Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala > 
IV. Hari-Hari Suci. 
 sembunyikan teks

Orang Israel merayakan sejumlah perayaan agama selama setahun. (Lihat "Upacara-Upacara Yahudi.") Tetangga mereka yang menyembah berhala mempunyai hari-hari sucinya sendiri, dan kebiasaan-kebiasaan ini memberikan pengertian lebih lanjut mengenai pandangan rohani mereka.

Orang Babel menjalankan perayaan bulan pada hari-hari tertentu dalam sebulan: hari pertama, ketujuh, kelima belas, dan kedua puluh delapan. Mereka juga merayakan hari-hari "ketujuh" yang khusus - hari ketujuh, keempat belas, kedua puluh satu, dan kedua puluh delapan dari setiap bulan. Mereka mengambil tindakan-tindakan pencegahan khusus untuk menghindari kemalangan pada hari-hari "ketujuh" ini. Dan mereka sama sekali tidak bekerja pada hari kelima belas dalam sebulan karena mereka percaya bahwa tidak mungkin terdapat nasib baik pada hari itu: hari perhentian ini dinamakan shappatu. Pada hari shappatu, orang Babel berusaha menenangkan para dewa dan meredakan kemarahan mereka dengan mengadakan hari sesalan dan doa.

Dalam agama penyembahan berhala sebuah kurban adalah makanan untuk dewa, sumber nutrisinya. "Bagaikan lalat" para dewa mengerumuni kurban Utnapisytim sesudah ia turun dari kapalnya. Sulit untuk percaya bahwa ada orang yang betul-betul percaya bahwa berhala itu makan sedikit ketika tak seorang pun melihat. Barangkali hidangan-hidangan itu dibawa kepada raja untuk dimakan setelah itu dipersembahkan kepada berhala. Makanan itu, karena memiliki pancaran kesucian, dianggap dapat menyucikan orang yang memakannya - dalam hal ini, raja. Bila sejumlah besar makanan dipersembahkan Sebagai kurban, seperti di Mesir atau Persia, makanan itu akan diberikan kepada para pegawai kuil. Cerita apokrifa tentang Bel dan Ular Naga menggambarkan kebiasaan ini.

Di samping hari-hari baik dan buruk yang telah kita bicarakan di atas, perayaan terbesar di Babel adalah akitu (yaitu Hari Raya Tahun Baru). Orang Babel merayakan akitu pada bulan Maret dan April, ketika alam mulai hidup kembali. Empat hari yang pertama dilewatkan dengan berdoa kepada Marduk, dewa utama Babel. Pada hari keempat malam, mereka menceritakan kisah penciptaan (Enuma Elish). Dengan menceritakan kembali kemenangan yang semula dari ketertiban (Marduk) atas kekacauan (Tiamat), orang Babel mengharapkan bahwa kemenangan yang sama akan ternyata dalam tahun yang baru. Orang Babel percaya bahwa kata-kata yang diucapkan itu memiliki kuasa. Jadi, pada hari kelima, raja tampil di depan patung Marduk dan menyatakan bahwa ia tidak melakukan kesalahan dan telah memenuhi semua kewajibannya. Kita tidak tahu pasti apa yang dilakukan orang Babel beberapa hari berikutnya, tetapi pada hari kesembilan dan kesepuluh mereka mengadakan pesta. Pada hari kesebelas para petenung meramal nasib selama tahun berikutnya.



TIP #24: Gunakan Studi Kamus untuk mempelajari dan menyelidiki segala aspek dari 20,000+ istilah/kata. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA