Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 8 No. 2 Tahun 1993 >  PENGGEMBALAAN DAN ISU GLOBALISASI > 
SALAH SATU DOSA TERBESAR GEREJA 
sembunyikan teks

Di tengah-tengah berbagai macam masalah yang melanda kehidupan manusia pada era globalisasi ini, tanpa dapat dipungkiri adalah salah satu dosa terbesar yang dilakukan gereja: kepongahan rohani! Dosa yang satu ini memiliki berbagai muka.

Muka pertama: kita tanpa menyadari menjadi merasa paling suci, paling benar, paling sempurna dalam kehidupan keagamaan yang pluralistis dalam masyarakat yang majemuk ini!

Jangan salah mengerti! Bukan tujuan tulisan ini untuk membatalkan apa yang telah dinyatakan dalam Alkitab bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus (Yoh 14:6; Kis 4:12; Rm 10:4-17, 1Tim 2:5). Justru di tengah-tengah era globalisasi di mana tembok-tembok pemisah antar negara, bahasa dan kebudayaan menjadi paling tidak lebih transparan, kita harus waspada agar kita jangan sampai mengorbankan atau menggadaikan kebenaran demi kerukunan atau persahabatan itu sendiri.

Namun demikian kita juga harus berhati-hati agar kita mengingat dan memberlakukan secara jujur hukum emas yang dinyatakan oleh Tuhan kita:

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang (lain) perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Mat 7:12)

Jelas kebenaran tidak boleh dikompromikan. Tetapi hal itu tidak sama dengan memaksa orang lain harus menerima dan mengikuti apa yang kita yakini apalagi dengan cara dan jiwa yang arogan!

Kita dapat belajar dari seorang yang kasar dan impulsif semacam Petrus. Pada hakikatnya, makin dia memahami hati Tuhannya. Dia meninggalkan warisan yang sangat indah dan penting untuk kita laksanakan dalam hidup bermasyarakat. Bobot nasihat Petrus ini menjadi makin penting untuk dipahami dalam konteks riil di mana dia menulis suratnya:

"Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidup yang saleh dalam Kristus menjadi malu karena fitnahan mereka itu" (1Ptr 3:13-16).

Jelas, globalisasi menuntut kita agar kita tidak berpandangan sempit dan picik, tidak dapat mendengar dan tidak mau menghargai keyakinan atau kepercayaan orang lain. Kita harus dapat membedakan antara menghargai dan menghormati dari menerima, mengaminkan dan mengimani! Agama dan kepercayaan boleh saja berbeda, tetapi janganlah kita membenci atau memusuhi mereka yang berbeda agama dan keyakinan dengan kita. Kita malah harus berupaya agar kita tetap mengasihi dia, menolong dia secara praktis. Bahkan apabila kita dibenci, difitnah, bahkan dimusuhi sekalipun.

Petrus akhirnya benar-benar mengerti apa yang dikehendaki Tuhannya. Pernah dia mengayunkan pedang dan sempat memotong telinga orang yang menangkap Yesus, tetapi pada hari tuanya, bukan karena dia telah berubah atau menjadi lemah; juga bukan karena dia mau berkompromi, tetapi sebaliknya dia malah menjadi begitu mantap dan menghayati ajaran Tuhan dan Gurunya sehingga dia sanggup mengungkapkan kebenaran yang begitu indah dan mulianya. Petrus telah belajar untuk memberlakukan perintah Tuhan agar dia mengasihi bahkan musuhnya dan mendoakan orang yang menganiayanya (bdk. Mat 5:43-44)

Muka yang lain dari salah satu dosa gereja yang terbesar yakni menjadi begitu sombong dan merasa paling benar dan paling sempurna dengan keyakinan dan denominasinya.

Kita tidak jarang mencap orang (Kristen) lain yang tidak memiliki keyakinan dan ajaran yang persis sama dengan kita sebagai orang sesat! Barangkali kita perlu belajar dari seorang tokoh Bapa Gereja, Agustinus. Dia meninggalkan ajaran yang bijaksana:

"Dalam hal yang mendasar (prinsip) jangan kompromi; dalam hal yang tidak mendasar biarlah kita tidak menjadi dogmatis (kaku); dalam segala hal, kasih!"

Kadang-kadang, tanpa terlalu disadari sepenuhnva, kita malah membuat kaum awam yang sudah bingung dengan berbagai macam masalah mereka menjadi lebih bingung karena sebagai orang yang dianggap dapat memberi terang kepada yang gelap, justru kita - meminjam bahasa Ayub: "menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan" (Ayb 38:1).

Seringkali kita memperdebatkan masalah (cara) baptisan, masalah berbagai macam karunia rohani, masalah kedatangan Yesus yang kedua kali(anti milenialis, remilenialis, post milenialis), atau masalah tetek bengek lainnya dengan begitu bersemangat dan berapi-api, sehingga kadangkala kita tidak mampu mengendalikan diri kita, lalu saling menuding dan menyerang di antara sesama gereja.

Gereja yang memang sudah terpisah-pisah karena kedaerahan kesukuan adat istiadat dan karena sejarah misa makin kita cabik-cabik lagi menjadi sempalan-sempalan kecil-kecil denominasi (yang makna aslinya berarti "pecahan") - jikalau perlu kita buat denominasi baru lagi yang diimbuhi dengan label "Injili".

Sekali lagi kita perlu mengundang seorang hamba Tuhan senior yang karismatik, yang telah berhasil mendirikan dan membangun banyak gereja dengan harga yang sangat mahal untuk bersaksi.

Kita tahu bahwa Paulus bukan sembarang orang. Dia mantan Farisi. Salah seorang murid Gamaliel. Dia menerima penyataan langsung dari Tuhan sendiri (1Kor 2:13-16; Gal 1:17); 2Kor 12:1-4). Dia menulis banyak surat, dia memiliki iman yang begitu kuat dan mantap sehingga dia berani mengungkapkan kesaksian yang sangat menantang semacam Galatia 2:19,20; Filipi 1:6,21 dan sebagainya. Namun toh orang yang sama pandai "ilmu padi", makin berisi makin tunduk!

Siapakah yang akan menduga bahwa dia sampai menulis sebagai berikut:

"Ketika kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang (walaupun sudah dewasa) kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar; tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku (yang sudah dewasa) hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal" (1Kor 13:11-12).

Bolehkah kita simpulkan bahwa seorang rasul Paulus hanya berani mengklaim bahwa pengetahuan serta pengenalannya (sekarang) hanya parsial, belum lengkap dan belum sempurna sepenuhnya? Mungkinkah sekarang ini banyak di antara kita yang lebih hebat dari dia?

Kalau kesimpulan di atas barangkali terlalu sembrono, marilah kita bandingkan apa yang dia tulis kepada jemaat Efesus:

"Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah" (Ef 4:16-19).

Yang tersirat dari doa Paulus ialah agar jemaat Efesus yang bukan hanya dilayani oleh Paulus tetapi juga oleh hamba Tuhan lainnya (Apolos), jangan terjebak ke dalam polarisasi teologia Paulus atau teologia Apolos saja. Belajar pulalah dengan rendah hati dari dan dengan semua orang kudus!

Rupanya Paulus begitu konsisten. Dia juga menulis dan sekaligus bersaksi kepada jemaat di Filipi dengan jiwa yang sama:

"Yang kukehendaki ialah (kian) mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya,..." (Flp 3:10).

Jelas bahwa Paulus tidak pernah merasa sudah mengenal Yesus begitu rupa sehingga dia tidak perlu belajar lagi untuk mengenal-Nya secara lebih mendalam. Herankah kita bahwa dari buah penanya (tentunya berkat bimbingan Roh Kudus) gereja kita mewarisi banyak bukunya?

Tulisan ini memang bukan dimaksud untuk membahas permasalahan oikumene. Tetapi di tengah-tengah semangat toleransi dan keterbukaan yang makin melonggar, bagaimana mungkin kita menjadi makin sempit dan kaku? Mengapa kita cenderung menjadi kian sektarian dan menjurus kepada "pemujaan" primordial?

Sekali lagi, rupanya bukan hanya bangsa Israel yang tidak dapat belajar dari sejarah! Gereja-gereja juga tidak dapat belajar dari sejarah gereja. Kita tahu bahwa tidak semua Bapa Gereja memiliki teologia yang selalu sama. Sekolah Aleksandria berbeda dari Bapa Gereja Latin. Sejarah Gereja mencatat bukan saja dengan tinta hitam tetapi juga merah bersimbah darah karena masing-masing merasa paling benar, saling mengucilkan dan saling membantai lawannya. Di antara para reformator yang besar-besar sekalipun sering terjadi selisih pendapat dan keyakinan, khususnya dalam soal-soal yang periferial, bagaimana mungkin kita berani begitu dogmatis (buldog-matis) tentang hal-hal tertentu sehingga nyaris menjadikannya doktrin denominasi!

Kita seringkali mengejek gerakan ekumenis yang tidak pernah berhasil untuk bersatu. Paling-paling hanya semu. Bukan kesatuan tetapi keserupaan, itupun sejauh (atau secetek naskah-naskah tertulis). Bagaimana dengan so-called evangelical churches?

Kalau dunia yang memasuki era globalisasi ini harus mendengar kesaksian kita, paling tidak kita semakin serius dalam menjiwai dan menghayati harapan dan doa Tuhan Gereja.

"Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku..." (Yoh 17:20,21).



TIP #05: Coba klik dua kali sembarang kata untuk melakukan pencarian instan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA