Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac > 
25. Puisi di Alkitab 
sembunyikan teks

Orang Israel menggunakan puisi dan musik dari awal sejarah mereka. Sebelum itu, barangkali Adam memakai sebuah syair untuk memuji Allah atas pasangannya yang baru (Kej. 2:23). Musa menyanyikan sebuah nyanyian kepada Allah karena telah membebaskan orang Israel dari Mesir (Kel. 15). Alkitab (Hak. 5:2-31; 14:14, 18) mencatat banyak syair lain dari masa para hakim (1400-1000 sM). Namun, kebanyakan puisi yang tercatat dalam Alkitab berasal dari zaman Raja Daud (1012-972 sM) dan sesudahnya. Pada masa Daud, para penyair dan pemusik telah bersatu untuk membentuk serikat sekerja mereka sendiri, yang tetap aktif sampai masa Pembuangan. Dikatakan bahwa Raja Hizkia (729-687?sM) mengutus sekelompok pemusik sebagai bagian dari tawaran perdamaian kepada Sanherib.

Demikianlah para penyair dan pemusik memainkan peranan penting dalam kehidupan orang Israel. Perjanjian Baru tidak mempunyai kitab syair yang lengkap seperti Perjanjian Lama, namun di dalamnya terdapat banyak puisi.

 I. Jenis-jenis Puisi Perjanjian Lama.
sembunyikan teks

Bahasa Ibrani memakai beberapa kata yang berbeda untuk mengacu kepada berbagai jenis Puisi yang kita temukan dalam Perjanjian Lama. Syir adalah syair yang diiringi alat musik. Kata itu secara harfiah berarti "nyanyian." Mizmor adalah nyanyian atau himne ibadat; qina adalah nyanyian penguburan atau syair ratapan; tehilla adalah himne pujian; dan masyal adalah amsal atau nyanyian sindiran.

Setiap penyair Ibrani mengungkapkan perasaan pribadinya sendiri dalam apa yang ditulisnya, karena diilhami oleh Roh Kudus. Kebanyakan kitab syair berisi puisi lirik (puisi untuk dinyanyikan). Banyak kitab di Alkitab berisi puisi gnomic (hikmat). Puisi kenabian biasanya menggambarkan sebuah visiun dari Allah, sedangkan puisi sejarah bercerita tentang peristiwa-peristiwa nyata dari masa lalu sebagai sebuah epik.

 II. Sifat Puisi Perjanjian Lama.
sembunyikan teks

Setiap penyair menggunakan teknik-teknik khusus untuk mengutarakan pesannya. Tiga teknik yang digunakan kebanyakan penyair untuk mengutarakan gagasan mereka adalah rbyme (sajak), meter (irama syair), dan paralelisme.

Sajak berkaitan dengan bunyi kata-kata. Paling sering puisi bersajak memunculkan bunyi yang sama pada akhir setiap baris atau setiap dua baris. Sajak umum terdapat dalam syair-syair bahasa Inggris, tetapi sangat jarang dalam puisi Ibrani.

Irama syair berkaitan dengan tekanan yang teratur dari puisi Penyair memakai aksen dari kata-katanya untuk menetapkan irama dalam tiap baris dan suatu pola irama di seluruh syair itu. Para ahli berselisih pendapat tentang apakah puisi Ibrani benar-benar mempunyai irama. Jika ada, maka itulah irama 3:3 - yaitu, tiga tekanan untuk tiap baris. Syair-syair di Alkitab jarang mengikuti pola ini dengan tepat, jadi kita tidak tahu dengan pasti apakah puisi Ibrani benar-benar mempunyai suatu sistem irama dalam zaman Perjanjian Lama.

Teknik yang ketiga, paralelisme, adalah teknik yang paling sering dipakai oleh para penyair di Perjanjian Lama. Alkitab mempunyai tiga jenis dasar paralelisme: yang lengkap, yang tidak lengkap, dan "tangga".

 III. Konteks Sastra.
sembunyikan teks

Banyak sekali puisi telah digubah di Mesir, Mesopotamia, dan Kanaan jauh sebelum tampil kitab-kitab syair di Alkitab. Kebanyakan syair dalam kitab Mazmur adalah syair liris. Syair liris ini cocok dengan puisi liris yang umum terdapat di Mesir, Sumer, dan Babilonia.

Sastra Timur Dekat yang paling kuno berasal dari orang Sumer (orang-orang yang pada zaman purba menduduki Lembah Mosopotamia). Banyak himne atau mazmur pujian dan doa dalam bentuk puisi terdapat dalam sastra mereka. Di Sumer seni menggubah himne sudah sangat berkembang sebelum tahun 2000 sM. Para penyair Sumer pada zaman purba menggolongkan karya mereka menurut subyek dan cara pergelarannya (yaitu, alat musik mana yang dipakai). Syair-syair liris seperti itu bisa sepanjang 400 baris. Panjangnya syair-syair Mesir berbeda-beda juga dan syair-syair tersebut terdiri atas doa dan pujian. Sastra ini mencakup nyanyian-nyanyian cinta yang berasal dari tahun 1300 sM. Satu hal yang menarik ialah bahwa sang kekasih dalam syair-syair Mesir dinamakan "saudara laki-laki" (bdg. Kis. 5:12; 8:1-3). Kita menemukan banyak syair ratapan di antara sastra Sumer dan Mesir yang berasal dari waktu sebelum 2000 sM. Dengan demikian ketiga jenis puisi telah ditemukan di luar Alkitab.

Gaya artistik puisi di Alkitab sangat mirip dengan puisi dari Ugarit (dari 1700 sampai 1500 sM) dan Babilonia. Kita melihat tema-tema dan tamsil-tamsil yang serupa. Mengingat adanya materi seperti itu, arkeolog William F. Albright menarik kesimpulan bahwa puisi Perjanjian Lama telah digubah pada zaman purba. Dalam strukturnya (yaitu, dalam penggunaan paralelisme) puisi Perjanjian Lama berada di pertengahan puisi Mesopotamia dan puisi Ugarit. Tata bahasa, kosakata, dan kiasan dalam puisi di seluruh Alkitab mempunyai persamaan yang mencolok dengan puisi Ugarit.75 Sekalipun ada persamaan-persamaan ini, puisi alkitabiah berbeda karena keelokannya yang unggul, ungkapan artistik, dan konsep-konsep moral dan rohani.

 IV. Kitab-Kitab Syair.
sembunyikan teks

Enam kitab di Alkitab berisi puisi liris dan puisi yang singkat dan tegas. Kitab-kitab yang liris (syair nyanyian) adalah kitab Mazmur, Ratapan, dan Kidung Agung. Kitab-kitab yang berisi puisi yang singkat dan tegas (syair hikmat) adalah kitab Amsal, Ayub, dan Pengkhotbah.

 V. Kitab-Kitab Hikmat. 
sembunyikan teks

Dalam kitab Ayub, Amsal, dan Pengkhotbah terkandung bagian terbesar dari puisi gnomic (hikmat) Perjanjian Lama. Puisi hikmat lainnya terdapat dalam Mazmur 1; 4; 10; 14; 18:21-27; 19; 37; 90; 112, dan juga dalam Habakuk 3.

Puisi hikmat dapat dibagi menjadi tiga kategori: (1) amsal-amsal populer yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran praktis dalam perbandingan pendek yang mencolok dengan alam, (2) teka-teki atau perumpamaan dengan pengertian rohani, (3) pembahasan panjang lebar mengenai masalah-masalah hidup.

Banyak syair hikmat dari daerah Timur Dekat zaman dahulu mencoba membuat persamaan antara dunia alami dengan kehidupan rohani manusia. Misalnya amsal orang Mesir tentang Amen-emopet (Ca. 1150-950 sM) tampaknya, mirip dengan Amsal 22:17-23:23. Meskipun begitu, kita tidak mempunyai bukti bahwa Kitab Amsal mengambil ide-ide dari amsal orang Mesir atau dari sastra kuno lainnya. Berbagai syair hikmat orang Yahudi berisi hikmat ilahi, yaitu kebenaran Allah yang dinyatakan. Selama masa hakim-hakim, para pemimpin Yahudi memakai teka-teki, amsal, dan dongeng perumpamaan untuk menyampaikan kebenaran Allah (Hak. 14:14, 18; 8:21; 9:6-21).

Pada zaman purba, raja-raja mempunyai orang-orang bijaksana di istana mereka sebagai penasihat. Suatu golongan khusus yang terdiri atas orang-orang bijaksana melayani di istana raja-raja Israel mulai dari zaman Raja Saul (sekitar 1043 sM). Orang-orang bijaksana ini memberi nasihat kepada raja dalam urusan pemerintahan (Yer. 18:18). Orang-orang yang lebih muda belajar di bawah pimpinan para penasihat ini dan mulai mencatat ajaran mereka (Ams. 1:6; 22:17). Kemudian hari, tulisan-tulisan ini dikumpulkan untuk menyusun sastra hikmat Perjanjian Lama.

Ada juga banyak orang bijaksana yang tidak melayani di istana. Adakalanya hikmat mereka dikenal sebagai "hikmat populer." Rupanya orang-orang bijak seperti itu berfungsi sepanjang zaman Perjanjian Lama, sama seperti yang terdapat di antara bangsa-bangsa lain di Timur Dekat zaman kuno. Kita membaca mengenai hikmat kota Abel (II Sam. 20:18). Yeremia berbicara tentang orang-orang bijak sebagai sumber pengetahuan di samping para imam dan nabi (18:18).

almanac 
 VI. Puisi Perjanjian Baru. 
sembunyikan teks

Tidak ada kitab Perjanjian Baru yang seluruhnya ditulis dalam puisi, namun banyak puisi terdapat dalam Perjanjian Baru. Ada juga banyak bagian prosa yang bersifat sangat puitis.

Paulus mengutip dari berbagai pujangga klasik. Ketika berkhotbah kepada para cendekiawan Yunani di atas Areopagus ia mengutip dari sebanyak tiga pujangga: Epimenides dari Kreta (Kis. 17:28, "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada"), Aratus dari Kilikia dan/atau Kleantes, seorang filsuf penganut aliran Stoa (Kis. 17:28, "Sebab kita ini dari keturunan Allah juga"). Di Titus 1:12 ia kembali mengutip Epimenides ("Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas), dan di I Korintus ia memakai perkataan Menander ("Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik"). Ada banyak fragmen yang jelas bersifat puitis dalam tulisan tulisan Paulus. Beberapa ahli menganjurkan bahwa fragmen-fragmen tersebut semula adalah bagian-bagian dari nyanyian-nyanyian pujian kristiani yang awal. Fragmen-fragmen ini menggunakan bermacam-macam paralelisme, atau setidak-tidaknya menggunakan bahasa berirama yang sangat agung, yang mungkin telah dilagukan (mis., I Tim. 3:16; II Tim. 2:11-13; Ef. 5:14 dan Flp. 2:5-11).

Bagian-bagian lain yang bersifat puisi di Perjanjian Baru secara langsung mengikuti pola petikan-petikan Perjanjian Lama. Ada lebih dari 200 petikan langsung dari Perjanjian Lama dan barangkali 2000 sisipan sastra. Delapan bagian seperti itu terdapat di Lukas ps. 1 dan 2 (1:14-17, 32-33, 35, 46-55, 68-79; 2:14, 29-32, 33-35). Berapa bagian ini terkenal di antara orang-orang karena digunakan dalam ibadat umum yang formal.

Lukas 1:46-55 terkenal sebagai Magnificat ("Jiwaku memuliakan Tuhan"), karena kata-kata pembukaannya dalam terjemahan bahasa Latin. Pencurahan isi hati Maria mengungkapkan bahwa ia mendalami Perjanjian Lama. Ia menyinggung nyanyian Hana (I Sam. 2:7) dan beberapa Mazmur (mis., Mzm. 31; 113; 126). Kalimat pembukaannya benar-benar sama dengan terjemahan Mazmur 31:8 dalam bahasa Yunani. Syair ini terdiri atas tiga atau empat stanza yang mengulang puji-pujian yang terkenal dari perspektif nubuat, yang memuliakan kasih karunia, kemahakuasaan, kekudusan, keadilan, dan kesetiaan Allah.

Lukas 1:67-79 terkenal sebagai Benedictus, dari terjemahan kata pembukaannya dalam bahasa Latin, "terpujilah." Syair ini juga penuh dengan berbagai rujukan langsung kepada puisi Perjanjian Lama, seperti Maleakhi 3:1; Yeremia 11:5; dan Mazmur 41; 72; 106; 107, 111; 132; 105. Persamaannya sangat mencolok. Syair ini mempunyai dua stanza; stanza yang pertama mempunyai tiga larik (68-69, 70-72, 73-75) dan yang kedua mempunyai dua larik (76-77, 78-79).

Lukas 2:14 terkenal dengan versi Latin dari kata-kata pembukaannya, Gloria in Excelsis ("Kemuliaan di tempat yang mahatinggi"). Syair ini terdiri atas dua bagian. Setiap bagian mempunyai tiga bagian dalam urutan puitis a:b:c::b:a:c. Walaupun syair ini sesuai dengan ajaran-ajaran Perjanjian Lama, tidak terdapat persamaannya dalam Perjanjian Lama, berbeda dengan kedua syair yang disebut sebelumnya.

Lukas 2:29-32 juga dikenal dengan kata-kata yang pertama dari terjemahannya dalam bahasa Latin - yaitu, Nunc Dimitis ("Sekarang, biarkanlah pergi . . . "). Syair ini mempunyai dua stanza (29-30, 31-32). Stanza yang pertama menyatakan arti kedatangan Mesias bagi si pembicara dan stanza kedua menyatakan arti kedatangan tersebut bagi dunia. Syair ini sangat indah dan mengharukan.

Kitab-kitab Injil dan Surat-Surat berisi banyak bagian yang menggunakan berbagai metode puitis yang terkenal atau diutarakan dalam bahasa yang sangat bersemangat dan mengalir dengan lancar. Semua sifat khas ini terdapat dalam Khotbah di Bukit. Dalam khotbah tersebut Yesus tampil sebagai seorang pengajar dari Perjanjian Lama yang mengajarkan hikmat. la menyerang berbagai penyalahgunaan agama yang berlaku serta mencemoohkannya (yaitu, Ia memakai sytir atau gaya bahasa yang menyatakan sindiran).. Bagian pembukaan dari khotbah-Nya (Ucapan Bahagia) menggunakan paralelisme yang begitu terkenal dari puisi Perjanjian Lama. Seluruh nada penyajian-Nya berlawanan dengan apa yang biasanya terdapat dalam sastra klasik. "Jelaslah, Yesus sedang menetapkan patokan-patokan ideal yang berbeda dari patokan-patokan yang didukung dalam kesusastraan."

Beberapa ayat dalam Kitab Yakobus mengingatkan irama dan sifat-sifat sastra dari Khotbah di Bukit. Surat-surat yang lain berisi beberapa enconium (nyanyian puji-pujian yang puitis), seperti puji-pujian terhadap Kristus yang menjelma menjadi manusia (I Kor. 15:20), puji-pujian terhadap kasih (I Kor. 13), dan puji-pujian terhadap iman (Ibr. 11). Bagian-bagian lain yang agung meliputi Roma 8:35-38; I Korintus 15:51-57; dan Yudas 24-25.

Kitab Wahyu berisi banyak mazmur atau himne dan syair (bdg. 4:8, 11; 5:9, 12-13; 7:15-17; 11:17-19). Syair-syair ini menggunakan bermacam-macam paralelisme yang mengingatkan kita pada puisi kenabian di Perjanjian Lama. Namun, syair-syair tersebut berbeda dari Perjanjian Lama, sebab mempertalikan berbagai gelar, nama, dan kesempurnaan Allah dengan Yesus Kristus. Tambahan pula, Kitab Wahyu ditandai oleh simbolisme yang kuat, pengulangan, struktur paralelisme, dan lain sebagainya. Semua materi penglihatannya dituliskan dalam jenis prosa puitis yang gembira.



TIP #27: Arahkan mouse pada tautan ayat untuk menampilkan teks ayat dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA