: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Ostraka | Othni | Othniel | Otni | Otniel | OTORITAS ALKITAB | Ozem | Ozni | Oznites | Paarai | Pada Zaman Yesus
Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: OTORITAS ALKITAB

OTORITAS ALKITAB

OTORITAS ALKITAB [ensiklopedia]

Istilah Yunani exousia berarti kuasa yg adil, sungguh, dan tak terhalangi bertindak, atau memiliki, mengontrol, memakai atau menguasai sesuatu atau seseorang. Kata dunamis berarti kekuatan fisik belaka, tapi exousia berarti kuasa yg bagaimanapun juga adalah sah. Exousia dapat menekankan keabsahan otoritas yg dipegang, atau realitas kekuasaan yg sah. Exousia kadang-kadang mengandung arti duniawi yg umum (mis 1 Kor 7:37, mengenai penguasaan diri, dan Kis 5:4, mengenai pengaturan penghasilan seseorang), tapi artinya biasanya bersifat teologis.

Alkitab yakin bahwa satu-satunya otoritas dan kekuasaan yg sesungguhnya adalah milik Allah Pencipta. Otoritas yg dimiliki oleh manusia adalah pemberian Allah, dan kepada Dia, manusia harus mempertanggungjawabkan penggunaan otoritas itu. Karena semua otoritas pada akhirnya terpulang kepada Tuhan, maka dalam segala bidang kehidupan, tunduk kepada otoritas yg sah adalah kewajiban religius, bagian dari pelayanan terhadap Tuhan.

I. Otoritas Allah

Otoritas Allah adalah unsur dari sifat-Nya yg tak dapat berubah, universal dan kekal atas dunia ciptaan-Nya (lih Kel 15:18; Mzm 29:10; 93:1 dab; 146:10; Dan 4:34 dll). Otoritas sebagai Raja Universal ini berbeda dari (walaupun asasi bagi) hubungan-Nya dengan Israel berdasarkan perjanjian, dengan mana Israel menjadi umat dan kerajaan-Nya (bnd Kel 19:6), dan mewarisi berkat-Nya. Otoritas-Nya yg agung atas manusia mencakup hak-Nya dan kuasa-Nya yg tak dapat berubah untuk mengatur manusia menurut kehendakNya (dapat dibandingkan dgn exousia pembuat barang tembikar atas tanah liat, Rm 9:21; bnd Yer 18:6), ditambah dengan tuntutan-Nya yg tak dapat disangkal agar manusia tunduk kepada-Nya dan hidup untuk kemuliaan-Nya. Di seluruh Alkitab, realitas kedaulatan Allah dibuktikan oleh fakta, bahwa semua yg mengabaikan atau mencemoohkan tuntutan-Nya mendapat hukuman. Titah Hakim ilahi adalah 'kata terakhir' dan dengan demikian otoritas-Nya sahih.

Pada zaman PL Allah memberlakukan otoritas-Nya dengan perantaraan para nabi, imam dan raja. Masing-masing mengumumkan amanat-Nya (Yer 1:7 dab), mengajarkan hukum Taurat (Ul 31:11; Mal 2:7), dan memerintah sesuai hukum tersebut (Ul 17:18 dab). Mereka dihormati sebagai utusan Tuhan, yg telah mendapat kuasa dari Dia. Kitab Taurat yg tertulis diakui diberikan oleh Allah dan penuh otoritas, baik sebagai ajaran (tora) untuk mengajar orang Israel tentang kehendak Allah (bnd Mzm 119) maupun sebagai kitab undang-undang yg menjadi dasar pemerintahan dan pengadilan-Nya (bnd 2 Raj 22-23).

II. Otoritas Yesus Kristus

Otoritas Yesus juga merupakan unsur kerajaan. Itu bersifat pribadi maupun resmi, karena Yesus adalah Anak Allah dan Anak Manusia, Mesias. Sebagai Manusia dan Mesias, otoritas-Nya riil karena diserahkan kepada-Nya oleh Allah yg atas perintah-Nya la lakukan pekerjaan-Nya (Yesus menghargai perwira yg melihat hal ini, Mat 8:9 dab). Sebagai Anak Allah otoritas-Nya riil karena Ia sendiri adalah Allah. Otoritas untuk menghakimi diberikan kepada-Nya, supaya Ia dihormati sebagai Anak Allah (sebab penghakiman adalah pekerjaan Allah), dan juga karena Ia Anak Manusia (sebab penghakiman adalah pekerjaan Mesias, Yoh 5:22-27). Pendeknya, otoritas Kristus adalah kekuasaan Mesias yg ilahi: manusia Allah, yg melakukan kehendak BapakNya dalam kedudukan-Nya yg rangkap (a) sebagai pelayan manusia, yg dalam diriNya padu jabatan nabi, imam dan raja, dan (b) sebagai Anak Allah, turut menciptakan segala sesuatu dan berperan dalam seluruh pekerjaan Bapak (Yoh 5:19 dst).

Otoritas Yesus yg melampaui otoritas manusiawi diungkapkan dalam ajaran-Nya yg lain dari ajaran lain (Mat 7:28-29): dalam kuasa-Nya mengusir roh-roh jahat (Mrk 1:27); pada penguasaan-Nya atas angin ribut (Luk 8:24 dab); pada penyataan-Nya mengampuni dosa (yg hanya dapat dilakukan oleh Allah, seperti diakui oleh orang yg berdiri dekat), dan bila ditantang, Ia membenarkan pernyataan-Nya (Mrk 2:5-12; Mat 9:8). Setelah kebangkitan Yesus berkata, 'Kepada-Ku telah diberikan segala exousia di sorga dan di bumi', yaitu kekuasaan Mesianis meliputi alam semesta. Kekuasaan itu akan Dia gunakan untuk membawa orang yg terpilih ke dalam kerajaan keselamatan-Nya (Mat 28:18-20; Yoh 17:2; bnd 12:31 dab; Kis 5:31; 18:9-10). PB mengelu-elukan Yesus yg dimuliakan sebagai Tuhan dan Kristus (Kis 2:36), Penguasa ilahi atas segala-galanya, Raja dan Juruselamat umat-Nya. Inti Injil adalah perintah untuk menerima penaksiran ini tentang kuasa Yesus.

III. Otoritas rasuli

Otoritas rasuli adalah otoritas Kristus yg didelegasikan pada mereka. Para rasul adalah saksi, utusan atau wakil Kristus (Mat 10:40; Yoh 17:18; 20:21; Kis 1:8; 2 Kor 5:20), yg oleh Dia diberi exousia untuk mendirikan, membangun, dan mengatur gereja-Nya yg am (2 Kor 10:8; 13:10; bnd Gal 2:7 dab). Sesuai otoritas itu atas nama Kristus, sebagai juru bicara-Nya dan dengan kuasa-Nya para rasul memberi perintah dan menetapkan disiplin (1 Kor 5:4; 2 Tes 3:6). Mereka memilih para diaken (Kis 6:3, 6) dan penatua (Kis 14:23). Mereka menyajikan ajaran mereka sebagai kebenaran Kristus, baik isi maupun bentuknya diberikan oleh Roh kepada mereka (1 Kor 2:9-13; bnd 1 Tes 2:13). Ajaran itu merupakan norma iman (2 Tes 2:15; bnd Gal 1:8) dan kelakuan (2 Tes 3:4, 6, 14). Mereka mengharapkan bahwa keputusan mereka yg khusus akan diterima sebagai 'perintah Tuhan' (1 Kor 14:37).

Otoritas mereka tergantung pada pengangkatan mereka langsung oleh Kristus sendiri, sehingga sebenarnya tak boleh terdapat penggantinya; setiap angkatan Kristen harus memperlihatkan kesinambungannya dengan angkatan sebelumnya dan kesetiaannya kepada Kristus, dengan cara mengukur iman dan kehidupan menurut ajaran para utusan Kristus yg tercatat dalam PB untuk segala zaman. Melalui PB exousia rasuli atas gereja menjadi realitas yg kekal.

IV. Otoritas insani

Selain gereja, dua bidang lain disebut dalam Alkitab, di mana manusia boleh memakai kekuasaan ilahi yg didelegasikan padanya.

a. Pernikahan dan keluarga

Kaum lelaki mempunyai kuasa atas perempuan (1 Kor 11:3; bnd 1 Tim 2:12) dan para orangtua atas anak-anak (1 Tim 3:4, 12). Karena itu, para istri harus tunduk kepada suami (Ef 5:22; 1 Ptr 3:1-6), dan anak-anak kepada orangtuanya (Ef 6:1 dab). Demikianlah peraturan Allah.

b. Pemerintah sipil

Para gubernur (Romawi) yg disebut exousiai, dilukiskan sebagai pelayan Allah untuk menghukum orang jahat dan menganjurkan warganya mematuhi hukum (Rm 13:1-6). Orang Kristen harus memandang pemerintah yg ada sebagai ditetapkan Allah (bnd Yoh 19:11), dan dengan setia menaati kuasanya (Rm 13:1; 1 Ptr 2:13-14; Mat 22:17-21) sepanjang hal itu sesuai dengan ketaatan pada perintah Allah yg langsung (Kis 4:19; 5:29).

V. Kuasa Iblis

Penggunaan kuasa oleh Iblis dan pengikutnya kadang-kadang disebut exousia juga (mis Luk 22:53; Kol 1:13). Ini menunjukkan bahwa walaupun kuasa itu dirampas dari Allah dan bermusuhan dengan Dia, maka Iblis memegang kuasa itu hanya karena izin Allah dan sebagai alat-Nya.

KEPUSTAKAAN. Arndt; MM; TWNT tentang exousia (2, hlm 559 dst); ISBE dan DCG, tentang Authority; N Geldenhuys, Supreme Authority, 1953; NIDNTT 2, hlm 606-611; TDNT 2, hlm 562-575. JtP/NY WBS/HAO




TIP #24: Gunakan Studi Kamus untuk mempelajari dan menyelidiki segala aspek dari 20,000+ istilah/kata. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA