Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  39. Yesus Kristus > 
II. DOKTRIN KRISTUS. 
sembunyikan teks

Kristologi membahas tentang pribadi dan pekerjaan Kristus - yakni doktrin Kristus.

 A. Pribadi-Nya. 
sembunyikan teks

Untuk dapat memahami pribadi Kristus bukanlah suatu tugas yang mudah, tetapi ada kesepakatan umum mengenai sebagian besar aspek dari sifat Kristus dan kepribadian-Nya.

Lima gelar Yesus mencerminkan sesuatu yang penting tentang pribadi dan/atau karya-Nya. Nama Yesus (yang identik dengan Yosua dan berarti "Allah adalah Juruselamat") menegaskan peranan-Nya sebagai Juruselamat umat-Nya (Mat. 1:21). Kristus adalah padan kata dalam Perjanjian Baru untuk Mesias, sebuah kata Ibrani yang berarti "orang yang diurapi" (bdg. Kis. 4:27; 10:38). Gelar ini menegaskan bahwa Yesus ditunjuk oleh Allah untuk menjalankan misi-Nya, bahwa la mempunyai hubungan resmi dengan Allah Bapa - yaitu, la mempunyai tugas yang harus dilakukan dan peran untuk dilaksanakan sesuai dengan ketetapan Bapa.

Anak Manusia adalah gelar yang hampir selalu dipakai oleh Yesus sendiri (bdg. Mat. 9:6; 10:23; 11:19). Ada yang berpendapat bahwa Ia menggunakan gelar tersebut karena itu dengan jelas membedakan Kemesiasan-Nya dari gagasan-gagasan yang keliru pada masa itu.

Gelar Anak Allah juga digunakan pada Yesus dalam pengertian resmi atau kemesiasan (bdg. Mat. 3:4, 6; 16:16; Luk. 22:70; Yoh. 1:49). Gelar tersebut menekankan bahwa Ia adalah salah satu oknum dari ketritunggalan Allah, yang dilahirkan secara adikodrati sebagai manusia.

Gelar Tuhan digunakan berganti-ganti untuk Yesus sebagai gelar yang sederhana (artinya hampir seperti "Tuan"), sebuah gelar kekuasaan atau kepemilikan, atau (kadang-kadang) sebuah petunjuk dari kesetaraan-Nya dengan Allah (mis., Mrk. 12:36-37; Luk. 2:11; Mat. 7:22).

Saat ini orang percaya bahwa Yesus adalah Allah dan manusia - yaitu Ia mempunyai dua sifat terpisah yang dipadukan secara "tidak membingungkan, tidak berubah, tidak dapat dibagi, dan tidak terpisahkan" dalam satu kepribadian-Nya (Pengakuan Iman Chalcedon, 451 M)

Doktrin ini tidak dibangun atas dasar nalar manusia, tetapi atas wahyu alkitabiah. Ada banyak catatan kitab suci yang membuktikan bahwa Yesus bersifat ilahi. Alkitab menyebutkan bahwa hanya ada satu Allah dan tidak ada allah-allah lain yang kurang penting (bdg. Kel. 20:3-4; Yes. 42:8; 44:6), namun Alkitab menegaskan bahwa Yesus adalah Allah (mis. Yoh. 1:1; Rm. 9:5; Ibr. 1:8). Alkitab melaporkan bahwa Yesus disembah sesuai dengan perintah Allah (Ibr. 1:6), sementara makhluk-makhluk roh yang kurang penting menolak untuk disembah (Why. 22:8-9) karena penyembahan hanya dapat diberikan kepada Allah. Hanya Sang Pencipta ilahi yang patut disembah oleh makhluk ciptaan-Nya. Akan tetapi, Yesus Kristus, Anak Allah, adalah mitra pencipta bersama dengan Bapa-Nya (Yoh. 1:3; Kol. 1:16; Ibr. 1:2): karena itu kedua-Nya harus disembah. Sekali lagi, Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah Juruselamat umat-Nya (Mat. 1:21), sekalipun Yehova adalah satu-satunya Juruselamat bagi umat-Nya (Yes. 43:11; Hos. 13:4). Alkitab menyatakan bahwa Bapa sendiri telah menyebut Yesus Allah (Ibr. 1:8).

Alkitab juga mengajarkan bahwa Yesus memiliki kemanusiaan sejati. Kristus di Perjanjian Baru bukan ilusi atau hantu; Ia adalah manusia seutuhnya. Ia menyebut diri-Nya manusia, seperti yang dilakukan orang lain (mis. Yoh. 8:40; Kis. 2:22). Ia hidup dalam tubuh manusia (Yoh. 1:14; I Tim. 3:16; I Yoh. 4:20). Ia mempunyai tubuh dan pikiran manusia (Luk. 23:39; Yoh. 11:33, Ibr. 2:14). Ia pernah mengalami kebutuhan dan penderitaan manusia (Luk. 2:40, 52; Ibr. 2:10, 18; 5:8). Bagaimanapun, Alkitab menekankan bahwa Yesus tidak ambil bagian dalam dosa yang menjadi ciri-ciri semua manusia biasa yang lain (bdg. Luk. 1:35, Yoh. 8:46; Mr. 4:15).

 B. Kepribadian-Nya.
sembunyikan teks

Kristus mempunyai dua sifat yang nyata tetapi satu pribadi, bukan dua pribadi di bawah satu kulit. Ia adalah Logos yang kekal (Firman ilahi), oknum kedua dari Trinitas, namun la menerima sifat manusia sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perubahan mendasar dalam sifat keilahian-Nya. Kita dapat berbicara dengan Kristus dalam doa dengan menggunakan gelar yang menunjukkan sifat kemanusiaan dan keilahian, meskipun sifat keilahian-Nya adalah dasar utama penyembahan kita. Penjelmaan menyatakan Allah yang Tritunggal (tiga dalam satu) dengan cara menunjukkan kepada kita hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh (bdg. Mat. 3:16-17; Yoh. 14:15-26; Rm. 1:3-4; Gal. 4:4-5; I Ptr. 1:1-12). Karena Yesus adalah satu Pribadi, dan karena kesatuan kehidupan pribadi-Nya mencakup seluruh karakter dan semua kekuatan-Nya, Alkitab berbicara tentang diri-Nya sebagai ilahi dan manusiawi. Alkitab menghubungkan perbuatan dan sifat ilahi dengan Kristus, Anak Allah yang kekal (Kis. 20:28).

 C. Kedudukan-Nya. 
sembunyikan teks

Ketika kita berusaha untuk mengerti tentang Kristus, kita harus memeriksa kedudukan-Nya di depan hukum. Ia merendahkan diri-Nya di hadapan hukum; sebagai akibatnya, Allah memuliakan Dia di atas hukum itu. Ini merupakan ironi yang menarik.

Sang Anak mengesampingkan keagungan ilahi-Nya dan mengambil sifat manusia. Ia menyerahkan diri-Nya terhadap semua penderitaan kehidupan-Nya di dunia, termasuk juga kematian. Ia melakukan hal ini guna melaksanakan rencana Allah untuk menebus manusia dari dosa.

Ketika Firman yang ilahi menjadi manusia, Ia tidak berhenti menjadi Allah, yaitu keadaan-Nya yang sebelumnya. Dengan demikian, penjelmaan sebagaimana adanya - yaitu, keberadaan Firman itu secara fisik - terus berlangsung ketika Ia duduk di sebelah kanan Allah.

Kristus dikelilingi oleh dosa. Iblis berulang-ulang menyerang Dia. Umat-Nya sendiri membenci Dia dan menolak untuk percaya bahwa Ia adalah Juruselamat. Musuh-musuh-Nya menganiaya Dia. Akhirnya, pada akhir dari kehidupan-Nya di dunia, Ia memikul seluruh kemarahan Allah terhadap dosa. Tidak ada orang lain yang pernah menderita begitu hebat seperti yang dialami Yesus.

Allah Bapa memuliakan Kristus dengan membangkitkan-Nya dari antara orang mati, mengangkat-Nya ke surga, dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan-Nya. Kristus akan kembali dari tempat terhormat itu untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

 D. Jabatan Kenabian-Nya.
sembunyikan teks

Perjanjian Lama menggambarkan seorang nabi sebagai seseorang yang menerima Firman (wahyu) Tuhan dan menyampaikannya kepada umat-Nya. Untuk menjadi seorang nabi, seseorang harus menerima Wahyu yang jelas dari Allah. Ia berdiri sebagai pengganti Allah di hadapan umat itu; Allah menggunakan mulutnya untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan-Nya.

Perjanjian Lama menjanjikan seorang nabi besar yang akan menyampaikan Firman Allah secara meyakinkan kepada umat-Nya (Ul. 18:15). Yesus adalah nabi tersebut (Kis. 3:22-24). Ia bertindak sebagai nabi, bahkan sebelum Ia datang ke dunia sebagai manusia, karena Ia berbicara melalui para penulis Perjanjian Lama (I Ptr. 1:11). Selama masa pelayanan-Nya di dunia, Ia mengajarkan kepada para pengikut-Nya tentang Allah, dengan perkataan dan perbuatan. Sekarang Ia meneruskan pekerjaan kenabian-Nya dari surga melalui Roh Kudus.

 E. Jabatan Keimaman-Nya.
sembunyikan teks

Sementara nabi Perjanjian Lama mewakili Allah di hadapan umat, imam mewakili umat di hadapan Allah. Demikianlah Kristus mewakili umat-Nya di hadapan Bapa (Ibr. 3:1; 4:14).

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa seorang imam harus diangkat oleh Allah. Ia harus bertindak atas nama manusia dalam hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Sebagai contoh, Ia harus mempersembahkan kurban dan persembahan karena dosa, memohon doa syafaat bagi umat yang diwakilinya, dan memberkati mereka (Ibr. 5: 1; 7:25; bdg. Im. 9:22).

Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban keimaman. Kurban-kurban Perjanjian Lama mengerjakan penebusan (karena "menghapus" dosa sehingga mengembalikan si penyembah kepada berkat dan hak istimewa yang dimaksudkan Allah bagi dia) dan dilakukan demi orang lain (karena kehidupan orang lain dan bukan kehidupan si penyembah yang dipersembahkan karena dosa). Kurban Kristus yang dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya itu mengerjakan penebusan dan dilakukan demi orang lain, dan itu mendatangkan keselamatan abadi bagi umat-Nya.

Kristus memperdamaikan orang berdosa dengan Allah. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada umat manusia dengan mengutus Kristus untuk menebus kita dari dosa-dosa kita (Yoh. 3:16). Apa pun yang terjadi, Allah berusaha untuk membawa makhluk ciptaan-Nya kembali kepada-Nya. Jadi, ketika Kristus datang ke dunia, tidak ada perubahan pada diri Allah, hanya terjadi perubahan dalam hubungan-Nya terhadap orang berdosa. Pengorbanan Kristus menutup kesalahan yang berada di antara orang berdosa dan Allah.

Kristus juga memohon doa syafaat bagi umat-Nya (Ibr. 7:25). Ia memasuki Tempat yang Kudus di surga dengan mempersembahkan kurban sempurna yang memadai yang Ia persembahkan kepada.Bapa. Dengan demikian, Ia mewakili semua orang yang menaruh iman kepada-Nya dan mengembalikan mereka kepada kedudukan mereka yang dahulu di hadapan Bapa (Ibr. 9:24).

Di hadapan Allah, sekarang Kristus menjawab tuduhan Iblis yang terus-menerus dilancarkan terhadap orang percaya (Rm. 8:33-34). Doa dan pelayanan kita telah ternoda oleh dosa dan ketidaksempurnaan: Kristus menyempurnakannya dalam pandangan Bapa, serta tak henti-hentinya Kristus berbicara kepada Bapa demi kepentingan kita. Akhirnya, Kristus berdoa bagi orang percaya. Ia memohon keperluan-keperluan yang kita tidak sebutkan dalam doa-doa kita - hal-hal yang kita abaikan, remehkan, atau yang tidak kita lihat. Ia melakukan ini untuk melindungi kita dari bahaya dan menyanggah iman kita hingga pada akhirnya kita mencapai kemenangan. Ia juga berdoa bagi mereka yang belum percaya. Ia terus-menerus melakukan pekerjaan sebagai pendoa syafaat ini.

 F. Jabatan Kerajaan-Nya.
sembunyikan teks

Sebagai oknum kedua dari Trinitas, sesama pencipta dengan Bapa, Kristus adalah raja yang kekal atas segala sesuatu. Sebagai Juruselamat, Ia adalah raja suatu kerajaan rohani - itu berarti, Ia memerintah di dalam hati dan hidup umat-Nya. Karena martabat kerajaan rohani-Nya, Kristus disebut "Kepala" gereja (Ef. 1:22).

Kristus mengatur dan memerintah segala sesuatu untuk kepentingan gereja-Nya. Ia tidak akan mengizinkan maksud-Nya digagalkan pada akhirnya. Kristus menerima jabatan raja semesta alam ini ketika Allah meninggikan Dia ke tempat yang mulia. di surga. Ia akan menyerahkan kerajaan ini kepada Bapa setelah Ia mencapai kemenangan terakhir atas Iblis (I Kor. 15:24-28), yaitu setelah Ia menghancurkan seluruh tata dunia ini dan membaharuinya. Kemudian alam semesta seperti yang kita ketahui ini tidak ada lagi. Tidak ada lagi raja-raja manusia atau kekuatan-kekuatan jahat yang mampu memerintah. Hanya Kristus dan kerajaan-Nya yang akan kekal selama-lamanya.



TIP #31: Tutup popup dengan arahkan mouse keluar dari popup. Tutup sticky dengan menekan ikon . [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA