Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala >  III. Agama Penyembah Berhala Dalam Sastra. > 
A. Berbagai Cerita Penciptaan dari Mesir. 
sembunyikan teks

Mesir mempunyai paling sedikit lima cerita yang berbeda yang menjelaskan asal usul dunia, dewa-dewa, dan manusia. Dua di antara lima cerita ini sudah cukup untuk menggambarkan kepercayaan orang Mesir.

Kota Heliopolis menurunkan cerita bahwa Amun-Re muncul dari himpunan air (Nun) dengan kekuatannya sendiri. Lalu ia memperanakkan dari dirinya sendiri pasangan dewa yang pertama, Shu dan Tefnut (udara dan embun, pria dan wanita). Pasangan ini kawin dan menghasilkan suatu generasi dewa yang lain, Geb (bumi) dan istrinya Nut (langit). Dan demikianlah proses kehidupan dimulai.

Dalam sebuah cerita lain (ini berasal dari kota Hermopolis), penciptaan mulai dengan empat pasangan dewa. Keempat pasangan ini menciptakan sebuah telur. Dari telur ini lahirlah matahari (Re). Kemudian Re menciptakan dunia.

Orang Mesir menceritakan kisah-kisah penciptaan ini untuk berusaha membuktikan bahwa kota mereka adalah tempat penciptaan. Memfis, Thebes, Heliopolis, dan Hermopolis menyatakan bahwa di daerah mereka itulah segala sesuatu dimulai.

Pemujaan Kaisar

Orang-orang Romawi menemukan bermacam-macam bahasa, agama, dan kebudayaan di antara bangsa-bangsa yang telah mereka taklukkan. Secara berangsur-angsur Kekaisaran Romawi mengasimilasi kepercayaan-kepercayaan asing ini, termasuk pemujaan para pemimpin politik.

Propinsi-propinsi di bagian timur mempunyai kebiasaan untuk memuja penguasa mereka yang masih hidup. Bangsa Mesir menganggap bahwa para firaun adalah keturunan dewa matahari, sedang bangsa Yunani memuja para pahlawan besar mereka yang telah wafat. Aleksander Agung mendirikan sebuah kultus pemuja untuk dirinya sendiri di Aleksandria. Wangsa Seleukos dari Siria dan wangsa Ptolemeus dari Mesir mengikuti tradisi ini, serta menyebutkan diri mereka dewa-dewa yang tinggal di bumi. Ketika kekuasaan Roma mulai menggantikan raja-raja ini, pemujaan Roma (pendewaan negara Romawi) mulai menggantikan kultus mereka. Bangsa-bangsa yang ditaklukkan mulai memuja orang-orang Romawi yang tersohor - Sulla, Marcus Antonius, Julius Caesar.

Pertama-tama, orang Romawi meremehkan pemujaan penguasa. Akan tetapi, mereka memuja roh nenek moyang mereka yang sudah mati (lares) dan roh ilahi dari kepala keluarga (paterfamilias).

Augustus Caesar menggabungkan gagasan-gagasan pemujaan penguasa dan pemujaan nenek moyang dalam pemujaan kaisar. Di propinsi-propinsi, warga negara Romawi memuja Roma dan Augustus bersama-sama sebagai suatu tanda dari kesetiaan mereka kepada kaisar.

Di seluruh kekaisaran itu, warga negara Roma menggabungkan pemujaan kaisar ke dalam agama setempat.

Di propinsi-propinsi, warga negara yang terkemuka menjadi imam dalam pemujaan kaisar untuk mempererat hubungan mereka dengan Roma. Akan tetapi, Augustus membebaskan orang Yahudi dari pemujaan kepada kaisar.

Kaisar Caligula (tahun 37-41 M.) menyatakan dirinya sebagai dewa; ia membangun dua kuil untuk dirinya - satu dengan biaya masyarakat, dan yang lain dengan biayanya sendiri. Dengan berpakaian sebagai Yupiter, ia mengucapkan berbagai ramalan. Setelah mengubah kuil Castor dan Pollux menjadi ruang depan istananya, ia tampil di antara area dewa-dewa itu untuk menerima pujaan, Ia dituduh telah mengikuti kebiasaan wangsa Ptolemeus yaitu menikahi saudara perempuannya sendiri. Pada tahun 40 M., mungkin karena digusarkan oleh kenyataan bahwa beberapa orang Yahudi telah menghancurkan sebuah mezbah yang didirikan kepadanya, maka Caligula memerintahkan agar sebuah patung Yupiter yang memiliki roman mukanya ditempatkan di bait suci di Yerusalem. Orang Yahudi menanggapi dengan mengatakan bahwa "apabila ia hendak menempatkan patung itu di antara mereka, ia harus lebih dahulu mengorbankan seluruh bangsa Yahudi" (Flavius Yosefus, Wars, Vol. 2, Bk. 10, Sec. 4). Petronius, gubernur di Siria, berhasil membuat perintah ini dibatalkan.

Claudius, pengganti Caligula, mengembalikan kebebasan beragama kepada bangsa Yahudi dan menghindari usaha-usaha untuk memuja dirinya. la berkata, "Karena saya tidak ingin kelihatan kampungan kepada orang-orang yang hidup sezaman dengan saya dan saya berpendapat bahwa kuil-kuil dan yang semacam itu sudah berabad-abad dihubungkan dengan dewa-dewa saja."

Kisah yang paling tersohor dari kebijaksanaan orang Romawi terhadap orang Kristen terdapat dalam korespondensi antara Plinius Muda (thn. 62-113 M.) dan kaisar Trayanus (memerintah thn. 98-117 M.). Plinius telah diutus ke Bitinia (sekarang Turki) untuk menyelidiki tuduhan ketidakbijaksanaan dalam pemerintahan. Orang-orang Bitinia mengadukan tetangga Kristen mereka, tetapi Plinius tidak yakin akan Cara menangani mereka. Ia memberi tahu kepada kaisar:

" ... Cara yang telah saya jalankan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai orang Kristen adalah begini: Saya menanyai mereka apakah mereka orang Kristen; jika mereka mengaku, saya mengulang pertanyaan itu dua kali lagi dengan menambahkan ancaman hukuman mati; jika mereka masih bersikeras, saya memberi perintah untuk menghukum mati mereka .... Orang yang menyangkal bahwa mereka dahulu atau pernah menjadi Kristen, dan yang mengucapkan sesudah saya suatu doa kepada dewa-dewa, dan mempersembahkan pujaan, dengan anggur dan kemenyan, kepada patung yang Mulia . . . dan yang akhirnya mengutuk Kristus - konon, mereka yang benar-benar Kristen tidak dapat dipaksa untuk melakukan satu pun dari perbuatan-perbuatan ini - orang-orang ini saya anggap patut dibebaskan ...

Karena saya anggap penting untuk memohon petunjuk Yang Mulia mengenai perkara ini - terutama mengingat jumlah orang yang terancam. Orang dari semua tingkat dan usia serta pria dan wanita akan terlibat dalam penganiayaan ini. Karena takhayul yang mudah menjalar ini tidak terbatas pada kota-kota saja, tetapi telah tersebar ke desa-desa dan daerah-daerah pedusunan; akan tetapi, tampaknya ada kemungkinan untuk menahan dan melenyapkannya" (Epistle X, 96).

Jawaban Trayanus menyimpulkan kebijaksanaan ini, "Cara yang telah Anda gunakan, Plinius yang baik, dalam menyaring kasus-kasus yang dilaporkan kepada Anda sebagai orang Kristen adalah sangat tepat ... Jangan mengadakan pencarian untuk orang-orang ini; bila mereka dilaporkan dan didapati bersalah mereka harus dihukum; akan tetapi, dengan pembatasan bahwa bila pihak itu menyangkal menjadi Kristen, dan akan memberi bukti bahwa ia bukan Kristen (yaitu dengan memuja dewa-dewa kami) ia akan diampuni atas dasar pertobatannya" (Epistle X, 97).

Pemujaan kaisar berlangsung sebagai agama penyembahan berhala yang amat resmi di kekaisaran itu sampai agama Kristen diakui di bawah pimpinan Kaisar Constantinus (memerintah thn. 305-337 M.).



TIP #08: Klik ikon untuk memisahkan teks alkitab dan catatan secara horisontal atau vertikal. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA