Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 13 No. 1 Tahun 1998 >  KEPRIHATINAN ALLAH TERHADAP WONG CILIK (PERSPEKTIF PERJANJIAN LAMA) > 
B. WONG CILIK, PERSPEKTIF DARI PERJANJIAN LAMA 
sembunyikan teks

Setelah kita mendefinisikan wong cilik dalam konteks Indonesia maka sekarang kita akan meneliti bagaimana Alkitab khususnya Perjanjian Lama berbicara tentang status sosial wong cilik.

1. Perkembangan Sosial Ekonomi Bangsa Israel

Pada periode paling awal bangsa Israel hidup sebagai bangsa nomaden. Struktur sosialnya masih bersifat kesukuan, di mana suatu kelompok masyarakat percaya bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama. Akibat dari sistem sosial yang demikian, maka kondisi hidup yang merata masih bisa dengan mudah dijaga. Apalagi pada waktu itu ada bentuk organisasi yang bernama goel. Organisasi ini berfungsi sebagai penebus, penolong dan pelindung bagi saudaranya yang lemah. Jika salah satu di antaranya menjadi miskin dan menjual dirinya sebagai budak, maka goel inilah yang wajib menebusnya(Im 25:47-49).1260 Tetapi keadaan seperti ini berubah setelah masa monarki yaitu sebuah masa di mana sistem pemerintahannya diatur oleh seorang raja. Ini terjadi kira-kira pada abad ke-11 SM. Timbulnya pemerintahan yang berbentuk kerajaan ini menciptakan kelas-kelas elit baru, dan mencapai titik yang menyedihkan pada abad ke-8 SM. Di mana tampuk kepemimpinan pemerintahan pada waktu itu dipegang oleh Raja Uzia dan Raja Yerobeam II. Pada masa ini terjadi ledakan kemajuan di bidang ekonomi secara cepat. Tetapi sayangnya ledakan ini hanya dinikmati oleh beberapa orang yang tentunya orang-orang yang dekat pada para penguasa pada waktu itu. Sehingga kesenjangan sosial tidak dapat dihindarkan untuk terbentuk, yang berkuasa semakin mendapat angin untuk berkuasa dan yang lemah semakin mendapat angin untuk mendapat tekanan.

Timbullah kesewenang-wenangan dari pihak yang merasa dirinya kuat dan sebagai; penguasa. Kesewenang-wenangan ini tampak dalam bentuk-bentuk tindakan penindasan kepada kaum 'ani, 'ebhyon dan dal yaitu kaum yang lemah atau lebih tepat disebut sebagai wong - cilik. Para penguasa menjual wong cilik karena uang dan sepasang kasut artinya, mereka dijual dengan harga yang sangat rendah sekali (Am 2:6). Para penguasa menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara (Am 2:7); memberi suap kepada para nabi untuk berhenti menyampaikan kebenaran dan menyuap para hakim untuk membelokkan keadilan (Am 2:12; 5:12); dan memeras orang miskin (Am 4:1).

2. Wong Cilik dan Status Sosialnya

Perbendaharaan kata dalam Perjanjian Lama yang artinya senada dengan wong cilik adalah: 'ani ('w); 'ebhyon (jl'?K); dal (51), ras mahsor ("llortt1260. Sebelum penjabaran dari setiap kata-kata tersebut, sangat perlu untuk menyebutkan bahwa di dalam Perjanjian Lama ada tiga kelompok yang biasanya digolongkan sebagai wong cilik. Kelompok itu adalah para janda, anak-anak yatim, dan orang pengembara (Im 19:10; 23:22; Ayub 29:12-13; Zak 7:9-10). Meskipun mereka tidaklah selalu miskin, tetapi ada kecenderungan bahwa mereka mudah untuk menjadi miskin. Di dalam suatu struktur masyarakat yang didominasi oleh kaum laki-laki maka seorang janda akan tidak mampu bersaing dengan lawan-lawannya, apalagi seorang yatim. Mereka adalah kaum lemah yang mudah mendapat penindasan dari orang lain.

'ani (,3y)

Kata 'ani merupakan kata umum dalam bahasa Ibrani yang digunakan untuk menunjuk ke istilah miskin. Meskipun dalam penggunaannya sering disejajarkan dengan 'ebhyon dan, dal, tetapi artinya berbeda dari keduanya; `ani lebih menunjuk kepada ketidakberdayaan.1261 Kata ini digunakan 7 kali dalam kitab Pentateukh (Kel 22:25; Im 19:10; 23:22; Ul 15:11; 24:12,14,15) dan mempunyai hubungan yang jelas dengan keadaan miskin secara ekonomi: "Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang ',ani di antaramu, ..." (Kel 22:25); "Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang 'ani ..." (Im 19:10; bdk. 23:22); "Sebab orang-orang 'ani tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu yang 'ani' dan yang 'ebhyon di negerimu" (Ul 15:11).

Kaum 'ani dalam Pentateukh adalah kaum yang kekurangan kebutuhan hidup, dan secara sosial mereka tidak berdaya dan mudah menjadi obyek penindasan.

Di dalam kitab nabi-nabi kaum 'ani pun lebih banyak mendapat sorotan. Kata ini muncul 25 kali yaitu: Yes 3:14,15; 10:2,30; 14:30; 26:6; 32:7; 41:17; 49:13; 51:21; 54:11; 58:7; 66:2; Yer 22:16; Yeh 16:49; 18:12,16; 22:29; Am 8:4; Hab 3:14; Zef 3:12; Za 7: 10; 9:9; 11:7,11).

Konsep 'ani dalam literatur nabi-nabi lebih berkembang artinya dibandingkan dengan konsep 'ani dalam Pentateukh. Dalam literatur nabi-nabi konsep ini tidak hanya menunjuk kepada kekurangan kebutuhan hidup, tetapi lebih dari itu, yakni menunjuk kepada kaum yang ditindas, diperkosa hak asasinya dan dimiskinkan.1262 Yesaya 3:15 menggambarkan dengan jelas: "Mengapa kamu menyiksa umat-Ku dan menganiaya orang-orang yang 'ani?""Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang 'ani."

Di dalam sejarah penyelidikan Perjanjian Lama, identitas kaum miskin di dalam kitab Mazmur masih terus menjadi subyek diskusi yang menarik. Misalnya, Rahlfs menyatakan bahwa kaum miskin adalah sebuah kelompok yang khusus di antara umat Allah, dalam Perjanjian Lama, yang menyatakan komitmen dirinya menjadi pengikut Yahweh.1263 Coggins menyatakan bahwa kaum miskin dalam kitab Mazmur tidak menunjuk kepada miskin dalam arti ekonomi: "...there is nothing in the Psalm which would suggest material poverty."1264 Gillingham mengusulkan pemahaman baru dalam memahami kaum miskin di kitab Mazmur, dia percaya bahwa:

Four main words in the Psalter which describe the poor cannot be classified neatly in terms of economic deprivation (Blessed are you poor ... as in Lk. 6:20), or even in terms of a particular religious group (Blessed are the poor in spirit ... as in Mt. 5:3).1265

Lebih lanjut dia menyatakan:

Although many references are highly ambiguous, it will be seen that a complex variety of life-settings is suggested, both individual and communal and different aspects of suffering are implied, both physical and spiritual.1266

Kata 'ani muncul 31 kali di dalam kitab Mazmur. Kata ini menunjuk kepada (1) bangsa yang ditindas secara fisik oleh kuasa bangsa lainnya (Mzm 9-10), "Sebab Dia, yang membalas penumpahan darah, ingat kepada orang yang 'ani ... (9:13); `Bangkitlah TUHAN! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah lupakan orang-orang yang 'ani (10: 12). (2) Orang yang diperlakukan secara tidak adil, "Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang 'ani, Iepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!" (82:3-4). (3) Kaum yang kekurangan kebutuhan pangan, "Perbekalannya akan memberkati dengan limpahnya, orang-orangnya yang 'ani akan kukenyangkan dengan roti (132:15). (4) Orang-orang yang mencari pertolongan kepada Allah dalam mengusahakan keadilan (10:1-2; 18:28; 25:16; 34:7; 35: 10; 102:1).

Dalam Kitab Ayub kata 'ani muncul 7 kali. Kitab Ayub menggambarkan penderitaan kaum 'ani dengan lebih jelas; mereka adalah kaum yang ditindas (24:4), kaum yang anaknya digadaikan karena kondisi kemiskinannya (24:5), dan kaum korban dari pembunuhan yang semena-mena oleh penguasa (Ayb 24:14).

'ebhyon (j1'sK)

Kata 'ebhyon berasal dari akar kata 71M Secara umum kata r berarti "to lack, to be in need."1267 Kata ini muncul sebanyak 9 kali dalam Kitab Pentateukh (Kel 23:6,11; Ul 15:4, 7 (2x), 9, 11 (2x); 24:14). Sebanyak dua kali digunakan secara bersama-sama dengan kata ']y (Ul 15:11; 24:14). Kata ini menunjuk kepada (1) kaum lemah yang mudah diperkosa hak hidupnya (Kel 23:6); (2) kaum yang kehilangan tanah warisannya (23:11); (3) kaum yang menerima santunan dari orang lain (Ul 15:7-8); dan (4) kaum yang tertimpa hutang dan tidak bisa mengembalikannya (Ul 15:9-11).

Kata 'ebhyon di dalam kitab Nabi-nabi muncul sebanyak 17 kali. Kata ini digunakan untuk menggambarkan (1) kaum yang terinjak-injak harkat kemanusiannya (Am 8:4); (2) kaum yang teraniaya oleh para penguasa dalam masyarakat dan struktur sosial yang buruk (Yer 2:34; 20:13; Yeh 18:12; Am 4:1); (3) kaum yang tidak mendapat perlakuan secara adil di dalam lembaga pengadilan, "...dan tidak membela hak orang 'ebhyon." (Yer 5:28); "Sebab Aku tahu perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang 'ebhyon di pintu gerbang' (Am 5:12, bdk. Yes 32:7). Botterweck mengatakan bahwa di dalam Kitab Yeremia 'ebhyon berarti secara sosial miskin, yang menurut Yer 5:28 harus menderita di bawah kebahagiaan dan ketamakan orang-orang kaya karena mereka tidak mendapat keadilan secara adil.1268 (4) Kaum yang jatuh dalam perbudakan karena sebagai ganti untuk membayar hutang mereka, "...Oleh karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang 'ebhyon karena sepasang kasut" (Am 2:6b, bdk. 8:6).

Di dalam kitab Mazmur kata 'ebhyon muncul 23 kali. Kata ini sering disejajarkan dengan kata 'ani. 'ebhyon dalam kitab Mazmur menggambarkan keadaan (1) kaum lemah yang ditindas oleh orang-orang yang jahat (Mzm 72:12-14; 107:41; 112:9); (2) kaum yang merupakan kebalikan dari kaum kaya (Mzm 49:3); dan (3) kaum yang dimiskinkan (pemiskinan materi) (Mzm 35:10). Gillingham menambahkan bahwa: "di dalam Mazmur yang bersifat ratapan pribadi ada aspek lain yang dikenalkan yaitu pemazmur percaya bahwa Allah akan membela mereka, bukan hanya karena mereka miskin tetapi karena jalan yang mereka tempuh adalah percaya kepada Allah dengan kerendahan hati."1269

Di dalam Kitab Amsal kata 'ebhyon muncul 4 kali. Dalam kitab Amsal 30; 31, kata 'ebhyon diparalelkan dengan kata 'ani. dengan menunjuk kepada (1) kaum yang dieksploitasi oleh para penguasa (Ams 30:14), (2) kaum yang menjadi obyek ketidakadilan (Ams 31:9), dan (3) kaum yang membutuhkan pertolongan dari orang lain (3l:20).

dal (51)

Kata dal merupakan kata yang berasal dari Ugaritic yang berarti "poor, needy"1270 Kata dal muncul sebanyak 5 kali dalam Pentateukh (Kej 41:19; Kel 23:3; 30:15; Im 14:21; 19:15). Kata pertama yang muncul (Kej 41:19) digunakan untuk menggambarkan kondisi lembu yang kurus di dalam mimpinya Firaun. Karena kata ini berhubungan dengan kondisi lembu yang kurus dan buruk bahkan kondisi semacam itu tidak pernah dijumpai sebelumnya di antara lembu-lembu di seluruh tanah Mesir, maka sangatlah wajar bila di dalam perkembangan berikutnya dal digunakan untuk melukiskan keadaan wong cilik yang miskin, tertindas dan terampas hak-hak kewajarannya sebagai seorang manusia.1271

Di dalam kitab Keluaran makna kata dal berbeda dengan kata 'ani dan 'ebhyon. Biasanya seperti yang telah kita lihat di atas, kaum 'ani dan 'ebhyon selalu ditempatkan pada posisi yang mendapat perlakuan yang tidak adil di lembaga peradilan, tetapi di dalam Kel 23:3 dikatakan: "Juga janganlah memihak kepada orang dal dalam perkaranya." Ada dimensi makna yang berbeda antara kaum yang digolongkan sebagai kelompok dal dengan kelompok 'ani dan 'ebhyon. Lebih jelas dapat dilihat dalam Kel 30:15: "orang kaya janganlah mempersembahkan lebih dan orang miskin [dalj janganlah mempersembahkan kurang dari setengah syikal...", padahal di dalam Imamat 14:21 kaum dal diijinkan membawa persembahan yang kurang dari standar yang telah ditetapkan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kaum dal dalam kitab Keluaran adalah kaum yang tidak sama dengan kaum `ani dan 'ebhyon, yang artinya kaum yang tidak mempunyai harta sama sekali yang hidupnya hanya tergantung dari belas kasihan orang lain; sedangkan kaum dal adalah kaum yang masih mampu membiayai kehidupannya sehari-hari, atau bisa lebih tepat mereka adalah petani-petani kecil. Mereka adalah kelompok sosial kelas yang powerless sehingga mudah untuk ditindas oleh para penguasa. Ini bisa kita lihat perubahan pemakaian kata dal di dalam kitab Nabi-nabi.

Di dalam kitab nabi-nabi kata dal muncul sebanyak 12 kali. Kata ini sudah berganti maknanya (sesuai dengan perubahan struktur sosial yang ada). Kata ini dipakai untuk menggambarkan (1) kaum yang menderita karena eksploitasi dan penindasan dari kaum kuat, "karena mereka menginjak-injak kepala orang dal ke dalam debu..." (Am 2:7; bdk. 4: 1); (2) kaum yang dipaksa untuk membayar pajak kepada para penguasa tanah (Am 5:11); dan (3) kaum yang dilecehkan dalam hukum-hukum hutang perbudakan (Am 8:6); (4) kaum yang dilecehkan dalam lembaga pengadilan, "...untuk menghalang-halangi orang-orang lemah [dal] mendapat keadilan ... (Yes 10:2). Tidak dipungkiri bahwa kata dal di beberapa tempat di kitab Yesaya dan Yeremia digunakan dalam arti simbolis, yaitu dalam Yer 5:4 dan Yes 14:30.

Kata dal dalam Mazmur muncul 4 kali. Kata ini digunakan untuk menggambarkan keadaan komunitas yang rendah secara status sosialnya sehingga mudah untuk ditindas (Mzm 82:3-4), maka Tuhan menjanjikan berkat buat orang yang memperhatikan kaum dal.

Kadang yang memahami kemiskinan di kitab Mazmur lebih menitikberatkan pada dimensi miskin secara rohani, berpendapat bahwa kata dal dalam Mazmur menggambarkan orang yang secara sosial, fisik dan ekonomi adalah lemah dan tak berpengharapan.1272

Di dalam Amsal kata dal menunjuk kepada kaum yang tidak punya teman, kaum yang membutuhkan kebaikan Bari orang lain (Amsal 19:17), dan yang membutuhkan pembagian rezeki dari orang lain (Amsal 22:9).

ras (ttitl); mahsor (110Rn)

Kata ras ini hanya muncul di Amsal dengan frekuensi pemunculan sebanyak 15 kali. Kata ini ditujukan kepada (1) kaum yang cara hidupnya diwarnai dengan permintaan belas kasihan (18:23); (2) kaum yang tidak mempunyai teman (14:20; 19:7); dan (3) kaum yang penderitaan kemiskinannya disebabkan oleh kemalasannya (10:4). Sedangkan kata mahsor muncul sebanyak 8 kali dengan mengindikasikan (1) kemiskinan sebagai akibat dari kemalasannya (6:11; 14:23; 21:5; 24:34); dan (2) kemiskinan disebabkan oleh pemborosan (21:17).

3. Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri kelompok sosial kelas yang mempunyai kesejajaran dengan wong cilik tersebut di atas sebagai berikut: (1) kekurangan kebutuhan hidup; (2) secara sosial seorang yang tidak berdaya dan mudah menjadi obyek penindasan; (3) kaum yang ditindas, diperkosa hak-hak kewajaran kemanusiaannya; (4) tidak mendapat perlakuan hukum secara adil; (5) korban dari pembunuhan yang semena-mena oleh para penguasa; (6) penerima santunan dari orang lain; (7) kaum yang dilecehkan di lembaga-lembaga pengadilan; (8) kaum yang menderita karena eksploitasi dan penindasan dari kaum kuat; (9) kaum yang masih mampu membiayai kehidupannya sehari-hari tetapi karena ke powerless-annya sehingga mudah ditindas oleh para penguasa; (10) kaum yang mempunyai padang gandum tetapi tidak kuat membayar beban pajak; (11) kaum yang mengadu tentang penderitaan kemiskinannya kepada Allah untuk mendapatkan keadilan; dan (12) kaum yang miskin karena disebabkan oleh kemalasan dan hidup yang boros.

Secara ringkas saya menyimpulkan bahwa Alkitab menggambarkan wong cilik bukanlah hanya kaum yang miskin tetapi juga kaum yang memiliki ladang gandum (Am 5:11) tetapi karena ke powerless-aanya maka mereka mudah ditindas, mendapat perlakuan yang tidak adil dan dieksploitasi hak-hak kewajarannya sebagai manusia.



TIP #15: Gunakan tautan Nomor Strong untuk mempelajari teks asli Ibrani dan Yunani. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA