Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  20. Peperangan dan Senjata >  III. Cara Berperang. > 
D. Periode Kerajaan Terbagi. 
 sembunyikan teks

Pengaruh militer yang besar pada periode ini adalah negara-negara Mesopotamia yang besar seperti Asyur dan Babilonia. Perang berlangsung seperti sebelumnya, tanpa perubahan-perubahan khusus dalam cara menyerang atau dalam cara bertahan, kecuali dalam perbaikan persenjataan yang ada. Orang Asyur memperbaiki senjata-senjata mereka untuk menyerang, maka musuh mereka memperbaiki senjata-senjata mereka untuk bertahan, khususnya arsitektur kota-kota benteng mereka.

Kurun waktu ini mulai dengan perang di antara Kerajaan Utara dan Kerajaan Selatan (Israel dan Yehuda), ketika masing-masing berusaha menegakkan dirinya sebagai kekuatan yang merdeka. Pada waktu ini, Aram adalah saingan utama di daerah itu dan berperang melawan kedua kerajaan tersebut. Asyur sedang naik daun dan tidak lama kemudian akan menjadi pengaruh yang utama di Palestina. Meskipun Alkitab tidak memberi tahu banyak tentang Omri dari Israel, ia pasti seorang pemimpin militer yang amat cakap (885-874 sM). Sekitar seabad setelah pemerintahannya, naskah-naskah Asyur berbicara tentang kerajaannya sebagai "Tanah Omrit". Rupanya kemampuannya dalam perang dan politik, termasuk penaklukan Damsyik dari Aram dan perserikatannya dengan orang Fenisi, membuat dia dihormati oleh Asyur. Omri dan puteranya Ahab memperkuat kubu-kubu Samaria, ibu kota Kerajaan Utara. Walaupun kisah-kisah peperangan di Alkitab pada kurun waktu ini tidak terlalu rinci, berbagai monumen dan prasasti Asyur memberikan banyak gambaran yang rinci tentang kegiatan mereka di Timur Dekat, termasuk Palestina.

Senjata utama Asyur adalah kereta perang, meskipun orang Asyur juga menggunakan tentara yang bersenjatakan tombak, busur, umban, dan kavaleri dengan baik. Untuk melindungi tentara mereka, mereka memanfaatkan baju zirah yang bersisik dan perisai. Orang Asyur adalah ahli siasat perang yang baik sekali dan mereka mampu mengangkat tentara dan perlengkapan senjata mereka melintasi bermacam-macam daerah. Siasat perang mereka meliputi bertempur di bermacam-macam daerah, termasuk berbagai operasi yang bersifat amfibi.

Tawarikh bergambar Asyur memperlihatkan perkembangan kereta perang dengan amat terperinci. Mula-mula senjata untuk menyerang ini diawali oleh dua orang, kemudian oleh tiga orang pada masa pemerintahan Sargon (722 - 705 sM), dan akhirnya oleh empat orang pada masa Asyurbanipal (669-633 sM). Sebuah gambar timbul Asyur memperlihatkan perebutan kota Lakhis oleh Sanherib (704-681 sM). Gambar ini memperlihatkan sebuah kereta tempur Yehuda, yang mirip kereta Asyur, dengan kuk untuk empat ekor kuda. Kereta pribadi raja mempunyai awak tiga orang, dua tentara dan seorang pembawa senjata, yang diandalkan untuk keselamatan nyawa raja.

Israel, Kerajaan Utara, masih menggunakan kereta perang pada masa pemerintahan Ahab, karena catatan sejarah Salmaneser (859-824 sM) mengisahkan bahwa Ahab mengirim 2.000 kereta dan 10.000 tentara infanteri, mungkin bala tentaranya yang profesional, untuk membantu dia pada Pertempuran di Karkar. Sesudah pemerintahannya pasukan kereta Israel berkurang, hingga pada masa Yoahas (814-798 sM) ia hanya mempunyai 10 kereta, 50 tentara berkuda, dan 10.000 tentara infanteri (bdg. II Raj. 13:7). Israel, agaknya Yehuda juga, makin lama makin mengandalkan negara-negara besar dan memasuki masa "politik kekuasaan" untuk menjamin kelangsungan hidup mereka sebagai bangsa. Keadaan ini menunjukkan bahwa mereka masih kurang percaya kepada Allah Israel ketika mereka mengharapkan bantuan dari kekuatan dan persenjataan manusia, sehingga mendatangkan kecaman para nabi atas diri mereka (bdg. Yes. 31:1, 3).

Kisah Alkitab mengenai perang di antara Ahab, raja Israel, dan Benhadad, raja Aram (860-841 sM) memperlihatkan bagaimana umat Allah memenangkan beberapa pertempuran karena taktik mereka yang unggul, seperti mendesak musuh mereka ke dalam posisi yang tak dapat dipertahankan (lih. I Raj. 20). Benhadad telah mengepung Samaria dan menuntut penyerahannya (ay. 2-3). Karena mengira bahwa susunan kata surat tuntutan itu bersifat kiasan, maka Ahab setuju untuk menyerah dan berharap akan membayar upeti yang lazim (ay. 4). Akan tetapi, orang Aram ingin menjarah keluarga, istana, dan kota Ahab, jadi setelah berunding dengan para tua-tua, raja Israel sepakat untuk membayar upeti yang biasa saja daripada menyerah kepada semua tuntutan harfiah dari raja Aram (ay. 9). Maka terjadilah ancam-mengancam, dan Benhadad yang berkemah dengan balatentaranya di Sukot, beberapa kilometer di sebelah timur, maju dengan barisan depan pasukannya untuk merebut ibu kota Israel (ay. 12). Karena memerlukan waktu untuk mengatur barisan tentara pada waktu itu, Ahab sanggup mengerahkan pasukan-pasukan milisinya (ay. 15) lalu memasang perangkap bagi tentara Aram yang maju. Pada tengah hari mereka menyerang tentara Aram di sebuah lembah yang sempit dekat Tirza dan memukul mundur tentara Aram. Mereka mengejar tentara Aram yang melarikan diri itu sampai ke perkemahan mereka di Sukot dan mengalahkan mereka sama sekali, karena Benhadad dan perwira-perwiranya, yang yakin akan kemenangan barisan depan itu, telah minum sampai mabuk sehingga tidak mampu berkelahi (ay. 1621).

Lalu datanglah seorang nabi Tuhan yang memperingatkan Ahab bahwa pada musim semi Benhadad akan mencoba lagi untuk merebut Samaria. Musim semi adalah waktu yang paling disukai raja-raja benua timur untuk melancarkan ekspedisi penyerbuan mereka, karena pada musim itu balatentara mereka dapat mengadakan perjalanan dalam cuaca kering dan mencapai daerah musuh pada musim penuaian ketika para milisi petani sibuk di ladang dan tidak siap untuk berperang. Musim itu juga akan memungkinkan pasukan-pasukan mereka hidup dari bahan makanan di negeri yang sedang diserbu. Dalam pada itu, para penasihatnya memberi tahu Benhadad bahwa "allah" Ahab adalah allah gunung dan bahwa tentara Aram harus menjauhi daerah pegunungan dan bertempur di tanah raja, di mana kereta-kereta perangnya akan terbukti lebih unggul. Akan tetapi, Ahab menghadapi bala tentara Aram di sebuah celah gunung yang sempit yang menuju ke tanah dataran, dan dengan demikian berhasil mengalahkan kekuatan militer yang lebih besar dan lebih kuat. Pasukan-pasukan Benhadad melarikan diri ke Afek, yang kemudian dikepung dan direbut oleh Ahab. Benhadad menyerah dan memohon agar dikasihani. Bertentangan dengan firman Allah dengan perantaraan nabinya, Ahab membiarkan Benhadad hidup dan mengadakan perjanjian dengannya daripada mengandalkan "sekutu"-nya yang lebih besar - yaitu Allah (ay. 31-34, 42).

Yosafat, raja Yehuda, menggunakan siasat perang yang sama terhadap orang Moab, orang Amon, dan sekutu-sekutu mereka. Tentara musuh dihadang di salah satu ngarai Yehuda lalu dikepung dan tidak terlindung sama sekali sehingga mereka menyerah tanpa bertempur (bdg. II Taw. 20:16). Raja-raja Israel dan Yehuda sering kali menggunakan pengetahuan mereka tentang geografi Palestina untuk berperang dan memperoleh kemenangan atas musuh mereka (bdg. II Raj. 6:8-12; II Taw. 13:15-14). Satu kekecualian yang patut diperhatikan terjadi menjelang akhir kurun waktu ini ketika Raja Yosia berperang melawan Firaun Nekho (609-593 sM) dan memerangi dia di tanah datar dekat Megido bukannya memasang perangkap baginya di daerah perbukitan. Yosia gugur dalam pertempuran dan Yehuda dikalahkan. Ini merupakan siasat yang lazim pada zaman purba, karena membunuh raja berarti membunuh kepala angkatan bersenjata (lih. perintah Benhadad di I Raj. 22:31).

Setelah kemunduran kerajaan Aram muncullah kerajaan Asyur. Keunggulan bangsa Asyur dalam peperangan terbuka mendorong bangsa-bangsa yang lebih kecil di Timur Dekat untuk mulai membangun kubu-kubu yang lebih baik untuk bertahan terhadap pengepungan tentara Asyur. Rupanya kota-kota di Yehuda dan Israel berhasil melakukan hal itu, karena tentara Asyur sering kali digambarkan sedang mengepung kota-kota tersebut. Misalnya, pengepungan kota Samaria membutuhkan waktu tiga tahun, dan kemudian Tuhan memperingatkan Yehuda agar jangan terlalu mengandalkan kubu-kubunya (Yer. 5:17).

Untuk menandingi kubu-kubu yang telah diperbaiki dari musuh mereka, orang Asyur mengembangkan alat pendobrak menjadi senjata yang lebih efektif, tetapi musuh mereka membangun tembok-tembok kota yang baru dan lebih tebal untuk menentangnya. Satu jenis alat pendobrak Asyur mempunyai enam roda, kerangka kayu, dan sisi-sisinya ditutup dengan perisai-perisai anyaman rotan atau bahan ringan lainnya yang akan mencegah tombak atau anak panah untuk menembusnya. Alat-alat pendobrak ini sekitar 4,5 sampai 6,5 m panjangnya dengan lingkaran dasar sebesar 65 cm dan sebuah menara kecil berbentuk kubah yang mungkin ditutup dengan logam. Alat pendobrak itu digantung dalam menara ini dengan tali dan digunakan sebagai sebuah bandul. Lubang-lubang pengintip yang terdapat dalam menara itu memungkinkan awaknya mengarahkan mesin perang ini ke bagian tembok yang tepat untuk menembakkan anak panah kepada tentara pembela. Tinggi menara itu hampir 3 m dan bagian depan di mana terdapat pendobrak itu hampir 1 m tingginya. Kepala pendobrak ini bagaikan mata kapak besar dari logam, yang dihantamkan pada tembok-tembok batu dalam usaha untuk merobohkannya. Di antara awak alat ini terdapat orang-orang yang bertugas untuk menyiramkan air pada puntung-puntung berapi yang dilemparkan tentara pembela ke atas senjata ini (lih. alat pendobrak Sanherib, 705-681 sM). Tiglatileser III (745-727 sM), yang disebut "Pul" di Alkitab (II Raj. 15:19; I Taw. 5:26), mengembangkan alat pendobrak yang bergerak dengan empat roda, mempunyai badan yang lebih ringan daripada alat pendobrak sebelumnya, dan dapat dibongkar, diangkut, dan dipasang kembali dengan lebih mudah. Sanherib membuatnya lebih ringan lagi dan lebih mudah untuk dibongkar pasang. Sekitar satu abad kemudian, gambar-gambar dari pemerintahan Asyurbanipal (669-633 sM) tidak menunjukkan penggunaan alat pendobrak. Ia menggunakan tangga-tangga pemanjat karena agaknya ia menganggapnya pemborosan waktu untuk mengangkut alat-alat pendobrak yang berat ke kota-kota musuh.

Tentara Asyur juga menggunakan menara-menara yang dapat berpindah-pindah. Dari menara-menara ini tentara pemanah dapat melindungi gerak maju alat-alat pendobrak dengan memanah langsung pada tentara pembela di atas tembok-tembok. Agar senjata-senjata ini dapat didekatkan pada tembok-tembok kota, sering kali tentara penyerang akan membangun tembok-tembok pengepungan (bdg. Yeh. 4:2; 21:22) dari tanah dengan puncaknya dari batu-batu besar atau kayu gelondongan untuk menutup pematang yang tajam di tembok-tembok bagian bawah. Dengan demikian alat-alat pendobrak dan menara-menara pemanah dapat mendekati tembok kota.

Sering kali alat-alat pendobrak dipusatkan di satu tempat dekat tembok, sedangkan usaha untuk merusak atau memanjat tembok dilakukan di tempat-tempat lain. Gambar-gambar Asyur dari zaman itu memperlihatkan tembok-tembok musuh diserang dengan memakai alat pendobrak, kapak, pedang, tombak, api, tangga pemanjat, dan pengrusakan pada saat yang bersamaan. Hal ini memaksa tentara pembela untuk menyebarkan orang-orangnya sepanjang tembok daripada dipusatkan di satu tempat di mana terjadi bahaya pendobrakan. Para penyerang juga dilindungi oleh perisai-perisai yang bundar atau persegi panjang. Perisai persegi panjang itu setinggi tubuh manusia dan melengkung di bagian atasnya. Perisai-perisai itu melindungi orang-orang yang merusak tembok. Pasukan infanteri yang mendukung dipakai untuk membantu orang-orang yang menyerang tembok kota.

Suatu siasat lain yang digunakan oleh bala tentara yang mengepung adalah berusaha memutuskan semua pemasukan makanan dan air ke kota musuh (bdg. II Raj. 6:26-29, di mana kita membaca tentang kelaparan di Samaria ketika kota itu dikepung oleh orang Aram). Orang yang mempertahankan kota-kota mereka berusaha menyediakan dan memastikan adanya persediaan makanan dan air yang cukup apabila mereka menduga akan terjadi pengepungan. Para ahli Raja Hizkia menggali sebuah terowongan menembus hampir 550 m batu karang yang padat untuk menyalurkan air ke dalam.kota Yerusalem (II Taw. 32:30). Prasasti Siloam (tulisan Ibrani yang ditemukan di dinding terowongan itu) menggambarkan pekerjaan itu, yang dimulai di kedua ujung yang berlawanan dan bergabung di bagian tengah. Kota-kota berkubu lainnya memperlihatkan tanda adanya sumur, aduk air di bawah tanah, jaringan penyaluran air yang rumit, dan terowongan-terowongan di bawah tanah untuk menyediakan air bagi penduduk kota. Alkitab menggambarkan bagaimana Rehabeam berusaha membangun kota-kota berkubu dan bagaimana ia memasok persediaan untuk kota-kota tersebut (II Taw. 11:6-12). Raja-raja Israel dan Yehuda mengkaji konstruksi dan pertahanan kota-kota dengan seksama. Diberitahukan bahwa Raja Uzia (790-939 sM) menciptakan "alat-alat perang yang dapat menembakkan anak panah dan batu besar ke arah tentara musuh yang mengepung (II Taw. 26:15). Beberapa sarjana menganggap bahwa alat-alat ini mungkin katapel, tetapi gambar-gambar Asyur dari zaman ini dan kemudian tidak memperlihatkan alat-alat ini. Yigael Yadin menganjurkan bahwa "alat-alat perang" ini adalah struktur khusus yang dibangun atas menara. Tentara pembela dapat berdiri tegak di balik struktur ini, namun tetap terlindung, dan mampu menembak pasukan musuh. Akan tetapi, gambar di Lakhis memperlihatkan sekat perisai-perisai yang melindungi tentara pembela yang berdiri.

Menurut Alkitab, Uzia adalah raja pertama yang memperlengkapi seluruh tentaranya dengan ketopong dan baju zirah (II Taw. 26:14). Sebelumnya perlengkapan seperti itu hanya dimiliki oleh raja dan pejuang-pejuang khusus di Israel (bdg. I Sam. 17:38; I Raj. 22:34), meskipun raja-raja lain memperlengkapi seluruh tentaranya dengan perlengkapan perang.

Oleh sebab banyak kesulitan dan biaya yang besar untuk mengadakan pengepungan, maka raja-raja dan panglima mereka sering kali menggunakan ancaman dan muslihat untuk memaksa sebuah kota untuk menyerah. Karena itu Raja Yoram tidak mau percaya bahwa tentara Aram yang mengepung itu telah pergi (bdg. II Raj. 7:10-12). Para penyerang juga mencoba untuk menggunakan gertakan (bdg. I Raj. 20:1-3) dan ancaman langsung. Ketika Sanherib mengepung Yerusalem yang diperintah oleh Hizkia, secara lisan ia menyerang tentara Yehuda, sekutu Mesirnya, dan bahkan Allah sendiri (II Raj. 18:19-23). Utusan-utusan Hizkia dalam perundingan ini meminta agar Orang Asyur berhenti berbicara dalam bahasa Ibrani dan memakai bahasa Aram supaya tentara pembela tidak akan panik. Jawabannya ialah bahwa mereka justru menggunakan bahasa Ibrani untuk melakukan hal itu - untuk menurunkan semangat juang tentara pembela dan menyebabkan mereka memberontak terhadap Hizkia. Semua tentara itu tetap setia dan pengepungan itu dilawan. Sanherib tidak pernah - merebut Yerusalem (seperti yang dilakukannya terhadap Lakhis), tetapi menurut catatan sejarahnya ia "mengurung Hizkia laksana seekor burung di dalam sangkar."

Pada akhirnya Babilonia berhasil menaklukkan Yehuda dengan merebut semua kota berkubunya dan mengepung serta merebut kota Yerusalem. Segala sesuatu di negeri itu dibinasakan dan rakyatnya dibawa tertawan. Hal ini merupakan suatu siasat militer lainnya untuk mencegah pemberontakan dari bangsa-bangsa yang telah ditaklukkan.

Kemudian hari, setelah mereka dipulangkan, hanya kota Yerusalem yang dibangun kembali (oleh Nehemia). Negeri itu tidak akan mengalami perang lagi sampai zaman dinasti Makabeus.



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.04 detik
dipersembahkan oleh YLSA