Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac > 
9. Orang Persia 
sembunyikan teks

Orang Persia memerintah Palestina selama abad terakhir dari sejarah Perjanjian Lama. Alkitab membicarakan kurun waktu ini dalam kisah-kisah Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, dan dalam dua ayat pada akhir kitab II Tawarikh. Bagi orang Yahudi ini merupakan periode pemugaran dan pembangunan kembali. Bagi orang Persia ini merupakan periode pengembangan kerajaan.

Orang Yahudi telah dibuang ke Babilonia selama hampir 60 tahun ketika orang Persia menaklukkan negeri itu pada tahun 539 sM. Dua tahun kemudian Koresy II, raja Persia, mengizinkan para buangan ini kembali ke tanah air mereka. Lalu ia maju terus untuk menaklukkan Mesir, suatu prestasi yang tercapai oleh putranya pada tahun 526 sM.

Selama kurun waktu 550 tahun, Palestina dijadikan sebagian dari kerajaan-kerajaan besar seperti Babilonia, Persia, Yunani, dan Roma. Bagaimanapun juga, hanya orang Persia yang diingat karena sumbangan mereka kepada bangsa Yahudi. Alkitab menganggap kerajaan-kerajaan yang lain sebagai jahat dan bermusuhan kepada orang Yahudi.

 I. Sejarah Purbakala. 
sembunyikan teks

Orang Persia mengetahui artinya hidup dalam pembuangan. Mereka telah dipaksa untuk bermigrasi selama lebih dari seribu tahun. Para leluhur mereka mula-mula tinggal dekat padang-padang rumput yang luas di Rusia selatan. Sekitar 2000 - 1800 sM suku-suku lain yang bermigrasi memaksa mereka untuk pindah ke tanah datar di Asia Tengah. Mereka membawa serta nama, tradisi dan bahasa Arya mereka. Bahasa Indo-Irani ini agak mirip dengan bahasa Yunani dan Latin. Ketika orang Arya ini mencapai tanah air mereka yang baru di kawasan yang luas antara India dan Mesopotamia, rupanya mereka memperkenalkan kuda dan kereta. Temuan barang-barang tembikar dari kurun waktu itu memperlihatkan gambar-gambar kuda. Tali kekang dari besi dan tembaga telah ditemukan juga.

Dari suku-suku yang menetap di bagian utara Iran hanya orang Media dan Persialah yang penting untuk diselidiki karena mereka yang paling mempengaruhi orang-orang dan masa-masa di Alkitab. Kemunculan mereka sebagai suatu kekuatan politik yang hebat memakan waktu hampir seribu tahun.

almanac
 II. Bangkitnya 
sembunyikan teks

Koresy Agung (550 - 529 sM). Cucu perempuan Kuaksares menikah dengan Kambises I, raja Persia di Ansyan. Putra yang lahir dari perkawinan ini adalah Koresy II, dikenal sebagai Koresy Agung. Di bawah Koresy II kekuasaan Persia harus diperhitungkan. Ketika ia dinobatkan menjadi raja Ansyan pada tahun 559 sM, orang Persia masih membayar upeti kepada Media. Sekitar 550 sM, Koresy telah mengalahkan kakeknya, Astyages, raja orang Media, dan merebut ibu kotanya, Ekbatana. Kemudian Koresy memberikan gelar "raja Media" kepada dirinya sendiri dan mendirikan markas besarnya di Ekbatana. Dengan mengizinkan para pejabat Media terus memegang jabatannya, Koresy memperoleh kesetiaan mereka.

Seluruh Kerajaan Media jatuh ke tangan Koresy. Ia maju ke barat dan menyatakan haknya atas Armenia, Kapadokia, Kilikia, Lidia, berbagai negara kota Yunani di Asia Kecil dan kepulauan Yunani. Di timur ia menaklukkan seluruh kawasan Iran. Akan tetapi, masih ada dua saingan yang berkuasa: Babel dan Mesir. Sebelum ia dapat maju melawan Mesir, Babel harus tunduk kepada kekuasaan Persia.

Ketika menundukkan Babilonia, Koresy memasuki gelanggang sejarah Alkitab. Untuk memahami dampak Koresy atas dunia purbakala, kita perlu mempelajari kembali hari-hari terakhir Babilonia, saingan terbesarnya.

almanac
 III. Kambises 11 (529 - 522 sM).
sembunyikan teks

Putra Koresy, Kambises, mengambil alih kerajaan itu sesudah kematian ayahnya. Seperti ayahnya, ia seorang yang cakap dan jendral yang baik. Kambises telah mewakili Koresy pada perayaan tahun baru (disebut "Perayaan Akita") di Babel sejak Koresy menjadi raja Babel. Kambises juga telah berdiri di ibu kota sebagai pengganti resmi raja ketika Koresy mengadakan ekspedisi militer, jika seandainya bahaya menimpa raja. Setelah ia dinobatkan, Kambises memandang ke arah barat untuk memperluas kerajaannya.

Sampai saat ini Mesir telah luput dari pemerintahan asing. Firaun Amasis, yang tidak disukai oleh rakyatnya, memerintah Mesir dengan bantuan para prajurit sewaan dari Yunani. Kambises merebut Memfis pada tahun 525 sM, ketika baik Amasis maupun putranya, Psamtik II, tidak dapat menentang pasukan-pasukan Persia. Hal ini menandai permulaan pemerintahan Persia atas Mesir.

Orang Mesir membenci pemerintahan orang asing. Desas desus palsu bahwa Kambises telah membunuh lembu jantan Apis yang suci adalah suatu penghinaan yang dengan mudah dipercayai oleh orang-orang yang sederhana. Para imam dari kuil-kuil tertentu marah karena mereka tidak lagi menerima perbekalan dengan cuma-cuma dari negara. Sebaliknya, mereka disuruh bekerja di ladang dan beternak unggas untuk kurban persembahan. Perubahan-perubahan inilah yang diperlukan oleh orang Mesir untuk menolak pemerintahan Persia. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa Kambises menghormati agama Mesir. Tetapi pemberontakan orang Mesir memaksa dia untuk menarik kendali lebih erat. Setelah kembali dari Mesir, diberitahukan kepada Kambises bahwa Smerdis telah merebut kekuasaan atas Persia. Kambises tahu bahwa hal itu tidak dapat dilakukan oleh Smerdis, saudara tirinya (yang juga dikenal sebagai Barfiya), sebab para pembantunya telah membunuh Smerdis untuk mencegah pemberontakan seperti ini. Gaumate, orang Media yang menyatakan bahwa ia Smerdis (PseudoSmerdis), yang sebenarnya memimpin pemberontakan itu. Kambises tidak hidup lama untuk menindak Gaumate. Ia wafat dekat Gunung Karmel pada tahun 522 sM, mungkin karena bunuh diri.

 IV. Darius I (522 - 486 sM).
sembunyikan teks

Darius adalah seorang kerabat jauh dari Kambises. Ia membawa lembing Kambises dalam pertempurannya melawan Mesir, dan mengikuti semua perkembangan politik yang baru. Darius berkomplot menentang Gaumate yang mendukung kepentingan agama orang Media dan para imam Magian. Darius dan pasukan-pasukannya membunuh Gaumate dalam sebuah benteng di Media.

 V. Xerxes (486 - 465 sM).
sembunyikan teks

Beberapa pakar beranggapan bahwa Xerxes I adalah "Ahasyweros" yang tersohor dari kitab Ester. Ia menghadapi masalah-masalah yang sama seperti ayahnya, Darius. Kerajaannya mulai ambruk, sebagian besar disebabkan oleh pajak-pajak yang baru. Akan tetapi, berbeda dengan Darius, Xerxes tidak berminat untuk tetap memiliki kesetiaan rakyatnya. Ia membuat berbagai kesalahan pertimbangan yang serius dalam tindakan-tindakan militernya. Ia membuat marah para imam di Mesir dengan mengambil harta benda dari kuil-kuil mereka. Ia membakar kota Atena, dan kehilangan dukungan apa pun yang mungkin dapat diperolehnya dalam kota-kota Yunani. Ia menghancurkan kuil-kuil Babilonia dan memerintahkan agar patung emas Marduk dicairkan. Orang Yahudi telah menjadi makmur di bawah pemerintahan Darius yang penuh damai dan telah menyelesaikan bait suci mereka. Akan tetapi, ketika orang Yahudi ingin membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem, musuh mereka melontarkan tuduhan palsu bahwa mereka hendak memberontak. Orang Yahudi tidak diizinkan untuk menyelesaikan tembok-tembok kota.

Pada tahun ketiga dari pemerintahannya, Xerxes mengadakan suatu perjamuan untuk semua pembesar, bupati, dan perwira militer tinggi dalam ke-127 propinsi kerajaan itu dari India sampai ke Nubia (Est. 1:1-3). Semua peristiwa dalam Kitab Ester terjadi di bawah pemerintahan Xerxes.

 VI. Artahsasta I (465 - 424 sM). 
sembunyikan teks

Xerxes dibunuh di ruang tidurnya pada tahun 465 sM. Putranya yang lebih muda, Artahsasta (Longimanus) mengambil alih Kerajaan Persia yang sudah lemah. Artahsasta berusaha untuk menyatukan kerajaan itu dengan banyak pertempuran di Baktria, Mesir, dan Yunani. Ia menerima rumus perdamaian yang terkenal sebagai pakta Callias (449 sM), yang menunda perang total dengan Yunani.

Kita dapat mengerti kegiatan Ezra dan Nehemia dengan latar belakang pemberontakan dan komplotan internasional ini. Sekali lagi orang Yahudi berusaha untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem. Kali ini kaum bangsawan Samaria memandang pembangunan itu sebagai suatu tanda pemberontakan. Mereka memberitahukan kepada Artahsasta bahwa Yerusalem yang kuat akan membahayakan keamanan kerajaan. Mereka menganjurkan kepada raja untuk menyelidiki kitab riwayat kerajaan untuk melihat sendiri bahwa Yerusalem adalah "kota yang durhaka dan jahat" (Ezr. 4:12), dan bahwa perbendaharaan raja terancam, "Jikalau kota itu sudah dibangun dan tembok-temboknya sudah selesai, orang tidak lagi membayar Pajak, upeti atau bea, sehingga kota itu akhirnya mendatangkan kerugian kepada raja-raja (Ezr. 4:13). Mereka juga memberi tahu bahwa dalam hal itu raja "tidak ada lagi milik di daerah sebelah barat Sungai Efrat" (4:16). Penyelidikan kitab riwayat di perpustakaan kerajaan menguatkan pendapat kaum bangsawan itu. " . . . Dan didapati bahwa kota itu sejak zaman dahulu selalu bangkit melawan raja-raja dan bahwa penduduknya selalu mendurhaka dan memberontak" (4:19). Artahsasta memberi perintah untuk menghentikan pekerjaan membangun tembok-tembok itu sampai ada perintah kemudian yang mengubah situasi itu (4:21).

Sekalipun perasaannya yang menentang Yerusalem yang bertembok, Ahasyweros mempunyai pandangan yang baik terhadap orang Yahudi. Dengan senang hati ia menyediakan dana untuk misi Ezra (kr. tahun 458 sM). Kesetiaan orang Yahudi di Yudea memperkuat sisinya di Siria dan di Mesir. Ia menguatkan perintah Koresy dalam satu perintah khusus dari dirinya sendiri yang mengizinkan orang Yahudi di Kerajaan Persia untuk kembali ke Palestina. Kita tahu dari Alkitab bahwa Artahsasta memberi emas, perak, dan perkakas yang mewah kepada bait suci (bdg. Ezr. 8:26-27), dan berjanji untuk membiayai semua keperluan bait suci dari perbendaharaan kerajaan (7:16). Raja, membuat para pemimpin Yahudi merasa kagum dengan berbagai pemberian, janji, dan dorongan agar "segala sesuatu yang berdasarkan perintah Allah semesta langit, harus dilaksanakan dengan tekun ... supaya jangan pemerintahan raja serta anak-anaknya kena murka" (7:23). Artahsasta juga membebaskan para imam, orang Lewi, dan pekerja bait suci dari membayar pajak (7:24).

Artahsasta mendukung keinginan Ezra untuk mengajar hukum Allah kepada rakyat di Yudea. Ezra memang berkualifikasi karena penyelidikannya sendiri dan karena kepatuhannya yang saksama kepada Taurat. "Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel" (Ezr. 7:10). Artahsasta memerintah Ezra untuk mengajarkan Taurat kepada rakyat, dan mereka harus bertanggung jawab atas semua perbuatan mereka di hadapan pengadilan dan hakim (7:25). Pedang pemerintah Persia mendukung sistem hukum Yahudi yang berpusat pada Allah, "Setiap orang, yang tidak melakukan hukum Allahmu dan hukum raja, harus dihukum dengan saksama, baik dengan hukuman mati, maupun dengan pembuangan, dengan hukuman denda atau hukuman penjara" (7:26).

Seribu lima ratus orang Yahudi, termasuk orang Lewi yang bertanggung jawab atas harta benda bait suci (Ezr. 8:24 dst.), bergabung dengan Ezra dalam misinya pada awal tahun 458 sM. Kelompok ini mengalami kehadiran Allah selama perjalanan mereka yang panjang dan berbahaya. Ezra mencatat, "Tangan Allah kami melindungi kami dan menghindarkan kami dari tangan musuh dan penyamun" (8:31). Mereka tiba menjelang akhir tahun yang sama itu.

Pada waktu ini lebih dari 50.000 orang buangan telah kembali Yudea. Menurut Nehemia ps. 7, kebanyakan mereka tinggal di kota-kota kecil di dalam dan di sekitar Yerusalem. Daerah dari Yerikho ke Betel menjadi batas di utara, dari Betel ke Zanoah batas di barat, dari Zanoah ke En-Gedi batas di selatan, dan dari Bet-Zur ke Yerikho batas di timur. Masalah besar yang dihadapi Ezra ketika tiba di Palestina adalah perkawinan campur. Ia mengetahui sejarah bangsanya cukup baik untuk mengingat bahwa pada masa lalu perkawinan campur telah menimbulkan penyembahan berhala dan korupsi. Ezra memohon kepada bangsanya untuk memelihara kesucian sebagai umat Allah yang hidup menurut Taurat Musa, agar jangan mereka dibuang kembali. Dalam doa (Ezr. 9:6-15), Ezra memperlihatkan harapannya yang mendalam bahwa generasi yang sekarang tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan dari masa lalu. Ezra menyadari bahwa Tuhan mungkin tidak akan meninggalkan orang-orang yang terluput dalam suatu tindakan hukuman lainnya.

Orang-orang yang telah kawin campur mengaku dosa mereka dan bersedia untuk menceraikan istri "asing" mereka (10:3, 11). Orang Yahudi mendirikan sebuah pengadilan yang mengurus perceraian dan pada musim dingin tahun 458 sM mereka telah menyelesaikan masalah perkawinan campur. Sebuah daftar orang-orang yang telah bercerai ditambahkan pada akhir kitab Ezra (ps. 10).

Kita tidak tahu di mana Ezra berada sesudah episode ini sampai beberapa tahun kemudian kita menemukan dia di Yerusalem bersama Nehemia (Neh. 8). Mungkin Ezra telah menunaikan tugas mengajar Taurat di seluruh Yehuda, atau telah pergi melaporkan keberhasilan misinya kepada orang-orang Yahudi di Babel atau ke istana Artahsasta.

Empat tahun kemudian pasukan-pasukan Persia bergerak melintasi Palestina (454 sM) menuju ke Mesir. Suasana penuh ketegangan dalam propinsi "di seberang Sungai," termasuk Yudea. Gubernur propinsi ini telah memberontak terhadap Artahsasta. Untung bagi Xudea, Artahsasta dengan cepat membendung pemberontakan ini.

Pada tahun 445 sM, misi Nehemia menyelesaikan apa yang diharapkan oleh orang Yahudi. Nehemia, seorang Yahudi, adalah juru minuman Raja Artahsasta di Susan. Nehemia telah mendengar bahwa orang-orang Yahudi, saudara-saudara setanah airnya, tidak diizinkan membangun kembali tembok-tembok kota mereka. Ia menyadari betapa berbahayanya situasi itu bagi orang Yahudi. Waktu yang berubah-ubah, kebencian para pemimpin Samaria terhadap orang Yahudi di Yudea, dan pemusnahan orang Yahudi yang nyaris berhasil yang direncanakan oleh Haman merupakan alasan-alasan yang baik bagi kegelisahan Nehernia. Setelah berdoa (Neh. 1:5-11), dan dengan keprihatinan yang mendalam terhadap saudara-saudaranya di Yudea, Nehemia berbicara dengan Artahsasta. Raja memberi izin kepada Nehemia untuk membangun kembali tembok kota Yerusalem (2:5, 78). Dengan diiringi pasukan berkuda kerajaan, Nehemia tiba di Yerusalem pada tahun 445 sM.

Segera Nehemia dilawan oleh Sanbalat, Tobia, dan Gesyem (Neh. 2:10, 19; 4:1-2). Tetapi Nehemia memeriksa apa yang harus dikerjakan pada tembok-tembok itu dan memastikan bahwa pembangunan segera dimulai, sebelum musuh-musuh orang Yahudi dapat menghimpun kekuatan mereka. Selama hari-hari yang tegang ini para pekerja menggunakan satu tangan untuk membangun dan tangan yang lain memegang senjata untuk pertahanan (4:17). Tembok itu selesai setelah hanya 52 hari bekerja. Orang Israel telah bekerja keras sepanjang hari dan pada waktu malam mereka mengawal tembok-tembok itu. Ketika tembok-tembok selesai, orang Lewi dan para penyanyi datang dari segala tempat di sekitar Yerusalem untuk menahbiskan tembok itu dengan nyanyian. Nehemia membentuk dua paduan suara untuk berjalan ke jurusan yang berlawanan keliling tembok-tembok, sambil menyanyikan puji-pujian kepada Allah sewaktu mereka saling mendekati. Di tengah-tengah nyanyian dan kurban yang dipersembahkan di bait suci, orang banyak itu begitu bergembira sehingga musuh mereka dapat mendengar sukacita mereka sampai jauh.

Nehemia menjadi gubernur Yudea selama 12 tahun. Ia ingin memugar Yerusalem kepada kemegahannya yang sebelumnya. Sampai saat itu sedikit orang yang mau mengambil risiko untuk menetap di Yerusalem yang tidak terlindung terhadap para penyerbu dan serangan-serangan mendadak (Neh. 7:4). Setelah temboknya dibangun kembali, orang-orang Yahudi setuju bahwa paling sedikit 10 persen dari umat mereka harus pindah dari rumah dan desa mereka serta menetap di Yerusalem (11:1). Dengan demikian Yerusalem segera menjadi kota yang berkembang dan menjadi perhatian semua warganegara di propinsi itu - banyak orang mempunyai kawan atau kerabat yang tinggal di sana sekarang. Nehemia juga berhasil mencapai perbaikan-perbaikan sosial dalam propinsinya: ia menghapus kebiasaan meminjamkan uang dengan suku bunga tinggi yang tidak wajar (Neh. 5:7) dan mengembalikan tanah milik yang telah hilang (5:11).

Pada suatu waktu selama masa jabatan Nehemia sebagai gubernur, Ezra kembali ke Yerusalem. Ezra membaca kitab Taurat kepada perkumpulan seluruh rakyat (Neh. 8:2) dan membantu orang Yahudi untuk mengerti bagaimana mereka harus hidup menurut hukum Taurat. Pengajaran ini berlangsung selama Hari Raya Pondok Daud (8:18). Suatu perhimpunan yang khidmat di Yerusalem (9:38; 10:29) mengikat janji sendiri untuk tetap mematuhi hukum Taurat. Kelompok ini juga menghadapi masalah-masalah khusus dari komunitasnya: kawin campur (10:30); menghormati ketetapan hari Sabat (10:31); menyumbang sepertiga syikal untuk ibadah di bait suci (10:32-33); dan membantu penghidupan para imam dan orang Lewi dengan hasil yang pertama dan persepuluhan (10:34-39).

Nehemia kembali kepada Artahsasta pada tahun 433 sM. Kemudian ia diberi izin untuk kembali ke Yerusalem (Neh. 13:6), ketika ia menggunakan kekuasaan yang diperolehnya dari raja untuk mengeluarkan Tobia (13:7). Nehemia juga menuntut agar penduduk kota Yerusalem membantu penghidupan orang Lewi dan para penyanyi bait suci (13:10-13), melaksanakan ketetapan hari Sabat (13:15-22), dan melarang kawin campur (13:23-28).

 VII. Kemunduran Persia.
sembunyikan teks

Sebagaimana halnya negara-negara besar lainnya di dunia purba, pada akhirnya Persia melewati puncak pengaruhnya dan mulailah suatu masa kemerosotan yang lama. Kekalahan militer, persekongkolan politik, dan kesalahan-kesalahan besar di bidang ekonomi menimbulkan keruntuhan kerajaan ini.

 VIII. Kebudayaan Persia.
sembunyikan teks

Orang Persia meninggalkan bekas yang tidak terhapuskan atas kehidupan orang Yahudi. Berbagai aspek kebudayaan Persia mengubah kehidupan orang Yahudi pada masa Perjanjian Baru dan sesudahnya.



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA