Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 13 No. 1 Tahun 1998 >  FEMINISME: SUMBANGSIH DAN KRITIK > 
3. SUMBANGSIH DARI FEMINISME 
sembunyikan teks

Mengupayakan dan memperjuangkan feminisme dalam batas-batas yang wajar dan bermanfaat bagi kaum wanita merupakan sumbangsih yang tak ternilai harganya. Dengan nilai-nilai feminisme yang positif, masyarakat bahkan para pemegang kekuasaan struktural tidak lagi bertindak semena-mena terhadap kaum wanita.

Di negeri kita, feminisme lebih dipahami dengan istilah emansipasi wanita. Upaya memperjuangkan emansipasi wanita memang telah membuahkan hasil. Wanita-wanita tempo dulu gigih memperjuangkan emansipasinya dalam arti pembebasan diri dari kekolotan dan keterbelakangan seperti yang dilakukan oleh R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis. Mereka sangat menentang penjajah Belanda yang mempertahankan sistem pemerintahan dan struktur masyarakat yang sarat dengan diskriminasi, termasuk terhadap kaum wanita.1287 Syukurlah pada zaman kemerdekaan ini emansipasi wanita tidak lagi menjadi masalah. Wanita Indonesia telah diberikan peluang yang sangat banyak untuk dapat maju, sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak berprestasi bersama kaum pria. Namun tetap diakui bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh kaum wanita pada penghujung abad ke-20 ini belum selesai. Jangan mandeg sampai di sini, dan jangan lekas puas, tetapi harus teras memacu diri untuk lebih maju.

Gerakan feminisme dapat memberikan sumbangsih terhadap kaum wanita, dalam memperjuangkan hak-hak yang sama dengan kaum pria. Mendapat perlindungan hukum bagi kaum wanita dari pelecehan yang dilakukan suaminya atau para laki-laki merupakan manfaat yang ideal: tidak ada lagi pelecehan seksual yang sering terjadi terhadap wanita. Para pelaku pemerkosaan terhadap wanita dewasa dan di bawah umur akan diberi hukuman yang berat. Perlakuan terhadap buruh wanita di sektor industri akan lebih baik dan sama dengan kaum pria; tidak akan terjadi diskriminasi lagi.

Bagi wanita yang berpendidikan tinggi dan dapat berprestasi harus tetap diberi peranan optimal dengan peluang yang ada. Dalam MPR dan DPR pada dewasa ini, keanggotaan masih didominasi kaum pria. Kaum wanita hanya mendapat porsi 10%, padahal jumlah penduduk wanita dibanding pria lebih banyak wanita. Belum banyak wanita yang menjadi menteri dan gubernur, hanya ada satu bupati.1288 Wanita menjadi lurah tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, tetapi itupun tidak banyak jumlahnya. Di lembaga tinggi negara dan posisi-posisi tertentu, dominasi tetap ada pada kaum pria, dengan alasan wanita itu cengeng, sangat sensitif, kurang tegas, dan banyak alasan yang lain.

Para wanita harus dapat mempersiapkan generasi penerus dari sejak dini, sehingga kelak tidak akan tertinggal jauh dengan kaum pria. Bila dilihat dari segi intelektualitas kaum wanita tidak kalah dengan kaum pria. Bahkan dari segi prestasi di sekolah-sekolah umum, jumlah murid wanita yang mendapatkan nilai tinggi lebih banyak daripada murid pria. Statistik telah menunjukkan bahwa makin banyak wanita bekerja di negara industri maju, seperti dikatakan oleh Rena Bartos dengan sebutan "Revolusi Bisu" (Silent Revolution), yang dikutip oleh Marta Tilaar dalam buku "Perempuan Indonesia" Pemimpin Masa Depan (hal 67). Di Amerika pada tahun 1995, 55% wanita Amerika adalah pekerja, sedangkan di Jepang (1985) 49%; di Kanada.(1981) 52%; di Inggris (1981) 47%; di Australia (1981) 46%; dan di Italia (1981) 33%. Angka-angka ini teras meningkat.1289 Belum dihitung ibu-ibu rumah tangga yang tidak tercatat sebagai wanita yang bekerja, yang tentu saja memiliki nilai ekonomis. Misalnya ibu-ibu rumah tangga yang memiliki home industry, usaha di rumah yang menghasilkan yang dapat menunjang roda ekonomi keluarga: toko, warung, jasa boga rasa, menerima kost, bengkel mobil, pengelola ladang dan sawah, sampai pada para pengumpul dan penjual barang bekas.

Bagaimana di Indonesia? Berbagai data menunjukkan bahwa revolusi bisu itu juga terjadi di Indonesia dengan kendala-kendalanya yang khas sebagai negara yang sedang berkembang. Antara tahun 1988-1989 terjadi kenaikan tenaga kerja wanita dari 32.65% menjadi 37% dan diproyeksikan menjadi 38.8% dalam tahun 1993, serta menjadi 40.2% dalam tahun 1998. Data tahun 1980 dan 1985 menunjukkan kenaikan prosentase tenaga kerja wanita profesional dari 3,27% menjadi 3,90%. Begitu pula pada wanita yang bekerja pekerja kantor, dari 1,4% menjadi 1,91%, wanita pelayan toko 18,71% menjadi 20,90%, sedangkan tenaga manajer wanita tetap 0,03%. Angka-angka kenaikan tersebut cukup menggembirakan, namun masih kurang jika dibandingkan dengan pria. Misalnya pada tahun 1984 jumlah pegawai negeri wanita 746.000 orang atau 27,43% dari seluruh pegawai negeri. Pada tahun 1989 prosentase ini meningkat menjadi 31,38% atau terdapat 1,1 juta pegawai negeri wanita dari seluruh 3,6 juta pegawai negeri.

Revolusi bisu ini tentunya ditopang oleh terbukanya kesempatan bagi kaum wanita serta ketrampilan yang dimiliki oleh kaum wanita itu sendiri. Makin banyak wanita yang mendapat kesempatan mengecap pendidikan tinggi; dengan demikian mereka dibekali dengan ilmu dan ketrampilan yang dibutuhkan di bidang-bidang pekerjaan yang akan dilakukan. Peningkatan sumber daya wanita yang berkualitas makin meningkat di segala bidang. Maka feminisme menjadi sumbangsih bagi kaum wanita: masyarakat tidak lagi meremehkan wanita dengan semaunya sendiri. Wanita tidak lagi menjadi konco wingking (teman di belakang), maksudnya, dalam kebudayaan Jawa, wanita ditempatkan di belakang. Segala keputusan, baik atau buruk, suamilah yang berhak memutuskan, tanpa konsultasi dengan istri. Konco wingking derajatnya sedikit lebih tinggi dari pembantu. Yang membedakan pembantu dan konco wingking adalah pembantu tidak boleh tidur dengan "bapak" sedangkan istri harus tidur dengan bapak dan memberi anak untuk dan demi terus berlangsungnya keturunan bapak. Dengan pemahaman feminisme yang benar maka hal-hal itu tidak lagi terjadi dalam kehidupan masyarakat. Gadis-gadis pun tidak lagi "di pingit," disembunyikan di dalam kamar yang tidak boleh seorangpun bertemu kecuali ibunya, ayahnya, atau inang pengasuhnya, seperti pada zaman R.A Kartini, khususnya pada saat menjelang perkawinan yang sudah diatur oleh orang tua. Si gadis hanya harus memberi anggukan kepala tanda setuju tanpa diminta pendapatnya atau dipertemukan dengan calon pengantin pria sebelumnya maupun diberi kesempatan untuk berkenalan. Sekarang tampaknya tidak ada lagi perlakuan seperti itu terhadap gadis-gadis kita.

Wanita telah diberi hak untuk memutuskan pilihannya dan jalan hidupnya sendiri tanpa ada tekanan dari pihak tertentu. Wanita Indonesia diberi peluang seluas-luasnya untuk berprestasi di tengah-tengah bangsanya. Seperti baru-baru ini terjadi pada masa kampanye sebelum pemilu 1997, para wanita tampil memukau di panggung-panggung kampanye dari ketiga OPP. Ada yang memang politikus sejati, ada juga yang karena suaminya politikus dan ia terlibat menjadi "jurkam." Fenomena ini tidak terjadi pada masa kampanye tahun 1992. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan kaum wanita: mereka berani tampil sejajar sebagai mitra dengan politikus pria. Bahkan dari para wanita tersebut telah ada yang menjabat sebagai ketua OPP. Wanita kita sudah sangat mandiri dan percaya diri, tidak canggung bepergian bersama dengan rekan-rekannya untuk berjuang demi kemenangan partainya, walaupun suami tidak mendampinginya. Jika hal seperti ini dapat terjadi, tentunya telah adanya saling pengertian. Para suami menopang karier istrinya. Bagi suami yang memberi kepercayaan kepada istrinya, patutlah ia dihargai dan di contoh oleh suami-suami yang takut disaingi oleh para istri mereka.

Masih di sekitar kampanye menjelang pemilu 1997.10 Dalam kampanye dialogis, para jurkam wanita dari ketiga OPP telah mengetengahkan topik tentang wanita, dan mereka berjanji akan memperjuangkan hak-hak dan nasib wanita di MPR dan DPR. Para politikus wanita berjanji akan memperjuangkan nasib buruh wanita, perlindungan hukum yang lebih baik bagi wanita dan anak-anak. Demikianlah hasil-hasil emansipasi wanita (feminisme konteks Indonesia). Setiap wanita mempunyai hak dan kewajiban, serta kesempatan yang sama dengan pria dalam pembangunan nasional.



TIP #23: Gunakan Studi Kamus dengan menggunakan indeks kata atau kotak pencarian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA