Sejarah Bentuk Sasta

Formgeschichte /Sejarah Bentuk Sasta [haag]

Formgeschichte/Sejarah Bentuk Sastra.

  1. (1) Pengertian kata ~F. Kata ~F untuk pertama kali dipakai oleh ~M. Dibelius (: "Die F des Evangeliums", 1919). Kemudian digunakan oleh H. Gunkel (1933) dalam penyelidikan ekseges Mazmur. Di dalam studi KS, seperti halnya dengan studi tulisan lainnya, metode ~F menemukan dan meneliti sejumlah besar bentuk sastra atau corak sastra (misalnya: kidung pujian, kidung ratapan dan perumpamaan), yang dilihat sebagai kesatuan-kesatuan sastra yang terkecil. Alkitab itu tumbuh dari bentuk-bentuk terkecil tadi. Dengan mengadakan studi pada kesatuan-kesatuan yang kecil tadi dapatlah ditemukan corak dan besarnya bentuk-bentuk sastra yang sedang dihadapi. Setelah itu orang menentukan susunan literernya yang mendasari setiap bentuk sastra: Milieu kemasyarakatan, kebudayaan dan keagamaan, yang mengakibatkan timbulnya bentuk sastra tertentu dan yang menjadi lingkup aslinya (: "Sitz im Leben"). Di samping itu juga diadakan persamaan dengan bentuk-bentuk sastra lain, terutama dari sastra Timur Tengah. Studi persamaan ini sangat membantu. Orang tahu, bahwa sejarah timbulnya naskah itu sering kompleks sekali. Hal itu disebabkan oleh adanya berbagai-macam perkembangan yang terjadi sebelum bahan-bahan itu ditetapkan dalam bentuk tulisan (: sejarah penceritaan tradisi). Penyelidikan dengan cara terakhir ini sangat membantu pengertian kita akan naskah yang sedang kita pelajari.
  2. (2) Hasil-hasilnya. Metode F membuktikan bahwa corak yang digunakan penulis Kitab Suci kurang dipengaruhi oleh kepribadiannya sendiri. Ia lebih terikat pada bentuk-bentuk tradisionil dan klise yang menguasai seni sastra pada waktu penulis itu hidup. Pengertian tentang bentuk-bentuk ini menjelaskan maksud penulis. Dalam bidang kritik Injil, penggunaan metode ~F segera mengarah pada posisi yang ekstrim: Orang hampir melepaskan sifat khas literer pribadi pengarang Kitab Suci dengan menempatkan kerangka kronologi dan topografinya. Timbulnya Injil sama sekali dikembangkan pada jemaat kristen purba. Kerangka maupun banyak cerita dipandang tidak mempunyai nilai sejarah. Semua itu dipandang sebagai keterangan tentang iman yang hidup pada waktu itu dan mengenai suatu kultus yang hendak membangkitkan pendalaman iman atau untuk memperoleh anggota baru. Pengetahuan itu membuat metode ~F tidak memperoleh kepercayaan di kalangan katolik dalam waktu yang agak lama. Di dalam ensiklik --> Divino afflante Spiritu (1943) dan terlebih-lebih di dalam Instructio De historica Evangelium veritate (1964) baru ditekankan perlunya memperhatikan bentuk sastra itu (Bdk. Konsili Vatikan II, Konstitusi "Dei Verbum", Cap V, 19). Perlu ditambahkan pada ~F perihal sejarah penulis Kitab (: Redaktionsgeschichte. Untuk pertama kali istilah itu dipakai oleh W. Marxsen: "Der Evangelist Markus", Gottingen, 1956 (2) 1959). Bagi metode ~F boleh dikatakan, bahwa persoalan tentang kesatuan, tentang alasan-alasan theologis dan maksud setiap Kitab itu lebih diperhatikan keseluruhan konsepsi dan komposisinya, tanpa meninggalkan metode dan hasil karya studi ~F. Pengertian paling penting di dalam studi Injil adalah memperhatikan komposisi dan penyusunan tradisi satu-demi-satu di dalam sebuah kerangka geografis dan kronologis, maupun di dalam pandangan theologi yang tertentu. Semua itu perlu diperhatikan agar dapat melihat karya khusus penulis Injil yang membuat rencana dana mewujudkannya. Dengan interprestasi yang redaksionil itu penulis Injil acap kali mengubah arti asli dari pada teks, supaya theologisnya sendiri (: dari penulis) dapat lebih ditonjolkan (: misalnya: bdk.: Keempat penceritaan tentang pembersihan kenisah pada Mark 11:15-18; Mat 21:12-13; Luk 19:45-46; Yoh 2:13-17).



TIP #13: Klik ikon untuk membuka halaman teks alkitab dalam format PDF. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA