Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  3. Teks dan Terjemahan > 
I. Teks Perjanjian Lama. 
sembunyikan teks

Yesus berkata mengenai Perjanjian Lama bahwa "satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi" (Mat. 5:18). Demikianlah Ia mengajar bahwa Allah telah mengilhami seluruh teks Perjanjian Lama, bahkan sampai kepada hal-hal yang terkecil.

Jemaat yang mula-mula menganggap pengilhaman Perjanjian Lama sebagai bagian yang pokok dan sangat penting dari ajarannya. Kitab-kitab Perjanjian Baru masih sedang ditulis selama abad yang pertama; jadi, ketika penulis-penulis Perjanjian Baru menyebutkan "Kitab Suci", pada umumnya mereka maksudkan kitab-kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Lama. Petrus menulis bahwa "tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah" (II Ptr. 1:20-21). Paulus memberi tahu Timotius, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah..." (II Tim. 3:16a). Dan karena Allah mengilhami tulisan-tulisan ini, itu "bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (II Tim 3:16b).

Pernyataan-pernyataan ini membangkitkan rasa ingin tahu kita tentang cara kerja Allah dalam penulisan Perjanjian Lama. Kita perlu mengerti proses ini sebelum kita menyelidiki bagaimana teks itu disampaikan kepada kita. Maka kita harus memikirkan perkara pengilhaman ini sebelum kita maju lebih jauh.

 A. Bagaimana Perjanjian Lama "Diilhami ". 
sembunyikan teks

Secara tradisional, gereja telah mengajarkan pengilhaman penuh Alkitab. Dinyatakan dengan sederhana, inilah doktrin bahwa (1) Allah mengaruniakan dan menjamin segala sesuatu yang telah dikatakan para penulis Alkitab mengenai semua pokok yang mereka bicarakan, dan (2) melalui dorongan batin (tambah penyesuaian dan pengendalian ilahi) Ia menentukan caranya mereka harus mengungkapkan kebenaran-Nya. Dengan demikian, Alkitab ditulis tepat seperti yang direncanakan Tuhan, dan karena itu sesungguhnya adalah Firman Tuhan dan juga kesaksian manusia. Kedua ajaran ini berasal dari Alkitab sendiri.

Para penulis Perjanjian Lama berulang-ulang mengingatkan kita bahwa mereka sedang menyampaikan Firman Allah. Para nabi membuka pernyataan mereka dengan mengatakan "beginilah firman Tuhan," "firman Tuhan yang datang kepadaku," atau pernyataan lain yang serupa. Rene Pache menemukan 3.808 pernyataan seperti ini di Perjanjian Lama; kesimpulannya ialah, pernyataan-pernyataan itu menekankan bahwa Alkitab "menyampaikan Firman Allah yang tegas."8

Berikut ini ada beberapa ayat yang melukiskan hal ini, " ... Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, 'Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel"' (Kel. 34:27). "Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku (Daud) oleh Tuhan (I Taw. 28:19). Datanglah firman ini dari Tuhan kepada Yeremia, bunyinya, 'Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu (Yer. 36:1-2; bdg. ay. 21-32). Setiap penulis menjelaskan bahwa ia sedang mencatat apa yang dinyatakan oleh Allah kepadanya, dan mengungkapkannya dengan kata-kata yang sama yang diterimanya dari Allah.

Akan tetapi, Tuhan tidak mendikte manuskrip Perjanjian Lama kepada penulis-penulis ini, seakan-akan mereka itu sekretaris-Nya. Ia menyatakan kebenaran-Nya kepada mereka dan menunjukkan kepada mereka bagaimana mereka harus menyampaikannya; tetapi dengan berbuat demikian Ia menuntun mereka untuk mengutarakan Firman-Nya sesuai dengan pandangan mereka sendiri, minatnya, kebiasaan-kebiasaan kesusasteraannya, dan sifat-sifat khas gaya bahasanya. Seperti yang dikatakan oleh Benjamin B. Warfield," ... Setiap kata dalam Alkitab, tanpa kecuali, adalah firman Allah; tetapi, di samping itu ... tiap kata adalah perkataan manusia."10 Ini sebabnya penulis Surat Ibrani mengatakan bahwa Allah "pada zaman dahulu ... berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi" (Ibr. 1:1). Daripada mengikat para penulis Perjanjian Lama untuk menghasilkan satu laporan tertulis dari pesan-Nya, semuanya dalam gaya bahasa yang sama, Allah berbicara "dalam pelbagai cara" menurut keadaan dan kemampuan setiap penulis. Karena itu terjadi keanekaragaman materi yang mengagumkan dari para nabi, penyair, sejarawan, orang bijaksana, dan orang yang melihat visiun yang melaluinya Allah berfirman.

Para penulis Perjanjian Lama memberi tahu cara-cara yang dipakai Tuhan untuk mengilhami beberapa tahap dari pekerjaan mereka. Adakalanya Ia menyatakan pesan-Nya kepada manusia melalui penglihatan-penglihatan yang terdiri atas pemandangan dan bunyi (misalnya, Yes. 6:1 dst.); kali lain Ia berfirman secara langsung melalui mereka (II Sam. 23:2). Kita tidak mengetahui dengan tepat bagaimana Ia mengilhami tiap bagian dari tiap kitab Perjanjian Lama dan sebenarnya hal itu tidak menjadi soal. Yang penting ialah bahwa kita mengetahui bahwa Alkitab adalah Firman-Nya, baik dalam isi maupun dalam strukturnya. Inilah yang kita maksudkan bila kita mengatakan bahwa Alkitab adalah hasil dari pengilhaman penuh.

Tentu saja, kita dapat mengatakan hal ini mengenai manuskrip-manuskrip yang asli saja, dan manuskrip-manuskrip itu tidak ada lagi pada kita. (Istilah teknis untuk naskah-naskah yang asli itu adalah autograf.) Bagaimanakah kita dapat yakin bahwa salinan-salinan manuskrip yang kita miliki itu masih merupakan Firman Allah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus meneliti cara yang dipakai nenek moyang kita untuk menyalin manuskrip-manuskrip asli dari Perjanjian Lama dan meneruskan salinan-salinan itu kepada kita. Para sarjana menyebut proses ini textual transmission (transmisi naskah).

 B. Bagaimana Kita Menerima Perjanjian Lama. 
sembunyikan teks

Ketika para penulis Perjanjian Lama menyelesaikan gulungan-gulungan kitab mereka, belum ada alat-alat untuk mengopi atau mesin cetak untuk memperbanyak tulisan mereka bagi orang banyak. Mereka bergantung pada juru tulis atau katib - orang-orang yang dengan sabar menyalin nas Kitab Suci dengan tangan bila salinan-salinan tambahan diperlukan dan bila gulungan kitab yang asli menjadi terlalu usang untuk dipakai lagi. Para katib itu berusaha untuk membuat salinan yang akurat dari gulungan kitab yang asli dan katib sesudah mereka berusaha untuk membuat salinan yang akurat dari salinan itu. Meskipun demikian, mereka tidak selalu dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang tak disengaja dalam beberapa hal ketika menyalin. Siapa pun yang pernah melakukan pekerjaan menyalin akan menaruh simpati!

Pada waktu Yesus lahir, kitab Perjanjian Lana yang terakhir (Maleakhi) telah disalin dan disalin kembali selama jangka waktu 400 tahun lebih: kitab-kitab yang ditulis Musa telah disalin dengan cara ini selama seribu empat ratus tahun. Namun selama waktu itu para katib telah menjaga teks Perjanjian Lama dengan baik sekali. Telah dihitung bahwa rata-rata mereka membuat kekeliruan satu dari setiap 1.580 huruf ketika menyalin; dan biasanya mereka membetulkan kesalahan-kesalahan ini ketika mereka membuat salinan baru.11

Sebagaimana yang terjadi dengan bahasa-bahasa, maka lambat laun bahasa Ibrani mulai berubah selama berabad-abad sesudah para penulis Perjanjian Baru. Bahasa yang dipakai Musa akan kelihatan aneh sekali bagi orang Israel masa kini, sama seperti bahasa Chaucer atau bahkan Shakespeare sudah berbeda sekali dari bahasa kita sekarang ini. (Lihat. "Bahasa dan Tulisan.") Sepanjang perjalanan waktu, arti dari beberapa kata Ibrani dan beberapa aturan tata bahasa telah hilang. Oleh karena itu para penerjemah Alkitab merasa sangat sulit ketika mereka berusaha untuk membaca dan mengartikan beberapa bagian dari manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama. Namun, luar biasa sekali betapa banyak yang dapat mereka mengerti secara keseluruhan. Charles Hodge, yang seabad lalu menjadi profesor teologi di Princeton Seminary, pernah berkata bahwa masalah-masalah terjemahan dan tafsiran yang masih ada tidak banyak mempengaruhi Alkitab sama seperti suatu lapisan tipis batu kapur tidak akan mengurangi keindahan Parthenon yang dibangun dari pualam.12 Dan pernyataan itu semakin benar dewasa ini.

Lama sebelum zaman nabi-nabi besar yang menulis kitab (abad ke-7 dan ke-8 sM), para katib telah berulang-ulang menyalin nas Kitab Suci. Akan tetapi, Yeremialah yang pertama kalinya menyebut para katib itu sebagai satu kelompok yang profesional, "Bagaimanakah kamu berani berkata, Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat Tuhan? Sesungguhnya, pena palsu penyurat (sopherim) sudah membuatnya menjadi bohong" (Yer. 8:8). Kata sopherim secara harfiah berarti "para penghitung"; para katib yang mula-mula patut mendapat gelar ini karena mereka menghitung tiap huruf dari tiap kitab di Alkitab untuk memastikan bahwa mereka tidak menghilangkan apa pun. Agar mereka lebih pasti lagi, mereka mencocokkan huruf yang terdapat di tengah tiap kitab dan di tengah tiap bagian utama dari kitab itu. Mereka hati-hati sekali agar memelihara susunan kata yang asli dari teks itu, meskipun bahasa Ibrani yang sudah berubah membuatnya kedengaran kuno sekali.

Suatu perubahan penting dalam bahasa Ibrani terjadi sekitar tahun 500 sM, ketika para sopherim mulai memakai tulisan Aram yang bentuknya persegi, yang telah mereka pelajari selama masa Pembuangan di Babel. (Bahasa Aram telah diperkenalkan di Babel melalui surat-surat raja Persia.) Sejak masa Raja Daud para sopherim telah memakai tulisan Paleo-Ibrani (Ibrani awal) yang bentuknya bulat untuk menyalin manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama, sebab mereka dapat menuliskannya atas perkamen, tidak seperti tulisan berbentuk baji dari orang Kanaan. Akan tetapi, pada tahun 500 sM, bahasa Alam telah menjadi bahasa yang umum di bidang perniagaan dan pendidikan di Timur Tengah, maka orang Ibrani memakai sistem tulisannya. Berbagai manuskrip papirus dari sebuah koloni Yahudi di Pulau Elefantin di Delta Sungai Nil) membuktikan bahwa tulisan miring yang lama tidak lagi dipakai pada tahun 250 sM. Naskah-naskah Laut Mati meliput periode peralihan ini; beberapa di antara naskah-naskah ini ditulis dalam tulisan Paleo-Ibrani yang bulat, tetapi kebanyakannya dalam tulisan Aram yang persegi.

Perhatikanlah bahwa para katib Ibrani tidak mulai memakai bahasa Aram; mereka hanya meminjam tulisannya dan memakainya untuk mengungkap kata-kata Ibrani mereka sendiri. Mereka dapat melakukan hal ini karena baik Ibrani maupun Aram adalah bahasa Semit, 13 dan tulisan mereka melambangkan alfabet yang sama, yang menandakan banyak dari bunyi-bunyi yang sama dalam kedua bahasa ini.

almanacalmanac 


TIP #27: Arahkan mouse pada tautan ayat untuk menampilkan teks ayat dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA