Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 11 No. 2 Tahun 1996 > 
BUDAYA POPULER 
sembunyikan teks
Penulis: Joachim Huang{*}

({*}Joachim Huang adalah sarjana teologia dari Seminari Alkitab Asia Tenggara; sekarang melayani di Gereja Injili Indonesia Bandung dan menjadi dosen di STT Bandung.)

Budaya populer (populer culture) atau yang umum disingkat sebagai budaya pop mulai merebak di kalangan masyarakat modern pada abad ke 20. Pengaruh zaman yang memang tak terelakkan telah begitu kuat melanda negara-negara Barat di mana keterbukaan dan kebebasan menjadi ciri sekaligus aspirasi masyarakatnya. Seiring dengan arus deras globalisasi teknologi yang menyeruak ke seluruh permukaan planet ini, maka perkembangan budaya zaman itu terimbas ke mana mana dengan dampak yang sangat dahsyat.

Kalangan remaja atau anak baru gede (ABG), boleh di kata merupakan generasi yang paling cepat menyerap dan menerapkan segala jenis produk perubahan karena mereka adalah kelompok lapisan masyarakat yang paling terpengaruh langsung oleh budaya populer.

Kita tak dapat menutup mata terhadap pergeseran nilai-nilai budaya yang terus menerus terjadi akibat perubahan zaman. Pembangunan di satu sisi menjanjikan perbaikan kondisi hidup, tapi di sisi lain ia juga meninggalkan bahkan meningkatkan berbagai permasalahan negatif yang tidak kurang seriusnya. Bahkan tidak jarang dampak destruktifnya lebih cepat menyebar, lebih kuat dan lebih gawat dibandingkan daya konstruktifnya.. Contoh yang paling aktual adalah maraknya peredaran pil-pil "XTC" (baca Ecstacy) di kota-kota besar tanah air. Hampir setiap hari kita membaca atau mendengar terungkapnya kasus berkaitan dengan pil setan itu. Itu baru yang terbongkar, belum terhitung berapa lagi kasus yang tak sempat terungkap.

Tampaklah bahwa intensitas dan derap pembangunan ekonomi tidak proporsional dengan pembentukan mentalitas akhlak moral yang kuat, artinya, pesatnya pertumbuhan sektor fisik tidak diimbangi pertumbuhan mentalitas rohani. Akibatnya, terjadilah kemerosatan drastis atau dekadensi ketahanan diri terhadap ekses-ekses kejahatan. Sementara itu, kepercayaan terhadap kesigapan, kecakapan dan kewibawaan aparat penegak hukum digoncang sangat keras.

Benteng iman anak manusia di zaman ini sedang digerogoti tanpa ampun. Satu masalah belum dapat diatasi dengan terpadu dan tuntas, sudah merebak budaya kekerasan lainnya. Akhir-akhir ini, bagi sekelompok massa tertentu hal merusak, membakar atau menghancurkan, menutup rumah-rumah ibadah Kristen dengan semena-mena atau memaksa sudah semakin dianggap biasa. Di samping itu, berbagai gerakan keonaran, makar dan perusakan secara massal sudah membudaya. Hampir setiap sektor kehidupan: politik, ketenagakerjaan, tata niaga, dunia pendidikan hingga olah raga tak lepas dari sepak terjang ribuan "pengacau", "oportunist", "pecundang" maupun "preman", "para petawur", "vandalist" dan seterusnya yang amat mengganggu keamanan, bahkan menjurus ke modus kriminal. Entah berapa miliar sudah kerugian material akibat vandalisme itu, bahkan sejumlah nyawa manusia melayang sia-sia. Tragedi akibat merebaknya budaya kekerasan semacam ini tentu sangat melukai keberadaan dan keberadaban bangsa Indonesia secara umum. Secara khusus, tentunya hal itu memupus harapan para keluarga korban. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Artikel ini dimaksudkan untuk mengantarkan kita sekalian untuk memahami faktor-faktor pemicu dan secara kritis menilai arus budaya populer yang sedang menjangkiti masyarakat kita. Pada bagian akhir, penulis mencoba melontarkan gagasan-gagasan untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak perkembangan budaya zaman yang bertendensi destruktif.

 ANALISIS TERHADAP FAKTOR-FAKTOR PEMICU BUDAYA POPULER
sembunyikan teks

Budaya populer, sama seperti bentuk-bentuk budaya lain yang tumbuh kembang amat luas di dunia ini, tidaklah terlepas dari mandat budaya yang diamanatkan Allah Sang Khalik sendiri kepada manusia. Dari sanalah, manusia yang sudah diperlengkapi Allah dengan potensi daya pikir, bertindak, berkarya dan beradab akhirnya menciptakan berbagai produk budaya. Sekalipun oleh kejatuhannya dalam dosa, manusia terkutuk oleh Allah dan diusir dari Taman Eden, mereka dibiarkan oleh Tuhan Allah untuk melanjutkan kiprah hidupnya.

Jauh hari sebelum tibanya abad informasi global, manusia sudah menemukan berbagai keahlian dan kesenian seperti halnya Kain mendirikan kota (Kej 4:17), bangsa keturunan Yabal memelihara ternak dan tinggal dalam kemah (Kej 4:20); sedangkan keturunan Yubal adalah pemain musik kecapi dan seruling (Kej 4:21); serta para keturunan Tubal-Kain ahli dalam membuat segala macam perkakas dari tembaga dan besi (Kej 4:22) dst.

Peradaban atau pencapaian manusia dalam pelbagai bidang kehidupan terus berkembang. Dari zaman yang paling kuno dan primitif hingga yang paling kini dan pascamodern. Sekalipun lonjakan kemajuan budaya yang berhasil diraih oleh umat manusia, baik di dunia Barat maupun Timur demikian mengagumkan, sejarah pun mencatat bahwa kerapkali manusia terlibat dalam kancah peperangan. Peperangan dalam skala lokal sampai yang nasional, bahkan yang multi nasional (seperti Perang Dunia I dan II) merupakan unsur perusak budaya yang paling menonjol. Setelah pertempuran dan peperangan mereda, manusia terpicu dan terpacu untuk membangun kembali puing-puing reruntuhan. Setelah sejangka masa, manusia homo homili lopus kembali bersaing, bertarung dan saling membinasakan, yang berbuntut pada penghancuran peradaban itu sendiri. Demikianlah proses perubahan itu datang silih berganti hingga pada hari ini. Tampaknya trend ini masih akan berlangsung sampai tibanya hari kiamat. Apakah ada perbedaan antara kasus pembunuhan Habil oleh Kain dengan pembunuhan terhadap seorang wartawan Harian Bernas dari Yogyakarta? Motivasi, cara-cara atau kemasannya bisa berbeda tapi akibatnya tetap sama, yakni melayangnya nyawa manusia! Inilah manifestasi pelecehan yang paling hakiki terhadap harkat dan martabat manusia selaku makhluk ciptaan imago Dei.

Berbicara dalam konteks kerangka budaya, segala pencapaian atau prestasi prestisius manusia ternyata ditandai dengan hadirnya unsur perusak yang bisa bersifat internal atau eksternal. Faktor manusia sebagai pelaku utama terhadap pembentukan budaya sangatlah dominan di samping faktor faktor pendukung lain; seperti situasi lingkungan alam, sosial dan berbagai kondisi geo politik, selain kemajemukan tataran dan tatanan masyarakat. Karena telah tercemar oleh dosa maka segala produk budaya yang dihasilkan ataupun dikembangkan oleh manusia juga menyandang cacat bawaan diwarnai oleh dosa. Sejak jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa merasa malu tatkala menyadari dirinya telanjang. Lalu mereka memetik daun-daunan untuk menutupi ketelanjangan dirinya. Jadi, dapat dikatakan bahwa busana atau pakaian merupakan produk budaya paling awal setelah kejatuhan manusia. Usaha manusia pertama ini tentunya dibarengi perusakan tanaman sebelum akhirnya Allah membuatkan mereka cawat dari kulit hewan. Peristiwa di atas hanyalah contoh kecil namun dapat dianggap mewakili perusakan alam yang kelak terjadi secara besar-besaran, seiring kemajuan budaya manusia.

Seperti dinyatakan oleh Francis A. Schaeffer dalam bukunya yang terkenal "Escape From Reason", segala produk seni budaya, termasuk di dalamnya seni modern, musik, literatur dan film sudah terkena dampak kerusakan akibat dosa manusia; bahkan bidang sains, alam filsafat dan teologi pun tak luput dari imbasan dosa.

Saat ini, berbagai produk budaya populer dengan gencar ditawarkan di pasaran dunia. Salah satu diantaranya adalah musik metal. Musik keras ini begitu digandrungi kawula muda. Di seluruh dunia, ratusan juta orang yang menggandrungi musik ini. Secara bersama sepertinya penggemar dan penikmat musik ini telah membentuk suatu cita rasa dan selera tertentu yang seragam, yakni suka hura-hura dalam suasana kebisingan dan kegalauan emosi yang notabene amat potensial menyulut pelbagai tindak kekerasan. Betapa sering konser-konser musik cadas (hard rock) berakhir dengan kebrutalan yang tak terkendali, dan bermuara pada tindak perusakan, rupa-rupa wujud kebringasan dan tindakan amoral. Maka pengamatan A.W. Tozer sangatlah tepat untuk diungkapkan pada bagian ini:

"Penduniawian (proses sekularisasi) adalah salah satu bagian yang telah diterima sebagai gaya hidup masa kini. Cita rasa agamawiah kita lebih dititikberatkan pada perkara sosial daripada yang rohaniah. Kita telah kehilangan seni keindahan beribadah. Kita tidak lagi menghasilkan orang orang saleh. Model-model figur kita adalah orang-orang yang sukses dalam dunia usaha, para atlit yang digandrungi serta tokoh tokoh pribadi teatris (seperti budaya massa yang melahirkan anaknya si Jacko [sebutan untuk selebritis Michael Jackson]). Rumah-rumah kita sudah disulap menjadi teater-teater (tempat menikmati tontonan dengan iringan musik yang merdu). Bacaan-bacaan kita menjadi semakin dangkal serta himnologi (kidung pujian) kita telah terhempas pada batas-batas pencemaran terhadap yang suci, yang bernilai sakral. Dan yang celaka serta paling celaka: tampaknya jarang ada orang yang mau prihatin!" [sumber Journal Presbyterian, edisi 24 Agustus 1983, h. 15].

 MENILAI DENGAN KRITIS ARUS BUDAYA POPULER
sembunyikan teks

Pada awal bagian ini, sekilas kita akan menelaah berita-berita yang dipesankan budaya zaman serta memusatkan perhatian pada dampak selulernya terhadap umat manusia. Betapa pentingnya kita secara berkala memeriksa pikiran-pikiran maupun tindakan-tindakan kita sendiri dalam upaya mawas diri. Tanpa mawas diri, kita mungkin sekali untuk mudah terperangkap dalam rimba budaya dunia dengan arus-arus jeramnya yang demikian kuat menyeret orang yang tercebur di dalamnya.

Alam budaya populer pada zaman ini ditandai dengan sejumlah faham atau trend gaya atau nilai falsafah hidup berbentuk "isme" seperti yang berikut:

Materialisme: yang paling penting dalam hidup ini adalah memiliki kekayaan bendawi, aset atau harta yang bersifat material, uang dan alat tukar sejenis. Maka orientasi dan sukses hidup semata-mata diukur dengan standar kekayaan materi.

Eksistensialisme: yang terutama hidup hanyalah untuk momen saat ini. Itulah yang dimiliki pada hari ini, sehingga tak perlu repot-repot memikirkan kenangan masa lain maupun mengantisipasi perkembangan masa depan.

Individualisme: pribadi yang paling penting dalam hidup adalah diri sendiri. Tak perlu dicampuri oleh orang lain. Karena itu egoisme mutlak perlu dibangun agar diri mampu menyelesaikan segala sesuatu untuk kebaikan diri.

Hedonisme: yang harus menjadi obsesi seumur hidup adalah bersenang senang menikmati hidup. Tujuan hidup semata-mata adalah membahagiakan diri. Puaskanlah segala keinginan hati dengan melampiaskan hawa nafsu.

Sekularisme: Allah itu tidak penting karena hal agama sudah tidak relevan dalam menjawab kebutuhan manusia pada hari ini. Yang terbaik adalah mengandalkan potensi diri yang dianggap sudah dewasa dalam dunia ini.

Pragmatisme: Apa yang bisa diharapkan dan diterima adalah yang bisa jalan; artinya manusia harus bisa memutuskan pilihannya atas perkara-perkara atau metoda metoda hidup berfungsi. Semua kebajikan diukur dari hasil akhirnya.

Moral relativisme: Di dunia ini tidak ada hal yang absolut. Segala sesuatu itu tidak mutlak benar maupun tidak mutlak salah. Karena itu hiduplah dengan sewajarnya, tak perlu memperjuangkan apa yang dianggap paling benar.

Utopianisme: Pada dasarnya semua manusia itu baik. Dunia akan menuju kepada keadaan yang semakin membaik. Hanya ciptakanlah lingkungan hidup yang baik maka segala kejahatan akan pudar dan lenyap dengan sendirinya.

Fatalisme: Nasib hidup adalah suratan takdir. Manusia tak akan bisa menghindar dari gilasan zaman. Diri menjadi seperti apa adanya tidaklah terlepas dari perlakuan orang lain dalam sistem masyarakat yang dominan membentuk hidup.

Sebenarnya cukup banyak bentuk "isme" lain yang tumpang tindih membentuk budaya zaman. Sebut saja subjektivisme, egoisme, konsumerisme, oportunisme ("mumpungisme") naturalisme, romantisme, ateisme, ideologi kapitalisme, komunisme, rasionalisme, empirisisme, mistisisme, sinkretisme, pluralisme dan okultisme. Sedikit banyak warna warni nuansa "isme" ini bisa secara tak disadari atau tak sengaja telah menyusup dalam hidup kita. Kesemuanya ini tak terlepas dari akarnya yang tunggal yaitu bersumber pada natur manusia yang berdosa.

Seperti disinggung sebelumnya, produk budaya juga tak pernah bebas dari pengaruh dosa. Alkitab dengan gamblang memotret keadaan manusia berdosa. Penilaian Allah dalam Mazmur 14 misalnya, menyatakan bahwa perbuatan orang fasik itu jahat dan keji, tidak ada yang berbuat baik. Semua orang telah menyeleweng dan bejat adanya. Tampaknya, manusia pada zaman sekarang ini semakin tenggelam dalam lembah nista dosa. Paulus mengingatkan bahwa pada hari-hari terakhir akan ada banyak kesusahan. Mengapa? Karena manusia akan semakin mementingkan dirinya, bersifat mata duitan, sombong dan suka membual. Mereka suka menghina orang, memberontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, dan membenci hal-hal rohani. Mereka tidak mengasihi sesama, tidak suka memberi ampun, mereka suka memburuk-burukkan nama orang lain, suka memakai kekerasan, mereka kejam, dan tidak menyukai kebaikan. Mereka suka mengkhianat, angkuh dan tidak berpikir panjang. Mereka lebih suka pada kesenangan dunia daripada menuruti Allah. Meskipun secara lahir, mereka taat menjalankan kewajiban agama, namun menolak inti dari agama itu sendiri. (2 Timotius 3:1-5 dalam versi Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari). Bila budaya berdosa semakin populer dan diterima secara luas oleh semua kalangan atau lapisan masyarakat, ini adalah indikasi kuat dan serius bahwa moralitas zaman memang telah merosot tajam Dalam perspektif inilah, budaya populer dapat diibaratkan sebagai riak-riak akibat perbenturan antara gelombang zaman dengan karang kebenaran, kesucian, keadilan dan kesempurnaan kasih serta kemuliaan Allah yang tak pernah berubah. Oleh karena itu dalam menghadapi arus budaya populer, kita wajib menggantungkan diri pada tali keimanan yang berpangkal pada genggaman kuat Tuhan Allah Juruselamat sejati.

 MENGANTISIPASI, MENANGGULANGI DAN MEMPERBAIKI DAMPAK BURUK BUDAYA POPULER
sembunyikan teks

Tibalah kita pada bagian terpenting dari seluruh artikel ini. Bagaimanakah kita seharusnya bersikap dalam mengantisipasi perkembangan zaman? Apakah yang bisa kita andalkan dalam menanggulangi atau mencegah infiltrasi nilai-nilai yang ditawarkan oleh budaya populer baik secara terang-terangan maupun tersembunyi? Dan hal-hal apakah yang perlu kita garap dalam upaya menolong para korban budaya sekuler dewasa ini?

Gereja telah memasuki era baru globalisasi yang sangat kritis, suatu kurun masa yang ditandai oleh perubahan yang serba cepat dalam skala global. Dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih seakan tak terbendung lagi. Gejolak perubahan yang tidak atau kurang diantisipasi sebelumnya, maupun yang terlambat di pantau pasti harus dibayar mahal oleh setiap insan modern, tak terkecuali orang Kristen. Karena itu, tugas kita dan para pemimpin beserta aktivis Kristen pada khususnya, terasa semakin berat dan sulit sebab di satu sisi kita semua harus berpacu dengan waktu kedatangan Tuhan yang makin mendekat, dengan konsekuensi kesempatan bekerja lebih sempit lagi; sementara di sisi yang lain masih ada begitu banyak permasalahan yang menantang dan menuntut penanganan yang lebih serius dan tuntas. Jelaslah bahwa tekanan demi tekanan permasalahan global yang pelik mendesak Gereja Tuhan agar segera menghadapinya bila umat percaya ingin bertahan terhadap bahaya erosi dan krisis nilai kristiani. Kini, di seluruh medan hidup, umat Allah dituntut untuk bertindak dan terlibat langsung dalam membangun masyarakat "dusun global" ini.

Selaku garam dan terang dunia, gereja perlu menetapkan orientasi yang utuh dalam kancah pelayanannya. Tanpa upaya keras seperti ini orang Kristen akan mudah terjebak dalam status quo-nya, alias mandeg tak bertumbuh kembang. Kekaburan kita dalam melihat posisi diri di tengah-tengah medan perjuangan global dengan segala tantangan dan tuntutannya akan mengakibatkan dua gejala yang sama-sama tak menguntungkan; yaitu (1) bersikap takabur dan sembrono karena menganggap enteng situasi yang kita hadapi; atau (2) malah membuat kita kabur dari tugas panggilan misional yang telah Allah percayakan kepada kita dalam mandat kulturalNya. Karena itu marilah kita bersama-sama menguburkan segala impian kosong berupa sikap optimis semu tanpa tindakan apa apa. Sebaliknya mari kita kikis sifat mudah menyerah, sikap pesimis buta tanpa beriman sedikitpun. Yang paling ideal adalah kita mengantisipasi perkembangan budaya zaman dengan sikap realistis dengan memperhitungkan segala sesuatu secara cermat dan akurat, lalu bertindak bersama sama dengan bijaksana selaras dengan strategi yang Allah ajarkan kepada kita melalui sabda-Nya. Justru peranan Kitab Suci dalam hal ini sangatlah vital dan krusial dalam membaca tanda tanda zaman yang sedang bermunculan. Nubuat nubuat dalam Alkitab memerlukan pengkajian yang lebih saksama serta mendalam, sebab satu persatu peristiwa di dunia ini, termasuk produk-produk budayanya sedang digenapi.

Di samping kebenaran firman Allah, kita pun tak boleh mengabaikan realita sejarah yang membantu kita mengamati segala fenomen yang sudah terjadi sehubungan dengan perkembangan budaya zaman. Juga hasil analisa para futurolog dalam memantau trend perkembangan kontemporer bisa dijadikan bahan acuan penelitian yang sangat berguna.

Dengan dibekali tiga serangkai "f" di atas, yaitu "firman", "fenomen" dan "futurologi", seharusnya kita bisa mengambil ancang-ancang dalam mengantisipasi berbagai gejolak perubahan dan pergolakan arus budaya zaman. Namun, apabila kita berhenti sampai pada taraf sekadar mengetahui gerak gerik dan gejala perubahan, hal itu tidaklah mendatangkan banyak faedah. Oleh sebab itu, kita perlu mengembangkannya lebih lanjut dengan dua metode yang komplementer: prevensi dan kurasi. Secara aktif, konstruktif dan kreatif metode prevensi berurusan dengan segala tindakan pencegahan ekses-ekses negatif sedini mungkin, artinya mengefektifkan seluruh kemampuan dan kearifan untuk menahan serangan bertubi-tubi nilai-nilai perubahan dalam segenap aspek kebudayaan. Sebagai ilustrasi, penulis mengajukan sebuah contoh berikut. Kita semua mengetahui pengaruh kuat media massa terhadap pembentukan sikap/watak seorang anak. Akan tetapi, bila kita membiarkan program acara televisi menguasai alam pikiran anak-anak kecil, yang notabene belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat; mana yang benar dan mana yang sesat; mana yang lurus dan mana yang bias; mana yang berguna dan mana yang sia-sia; mana yang membangun dan mana yang merusak; demikian seterusnya..., maka adalah sangat riskan untuk membiarkan anak-anak mengkonsumsi tayangan yang diperuntukkan untuk orang-orang dewasa, yang belum saatnya dikonsumsi anak-anak, karena akibatnya bila fatal; anak-anak mulai mengadopsi tata nilai dari perilaku yang ditontonnya dari media audio visual itu. Pernah terjadi peristiwa nyata, dimana seorang anak balita melemparkan pisau kepada kakaknya. Ternyata diketahui kemudian bahwa sang bocah melakukan itu karena apa yang pernah disaksikannya dalam tayangan televisi. Dalam hal ini, memang ia belum mengerti apa itu bahaya, serta ia pun tidak mengetahui bahwa apa yang diperankan oleh para aktor dalam film hanyalah teknik animasi yang bukan sungguh sungguh nyata. Jadi langkah prevensi dalam kaitan dengan contoh kasus tadi yang mungkin diambil adalah mencegah anak mengakses pengetahuan yang belum patut baginya. Sebenarnya kita dapat menyesuaikan konsumsi dan porsi tayangan yang layak untuk di tonton anak-anak pada usianya, atau dengan cara mendampingi sang anak sewaktu menonton sambil memberikan ulasan informatif edukatif yang seperlunya agar ia terbimbing secara bijak dan bajik. Singkat kata, untuk menghadapi segala jenis produk budaya yang sekiranya bisa membahayakan atau berpotensi merusak, kita bisa melakukan tindakan pencegahan seawal mungkin sebelum hal yang tak dikehendaki terlanjur terjadi.

Seaktif-aktifnya kita membangun barikade pertahanan, toh itu tak menjamin bahwa kebobolan tak mungkin terjadi. Apabila yang tak kita harapkan itu sudah menjadi kenyataan, kita tak boleh membiarkannya berlarut-larut tanpa perbaikan. Sehubungan dengan problem ini, maka pembaharuan harus dikerjakan. Studi kasus lain juga dipaparkan di sini. Pergaulan bebas yang sudah membudaya pasti akan membawa bencana, baik cepat maupun lambat. Sewaktu orangtua menerima pukulan hebat karena anak gadisnya ternyata mengandung di luar pernikahan, apa yang bisa dilakukan olehnya? Barangkali masyarakat akan mencaci maki, membicarakan perihal kebusukan pola pergaulan anak-anak muda yang memang lepas kontrol dan sudah kelewat batas. Masyarakat juga bisa mencari "si biang keladi" untuk dipersalahkan. Namun semua reaksi ini pada dasarnya tak banyak berarti. Pepatah mengingatkan bahwa sesal kemudian tak berguna. Kalau demikian, solusi yang mungkin paling memuaskan adalah segera menangani si anak yang terkena "kecelakaan" itu secara bertanggung jawab dan tuntas. Tentu saja bukan dengan upaya pengguguran janin, lalu segala sesuatu dianggap beres. Malahan terkadang praktek aborsi menyeret banyak persoalan baru yang menambah kepelikan. Apabila kita ingin mencari jalan keluar yang dapat dipertanggungjawabkan secara iman Kristiani, kita mesti mengacu kepada pertimbangan dan keputusan yang dibangun atas kerangka prinsip-prinsip kebenaran alkitabiah. Pertama, dosa harus diakui, bukan ditutup-tutupi. Kedua, pengampunan harus diberikan kepada pihak yang sungguh-sungguh menunjukkan pertobatan sejati, yang tidak mengulangi perbuatan dosa yang sama. Ketiga, pembinaan dan pendidikan harus ditingkatkan, terutama bagi si korban dosa. Keempat, kalau mungkin, si anak yang lahir di luar perkawinan yang sah diadopsi atau dirawat orang yang bersedia dan bisa mengasuhnya. Bagaimanapun anak ini adalah manusia yang perlu dihargai keberadaannya terlepas dari latar belakang buruk orang tuanya. Kelima, semua rantai dosa dan ikatan kejahatan yang berkaitan dengan kasus ini hendaknya dipatahkan agar penderitaan dan persoalan serupa dapat ditekan jumlahnya. Walaupun harus kita akui bahwa melenyapkan sama sekali belenggu atau dampak dosa bukanlah hal yang mudah, namun toh harus dicoba untuk diselesaikan berdasarkan pertolongan dan pemulihan oleh Tuhan Allah. Inilah yang dimaksud sebagai contoh tindakan kuratif, yakni sikap dan semangat memperbaiki kondisi yang buruk dengan pilihan yang paling bijak demi membuahkan kebajikan terbesar. Pada prinsipnya, kita mungkin membaharui baik manusia, relasi antarpersonal, lingkungan hidup, kondisi masyarakat, sistem mekanisme, pola kecenderungan maupun praktek praktek perilaku yang muncul sebagai dampak buruk akibat budaya zaman. Lebih dari itu, tindakan proaktif lain yang patut dipikirkan adalah bagaimana membenahi dimensi moralitas warga masyarakat dengan memangkas atau membasmi langsung benih bibit budaya apa saja yang sudah jelas bersifat jahat. Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk jangan sampai didiamkan, karena lambat laun hal negatif tersebut akan menyuburkan karakter korup, yang pada gilirannya nanti malah dianggap umum atau biasa biasa saja. Justru inilah yang turut membentuk mentalitas dan budaya jelek yang seharusnya diberantas tuntas.

 RANGKUMAN PENUTUP
sembunyikan teks

Ulasan mengenai seluk beluk budaya populer pada setiap zaman demikian luas cakupannya, sehingga tak memungkinkan kita untuk membahasnya satu persatu dalam karangan sederhana ini. Meskipun ada keterbatasan tertentu, namun setidaknya kita sudah mengupas apa yang menjadi inti permasalahan pada budaya zaman, yaitu kebiasaan dan gaya hidup yang cenderung disebarkan secara meluas dalam kemasan trend "populer" agar mudah diterima oleh khalayak massa, sekalipun di dalamnya terkandung esensi dan tendensi dosa. Kondisi seperti ini memang tak bila dipungkiri lagi karena baik para pelaku, agen pembuat maupun penikmat budaya itu sendiri adalah insan manusia yang berdosa. Jelaslah bahwa nilai-nilai universal dalam setiap aspek budaya dalam kehidupan manusia tidak pernah luput dan bebas dari kecemaran dosa. Namun hal ini tak berarti bahwa kita sebagai makhluk berbudaya tak bisa mengantisipasi, menanggulangi, dan sekaligus memperbaiki dampak-dampak budaya. Apalagi, segenap orang Kristen telah diberi kepercayaan oleh Allah untuk berfungsi sebagai terang dan garam dunia. Kita pasti bisa membaharui budaya zaman berdasarkan kehendak, semangat dan kuasa pembaruan yang dinamis... yang bersumber pada Allah saja. Kalau demikian, benarlah yang dinyatakan oleh Stephen Olford: "What God expects us to attempt, He also enables us to achieve!" Ya, Apa yang Allah harapkan untuk kita upayakan, Dia sendirilah yang bakal memampukan kita untuk meraihnya! (sumber Moody Monthly Feb. 76 p. 82).



TIP #16: Tampilan Pasal untuk mengeksplorasi pasal; Tampilan Ayat untuk menganalisa ayat; Multi Ayat/Kutipan untuk menampilkan daftar ayat. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA