Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 9 No. 2 Tahun 1994 > 
GEREJA DAN LEMBAGA PENDAMPING GEREJA 
sembunyikan teks
Penulis: Stefanus Theophilus522
 PENDAHULUAN
sembunyikan teks

Gereja dapat dilihat dari sudut arti rohani, yakni sebagai suatu persekutuan dari orang-orang percaya; sudut aktivitas, yakni sebagai suatu kumpulan orang yang sedang melakukan suatu gerak keluar; dan sudut organisasi, yakni yang mempunyai aturan main di dalam menjalankan hidupnya.

Ketiga sudut pandang ini saling terkait karena menyangkut suatu penetapan dan panggilan terhadapnya. Kesalahan dapat terjadi apabila sudut pandang di atas tidak ditinjau secara proporsional, melainkan secara simpang siur dan saling tumpang tindih.

Selain itu, gereja juga harus dilihat dari sudut kebutuhannya sebagai suatu organisasi yang harus tetap hidup dengan kebutuhannya untuk melakukan suatu gerak. Dari sinilah akan tampak didalam pengembangannya, bahwa gereja menjadi ambivalen terhadap Lembaga Pendamping Gereja (LPG).

 LEMBAGA PENDAMPING GEREJA
sembunyikan teks

Berbicara mengenai Lembaga Pendamping Gereja (LPG), selain nama dari lembaga-lembaga yang ada, harus diketahui terlebih dahulu sebelumnya tentang perbedaan concern pelayanan mereka, yakni ada yang bergerak di bidang teologia dengan mendirikan sekolah-sekolah theologia dan ada pula yang bergerak di bidang pelayanan praktis. Di samping itu, harus pula dilihat perbedaan dari orientasi pelayanannya, baik yang bergerak di antara kaum intelektual, pengusaha sampai dengan masyarakat umum. Hal lain yang tak kalah pentingnya ialah mengenai alasan berdirinya LPG-LPG tersebut yang bersangkutan dengan ruang gerak mereka di kemudian hari, baik yang bergerak di bidang politik, sosial, atau yang tidak mengambil bagian sama sekali dengan kepedulian-kepedulian di atas. Sebagai contoh dapat dilihat secara pintas mengenai bagian mereka masing-masing. Sekolah Tinggi Teologia (STT) pada umumnya berkaitan dengan organisasi dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Sekolah Teologia Injili Indonesia (STII), Aleitheia, Tiranus, Institut Misi dan Alkitab Nusantara (IMAN), Sekolah Tinggi. Teologia Bandung (STTB), Sekolah Teologia Reformed Injili Indonesia (STRII), dan lain lain, lebih berkaitan dengan pelayanan dari LPG-LPG seperti Persekutuan Kristen Antar Universitas (PERKANTAS), Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), Para Navigator dan lain-lain. Memang tidak ada garis nyata dari kaitan pelayanan mereka di atas, namun di dalam kehidupan organisasi-organisasi tersebut, dapat dikatakan bahwa garis demikian memang ada. Adapun concern pelayanan mereka juga add khasnya. Seperti golongan pertama lebih cenderung kepada pelayanan terhadap masyarakat dan pemerintah dalam konteks sosial dan politik, golongan kedua lebih cenderung kepada pelayanan dalam segi rohani. Di sini, kita tidak berbicara mengenai mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik, walau tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga segi positif maupun negatifnya. Bagi golongan yang pertama, positifnya ialah bahwa mereka dapat dikatakan bertanggung jawab terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, sedang bagi golongan yang kedua, dalam paralelnya, justru dapat dikatakan sebaliknya. Dari sudut negatifnya, bagi golongan yang pertama dapat dikatakan pincang karena tidak lagi mementingkan garis vertikalnya, sedang bagi golongan yang kedua justru menjadi positif karena sangat mementingkan hubungan antara mereka dengan Tuhan. Perlu dicatat bahwa antara positif dan negatif di sini juga tidak dapat dinilai secara akurat, karena ukuran positif dan negatif dalam konteks di ataspun masih harus didiskusikan dengan lebih mendalam.

Dari sini dapat kita lihat hubungan antara LPG-LPG tersebut di atas dengan gereja sebagai suatu organisasi yang mempunyai masa. Bagi gereja yang dominasi anggotanya cenderung berkiblat kepada salah satu dari concern di atas, akan lebih bisa menerima LPG yang sama dengan concern mereka, dan sebaliknya akan menolak kehadiran dengan LPG yang tidak sama dengan mereka. inilah salah satu kemungkinan adanya hubungan antara gereja dengan LPG, selain yang akan kita amati di bawah ini. Lebih jauh, perlu ditambahkan bahwa ada juga LPG-LPG yang muncul karena "aksi keluar" yang dilakukan oleh anggota gereja atau denominasi tertentu, sehingga bukan hanya gereja tersebut dapat menerima keberadaan LPG itu, melainkan juga merasa memilikinya.

 HUBUNGAN ANTARA LPG DENGAN GEREJA
sembunyikan teks

1. Hubungan yang harmonis

Kesadaran gereja akan kebutuhan adanya sumber daya manusia sebagai saluran (channel) yang dapat bergerak keluar untuk mewujudkan "amanat agung Tuhan Yesus", akan segera menanggapi kehadiran LPG sebagai hal yang positif. Kehadiran LPG ini diharapkan dapat menjadi "kaki tangan" gereja yang akan hadir di dalam masyarakat sebagai wujud pelayanan nyata yang lebih luas dari gereja. Kedua, spesifikasi pelayanan yang terfokus hanya pada satu warna pelayanan, seperti hanya di kalangan pelajar, karyawan, dan lain-lain, dapat membantu gereja menangani permasalahan dalam pelayanan yang variatif di dalam gereja tersebut. Dari kenyataan ini, tampak adanya kesatuan, atau paling tidak kesadaran akan kebutuhan pelayanan bersama antara LPG dengan gereja. Di sinilah hubungan yang harmonis akan tampak terlihat.

2. Hubungan yang tidak harmonis

Seperti suatu kendaraan angkutan umum yang membutuhkan penumpang, rupa-rupanya demikian juga dengan gereja maupun LPG sebagai suatu organisasi yang bermasa. Hal ini akan berlanjut apabila salah satu dari mereka sedang melakukan suatu "gerak keluar pelayanan", yang notabene membutuhkan orang untuk melakukannya. Dan sebagai klimaks, apabila orang-orang yang dibutuhkan ini sudah dapat bekerja menghasilkan uang sehingga organisasi yang "memilikinya" tidak mengharapkan orang tersebut mempunyai konsentrasi ke tempat lain. Sebagai contoh, LPG-LPG yang bergerak di kalangan pelajar mengadakan pula "sarang" untuk mereka yang sudah alumni untuk bernaung, sementara gereja sendiri sudah mulai was-was dengan anggotanya tersebut terhisap kepada pelayanan LPG. Secara pintas dapat saja kita bantah pandangan ini, namun apabila hal tersebut di atas terjadi dalam skala yang lebih besar, kenyataan inilah yang muncul. Di sini, tidak akan disinggung siapa yang salah dan siapa yang benar serta siapa yang berhak untuk memiliki. Namun sebagai akibatnya, pertama, terjadi adanya saling menyalahkan dan menghakimi antara gereja dengan LPG. Kedua, seperti pada Bab II di atas, dikatakan mengenai adanya gereja tertentu yang sangat mendominasi salah satu LPG bahkan membangun LPG di salah satu kampus misalnya, sehingga arti dari pelayanan LPG itu tidak lagi dapat dikatakan interdenominasi, kalau tidak mau disebut sebagai suatu "biro" atau "agen" dari gereja yang bersangkutan untuk melebarkan sayapnya. Ketiga, tidak jarang dari mereka yang tadinya hanyalah merupakan suatu LPG akhirnya menjadi gereja, sehingga lupa terhadap suatu kenyataan bahwa mereka itu tadinya adalah orang-orang yang sebelumnya sudah menjadi anggota gereja tertentu, tatkala gereja tersebut masih sebagai suatu LPG.

Dari kemungkinan-kemungkinan yang dipaparkan inilah, yang merupakan sebagian kecil dari alasan-alasan lain yang dapat dikembangkan lagi, kadang hubungan antara gereja dengan LPG menjadi suatu hubungan yang saling mencurigai.

 HASIL DARI LPG TERHADAP GEREJA
sembunyikan teks

1. Hasil negatif

Seperti halnya di atas yakni menyangkut hubungan yang tidak harmonis, lebih jauh dapat dikembangkan ke arah dampak negatif dari suatu LPG terhadap perkembangan gereja. PeRtama, akan ditinjau dari pemimpin-pemimpin LPG yang ada. Banyak LPG yang didirikan oleh para pemimpin, yang di dalam pelayanannya dalam sebuah gereja tidak dapat berkembang kalau tidak mau dikatakan tidak mempunyai tempat berpijak, sehingga berlanjut kepada timbulnya rasa tidak puas terhadap suatu gereja. Kedua, banyak LPG yang didirikan karena kelemahan yang terdapat di dalam gereja. Ketiga, LPG mempunyai pelayanan yang sangat spesifik sifatnya, sehingga tidak membagi konsentrasi kepada anggotanya terhadap concern yang lain. Keempat, ada petobat baru yang terus bergabung di dalam LPG tanpa mempunyai kesempatan untuk bergabung ke dalam suatu jenis pelayanan di sebuah gereja. Hal-hal ini akan berdampak negatif, karena dapat memberikan akibat-akibat seperti sifat eksklusifisme yang berlebihan yang cenderung membuat anggotanya merasa diri lebih daripada yang lain; merasa asing dengan pelayanan penggembalaan terhadap golongan lain, sampai akhirnya cenderung melihat pelayanan hanya dari suatu strategi ketimbang sebagai suatu pengabdian; serta, kemudahan bergerak dalam suatu lingkup tersendiri mengakibatkan kesederhanaan di dalam berpikir dan berorientasi dalam pelayanan. Hal lain, yang sepertinya menjadi suatu kontradiksi ialah akan terjadi timbulnya kelemahan terhadap suatu pemahaman iman yang kokoh dan kuat, karena didorong oleh jiwa kebersatuan. Serta, menghadirkan suatu "budaya jajan" yang mengakibatkan terjadinya suatu kelemahan mental bagi orang Kristen di dalam menghadapi perjuangan yang membutuhkan pengorbanan.

2. Hasil Positif

Selain dampak negatif, tentu kehadiran LPG juga mempunyai dampak positifnya. Hal ini dapat dilihat sebagai suatu dampak ganda. Maksudnya, di dalam mengamati segi positif, dapat juga mengajak gereja untuk mengoreksi dan melengkapi diri. Pertama, dapat dilihat dari segi pengkaderan kepemimpinan, sekaligus penyediaan "ladang terjun langsung" bagi mereka. Hal ini terjadi karena selain ladang yang dibukakan sangat luas, juga kebutuhan terhadap pelayanan dari mereka sangat nyata. Kedua, mempersatukan gereja-gereja dari berbagai denominasi, walau di dalam hal ini bisa juga justru timbul hal-hal negatif seperti diuraikan di atas. Ketiga, membuka ladang tanpa batas. Serta, keempat, mengajak gereja untuk tidak berhenti dengan hanya memikirkan diri sendiri, atau bahkan untuk mempunyai keinginan membangun "kerajaan" di dunia.

 USULAN BAGI LPG DAN GEREJA
sembunyikan teks

Harus diadakan suatu dialog dari hati ke hati dengan tujuan membangun Kerajaan Allah di dunia, tanpa saling memperalat antara satu dengan yang lainnya. Secara konkret, harus adanya rasa saling membutuhkan dan membantu, yang dimulai oleh rasa saling menghormati serta adanya kejujuran untuk saling mengoreksi diri.



TIP #08: Klik ikon untuk memisahkan teks alkitab dan catatan secara horisontal atau vertikal. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA