Daftar Isi
HAAG: Kisah Para Rasul
ENSIKLOPEDIA: KISAH PARA RASUL

Kisah Para Rasul

Kisah Para Rasul [haag]

Kisah Para Rasul.

Titel "Kisah para Rasul" baru ditemukan jejaknya pada sekitar tahun 180 ses. Mas. Kata Yunani (prakseis apostolon) dan kata Latin (acta apostolorum) maupun terjemahannya dalam bahasa Indonesia tidak mengena pada isi daripada kitab itu. Seperti Injil Lukas tidak menceritakan riwayat hidup Yesus, demikian pula kisah para Rasul yang menjadi semacam kelanjutan injilnya, tidak merupakan sejarah para Rasul maupun sejarah jemaat Kristen purba. Kisah ini melukiskan, bagaimana warta gembira meluas dari Yerusalem melintasi Yudea, Samaria, Antiokhia dan melintasi jemaat yang didirikan Paulus menjalar menuju ke Roma. Pada inti pelukisan itu pertama-tama diperankan Petrus. Dari Kis 13:4 diperankan Paulus. (yang hanya dua kali disebut --> Rasul Kis 14:4,14). Bukan maksudnya di sini mengadakan tulisan yang menyeluruh. Kejadian-kejadian penting yang sudah diketahui dari surat-surat Paulus tidak disinggung lagi. Kejadian yang kecil (misalnya: peristiwa-peristiwa Kornelius) diuraikan secara panjang-lebar. Pemilihan dan cara pengungkapan peristiwa rupanya tergantung dari pengarahan penulis. Terutama hal itu terungkap secara terang dalam cara penulis mengidealisir jemaat purba (Kis 2:42-47; 4:32-37): Jemaat itu bersatu dalam kerukunan dan doa. Mereka lakukan hidup dalam persekutuan makan dan harta. Mereka miliki ciri-ciri hidup khusus yang berpangkal pada kejadian bersejarah: Kemenangan Injil di dalam kekuatan Roh Kudus, meski ada hambatan yang bagaimanapun (seperti hambatan pengajaran dari pengikut agama Yahudi yang tidak percaya, perlawanan dari pihak Yahudi yang menjadi Kristen, dilaporkan pada pihak penguasa Romawi, penjara, karam, proses). Perbedaan antara ~KPR dan beberapa keterangan dalam surat-surat Paulus (yaitu: mendiamkan atau menganggap ringan ketegangan yang ada di dalam jemaat) tidak dijelaskan hanya dari tendensi kitab, tetapi juga dari sumber-sumber yang digunakan oleh penulis. Pada umumnya orang berpendapat, bahwa penulis tidak mengenal surat-surat Paulus. Untuk bagian kedua ia mengambil catatan-catatan perjalanan seorang penulis yang tidak dikenal (: masalah sumber "kami" yang mungkin berasal dari Antiokhia?). Sudah sejak warisan tradisi gereja purba ada pengakuan, bahwa penulis Injil Lukas adalah sekaligus penulis KPR. Anggapan itu dinyatakan terbukti, setelah diadakan kritik naskah dan ditemukan dalil adanya persamaan antara Injil Lukas dan ~KPR mengenai perbendaharaan kata, corak sastra dan theologinya. ~KPR ternyata ditulis setelah Injil Lukas, yang mana dapat dibuktikan lewat dasar-dasar bahasa. Kumpulan surat Paulus jelas akan dipakai olehnya, apabila sudah dikenal waktu itu. Adapun kumpulan surat itu diperkirakan baru terbentuk pada akhir abad pertama, sehingga ~KPR boleh dikatakan timbul pada waktu antara tahun 80 dan 90.

KISAH PARA RASUL [ensiklopedia]

'Kisah Para Rasul' (Yunani praxeis apostolon) adalah judul yg diberikan, sejak tahun-tahun terakhir abad 2, pada bagian kedua sejarah permulaan Kekristenan, yg bagian pertamanya kita kenal sebagai 'Injil menurut Lukas'.

I. Garis besar isi

Kitab ini mulai dimana Injil Lukas ('cerita yg terdahulu' mengenai Kis 1:1) berakhir, dengan penampilan Yesus sesudah kebangkitan-Nya, dan dilanjutkan dengan mencatat kenaikan-Nya, datangnya Roh Kudus, dan bangkitnya dan berkembangnya dengan cepat gereja Yerusalem (1-5). Kemudian kitab itu menguraikan tentang berseraknya orang Yahudi yg berbahasa Yunani anggota gereja itu sesudah hukuman mati yg dilaksanakan atas pemimpin mereka Stefanus, pengabaran Injil mereka ke daerah-daerah sejauh Antiokhia di utara, dan permulaan penginjilan terhadap orang-orang non-Yahudi di kota itu. Dalam hubungan cerita ini, kita juga diberitahukan tentang pertobatan Paulus dan pengabaran Injil yg dilakukan Petrus di lapangan Saron, yg titik puncaknya tercapai dengan pertobatan keluarga non-Yahudi yg pertama di Kaisarea. Bagian Kitab Kis ini berakhir dengan kedatangan Paulus di Antiokhia untuk turut mengambil bagian dalam pengabaran Injil kepada orang-orang kafir di sana, dan dengan keberangkatan Petrus dari Yerusalem setelah lolosnya dari kematian di tangan Herodus Agripa 1 (6-12). Sejak saat itu pelayanan Paulus sebagai rasul merupakan pokok utama Kis.

Bersama Barnabas ia mengabarkan Injil di Siprus dan Galatia Selatan (13-14), turut mengambil bagian dalam Sidang di Yerusalem (15) bersama Silas menyeberang ke Eropa dan mengabarkan Injil di Filipi, Tesalonika dan Korintus (16-18), bersama rekan-rekan lain mengabarkan Injil di daerah Asia dari markas besarnya di Efesus (19), mengadakan kunjungan ke Palestina, dimana ia diselamatkan dari huru hara rakyat dan ditahan selama 2 thn (20-26), dikirim ke Roma agar perkaranya didengar oleh Kaisar atas permintaannya sendiri, dan berada di sana sebagai tahanan rumah selama 2 thn, dan mendapat kebebasan penuh untuk memberitakan Injil kepada siapa saja yg mengunjunginya (2728). Sementara Injil pasti diberitakan sepanjang seluruh perjalanan yg bercabang dari tanah airnya Palestina, Kis memusatkan diri pada perjalanan dari Yerusalem ke Antiokhia dan dari sana ke Roma.

II. Asal dan tujuan

Kata pendahuluan untuk 'cerita yg terdahulu' (Luk 1:1-4) sama-sama berlaku untuk kedua bagian daripada karya itu; seluruh karya dikerjakan agar seorang Teofilus dapat memperoleh laporan yg teratur dan dapat dipercaya mengenai timbulnya dan berkembangnya agama Kristen -- walaupun ia sudah memiliki beberapa informasi mengenai hal itu.

Tanggalnya tidak dinyatakan dengan tepat; Kis memang tidak mungkin ditulis lebih dahulu daripada peristiwa terakhir yg dicatatnya, yakni penahanan Paulus selama 2 thn di Roma (Kis 28:30), yg mungkin meliputi thn 60 dan 61, tapi berapa thn kemudian itu Kis ditulis tidaklah pasti. Seandainya ditetapkan bahwa tanggal itu tergantung pada Antiquities karangan Yosefus, maka tanggalnya tak mungkin lebih dulu daripada thn 93 M, tapi ketergantungan seperti itu adalah sangat mustahil. Kita dapat mencari suatu waktu dimana terjadi sesuatu yg menarik perhatian pada agama Kristen dari karangan anggota masyarakat Roma yg bertanggung jawab, seperti Teofilus. Suatu kemungkinan ialah bagian terakhir masa kekuasaan Domitian (81-96 M) ketika agama Kristen telah memasuki keluarga Kaisar itu. Malah orang menduga bahwa Teofilus mungkin merupakan nama samaran untuk saudara sepupu Domitian, yakni Flavius Clemens. Kemungkinan yg lain terjadi sebelumnya pada akhir thn 60-an, ketika saatnya rupanya tepat untuk membeda-bedakan agama Kristen dari pemberontakan orang Yahudi di Palestina, atau dekat permulaan thn 60-an, ketika penyebar agama Kristen yg terkemuka (Paulus) datang ke Roma sebagai seorang warga negara Roma agar perkaranya didengar di mahkamah Kaisar. Nada optimistis yg mengakhiri Kis, dengan Paulus memberitakan Kerajaan Allah di Roma tanpa rintangan, adalah sesuai dengan suatu tanggal sebelum timbulnya pengejaran pada 64 M. Tanggal dikarangnya Injil Luk perlu dipertimbangkan di sini. Sementara orang menganggap bahwa Luk, yg kita punya sekarang, harus diberi tanggal pengarangan sesudah 70 M, tapi mungkin 'bukuku yg pertama' (Kis 1:1) itu merupakan Proto-Lukas (demikian C. S. C Williams), karena itu ditulis sebelum thn 70 M.

Dengan dikirimnya perkara Paulus ke Roma, para pejabat kerajaan tertentu tentu menaruh perhatian yg lebih serius terhadap Kekristenan dibanding dengan waktu sebelumnya; penulis Kis mungkin menganggap bahwa adalah bijaksana untuk menyediakan bagi orang-orang seperti itu suatu keterangan yg lengkap.

Penulis itu, sejak abad 2, telah dikenal sebagai Lukas, yg adalah tabib Paulus dan teman seperjalanan (Kol 4:14; Flm 24; 2 Tim 4:11). Lukas adalah orang Yunani dari Antiokhia, menurut yg disebut 'Pendahuluan Anti-Marsion' untuk Injilnya pada akhir abad 2 (bahwa ia berasal dari Antiokhia tercantum juga dlm Kis 11:28 menurut naskah 'Barat'). Kehadirannya pada beberapa peristiwa yg dicatatnya, secara diam-diam lelah dinyatakan oleh kalimat yg beralih dari bentuk orang ketiga ke bentuk orang pertama jamak dalam ceritanya; ketiga bagian dalam Kis yg memakai 'bentuk kami' adalah 16:10-17; 18; 20:5-21:18; 27:1-28:16. Lain daripada masa yg diliputi bagian-bagian ini, ia mempunyai banyak kesempatan untuk mengusut kembali rangkaian kejadian dari mula pertama, karena ia dapat memperoleh informasi langsung dari orang-orang yg dijumpainya kadang-kadang, bukan saja di Antiokhia tapi juga di Asia Kecil dan Makedonia, di Yerusalem dan Kaisarea, dan akhirnya di Roma. Di antara para informan ini, penghargaan yg khusus harus diberikan kepada tuan rumahnya di berbagai kota, seperti Filipus dan putri-putrinya di Kaisarea (21:8 dab) dan Manason, seorang anggota pertama gereja di Yerusalem (21:16). Nampaknya ia tidak memakai Surat-surat Paulus sebagai suatu sumber.

III. Corak yang historis

Bahwasanya laporan Lukas secara historis dapat dipercaya, telah dikuatkan secara luas oleh penemuan-penemuan arkeologis (yg bersifat purbakala). Sementara ia mempunyai maksud di bidang apologi dan teologi, hal ini tidak mengurangi ketelitiannya yg sangat cermat, walaupun menerangkan pilihan fakta-fakta yg dikemukakannya. Ia menyusun ceritanya dalam rangka sejarah masa itu; halaman-halaman penuh dengan penunjukan-penunjukan pada pejabat-pejabat pemerintahan kota, gubernur-gubernur propinsi, pegawai raja-raja, dan sebagainya, dan penunjukan-penunjukan ini telah dibuktikan benar mengenai tempat dan waktu yg bersangkutan. Dengan kata singkat padat ia memberitahukan corak setempat dengan tepat mengenai kota-kota yg sangat berbeda yg disebut dalam ceritanya. Dan uraiannya mengenai perjalanan Paulus ke Roma (ps 27), hingga masa kini tetap merupakan salah satu dokumen kita yg terpenting mengenai ilmu pelayaran dahulu kala.

IV. Tekanan Apologetis

Dalam kedua bagian karyanya, Lukas jelas prihatin untuk memperlihatkan bahwa Kekristenan bukanlah ancaman terhadap hukum dan ketertiban yg berlaku dalam kerajaan Romawi. Ia melakukan hal ini khususnya dengan mengutip keputusan-keputusan para gubernur, pejabat-pejabat pemerintahan dan penguasa lainnya di berbagai tempat dalam kerajaan itu. Dalam Injil, Pilatus telah 3 kali mengumumkan bahwa Yesus tidak bersalah atas tuduhan penghasutan (Luk 23:4, 14, 22) dan ketika tuduhan-tuduhan yg sama dilakukan terhadap pengikut-pengikut-Nya dalam Kis tuduhan itu tak dapat dipertahankan.

Para pembesar di Filipi memasukkan Paulus dan Silas ke dalam penjara karena dituduh mencampuri hak-hak milik pribadi, tapi harus melepaskan mereka dengan meminta maaf, karena tindakan mereka yg tidak sah (16:19 dab, 35 dab). Para pembesar kota Tesalonika, di depan mana Paulus dan kawan-kawan dituduh melakukan penghasutan terhadap Kaisar, merasa puas mendapatkan para warga kota itu yg mau menjamin bahwa para penginjil itu berkelakuan baik (17:6-9). Galio, kepala daerah Akhaya telah mengambil keputusan yg lebih berarti. Ia menghapuskan gugatan yg dilakukan para pemimpin Yahudi di Korintus terhadap Paulus dengan alasan penyebaran agama yg tidak sah. Secara praktis pengutusannya mengandung makna bahwa agama Kristen turut mendapat lindungan yg dijamin oleh hukum Romawi terhadap ajaran Yahudi (18:12 dab).

Di Efesus, Paulus senang bersahabat dengan pembesar-pembesar dari Asia dan oleh panitera kota ia dibebaskan dari tuduhan menghina pemujaan orang Efesus terhadap dewi Artemis (19:31, 35). Di Yudea, gubernur Festus dan Raja Agripa II setuju bahwa Paulus tidak melakukan sesuatu yg setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara, dan bahwa ia sebenarnya sudah dapat dibebaskan seketika itu juga sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar (Kis 26:32).

Namun, orang mungkin bertanya-tanya, mengapa perkembangan agama Kristen begitu sering didampingi oleh huru-hara umum jika orang Kristen begitu patuh pada hukum seperti yg dikatakan oleh Lukas. Jawabannya ialah bahwa, lain daripada kejadian di Filipi dan demonstrasi yg dihasut oleh para tukang perak di Efesus, keributan yg membarengi pemberitahuan tentang Injil selalu dihasut oleh lawan-lawannya yakni orang Yahudi. Sama seperti Injil menggambarkan Kepala Imam orang Saduki di Yerusalem sebagai yg memaksakan Pilatus untuk menjatuhkan hukuman mati pada Yesus bertentangan dengan pendapatnya sendiri, demikianlah dalam Kis orang Yahudi adalah musuh Paulus yg paling ganas di tempat yg satu hingga tempat yg lain. Sementara Kis mencatat perkembangan Injil yg terus menerus di pusat-pusat peradaban orang non-Yahudi, sekaligus ia mencatat penolakan yg progresif terhadap perkembangan tersebut oleh masyarakat Yahudi di seluruh kerajaan Romawi itu.

V. Minat teologis

Dari segi teologis, tema yg berpengaruh dari Kis adalah kegiatan Roh Kudus. Janji yg dibuat oleh Yesus yg telah bangkit mengenai Roh Kudus yg akan turun seperti tercantum dalam 1:4 dab telah dipenuhi untuk murid-murid orang Yahudi dalam ps 2 dan untuk orang percaya non-Yahudi di dalam ps 10. Dengan kuasa Roh, yg dinyatakan dengan tanda-tanda adikodrati, para murid melepaskan tugasnya; penerimaan Injil oleh penganut-penganutnya yg telah bertobat itu pun dihadiri oleh tanda-tanda kuasa Roh. Kitab ini memang dapat disebut 'Kisah Roh Kudus', karena Roh-lah yg menguasai perkembangan Injil seluruhnya; Ia memimpin gerak para pengkhotbah, mis dari Filipus (8:29, 39), Petrus (10:19 dab), Paulus dan kawan-kawannya (16:6 dab); Ia memberi petunjuk pada jemaah di Antiokhia untuk mengkhususkan Barnabas dan Saulus untuk tugas yg lebih luas yg telah ditentukan-Nya bagi mereka (13:2); Ia mendapat tempat pertama dalam surat yg memberitahukan tentang keputusan sidang di Yerusalem kepada gereja-gereja non-Yahudi (15:28); Ia bicara melalui nabi-nabi (11:28; 20:23; 21:4,11) seperti yg dilakukan-Nya pada zaman PL; Dia-lah pertama-tama yg melantik para penatua sebuah jemaat untuk memimpin bagian kerohaniannya (20:28); Ia adalah saksi utama bagi kebenaran Injil (5:32).

Pernyataan-pernyataan yg adikodrati yg menyertai penyebaran Injil bukan saja menandakan kegiatan Roh tapi menandakan juga pembukaan zaman baru dimana Yesus memerintah sebagai Tuhan dan Kristus. Unsur-unsur ajaib, seperti akan kita duga, adalah lebih utama dalam bagian permulaan daripada dalam bagian akhir kitab itu: 'ada pengurangan yg terus dalam tekanan yg diberikan pada aspek yg bersifat ajaib dalam Roh menjalankan pekerjaan, yg adalah sesuai dengan perkembangan jalan pemikiran Surat-surat Paulus' (W. L Knox, The Acts of the Apostles, 1948, hlm 91).

VI. Kis dalam gereja purba

Tidak seperti kebanyakan Kitab-kitab PB, maka kedua bagian dari sejarah Lukas tidak terutama dihubungkan dengan gereja-gereja Kristen, apakah sebagian yg dialamatkan kepada mereka atau sebagai beredar dalam kalangan mereka. Martin Dibelius mungkin benar dengan mengira bahwa karya itu beredar melalui perdagangan kitab pada masa itu untuk kepentingan bacaan umum non-Yahudi untuk siapa kitab-kitab tersebut dimaksud. Jadi mungkin ada selang beberapa waktu antara penerbitan pertama karya yg lipat dua itu dengan peredarannya khusus dalam gereja-gereja sebagai suatu dokumen Kristen yg berwibawa.

Pada permulaan abad 2, ketika keempat penulisan Injil dikumpulkan dan diedarkan sebagai suatu rangkaian yg empat ganda, maka kedua bagian dari sejarah Lukas dipisah satu dari yg lain, untuk melanjutkan jalannya masing-masing. Sementara hari depan Luk terjamin karena penggabungannya dalam ketiga Injil yg lain, Kis makin terbukti merupakan dokumen yg begitu penting, hingga dengan tepat dapat disebut, menurut kata-kata Harnack, pusat kitab PB.

Peredaran Kitab Kis yg lebih meluas di gereja-gereja menjelang akhir abad pertama, mungkin mendorong gerakan untuk mengumpulkan Surat-surat Paulus untuk dijadikan suatu kumpulan. Jika Paulus cenderung dilupakan oleh generasi sesudah kematiannya, maka Kis pasti akan membuat ia kembali dalam ingatan Kristen dan juga akan menitikberatkan betapa ia merupakan orang yg penting, luar biasa dan menarik perhatian. Tapi, sementara menitikberatkan pentingnya peranan Paulus, Kis juga menyaksikan tentang rasul-rasul lain, khususnya Petrus.

Karena hal yg terakhir ini Marsion (lk 140 M) tidak memasukkan Kis ke dalam Daftar Kitab-kitab (Kanon) walaupun ia memasukkan edisi Lukas-nya sebagai suatu kata pendahuluan ke dalam kumpulan Surat Paulus. Kis sementara menyaksikan tentang kerasulan Paulus, pada waktu yg sama melawan pandangan Marsion yg mengatakan bahwa para rasul Yesus yg asli tidak setia pada ajaran Guru-nya.

Marsion dan pengikut-pengikutnya mungkin merupakan sasaran utama dari tuduhan Tertullianus bahwa tidak konsekuen mereka, yg dengan gagah mengklaim kekuasaan rasuli yg khas dari Paulus untuk pandangan mereka seraya menolak satu-satunya kitab itu yg memberi kesaksian yg independen tentang kerasulannya (lih Prescription, 22 dst).

Bagi pemimpin Kristen yg ortodoks pada waktu itu, nilai daripada Kis nampaknya lebih besar daripada dulu. Karena ia bukan saja memberikan bukti yg tak dapat disangkal mengenai kedudukan Paulus dan apa yg telah dicapainya selaku rasul, tapi ia juga menjamin kedudukan para rasul lain dan membenarkan dimasukkannya tulisan-tulisan rasuli yg bukan ditulis Paulus disamping kumpulan tulisan Paulus ke dalam Kitab Suci. Mulai saat inilah kitab itu dikenal sebagai 'Kisah Para Rasul', atau bahkan, seperti Daftar Muratori menyebutnya dengan sikap anti-Marsion yg berlebih-lebihan, 'Kisah Semua Rasul-rasul'.

VII. Nilainya yg tahan lama

Klaim Kis untuk menduduki tempat yg tradisional antara Injil-injil dan Surat-surat sudah jelas. Pada satu pihak, itu merupakan lanjutan umum ke Injil yg empat ganda (selain lanjutan yg sebenarnya ke salah satu dari empat itu); pada pihak lain, ia memberikan latar belakang yg historis bagi Surat-surat yg terdahulu, dan membenarkan status rasuli dari kebanyakan penulisnya.

Lagipula, kitab itu merupakan dokumen yg tak terhitung nilainya bagi sejarah permulaan agama Kristen. Bila kita pikirkan betapa sangat sedikit pengetahuan kita mengenai perkembangan Injil yg menuju ke arah lain dalam dasawarsa-dasawarsa menjelang thn 30 M, maka kita sungguh menghargai Kis untuk laporan yg relatif terperinci yg diberikannya mengenai perkembangan Injil sepanjang jalan dari Yerusalem ke Roma. Permulaan dan perkembangan agama Kristen merupakan studi yg penuh dengan persoalan, tapi beberapa dari persoalan ini malah lebih ruwet lagi, jika kita tidak mempunyai informasi dari Kis. Misalnya, bagaimana dapat terjadi, suatu gerakan yg mulai di tengah-tengah ajaran Yahudi, beberapa dasawarsa kemudian diakui sebagai agama lain yg non-Yahudi? Dan bagaimana dapat terjadi suatu agama yg berasal dari Asia, untuk berabad-abad lamanya dalam suka dan duka, telah lebih banyak dihubungkan dengan peradaban Eropa? Jawabannya sebagian besar, walaupun tidak seluruhnya, sangat erat hubungannya dengan karir penginjilan Paulus, rasul bagi orang-orang non-Yahudi dan warga negara Romawi. Lukaslah dalam Kis yg mencatatkan karir itu. Sebenarnya, ceritanya adalah sebuah sumber buku yg tertinggi nilainya bagi suatu tahap yg penting dalam sejarah dunia, peradaban.

KEPUSTAKAAN. Foakes-Jackson dan Kirsopp Lake, BC, 5 jilid, 1920-1933; F. F Bruce, The Acts of the Apostles, 1951, dan The Book of the Acts, 1954; E. M Blaiklock, The Acts of the Apostles, 1959; C. S. C Williams, The Acts of the Apostles, 1957; H. J Cadbury, The Book of Acts in History, 1955; M Dibehius, Studies in the Acts of the Apostles, 1956; J. C O'Neill, The Theology of Acts, 1961; J Dupont, The Sources of Acts, 1964; A Ehrhart, The Acts of the Apostles, 1969; E Haenchen, The Acts of the Apostles, 1971; W. W Gasque, A History of the Criticism of the Acts of the Apostles, 1975. FFB/WBS




TIP #16: Tampilan Pasal untuk mengeksplorasi pasal; Tampilan Ayat untuk menganalisa ayat; Multi Ayat/Kutipan untuk menampilkan daftar ayat. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA