Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala >  III. Agama Penyembah Berhala Dalam Sastra. > 
E. Sastra Keagamaan. 
sembunyikan teks

Sebagian besar naskah yang bercerita tentang kuil penyembahan berhala, persembahan, kurban, dan keimaman sedang menggambarkan agama raja. Biasanya hal-hal itu tidak berlaku untuk agama rakyat jelata. Leo Oppenheim telah berkata dengan tepat, "Orang biasa . . . tetap tidak dikenal, unsur tak dikenal yang paling penting dalam agama Mesopotamia."34 Pasti, hal yang sama dapat dikatakan tentang Mesir. Tidak mungkin. bahwa "orang biasa" dapat menerima wahyu dari para dewa. Menerima wahyu adalah hak istimewa raja.

Di sini terdapat perbedaan yang sangat besar antara Alkitab Kristen dan agama-agama penyembahan berhala. Di Perjanjian Lama, Allah berfirman tidak hanya kepada para pemimpin seperti Musa dan Daud, tetapi juga kepada wanita tunasusila, sampah masyarakat, orang berdosa, dan lain-lain. Misalnya, perhatikanlah bahwa orang pertama yang disebut di Alkitab sebagai orang yang dipenuhi dengan Roh Allah adalah seorang bernama Bezaleel (Kel. 31:3), mandor yang mengepalai pembangunan kemah suci.

Entah itu di Mesir atau di Mesopotamia, para penyembah berhala percaya bahwa dewa-dewa mereka tinggal di dalam kuil-kuil yang telah dibangun untuk mereka. Sebagai tempat kediaman dewa maka kuil itu dianggap suci. Nyanyian-nyanyian kepada kuil-kuil sangat umum dalam sastra para penyembah berhala.

Dalam hal ini, doa Salomo ketika menahbiskan bait suci di Yerusalem menyatakan tekanan yang jelas menentang penyembahan berhala. Pertimbangkan ayat ini, "Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini" (I Raj. 8:27).

Raja kafir mengelola kuil dan melakukan pelayanan sebagai imam bagi dewa-dewanya. Ia dianggap sebagai pengantara antara manusia dengan para dewa. Ia memerintah untuk para dewa (seperti di Mesopotamia) atau sebagai dewa (seperti di Mesir).

Sambil lalu, di sini kita bertemu dengan salah satu ciri yang paling khas dari iman alkitabiah. Agama-agama kafir tidak pernah menghasilkan jurubicara - yang berani membantah raja, seperti yang dilakukan para nabi di Alkitab. Para penyembah berhala tidak mempunyai konsep tentang "imunitas kenabian." Hanya di Israel seorang raja dapat disalahkan oleh seorang nabi dengan kata-kata, "Engkaulah orang itu!" (II Sam. 12:7). Betapa pun, jikalau raja itu berdaulat, ilahi, dan imam kepala, siapa dapat mengatakan kepadanya bahwa ia bersalah? Inilah sebabnya Izebel, yang berasal dari lingkungan Fenisia, tidak dapat mengerti mengapa suaminya, yang orang Israel, gemetar ketakutan di hadapan Nabi Elia (bdg. I Raj. 16:31; 21:6, 20-27).



TIP #02: Coba gunakan wildcards "*" atau "?" untuk hasil pencarian yang leb?h bai*. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA