Daftar Isi
HAAG: Kerajinan Tangan
ENSIKLOPEDIA: KERAJINAN TANGAN

Kerajinan Tangan

Kerajinan Tangan [haag]

Kerajinan Tangan.

Kemajuan ekonomi dan kebudayaan membawa Isr. yang semula masih belum berdiri sendiri (1Sam 13:19; 2Sam 5:11; 1Raj 7:13) memperkembangkan suatu ~KT yang berdiri sendiri. Orang bekerja di perusahaan keluarga atau pada bengkel kerajaan (1Taw 4:23). Ketentuan-ketentuan ekonomis-geografis seperti: tempat tinggal di dekat bahan mentah atau alat-alat produksi (: air, bahan bakar dan lain-lain) menimbulkan pemersatu tempat tinggal para karyawan yang melakukan ~KT yang sama. Mereka tinggal di dalam desa yang se-KT atau di dalam bagian kota yang sama (1Taw 4:21; Neh 11:35; Yer 37:21). Perserikatan karyawan sejenis timbul setelah zaman pembuangan (1Taw 4:14; Neh 3:8), tetapi sudah mempunyai suatu asal-usul yang kuno. Yesus (Mark 6:3) dan Paulus (1Kor 4:12) menghormati ~KT dengan bekerja sendiri.

KERAJINAN TANGAN [ensiklopedia]

Sepanjang sejarahnya, bangsa-bangsa yg menduduki Palestina menata dan menerapkan kerajinan tangan yg sama seperti semua tetangganya. Mereka membuat sendiri kebanyakan barang-barang kebutuhan mereka, dengan menggunakan bahan baku tanah liat, kayu dan batu. Mengolah bahan-bahan baku demikian adalah tugas setiap pak tani yg sehat, didukung oleh kaum wanita yg bertugas memintal, menenun kain dan memasak di rumah. Orang Yahudi belajar cepat dari negeri-negeri yg teknologinya lebih maju, dan mempraktikkannya untuk memproduksi barang-barang kerajinan khusus, sesuai kebutuhan mereka sendiri. Karena itu mungkin seniman piawai Yahudi tidak pernah alpa, kendati hanya sedikit contoh karya mereka yg masih bertahan.

Ada bukti bahwa kendati daya cipta atau keterampilan seniman orang Yahudi tidaklah luar biasa, mereka menghargai karya-karya keterampilan. Keterampilan seperti dimiliki seorang Yehuda, Bezaleel, dianggap adalah karunia ilahi (Kel 31:3; 35:31; 28:3). Keahlian membuat barang dengan bahan baku dari besi dipelajari dari orang Filistin (1 Sam 13:20) dan rahasia pencelupan dari orang-orang Fenisia. Fenisia juga menyediakan tenaga-tenaga perancang, kepala-kepala tukang, dan seniman-seniman terampil melengkapkan tenaga kerja setempat, untuk membangun proyek-proyek raksasa seperti istana raja Daud dan Bait Suci di Yerusalem oleh Salomo. Pada abad pertama sM, dengan cara yg sama, keahlian membuat dan mengolah gelas ditimba dari Tirus.

I. Pertukangan dan serikat sekerja

Tukang-tukang ahli tinggal di kota-kota besar karena unsur perdagangan dan pengadaan bahan baku. Biasanya mereka berkumpul di tempat-tempat khusus, seperti zaman modern sekarang (suq). Hal ini mendorong terbentuknya serikat sekerja yg disebut 'keluarga', dan kadang-kadang berkedudukan di satu kota yg merupakan pusat kegiatan mereka, seperti persatuan para ahli surat yg berpusat di Yabes (1 Taw 2:55), atau seperti persatuan pengusaha kain lenan halus di Bet-Asybea (1 Taw 4:21). Di Yerusalem, daerah-daerah tertentu dikhususkan bagi tukang kayu dan batu (1 Taw 4:14; Neh 11:35); bagi tukang periuk (Mat 27:7) dan bagi tukang penatu (2 Raj 18:17) disediakan lahan tersendiri di luar dinding kota. Seorang anggota serikat sekerja disebut 'anak' dari persatuannya (mis para tukang emas dlm Neh 3:8, 31). Pada zaman PB serikat-serikat sekerja merupakan kekuatan politik yg bekerja atas izin kerajaan. Demetrius memimpin serikat sekerja pengrajin perak di Efesus (Kis 19:24). Dan Aleksander yg disebut 'tukang tembaga' (Yunani khalkeus, 2 Tim 4:14) merujuk kepada keanggotaannya dari serikat sekerja demikian.

Istilah umum Ibrani kharasy, 'perencana', dipakai bagi tukang pada umumnya (Kel 38:23; 2 Sam 5:11) dan bagi pengrajin logam yg terampil, baik pengrajin tembaga (2 Taw 24:12; Yes 40:19) atau besi (Yes 44:12; 2 Taw 24:12). Istilah ini mencakup juga mereka yg menyiapkan dan menghaluskan logam dasar (Yer 10:9), tukang kayu (Yes 44:13; 2 Raj 12:12), tukang batu (2 Sam 5:11), pengasah permata (Kel 28:10) dan mereka yg khususnya menekuni pembuatan patung-patung berhala (Yes 44:9-20).

II. Perkakas utama

Perkakas buatan prasejarah ditemukan di Palestina seperti pisau, alat pengikis dan cangkul, semuanya terbuat dari batu geretan. Perkakas itu digunakan dalam waktu lama sebagai alat-alat kasar, kaitan bersudut, yakni batu geretan dibuat setengah melingkar dan diplester, dan sebagai geretan untuk membuat api. Perkakas dari kayu, palu batu dan alu batu bertarikh zaman purba juga ditemukan. Setelah penemuan tembaga (lk 4000 sM), perunggu dan besi meteor (lk 3300 sM), pembuatan perkakas segera dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pertukangan (Kej 4:22). Dengan berkembangnya pembuatan perkakas dari besi (kr 1100 sM) maka alat-alat berlimpah-limpah (1 Raj 6:7). Mata kapak yg dipasang pada gagang kayu digunakan untuk menebang pohon (Ul 19:5), dan pisau untuk beberapa keperluan (Kej 22:6), termasuk makan (Ams 30:14). Kata Ibrani keli (jambangan) menjadi nama umum untuk beberapa macam perkakas; dan kata kherev nama bagi benda-benda tajam termasuk pedang dan pisau. Mata kapak dari besi (2 Raj 6:5), gergaji (1 Raj 7:9), beliung, cangkul, pengikis, pahat, jarum putar, bor, dan paku (Yer 10:3) terus digunakan dan meninggalkan bekasnya pada benda-benda galian.

III. Bukti arkeologis

a. Tukang tembikar

Barang tembikar pertama kali muncul (di Yerikho) pada thn 5000 sM, hingga kr 3000 sM sebagai hasil kerajinan tangan; kemudian, seperti di Mesir dan Sumer, roda digunakan untuk membuat tembikar. Pengrajin tembikar yg cara kerjanya dilukiskan dalam Yer 18:3, 4, duduk di atas batu dan kakinya menggerak-gerakkan roda batu atau kayu yg ditaruh dalam lobang, untuk memutar batu pasangannya yg terletak di atasnya ke mana tanah liat dilemparkan. Satu tempat kerja tukang periuk dengan dua perkakas batu ditemukan di Lakhis (kr 1200 sM). Roda-roda yg lebih kecil terbuat dari batu dan tanah liat, yg diputar pada sumbu pasangannya ditemukan di Megido, Gezer dan Hazor, bertarikh zaman kerajaan. Bejana-bejana tanah liat berkualitas halus dibuat dengan menginjak-injak tanah liat di dalam air (Yes 41:25). Barang tembikar Israel dibuat terutama untuk keperluan sehari-hari, tapi bentuk dan hiasannya tidak sama dengan tembikar buatan negeri-negeri tetangganya.

Tanah liat Palestina bila dibakar menjadi berwarna merah atau coklat kemerah-merahan. Mengenai perkembangan dan jenis-jenis tembikar yg dipakai, *PERIUK, TEMBIKAR. Beberapa tempat pembakaran yg mungkin digunakan untuk membuat tembikar atau barang logam telah ditemukan. Di luar dari satu tempat pembuatan tembikar di Megido ditemukan 3 tungku pembakaran berbentuk U (abad 8-7 sM).

\\==> Image 00130\\

b. Tukang bangunan

Membuat batu bata dengan menjemurnya di terik matahari, untuk bahan bangunan rumah biasa, merupakan pekerjaan musiman petani. Tanah fiat atau jerami ditebarkan menutupi atap rumahnya yg terbuat dari kayu. Bangunan demikian perlu mendapat perhatian terus-menerus. Kadang-kadang batu bata dibuat dalam cetakan dan dibakar. Membuat batu bata dengan cara ini mungkin adalah pekerjaan tukang periuk.

Kata Ibrani bana ('membangun') dipakai sebagai sebutan baik bagi pekerja terampil maupun tidak (2 Taw 34:11), yg tenaganya dibutuhkan setiap proyek besar yg melibatkan tukang batu, tukang kayu, pengangkut barang maupun orang-orang yg belum berpengalaman. Bangunan-bangunan besar direncanakan dan dibangun di bawah pengawasan ketat seorang ahli bangunan (Yunani arkhitekton, 1 Kor 3:10).

Tanah pertapakan bangunan diukur lebih dahulu dengan tali (2 Sam 8:2; 1 Raj 7:15; Za 2:1) atau tali lenan yg dipilin (Yeh 40:3), dalam ukuran sehasta (1 Raj 7:15, 23). Pada zaman Yunani buluh atau tongkat dipakai untuk maksud yg sama (Why 11:1; 21:15). Suatu tempat dapat diukur dengan tali lipat dua untuk memastikan ketepatannya (2 Sam 8:2), hasilnya dicatat dalam bagan dan tulisan. Pekerjaan seorang pengukur dijadikan lambang hukuman ilahi (Yes 28:17; Yer 31:39).

Perkembangan tahap bangunan diperiksa oleh penanggung jawab, yakni ahli bangunan, dengan menggunakan tali sipat, yg ujungnya dibebani timah (Ibrani 'anakh, Am 7:7-8), batu (Za 4:10) atau barang apa saja yg berat (Ibrani misyqelet, 2 Raj 21:13), untuk menguji siku tidaknya setiap sudut. Ini dijadikan lambang menguji kebenaran (Yes 28:17). Metafora bangunan sering dipakai, ump untuk Allah sebagai Pembangun bangsa (Mzm 69:36), rumah Daud (Mzm 89:5), dan Yerusalem kota-Nya (Mzm 147:2). Gereja disamakan dengan bangunan (1 Kor 3:9; 1 Ptr 2:4-6). Paulus memakai kata Yunani oikodomeo ('membangun') kl 20 kali. Orang percaya dibangun (Yunani epoikodomeo) di atas Kristus (Kol 2:7) dan didesak untuk membangun dirinya sendiri di atas dasar imannya (Yud 20).

c. Tukang kayu

Yusuf dan Yesus disebut tukang kayu (Mat 13:55; Mrk 6:3). Tukang kayu terampil (Ibrani kharasy 'etsim) menangani segala pekerjaan yg berkaitan dengan bahan kayu yg dibutuhkan untuk suatu bangunan, seperti membuat atap, pintu, jendela, dan tangga. Ia juga membuat perabot, dipan, tempat tidur, kursi, meja, dan tumpuan kaki. Beberapa barang dari jenis ini dan mangkuk, sendok maupun kotak berukiran halus, dapat bertahan dan telah ditemukan dalam kuburan di Yerikho (bertarikh 1800 sM). Tukang kayu juga membuat alat-alat pertanian seperti bajak, kuk, alat pengirik (2 Sam 24:22) atau papan-papan (Yes 28:27-28), dan alat pengairan. Di kota-kota besar, tukang kayu pembuat kereta perang ditugasi membuat kereta perang pada masa perang (Kid 3:9). Pembangunan kapal nampaknya tetap merupakan monopoli Fenisia yg berpusat di Tirus. Di situ kapal dibuat dengan menggunakan kayu cemara setempat, tiangnya kayu sedar dan dayung-dayungnya kayu tarbantin (Yeh 27:5-6). Beberapa tukang kayu membuat patung berhala (Yes 44: 13-17). Walaupun orang Yahudi mengerjakan sendiri bahan-bahan kayu untuk keperluan Kemah Suci (Kel 25), tapi kayu dan tukang-tukang kayu yg berpengalaman untuk pembangunan istana Daud (2 Sam 5:11) dan Bait Suci Salomo, disediakan oleh raja Tirus. Hal yg sama terjadi pada pembangunan Bait Suci yg kedua (Ezr 3:7), dan mungkin juga untuk perbaikan Bait Suci yg dicatat dalam 2 Taw 24:12.

Ukiran kayu ditangani oleh beberapa ahli (Kel 31:5; 35:33), mungkin juga orang yg sama mengerjakan ukiran tulang dan gading. Kelompok ahli inilah yg membuat kerub di Bait Suci Salomo (1 Raj 6:23) dan benda-benda seni lainnya. Untuk membuat benda-benda tersebut, maka kayu-kayu keras, kayu hitam, kayu cendana dan kayu palem diimpor. Bahan kayu setempat seperti kayu sedar, cemara, tarbantin, aras (Yes 44:14) dan kayu penaga kebanyakan dipakai untuk perabot, dan kayu murbei biasanya dipakai untuk membuat alat pertanian.

Perkakas khusus tukang kayu termasuk sered (mistar), mekhuga (kompas atau penarik garis), maqtsu `a (pahat, Yes 44:13), ma `atsad (pemotong kecil), gergaji besi dan kikir, (halmut, tukul tukang, Hak 5:26), maqqava (palu, Yes 44:12), dan beberapa macam pahat dan jarum penggerek, contoh-contohnya telah ditemukan. Paku dan pantakan terdapat pada barang-barang kayu yg ditemukan di beberapa tempat dari Zaman Perunggu Tengah dan zaman kerajaan.

d. Pemahat batu

Karena biaya pengangkutan dan pengolahan batu cukup mahal, maka menggunakan batu untuk bangunan rumah pribadi dianggap pemborosan (Am 5:11). Bahkan untuk bangunan-bangunan umum yg lebih penting, penggunaan batu sangat hemat, hanya untuk bagian-bagian penting dari bangunan itu. Karena batu kapur setempat lunak dan tidak tahan lama, maka sejumlah besar batu keras untuk Bait Suci dan bangunan-bangunan megah lainnya, dikerjakan di Libanon sebelum dibawa ke Israel (1 Raj 6:7). Pemahat batu memakai beberapa perkakas yg sama dengan perkakas tukang kayu, seperti gergaji untuk menggergaji batu kapur (1 Raj 7:9) dan mengolahnya dengan beliung atau kapak. Untuk membongkar batu-batu raksasa, baji-baji kayu keras dimasukkan ke dalam batu raksasa itu dengan berulang-ulang memukulkan palu kayu besar pada puncak baji tadi. Kemudian direndam sehingga batu itu retak karena daya muai baji-baji itu. Cara ini biasa di Timur Tengah purba. Kemudian batu dipecahkan dengan berulangkali memukulinya dengan palu logam tempaan yg besar (Ibrani pattisy). Palu demikian dijadikan kiasan untuk menggambarkan tindakan Firman Tuhan (Yer 23:29) atau kekuasaan Babel (Yer 50:23).

Pemahat batu juga menggali dinding-dinding gua di bukit-bukit untuk dijadikan kuburan, atau membuat terowongan di tubuh lereng bukit dan membangun kamar-kamar di pinggang terowongan itu (Yes 22:16). Contoh-contoh kuburan keluarga yg indah ditemukan di Bet-Semes (bertarikh abad 8 sM), di sekitar Yerusalem dan Bet Syearim (bertarikh abad I dan 2 M). Lubang-lubang batu yg dalam atau waduk seperti ditemukan pada penggalian di Yerikho, Lakhis, Megido, dan Gibeon mengacu kepada pemindahan setengah juta m3 batu kapur dengan tangan. Di sana, dan dalam terowongan air yg digali oleh para pemahat batu dan buruh tambang, bekas-bekas kapak masih nampak.

Pada masa kerajaan, dasar tiang-tiang batu besar dipahat, dan sejak abad 10 sM batu-batu yg sudah diukur dan dihiasi digunakan. Pada zaman Yunani gedung pemerintah Herodes di Yerusalem, Makhpela, dan di tempat-tempat lain dibangun dengan menindih batu-batu besar yg dipahat hati-hati sekali, sehingga rata dan rapat kendati tanpa adukan semen, dan masih tak mungkin memasukkan mata pisau di antara sambungan-sambungannya. Pekerjaan yg demikian cermatnya dapat juga dilihat di Megido bertarikh 9 sM. Bekas-bekas karya pemahat batu terlihat juga pada beberapa bangunan, seperti pada anak tangga rumah sembah yang Yahudi di Kapernaum. Para pemahat batu juga dikaryakan untuk memahat prasasti-prasasti batu. Jenis karya ini nampaknya meniru prasasti tulis miring, sebab prasasti-prasasti yg masih dalam keadaan baik yg ditemukan di kuburan Syebna, di terowongan Siloam, dan serpihan Samaria, tidak cocok dengan bahan baku setempat, yaitu batu.

e. Pengrajin logam

Beberapa abad sebelum diketahui cara membuat alat dari besi (kr 1200 sM), penduduk Palestina telah mengetahui cara menambang, melebur, menghaluskan dan mengolah emas, perak dan tembaga. Perkembangan tambang besi, tembaga dan pabrik-pabrik peleburan milik Salomo di daerah Wadi Arabah dan Ezion-Geber menimbulkan revolusi ekonomi dan industri di Israel. Cara lama mengolah logam dikembangkan untuk produksi besar-besaran. Alat-alat besar seperti tiang-tiang perunggu untuk Bait Suci Salomo, peleburan dan pencetakannya dilakukan di dekat penambangan, dicetak di atas pasir. Tapi bijih logam dalam bentuk balok, batangan, gelang atau terpotong-potong biasanya diangkut ke sanggar pekerja logam. Di situ bijih logam dimurnikan dalam tungku pembakaran, yg apinya menyala berkobar-kobar karena tiupan angin yg dipompakan melalui pipa-pipa tanah liat dari puputan (Ibrani mappuakh, alat tiup), biasanya terbuat dari kulit kambing atau domba yg dijahit. Justru seorang pekerja Logam disebut 'ia yg menghembus (arang)', suatu sebutan yg sama dengan kata Akad nappahu (Yes 54:16). Logam yg sudah melebur, dengan sendok besar atau ember dituangkan ke dalam cetakan batu atau tanah liat, dan logam yg memuai ditempa dengan palu khusus di atas landasan (Yes 41:7, Ibrani pa `ama, 'menempa dengan teratur'). Karena cara memukulkan palu dan teknik meratakan Logam tipis dengan mengetoknya (Yes 41:7), pengrajin tembaga dan pandai besi (kharasy barzel, Yes 44:12) dikenal sebagai 'pemukul' dan sebagai orang yg membuat sesuatu yg kuat dan kokoh (Ibrani masger) dengan patrian, las dan paku keling. Benda-benda temuan dalam penggalian seperti satu perunggu tegak yg kecil dari Megido, menunjukkan keterampilan membuat karya seni penampang papar, jika itu buatan Israel, menunjukkan kemampuan teknis yg sama tingkatnya dengan tukang Asyur dan Fenisia yg sezaman.

Pengrajin logam membuat bermacam-macam bejana dan perabot logam, mata bajak, alat pemandu sapi, garpu, as gerobak, kapak, peniti maupun gesper yg lebih kecil (bertarikh 10 sM), patung, arca dan perkakas kecil. Pembuatan pisau, yg erat hubungannya dengan parang dan pedang, lembing dan mata tombak, dan senjata perang lainnya, mengingatkan kits bahwa tukang-tukang ahli ini begitu mudah dapat beralih membuat senjata untuk peperangan atau perdamaian (Yes 2:4; Yl 3:10; Mi 4:3).

f. Penyamak kulit

Kulit domba dan kambing disamak, digunakan untuk bahan pakaian tertentu (Im 13:48; Bil 31:20), juga untuk sandal dan ikat pinggang (2 Raj 1:8; Mat 3:4). Kulit dijahit menjadi barang kebutuhan yg harganya diusahakan cukup murah, seperti kirbat air (Kej 21:14), anggur (Mat 9:17), atau cairan-cairan lainnya (Hak 4:19). Kadang-kadang kulit dijahit mengikuti bentuk botol asli. Kulit jarang dipakai untuk kemah (Kel 25:5; Bil 4:6), tapi biasa dipakai untuk peralatan militer seperti topi, tempat anak panah, alat kereta perang, umban, dan perisai. Perisai diminyaki untuk mencegah keretakan dan supaya tahan terhadap benturan peluru (2 Sam 1:21; Yes 21:5). Sandal yg terbuat dari kulit anjing laut atau ikan lumba-lumba dianggap kemewahan (Yeh 16:10). Seperti halnya di Mesir dan Asyur, kulit yg halus digunakan untuk tempat tidur, penutup kursi dan perabotan lainnya.

Karena penyamakan kulit mengeluarkan bau busuk, maka usaha itu biasanya bertempat di luar kota dan dekat air yg berlimpah-limpah. Prosesnya yg biasa ialah pertama, menghilangkan semua bulu dengan mengolesi atau direndam dalam air kapur atau bahan lain (Periploca secamine). kemudian dijemur di terik matahari dan menyamaknya dengan buah polong (Acacia nilotica) atau daun cemara atau ek. Kulit kadang-kadang dicelup, dan untuk membuat kantong-kantong yg halus disamak lagi dengan garam tawas yg diimpor dari Laut Mati atau Mesir. Kulit juga dibuat alat tulis (Yunani membrana). *TULIS, MENULIS.

Kehadiran Petrus di tempat Simon penyamak kulit di Yope (Kis 9:43; 10:6, 32) menunjukkan bahwa ia telah mendobrak larangan agama Yahudi mengunjungi tempat yg dianggap haram.

g. Tukang celup

Mencelup telah diketahui orang Israel pada zaman Keluaran, ketika kulit-kulit digunakan untuk Kemah Suci. Kulit itu dicelup dengan cairan warna merah tua, yakni campuran air dengan serangga (germes) yg digiling lumat, yg dikumpulkan dari pohon-pohon ek (Kel. 26:1, 31; 36:8; Im 14:4). Bahan celup berwarna merah tua atau ungu yg dibuat dari sejenis kerang bernama purpura dan murex yg terdapat di pantai timur Laut Tengah, merupakan monopoli orang Fenisia dan disebut celup raja:atau celup Tirus. Bahan ini digunakan mencelup perhiasan-perhiasan yg sangat mahal yg menunjukkan kepangkatan dan keningratan (Hak 8:26; Ams 31:22; Luk 16:19; Why 18:12, 16). Perdagangan kain ungu disebutkan dalam naskah-naskah Ras Syamra (kr 1500 sM). Kain celupan ungu digunakan di Kemah Suci (Kel 26:31; 28:5); dan untuk tabir kemah kain yg berwarna biru, ungu dan merah tua -- warna-warna yg khas mencolok pada bahan yg sama (2 Taw 3:14). Jubah yg dikenakan Yesus ketika Dia diadili (Yoh 19:2, 5) juga dicelup ungu. Pengrajin asli Israel diajari keahlian mencelup oleh ahli-ahli Tirus atas permintaan Salomo (2 Taw 2:7). Lidia di Tiatira adalah pedagang kain ungu (Kis 16:14). Lih JNES, 22, 1963, hlm 104 dst.

Di Palestina celupan warna kuning dibuat dari kulit buah delima, sementara orang Fenisia membuatnya dari beberapa macam kunyit. Warna biru diperoleh dengan mengolah nila (Indigofera tinctoria) yg diimpor dari Siria atau Mesir; yg asal aslinya ialah India. Warna biru diperoleh juga (sesudah kr 300 sM) dari tumbuhan isatis tinctoria, aslinya berasal dari Eropa.

Tel Beit Mirsim (Debir kuno?) di pinggir Negeb dijadikan pusat industri tenunan dan pencelupan. Dalam suatu penggalian ditemukan lebih 20 tempat pencelupan, masing-masing terdiri dari 2 atau lebih tong batu di satu ruangan berukuran 7 x 3,5 m, dengan saluran-saluran untuk menampung limbah celupan itu. Bubuk garam (kalsium karbonat) dan kapur kental disediakan di dalam tong dua hari sebelum pencelupan dilakukan. Kadang-kadang benang dicelup sebelum ditenun. Kain direndam di dalam tong kemudian dibilas beberapa kali hingga mencapai kepekatan warna yg dikehendaki.

h. Tukang penatu

Merajut, membersihkan dan mengelantang bahan baku kain penting sekali karena tingginya biaya membersihkan serat-serat dari minyak alarm atau getahnya sebelum pencelupan. Di beberapa tempat tukang penatu juga mencelup kain.

Tukang penatu bekerja di luar kota dekat air, di mana kain dapat dibersihkan dengan menginjak-injaknya di atas batu di dalam air. Karena itu tukang penatu dicirikan 'tukang injak' (Ibrani kavas). Di Yerusalem, wilayah luar tembok sebelah timur di mana pakaian dibentangkan untuk dijemur, disebut Padang Tukang Penatu (2 Raj 18:17; Yes 7:3; 36:2). Waktu Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung. pakaian-Nya digambarkan putih berkilau-kilauan dan 'tidak ada seorang pun di dunia ini yg dapat mengelantang pakaian seperti itu' (Mrk 9:3).

Untuk memperoleh bahan pembersih natron, yakni soda karbonat, kadang-kadang diimpor dari Mesir. Bila natron diaduk dengan tanah liat putih dapat digunakan sebagai sabun (Ams 25:20; Yer 2:22). Alkali berlimpah-limpah dalam serbuk tumbuhan, dan sabun (Ibrani borit, kali) diperoleh dengan membakar tumbuhan-tumbuhan yg mengandung soda (Salsola kali). Sabun tukang penatu yg disebut dalam Mal 3:2 mungkin adalah bara borit, karena kalium dan sodium nitrat nampaknya tidak dikenal di Siria dan Palestina, walaupun terdapat di Babel.

KEPUSTAKAAN. C Singer (red), A History of Technology, 1, 1958; G. E Wright, Biblical Archaeology, 1957, hlm 191-198; RJ Forbes, Studies in Ancient Technology 1-8, 1955-1964; A Reifenberg, Ancient Hebrew Arts, 1950; A Lucas, Ancient Egyptian Materials and Industries, 1962; J Jeremias, Jerusalem in the Time of Jesus, 1969; D Strong dan D Brown, Roman Crafts, 1976. DJW/NY WBS/MBD




TIP #12: Klik ikon untuk membuka halaman teks alkitab saja. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA