Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 12 No. 1 Tahun 1997 >  YESUS SEBAGAI PENDIDIK > 
II. BEBERAPA STUDI TENTANG YESUS SEBAGAI GURU 
sembunyikan teks

Di atas kita telah menyimak beberapa studi berkaitan dengan kehidupan dan teladan Yesus dihubungkan dengan etika, penginjilan dan konseling, berikut ini kita akan membahas beberapa karya yang menyingkapkan prinsip dan praktek Yesus sebagai pendidik dan pengajar.

Romo Banawiratma dalam "Yesus Sang Guru" secara khusus mengupas pekerjaan Yesus sebagai Guru berdasarkan Injil Yohanes. Banawiratma menyimak begitu banyaknya penegasan berkaitan dengan diri dan tugas Yesus sebagai Guru di dalam Injil itu. Semua nats yang berkaitan dengan sapaan Guru dan murid dibahas. Dalam tugas-Nya sebagai Guru, Yesus menekankan kebersamaan atau persekutuan. Melalui persekutuan itu para murid melihat Yesus sebagai sosok yang penuh dengan pengetahuan, hikmat dan wibawa atau kharisma serta kedalaman spiritual. Sang Guru itu dilihat murid-murid-Nya sanggup menuntun mereka mencapai hidup dan kemuliaan. Karena itulah para murid menggantungkan diri kepada Yesus. Mereka rela belajar daripada-Nya. Sebaliknya, Yesus sebagai Sang Guru mereka, menuntut kesetiaan, kerendahan hati, iman dan percaya bahkan ketaatan sampai akhir dalam mengikuti perintah dan keteladananNya. Semua pemikiran keguruan Yesus ini diperhadapkan oleh Banawiratma dengan keguruan yang diperankan oleh guru-guru dalam komunitas kebatinan dan kejawen dalam masyarakat Jawa. Dialog itu amat mengesankan dan berguna bagi pembinaan warga gereja.

Kehebatan Yesus sebagai Pendidik maupun Pengajar telah mendorong Andar Ismail, dosen dan pakar Pendidikan Agama Kristen (PAK) STT Jakarta menulis buku-buku pembinaan warga jemaat di sekitar tema kehidupan Yesus. Dalam karya "Selamat Mengikut Dia" dan "Selamat Paskah" misalnya, diungkapkan bagaimana kehebatan Yesus dalam setiap kesempatan pekerjaan maupun pelayanan-Nya yang amat kreatif, penuh kuasa dan wibawa. Andar Ismail ingin mengajak para pembacanya untuk belajar lebih banyak dari diri Yesus Kristus yang dikisahkan dalam Injil. Dalam tulisan "Selamat Mengikut Yesus," Andar menyinggung bagaimana Yesus sebagai manusia sejati pun belajar banyak pada masa kecil-Nya. Itu juga salah satu faktor yang membuat diri-Nya tampil sebagai Pengajar yang hebat. Kemudian dalam uraian mengenai peristiwa di jalan menuju Emaus, Andar menyimak bagaimana kehebatan Yesus sebagai Pengajar menghadapi murid yang keliru, lamban dan dalam ketakutan. Dalam keadaan demikian, Sang Guru itu hadir, mendampingi, mendengar, mengajar dan bahkan melayani. Perbuatan terakhir itulah yang mencelikkan pengertian kedua murid dan segera membuat mereka berkobar-kobar menjadi saksi dari Yesus yang bangkit. Andar seolah ingin menyatakan kepada para pembacanya, betapa hebat ilmu dan filsafat mengajar Sang Mesias itu! Itu patut dan harus diteladani!

Dalam tulisannya yang lain, Witnessing for Jesus secara jelas ia mengemukakan siapa Yesus yang perlu kita beritakan melalui kehidupan. Menurutnya, Yesus itu unik dalam kepribadian, dalam kehidupan bahkan pengajaranNya. PengajaranNya transformatif, mengubah hidup. Dalam satu bagian karya itu, ia mengatakan: "Yesus itu unik. Dia menawarkan dasar hidup dan sikap baru. Dia menghadirkan pendekatan baru terhadap hubungan manusia dengan Allah serta dengan sesama-Nya. Dengan berjalan di belakang Yesus, kita akan hidup secara berbeda, dalam arti lebih tulus dan lebih manusiawi. Sebab dalam Yesuslah kita simak kemanusiaan sejati yang tidak hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk Allah dan sesama-Nya. Dalam Yesus kita lihat model bagi pandangan dan praktek kehidupan. Dengan mengikut Yesus, kita dapat hidup dengan suatu kehidupan oleh pertolongan Allah guna mampu menolong sesama." Pemikiran inilah yang mendasari gagasannya mengenai strategi bersaksi bagi Yesus melalui gereja di dalam dunia, agar rela menanggung harga dan juga menunaikan tugas kesaksian melalui pendidikan.

Herman H. Horne dalam karya klasiknya Teaching Techniques of Jesus mendasarkan pemikirannya mengenai pendidikan dan pengajaran pada prinsip pengajaran Yesus guna menolak gagasan pendidikan John Dewey yang amat humanis masa itu di Amerika. John Dewey menolak pelajaran agama Kristen diberikan di sekolah umum. Bagi Dewey sekolah harus mengarahkan anak didik menjadi dirinya sendiri oleh kekuatan yang ada padanya. Para guru di sekolah harus belajar teori dan praktek keguruan dari sumber-sumber ilmiah dan rasional, bukan dari tradisi agama Kristen. Sebaliknya bagi Horne, kehidupan dan ajaran Yesus harus menjadi dasar filsafat guru Kristen. Dalam rangka pembentukan filsafat itu, Horne mengemukakan bahwa peristiwa di mana Yesus mengajar seorang wanita di Samaria dan menuntunnya dari kebodohan kepada keputusan menerima Sang Mesias, merupakan perbuatan yang menakjubkan. Horne terpesona terhadap pendekatan Yesus yang akrab, simpati, dan empati, bersifat mendorong dan menantang hingga mendesak untuk mengambil keputusan atau pilihan yang tepat. Banyak lagi bagian kitab Injil yang menarik perhatian Horne berkaitan dengan tugas Yesus sebagai Pendidik dan Pengajar. Berdasarkan penelitiannya terhadap nats keempat Injil, Horne membangun pemahamannya atas dasar bagaimana Yesus menarik perhatian murid atau audiens-Nya; membangun jembatan komunikasi; merumuskan dan mencapai tujuan-Nya; mengajukan dan menyelesaikan masalah; bercakap-cakap secara pribadi; bertanya dan menjawab pertanyaan; menguraikan pengajaran; mengemukakan contoh atau ilustrasi; menggunakan Kitab Suci; memakai situasi menjadi bahan pengajaran; memulai pengajaran; membuat perbandingan; memberi nilai terhadap apa yang diamati; menggunakan simbol; menghadapi pribadi, kelompok, maupun massa; mendorong dan bahkan mengajar anak-anak.

J.M. Price, dalam karya "Yesus Sang Guru" mengetengahkan kekagumannya juga terhadap pribadi dan praktek Yesus khususnya sebagai pengajar. Ada empat hal yang menarik yang dikemukakan oleh Price dari studinya terhadap hidup dan pekerjaan Yesus sebagai pengajar.

Pertama, wewenang Yesus sebagai pengajar. Wewenang Yesus sebagai pengajar nyata dari pernyataan-Nya, pernyataan murid-murid dan pengakuan orang lain, seperti Nikodemus seorang tokoh Farisi (Yoh 3:1-2). Wewenang itu nyata pula dalam perbuatan kasih-Nya bagi banyak orang. Dia mengajar atas dasar Firman Allah serta secara cakap membaca hati orang-orang yang dihadapiNya.

Kedua, kehebatan Yesus dalam menghadapi murid-murid-Nya dengan latar belakang yang berbeda. Murid-murid yang Dia latih dan bina, menurut Price ialah pribadi dan kelompok yang belum berkembang, impulsif, berdosa, kacau pikiran, bodoh, berprasangka dan tidak stabil.

Ketiga, Price menyimak Yesus sebagai pribadi yang mengajar secara terus terang dengan tujuan yang jelas pula. Tujuan Yesus dalam mengajar ialah membentuk cita-cita luhur dalam diri para murid-Nya, membentuk keyakinan yang teguh, memiliki hubungan dengan Allah dan sesamanya. Para murid didorongNya agar kreatif menghadapi masalah hidup sehari-hari dan memiliki watak yang bagus dalam menjalankan tugas pelayanan. Pengajaran Yesus berhasil dalam rangka mengangkat derajat para murid, mengubah kehidupan mereka agar percaya kepada-Nya.

Keempat, Yesus adalah pengajar dengan visi yang jelas dan besar yakni berkaitan dengan Kerajaan Allah. Menurut Price, Yesus senantiasa menyesuaikan pengajaran-Nya dengan keadaan dan kebutuhan para murid. Dia menyentuh suara hati mereka serta merangsang mereka untuk aktif berbuat. Bahan pengajaran Yesus diambil dari Perjanjian Lama diintegrasikan dengan peristiwa alam dan peristiwa yang hangat yang sedang terjadi. Dia menggunakan pepatah, ilustrasi, perumpamaan dalam memulai atau dalam menjalankan pengajaran. Bagi Price, susunan pengajaran pengajaran Yesus amat menarik, diawali pendahuluan, isi dan kesimpulan. Singkatnya, menurut price, metode Yesus amat variatif karena mencakup cerita, ceramah dan tanya jawab.

Suster Regina M. Alfonso membuat kajian yang begitu teliti terhadap nats Alkitab dalam Injil untuk mengetengahkan bagaimana tehnik Yesus dalam mendidik dan mengajar. Dalam How Jesus Taught: The Methods and Techniques of the Master, Alfonso mengemukakan alasan hingga begitu terpesona terhadap teknik pendidikan dan pengajaran Yesus. Selama dua belas tahun mendalami Injil ditambah pengalaman mengajar selama tigapuluh enam tahun di berbagai tingkat pendidikan, ia bertambah yakin bahwa tehnik pekerjaan Yesus Sang Guru amat relevan dengan dunia pendidikan masa kini.

"The teaching methods of Jesus are just as effective today as they were when he used them. His ideas are applicable for teachers of all levels and all areas of the curriculum, since sound principles built on the knowledge of learning and learners should be applied by any teachers" (h. 1).

Dari keempat Injil Regina menyusun bukti-bukti dalam situasi atau kesempatan apa Baja Yesus mengajukan atau menjawab pertanyaan, memakai ilustrasi atau perumpamaan, menarik perhatian dan sejenisnya yang berkaitan dengan teknik mengajar.

Pada awal tabun 90-an, Matt Friedeman (The Master Plan of Teaching, 1990) mengetengahkan hasil kajiannya mengenai keteladanan Yesus sebagai guru. Pertama, Friedeman memahami bahwa Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (inkarnasi) dan sebab itu Ia seratus persen manusiawi. Apakah artinya ini? Menurut Frideman, sebagai guru kita harus meneladani Yesus Sang Guru dalam hal kuasa dan hikmat yang berasal dari Roh Allah. Kebergantungan Yesus yang amat sempurna kepada Allah Bapa itu harus mewarnai pola pikir dan sikap kita jika ingin berhasil dalam tugas mengajar atau mendidik. Selain itu, teladan Yesus sebagai manusia sejati yang rela belajar, harus mendorong kita untuk rela berlatih, belajar mengembangkan diri dalam karunia yang Allah berikan guna mengajar orang lain.

Kedua, Friedeman menyimak bahwa sebagai Guru Agung, Yesus tahu apa Yang diperbuat-Nya dan mengerti bagaimana melaksanakan atau mewujudkannya. Yesus pun berkarya atas dasar tujuan yang jelas, yakni membina murid agar mengerti serta mengalami kekudusan Allah. Murid diajarNya agar menyadari diri sebagai hamba. Murid pun diajar agar hidup dalam relasi kasih dengan sesamanya. Friedeman menegaskan model ini untuk terus kita ingat dan kembangkan. Sebagai guru, kita adalah hamba yang melayani sesama, serta mengarahkan mereka berdamai dengan Allah.

Ketiga, bagi Friedeman cara Yesus melaksanakan tugas-Nya sebagai Guru amat mengagumkan. Yesus memang unik namun Dia menjadi sama dengan (identifikasi) murid-murid-Nya dan dengan orang-orang lain yang dilayaniNya. Dia membaca apa kebutuhan mereka, pergumulan serta tingkat pengertian mereka. Dia "menjadi satu" dengan berita yang disampaikan. Karena itu, menurut Friedeman, tidak heran mengapa Yesus begitu berotoritas. Hal itu tampak dalam pernyataan-Nya: "Aku berkata kepadamu..." atau "Aku adalah..." Teladan Yesus dalam kerelaan menjadi sama dengan orang yang dilayani ini, menurut Friedeman merupakan perkara yang harus berkembang dalam hati seorang guru jika ia hendak membawa pembaruan.

Keempat, Friedeman menyimak bahwa Yesus senantiasa mengarahkan murid mencapai target dalam hal apapun yang diperbuat mereka. Relasi di antara murid merupakan komunikasi itu sendiri. Artinya, relasi tidak hanya sebatas kata, ucapan dan peristiwa sewaktu-waktu. Kebersamaan di antara Yesus dan murid-murid-Nya adalah komunikasi dan relasi. Selain itu waktu dalam kebersamaan, bagi Yesus amatlah penting dalam rangka mewujudkan cita-cita-Nya. Dalam mengajar, Yesus membuat murid-murid aktif dan senantiasa di dalam keaktifan, apakah berpikir, merasa dan memberi respons serta berbuat. Dia mengajar sambil berjalan dan berbuat. Dia pun mengajar melalui perbuatan nyata seperti mujizat, diskusi dan tanya jawab. Dia senantiasa memberi dorongan untuk bertindak. Friedeman menyimak teladan ini harus mendasari nilai hidup dan pemikiran guru. Artinya, dalam perbuatan mendidik maupun mengajar, guru harus menekankan kebersamaan, keaktifan dengan tujuan jelas.

Kelima, Friedeman mengungkapkan bahwa Yesus tidak saja mendekati dan melayani orang banyak (massa) melainkan juga memberi perhatian bagi kelompok kecil hingga ke pribadi lepas pribadi. Dalam mencapai dunia dengan Injil, Dia nadir di Palestina di kalangan umat Yahudi. Di kalangan umat itu, Yesus mempunyai kelompok pengikut besar seperti kelompok 5000 orang, 4000 orang, 500 orang, 70 orang, 12 orang hingga ke pribadi-pribadi inti yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus. Apakah artinya ini? Menurut Friedeman, strategi membawa perubahan tidak dapat dilakukan hanya dengan satu pendekatan. Setiap kesempatan berinteraksi dengan manusia apakah pribadi atau kelompok bahkan dengan massa, mesti diupayakan dengan baik dan tepat. Dewasa ini guru juga dapat mempunyai kelompok inti dan kelompok kecil yang dapat ia jadikan sebagai pembawa pengaruh besar dalam artian positif.

Howard G. Hendricks dalam tulisannya Following The Master Teacher (dalam The Christian Educator's Handbook on Teaching, 1988) mengemukakan empat hal yang patut bahkan harus diteladani dari diri Yesus Kristus Sang Guru. Pertama, guru mesti meneladani Dia sebagai pribadi kongruen, realistis dan relasional. Kedua, guru perlu mencermati Dia yang punya berita yang berasal dari Bapa, relevan bagi manusia, orotitatif dan efektif. Ketiga, guru patut memahami Dia yang kreatif mendorong atau membangun semangat dengan kasih, penerimaan dan peneguhan (afirmasi). Keempat, guru harus meneladani Dia yang mengajar dengan metoda kreatif seperti terlihat dalam pertanyaan dan perumpamaan-Nya, bersifat unik, memikat dan berkembang.



TIP #20: Untuk penyelidikan lebih dalam, silakan baca artikel-artikel terkait melalui Tab Artikel. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA