Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  40. Para Rasul > 
VIII. Matius. 
 sembunyikan teks

Pada zaman Yesus, pemerintah Romawi mengumpulkan beberapa macam pajak dari masyarakat Palestina. Pajak untuk mengangkut barang melalui jalan darat atau laut ditagih oleh pemungut pajak swasta, yang membayar jumlah tertentu kepada pemerintah Romawi untuk mendapat hak menagih pajak ini. Para pemungut pajak ini mengambil keuntungan dengan memungut jumlah yang lebih besar dari yang sudah ditetapkan. Pemungut pajak yang sah kadang-kadang menyewa pejabat-pejabat kecil yang disebut pemungut cukai untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Para pemungut cukai ini memperoleh upah mereka dengan menagih sedikit lebih banyak dari apa yang dituntut oleh atasan mereka. Murid Tuhan yang bernama Matius adalah seorang pemungut cukai yang mengumpulkan pajak di jalan antara Damsyik dan Ako; posnya terletak sedikit di luar Kapernaum dan mungkin juga ia menarik pajak pendapatan dari para nelayan.

Biasanya, pemungut cukai menarik pajak sebesar 5 persen dari harga beli barang-barang yang biasa dan 12,5 persen untuk barang-barang mewah. Matius juga menarik pajak dari para nelayan yang menangkap ikan sepanjang Danau Galilea dan para pemilik perahu yang membawa barang-barang mereka dari kota-kota di seberang danau.

Orang Yahudi menganggap uang para pemungut pajak sebagai uang haram, jadi mereka tidak pernah mengambil uang kembali dari para penagih pajak tersebut. Seandainya seorang Yahudi tidak memiliki uang pas seperti yang dikehendaki si penagih, maka ia akan meminjam dari temannya. Masyarakat Yahudi memandang rendah para pemungut cukai sebagai wakil kekaisaran Romawi yang mereka benci dan wakil raja boneka Yahudi. Pala pemungut cukai dilarang untuk memberikan kesaksian di pengadilan, dan mereka juga tidak boleh memberikan uang persepuluhan di Bait Suci Bahkan seorang Yahudi baik-baik tidak mau berhubungan dengan pemungut cukai dalam kehidupannya (bdg. Mat. 9:10-13).

Orang Yahudi membagi para penagih pajak menjadi dua golongan. Yang pertama disebut gabbai, mereka yang menagih pajak umum untuk pertanian dan pajak sensus dari masyarakat. Golongan yang kedua disebut mokhsa, yakni petugas yang mengumpulkan uang dari para pedagang keliling. Kebanyakan mokhsa ini adalah orang Yahudi, karenanya mereka dipandang sebagai pengkhianat bangsanya sendiri. Matius termasuk dalam golongan penagih pajak ini.

Injil Matius menceritakan bahwa Yesus mendekati orang yang dianggap tidak pantas menjadi murid-Nya ini ketika pada suatu hari ia sedang duduk di rumah cukainya. Yesus hanya mengatakan kepada Matius, "Ikutlah Aku," dan Matius segera meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Sang Guru (Mat. 9:9).

Kelihatannya Matius adalah seorang yang berada, karena ia mengadakan perjamuan makan di rumahnya. "Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia" (Luk. 5:29). Fakta sederhana bahwa Matius memiliki rumah sendiri menunjukkan bahwa ia lebih kaya dari para pemungut cukai yang lain.

Karena jenis pekerjaannya, kita merasa cukup yakin bahwa Matius dapat membaca dan menulis. Dokumen-dokumen pajak pada kertas papirus yang berasal dari sekitar tahun 100 menunjukkan bahwa para pemungut cukai cukup menguasai keterampilan hitung-menghitung. (Mereka menggunakan simbol-simbol Yunani yang lebih sederhana, dan bukan angka-angka Romawi yang rumit)

Matius mungkin memiliki hubungan saudara dengan rasul Yakobus, karena masing-masing mereka disebut "anak Alfeus" (Mat. 10:3; Mrk. 2:14). Kadang-kadang Lukas menggunakan nama Lewi untuk menyebut Matius (bdg. Luk. 5:27-29). Karena itu, beberapa pakar yakin bahwa nama Matius sebelum ia memutuskan untuk mengikut Yesus adalah Lewi, dan bahwa Yesus memberinya nama yang baru, yang berarti "pemberian Allah." Pakar lainnya beranggapan bahwa Matius adalah anggota suku para imam Lewi.

Meskipun seorang mantan pemungut cukai telah bergabung dengan kelompok-Nya, Yesus tidak bersikap lunak kepada para penagih pajak. Ia menyamakan mereka dengan perempuan sundal (bdg. Mat. 21:31), dan Matius sendiri menggolongkan para pemungut cukai dengan orang berdosa (Mat. 9:10).

Di antara semua kitab Injil lainnya, Injil Matius mungkin yang paling berpengaruh. Kepustakaan kristiani dari abad kedua lebih sering mengutip dari Injil Matius daripada Injil lainnya. Para bapa gereja menempatkan Injil Matius pada permulaan kanon Perjanjian Baru, kemungkinan karena dinilai memiliki arti yang penting. Tulisan Matius menekankan bahwa Yesus menggenapi nubuat Perjanjian Lama. Injil tersebut menekankan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, yang datang untuk menebus seluruh umat manusia.

Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Matius setelah hari Pentakosta. Dalam bukunya, Book of Martyrs, John Foxe menulis bahwa Matius menghabiskan sisa hidupnya dengan menginjil di Partia dan Etiopia. Foxe mengatakan bahwa Matius mati sebagai martir di kota Nadabah pada tahun 60. Bagaimanapun juga, kita tidak tahu dari sumber manakah Foxe mendapat informasi ini (selain dari sumber-sumber Yunani abad pertengahan) dan kita tidak dapat menilai apakah informasi ini layak dipercaya.



TIP #32: Gunakan Pencarian Khusus untuk melakukan pencarian Teks Alkitab, Tafsiran/Catatan, Studi Kamus, Ilustrasi, Artikel, Ref. Silang, Leksikon, Pertanyaan-Pertanyaan, Gambar, Himne, Topikal. Anda juga dapat mencari bahan-bahan yang berkaitan dengan ayat-ayat yang anda inginkan melalui pencarian Referensi Ayat. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA