Daftar Isi
HAAG: Kidung Agung
ENSIKLOPEDIA: KIDUNG AGUNG

Kidung Agung

Kidung Agung [haag]

Kidung Agung. ("nyanyian dari nyanyian").

  1. (I) JENIS SASTRA.
    1. (1) Dari pendapat yang paling beralasan dinyatakan, bahwa KA adalah sebuah kumpulan nyanyian perkawinan dan cinta. Seorang redaktor terakhir telah mengumpulkannya dalam sebuah kesatuan. Lewat pengangkatan tema yang sama dan yang sering dilakukan (: para kekasih yang saling rindu hati) serta di dalamnya diciptakan sebuah tegangan dramatis.
    2. (2) Para eksegit lain melihat di dalam KA sebuah drama yang disusun dengan kesengajaan. Di situ dinyanyikan pengalaman seorang gadis penggembala. Sebuah garis menanjak maupun sebuah penyelesaian pada bagian akhirnya tidak dapat dibuktikan (Bdk. misalnya: Kid 1:2-4,9-17).
    3. (3) Kelompok lain lagi beranggapan, bahwa KA adalah suatu kumpulan nyanyian, yang menyanyikan perkawinan para dewa tumbuhan di daerah timur (: ieros gamos) dan di kemudian harinya diambil-alih bagi pesta Isr. purba yang dirayakan pada musim semi dalam --> pesta Mazot. Tetapi langka sekali, bila nyanyian-nyanyian religius kafir itu bisa masuk ke dalam kanon Yahudi.
    4. (4) Banyak para eksegit melihat KA sebagai sebuah alegori yang telah dimaksudkan dari awal mula: pria dan wanita sebagai lukisan hubungan Yahwe dengan Isr. Berlawanan dengan itu antara lain dapat diungkapkan, bahwa
      1. (a) penulis KA tidak pernah mengungkapkan tujuannya (berlawanan dengan tempat-tempat PL lainnya seperti: Yes 54:4; 62:4; Hos 1:2); dan bahwa
      2. (b) kebanyakan naskah Kitab Suci yang paralel dengan KA menyanyikan soal cinta perkawinan, dan bahwa
      3. (c) lukisan hidup seksuil tidak dihubungkan dengan Yahwe.
  2. (II) ARTI. Kebanyakan para eksegit katolik mengakui arti harafiah ~KA (sebagai pujian dan rasa kagum atas kasih-manusiawi) dan mereka melihat suatu arti lain lagi yang lebih mendalam: Kasih Yahwe kepada bangsaNya dan,- di dalam sinar pemenuhannya pada PB-, menjadi kasih Kristus kepada GerejaNya. Pada pokoknya, pengaruh religius pada ~KA maupun penerimaannya di dalam daftar Kanon, berdasar pada interprestasi tipologis.
  3. (III). ASAL TIMBULNYA. Meskipun segala perinciannya gelap, tetapi Kitab itu nampaknya bisa diperkirakan timbul pada awal zaman helenis. Karena di situ nampak ada Aramaisme (Misalnya: Kid 1:12; 2:7), ada pengaruh Persia (Kid 4:13) dan ada kekhasan bahasa Yunani (Kid 3:9). Tetapi dimungkinkan juga adanya nyanyian-nyanyian yang boleh jadi sudah tua sekali. Orang sudah dapat menghilangkan kemungkinan adanya ~KA ditulis oleh Salomo (Kid 1:1).

KIDUNG AGUNG [ensiklopedia]

'Song of Songs' (syir hasysirim, Kid 1:1) ialah superlatif, yg mengartikan 'nyanyian yg paling baik'. LXX Asma Asmaton dan Vulg Canticum Canticorum (dari sinilah judul pilihan lain 'Canticles') ialah terjemahan harfiah dari bh Ibrani. Sebagai yg pertama dari kelima Gulungan (Kitab) Pesta (yaitu Kid waktu Paskah, Rut waktu Pentakosta, Pkh waktu Hari Raya Pondok, Rat waktu peringatan pemusnahan Yerusalem thn 586 dan Est waktu Hari Raya Purim), Kid dibaca pada hari Raya Paskah. Karena pembagiannya tergantung dari teori penafsirannya yg tertentu yg diterima seseorang (lih di bawah), maka di sini tidak dicantumkan ringkasan isi.

I. Kanonitasnya

Misyna (Yadaim Kid 3:5) agaknya mengisyaratkan bahwa Kid diterima bukan tanpa perbantahan. Sesudah keputusan yg meneguhkan dari rabi Yudah dan pendapat negatif dari rabi Yose, maka rabi Akiba meneguhkan kanonitas Kid dalam bobot superlatif: 'seluruh dunia ini tidak layak bagi hari saatnya Kitab Kid diberikan kepada orang Israel; semua tulisan alkitabiah adalah suci, dan Kidung Agung adalah yg tersuci dari yg suci'. Bahwa dia keras menolak bantahan terhadap Kid bisa merupakan bukti bahwa bantahan itu ada.

Penolakan atas Kid masuk kitab kanon pasti bersumber pada sifat erotiknya. Keberatan ini diimbangi oleh pendapat tradisional, bahwa penulisnya ialah Salomo, dan oleh tafsiran alegori yg diberikan para rabi dan gereja Kristen, yg mengangkat syair-syair itu mengatasi nafsu syahwat, dengan memberinya arti rohani.

II. Penulis dan tarikh

Tradisi yg mengatakan bahwa Kid adalah karya Salomo, didasarkan pada ay-ay yg menunjuk kepadanya (Kid 1:5; 3:7, 9; 8:11), terutama ay yg sekaligus adalah judulnya (Kid 1:1). Ungkapan lisylomoh barangkali mengacu kepada penulisnya, tapi bisa juga berarti 'bagi Salomo'. Kemampuan Salomo menulis nyanyian disaksikan dalam 1 Raj 4:32 (bnd Mzm 72; 127). Pendapat yg dikemukakan dalam Baba Bathra 15a, bahwa Hizkia dan penulis-penulisnyalah yg menulis Kid mungkin berdasarkan Ams 25:1.

Hadirnya beberapa kata pinjaman seperti dari bh Persia (pardes, 'kebun pohon-pohon', 4:13), dari bh Yunani ('appiruon dari foreion, 'tandu', 3:9), pemakaian sy yg konsekuen (terkecuali 1:1) sebagai kata ganti, serta banyak kata dan ungkapan yg berciri bh Aram (lih S. R Driver, Literature of the Old Testament, hlm 448), semuanya itu bagi beberapa ahli mengartikan bahwa penyusunan final kitab ini -- jika tidak penulisannya -- terjadi sesudah zaman Salomo. Tapi tidak perlu tarikh penyusunannya ditetapkan pada zaman Yunani (kr 300 sM), mengingat bukti-bukti hubungan Kanaan dengan Ionia sejak zaman Salomo dan seterusnya. S. R Driver mencatat (hlm 449) bahwa bukti linguistik, bersama banyak data geografis (ump Saron, 2:1; Libanon, 3:9; 4:8, 11, 15 dst; Amana, Senir, Hermon, 4:8; Tirza, 6:4; Damsyik, 7:4; Karmel, 7:5), menunjuk asalnya dari sebelah utara. Tapi penulis tahu juga geografi Palestina dan Siria mulai dari En-Gedi, di Laut Mati (1:14), sampai gunung-gunung Libanon.

III. Ciri-ciri sastranya

Banyaknya percakapan pribadi dalam Kid mempunyai dua bentuk utama yaitu: dialog (mis 1:9 dab) dan senandika -- solilokui -- percakapan sendiri dengan diri sendiri (mis Kid 2:8; 3:5). Sukar menentukan siapa teman bicara si pembicara kecuali dalam percakapan dua kekasih. Putri-putri Yerusalem disebut (1:5; 2:7; 3:5 dab), dan jawab-jawab ringkas disajikan dalam 1:8; 5:9; 6:1 dab, mungkin dari putri-putri itu. Pernyataan-pernyataan disebut diucapkan oleh penduduk Yerusalem (3:6-11) dan gadis Sulam (8:5). Dalam lirik syair yg khas kiasan, besar kemungkinannya tokoh-tokoh utama mengulangi jawab orang lain (ump putri Sulam agaknya mengutip kakak adiknya laki-laki dlm 8:8-9).

Kekuatan syair ini terletak pada kehangatan cinta kasih dan penyerahan diri, dan terutama dalam kekayaan lukisan yg menggambarkan tokoh yg saling cinta dan cinta kasih mereka. Jika sajian Kid terlalu mesra dan rinci menurut norma Indonesia, baiklah diingat bahwa sajian itu adalah hasil karya dari zaman yg begitu jauh. Jika beberapa tamsilnya hanya sedikit bersifat sanjungan (ump gigi bagaikan kawanan domba, lehermu seperti menara Daud, 4:2 dab), komentar A. B Bentzen di sini agak tepat, 'Mata orang Timur Dekat tertuju hanya kepada satu titik saja, yg menurut pikiran kita barangkali bukanlah ciri yg sesungguhnya' (Introduction to the Old Testament 1, hlm 130). Pendapat L Waterman, bahwa kata-kata sanjungan itu bersifat sindiran buruk (JBL, 44, 1925, hlm 179 dab) tidak didukung oleh para ahli. Bahasa penggembalaan yg dipakai tetap mendapat perhatian. Syair Kid penuh singgungan tentang binatang dan terutama tumbuh-tumbuhan. Kenyataan ini tidak dilewatkan oleh para penyelidik yg mencari sumber Kid dalam tata cara keperidian (lih di bawah).

IV. Teori-teori penafsiran

Ada banyak tafsiran Kid. Tapi sangat sedikit kesepakatan di antara para ahli mengenai asalnya, artinya dan tujuannya. Gelora cinta yg demikian hidup dan rinci, alpanya secara mencolok tema-tema agamawi, dan samarnya alur ceritanya, semuanya itu menantang para ahli dan cobaan atas keandalan daya khayal mereka. Sesuatu yg sangat diperlukan dalam meneliti keberbagaian tafsiran yg ada, ialah karangan H. H Rowley, 'The Interpretation of the Song of Songs' dalam The Servant of the Lord, and other Essays on the Old Testament, 1952.

Masalah diterimanya sejumlah syair cinta kasih ke dalam Kanon diselesaikan oleh para rabi dan Bapak-bapak Gereja dengan memakai metode penafsiran alegori. Bukti-bukti pemakaian metode ini berbekas dalam Misyna dan Talmud, sementara Targum tentang Kid melihat dalam cerita percintaan itu gambaran yg jelas tentang perlakuan Allah yg penuh kasih karunia terhadap Israel sepanjang perjalanan sejarah Israel. Sekali mempedomani metode alegori, para rabi bersaing dalam usaha mereka untuk menguraikan metode itu lebih panjang lebar lagi dan menjuruskannya ke arah yg baru. Singgungan tentang sejarah Israel diperas dari bagian-bagian Kid yg paling tidak mungkin. Bapak-bapak Gereja dan banyak penafsir Kristen pada masa kemudian menghubungkan Kid dengan Kristus, karena menjumpai di dalamnya alegori tentang kasih Kristus terhadap gereja atau orang percaya. Dan ahli Katolik (ump Ambrosius) menjumpai dalam keelokan dan kesucian dara Sulam rujukan kepada anak dara Maria. Para penafsir Kristen juga tidak kalah dalam hal perincian tafsiran bila dibandingkan dengan para rabi yg kaya pemikiran. Pendekatan alegori ini sangat mendominasi pemikiran Protestan hingga masa-masa terakhir ini, dan di antara pendukungnya terdapat ahli seperti Hengstenberg dan Keil -- jujur dan sehatnya nalar kedua tokoh ini patut dipercaya.

Metode yg dekat sekali dengan metode alegori ialah tipologi atau perlambangan. Metode ini mempertahankan makna harfiah syair Kid, tapi mengakui juga adanya makna yg lebih tinggi dan lebih rohani yg dilambangkannya. Sambil menyingkirkan hal-hal yg berlebih-lebihan dalam penafsiran rinci alegori, metode tipologi menekankan tema-tema utama yakni cinta kasih dan penyerahan diri, dan menjumpai dalam cerita ini lukisan hubungan kasih Kristus dengan orang yg percaya kepada-Nya. Pendekatan ini dibenarkan oleh contoh-contoh yg terdapat dalam syair cinta kasih Arab, yg mungkin mengandung arti rahasia, seperti cerita Yunus yg dikutip oleh Yesus (Mat 12:40) atau ular di padang gurun (Yoh 3:14), dan oleh contoh-contoh Alkitab tentang perkawinan yg mempunyai arti rohani, ump Hos 1-3; Yer 2:2; 3:1 dab; Yeh 16:6 dab; 23; Ef 5:22 dab. Tidak sedikit ahli konservatif modern menganut pandangan perlambangan ini, ump J. H Raven (Old Testament Introduction, 1910); M. F Unger (Introduction Guide to the Old Testament 2, 1956); W. J Cameron (TAMK).

Kendati Yahudi dan orang Kristen menemukan keuntungan rohani dalam menafsirkan Kid secara alegori atau tipologi, asas penafsiran ini masih dipertanyakan. Karena sekalipun banyak rincian dan alpanya rujukan kepada makna rohani yg lebih dalam pada kitab ini, toh Yahudi dan Kristen menentang mencari alegori atau tipologi dalam Kid.

Menafsirkan Kid berdasarkan kaidah drama, yg disarankan baik oleh Origenes maupun Milton, dikembangkan pada abad 19 dalam dua bentuk khas. F Delitzsch menjumpai 2 tokoh utama, Salomo dan dara Sulam. Sesudah membawa dara Sulam dari kampungnya ke Yerusalem, Salomo berusaha mencintainya sebagai istrinya, dengan cinta kasih yg jauh mengungguli daya tarik badani. H Ewald menyajikan tafsiran berdasarkan 3 tokoh utama yaitu: raja Salomo, dara Sulam dan gembala sang kekasih, yg kepadanya Sulam tetap setia walaupun raja Salomo berjuang keras untuk memikat hatinya.

Pendekatan Ewald (yg disebut hipotesa gembala), diterima oleh S. R Driver dan disaring oleh para ahli lain. Hipotesa ini menyingkirkan beberapa dari kesukaran yg dihadapi pandangan Delitzsch, dengan menerangkan mengapa kekasih itu dilukiskan sebagai gembala (1:7-8) dan mengapa syair ini berakhir di lokasi penggembalaan wilayah utara. Namun teori ini menghadapi kesukarannya sendiri, ump alpanya sendi-sendi drama, kerumitan yg sangat mengganggu dalam dialog tatkala Salomo menerangkan keelokan dara Sulam, padahal Sulam memberi jawab mewakili gembala kekasihnya. Tafsiran berdasarkan kaidah drama menghadapi kesukaran yg lain, yaitu jarangnya bukti tentang adanya sastra drama di tengah-tengah bangsa Sem, khususnya orang Ibrani.

Penelitian J. G Wetzstein mengenai adat-adat perkawinan Siria mendorong K Budde menafsirkan Kid sebagai kumpulan nyanyian pernikahan yg sama dengan nyanyian yg dinyanyikan dalam pesta perkawinan, yg bisa seminggu lamanya, pada saat mana kedua mempelai dimahkotai sebagai raja dan ratu. Kecaman terhadap pandangan ini menyingkap bahaya menggunakan adat Siria modern untuk melukiskan kebiasaan Palestina kuno. Begitu juga, dara Sulam tak pernah sekalipun disebut 'ratu' dalam Kid.

Pandangan T. J Meek yg mengatakan bahwa Kid berasal dari tata ibadah Tamus (bnd Yeh 8:14) mendapat perhatian yg luas. Tapi tak mungkin tata ibadah agama kafir, apalagi yg menonjolkan yg asusila, akan digabung menjadi satu dalam Kanon Alkitab tanpa peninjauan menyeluruh dengan saksama dalam rangka kepercayaan Israel, dan dalam Kid tak ada tanda-tanda apapun mengenai susunan seperti itu. Mula-mula teori Meek itu didukung oleh Leroy Waterman (JBL, 44, 1925), tapi belakangan ini ia beralih dan membela kaidah berasaskan sejarah bagi Kid. Hal ini didapatinya dalam cerita Abisag, dara jelita Sunem, pelayan Daud (1 Raj 1:3), yg digambarkan menolak bujukan pertama Salomo. Dara ini juga cenderung setia mengasihi gembala, kekasihnya. Tafsiran ini bergantung pada dugaan adanya hubungan dara Sunem dengan dara Sulam.

Bertambah jumlah ahli yg memandang Kid sebagai kumpulan syair cinta kasih yg tidak harus dihubungkan dengan pesta-pesta perkawinan atau sesuatu peristiwa khas lain. Usaha mengaitkan beberapa bagian Kid dengan beberapa penulis (mis W. O. E Oesterley membagi Kid menjadi 28 syair yg berbeda-beda dan tegas menolak keutuhan kitab itu; Song of Songs, 1936, hlm 6b) ditolak oleh banyak ahli, terutama oleh H. H Rowley: 'Pengulangan yg terdapat dalam kitab ini meninggalkan kesan bahwa penulisnya satu orang...' (lih hlm 212).

V. Tujuan

Jika Kid bukan alegori atau tipologi yg menyampaikan suatu pesan rohani, kenapa kitab itu hadir dalam Kanon?

Kid merupakan pelajaran yg menggunakan bahan baku dari realita hidup sehari-hari -- atau masal yg diperluas (*AMSAL), yg melukiskan betapa luar biasa kekayaan cinta manusia. Ajaran Alkitab tentang cinta kasih fisik lama tersembunyi sebagai tabu, akibat pertapaan pemikiran yg semi Kristen; di sini keindahan dan kesucian cinta kasih suami istri dihargai sepenuh-penuhnya. Kendati Kid diungkapkan dengan kata-kata yg sangat gamblang, toh memberikan keseimbangan yg sehat antara kedua segi seksual yg ekstrim, atau hal-hal yg keterlaluan dalam hidup kelamin dan peniadaan adanya unsur asasi yg baik dalam cinta kasih fisik (asketikisme). Tujuan Kid dimajukan selangkah lagi oleh E. J Young, 'Kidung Agung membicarakan kesucian hidup percintaan manusia, dan dengan dimasukkannya kitab itu dalam Kanon, mengingatkan kita kepada cinta kasih ilahi, yg lebih murni dari cinta kasih kita' (Introduction to the Old Testament, 1949, hlm 327).

KEPUSTAKAAN. W Baumgartner, OTMS, hlm 230-235; J. C Rylaarsdam, Proverbs to Song of Solomon, 1964; W. J Fuerst, Ruth, Esther, Ecclesiastes, The Song of Songs, Lamentations, 1975; S. C Glickman, A Song for Lovers, 1976; H. J Schonfield, The Song of Songs, 1960; J. C Exum, A Literary and Structural Analysis of the Song of Songs, ZAW 85, 1973, hlm 47-49; R Gordis, The Song of Songs, 1954; L Waterman, The Song of Songs, 1948. DAH/MHS




TIP #33: Situs ini membutuhkan masukan, ide, dan partisipasi Anda! Klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA