Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  24. Sastra Alkitab > 
IV. Sejarah Perjanjian Baru. 
sembunyikan teks

Para penulis Perjanjian Baru hidup pada suatu masa ketika kesenian sastra sejarah mulai berkembang. Para sejarawan Yunani dan Romawi telah meninggalkan kisah-kisah yang menarik dari kebudayaan mereka.

Akan tetapi, sejarah Perjanjian Baru lebih daripada sekadar suatu laporan budaya. Ini merupakan catatan mengenai interaksi Allah dengan umat manusia melalui kehidupan seorang dari Nazaret yang bernama Yesus.

 A. Kitab-Kitab Injil.
sembunyikan teks

Kitab-kitab Injil tidak mempunyai paralel yang tepat dalam sastra kuno. Tidak satu pun dari kategori-kategori sastra biasa yang cocok untuknya.

Injil-injil itu bukan kisah kepahlawanan. Kisah kepahlawanan adalah suatu cerita tunggal yang menyatu - yakni, ada satu alur cerita. Struktur kitab Injil terdiri atas berbagai fragmen. Unsur-unsurnya boleh disusun kembali atau bahkan dapat ditiadakan tanpa merusak jalan narasi itu.

Dalam hal ini, Injil-injil lebih paralel dengan struktur sebuah tawarikh, seperti yang kita lihat dalam kitab-kitab sejarah Perjanjian Lama. Memang, ragam Injil sejalan dengan konsep sejarah yang terdapat dalam dokumen-dokumen ini. Namun, tawarikh Perjanjian Lama memusatkan perhatian pada kisah bangsa (kerajaan) itu, sedangkan Injil-injil memusatkan perhatian pada seseorang atau protagonis (tokoh utama).

Kisah-kisah biografi di Perjanjian Lama (mis., biografi Elia) mengandung beberapa kesamaan dengan Injil-injil. Namun, biografi itu tidak mempunyai percakapan yang panjang dan metode parabola yang begitu mencolok dalam Injil-injil. Selain itu, biografi Perjanjian Lama terjalin dalam seluruh struktur "sejarah kerajaan" itu. Injil-injil tidak dapat dinamakan biografi karena tidak mempunyai rekonstruksi yang rinci mengenai kehidupan subyeknya. Sesungguhnya, banyak bagian dari kisah kehidupan Yesus tidak ada - unsur-unsur yang sangat diperlukan dalam sebuah biografi.

Pasti, Injil-injil itu bukan suatu tragedi. Walaupun tokoh utamanya menghadapi banyak tragedi dan akhirnya meninggal dunia, kisah-kisah ini tidak sesuai dengan struktur tragedi. Yesus tidak dikalahkan oleh nasib yang tak terkendalikan; Ia sepenuhnya menguasai setiap saat dan keadaan. Dengan sukarela Ia menuju kematian-Nya, dan tidak sebagai seorang pahlawan yang dikalahkan. Kematian-Nya adalah kemenangan-Nya. Itu bukan akibat suatu keputusan moral yang tragis pada pihak-Nya, tetapi merupakan tindakan klimaks dari jalan yang telah dipilih-Nya secara sadar yang menuju kemenangan dan pemuliaan. Dalam sastra tragis, sang pahlawan dikagumi karena ia menerima kekalahan yang dipaksakan kepadanya sekalipun ia tidak patut menerimanya. Alangkah berbeda dari alur cerita yang dipaparkan< dalam kitab-kitab Injil!

Memang, kitab-kitab Injil itu lebih dari sekadar risalat-risalat teologi. Sudah barang tentu, setiap Injil menyajikan gambaran yang agak berbeda tentang Yesus. Akan tetapi, Injil-injil tidak mempunyai pembahasan sistematis mengenai satu tema atau tema-tema tertentu, yang menjadi ciri dari risalat teologi.

Injil-injil ini pun bukan esai, karena esai tidak mempunyai urutan narasi yang selalu ada dan yang begitu menonjol dalam kitab-kitab Injil. Kitab-kitab ini agak sama dengan sejarah klasik, kecuali percakapannya tidak mengikuti pola gaya bahasa dari retorika Yunani. Seperti sejarah dari kitab Kisah Para Rasul, kitab-kitab Injil adalah sejarah religius atau biografi religius. Mutu sastra yang khas dari percakapan-percakapan Yesus memperlihatkan bahwa semuanya itu berasal dari satu kepribadian yang sangat kreatif.70

 B. Kitab Kisah Para Rasul. 
sembunyikan teks

Perbandingan antara kitab Kisah Para Rasul dengan buku-buku lain di luar Alkitab telah memberikan hasil-hasil yang menarik. Para penyelidik bahasa-bahasa Yunani klasik telah menarik kesimpulan bahwa Lukas adalah seorang sejarawan menurut tradisi Thucydides dan Polybius. Hal ini dapat dilihat dengan baik sekali dalam pidato atau khotbah yang tercatat dalam Kisah Para Rasul. Para sejarawan Yunani menggugah pidato-pidato yang mereka laporkan, tetapi memperhatikan dengan saksama apa yang sebenarnya telah dikatakan oleh sang pembicara. Akan tetapi, ketika menulis kitab Kisah Para Rasul, Lukas barangkali membuat catatan dalam tulisan steno dari pidato yang didengarnya, dan dari kenangan orang lain tentang hal-hal yang telah mereka dengar. Misalnya, amanat Paulus kepada para penatua jemaat Efesus yang mengadakan pertemuan dengan dia di Miletus (Kis. 20:17-38) dengan jelas mencerminkan konsep-konsep Paulus, sedangkan amanat-amanat yang dihubungkan dengan Petrus (Kis. 2:14-40; 3:12-26; 4:8-12; 10:34-43) tidak mencerminkan konsep-konsep Paulus ataupun Lukas, tetapi mencerminkan bahasa dan konsep-konsep yang terdapat dalam Surat I Petrus. Semua amanat atau khotbah dalam Kisah Para Rasul mencerminkan pola umum yang sama, yang mungkin mencontoh susunan khotbah Kristen yang mula-mula.

Akan tetapi, janganlah kita dengan tergesa-gesa menarik kesimpulan bahwa Lukas adalah seorang penulis tawarikh yang hanya mencatat rangkaian peristiwa yang telah terjadi. Retorika (yaitu, cara pemakaian kata-kata), diksi (pilihan kata yang bermakna tepat), struktur, dan teologi kitab ini mengandung ciri-ciri dari tulisannya yang unik. Seperti semua sejarawan, Lukas menyampaikan suatu interpretasi mengenai sejarah.

Secara keseluruhan susunan kitab ini disesuaikan untuk memperlihatkan bagaimana Injil telah disebarkan dari Yerusalem sampai "ke ujung bumi" (yaitu, Roma ibukota kekaisaran itu) dan bagaimana pusatnya bergeser dari orang-orang Kristen Yahudi kepada orang-orang Kristen bukan Yahudi. Banyak hal yang tidak relevan dengan tema ini diabaikan. Yang terutama kelihatan dalam hal ini adalah cara mencatat pelayanan para rasul. Satu-satunya rasul dari 12 rasul yang mula-mula, yang digambarkan dalam kitab ini adalah Petrus, dan dengan segera ia menjadi kurang penting ketika Paulus muncul.

Pada pihak lain, ada bukti yang jelas bahwa kitab ini bukan sekadar sebuah karya teologia. Gaya bahasa Yunani yang khas dari Lukas menandai bagian terbesar kitab ini. Kitab ini merupakan karya tulisan yang amat indah dalam bahasa Yunani yang terdapat di Perjanjian Baru. Hal ini terutama dapat dikatakan mengenai bagian-bagian di mana Lukas memakai kata ganti "kami", ketika ia melaporkan sebagai seorang saksi mata tentang peristiwa-peristiwa yang diceritakannya kembali (bdg. Kis. 16:10-17; 20:5-21:18; 27:1-28:16). Beberapa bagian lain dituliskan dalam gaya budaya yang sama. Barangkali Lukas telah menulisnya berdasarkan wawancara dengan beberapa saksi mata yang lain.

Bagian-bagian lain lagi ditulis dalam gaya yang lebih kasar yang ditandai oleh berbagai "Semitisisme" (yaitu, pencerminan pilihan kata bahasa Ibrani atau bahasa Aram). Bagian-bagian ini mungkin mencerminkan penggunaan sumber-sumber yang ditulis dalam bahasa Semit.72

Para penafsir tidak sependapat mengenai jenis sastra di mana kitab Kisah Para Rasul tergolong. Memang, kitab ini tidak memiliki ciri-ciri sebuah biografi, cerita kepahlawanan atau epik. (Dalam kitab ini tidak terdapat seorang tokoh politik yang utama.) Ada banyak kesamaan dengan penyajian Perjanjian Lama tentang kerajaan itu (Samuel, Raja-Raja dan Tawarikh). Akan tetapi, tawarikh Perjanjian Lama ini melaporkan sejarah kerajaan itu dari sudut pandang teologis yang berbeda-beda, yang sangat berpengaruh pada pilihan dan susunan peristiwa-peristiwa tertentu. Oleh karena itu, kitab-kitab tersebut bukanlah catatan yang netral mengenai hal-hal yang terjadi dalam suatu kurun waktu tertentu. Seperti kitab Kisah Para Rasul, maka kitab-kitab ini pun berisi pidato-pidato yang diringkaskan. Namun, pidato-pidato dalam Kisah Para Rasul lebih sering dan lebih panjang daripada pidato-pidato dalam kitab-kitab sejarah Perjanjian Lama ini. Pidato dan khotbah memainkan peranan penting dalam struktur kitab Kisah Para Rasul - mis., khotbah Petrus pada hari Pentakosta (Kis. 2:14-39), pidato Paulus di atas Areopagus (Kis. 17:16-31), dan amanatnya kepada para penatua jemaat Efesus (Kis. 20:18-35).

Lukas menceritakan detail-detail yang relevan dengan thesis pokoknya saja (berbeda dengan sejarawan Yunani). Hasil akhirnya adalah sastra yang indah. Struktur karya ini secara keseluruhan dan struktur tiap-tiap subdivisi menyajikan keseimbangan yang sangat baik antara kesederhanaan dan kejelasan. Lukas memperkenalkan tiap tokoh utama dan menguraikan kehidupannya hanya sejauh tokoh tersebut menambah pada tema utamanya. Tema-tema yang kurang penting diperkenalkan, diuraikan, dan dikesampingkan secara tidak mencolok. Demikianlah, Lukas menggabungkan masing-masing kesatuan menjadi suatu keseluruhan yang harmonis. Dalam banyak hal, setiap unit merupakan sebuah cerita yang lengkap dengan bagian permulaan, tengah, dan akhir (mis., Kis. 1-2).

Dengan menganalisis pidato Paulus di atas Areopagus (Kis. 17) dari sudut pandang sastra, maka Ryken lebih lanjut mendukung tesis bahwa Lukas menulis sebagai seorang sejarawan.73 Ia memperhatikan bahwa setiap pidato tersebut mengikuti aturan seni pidato Yunani dan Latin. Ayat 22-29 adalah kata pendahuluan (exordiurn) dan disusun menurut aturan seni pidato klasik yang terkenal. Ayat 30-31 memperkenalkan tesis utama dari pidato Paulus (proposotio). Akan tetapi, sebelum ia dapat melanjutkan dengan mempertahankan tesis ini, pidatonya dipotong. Ryken memperhatikan bahwa pidato dan surat Paulus lainnya mempunyai gaya yang serupa.



TIP #04: Coba gunakan range (OT dan NT) pada Pencarian Khusus agar pencarian Anda lebih terfokus. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA