode kritik sejarah.

Apa itu Metode Kritik Sejarah dan Bagaimana Sikap Kaum Injili terhadap Metode ini?

Metode kritik sejarah (historical-critical method) secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mendapatkan informasi mengenai setting dari suatu cerita dengan tujuan untuk memberikan pertanggungjawaban historis yang akurat mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada teks yang dipertanyakan tersebut. Jadi metode kritik sejarah ini dipraktekkan supaya bisa memberikan petunjuk terhadap cerita yang diragukan keabsahannya, menguraikan makna yang sesungguhnya dengan metode penelitian sejarah. Spinoza yang hidup pada abad ke-17 dapat dikatakan sebagai perintis dari metode kritik sejarah ini (Spinoza disebut juga sebagai "the father of high criticism"). Dia menyerukan pentingnya mempelajari dan mengetahui dengan tepat siapa pengarang dari suatu kitab, waktu penulisan, peristiwa terjadinya dan tujuan penulisan yang ada dalam Alkitab. Metode ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Semler yang menyarankan suatu pendekatan sejarah murni di dalam mempelajari tulisan-tulisan Alkitab dan bukannya memperlakukan Alkitab sebagai tulisan sakral dan teologis.

Banyak pemikir kaum Injili yang bereaksi secara berlebihan terhadap metode kritik sejarah ini dan menganggapnya sebagai suatu pendekatan destruktif apabila diterapkan pada Alkitab. Namun ada juga teolog Injili yang memandangnya dengan lebih seimbang antara lain pandangan dari I. Howard Marshall di dalam artikelnya "Historical Criticism". Barangkali masalahnya terletak pada ekses penggunaan metode kritik sejarah yang pada masa lalu selalu diiringi dengan sikap praduga tidak percaya terhadap isi Alkitab dan filsafat naturalisme yang melandasinya. Banyak contoh teolog liberal dari generasi yang lalu mempunyai sikap demikian. Salah satu contoh yang paling populer pada akhir abad ke-19 adalah Julius Wellhausen. Ia mencoba merekonstruksi sejarah agama Israel - dan penyembahannya berdasarkan asumsi evolusi yang sangat dominan pada waktu itu. Menurut Wellhausen, agama Israel berkembang dari suatu bentuk yang sangat primitif kepada bentuk ibadah yang semakin kompleks seperti tercatat dalam kitab Imamat. Dengan demikian Wellhausen menempatkan penulis kitab Imamat pada waktu yang sangat belakangan (sekitar abad ke-4) dan bukannya ditulis oleh Musa seperti kepercayaan tradisional. Contoh lain adalah F. C. Baur yang mengemukakan hipotesa bahwa isi penulisan dari Perjanjian Baru merupakan hasil sintesis dari Injil versi Rasul Petrus yang membawa muatan Judaisme dan versi Paulus yang berusaha untuk membebaskan Injil dari ikatan-ikatan Hukum Taurat. Sebagaimana kita ketahui, dengan semakin berkembangnya penelitian ilmiah dan arkeologi Alkitab pada akhir abad ke-20. terbukti bahwa teori-teori tersebut lebih merupakan suatu spekulasi daripada asumsi yang bersifat ilmiah.

Secara singkat, ada beberapa metode yang biasanya diasosiasikan dengan metode kritik sejarah ini:

- Source criticism (kritik sumber). Ini adalah suatu usaha untuk menemukan dokumen yang paling dekat dengan aslinya dari literatur yang ada.

- Form Criticism (kritik bentuk). Metode ini memfokuskan pada tradisi oral, bagaimana suatu bentuk tradisi oral itu bisa diturunkan kepada generasi berikutnya sampai akhirnya menjadi bentuk tulisan.<

- Tradition Criticism (kritik tradisi). Ini sebetulnya adalah suatu perkembangan dari kritik bentuk, dimana suatu kelompok atau kumpulan tradisi oral menjadi suatu cerita (naratif) tradisi yang dianggap sebagai kebenaran dan akhirnya berkembang menjadi bentuk tulisan.

- Redaction Criticism (kritik redaksi). Metode ini memfokuskan pada bentuk akhir dari suatu naratif, bagaimana pengarang mengumpulkan dan menyusun bahan-bahan yang ia dapatkan dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuannya dalam bentuk akhir sebuah kitab atau sebuah kisah tertulis.

Dari uraian di atas, tiga pendekatan yang pertama lebih bersifat historis dalam arti menelusuri ke belakang (diachronic) sedangkan yang terakhir adalah melihat kondisi akhir dari literatur yang sudah ada (synchronic). Pola yang terakhir ini belakangan semakin populer sebagaimana yang telah dipraktekkan dengan timbulnya "kritik kanon" (canon criticism) oleh B. S. Childs dan metode lain yang dikenal sebagai "strukturalisme". Dari pengamatan kami, metode kritik sejarah kalau diterapkan dengan semestinya bisa membantu pemahaman kita akan tulisan-tulisan Alkitab. Misalnya kritik bentuk (form criticism) telah membuktikan bahwa seberapa jauh pun kita mencoba menelusuri tradisi Injil ke bentuk oral yang pertama, tidak pernah didapati suatu strata tradisi yang memberikan gambaran mengenai kepercayaan kepada Yesus yang dianggap semata-mata manusia biasa. Ini jelas bertentangan dengan pandangan sebagian teolog liberal yang berspekulasi bahwa figur Yesus sebagai Tuhan itu sebetulnya merupakan hasil "rekayasa" dari gereja mula-mula bukan kepercayaan dari murid-murid Yesus generasi pertama. Contoh sumbangsih lain ialah yang diberikan oleh kritik redaksi, metode ini menolong kita untuk melihat bahwa para penulis kitab Injil tidak sekadar mengumpulkan dan menggabungkan bahan-bahan tersebut, tetapi mereka adalah pengarang sesungguhnya dengan tujuan tertentu di dalam menggunakan sumber-sumber yang mereka peroleh.

Kesimpulan kami ialah metode kritik sejarah itu sendiri bisa dipakai secara destruktif tetapi juga bisa berfungsi secara konstruktif bagi kaum Injili. Yang ditolak seharusnya asumsi naturalisme di balik penggunaan metode ini yang berakibat kepada teori-teori yang bersifat spekulatif dan belum tentu merupakan kebenaran. Sebaliknya, kalau pelaksanaan metode-metode ini sungguh didasari prinsip-prinsip ilmiah, kaum Injili perlu terbuka kepada kemungkinan-kemungkinan lain yang barangkali tidak selaras dengan pandangan tradisional. Tetapi kalau yang kita yakini itu adalah kebenaran, maka kaum Injili tidak usah takut atau bereaksi negatif terhadap pengujian dari kebenaran tersebut, karena kebenaran justru akan semakin dinyatakan melalui pengujian terhadapnya.



TIP #27: Arahkan mouse pada tautan ayat untuk menampilkan teks ayat dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA