Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: KORINTUS, SURAT-SURAT KEPADA JEMAAT DI

KORINTUS, SURAT-SURAT KEPADA JEMAAT DI

KORINTUS, SURAT-SURAT KEPADA JEMAAT DI [ensiklopedia]

I. Garis besar isi

1 Korintus

a. Salam dan pengantar (1 Kor 1:1-9).

b. Perpecahan jemaat; ajaran Paulus dibandingkan ajaran Apolos (1 Kor 1:10; 4:21).

c. Suatu kejadian mesum (1 Kor 5:1-13).

d. Ketidaklayakan pergi ke pengadilan sekular; peringatan lebih lanjut terhadap kemesuman (1 Kor 6:1-20).

e. Pembicaraan tentang perkawinan (1 Kor 7:1-40).

f Persoalan tentang daging yg dipersembahkan kepada berhala; tafsiran Paulus yg praktis mengenai pelayanan rasuli (1 Kor 8:1; 11:1).

g. Pembetulan terhadap ketidakaturan dalam perkumpulan-perkumpulan ibadah; tutup kepala wanita; pesta kasih; Perjamuan Kudus (1 Kor 11:2-34).

h. Karunia-karunia rohani (1 Kor 12:1-31; 14:1-40).

i. Cita-cita yg benar: kasih Kristen (1 Kor 13:1-13).

j. Ajaran Kristen yg benar tentang kebangkitan orang mati (1 Kor 15:1-58).

k. Petunjuk tentang pengumpulan persembahan bagi Yerusalem; peringatan yg bermacam-macam; salam penutup (1 Kor 16:1-24).

2 Korintus

a. Kesulitan dan penderitaan sebelum Titus kembali (2 Kor 1:1-14).

b. Rencana pertama untuk datang, pembelaan diri terhadap perubahan dalam rencana (2 Kor 1:15; 2:1).

c. Kepuasan karena mengubah rencana: waktu untuk menyesal bagi pelanggar dengan berbuat sumbang; sekarang diperlukan simpati dan pengampunan (2 Kor 2:2-11).

d. Pertemuan dengan Titus mengembalikan kegirangan saat itu dan membekali Paulus dengan kesadaran akan pentingnya kata-katanya (2 Kor 2:12-17).

e. Surat kepercayaan bagi pemberitaan yg berhasil; perjanjian yg baru diberitakan; yg lama dan yg baru dipertentangkan, yg ditujukan kepada orang Yudais (2 Kor 3:1-18).

f Tanggung jawabnya berat; kemampuan dan ketidakmampuannya; penyandarannya kepada Kristus (2 Kor 4:1-18).

g. Hidup setelah mati, jika roh telah bebas dari daging (2 Kor 5:1-9).

h. Paulus mengajak orang takut pada penghakiman, supaya dapat dengan tepat menaksir urgensi berita pendamaian (2 Kor 5:10-21).

i. Permintaan kepada pendengarnya untuk memberikan kepada Kristus tempat paling utama dalam hati mereka (2 Kor 6:1-18).

j. Pujian bagi mereka yg menentang hidup yg tidak suci (2 Kor 7:1-16).

k. Pengaturan persembahan bagi orang miskin di Yerusalem (2 Kor 8:1; 9:15).

l. Pertahanan terakhir terhadap kewibawaan kerasulannya (2 Kor 10:1-18).

m. Tuduhan dan pembelaan diri terhadap kaum Yudais (2 Kor 11:1-29).

n. Kelemahannya justru menjadi dasar kepercayaannya dan kekuatannya (2 Kor 11:30; 12:8).

o. Kunjungan direncanakan, dengan kemungkinan bahwa ia harus menertibkan para pelanggar, tapi ia mengungkapkan harapannya bahwa mereka dapat didamaikan tanpa perlakuan yg begitu keras; Paulus mengakhiri suratnya dengan kata-kata yg mengandung damai dan berkat (2 Kor 12:9; 13:14).

II. Gereja di Korintus

a. Berdirinya

Garis besar sejarah jemaat Korintus diberikan dalam Kis 18. Pada thn 50 M atau di sekitar thn itu, Paulus bergerak sendirian, sepanjang yg dapat kita ketahui, dari Makedonia melalui daerah Atena yg tidak menanggapinya, ke Korintus yg lebih hidup. Ia takut dan gentar (1 Kor 2:3). Ia tinggal bersama satu keluarga Yahudi, Akwila dan Priska, yg barangkali telah menjadi Kristen dan yg belum lama diusir dari Roma. Jadi jemaat Korintus yg pertama lahir di rumah tangga Akwila. Tapi Paulus, seperti telah menjadi haknya serta kebiasaannya, mulai secara teratur berkhotbah di sinagoge, lalu meyakinkan para anggota masyarakat Yahudi dan masyarakat non-Yahudi yg bersimpati terhadap keyakinan Yahudi tentang kemesiasan Yesus.

Suatu tambahan tenaga bagi golongan Kristen diperoleh berkat kedatangan Silas dan Timotius, dengan berita baik dari Makedonia (bnd 1 Tim 3:16). Keadaan ini menambah kekuatan baru pada pemberitaan Paulus. Akibatnya timbullah penentangan yg kuat dari masyarakat Yahudi, yg memuncak pada perpisahan antara Paulus dan sinagoge.

Sejak itu pelayanan Paulus di Korintus terutama ditujukan kepada masyarakat non-Yahudi. Tapi pusat kegiatan Paulus yg pertama berdampingan dengan sinagoge yg bermusuhan itu, yaitu di rumah seorang non-Yahudi yg takut akan Allah, bernama Titius Yustus. Agaknya, seperti yg terjadi di tempat-tempat lain, masyarakat non-Yahudi yg takut akan Allah sebagai satu keseluruhan terbuka menerima Injil. Demikian juga halnya dengan beberapa orang Yahudi asli, termasuk pejabat tinggi sinagoge bernama Krispus (bnd 1 Kor 1:14), yg agaknya diikuti oleh teman sekerjanya atau penggantinya, Sostenes. Sekarang banyak orang kota menjadi percaya dan dibaptiskan -- tapi bukan oleh Paulus (1 Kor 1:14).

Dalam keadaan ini memang ada bahaya dan kesulitan. Keadaan jiwa Paulus ketika mulai memberitakan Injil di Korintus telah disebut. Pada suatu saat Akwila dan Priska terancam maut karena Paulus (Rm 16:3), barangkali ketika ia menjadi tamu mereka di Korintus. Beberapa keadaan yg sangat berbahaya mungkin mendasari wahyu (Kis 18:9 dab), yg memberi. keyakinan kepadanya tentang perlindungan ilahi dan tentang adanya banyak orang yg dimiliki Allah di Korintus.

Masalahnya memuncak ketika orang-orang Yahudi menghadapkan Paulus di meja pengadilan wali negeri. Tapi ketika Galio memutuskan bahwa perselisihan itu di luar hak hukumnya (dan membiarkan kegiatan anti Semit oleh para penontonnya), jelaslah bahwa untuk sementara waktu tidak ada yg perlu ditakuti dari penguasa sipil, dan bahwa dendam orang Yahudi tak dapat melampaui hukum.

Paulus berada di Korintus lebih lama dari biasanya, yaitu hingga 18 bin (Kis 18:11). Ketika meninggalkan Korintus ia membawa Akwila dan Priska. Di Efesus kedua orang ini sangat berperan membantu seorang rabi Kristen lainnya, yaitu Apolos, yg bergerak menuju Korintus dan jelas mengesankan sekali. Bahwa Apolos melihat adanya pertobatan lagi di tengah-tengah masyarakat Yahudi dapat disimpulkan dari Kis 18:28; bahasa Paulus juga dapat memberi kesan bahwa ia memperoleh pengajaran yg lebih dalam (1 Kor 3:6). Pengajar-pengajar lainnya mengikutinya. Ada kelompok Kefas di Korintus (1 Kor 1:12). Ini tidak perlu berarti bahwa Petrus sendiri telah mengunjungi Korintus, tapi mungkin kelompok itu dibentuk oleh pengajar-pengajar Yahudi dari jemaat-jemaat yg lebih tua. Memang, rasul-rasul palsu yg begitu keras ditentang dalam 2 Kor 11 ialah orang-orang Yahudi, yg melebih-lebihkan kenyataan itu (bnd ay 22). Korintus tidak kekurangan 'pendidik dalam Kristus' (1 Kor 4:15).

b. Susunannya

Nampaknya jemaat Korintus agak besar (Kis 18:8,10) dan bebas dari dadakan bahaya penghambatan. Masyarakat Kristen di Korintus nampaknya menikmati lebih banyak keamanan dibandingkan Paulus (1 Kor4:9 dab). Jemaat itu beranggotakan beberapa orang Yahudi. Tapi ciri khasnya yg menonjol ialah non-Yahudi dan mantan penyembah berhala, dan bagian terbesar anggotanya berlatar belakang jahat (1 Kor 6:11). Kecenderungan Yudais, penyakit jemaat dimana anggotanya telah terlatih oleh tradisi sinagoge, nampaknya tidak berpengaruh di Korintus. Masalah ini memang ada (ump 1 Kor 12:18) tapi tidak begitu berpengaruh, dan rasul-rasul palsu yg Yudaistis dari 2 Kor dengan 'Injil lain' mereka, nampaknya lebih bermaksud memburuk-burukkan watak Paulus daripada memperjuangkan hidup sesuai Taurat. Di lain pihak, kebiasaan-kebiasaan kafir (1 Kor 6:15), perkumpulan-perkumpulan kafir (1 Kor 8;10), makan di rumah-rumah orang kafir (1 Kor 10:27 dab), segala hal yg mewujudkan ABC bagi para proselit dan orang-orang yg takut akan Allah, masih harus dibicarakan panjang lebar oleh Paulus.

Secara sosial, jemaat mencakup wawasan yg luas: hubungan apa yg biasanya dimiliki oleh Erastus, bendahara negara yg kaya itu dengan Akwila, pengungsi Yahudi yg menjadi tukang pelana, atau budak-budak piaraan seorang tamu wanita (*KLOE). Namun garis pemisah antara si kaya dan si miskin dapat ditarik melintasi persekutuan perjamuan (1 Kor 11:21 dab). Sekalipun bagian terbesar bukan bangsawan atau berpendidikan tinggi (1 Kor 1:26), namun terdapat lagak pretensi sosial dan intelektual dalam jemaat (bnd E. A Judge, The Social Pattern of Christian Groups in the First Century, 1960, hlm 49-61). Mereka bergembira alas pidato muluk-muluk (1 Kor 1:20 dab; 2:1 dab), membanding-bandingkan guru-guru mereka atas dasar yg palsu (1 Kor 3:4 dab), berlagak memiliki keunggulan yg memuaskan (1 Kor 4:10 dab) dan mengubah beberapa ajaran Paulus 'yg lebih keras' supaya dapat diterima oleh orang berpendidikan yg sezaman (1 Kor 15:12).

Kecenderungan orang Korintus berklik dan memisahkan diri (ump 1 Kor 3:3; 11:18 dab; 2 Kor 12:20) dapat dihubungkan dengan ini. Golongan-golongan itu mengambil nama-nama dari guru yg bermacam-macam itu sebagai seruan perang (1 Kor 1:12),, Suatu perkara di antara dua anggota diajukan ke pengadilan sekular Kristen (1 Kor 6:1, 6). Penyimpangan-penyimpangan yg bertentangan berada berdampingan; perbuatan-perbuatan sumbang dapat disetujui (1 Kor 5:1), sedang beberapa orang menyangkal bahwa hidup dalam perkawinan dapat suci (1 Kor 7). Sampai dimana pemisahan demikian mencerminkan pertentangan sosial dan komunal yg dahulu ada dalam suatu masyarakat besar dan berbeda-beda, tapi yg sekarang muncul dalam bentuk Kristiani di jemaat yg mempersatukan mereka, tidak dapat dikatakan. Memang Paulus tidak pernah memberi kesan bahwa perpisahan-perpisahan itu mengenai ajaran yg pokok. Tingkah laku orang Korintus-lah yg 'seperti manusia duniawi' (1 Kor 3:3) yg menyerahkan diri kepada ketegangan-ketegangan tradisional, prasangka, cemburu, dan kebencian yg membakar.

c. Dunia pikirannya

Paulus menyebut orang Korintus 'tidak kekurangan dalam suatu karunia pun' (1 Kor 1:5 dab). Mereka sangat gembira atas karunia-karunia yg menakjubkan, khususnya berbahasa lidah, dan memperkenankan orang menggemarinya tanpa batas (1 Kor 12; 13:1, 8; 14:2 dab). Sikap ini memberi angin kepada penggolongan, kecongkakan, kepuasan diri dan itulah yg menimbulkan kekacauan yg tidak ada gunanya bagi orang percaya, dan yg menyedihkan bagi orang lain (1 Kor 14:9 dab, 16, 23 dab). Ekstase kegembiraan terluap mewujudkan gejala yg diakui dalam agama Yunani Timur, yg non-Kristen, dan kegemaran orang Korintus akan hal demikian barangkali sebagian mewujudkan 'pewarisannya'. Bahkan penghujatan dan penghinaan terhadap Kristus diucapkan dalam ekstase (1 Kor 12:2 dab). Perempuan, barangkali lebih menjadi alat bagi pengalaman-pengalaman jiwani yg luar biasa ketimbang laki-laki, mengambil bagian secara tak terkendali (1 Kor 14:34 dab).

Unsur-unsur Helenisme yg lebih mengelabui dalam Kekristenan Korintus dapat, jika tidak diawasi, membawa kepada bermacam-macam bentuk Gnostik yg timbul kemudian. Penyelamatan dipandang sebagai hikmat, memiliki rahasia alam semesta (1 Kor 1:19 dab; 2:1 dab). Kata kunci orang Kristen dikatakan adalah 'pengetahuan' (1 Kor 8:1). Dengan demikian pusat hakiki Injil digeser dari peristiwa-peristiwa salib yg historis dan kebangkitan, dan 'perbedaannya' yg asasi dengan segala sistem manusia dicairkan.

Latar belakang Yunani dan penyembahan berhala anggota jemaatnya, juga telah menjadikan mereka terpengaruh oleh gagasan bahwa materi bersifat jahat. Inilah, dan bukan pertimbangan Paulus yg praktis, yg menimbulkan persoalan apakah perkawinan diperbolehkan bagi orang kudus, karena aspek ragawinya Secara, khusus dicurigai (1 Kor 7:5, 37). Mungkin mereka yg telah mencabulkan diri (1 Kor 6:16) membenarkan diri, seperti orang pada abad kedua, dengan alasan yg sama: Injil telah membebaskan mereka dari kuasa jahat materi. Mereka bebas, justru tak dapat salah.

Asas yg sama yg telah begitu merasuk, mendasari pengurangan anti harapan kebangkitan yg dikemukakan oleh beberapa orang Korintus (1 Kor 15:12). Pikiran Yunani telah terbiasa pada gagasan tentang immortalitas jiwa: ajaran Ibrani tentang kebangkitan tubuh bagi mereka terlalu 'bersifat bendawi'. Orang Korintus berada dalam bahaya meniadakan ajaran itu secara halus.

Beberapa sikap orang Korintus terhadap korban dalam rangka penyembahan berhala dan selamatan, barangkali juga dipengaruhi oleh pemikiran Yunani yg rasionalis. Beberapa orang menghirup skeptisisme, yg sekarang diperkuat oleh kepercayaan Kristen, mengatakan bahwa 'berhala bukan apa-apa' (1 Kor 8:4); tapi mereka bersedia mempertahankan persajian dan bentuk ibadah yg non-Kristen demi nilai dan arti sosialnya (1 Kor 8:10). Tapi ada orang-orang lain di dalam jemaat yg dididik dalam ketakhayulan dan belum dewasa dalam kepercayaan. Kepercayaan mereka kepada Kristus memang sungguh-sungguh, tapi mereka juga benar-benar percaya kepada roh-roh jahat (1 Kor 8:8 dab). (Mengenai bg ini, lih J Denney, The Expositor, 7, 5, 1908, hlm 289 dst.)

Telah ada bermacam analisa mengenai dunia pikiran orang Kristen Korintus. Di antaranya yg perlu diperhatikan ialah analisa Schlatter, yg melihat sebagian besar penyimpangan yg dicatat Paulus itu adalah disebabkan oleh 'kelompok Kristus' (bnd 1 Kor 1:12 dgn 2 Kor 10:7), yg menurut dia, dibentuk oleh nabi-nabi palsu Yahudi dari 2 Korintus, dan didasarkan atas ungkapan-ungkapan Yohanes yg dikudungkan dengan menekankan pernyataan-pernyataan dari pola 1 Yoh 3:9 dan mengabaikan pernyataan-pernyataan seperti 1 Yoh 1:5, 6 (The Church in New Testament Period, 1955, ps 20).

Tapi kita tidak mempunyai cukup bukti untuk mengambil keputusan mengenai hubungan golongan yg bermacam-macam itu dengan penyimpangan-penyimpangannya, dan tidak boleh terlalu mempersoalkan banyaknya kesatuan atau ketetapan dalam gejala-gejala di Korintus. Kekhususan kepercayaan Kristen, ungkapan, ibadah, dan moralitas menunjukkan tekanan-tekanan dari faktor-faktor lingkungan dan kebudayaan yg berbeda di suatu kota kafir yg makmur, yg dihubungkan baik dengan Yunani dan dunia Timur, di dalam suatu jemaat yg meliputi berbagai golongan dan latar belakang keagamaan serta tingkatan dalam pertumbuhan Kristen. Keadaannya dijadikan berbelit-belit oleh ajaran-ajaran Kristen yg hanya dimengerti setengah-setengah, dilayankan dengan lagak kecakapan berpidato, dan pemakaian slogan-slogan dengan tak bertanggung jawab, seperti 'pengetahuan' (1 Kor 8:1) dan 'kebebasan' (1 Kor 8:9). Dan musuh yg senantiasa tersedia dalam bentuk khusus di Korintus adalah dunia, daging, dan si jahat.

Namun orang Korintus sangat memberi semangat kepada Paulus. Pada saat yg paling kritis dalam hubungan mereka, Paulus masih dapat 'menyombongkan diri' terhadap Titus, bahwa mereka tentu akan memberi tanggapan yg benar, dan keduanya merasa bahwa keyakinan itu sudah dibenarkan secara berkelimpahan (2 Kor 7:14-16). Sekalipun pernyataan-pernyataan mereka tentang kebangkitan membahayakan, namun kepercayaan mereka masih tetap pada Kristus yg disalibkan dan dibangkitkan seperti diberitakan oleh para rasul (1 Kor 15:1 dab). Mereka belum begitu dalam berbudaya Yunani yg meniadakan secara halus ajaran tentang kedatangan Tuhan kembali (1 Kor 1:7). Dalam 1 Kor barulah berupa kecenderungan, sekalipun kecenderungan yg berbahaya, justru Paulus harus bergumul. Penyakit di Korintus belum begitu menyedihkan seperti 'Injil lain' di Galatia. Dalam 2 Kor agaknya ada bahaya mengenai 'Injil lain' yg diterima oleh orang Korintus dari seorang 'super rasul' (2 Kor 11:4 dab), tapi surat yg sama itu penuh keyakinan yg lembut kepada ketaatan yg asasi dari orang Korintus.

III. Hubungan Paulus dengan orang Korintus

Sekalipun guru berganti-ganti di Korintus, namun Paulus mempunyai hubungan khusus dengan jemaat di sana (bnd 1 Kor 3:10; 4:15). Kasihnya yg mendalam terhadap mereka dicatat oleh tiap halaman 2 Kor dan melibatkan dia dalam pergumulan kesedihan, selama ia belum mempunyai kepastian akan reaksi mereka (ump 2 Kor 7:3-5; 12:15). Itulah sebabnya ia dengan sangat mencela mereka (ump 2 Kor 7:8 dab; 11:2). Orang Korintus itu menjadi bukti kerasulannya (1 Kor 7:2), menjadi 'surat pujiannya' dari Kristus (2 Kor 3:1 dab).

Mengenai hubungan Paulus dan Korintus melalui surat dan perkunjungan ada hal-hal yg kurang jelas. Mengingat luasnya perbedaan pendapat mengenai hal ini, agaknya yg terbaik ialah mengumpulkan data-data penting.

a. Data dari Kis

Paulus meninggalkan Korintus bersama Priska dan Akwila (barangkali) pada thn 52 M (Kis 18:18 dab). Sebagian besar dari waktu 2 thn berikutnya Paulus berada di Efesus, tapi agaknya ia tidak ada sewaktu Akwila (?) menulis surat penghargaan kepada Korintus karena Apolos (Kis 18:27). Di Efesus Paulus memutuskan untuk pergi ke Yerusalem, tapi kembali melewati Makedonia dan Akhaya (Korintus berada di Akhaya), dan sebagai langkah pertama, mengutus Timotius dan Erastus ke arah itu (Kis 19:21 dab). Beberapa waktu kemudian, setelah huru-hara, Paulus menyusul dan berada 3 bin di Akhaya (Kis 20:2, 3). Dapat ditambahkan, bahwa halnya sangat sesuai dengan cara Lukas diam-diam melewati peristiwa-peristiwa yg amat penting (bnd 2 Kor 11:24 dab).

b. Data dari 1 Kor

Tiada petunjuk mengenai kunjungan lain di luar kunjungan pertama Paulus. Tapi sepucuk surat penggembalaan memperingatkan tentang pengaruh buruk moral, telah ditulis (5:9 -- beberapa orang, tanpa alasan kuat, menerjemahkan: 'aku menulis dalam surat [ini]'). 'Orang-orang Kloe' membawa berita, yg tidak semuanya baik, dari Korintus (1:11) dan, yg menggirangkan Paulus ialah bahwa teman lamanya, Stefanus, datang (1 Kor 16:17 dab; bnd 1 Kor 1:16; 16:15), bersama orang lain, yg membawa 'sedikit kabar dari Korintus' (Morris mengenai 1 Kor 16:17) bersama dia. Dapat diduga bahwa mereka membawa surat resmi dari jemaat. Bagaimana pun juga pastilah bahwa i Kor sebagian mewujudkan jawaban atas sepucuk surat (lih bawah).

Paulus gagal membujuk Apolos supaya segera kembali ke Korintus (1 Kor 16:12), tapi Timotius jelas sedang menuju ke sana dengan 'para saudara' (16:10 dab). Pengumpulan persembahan untuk Yerusalem adalah gagasan yg umum diketahui orang Korintus, tapi belum dikumpulkan (1 Kor 16:1 dab). Paulus datang 'segera' (1 Kor 4:19), setelah memutuskan untuk tidak singgah di mana-mana dalam perjalanannya ke Makedonia seperti direncanakan sebelumnya, dan berharap untuk berada beberapa waktu, barangkali satu musim dingin, bersama mereka, dan mungkin berlayar bersama utusan mereka ke Yerusalem. Tapi, sementara itu, pekerjaan menahan dia di Efesus hingga Pentakosta (kr awal Mei).

c. Data dari 2 Kor

Timotius bersama Paulus (1:1), agaknya di Makedonia. Tidak disebut tentang pengutusannya seperti dilaporkan 1 Kor 16:10 (bnd Kis 19:22). Nampaknya Paulus sedang membela diri terhadap tuduhan gampang berjanji, yaitu bahwa ia gagal mengadakan perkunjungan pada perjalanannya ke dan dari Makedonia (bertentangan dgn 1 Kor 16:7). Jadi ia telah mengubah rencananya 2 kali (2 Kor 1:15 dab). Tapi ia menegaskan, bahwa sebabnya adalah untuk mencegah orang Korintus dari 'kunjungan lain yg mendukakan' (2:1).

Ia telah menulis surat yg keras kepada mereka, yg menjadikan dia amat berdukacita (2:3 dab), dan yg suatu saat bahkan ia sesali telah mengirimkannya (7:8). Tapi dampaknya adalah penyesalan positif pada pihak orang Korintus, dan hukuman -- Paulus mohon hukuman itu diringankan bagi penentang yg prinsipal, yg telah membangkitkan kekerasan Paulus (2:5-11; 7:9-12). Titus membawa kabar baik ini (7:6). Tapi selama menunggu kedatangannya, Paulus dalam pergumulan demikian berat untuk mendengar berita hingga ia meninggalkan ladang terbuka di Troas (2:12 dab) karena berharap dapat bertemu dengan Titus di Makedonia. Tapi di sana tidak ada kedamaian yg menunggunya. kesukaran-kesukaran lahiriah dari pekerjaannya itu ditambah ketakutan-ketakutan mengenai orang Korintus (7:5) berkecamuk, hingga Allah mendatangkan kelegaan yg menyenangkan melalui Titus.

Pengumpulan dana belum juga dilakukan (8;9), tapi jemaat telah siap untuk itu 'setahun yg lalu' (9:2). Dalam rangka pengadaan dana, Titus akan mengunjungi mereka (8:6) bersama saudara yg terpuji untuk membantunya (8:16-23; bnd 12:18). Paulus sendiri sekarang datang untuk yg ketiga kalinya (12:14; 13:1); peringatan-peringatan keras yg diberikan pada kunjungan kedua (13:2), atau mungkin, seolah-olah pada kunjungan kedua, akan dilaksanakan bila orang Korintus tetap membandel.

Urutan peristiwa nampaknya agak terang hingga 1 Kor dikirimkan. Setelah itu kita tidak mendapatkan kepastian.

d. Berapa surat?

Sering dianggap bahwa surat yg disebut dalam 2 Kor 2:7 adalah 1 Kor. Orang yg salah itu tentu adalah orang sumbang yg disebut dalam 1 Kor 5 dan 'orang yg menderita perbuatan salah' (2 Kor 7:12) itu ialah ayahnya. (Bnd Zahn, INT, 1, hlm 307 dst, bagi suatu pernyataan dari pandangan ini.) Tapi dapat dipersoalkan apakah siksaan yg dicerminkan dalam 2 Kor 2:4; 7:8, dan motivasi yg terkandung dalam 2 Kor 2:9 (kaitannya menghubungkan seluruhnya dgn pendosa prinsipal) cocok dengan nada umum dan isi dari 1 Kor, sedangkan dari 2 Kor nampaknya penghinaan yg dipersoalkan itu dapat dianggap ditujukan kepada Paulus pribadi. Maka seperti mungkin bahwa 2 Kor menunjuk kepada sepucuk 'surat keras' yg dikirim setelah 1 Kor, yg membicarakan satu hal yg mendesak sekali. Yg membawa adalah jelas Titus, yg membawa kembali berita penerimaannya.

e. Berapa kali perkunjungannya?

2 Kor 12:14; 13:1 dapat diartikan 'Aku siap untuk datang ketiga kalinya', mencakup suatu perjalanan yg direncanakan dan ditangguhkan. Tapi yg paling biasa adalah membacanya (Juga 2 Kor 13:2) sebagai mencakup dua kunjungan lengkap. Kis hanya menyebut satu; dan 1 Kor tidak berisi petunjuk mengenai anjuran Lightfoot tentang satu kali kunjungan kedua sebelum surat itu ditulis. Selanjutnya, 2 Kor 2:1, seperti kita lihat, nampaknya mengatakan bahwa Paulus ingin menghindarkan orang Korintus dari kunjungan yg lain yg menyedihkan juga. Kunjungan yg dicatat Kis 18 bukanlah kunjungan yg menyedihkan; karena itu kunjungan yg lain harus telah dilakukan.

f. 'Kunjungan yg menyedihkan' dan 'surat yg keras'

Nampaknya Paulus mengunjungi Korintus dari Efesus pada suatu waktu setelah 1 Kor dikirim, dan barangkali sebabnya adalah karena surat itu tidak cukup memperbaiki keadaan. Kunjungan itu tidak lama dan tidak menyenangkan. Juga Paulus tidak puas dengan hasilnya. Ia pergi, dan berjanji akan kembali (2 Kor 1:16). Tapi untuk menghindari adegan yg lain, bahkan yg lebih menyedihkan (2 Kor 1:23; 2:3; 13:2) dan untuk memberi orang Korintus sekali lagi kesempatan untuk taat (2 Kor 2:9), ia menangguhkan itu dan kembali ke Asia (dimana hidupnya dlm bahaya, 2 Kor 1:8 dab) dan menulis sepucuk surat yg keras sekali guna meyakinkan mereka. Ketika 2 Kor ditulis, hal yg paling jelek telah lewat: kunjungan ketiga yg direncanakan sekalipun akan menyedihkan mereka yg menentang (2 Kor 10:6-11; 13:1 dab) dapat dibicarakan dengan girang, dan pengumpulan dana yg untuknya Paulus telah mengadakan persiapan dengan merencanakan kunjungannya dalam 1 Kor 16:3, 4, sekarang dapat dilaksanakan sebelum kunjungan ini.

Mengenai arti bahwa kunjungan itu menyedihkan, sedikit yg dapat dikatakan. Sering dikemukakan, bahwa Paulus menderita kegagalan yg menyedihkan di depan mata mereka yg menentang kewibawaannya, dan dari seorang secara khusus, yg memancing celaan-celaan seperti dicerminkan dalam 2 Kor 10:1, 10; 11:26. Tapi, seandainya inilah yg terjadi, alasan-alasan yg diberikan untuk menunda kunjungan ketiga pasti tidak begitu meyakinkan, dan tidak akan ada dasar yg kuat untuk 'bermegah' kepada Titus. Petunjuk-petunjuknya ialah, bahwa kunjungan itu menyedihkan juga bagi orang Korintus, bukan hanya bagi Paulus. Barangkali ada beberapa tanda yg menakutkan, yg mungkin disinggung dalam 1 Kor 5:4 dab; 11:30. Juga setelah ini orang Korintus tetap keras kepala dan Paulus dapat segan memikirkan apa yg harus ia perbuat jika ia kembali (bnd R Mackintosh, The Expositor 7, 6, 1908, hlm 226 dst).

g. Akhir peristiwa

Apa yg diuraikan di atas menerima keutuhan 2 Kor; sedikit perubahan diperlukan seandainya 2 Kor 10-13 menjadi bagian dari 'surat keras' seperti dikemukakan oleh beberapa orang (lih bawah). Atas dasar praanggapan yg sama, terlihat bahwa kendati 'surat keras' mendampakkan penyesalan, penentangan Paulus tetap ada di beberapa bagian dalam Kor; pengaruh 'rasul-rasul super' membahayakan sekali, dan suatu pemberitaan yg merusak sebagai pilihan lain paling sedikit mungkin bisa mendapat tempat di sana (2 Kor 11:4). Tapi kunjungan yg dibicarakan dalam 2 Kor akhirnya dilangsungkan (Kis 20:2) juga persembahan (Rm 15:26). Surat kepada jemaat di Roma, yg ditulis selama kunjungan ketiga ini, memberikan tanda-tanda suatu akhir yg menyenangkan. Setelah kekecewaan-kekecewaan yg lama dan penundaan-penundaan, sekarang Paulus dapat menantikan kesempatan memberitakan Injil di Roma dan daerah lain (Rm 1:10-15; 15:28). Selesailah perkara Korintus.

IV. Surat-menyurat dengan jemaat Korintus

Dari surat-menyurat antara Paulus dan jemaat Korintus dapat ditemukan pokok-pokok berikut.

a. 'Surat terdahulu' dari Paulus

Surat ini (paling sedikit) berisi petunjuk (tidak sepenuhnya dimengerti di Korintus) mengenai: tidak menerima orang-orang yg berbuat jahat (1 Kor 5:9 dab). Beberapa orang mengira bahwa sebagian surat itu mungkin masih terawat dalam 2 Kor 6:14-7:1, yg merupakan tanda kurung yg panjang dalam suatu uraian berurutan.

b. Surat orang Korintus kepada Paulus

Beberapa gagasan dari isi surat dapat berawal dari sindiran Paulus yg bertalian dengannya dalam 1 Kor. Dan beberapa pokok dalam surat itu akan menjadi lebih jelas seandainya dapat dipastikan apa sebenarnya persoalan orang Korintus.

Satu persoalan mengenai keabsahan, atau paling tidak status Kristiani, dari perkawinan (7:1), dan soal-soal yg lebih kecil termasuk hal kawin lagi (7:8), kawin campuran (7:12) dan gadis-gadis -- apakah yg dimaksudkan gadis-gadis pada usia boleh kawin atau belum, sulit dikatakan (1 Kor 7:25). Suatu persoalan lain ialah, sikap yg harus diambil atas persembahan terhadap berhala, agaknya termasuk juga pernyataan 'kita berpengetahuan' (mengenai kesia-siaan ilah-ilah para penyembah berhala -- 8:1).

Agaknya orang Korintus berkata bahwa mereka mengingat Paulus dan memperhatikan apa yg diajarkannya (11: 2); Paulus mempertentangkan pernyataan mereka dengan peranan yg tidak layak yg sekarang mereka berikan kepada wanita (11:3), dan adegan-adegan yg memalukan yg kadang-kadang mengotori ibadah umum mereka (11:17).

Persoalan-persoalan kecil mengenai sakramen -- jika itu benar-benar dikemukakan oleh orang Korintus -- dapat menunggu kedatangan Paulus (1 Kor 11:34). Tapi orang Korintus memang menanyakan sesuatu tentang karunia-karunia rohani, barangkali mengenai hal menguji ungkapan-ungkapan ekstatis (12:1). Tidak ada yg menunjukkan apakah mereka menyebut penafsiran baru tentang kebangkitan (1 Kor 15:12), tapi agaknya mereka menanyakan rincian mengenai pengaturan pengumpulan dana (1 Kor 16:1).

c. 1 Kor

Tiada alasan nyata untuk mempersoalkan keutuhan 1 Kor. Usaha-usaha untuk membaginya menjadi dua surat atau lebih, berdasarkan perbedaan-perbedaan yg diduga ada dalam pengaturan-pengaturan perjalanan dan ajaran mengenai sajian penyembah berhala (bnd J Hering, 1 Corinthiens, 1948) tidak meyakinkan. Tarikh surat ini tidak dapat ditentukan. Tapi 1 Kor 16:8 dapat memberi kesan, bahwa surat ini ditulis pada musim semi, atau menjelang akhir musim dingin, dan pertimbangan-pertimbangan umum menunjukkan bahwa beradanya Paulus di Efesus diakhiri pada akhir thn 50-an. Karena itu thn 55 M dapat diterima.

d. 'Surat keras'

Surat ini, atau sebagian daripadanya, sering dianggap terdapat dalam 2 Kor 10-13. Alasan-alasan pokok ialah: (1) Ps-ps pertama dari 2 Kor bernafaskan kelegaan dan ucapan syukur serta pendekatan yg lemah lembut. Mengapa Paulus begitu mendadak berubah kepada sindiran tajam dan pengaduan yg kasar? (2) 2 Kor 10-13 menyerang penyelundup-penyelundup yg tidak nampak dalam ps 1-9; diduga bahwa menjelang waktu itu mereka telah pergi. (3) Beberapa bg dari ps 10-13 (ump 10:6; 13:2, 10) dianggap menunjuk kepada hal-hal di masa depan, sedangkan bg-bg dalam ps 1-9 (1:23; 2:3, 9) menunjuk kepada hal-hal yg sama di masa lampau.

Kesimpulannya ialah, bahwa 4 ps terakhir 2 Kor ditulis sebelum ps-ps yg mendahuluinya. Apapun yg menarik dalam pandangan ini, ada banyak yg bertentangan dengannya: (1) Tiada gangguan atas naskah dalam bentuk apapun. (2) Kepercayaan Paulus pada umumnya pada orang Korintus, dan kelegaan hatinya pada pembenaran mereka baru-baru ini akan kepercayaan itu, tidak bertentangan dengan bahasanya yg tajam tentang suatu golongan kecil yg meracuni, yg pengaruhnya dapat merusak jemaat. Golongan kecil ini telah disebut dalam ps-ps terdahulu dan singgungannya dalam 1:17 dab; 2:17; 3:1; 4:2, 5; 5:12 dab. (3) Kesejajaran dalam bahasa antara ps 1, 2 dan 10-13 seperti disebut di atas, dapat hanya berarti bahwa surat yg keras itu dikirim untuk menghindari suatu kunjungan yg tidak menyenangkan. Bila benar demikian, nampaknya aneh bahwa surat yg keras itu akan berbicara seolah-olah suatu kunjungan ketiga sedang direncanakan (12:14; 13:1 dab). (4) Praduga dalam 12:18 (terjemahan yg terbaik ialah 'Aku meminta Titus pergi kepadamu', dst), bahwa Titus dikenal di Korintus. Maka wajar jika ia telah membawa surat yg keras itu. Di bagian pertama surat (8:16 dab) telah disinggung hal pengutusan Titus dan 'saudara' itu. (5) Ejekan mengenai pertentangan antara Surat-surat Paulus yg menakutkan dan kehadirannya yg menyedihkan (10:9 dab) lebih kedengaran sebagai tanggapan penentang-penentang yg dikalahkan oleh akibat dari surat keras yg ditujukan kepada jemaat (Titus mungkin telah mendengar hal itu) daripada suara-suara yg kedengaran di Korintus selama kunjungan yg menyedihkan itu dan sebelum surat keras dikirimkan.

Akan terasa baik jika 2 Kor dibaca sebagai suatu kesatuan, dan alasan untuk menempatkan ps 10-13 sebelum ps 1-9 belum punya kepastian. Mengenai seluruh persoalan lih J. H Kennedy, The Second and Third Epistles to the Corinthians; dan K Lake, The Earlier Epistles of Paul, 1927, hlm 144 dst; dan (melawannya) R. V. G Tasker, ExpT, 47, 1935-1936, hlm 55-58 (dan tafsiran dari Menzies dan Tasker).

e. 2 Kor

Surat ini jelas ditulis di Makedonia, dimana Paulus bertemu dengan Titus (2:13). Karena orang Makedonia diberitahu bahwa orang Korintus telah siap dengan sumbangan mereka untuk Yerusalem 'setahun yg lalu' (8:10; 9:2), dan karena setelah 3 bulan di Akhaya Paulus meninggalkan Makedonia paling lambat menjelang April (bnd Kis 20:3,6), maka dapat disimpulkan bahwa 2 Kor ditulis pada musim rontok dari thn setelah thn dimana 1 Kor ditulis.

f Keaslian surat-surat

Hal ini hampir tak dapat diragukan, bagaimana pun pandangan-pandangan orang terhadap kesatuan 2 Kor. Tidak ada surat pribadi yg lebih bergairah daripada 2 Kor. Mengenai 1 Kor, seorang penulis kuno seperti Ignatius, 'hafal' surat itu (The New Testament in the Apostolic Fathers, hlm 67).

KEPUSTAKAAN. Kitab tafsiran: yg paling baik mungkin tafsiran C. K Barrett dalam seri Black, 1968 dan 1973. Yg lain: Ttg I Kor, Calvin; F Gedet 1886; A Robertson dan A Plummer, ICC, 1911 (naskah Yunani); L Morris, TNTC, 1958; J Hering, 1962 (red Per. 1948); H Cenzelmann, Hermeneia, 1975. Ttg 2 Kor, Calvin; A Plummer, ICC, 1915 (naskah Yunani); R. G Tasker, TNTC 1958; P. E Hughes, 1962; F. F Bruce, Paul, Apostle of the Free Spirit, 1977, ps 23-24; D Georgi, Die Gegner des Paulus im 2 Korintherbrief, 1964. AFW/HH




TIP #20: Untuk penyelidikan lebih dalam, silakan baca artikel-artikel terkait melalui Tab Artikel. [SEMUA]
dibuat dalam 0.07 detik
dipersembahkan oleh YLSA