Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  24. Sastra Alkitab >  IV. Sejarah Perjanjian Baru. >  A. Kitab-Kitab Injil. > 
2. Ciri-ciri Sastra dari Kitab-Kitab Injil. 
sembunyikan teks

Jadi, apakah ciri-ciri sastra dari sebuah kitab Injil? Injil adalah sekumpulan cerita yang unik karena menyajikan sejumlah besar tindakan. Tujuannya ialah mengumumkan fakta-fakta dan makna kehidupan Yesus serta memuji Dia juga. Banyak bentuk dipakai dalam Injil. Pertama, ada narasi, yang menjadi semakin kompleks dari garis besar kejadian-kejadian yang paling sederhana sampai kepada penyajian yang diperluas dari rincian-rincian sekitar berbagai kejadian (mis., Mat. 27). Dialog tampil dengan kadar kompleksitas yang sama luasnya (mis., Mat. 13:10-17). Injil juga sering menggunakan ceramah atau pidato (mis., Khotbah di Bukit di Mat. 5 atau Khotbah di Bukit Zaitun di Mat. 24).

Metode akhir yang menonjol adalah perumpamaan. Sebuah perumpamaan mungkin suatu cerita yang melukiskan satu hal, sedangkan detail-detailnya tidak ada arti (Mat. 13:33), atau sebuah cerita yang melukiskan satu hal utama dan boleh jadi hal-hal lain yang kurang penting, di mana detail-detailnya berarti (mis., Mat. 13:36-43).71

Cerita-cerita tentang mukjizat juga menonjol dalam kitab-kitab Injil. Sebagai metode-metode sastra, cerita-cerita itu harus diterima begitu saja. Para penulis benar-benar bermaksud agar pembaca mengerti bahwa Yesus mengadakan mukjizat. Tidak mengartikannya demikian adalah mengabaikan maksud penulis dan bukanlah penilaian kritis sastra yang bertanggung jawab.

Keempat kitab Injil menggambarkan Yesus sebagai seorang yang sangat berbakat di bidang sastra. Ia dipertunjukkan sebagai seorang yang menguasai semua metode puisi Perjanjian Lama: paralelisme (Mat. 13:13), metafora (Mat. 15:14), simile (Mat. 13:47), paradoks (Mat. 11:30), dan hiperbol (Mat. 19:24). Ajaran-Nya mencerminkan gaya dan pendirian para nabi dan sastra hikmat Perjanjian Lama. Ia berdiri dengan penuh wibawa di antara para murid-Nya, serta mengajar mereka tentang cara-cara hidup yang bijaksana.

 a. Matius.
sembunyikan teks

Tiap-tiap kitab Injil adalah seubah karya sastra yang unik, meskipun jelas bahwa ketiga kitab yang pertama itu berhubungan. Kebanyakan ahli berpikir bahwa Matius dan Lukas menulis dengan Injil Markus yang terbuka di depan mereka. Matius menjadi terkenal karena tujuannya yang bersifat apologetik. Sang penulis ingin meyakinkan para pembaca bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan di Perjanjian Lama. Karena itu, ia menjelaskan bagaimana Yesus menggenapi berbagai nubuat tertentu di Perjanjian Lama (bdg. 1:23: 2:6, 15, 18, 23; 3:3; 4:15-16; 8:17; 12:18-21; 13:35; 21:5; 26:56). Dalam setiap hal, kecuali Mat. 2:6, ia mendahului kutipan Perjanjian Lama itu dengan kata-kata yang menetapkan bahwa ayat Kitab Suci itu digenapi. Kutipan-kutipan ini rupanya adalah terjemahan baru dari bagian-bagian Perjanjian Lama, sedangkan petikan-petikan lain dari Perjanjian Lama yang terdapat dalam kitab Injil ini telah diambil dari Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani). Injil ini mempunyai ciri-ciri Perjanjian Lama yang jelas; tekanannya pada kerajaan Allah (Mat. 13), Kristus sang Mesias (ayat-ayat yang disebut di atas), zaman baru (Mat. 24-25), dan kebenaran (Mat. 23) mengingatkan pada nubuat dan apokaliptis Perjanjian Lama. Tema-tema hikmat sering muncul baik dalam penggambaran pendirian Kristus di antara murid-murid-Nya maupun dalam tema-tema yang dipakai-Nya. Hal ini terutama benar dalam perbedaan di antara gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat. 25).

Ada juga banyak sifat khusus yang terdapat dalam kitab Injil ini. Injil ini memberi tekanan yang khas pada peranan orang bukan Yahudi dalam Kerajaan yang baru (mis., Mat. 8:10-12; 10:18). Inilah satu-satunya kitab Injil yang menyebut gereja (Mat. 16:18; 18:17). Matius mengelompokkan ucapan-ucapan Yesus dalam lima kumpulan ceramah, yang masing-masing berakhir dengan ucapan, "Setelah Yesus mengakhiri (selesai) ... " (Mat. 5:1-7:29; 10:5-11:1; 13:1-53; 18:119:1, 24:4-26:1).

Kitab ini membagi pelayanan Yesus menjadi tiga bagian benar. Pertama, terdapat persiapan untuk pelayanan-Nya di muka umum. Bagian ini diakhiri dengan frase "sejak waktu itu" (4:17). Bagian kedua memfokus pada permulaan pelayanan-Nya. Kemudian terdapat frase penutup "sejak waktu itu" (16:21), yang disusul oleh tekanan pada ajaran-Nya yang diberikan secara pribadi kepada Kedua belas Murid dan kematian-Nya di kayu salib.

Kitab ini secara sadar dan terampil dibentuk sebagai suatu karya sastra, dengan memadukan semua unsur dari gaya sastra Injil.

 b. Markus.
sembunyikan teks

Injil Markus terkenal karena beberapa aspek bahasanya. Kitab ini menggunakan lebih banyak kata Latin daripada Kitab-kitab Injil yang lain. Dalam beberapa hal, kitab ini bahkan menjelaskan sebuah kata Yunani dengan kata Latin (Mrk. 12:42; 15:16). Kitab ini juga mempunyai ciri bahasa Aram yang nyata. Bahasa Yunani dalam kitab ini kasar, ditandai oleh kalimat yang terputus-putus (mis., 2:10; 11:32), campur baurnya bentuk-bentuk kata kerja Yunani yang terjadi dalam bahasa sehari-hari, ucapan-ucapan yang disisipkan (mis., 3:30; 7:19), dan ungkapan-ungkapan populer. Beberapa ahli berpendapat hal ini menunjukkan bahwa Markus mencatat materinya sementara Petrus (yang orang Yahudi dan mengetahui bahasa Aram lebih baik daripada bahasa Yunani) berbicara di hadapan orang-orang Roma.

Injil ini bergerak maju dengan lebih cepat daripada Injil-injil yang lain. Namun, Markus tidak berhemat dengan detail-detail kisahnya. Sebenarnya, bila ketiga Injil sinoptis (Matius, Markus, dan Lukas) semuanya melaporkan sebuah kejadian, biasanya Markus memberikan lebih banyak detail daripada yang lain. Sebaliknya, Markus menulis sebuah kitab yang penuh tindakan, serta memfokus kepada perbuatan-perbuatan tokoh utamanya (Yesus) daripada perkataan-Nya. Peristiwa-peristiwa ini dengan cepat lewat di depan pembaca secara berturut-turut, ditegaskan oleh kata "segera" yang dipakai oleh Markus lebih dari 40 kali.

Markus juga menggambarkan Yesus sebagai seorang guru dan manusia yang nyata. Pembaca melihat belas kasihan-Nya (mis., 1:41; 6:34), kemarahan-Nya (mis., 3:5), dan kesusahan serta kesedihan-Nya (mis., 14:33-34). Injil ini memusatkan perhatian pada pendidikan Kedua belas Murid, dan kadang-kadang memberi gambaran yang lebih buruk dari mereka daripada yang terdapat dalam Injil-injil yang lain (mis., 5:31; 9:10; 10:13-14). Dari segi struktur, hampir 40 persen kitab ini dipakai untuk mengisahkan penderitaan Kristus (mis., 10:32 dst.) Dari permulaan kitabnya (1:1) Yesus dengan jelas digambarkan sebagai Anak Allah.

 c. Lukas.
sembunyikan teks

Hanya Injil Lukas yang berusaha untuk menghubungkan kisah-kisah tentang Yesus dengan dunia sekular. Bahasa Injil ini betul-betul bersifat sastra, agak sebanding dengan bahasa Yunani klasik. Bahasa dalam bagian-bagian yang menceritakan kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus jelas berbeda dengan yang dipakai dalam bagian prolog dan bagian-bagian lain kitab ini. Kisah-kisah awal ini berbau Semit. Kisah-kisah ini juga menceritakan peristiwa-peristiwa yang tidak diberikan dalam kitab-kitab yang lain.

Penulis ini menegaskan reaksi orang banyak terhadap Yesus. Mereka takjub pada-Nya (mis., 5:26; 7:16-17). Namun, belas kasihan-Nya kepada orang banyak tidak disebut. Yang disebut hanyalah belas kasihannya terhadap individu-individu. Perhatian Lukas secara khusus dipusatkan kepada orang miskin, orang kaya dan kekayaan mereka (mis., 12:13-21; 13:11-17), dan kaum wanita. Ia menggambarkan Yesus sebagai pejuang untuk orang-orang yang dibuang masyarakat. Lukas juga memfokus kepada konsep-konsep tertentu: kasih, sukacita, pujian, kedamaian, dan lain sebagainya.

Pada umumnya, Lukas memberi tahu waktu dan tempat dari peristiwa-peristiwa yang diceritakan (mis., Luk. 2:1). Ia memberikan lebih banyak detail mengenai kehidupan Yesus sebagai manusia daripada Injil-injil yang lain. Hanya dialah yang memberi gelar Juruselamat kepada Yesus (2:11). Ia menekankan misi Kristus, dan secara khusus memperhatikan kedudukan-Nya sebagai raja dan kerajaan-Nya. Ia juga merunut kesejajaran di antara pola kenabian dan pelayanan Yesus.

 
 d. Yohanes.
sembunyikan teks

Kitab Injil yang keempat ditulis dalam gaya yang amat sederhana. Kitab ini menggunakan kata-kata yang biasa, pernyataan-pernyataan yang singkat, bahasa yang indah, dan sering kali mengulang. Efeknya sederhana namun mendalam. Bahasanya memberi ciri yang khas dalam gaya menulis dan konsep-konsep teologisnya (mis., kata-kata kunci seperti saksi, percaya, hidup, mengasihi, tinggal, kebenaran atau benar, orang Yahudi, dunia, pesta, dan terang).

Struktur Injil ini dengan mahir diimbangkan di antara sebuah prolog yang hampir puitis (Yoh. 1:1-18) dan epilog (ps. 21). Tujuh mukjizat Yesus ditekankan secara khusus dan disebut "tanda-tanda" ,(2:1-12; 4:46-51; 5:1-16; 6:1-14, 15:21; 9:1-41; 11:17-46). Akan tetapi, mukjizat-mukjizat lain juga disebut (2:23; 6:2; 20:30). Yohanes memperhatikan bahwa Yesus menggunakan mukjizat-mukjizat itu sebagai kesempatan untuk mengajarkan ajaran rohani (bdg. Yoh. 9, khususnya ay. 41).

Yohanes menyoroti ucapan "Aku adalah" yang dikatakan oleh Yesus (mis., 8:12). Secara khusus ia menekankan hari raya dan perayaan yang dihadiri oleh Yesus. Ia memperlihatkan bahwa Yesus lebih besar daripada Taurat (bdg. 1: 17), bait suci (2:19-21), kemuliaan shekinah (bdg. 1:14), dan seluruh sistem upacara agama (bdg. 7:37-39). Dalam kitab Injil ini kita melihat Yesus terutama berbicara dengan individu-individu daripada dengan orang banyak. Beberapa tokoh utama yang berhubungan dengan kehidupan Yesus digambarkan secara lebih lengkap daripada di tempat lain - mis., Yohanes Pembaptis dan Yudas Iskariot. Ke-Tuhanan Kristus ditekankan secara khusus. Injil Yohanes memang unik dalam menyoroti pra-eksistensi Yesus dan dalam menamakan-Nya sang logos ("Firman"). Bersamaan dengan itu, Yohanes menyatakan dengan jelas ketergantungan Yesus kepada Bapa dan bahwa Ia sepenuhnya manusia (ps. 17).



TIP #03: Coba gunakan operator (AND, OR, NOT, ALL, ANY) untuk menyaring pencarian Anda. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA