Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 16 No. 2 Tahun 2001 > 
KONSULTASI TEOLOGI: APAKAH DOKTRIN ITU MEMANG BEGITU PENTINGNYA? 
sembunyikan teks
Penulis: Henry Efferin

Pertanyaan:

Apakah doktrin itu memang begitu pentingnya? Terutama bagi orang sekarang yang cenderung pragmatis, banyak orang Kristen yang tidak terlalu suka hal-hal yang "rumit". Mereka beranggapan bahwa masalah doktrin itu urusannya para hamba Tuhan atau teolog yang profesional.

Jawab:

Seorang teolog besar, Karl Barth, setelah menulis seri dogmatikanya lebih dari 10 volume itu, akhirnya mengatakan satu kalimat bahwa yang terpenting dari kesemuanya ini hanya satu: Jesus loves me this I know, cause the Bible tells me so. Kalimat ini bisa menimbulkan anggapan dari orang percaya bahwa yang terpenting bukan doktrin, cukup asal kita tahu bahwa Yesus mengasihiku. Memang banyak orang Kristen yang berpikir bahwa doktrin itu sering kali bukannya membangun, malahan "mengancam" kesederhanaan dan kepolosan iman. Hakekat Injil adalah "action", yaitu tindakan yang konkrit bukan sekedar berteori atau membesarkan kepala. Keberatan lain yang diajukan terhadap penelaahan doktrin ialah kaitannya yang erat dengan dogma gereja. Dogma itu selalu berkonotasi suatu sistim kepercayaan yang dipaksakan berdasarkan otoritas lembaga gereja sehingga justru berakibat negatif terhadap kebebasan ungkapan iman orang percaya. Yang lebih celaka ialah perpecahan gereja sering kali timbul karena perdebatan doktrinal yang terkadang bagi orang awam sulit dimengerti, mengapa para tokoh gereja itu mempunyai mindset yang begitu "denominationalism".

Keberatan-keberatan di atas harus diakui cukup absah adanya. Dalam hal ini kita harus seimbang, di satu sisi menghindari ekstrim yang terus menerus meributkan persoalan-persoalan doktrinal yang minor, di lain segi juga jangan sampai mengabaikan masalah doktrin. Di dalam Alkitab ada cukup banyak ayat yang menekankan pentingnya pengajaran, "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, ... sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia..." (Ef 4:13-14; lihat juga 1 Kor 14:20; Ibr 4:13-14). Di dalam bahasa Inggris perlu dibedakan antara "childlike faith" dan "childish faith", yaitu iman seperti anak-anak (kepolosannya) yang berbeda dengan iman yang kekanak-kanakan. Jelas setiap orang perlu bertumbuh dalam pengajaran yaitu pemahaman doktrin, dengan kata lain setiap orang dalam arti luas adalah "teolog" yaitu orang yang belajar memahami "theos". Orang yang sederhana pun dalam kecenderungannya juga berteologi. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah Anda adalah "good theologian" atau "poor theologian".

Mengerti doktrin adalah satu keniscayaan dalam proses pertumbuhan seseorang. Dalam sejarah gereja, akar dari perumusan-perumusan doktrin atau pengakuan-pengakuan iman timbul karena pergumulan melawan bidat yang sudah sejak awal kekristenan itu sendiri (mis: gnosticism, docentism, arianism, dll.). Bagaimana seseorang dapat mengenali bidat kalau ia sendiri tidak dilengkapi dengan pemahaman doktrin yang benar? Hal itu sama dengan seorang kasir atau petugas keuangan perlu dilengkapi [dengan pengetahuan tentang uang asli dan uang palsu palsu] sehingga ia tahu dan bisa membedakan antara uang asli dan uang palsu. Doktrin juga dibutuhkan karena Alkitab bukanlah sebuah buku jadi yang bisa langsung menjadi pegangan, melainkan sebuah bahan mentah yang perlu diolah secara sistimatis dan menyeluruh dan ini adalah tugas perumusan doktrin. Kalau tidak, sulit bagi orang percaya untuk mengenali iman mereka dengan lebih dewasa, apa yang sebetulnya mereka percayai. Terkadang tidak sedikit orang Kristen yang sistim kepercayaannya saling kontradiksi satu sama lain tanpa ia sadari. Last but not least, doktrin sangat diperlukan karena pemahaman akan doktrin berkaitan langsung dengan world view maupun kehidupan praktis seseorang. Misalnya, bagaimana kita mengenali Allah dalam Yesus Kristus yang kita sembah? Apakah kita mengenali sebagai hakim yang kejam, atau yang acuh terhadap sejarah manusia, atau sebagai Allah yang peduli dan penuh rahmat, kesemuanya ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita sehari-hari. Pandangan seseorang terhadap doktrin akhir zaman misalnya sangat mempengaruhi sikap hidup dia. Seseorang penganut premilleanism cenderung pesimis melihat perkembangan dunia. Sebaliknya, penganut postmilleanism cenderung lebih optimis. Ini membuktikan bahwa doktrin adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan orang percaya.

Namun sebagai catatan, perlu diingat bahwa kesadaran akan pentingnya doktrin jangan sampai "kebablasan". Dalam hal ini perlu dibedakan antara doktrin yang primer dan sekunder. Misalnya doktrin mengenai penciptaan jelas adalah hal yang primer, namun berapa lama waktu yang dipakai untuk penciptaan apakah secara harfiah enam hari atau berproses adalah hal yang lebih sekunder. Percaya bahwa dosa sudah mencemarkan seluruh manusia adalah hal yang primer, namun Cara penjalaran dosa tersebut ada berbagai teori (creationism, traducianism) adalah hal yang lebih sekunder. Bahwa orang percaya harus dibaptis adalah hal yang primer, cara pembaptisan adalah hal yang sekunder. Kepercayaan terhadap kedatangan Kristus yang, kedua kali adalah hal yang primer, bagaimana detail kedatangan-Nya (pre-trib, mid-crib, atau post-trib) adalah doktrin yang lebih sekunder. Contoh-contoh ini bisa terus berlanjut, yang menjadi masalah sering kali para pemikir Kristen memutlakkan hal-hal yang sekunder sehingga terjadi perdebatan yang mengakibatkan perpecahan. Kita boleh memegang posisi tertentu dalam suatu doktrin, tetapi hendaklah itu diimbangi dengan semangat keterbukaan dan kerendahan hati untuk saling belajar. Dengan demikian kita bisa saling menghargai orang lain dari denominasi dan tradisi teologi yang berbeda dengan kita.



TIP #24: Gunakan Studi Kamus untuk mempelajari dan menyelidiki segala aspek dari 20,000+ istilah/kata. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA