Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  39. Yesus Kristus > 
I. Kisah Kehidupan Yesus. 
 sembunyikan teks

Meskipun setiap Injil ditulis untuk berdiri sendiri, keempat Injil tersebut dapat dipadukan secara harmonic, atau menjadi sebuah kisah tunggal, tentang kehidupan Yesus. Yesus hidup dalam lingkungan Yahudi, dituntun oleh Perjanjian Lama dan pada dasarnya di bawah pengaruh hukum orang Farisi. (Baca "Orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru.")

Orang Yahudi pada zaman Yesus, hidup dalam pengharapan akan berbagai peristiwa besar. Mereka hidup ditindas oleh orang Romawi, namun mereka yakin sekali bahwa Mesias akan segera datang. Banyak kelompok yang menggambarkan Mesias secara berbeda-beda, tetapi hampir tidak ada seorang Yahudi pun pada waktu itu yang hidup tanpa harapan. Beberapa orang dalam bangsa itu mempunyai keyakinan yang benar dan menantikan kedatangan seorang Mesias yang akan menjadi Juruselamat rohani mereka - misalnya Zakharia dan Elisabet, Simeon, Hana, Yusuf dan Maria (Luk. 1:2; Mat. 1:18 dst.). Gerakan pertama Roh Kudus mendatangi orang-orang setia seperti itu, untuk mempersiapkan mereka guna menyambut kelahiran Mesias sejati dari Allah, Yesus Kristus (Luk. 2:27, 36).

Sekitar tahun 6 sM, menjelang berakhirnya masa pemerintahan Herodes di Israel, Imam Zakharia adalah pemimpin di Bait Allah di Yerusalem. Ia sedang membakar ukupan di mezbah selama doa malam, ketika seorang malaikat menampakkan diri kepadanya, serta memberitahukan bahwa akan lahir anaknya yang pertama, seorang anak laki-laki. Anak ini akan mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias; roh dan kuasa Elia akan turun ke atasnya (bdg. Luk. 3:3-6) Orang tuanya harus menamakannya Yohanes. Zakharia adalah seorang yang benar-benar saleh, tetapi sulit baginya untuk mempercayai apa yang didengarnya dan sebagai akibatnya ia menjadi bisu sampai Elisabet (istrinya) melahirkan. Anak itu lahir, disunat dan dinamai sesuai dengan perintah Allah. Kemudian Zakharia mendapatkan kembali suaranya dan memuji Tuhan; nyanyian pujian ini disebut Benediktus (Luk. 1:5-25, 27-80).

Tiga bulan sebelum kelahiran Yohanes, malaikat yang sama (Gabriel) menemui Maria. Wanita muda ini bertunangan dengan Yusuf, seorang tukang kayu keturunan Raja Daud (bdg. Yes. 11:1). Malaikat itu berkata kepada Maria bahwa ia akan mengandung seorang anak oleh Roh Kudus, dan ia harus menamainya Yesus. Maria heran ketika mendengar bahwa meskipun dia seorang perawan, ia akan mendapat seorang anak yang merupakan Putra tunggal Allah dan Juruselamat umat-Nya (Luk. 1:32-35; bdg. Mat. 1:21). Namun, ia menerima pesan ini dengan sangat lemah lembut, berbahagia karena ia hidup dalam kehendak Allah (Luk. 1:38).

Malaikat Gabriel juga memberi tahu kepada Maria bahwa kerabatnya, Elisabet, sedang mengandung, dan Maria segera menemui Elisabet untuk berbagi kebahagiaan bersama. Ketika kedua wanita yang saleh ini bertemu, Elisabet menyambut Maria sebagai ibu Tuhannya (Luk. 1:39-45). Maria tiba-tiba menyanyikan pujian (Nyanyian Maria, Luk. 1:46-56). Ia tinggal selama tiga bulan bersama Elisabet sebelum pulang.

Yusuf, tunangan Maria, benar-benar terkejut ketika mengetahui apa yang tampaknya terjadi sebagai akibat dosa yang dahsyat yang telah diperbuat Maria (Mat. 1:19). Ia memutuskan untuk menceraikannya secara diam-diam. Kemudian seorang malaikat menampakkan diri dalam mimpinya serta menjelaskan situasi tersebut kepadanya, dan meminta dia untuk menikahi calon istrinya seperti yang sudah direncanakan.

Yesus lahir di Kota Betlehem. Pasangan pengantin baru tersebut telah disuruh pergi ke tempat oleh perintah Kaisar Agustus (Luk. 2:1). Demikianlah nubuat dalam Mikha 5:1 terpenuhi.

Dari seluruh penjuru kekaisaran itu, orang-orang Yahudi harus kembali ke kota-kota leluhur mereka untuk didaftar agar dapat membayar pajak. Sensus ini dilakukan ketika Kirenius (Quirinius) menjadi gubenur di Siria untuk pertama kalinya. Setelah tiba di Betlehem, Maria dan Yusuf tidak mendapatkan penginapan kecuali sebuah kandang (kemungkinan sebuah goa yang dipakai sebagai kandang ternak). Di sanalah Anak Allah yang kekal dilahirkan. Ia dibungkus dengan kain lampin dan dibaringkan dalam palungan. Tidak lama setelah kelahiran-Nya, para gembala datang untuk melihat Dia; para malaikat telah memberitakan hal tersebut kepada mereka ketika mereka sedang menggembalakan kawanan domba. Jika tidak, manusia tidak memperhatikan peristiwa tersebut:

 A. Tahun-Tahun Permulaan. 
sembunyikan teks

Kita mengetahui lima peristiwa pada masa kecil Yesus. Pertama, menurut hukum Yahudi, Ia disunat dan diberi nama pada umur delapan hari (Luk. 2:21). Sungguh penting bahwa Anak Allah yang tidak berdosa ini harus menjalani upacara semacam ini, yang mengikat Dia kepada ketaatan di bawah perjanjian Ilahi dan menyatukan Dia dengan umat Allah, Israel.

Kedua, Yesus dikuduskan di Bait Allah untuk memeteraikan penyunatan. Ia juga ditebus melalui pembayaran lima syikal yang telah ditetapkan. Untuk penyucian dirinya, Maria memberi korban orang miskin (bdg. Im. 12:8; Luk. 2:24). Misi Yesus dibuktikan kebenarannya oleh dua orang yang saleh, Simeon dan Hana (Luk. 2:25-38).

Yang ketiga, beberapa waktu kemudian sekelompok "orang majus" (kemungkinan imam-imam dan para ahli astrologi Babilonia) datang ke Yerusalem, dengan meminta keterangan tentang kelahiran seorang "Raja orang Yahudi." Mereka telah melihat bintang-Nya di angkasa (Mat. 2:2). Herodes yang zalim dengan segera menjadi gelisah. Setelah mendengar dari para ahli Taurat di mana Mesias akan lahir menurut nubuat, ia mengutus orang-orang majus itu ke Betlehem, dan meminta mereka kembali kepadanya jika mereka menemukan Mesias di sana. Herodes mengatakan bahwa ia juga ingin menyembah-Nya. Sebenarnya, ia ingin mengetahui di mana Kristus kecil berada, sehingga ia bisa menyingkirkan seorang saingan lagi. Tetapi seorang malaikat berkata kepada para orang majus tersebut untuk jangan kembali kepada Herodes. Sebelum mereka tiba. di Betlehem, bintang itu muncul kembali dan berhenti di atas tempat Yesus dan orang tua-Nya tinggal saat itu (Mat. 2:9).

Yang keempat, setelah kepergian orang majus itu, Allah memerintahkan Yusuf untuk melarikan diri ke Mesir bersama dengan keluarganya (Mat. 2:13-15). Herodes telah memerintahkan untuk membunuh setiap bayi yang berumur di bawah dua tahun yang tinggal di sekitar Betlehem. Tidak lama kemudian Herodes mati, dan Allah memerintahkan Yusuf untuk kembali ke Nazaret.

Peristiwa yang kelima adalah perjalanan Yesus bersama orang tua-Nya ke Bait Allah ketika Ia berumur 12 tahun (Luk. 2:41-52). Pada hari raya Paskah itu, Ia mungkin dijadikan anggota dalam kaum pria dewasa dengan cara diperkenalkan kepada para pemimpin agama. Berbeda dengan teman-teman sebaya-Nya, Yesus kembali ke Bait Allah dan melanjutkan diskusi dengan guru-guru agama (para Rabi). Ia begitu keasyikan sehingga tidak menyadari bahwa keluarga-Nya telah dalam perjalanan pulang. Di tengah-tengah keramaian dari sekelompok besar orang yang menjadi teman-teman seperjalanan, orang tua-Nya tidak langsung menyadari ketidakhadiran Yesus. Ketika mereka menyadari bahwa Ia tidak ada bersama-sama dengan mereka, mereka kembali ke Yerusalem dan menemukan Dia di Bait Allah. Ketika mereka bertanya mengapa Ia tidak pulang, Ia berkata kepada mereka bahwa ini adalah rumah Bapa-Nya dan Ia sedang melakukan pekerjaan Bapa-Nya.

Alkitab mengatakan bahwa sebagai anak muda Yesus "bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52).

Yohanes Pembaptis, anak laki-laki Elisabet dan sepupu Yesus, mempersiapkan jalan bagi pelayanan Yesus. Yohanes dikenal sebagai "Pembaptis" karena ia berkotbah kepada orang-orang Yahudi yang mengikutinya bahwa mereka harus bertobat dan dibaptis. Walaupun Yohanes tidak dapat dihubungkan dengan salah satu sekte Yahudi, perannya sebagai seorang nabi jelas (Luk. 7:24-28). Ketika Yesus kira-kira berumur 30 tahun, Ia pergi kepada Yohanes untuk dibaptis. Akan tetapi, Ia tidak bertobat dari dosa, karena Ia tidak berbuat dosa. Ia menyamakan dirinya dengan para pendosa dengan maksud untuk menjadi pemikul dosa. Ketika Yesus naik dari dalam air, Roh Kudus tampak turun di atas-Nya dalam bentuk seekor burung merpati. Setidak-tidaknya Yesus dan Yohanes (dan mungkin orang-orang yang melihat kejadian itu) mendengar suara Allah yang menyatakan bahwa Ia berkenan kepada Yesus (Mat. 3:13-17; Mrk. 1:9-11; Luk. 3:21-22; Yoh. 1:32-33).

Roh Kudus seketika itu juga memimpin Yesus ke padang gurun untuk menghadapi godaan Iblis (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12-13; Luk. 4:1-13). Yesus hanya sendirian bersama Bapa-Nya dan Roh Kudus ketika Ia berpuasa. Tetapi Iblis juga berada di tempat itu serta menggoda Dia untuk (1) memuaskan lapar-Nya, dan dengan cara demikian memperagakan ketidakpercayaan terhadap Bapa-Nya, (2) merampas kekuasaan atas dunia sebelum Bapa memberikannya kepada-Nya, dan (3) mencobai Allah untuk melihat apakah Ia akan menyelamatkan Yesus dari bahaya yang dibuat sendiri, dan dengan demikian menyerah kepada kehendak diri sendiri.

 B. Pelayanan Mula-mula di Yudea.
sembunyikan teks

Hanya Injil Yohanes yang menjelaskan tentang kehidupan Yesus pada periode ini. Pertama-tama Yohanes menceritakan kembali tentang hubungan antara Kristus dan Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis memberi tahu kepada perwakilan para petinggi agama bahwa ia bukan Mesias, walaupun ia memberi petunjuk bahwa Mesias sudah datang (Yoh. 1:19-27). Hari berikutnya, ketika melihat Yesus menghampirinya, Yohanes Pembaptis menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias (Yoh. 1:30-34). Ia berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah ...," serta menyatakan secara tidak langsung bahwa muridnya pun harus mengikuti Yesus (Yoh. 1:35-37).

Yesus mulai mengumpulkan murid-murid kepada diri-Nya (Yoh. 1:38-51). Sebagai hasil dari kesaksian Yohanes Pembaptis, Yohanes dan Andreas mengikuti Yesus. Petrus menjadi pengikut karena kesaksian saudaranya, Andreas. Pengikut yang keempat, Filipus, dengan segera ikut waktu Yesus memanggil dia. Filipus membawa Natanael (Bartolomeus) kepada Kristus, dan ketika Kristus menunjukkan bahwa Ia mengetahui pikiran Natanael, ia juga bergabung bersama mereka. (Baca "Para Rasul.")

Tidak lama kemudian Yesus mengadakan perjalanan ke Galilea. Pada perjamuan perkawinan di Kana, Ia mengubah air menjadi anggur (mukjizat pertama yang dicatat). Perbuatan ini menunjukkan kepada para murid kekuasaan-Nya di atas alam semesta. Setelah pelayanan singkat di Kapernaum, Yesus dan para pengikut-Nya pergi ke Yerusalem untuk hari raya Paskah. Di sana Dia menyatakan di hadapan orang banyak kekuasaan-Nya di atas penyembahan manusia dengan menyucikan Bait Allah.88 Pada saat itu, pertama kali Yesus mengisyaratkan tentang kematian dan kebangkitan-Nya, "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" (Yoh. 2:19).

Salah seorang pemimpin agama Yahudi, seorang Farisi bernama Nikodemus, datang kepada Yesus pada malam hari untuk berbicara tentang hal-hal rohani. Percakapan mereka yang terkenal berpusat pada perlunya "dilahirkan kembali" (Yoh. 3).

Enam bulan berikutnya, Yesus sedang melayani di luar Yerusalem, tetapi masih di wilayah Yudea tempat Yohanes Pembaptis juga melayani: Secara berangsur-angsur orang-orang mulai meninggalkan Yohanes dan mengikuti Yesus. Hal ini mengganggu murid-murid Yohanes Pembaptis, tetapi Yohanes sendiri tidak; ia bahkan bergembira melihat Sang Mesias memperoleh perhatian lebih (Yoh. 3:27-30).

Menjelang akhir enam bulan tersebut Yohanes Pembaptis dimasukkan ke dalam penjara karena ia mencela Herodes Antipas yang mengambil istri saudaranya, Filipus (Mat. 14:3-5).

Kemungkinan penahanan Yohanes Pembaptis di penjara, mendorong Yesus untuk melayani di Galilea. Bagaimanapun juga, Ia pergi ke sana. Dalam perjalanan Ia berbicara dengan seorang wanita Samaria yang bertemu dengan-Nya dekat sebuah sumur. Rupanya wanita ini dan beberapa teman sedesanya menerima Yesus sebagai Mesias dan Juruselamat yang sejati - suatu hal yang luar biasa (Yoh. 4:1-42). (Mengenai kebencian di antara orang Samaria dan orang Yahudi, baca "Orang Yahudi pada Zaman Perjanjian Baru.")

 C. Pelayanan di Galilea. 
sembunyikan teks

Perhentian Yesus yang pertama ketika Ia kembali ke Galilea adalah di Kana. Di sana Ia menyembuhkan anak seorang bangsawan. Semangat orang bangsawan itu mendorong Yesus untuk memenuhi permintaannya (Yoh. 4:45-54). Di Nazaret, Yesus beribadah di sinagoge pada hari Sabat. Di sana Yesus diminta untuk membaca (dalam bahasa Ibrani) sebuah cuplikan dari Kitab Suci dan menjelaskannya (kemungkinan dalam bahasa Aram). Pada mulanya sanak saudara-Nya merasa senang, tetapi mereka menjadi marah ketika mereka mengetahui bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Mesias. Mereka membawa-Nya ke luar kota hendak melemparkan-Nya dari tebing yang curam, tetapi Yesus berjalan "lewat dari tengah-tengah mereka" (Luk. 4:30) lalu menghilang.

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, yang rupa-rupanya menjadi "basis"-Nya (bdg. Mat. 9:1). Di sini secara resmi Dia memanggil para murid yang akan mengadakan perjalanan bersama dengan Dia, yaitu Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, yang rupanya sudah kembali ke rumah dan pekerjaannya. Yesus mengajar di rumah sembahyang setiap hari Sabat dan menyembuhkan orang yang dirasuk setan di sana. Ia juga menyembuhkan seorang yang kerasukan setan. Ia juga menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mat. 8:14-15; Mrk. 1:29-31; Luk. 4:38; bdg. I Kor. 9:5). Kemudian banyak orang sakit berkumpul, "dan Ia meletakkan tangan-Nya atas masing-masing dan menyembuhkan mereka" (Luk. 4:40).

Pada tahap berikutnya dari pelayanan Yesus, Ia menjadi sangat dikenal di antara rakyat biasa. Sekarang misi utama Yesus adalah mengajar, jadi Ia meninggalkan orang-orang yang hendak memaksanya untuk tinggal di satu tempat saja untuk melakukan pelayanan penyembuhan saja (Luk. 4:42-44; bdg. Mrk. 1:35, 37). Masyarakat menyambut dengan gembira mukjizat dan ajaran-Nya. Sifat khas pelayanan keliling-Nya kali ini adalah penyembuhan seorang penderita kusta (Luk. 5:12-15; bdg. Mrk. 1:40-45). Kejadian ini menegaskan kepatuhan Yesus kepada hukum Taurat, belas kasihan-Nya pada manusia, dan perhatian-Nya untuk membawa manusia kepada keselamatan. (Ia memerintahkan orang kusta tersebut untuk mengadakan perjalanan jauh ke Yerusalem dan memperlihatkan dirinya di Bait Allah untuk pentahiran yang telah ditetapkan, menyerahkan dirinya kepada Allah).

Di Kapernaum, Yesus menunjukkan kuasa-Nya untuk mengampuni dosa dengan menyembuhkan seorang lumpuh dan memanggil Matius, seorang pemungut cukai yang sangat dibenci, untuk menjadi pengikut-Nya (Luk. 5:16-29). Matius langsung menanggapi-Nya. Pada waktu perjamuan makan di rumah Matius, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengritik Yesus dan para murid-Nya karena mereka menuruti keinginan dan perasaan sendiri. Yesus menjawab bahwa mereka sedang bergembira bersama-sama dengan Sang Mesias, bukan menyerah kepada keinginan sendiri. Ia menyinggung tentang kematian-Nya dan perkabungan yang akan menemani-Nya. Tetapi Ia berjanji bahwa perkabungan itu tidak akan lama, karena semangat "Injil tidak dapat dikurung di dalam kantong kulit yang tua" dari legalisme Yahudi (hal menaati peraturan secara berlebihan) (Luk. 5:30-39).

Selama periode ini, Yesus mulai menghadapi permusuhan yang lebih meningkat dari para pejabat tinggi Yahudi. Ketika di Yerusalem untuk suatu hari raya tahunan Yahudi, Ia diserang karena telah menyembuhkan seorang lumpuh pada hari Sabat (Yoh. 5:1-16). Dengan demikian Ia menyatakan kuasa-Nya atas hari Sabat dan orang-orang Yahudi seketika itu juga mengerti bahwa ini adalah pernyataan kuasa Ilahi. Yesus mengatakan bahwa Ia tahu pikiran Allah, bahwa Ia akan menghakimi dosa, dan bahwa Ia akan membangkitkan orang dari kematian. Para pengritik-Nya menjelaskan bahwa hanya Allah yang dapat melakukan semua itu.

Kembali ke Galilea, perdebatan mengenai hari Sabat terus berlanjut ketika Yesus membela murid-murid-Nya karena mereka memetik gandum pada hari Sabat. Akhirnya Ia menyatakan ketuhanan-Nya atas hari Sabat. Pada hari Sabat Ia menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Para penguasa agama Yahudi mulai membuat rencana untuk menghancurkan-Nya (Mat. 12:1-14; Mrk. 2:23-3:6; Luk. 6:1-11).

Sekarang Yesus memilih 12 orang dari antara para pengikut-Nya. Secara resmi mereka akan melanjutkan pelayanan-Nya. Pengangkatan Kedua belas Murid itu membuka periode baru dalam pelayanan Kristus, dimulai dengan Khotbah di Bukit dalam Alkitab kita. Yesus menyampaikan amanat ini (juga disebut Khotbah di Padang) ketika Ia turun dari bukit dengan para rasul-Nya yang baru diangkat (Luk. 6:20-49; bdg. Mat. 5:1-6:29).

Sekarang kita membaca beberapa kejadian yang saling berhubungan. Kemungkinan pada hari yang sama ketika Ia menyampaikan Khotbah di Bukit, Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira. Perwira ini, seorang tentara Romawi, menunjukkan simpatinya terhadap agama Yahudi (Luk. 7:5) dan jelas-jelas menerima Yesus sebagai Mesias yang sejati. Hamba itu disembuhkan "pada saat itu juga" ketika perwira tersebut menyatakan permohonannya (Mat. 8:5-13, bdg. Luk. 7:1-10).

Di Kapernaum, mungkin sekitar 11 km. dari tempat Khotbah di Bukit, orang banyak terus menekan Yesus. Untuk melepaskan diri dari tekanan ini, Ia berangkat ke Kota Nain (bersama dengan banyak orang yang menemani Dia). Di pintu masuk kota Ia menghidupkan kembali anak lelaki seorang janda. Kejadian tersebut membangkitkan kegembiraan banyak orang (Luk 7:11-15).

Sekitar waktu itu utusan Yohanes Pembaptis datang untuk bertanya kepada Yesus apakah Dia benar-benar Mesias. Yohanes yang masih dalam penjara, telah menjadi bingung dengan Cara pelayanan Yesus; pelayanan itu penuh damai dan penuh belas kasihan, bukan pelayanan yang dramatis, menaklukkan dan menghakimi. Yesus memuji Yohanes dan mencela para penguasa Yahudi yang telah menentang dia - memang, Ia menunjukkan bahwa kota-kota di Galilea yang telah mendengar Yohanes "tidak bertobat." Mereka tidak benar-benar datang kepada-Nya (Mat. 11:20-24; Luk. 7:18-35; bdg. 10:12-21).

Di salah satu kota yang dikunjungi Yesus (kemungkinan Kota Nain), Ia diminyaki oleh seorang wanita berdosa. Ia mengampuni dosa wanita itu di hadapan orang yang mengundang-Nya, Simon orang Farisi. Simon sendiri merasa malu, tetapi Yesus senang menerima kasih wanita itu (Mat. 26:6-13; Mrk. 14:3-9; Luk. 7:36-50).

Peristiwa ini membawa kita kepada perjalanan kedua Yesus keliling kota-kota di Galilea (Luk. 8:1-4). Kedua belas murid dan beberapa wanita yang setia (Maria Magdalena; Yohana, istri bendahara Herodes; Susana dan masih banyak perempuan lain) menemani Dia. Pada perjalanan inilah Dia menyembuhkan orang yang dirasuk setan dan orang Farisi menuduh Dia bersekutu dengan Iblis. Karena hal ini, Yesus menegur mereka dengan keras (Mat. 8:28-34; Mrk. 5:1-20; Luk. 8:26-39). Ia menekankan kebahagiaan orang-orang yang "mendengar firman Allah dan melakukannya" (Luk. 8:21). Pada hari yang sama Ia menyampaikan banyak perumpamaan dari atas perahu. Perumpamaan menjadi alat mengajar yang utama bagi Yesus, yang sekaligus menyatakan dan menyembunyikan kebenaran yang ingin Ia sampaikan (Mrk. 4:10-12; Luk. 8:9-10). Tak pelak lagi, Ia mengulang berbagai perumpamaan dan peribahasa yang lain dalam konteks yang berbeda-beda, sama seperti pemberita Injil zaman sekarang mengulangi khotbah-khotbah dan ilustrasi-ilustrasi mereka.

Setelah berkhotbah dari atas perahu, Yesus menyeberangi Danau Galilea ke tepi bagian barat. Sebelum Ia berangkat, ada dua orang yang datang kepada-Nya dan minta untuk dijadikan murid-Nya (Mat. 8:18-22). Tetapi mereka menyampaikan permohonan mereka dalam cara yang tidak realistis dan tidak pantas, sehingga Yesus menegur mereka.

Ketika sedang menyeberangi danau tersebut, nyawa Yesus terancam oleh badai yang ganas. Ia sedang tidur pada sebuah bantal di buritan kapal, dan oleh karena itu para murid membangunkan Dia. Dia langsung menenangkan badai itu dan para murid berseru, "Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya" (Luk 8:25; bdg. Mrk 4:35-44).

Di seberang Danau Galilea, Yesus bertemu dengan seorang yang dirasuk setan dan memerintahkan setan-setan itu untuk masuk dalam sekumpulan babi, yang kemudian mati tenggelam di dalam danau. Ketika orang-orang kota itu datang untuk bertemu dengan Kristus, mereka, melihat orang yang biasanya kerasukan setan itu telah berpakaian lengkap dan pikirannya sudah waras. Dengan tiba-tiba, mereka meminta Yesus pergi. Ia pergi setelah menyuruh orang yang dirasuk setan tadi untuk pulang dan menceritakan kepada teman-temannya tentang Mesias (Mat. 8:28; Mrk. 5:1-20).

Kita diberi tahu tentang dua mukjizat yang dilakukan Yesus ketika Ia kembali ke Kapernaum: Ia membangkitkan anak perempuan Yairus dari kematian dan seorang wanita yang menderita pendarahan disembuhkan ketika ia menyentuh ujung jubah-Nya (Mat. 9:18-26; Mrk.5:21-43; Luk. 8:40-56).

Yesus mengadakan perjalanan ketiga ke Galilea yang mencakup sejumlah mukjizat dan penolakan kedua di Nasaret. Yesus ingin ada lebih banyak pekerja untuk memungut tuaian rohani. Ia mengutus murid-murid-Nya berdua-duaan kepada kota-kota bangsa Israel agar mereka bertobat. Yesus memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan dan mengusir roh jahat. Dengan demikian pelayanan mereka memperluas pelayanan-Nya (Mat. 10:5-15; Mrk. 6:7-13; Luk. 9:1-6).

Pada bagian ini, kita membaca tentang kematian Yohanes Pembaptis. Herodes Antipas sudah lama ragu-ragu sebelum ia membunuh Yohanes karena takut akan orang banyak; tetapi istrinya, Herodias, merencanakan kematian Yohanes dengan menggunakan anak perempuannya, Salome, untuk mencapai tujuannya. Perasaan bersalah Herodes mendorong dia untuk bertanya apakah Yesus adalah Yohanes yang sudah bangkit.

Sedih atas meninggalnya Yohanes, terkepung dalam keramaian orang banyak, dan kelelahan karena pekerjaan-Nya, Yesus mengumpulkan Kedua Belas Murid dan menyeberangi Danau Galilea. Tetapi orang banyak itu tiba di seberang mendahului mereka, dan Yesus mengajar mereka sepanjang hari. Bagian ini mencapai klimaksnya ketika Yesus memberi makan orang banyak itu (5000 orang laki-laki) dengan memecah dan melipatgandakan lima roti dan dua ikan. Ketika sisanya dikumpulkan ada 12 keranjang penuh (Mat. 14:13-21).

Tidak lama setelah mukjizat tersebut, Yesus menyuruh kedua belas murid-Nya naik ke dalam perahu dan menyeberangi Danau Galilea kembali, walaupun ada badai mengancam. Ia menyendiri ke atas gunung untuk meloloskan diri dari orang banyak yang begitu bersemangat, yang ingin memaksa-Nya untuk menjadi raja. Sekitar tiga jam setelah tengah malam, para murid menghadapi badai yang hebat di tengah danau. Mereka ketakutan. Ketika malapetaka sudah hampir terjadi, Yesus berjalan di atas air menuju mereka (Mat. 14:22-36; Mrk. 6:45-56). Setelah Ia menenangkan ketakutan mereka, Petrus meminta agar Yesus mengizinkan dia datang dan mendapatkan Dia. Sementara ia berjalan ke arah Yesus, Petrus kehilangan keberanian dan mulai tenggelam. Yesus memegang tangannya dan memimpin dia kembali ke dalam perahu. Seketika itu air menjadi tenang.

Di Kapernaum Yesus mulai menyembuhkan orang sakit yang datang berduyun-duyun kepada-Nya dari segala jurusan. Tidak lama kemudian tibalah orang-orang yang pernah diberi makan oleh-Nya. Mereka menemukan Yesus di sebuah sinagoge, dan mereka mendengarkan Dia menjelaskan bahwa Dialah roti hidup yang turun dari surga.

Sekarang mereka diperhadapkan dengan menerima otoritas ajaran ini, yang dijelaskan secara terinci sebagai memakan daging Yesus dan meminum darah-Nya. Banyak di antara mereka merasa tersinggung dan mereka pergi meninggalkan Dia (Yoh. 6:22-66). Yesus bertanya kepada kedua belas murid-Nya apakah mereka juga ingin pergi meninggalkan Dia. Ini mendatangkan pengakuan Petrus yang terkenal, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? ... Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah" (Yoh. 6:69).

Setelah ceramah-Nya tentang roti hidup, Yesus mengundurkan diri dari orang banyak itu dan memberikan waktu untuk mengajar para murid-Nya (Mat. 15:1-20; Mrk. 7:1-23). Para penguasa Yahudi merasa kesal karena Yesus menolak upacara-upacara keagamaan mereka dan dengan berani menghardik tuntutan mereka atas kekuasaan. Yesus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, berusaha untuk menghindari pertemuan dengan orang banyak, tetapi Ia tidak selalu berhasil melakukan hal ini. Di daerah Tirus dan Sidon Ia menyembuhkan anak perempuan seorang bukan Yahudi (Mat. 15:21-28), dan di Dekapolis Ia menyembuhkan banyak orang yang dibawa kepada-Nya oleh orang banyak (Mat. 15:29-31). Ia memberi makan 4000 orang dengan melipatgandakan roti dan beberapa ekor ikan (Mat. 15:32-39; Mrk. 8:1-10).

Kembali ke daerah Kapernaum, Ia dikepung lagi oleh para kepala agama Yahudi. Untuk melepaskan diri-Nya, sekali lagi Ia menyeberangi Danau Galilea dengan perahu. Dalam perjalanan Ia memperingatkan kedua belas murid terhadap orang Farisi, Saduki, dan Herodes (Mat. 16:1-12; Mrk. 8:11-21). Di Betsaida, Yesus menyembuhkan seorang yang buta (Mrk. 8:22-26). Kemudian Ia dan murid-murid-Nya mengadakan perjalanan ke arah utara ke daerah Kaisarea Filipi. Di sana Petrus mengakui-Nya sebagai Mesias, "Kristus, Anak Allah yang hidup." Yesus menjawab bahwa iman Petrus menjadikan dia setegar sebuah batu karang, dan Ia akan membangun gereja-Nya di atas batu karang ini - yaitu, iman seperti yang dimiliki Petrus (Mat. 16:13-20; bdg. Mrk. 8:27-9:1). Pada kesempatan ini, Yesus menjelaskan penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya yang mendatang.

Sekitar satu minggu kemudian, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke atas gunung dan menyatakan kemuliaan surgawi kepada mereka (pemuliaan Yesus di atas gunung). Ia berbicara dengan Musa dan Elia di depan mata mereka (Mat. 17:1-13; Mrk. 9:2-13; bdg. Luk. 9:28-36). Di kaki gunung Yesus menyembuhkan seorang anak yang dirasuk setan yang tidak bisa ditolong oleh para murid (Mat. 17:14-23; Mrk. 9:14-32; Luk. 9:37-44).

Sekali lagi Yesus mengadakan perjalanan ke Galilea, tetapi kali ini perjalanan-Nya dirahasiakan. Sekali lagi Ia memberi tahu kepada Kedua Belas Murid tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang mendatang, dan sekali lagi mereka tidak mengerti apa yang Dia katakan. Yesus membayar pajak Bait Allah dengan uang yang didapat melalui mukjizat. Dalam perjalanan ke Kapernaum, Ia mengajar para murid mengenai sifat sejati dari kebesaran dan pengampunan (Mat. 17:22-18:35).

Setelah berbulan-bulan, Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Pondok Daun. (Baca "Upacara-Upacara Penyembahan.") Ia telah menolak untuk pergi bersama keluarga-Nya, tetapi kemudian Ia membuat perjalanan itu seorang diri. Di Yerusalem pendapat-pendapat tentang diri-Nya berbeda-beda. Yesus menegaskan kepada khalayak ramai bahwa, Ia dikirim oleh Sang Bapa; Ia adalah Mesias, Juruselamat dunia. Para penguasa tertinggi agama memerintahkan para petugasnya untuk menangkap Yesus, tetapi mereka begitu terkesan oleh-Nya sehingga mereka tidak dapat menunaikan tugas mereka. Kemudian para pemimpin agama berusaha untuk mendiskreditkan Dia dengan cara membuatnya melanggar hukum. Tetapi mereka tidak berhasil. Mereka membawa seorang wanita yang kedapatan berzina, tetapi Yesus benar-benar membalik kejadian itu untuk menentang mereka (Yoh. 8:1-11).

Dalam periode tersebut, Nikodemus berusaha untuk meredakan kebencian Sanhedrin (dewan tertinggi para pemimpin agama Yahudi). Tetapi ketika Yesus berada di Yerusalem, Ia menyembuhkan seorang buta pada hari Sabat. Hal ini memancing sebuah kontroversi besar dan orang tersebut dikucilkan dari sinagoge (hal yang sangat memalukan). Yesus menemui orang itu, yang mengakui-Nya sebagai Mesias (Yoh. 9). Pada saat itu Yesus menyampaikan khotbah-Nya yang terkenal tentang Gembala yang Baik (Yoh. 10:1-21)

 
 D. Pelayanan di Perea. 
sembunyikan teks

Sekitar dua bulan berlalu, ketika Yesus kembali ke Galilea. Kemungkinan pada waktu inilah Ia mengutus 70 orang murid-Nya kepada kota-kota Israel untuk mengumumkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan bahwa Yesus adalah Mesias (Luk. 10). Yesus mencoba melewati Samaria dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, tetapi masyarakat menolak Dia. Jadi Ia menyeberangi Sungai Yordan dan berjalan melalui Perea. Pada suatu saat seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan hidup yang kekal. Yesus berkata padanya untuk mencintai Allah dan sesama manusia, yang kemudian disahut oleh ahli Taurat itu, "Siapakah sesamaku manusia?" (Luk. 10:28). Kemudian Yesus menceritakan sebuah perumpamaan kepadanya tentang Orang Samaria yang Baik Hati. Dalam perjalanan tersebut Yesus mengadakan banyak mukjizat, seperti menyembuhkan seorang wanita yang bungkuk dan seorang laki-laki yang mengidap busung air pada hari Sabat (Luk. 13:11-17; 14:1-6). Mukjizat-mukjizat pada hari Sabat makin mengobarkan permusuhan di antara orang Farisi.

Kemudian pemandangan berpindah ke Yudea. Kemungkinan inilah waktunya Yesus mengunjungi Betania dan rumah Maria dan Marta. Maria duduk di kaki Yesus sementara Marta mempersiapkan makanan. Marta mengeluh karena saudara perempuannya menganggur, tetapi Yesus menjawab bahwa Maria sudah memilih "bagian yang terbaik" yaitu mendengarkan ajaran-Nya sewaktu Ia masih berada di dunia (Luk. 10:42). Di Yerusalem pada perayaan tahunan Penahbisan Bait Allah, Yesus mengumumkan secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias. Orang-orang Yahudi menganggap ini sebagai penghujatan terhadap Tuhan, dan sekali lagi mereka mencoba untuk menangkap Dia. Yesus kemudian menyeberangi Sungai Yordan menuju ke Betabara. Tetapi perlawanan para penguasa agama teras berkembang.

Orang-orang yang diasingkan dari masyarakat berkumpul untuk mendengarkan ajaran-Nya. Sekali lagi Ia terutama mengajar dengan menggunakan berbagai perumpamaan. Yesus sendiri yang menerangkan arti sebenarnya dari perumpamaan-perumpamaan itu kepada kedua belas murid dan selain itu meneruskan pendidikan khusus mereka. Suatu hari sebuah pesan yang mendesak datang dari kediaman Maria dan Marta: Lazarus, saudara laki-laki mereka, sakit keras. Pada saat Yesus tiba di Betania, Lazarus telah meninggal dan telah dikubur selama empat hari. Tetapi Yesus membangkitkannya dari kubur. Mukjizat ini meningkatkan kebulatan tekad para pemimpin agama untuk menyingkirkan Tuhan (Yoh. 11:1-46).

Sekali untuk sementara waktu lagi Yesus mengundurkan diri dari keramaian orang banyak. Kemudian Ia memalingkan wajah-Nya ke arah Yerusalem dan kematian (Yoh. 11:54-57). Jalan menuju Yerusalem ditandai oleh pengadaan mukjizat, pengajaran, dan konfrontasi dengan orang Farisi. Sewaktu Ia masih dalam perjalanan, beberapa orang tua membawa anak-anak kecil mereka kepada Yesus untuk diberkati (Luk. 18:15-17). Yesus mendesak seorang "pemimpin muda yang kaya" untuk meninggalkan kekayaannya dan mengikuti Dia (Luk. 18:18-30). Dan Dia memberi tahu sekali lagi tentang kematian-Nya yang mendatang kepada para murid-Nya (Luk. 18:31-34). Sementara mengantisipasi kejadian tersebut, Tuhan menjelaskan tentang upah dari Kerajaan Surga dan memerintahkan murid-murid-Nya untuk menjadi pelayan manusia (Mat. 20:1-16). Di sekitar Yerikho, Yesus menyembuhkan beberapa orang buta, seorang di antaranya adalah Bartimeus, yang mengakui Yesus sebagai Mesias (Mrk. 10:46-52). Yesus makan di rumah Zakheus, seorang pemungut cukai, yang juga menerima keselamatan melalui iman kepada-Nya (Luk. 19:1-10). Dari Yerikho Yesus pergi ke rumah Lazarus, Maria, dan Marta di Betania.

 E. Minggu Terakhir. 
sembunyikan teks

Minggu terakhir sebelum penyaliban Yesus menempati bagian terbesar dalam catatan Injil. Yesus menghadiri sebuah jamuan makan di Yerikho, di rumah Simon si kusta. Di tempat itu Maria mengurapi Dia dengan minyak wangi yang mahal dan menyeka kaki-Nya dengan rambutnya. Beberapa murid tidak setuju dengan perbuatan itu karena mereka merasa hal tersebut hanya membuang-buang uang, tetapi Yesus memuji dia. Ia menjelaskan bahwa Maria mengurapi Dia bagi penguburan-Nya yang akan datang (Mat. 26:13; Mrk. 14:3-9).

Pada hari berikutnya (hari Minggu), Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda yang punggungnya telah dialasi dengan pakaian para pengikut-Nya (Yoh. 12). Para peziarah yang datang untuk Hari Paskah berdiri sebelah-menyebelah jalan, melambai-lambaikan daun palem dan menyerukan nama Yesus sebagai Mesias. Ketika orang-orang Farisi meminta Yesus untuk menegur para pengikut-Nya, Yesus menjawab bahwa jika para pengikut-Nya diam maka batu-batu akan berteriak. Pada malam itu Yesus dan Kedua belas murid kembali ke Betania (Mat. 21:1-9; Mrk. 11:1-10; Luk. 19:28-38).

Pada hari berikutnya mereka sekali lagi mengadakan perjalanan ke Yerusalem. Dalam perjalanan Tuhan mengutuk sebatang pohon ara karena tidak berbuah pada saat Ia membutuhkannya (Mat. 21:18-19; Mrk. 11:12-14). Pada keesokan harinya keringlah pohon ara itu.

Pada hari Selasa para pemimpin Yahudi menuntut agar Yesus menjelaskan dengan kekuasaan siapakah Ia melakukan perbuatan-perbuatan-Nya. Yesus menjawab dengan menceritakan beberapa perumpamaan. Ia berhasil menggagalkan jebakan orang Farisi untuk membuat-Nya memungkiri Musa dan dicemooh di hadapan orang banyak. Pada suatu kesempatan Yesus mencela para ahli Taurat dan orang Farisi dengan terang-terangan (Mat. 23:1-36). Hal ini diikuti oleh sebuah pernyataan tentang kepedulian dan kerinduan-Nya agar manusia mencintai Dia (Mat. 23:37-39). Ia juga mengomentari pengorbanan besar seorang janda miskin yang mempersembahkan dua peser (Mrk. 12:41-44) dan berbicara dengan beberapa orang Yunani yang memohon untuk bertemu dengan Yesus (Yoh. 12:20). Tuhan menyampaikan khotbah tentang akhir zaman (Mat. 24:4-25:15; Mrk. 13:5-37). Kemungkinan pada hari Selasa petang Yudas datang ke hadapan Mahkamah agama Yahudi (Sanhedrin) dan berjanji untuk mengkhianati Yesus dengan bayaran 30 keping perak. Hadiah ini bernilai kurang dari 20 dollar dalam mata uang masa kini itu adalah harga seorang budak pada zaman Yesus.

Yesus beristirahat di Betania pada hari Rabu. Pada hari Kamis petang Ia makan Paskah bersama para murid-Nya (Mat. 26:17-30; Mrk. 14:12-25). Ia menyuruh Petrus dan Yohanes untuk mencari tempat di mana mereka akan makan jamuan Paskah. Jamuan ini menyangkut pengorbanan anak domba di Bait Allah dan memakannya sambil duduk mengelilingi meja dengan keluarga. Yesus meminta dua murid-Nya untuk menemukan dan mengikuti seorang laki-laki yang sedang membawa kendi. Orang ini akan memimpin mereka menuju ke rumah tempat jamuan makan itu akan dipersiapkan. Mereka mengikuti petunjuk Yesus, dan orang itu memimpin mereka ke rumah yang pemiliknya telah mempersiapkan sebuah ruangan untuk maksud tersebut.

Sementara makan pada petang itu, para murid mulai berdebat tentang siapa yang terpenting di antara mereka. Yesus berdiri dan membasuh kaki mereka, mencoba untuk mengajar mereka bahwa mereka harus saling melayani (Yoh. 13:1-17). Setelah makan, Yesus menetapkan Perjamuan Tuhan, sebuah upacara yang akan diselenggarakan sampai Ia datang kembali. Jamuan makan yang simbolis ini terdiri atas memakan roti (melambangkan tubuh-Nya) dan minum anggur (melambangkan darah-Nya).

Yudas meninggalkan jamuan makan itu untuk menyelesaikan rencana-Nya untuk mengkhianati Yesus. Yesus memperingatkan kepada murid-murid-Nya yang tinggal bahwa mereka akan kehilangan iman mereka kepada-Nya pada malam itu. Namun, Petrus meyakinkan Yesus bahwa ia akan tetap setia. Yesus menjawab bahwa ia (Petrus) akan menyangkal Dia tiga kali sebelum ayam berkokok.

Yesus dan murid-murid yang sisa meninggalkan ruangan atas dan pergi ke Taman Getsemani. Sementara Yesus menderita dalam doa, para murid justru tertidur. Tiga kali Tuhan datang dan melihat mereka tertidur. Akhirnya Ia menenangkan jiwa-Nya dan bersiap-siap untuk menghadapi kematian dan semua yang akan terjadi (Mat. 26:36-46; Mrk. 14:32-42). Pada saat itu Yudas datang bersama dengan serombongan orang bersenjata. Ia memperkenalkan Yesus kepada para tentara dengan mencium Dia (Mat. 26:47-56; Mrk. 14:32-52; Luk. 22:47-53; Yoh. 18:1-14).

Yesus diadili di depan pemuka-pemuka agama dan tua-tua masyarakat. Pengadilan agama bertemu secara tidak sah pada tengah malam, tetapi keputusannya diteguhkan sesudah fajar. Meskipun begitu, semua itu merupakan pelecehan terhadap keadilan (Mat. 26:59-68; Mrk. 14:55-65: Luk. 22:65-71).

Pengadilan lembaga pemerintah diadakan pada hari Jumat pagi di depan Pilatus, yang tidak melihat adanya ancaman atau kejahatan di dalam Yesus. Ia mengirim Yesus kepada Herodes, yang mengolok-olok Dia dan mengembalikan-Nya kepada Pilatus (Luk. 23:6-16). Pejabat Romawi tersebut hendak melepaskan Dia bila dituntut oleh orang banyak, tetapi mereka malah berteriak kepada Pilatus untuk membebaskan Barabas (seorang perampok dan pembunuh). Mereka bersikeras agar Pilatus menyalibkan Kristus. Pilatus mengusulkan agar mencambuk Kristus dan membebaskan Dia untuk menenangkan orang banyak itu, dan ia menimpakan ejekan-ejekan dan hukuman-hukuman yang lain kepada-Nya. Tetapi sekali lagi orang banyak itu berteriak, "Salibkan Dia." Akhirnya Pilatus mengalah dan menyuruh membunuh Yesus. Di tengah-tengah segala keributan itu, Yesus tetap tenang dan menguasai diri (Mat. 27:11-31; Mrk. 15:2-20; Luk. 23:2-25; Yoh. 18:28-19:15).

Dari balai pengadilan Pilatus, Yesus dibawa keluar tembok Yerusalem menuju ke bukit Golgota. Di tempat itu Ia disalibkan pada hari Jumat pagi sekitar jam 9. Laporan tentang pelaksanaan hukuman mati terhadap Yesus dapat ditemukan dalam Matius 27:32-56 dan kisah-kisah yang serupa.

Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea mengambil jasad Yesus dan memakamkan-Nya di kubur Yusuf dari Atimatea. Pilatus memeteraikan kubur itu dan menempatkan penjaga di sana untuk memastikan bahwa tubuh Yesus tidak dicuri oleh murid-murid-Nya.

Yesus dimakamkan sebelum gelap pada hari Jumat ("hari pertama," karena orang Yahudi menghitung hari dari senja ke senja). Jenazah-Nya berada dalam kubur dari Jumat senja sampai Sabtu senja ("hari kedua") dan dari Sabtu senja sampai Minggu subuh ("hari ketiga"). Pada pagi hari ketiga para tentara yang keheranan merasakan gempa bumi dan melihat seorang malaikat menggulingkan batu yang menutup kubur tersebut. Mereka melarikan diri dari tempat itu. Tak lama kemudian sekelompok wanita datang untuk meminyaki tubuh Yesus dengan rempah-rempah. Mereka menemukan kubur itu dalam keadaan kosong. Mereka lari kembali ke kota dan menyampaikan berita tersebut kepada murid-murid Yesus. Petrus dan Yohanes pergi ke kubur dan menemukannya dalam keadaan seperti yang diceritakan kepada mereka (Mat. 27:57-28:10 dan bagian-bagian serupa). Yesus telah bangkit dari antara orang mati.

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri kepada para pengikut-Nya pada 10 kesempatan yang tercatat. Pada salah satu kesempatan Yesus menampakkan diri-Nya, Yesus menugaskan kesebelas rasul yang tersisa untuk pergi ke seluruh dunia dan memuridkan, membaptis dan mengajar orang. Hal ini dikenal sebagai Amanat Agung (Mat. 28:19-20). Kali terakhir Ia menampakkan diri kepada para rasul-Nya, Kristus naik ke surga (Luk. 24:49-53; Kis. 1:6-11). Yesus berjanji akan kembali sama seperti ketika Ia naik - secara kelihatan dan fisik. (Setelah kebangkitan, Yesus tetap mempunyai tubuh yang nyata, walau tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Ia juga berjanji untuk mengutus Roh Kudus. Walaupun Roh Kudus telah datang, gereja tetap menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya.



TIP #21: Untuk mempelajari Sejarah/Latar Belakang kitab/pasal Alkitab, gunakan Boks Temuan pada Tampilan Alkitab. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA