Resource > Jurnal Pelita Zaman > 
Volume 12 No. 1 Tahun 1997 
 DARI MEJA REDAKSI
sembunyikan teks

Mengatakan "Kekristenan adalah Kristus" agaknya tidak berlebihan. Kekristenan dibangun atas pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjelma jadi manusia. Ini sebuah misteri sebagaimana terlihat di sepanjang sejarah Gereja diskusi dan perdebatan tentang kemanusiaan dan keilahian Kristus belum berakhir sampai kini seperti belakangan ini hangat dibahas di Indonesia topik Yesus Sejarah (Historical Jesus). Dua tulisan dalam edisi ini akan membahas topik yang berkaitan dengan itu. Selain itu, artikel tentang Kristus juga dilengkapi dengan tulisan-tulisan kelahiran melalui anak dara, problem kematian serta profil Tuhan Yesus sebagai pendidik.

Mengikuti perbicangan tentang isu rekayasa genetika paling hangat terakhir ini, diturunkan hasil wawancara dengan teolog Dr. Ralf Hille, pakar hukum Prof. Dr. J.E. Sahetapy dan pakar genetika Dr. Singgih Widjaja., tentang kloning. Terbatasnya ruang memaksa kami menunda pemuatan lanjut tulisan tentang Common Grace dan naskah khotbah yang sejak beberapa edisi terakhir ini selalu setia hadir. Selamat membaca.

 PROBLEM KEMATIAN SEBAGAI TANTANGAN PENGINJILAN DALAM MASYARAKAT MODERN
sembunyikan teks
Penulis: Rolf Hille

Dulu pernah sebuah jemaat di Prusia mengeluh kepada Raja Frederick Agung, karena sang pendeta dalam khotbah Paskahnya menyangkal kebangkitan Yesus. Jemaat bereaksi keras dan mengusulkan kepada raja supaya pendetanya dipecat dari kependetaannya. Raja yang menganut filsafat Pencerahan menjawab ringan, "Jika bapak pendeta tidak ingin bangkit pada hari kiamat, biarlah dia tetap mati." Sebagaimana, kebangkitan tidak terlalu penting bagi Raja Frederick, demikian juga kebangkitan tidak lagi penting bagi manusia modern. Dewasa ini pertemuan-pertemuan gerejawi jarang membahas topik kebangkitan. Filsafat Zaman Baru, pluralisme, teologia proses dan sebagainya termasuk teologi Injili berkutat dengan permasalahan modern. Berhadapan dengan segala permasalahan modern ini, apakah topik kebangkitan, sekalipun telah diwartakan gereja sebagai kebenaran kekal selama dua ribu tahun, masih relevan untuk masa kini.

Menjawab relevansi kebangkitan dengan problem hidup manusia, harus diakui bahwa seluruh teologia Kristen berdasar pada keyakinan bahwa Yesus orang Nazaret telah bangkit. Oleh karena itu, seraya memperhatikan tantangan terhadap iman Kristen melalui cara-cara pandang dunia (world-view) sebagaimana ada dalam agama-agama, filsafat-filsafat dan teristimewa ideologi-ideologi baru, pertanyaannya tetap sama yaitu adakah relevansi berita kebangkitan dengan semua pergumulan manusia. Untuk memperoleh jawaban yang mendasar, perlu diselidiki korelasi antara pertanyaan filosofis dan jawaban teologis sebagaimana pernah dilakukan Paul Tillich. Dalam apologetika korelatif seperti itu, kita harus mempertimbangkan bahwa wahyu dalam Alkitab jauh melampaui wawasan-wawasan ideologis serta isu-isunya. Jika kita mau memperoleh dari Firman Allah jawaban lama namun segar untuk problem modern, kita harus membiarkan Allah menentukan cara kita membahas kebenaran.

 YESUS SEBAGAI PENDIDIK
sembunyikan teks
Penulis: B. S. SIDJABAT
 SURVEY PERKEMBANGAN KONSEP YESUS SEJARAH
sembunyikan teks
Penulis: MARKUS DOMINGGUS L. D.
 KEABSAHAN VIRGIN BIRTH
sembunyikan teks
Penulis: Hali Daniel Lie

Secara singkat, virgin birth berarti kelahiran dari anak dara. Maksudnya, bayi Yesus dilahirkan melalui perawan Maria. Ketika mengandung dan melahirkan Yesus, Maria adalah seorang perempuan perawan. Bayi yang dikandung Maria bukanlah hasil persetubuhannya dengan Yusuf atau pria lain.

Pemahaman virgin birth bagi Protestan berbeda dengan pemahaman Katolik. Untuk membedakannya dengan pengertian Katolik, Dale Moody mengusulkan untuk mengganti istilah virgin birth dengan virginal conception atau miraculous conception.' Penggunaan kedua frase ini semakin memperjelas pengertian Protestan tentang virgin birth. Kedua frase tersebut menekankan pengandungan bayi Yesus oleh seorang perempuan yang adalah seorang perawan dan pengandungan itu terjadi secara ajaib.

Doktrin tentang virgin birth ternyata tidak mudah diterima begitu saja. Banyak pihak yang keberatan dengan keabsahan virgin birth. Keberatan terpenting datang dari golongan liberal. Bagi golongan liberal, doktrin tentang virgin birth jelas tidak mungkin dan tidak pernah ada. Kelahiran bayi hanya mungkin melalui reproduksi seksual. Reproduksi seksual menuntut kehadiran individu jantan dan betina dalam proses persetubuhan. Melalui persetubuhan. sperma menyatu dengan ovum (sel telur betina). Embrio manusia tidak mungkin jadi tanpa melalui pembuahan ovum oleh sperma. Oleh sebab itu, liberalisme menolak doktrin tentang virgin birth.

Untuk menjawab keberatan itu, berikut ini akan disarikan tiga tinjauan tentang virgin birth. Tinjauan atas dasar Alkitab diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan tinjauan dari dunia sains, yaitu tinjauan biologi tentang reproduksi.

 YESUS SEJARAH DAN ANALISIS REDAKSI
sembunyikan teks
Penulis: Hok Liong

Pribadi Yesus Kristus dapat dikatakan sebagai pribadi yang paling kontroversial di dalam dunia ini dari dulu sampai sekarang. Terbukti dari perdebatan tentang keilahian dan dua naturNya pada abad-abad permulaan sampai usaha-usaha penyelidikan terhadap bukti-bukti keberadaan-Nya pada abad-abad belakangan. Seakan-akan diri Yesus tak pernah berhenti diperbincangkan dari masa ke masa. Teristimewa beberapa abad terakhir yang berusaha menemukan Yesus yang sesungguhnya di dalam kitab-kitab Injil sebagai sumber tentang diri Yesus. Istilah Yesus Sejarah berasal dari buku karangan Albert Schweitzer yang sangat berpengaruh: The Quest of Historical Jesus: A Critical Study of its Progress from Reimarus to Wrede (1910, terjemahan dari judul asli Jerman Von Reimarus zu Wrede. Eine Geschichte der Leben-Jesu-Forschung). Istilah itu mengacu pada gambaran pribadi Yesus yang direkonstruksi melalui metode analisis historis modern.1146 Walaupun demikian, konsep tentang Yesus Sejarah1147 sendiri telah dikenal beberapa abad sebelum Schweitzer menerbitkan bukunya. Studi terhadap historisitas Yesus telah dimulai sekitar abad XVIII saat Gotthold Ephraim Lessing menerbitkan fragmen-fragmen berjudul Fragments from an Unnamed Author yang dikenal kemudian sebagai Wolgenbuttel Fragments (antara 1774 sampai 1778). Cuplikan-cuplikan tulisan tersebut berasal dari karangan seorang sarjana Jerman bernama Hermann Samuel Reimarus (1694-1768) yang melakukan pendekatan untuk pertama kalinya dari sudut pandang analisis historis dalam menjawab pertanyaan tentang siapa Yesus.

Puncak perkembangan analisis historis yang digunakan dalam studi-studi Yesus Sejarah pada masa kini adalah analisis redaksi. Artikel ini ditulis untuk memberikan sedikit penjelasan tentang analisis redaksi dan hasil-hasil yang dicapai melalui metode tersebut. Juga sikap orang Kristen, yang masih meyakini Alkitab adalah firman Tuhan yang diwahyukan dan diinspirasikan serta berotoritas, terhadap metode tersebut.

 PETA PERUBAHAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN DAMPAKNYA BAGI PELAYANAN PADA ABAD XXI
sembunyikan teks
Penulis: ROBBY I. CHANDRA
 MEMAHAMI DAN MENGHADAPI ROH ZAMAN INI
sembunyikan teks
Penulis: Richard Ngun
 KLONING: WAWANCARA DENGAN ROLF HILLE, J.E. SAHETAPY DAN SINGGIH WIDJAJA
sembunyikan teks

Keberhasilan tim Roslin Institute, Skotlandia, yang dipimpin Dr. Ian Wilmut menghasilkan Dolly, sebuah copy domba melalui teknik kloning telah menggemparkan dunia awal Maret 1997 yang lalu. Temuan itu menghebohkan baik karena terobosan keilmuannya maupun kemungkinan dampak yang ditimbulkannya. Dolly merupakan produk revolusi bioteknologi, karena makhluk baru itu dibiakkan dengan memakai sel tubuh makhluk dewasa, bukan melalui pembuahan sebagaimana proses reproduksi alami. Time (10 Maret 1997) menyebutkan, "Dolly merupakan bukti hidup bahwa sel tubuh dewasa dapat dikembalikan ke dalam fase embrio untuk menghasilkan makhluk baru secara utuh." Tak pelak lagi kontroversi di seputar Dolly pun merebak di seluruh jagad. Pertanyaan yang segera muncul, akankah manusia dibuat klonnya?

Dolly tak hanya membuat geger dunia ilmiah. Gaungnya bergema lebih jauh ke bidang moral, etika, teologi dan politik. Bahkan Time menyebutnya sebagai isu yang telah melahirkan debat kultural. Tak kurang dari Presiden Amerika dan Paus, pemimpin umat Katolik sedunia ikut bicara menanggapi penemuan fantastis itu. Presiden Clinton berkomentar, "Stop, kita tidak bisa memPermainkan Tuhan." Sementara Paus Yohanes Paulus II melontarkan kritik terhadap orang-orang yang, menurutnya, telah mengkhianati semua hal dengan menginjak-injak martabat manusia demi kekuasaan dan uang (Kompas, 9 Maret 1997). Maka, terbuktilah pernyataan Lane P. Lester dan James C. Hefley dalam Cloning-Miracle or Menace (1980), yang pada saat terbitnya buku itu isu ini masih samar, "Manipulasi genetik adalah salah satu isu moral yang paling dramatis untuk generasi kita."

Untuk membahas kloning dari perspektif teologis dan etika Kristen, berikut ini hasil wawancara dengan tiga ahli: Dr. Rolf Hille, rektor Albrecht-Bengel Haus, Tiibingen (Jerman), Prof. Dr. J.E. Sahetapy, S.H, M.A., guru besar hukum pidana Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Surabaya) dan Dr. Singgih Widjaja, kepala Laboratorium Genetika Klinik RS. Anak dan Bersalin Harapan Kita (Jakarta). Yusak Jore Pamei dari Pelita Zaman menuliskan hasil wawancara ini sekaligus meramunya dengan bahan dari berbagai sumber.

 KETERANGAN PENULIS EDISI INI
sembunyikan teks

B. Samuel Sidjabat adalah alumnus IKIP Bandung, Institut Alkitab Tiranus (M.Div.), SAIACS Bangalore, India (M.Th.) dan AGST Manila, Filipina (Ed.D.). Saat ini menjabat sebagai dekan akademik di Institut Alkitab Tiranus.

Hali Daniel Lie adalah mahasiswa tingkat akhir Sekolah Tinggi Teologia Bandung.

Hok Liong adalah mahasiswa Institut Theologi Aleithea, Lawang.

Markus Dominggus L. adalah mahasiswa Institut Theologi Aleithea, Lawang.

Richard Ngun adalah alumnus Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia, Yogyakarta (M.Div.), Dallas Theological Seminary (STM dan Ph.D.) Sekarang menjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Teologia Bandung.

Robby I. Chandra adalah direktur Bina Warga

Rolf Hille adalah alumnus University of Tubingen, Jerman (M.Th.) dan University of Munich, Jerman (Ph.D). Sekarang menjabat sebagai direktur Albrecht-Bengel Haus, Tubingen dan Ketua Komisi Teologia World Evangelical Fellowship.



TIP #35: Beritahu teman untuk menjadi rekan pelayanan dengan gunakan Alkitab SABDA™ di situs Anda. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA