Resource > Jurnal Pelita Zaman > 
Volume 8 No. 1 Tahun 1993 
 DIALOG TENTANG T.U.L.I.P.
sembunyikan teks
Penulis: Daniel Lucas Lukito

Berikut ini adalah sebuah percakapan imajiner antara seorang pendeta yang Arminianistik289 dengan sejawatnya, seorang pendeta yang Calvinistik.290 Pendeta yang pertama, Armin Kefas Wongsodiharjo, adalah lulusan dari Asbury Theological Seminary di Wilmore, Kentucky, Amerika Serikat; sekarang melayani sebagai Dosen Omnididaskalia alias All Round di Seminary Teologia Bukit Megiddo. Pendeta yang kedua, Calos Steianos Tongkiwiboowo, adalah lulusan dari Westminster Theological Seminary di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat; sekarang melayani sebagai Dosen Teologia Polemik di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologia Epikuros. Keduanya berjumpa setelah makan malam dalam suatu kesempatan pada akhir April 1993 yang lalu di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor.

Cal: Hallo, Bung, apa kabar sekarang?

Ar: Baik-baik saja. Bagaimana kesibukan alei di kota besar?

Cal: Ah, biasa. Namanya juga kota besar: macet, sibuk, ruwet, dan sebagainya; sekarang saya makin jarang ke luar negeri, sudah tua.

Ar: Jangan bilang begitu. Saya ini lebih tua dari you masih sering ke sana sini. Lagipula stamina you sebenarnya lebih kuat dari saya. Bukankah you sering makan macam-macam royal jelly, ginseng, Sun-chlorella dan vitamin?

Cal: Itulah sebabnya lever saya hampir-hampir sirosis. Tetapi saya tidak peduli; seorang Calvinis harus tabah sampai akhir.

Ar: Rupanya you masih getol dalam ajaran seperti itu.... Padahal you tahu, sekarang ini lebih banyak orang Calvinis yang berubah menjadi Arminian daripada sebaliknya.

Cal: Mosok? Mana buktinya? (sambil melotot dan ada yang muncrat dari mulutnya).

Ar: Believe it or not, itulah kabar yang saya dengar. Buktinya, teolog terkena: seperti Clark Yinnocx yang dulunya Caivinis sekarang jadi pembela Arminianisme yang ngetop.

Cal: Ah, itu mah berita basi. Ngomong-ngomong, you sendiri gimana?

Ar: Saya sih tetap seperti dulu: Sekali Arminian tetap Arminian.

Cal: Orang Arminian itu sebetulnya nggak ngerti teologia (masih tetap mendelik dengan nada polemis).

Ar: Terserah deh apa kata you. Menurut teologia doktrinal Alkitabiah yang saya yakini, Arminianismelah yang lebih biblikal.

Cal: Apanya yang biblikal?

Ar: Begini. Saya jelaskan dulu (sambil menenggak segelas kopi sekaligus.) Sebetulnya yang membuat saya selalu ragu terhadap Calvinisme adalah aspek "Lima Butir TULIP" itu, khususnya butir kedua hingga keempat. (Ketika dilihatnya Cal tidak sabaran hendak memotong.) You sabar sedikit. Saya teruskan lagi. Jangan salah mengerti; sebenarnya orang Arminian juga percaya pada ajaran tentang predestinasi atau doktrin tentang pilihan. Mengapa? Sebab kami percaya Alkitab mengajarkan hal tersebut. Tetapi, pengertian kami tentang predestinasi jauh berbeda dengan apa yang diajarkan dalam Calvinisme. Menurut Arminianisme, predestinasi atau eleksi (pilihan) adalah ketetapan yang mula-mula sekali dari Allah untuk menyelamatkan mereka yang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.

Cal: Jadi, maksud you, mereka bertobat dan percaya terlebih dahulu, baru Tuhan selamatkan. Nggak rame dong. (Dia setengah membentak.)

Ar: Tetapi itulah yang saya sebut sebagai "eleksi bersyarat" (conditional election), karena predeterminasi nasib setiap orang didasarkan atas pengetahuan Allah yang mengetahui sebelumnya keadaan setiap orang nantinya, entah mereka menolak Kristus atau menerimaNya.

Cal: Bukankah John Wesley juga percaya pada "eleksi tak bersyarat" (unconditional election)?

Ar: Bentoel, eh, betul. Wesley memang sedikit banyak percaya pada unconditional election, tetapi ia mengartikannya sebagai hal yang berkenaan dengan rencana Allah untuk memberikan keselamatan, bukan sebagai tindakan Allah memilih siapa manusia yang akan diselamatkannya (election to be a matter of the plan of salvation rather than of choosing persons to salvation).

Cal: Kalo begitu, pengetahuan you tentang pengetahuan Allah itu sendiri sepertinya melampaui apa yang Alkitab nyatakan, 'kan begitu?

Ar: Salah mengerti lagi. Sabar dong... orang Calvinis harus ada penguasaan diri.... Posisi saya adalah bahwa Allah, sebelum penciptaan dan kejatuhan manusia dalam dosa, telah melihat dan menetapkan takdir setiap orang. Dari sudut pandang Allah, Ia telah mengetahui terlebih dahulu sejak kekal siapa-siapa yang akan percaya dan siapa yang tidak percaya. Dengan perkataan lain, keselamatan manusia tergantung pada pilihan manusia itu sendiri untuk percaya pada Kristus atau menolakNya. Dengan demikian, pilihan manusialah yang menjadi faktor' yang utama dan yang menentukan.

Cal: Wah, gawat you ini. Dulu di sekolah teologia belajar apa aje sih? (Ia meledek.) Saya mencatat beberapa koreksi terhadap apa yang telah you katakan. Pertama, eleksi bukanlah keselamatan itu sendiri tetapi demi untuk atau. demi menuju pada keselamatan (not salvation but is unto salvation). Seperti halnya Presiden terpilih Bill Clinton belumlah menjadi presiden USA sampai ia dilantik tanggal 20 Januari yang lalu, demikian halnya mereka yang dipilih Tuhan untuk diselamatkan sebenarnya belum selamat sampai mereka mengalami regenerasi melalui pekerjaan Roh Kudus serta dibenarkan melalui iman dalam Kristus.291 Hal ini jelas di dalam Alkitab ketika Paulus sendiri dalam II Timotius 2:10 berkata:

Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

Kedua, jikalau eleksi itu bersyarat (conditional), yakni tergantung iman dan daya tahan seseorang yang dilihat Allah sebelumnya, maka keselamatan Allah bukanlah berdasarkan kasih karunia, melainkan Allah menjadi seakan-akan berhutang kepada seseorang karena imannya; keselamatan menjadi seperti pelunasan sesuatu secara adil berdasarkan jerih payah usaha seseorang, bukan berdasarkan belas kasihan Allah.292 'Kan repot ini jadinya. Kalo begini boleh di bilang manusialah yang menjadi pelaksana atau instrumen (agent) keselamatan bagi dirinya sendiri, dan bukan Allah. Padahal, Alkitab jelas mengatakan bahwa Allah mendemonstrasikan kasihNya kepada manusia, oleh karena Kristus telah mati untuk manusia, ketika manusia masih berdosa (Rm 5:6). Ini membuktikan bahwa kasih Allah tidak disalurkan kepada manusia karena manusia itu baik, melainkan sekalipun manusia jahat, berdosa, bermusuhan dengan Allah, Allah menyatakan kasihNya. Allahlah yang memilih pribadi demi pribadi, serta menyebabkan mereka datang menghampiriNya.293 Ini dilakukan Allah bukan karena atau didasarkan atas iman yang terlihat sebelumnya. Dengan demikian, iman adalah hasil/akibat/bukti dari eleksi Allah; iman bukan penyebab atau dasar dari eleksi. Ketiga, eleksi, sekali lagi, didasarkan atas tindakan Allah yang mahakuasa, yang berdaulat dan penuh belas kasihan itu. Bukan karena kehendak manusia, melainkan kehendak Allah yang menentukan manusia yang berdosa itu diselamatkan atau dikasihani.294 Coba deh, you baca dengan teliti Roma 9:11-13.

Ar: Tapi tunggu dulu, kalo begitu berarti ada yang namanya "eleksi untuk keselamatan" dan ada "eleksi untuk kebinasaan".

Cal: Jangan terlalu cepat membuat implikasi sejauh itu. Bila Tuhan memilih ke 12 rasul (Luk 6:13) dan juga Paulus untuk menjadi alatnya (Kis 9:15) itu tidak berarti Ia secara aktif merencanakan pencampakan terhadap mereka yang tidak dipilihNya. Justru dengan dipilihNya Israel (Kis 13.304, Tuhan merencanakan berkat yang benar bagi bangsa-bangsa lain, bukan sebaliknya. Jadi, ketika Tuhan memilih Abraham, Tuhan memaksudkan sesuatu yang baik juga bagi bangsa-bangsa lain (bdk. Kej 12:3).295

Ar: Bagus juga apologia you. Tetapi, jangan cepat-cepat senang dulu. Kalau betul Allah dengan kedaulatanNya memilih siapa-siapa dan untuk diselamatkan, bukanlah ini jelas sejenis pengajaran yang menyebabkan orang Kristen yang sudah diselamatkan dan yang merasa dipilih oleh Allah akan menjadi malas untuk berbuat baik dan menginjil. Argumentasi mereka adalah: kalau saya dipilih untuk diselamatkan, toh nantinya pasti akan selamat juga, tidak tergantung perbuatan saya bagaimana. Ayo, ini 'kan jelas gejala antinomianisme di dalam sistem Calvinisme! (bantahnya tak kalah keras)

Cal: Aduu .... uh, you ini tegar tengkuk amat sih. Predestinasi atau eleksi sudah termasuk sarananya. Tuhan bukan hanya menetapkan akhir atau "ujung" dari garis keselamatan seseorang; yang benar adalah dari prosesnya, sarananya, sampai pada akhirnya. Jadi singkatnya, proses keselamatan seseorang sampai tahap/proses pengudusannya pun semuanya termasuk dalam "paket" keselamatan itu. Paulus jelas mengatakannya dalam II Tesalonika 2:13b: "...sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai."296 Jadi, eleksi bersifat efficacious; maksudnya, mereka yang telah dipilih Allah pasti akan beriman kepadaNya, dan mereka yang beriman kepadaNya akan bertahan di dalam iman itu sampai pada akhirnya. Maka, tidak mungkin orang yang beriman itu menjadi tidak bersemangat untuk berbuat baik dan menginjil, sebab iman yang dari Allah itu akan menggerakkan dia untuk melakukan itu. Tidak mungkin ada gejala antinomianisme seperti tuduhan you itu! (Katanya sambil menunjuk-nunjuk dengan jarinya.)

Ar: Lho kok jadi sewot? Orang Calvinis harus sabar dong. Bila yang you katakan tadi benar, maka saya rasa susunan/urutan dari Injil harus dibalik. Sebab perkataan "barangsiapa yang percaya" (misalnya dari Yoh 3:16) secara tidak langsung berarti Allah tidak mengasihi semua orang melainkan hanya orang-orang pilihan yang digerakkanNya supaya mau tak mau harus percaya (whom he caused irresistibly to believe). Bukankah ini juga berlawanan dengan ajaran tentang dasar kasih Allah dalam hubungan dengan keadilanNya, di mana Ia benar-benar akan "memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" (Ibr 11:6)?297

Cal: He, Bung! Ayat-ayat yang situ kutip tadi belon lengkap. Sebagai contoh, kalau kita baca Yohanes 15:16, Kristus berkata: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih Kamu." Di lain pihak, boleh saja kita mengatakan bahwa orang Kristenlah yang memilih Kristus, percaya kepadaNya, dan mengambil keputusan untuk mengikut Dia. Tetapi ingat, "Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya" (Flp 2:13). Jadi, seorang Kristen yang benar-benar Kristen tidak boleh bilang bahwa keselamatan yang telah diperolehnya separoh adalah karya Allah dan separohnya lagi usaha manusia. 'Kan ngaco tuh orang. Kalo begini jadinya berarti keselamatan itu sinergistis, suatu usaha kerjasama Allah - manusia. Ya blunder dong jadinya. Sekarang, ada lagi satu ayat yang saya mau kutip. Menurut Sdr. Lukas: "...semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya" (Kis 13:48). Ayat ini memang selama ini bikin puyeng orang-orang Arminian nggak tau kalau you sendiri gimana. Beberapa teolog Arminian mencoba menterjemahkan terbalik kata-kata di dalam ayat itu sehingga menjadi "...semua orang yang menjadi percaya ditentukan Allah untuk hidup yang kekal."298 Justru ini terlalu dicari-cari, sebab teks Yunani episteusan hosoi ban tetangmenoi eis zoen aionion memang sudah benar terjemahannya di dalam versi NIV, NASB, atau bahkan versi kuno KJV. Mau diapain lagi tuh ayat?

Ar: OK. Tetapi sekarang coba jawab: Kristus mati buat siapa? Kristus menjadi penebus untuk siapa? Apa yang menjadi maksud dan tujuan dari kematianNya? Sdr. Tongki, apakah sampeyan masih akan mengatakan bahwa Ia hanya mati untuk mereka yang telah Allah pilih? Kalau jawaban Anda adalah ya, bagaimana cara saudara mengartikan ayat-ayat seperti II Korintus 5:15 yang mengatakan bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang" (bdk. Tit 2:11 "semua manusia"; I Yohanes 2:2 "untuk dosa seluruh dunia")? Bagi saya ayat-ayat tersebut jelas memberi indikasi bahwa penebusan Kristus sebenarnya tidak terbatas khasiatnya (unlimited atonement), bukan limited seperti ajaran kubu Anda.

Cal: Begini Broer. Memang benar bahwa Kristus mati hanya untuk orang yang percaya, yaitu orang-orang pilihan; Ia sendiri menegaskan hal ini (Yoh 6:37-40).299 Periksa juga ayat-ayat lain di mana jelas mengatakan bahwa kematian Kristus bukanlah untuk setiap orang, melainkan untuk "umatNya" (Mat 1:21), "dombaNya" (Yoh 10:15,26), "sahabatNya" (Yoh 15:13), dan "jemaat" (Kis 20:28). Tetapi, jangan salah mengerti, ketika saya memakai istilah "limited atonement", saya tidak memaksudkan itu sebagai penebusan yang terbatas daya kuasanya. Khasiatnya tidak terbatas, tetapi lingkupnya terbatas (It is unlimited in its power, but limited in its scope). Kematian Kristus sebenarnya memang menghapuskan dosa a limited number of people, yakni mereka yang dikasihi Allah dengan kasih istimewa sejak kekal. Penebusan itu sendiri memiliki nilai yang tak terbatas (unlimited 12 value), tetapi memang terbatas untuk orang-orang tertentu.

Ar: Baiklah, Nep. But I'm still not persuaded by what you said. Masalahnya, Yehezkiel 33:11 jelas menyatakan bahwa Tuhan "tidak berkenan kepada kematian orang fasik..."; Petrus juga yakin bahwa Allah "menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat" (2Ptr 3:9). Apalagi rasul Paulus tanda tedeng aling-aling berbicara bahwa Allah "...menghendaki supaya semua orang diselamatkan..." (1Tim 2:4).300 Bahkan pembela ajaran Calvinisme yang hebat seperti Loraine Boettner harus mengakui bahwa ayat-ayat seperti Yesaya 55:1 dan seterusnya atau Matius 11:28 sedikit banyak menguatkan posisi Arminianisme.301 Maka, jikalau benar Allah tidak bermaksud menyelamatkan semua orang (seperti yang disebutkan ayat-ayat di atas), tentunya ini berarti Allah tidak tulus atau serius di dalam seruanNya! Lha, ini 'kan kontradiksi namanya. Coba deh jawab kalo memang pinter. (Sekarang giliran orang ini yang panasan dan melotot.)

Cal: Aduh pengungnya ini orang! Kata "semua (orang)" atau "setiap (orang)" dalam ayat-ayat di atas jangan diartikan sebagai suatu istilah untuk menyatakan penegasan kolektif yang universal sifatnya (a universal affirmative collectively) dan berlaku bagi setiap orang secara individual. Yang benar adalah istilah tersebut harus dimengerti secara distributif. Misalnya, dalam Matius 9:35 dikatakan bahwa Tuhan Yesus "...melenyapkan segala penyakit dan penderitaan." Apakah ini berarti Yesus menyembuhkan setiap penyakit secara individual, universal, dan kolektif?302 'Kan tidak. Contoh lagi. Di dalam Kolose 1:28 Paulus mempergunakan istilah "tiap-tiap orang" sebanyak tiga kali; apakah Paulus maksudkan ia telah berhasil menasihati dan mengajari setiap orang secara universal, ataukah sebenarnya itu terbatas pada orang-orang yang telah Paulus layani dengan khotbah-khotbahnya? Rasanya you sendiri tahu jawabannya. Jadi, istilah "semua orang" dalam I Timotius 2:4 tidak boleh diartikan bahwa Tuhan menginginkan semua orang diselamatkan secara individual, kolektif dan universal, karena itu akan membuat ayat seperti Matius 25:41 ("Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk") jadi tidak berarti. Seharusnya istilah "semua (orang)" menunjukkan bahwa Kristus telah mati bagi semua orang tanpa perbedaan (without distinction). Artinya, Ia mati bagi orang Yahudi dan bukan Yahudi sama saja, tanpa dibeda-bedakan antara orang ini dan orang itu. Istilah "semua (orang)" tidak berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang tanpa kekecualian (without exception). Artinya, Ia tidak mati supaya setiap orang berdosa diselamatkan tanpa kekecualian.303 Kalo semua orang berdosa pada akhirnya diselamatkan Kristus tanpa kekecualian, ya selain nggak came ini juga paham universalisme namanya.

Ar: Ogut tidak bilang begitu. Kok naif bener sih kesimpulan si Babah? Saya tidak universalistis. Yang saya tekankan adalah Kristus telah mati supaya setiap orang dapat diselamatkan jika dan hanya jika orang itu percaya.

Cal: Maafkan saya, Amigo. Di sini justru lebih jelas bahwa sebetulnya Andalah, dan bukan saya, yang membatasi lingkup khasiat penyelamatan Kristus. Bagi saya, melalui kematian Kristus justru Allah telah menyelamatkan begitu banyak orang yang dipilih dan percaya yang jumlahnya tak terbilang.304

Ar: Bila you memimpin KKR, mengapa perlu mengundang orang untuk percaya dan menerima keselamatan? Bukankah kasih karunia atau anugerah itu, menurut Calvinisme, tidak dapat ditolak (irresistible grace)? Kenyataannya, coba lihat, di dalam KKR you 'kan ada juga orang yang tidak mau percaya, menolak berita Injil. Ini gimana?

Cal: Menurut seorang penulis Kristen: To will is from nature, but to will well is from grace. Spiritual fruit must spring from a spiritual root.305 Manusia memang memiliki kehendak bebas, tetapi tetap adalah budak dosa. Maka, seorang yang berdosa tidak akan dapat datang menghampiri Allah by his own will. Harus ada karya Allah yang mula-mula di mana Roh Kudus memperbarui natur manusia sedemikian rupa sehingga manusia itu kehendaknya secara sukarela tergerak untuk beriman pada Kristus, dan sesudah itu will-nya condong untuk melakukan kebaikan.306 Jadi, pada waktu seseorang menyampaikan firman Tuhan dan melakukan panggilan untuk percaya, ia sebetulnya hanya meneruskan a general outward call dan Roh Kuduslah yang melakukan a special inward call kepada orang-orang pilihan (the elect). Yang dapat dan seringkali ditolak oleh manusia adalah the general call dari sang pengkhotbah, tetapi the special call tidak dapat ditolak.

Ar: Bila halnya demikian, maka itu menunjukkan Allah benar-benar memaksa beberapa orang untuk menerima anugerahNya, di mana pada kenyataannya kehendak mereka memberikan tanggapan atau respons yang negatif. Ini mah namanya ajaran tentang "penodongan" tingkat Ilahi.

Cal: Terserah deh, Mas, apa maunya situ. Saya hanya ingin memberi penjelasan terakhir begini. Tindakan Allah Roh Kudus dalam special call tidak memaksa will manusia secara semena-mena. Yang benar adalah Roh Kudus bekerja melalui sejenis bisikan yang meyakinkan hati manusia (a form of persuasion) sehingga will manusia akan menjadi responsif terhadap firman Tuhan dan menyambut anugerahNya. Teologia Reformasi jelas mengajarkan bahwa sekalipun Roh Kudus tidak menyuruh manusia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya, Ia dapat melakukan pembaruan natur manusia sedemikian rupa (termasuk willnya) sehingga manusia terdorong melalui kehendak bebasnya sendiri untuk datang dan beriman kepada Kristus.307 Dengan demikian, apa yang kita kenal sebagai kedaulatan Allah dan anugerahNya, kasih Allah dan keadilanNya, selalu berjalan/bekerja bersama-sama.308 Inilah titik pemahaman krusial yang sering disalahmengertikan oleh banyak teolog Arminian.

Ar: (sambil melihat jam tangan Pierre Cardinnya) Well, rupanya sudah dua jam setengah kita duduk dan berdebat. Besok you mengisi tema ceramah apa?

Cal: Justification menurut Calvin dan Arminius. Pokoknya rame deh.

Ar: Go ahead,man. See you tomorrow.

 DINAMIKA DALAM DOKTRIN PILIHAN: SUATU ALTERNATIF DARI G. C. BERKOUWER
sembunyikan teks
Penulis: Henry Efferin

1. Doktrin pilihan adalah suatu persoalan yang sangat sensitif bagi teologia Kristen, khususnya dalam aliran Reformed di mana kedaulatan Allah selalu menempati posisi sentral di dalam sistem teologia mereka. Sebagai contoh, Westminster Shorter Catechism mendefinisikan mengenai penetapan Allah (the decree of God) sebagai "rencana kekekalan Allah seturut dengan pertimbangan kehendakNya, dimana Ia telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi untuk kemuliaanNya."309

2. Penekanan teologia Reformed tentang kedaulatan Allah ini mendapat tentangan dari aliran-aliran lain baik dari Katolik, Lutheran (khususnya perkembangan teologia Lutheran setelah Martin Luther), maupun Arminian. Keberatan-keberatan mereka terhadap kedaulatan Allah yang mutlak pada umumnya dapat diringkaskan menjadi tiga point besar: Yang pertama, bahwa kedaulatan Allah yang mutlak tidak konsisten dengan kondisi manusia sebagai makhluk bermoral yang bebas menentukan pilihannya. Yang kedua, bahwa hal ini meniadakan motivasi manusia untuk berusaha, karena toh segalanya telah ditetapkan Allah. Yang ketiga, dengan demikian maka Allahlah yang menjadi penyebab timbulnya dosa.

3. Doktrin pilihan sendiri sebetulnya merupakan manifestasi dari kedaulatan Allah dalam lingkup yang lebih sempit, yaitu keselamatan manusia. Menurut teologia Reformed tradisional dalam hal ini pewaris ajaran Agustinus dan Calvin - bahwa Allah di dalam kekekalanNya telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan (the elect), dan sebagai konsekuensinya sebagian yang lain ditolak dan menuju ke kebinasaan kekal (the reprobate); inilah yang disebut dengan doktrin double predestination. Pewaris teologia Reformed dari aliran yang lebih modern mulai dari Barth, Brunner, Bavinck, dan Berkouwer, dalam versi mereka sendiri-sendiri lebih berhati-hati dalam mengungkapkan ajaran predestinasi, dan pada umumnya mereka menolak double predestination secara mutlak -- yaitu penetapan sebagian orang untuk binasa -- seperti yang diajarkan oleh Calvin.

4. Dengan konsep doktrin pilihan dari Calvinisme tradisional seperti di atas, kita dapat mengerti mengapa para oponen teologia Reformed banyak yang menuduhnya sebagai suatu pemahaman yang deterministik bahkan fatalistik.310 Sebetulnya para teologia Reformed bukannya tidak mengerti bahaya determinisme menyusup masuk dalam teologia mereka, bahkan sejak Agustinus pun telah berusaha membedakan antara predestinasi dengan fatalisme. Di dalam bukunya The City of God ia mengungkapkan sebagai berikut:

Pandangan kami ialah tidak sesuatupun yang terjadi berdasarkan takdir .... Memang kami tidak menyangkali bahwa ada suatu sebab akibat di mana kehendak Allah adalah segala-galanya dan ada di dalam segala sesuatu, namun kami tidak menyebutnya sebagai takdir .... Yang terjadi adalah kedua-duanya, yaitu Allah mengetahui segala sesuatu sebelum itu terjadi, dan kita manusia melakukannya berdasarkan kehendak sendiri....311

5. Sayangnya usaha-usaha yang dilakukan itu tidak selalu berhasil di dalam menyingkirkan unsur filsafat determinisme di dalam teologia Reformed, atau setidaknya di dalam pandangan para oponen mereka tidak selalu bisa melihat hakekat perbedaan antara predestinasi dan fatalisme yang mau dikemukakan tersebut. Terlebih lagi kita melihat adanya pandangan beberapa teolog Reformed "garis keras" yang sangat menekankan sistem yang logis dan koheren dalam teologia mereka, sehingga nada-nada determinisme menjadi mencolok sekali. Salah satu contoh dalam hal ini adalah Herman Hoeksema. Ia menerima semua implikasi dari kedaulatan Allah yang mutlak dan menganggap bahwa pandangan supralapsarianisme312 adalah satu-satunya pandangan Alkitabiah yang konsisten dengan konsep predestinasi.313 Dalam pemahaman Hoeksema, seluruh Alkitab berbicara dengan jelas tentang mereka yang dipilih dan yang ditolak, dan bagi yang ditolak hanya ada kebencian berdasarkan kedaulatan Allah sendiri.

6. Namun yang menjadi persoalan di sini ialah apa yang sesungguhnya menjadi obyek teologia? Apakah tugas utama teologia adalah menciptakan sistem yang paling rasional dan koheren? Bahkan dalam Synod of Dort (Konsili Dort) seorang teolog yang bernama Maccovius mengeluarkan sebuah tesis yang mengatakan bahwa hal-hal yang bisa disimpulkan sebagai konsekuensi logis dari Alkitab mempunyai wibawa yang setara dengan kebenaran Alkitab itu sendiri!314 Dalam hal ini penulis setuju dengan Berkouwer, bahwa sebagai teolog kita harus belajar membatasi diri dan menghargai batasan-batasan yang diilhamkan oleh Allah. Sebaiknya kita diam pada hal-hal yang Roh Kudus sendiri diam dan tidak menyatakannya pada kita.315 Karena itu masalah double predestination, terutama mengenai sebagian orang yang ditentukan untuk binasa, bukan masalah sistem mana yang lebih konsisten, tetapi apa memang hal ini sesuai dengan diri Allah yang dinyatakan dalam seluruh konteks Alkitab. Jangan sampai seorang menganggap dirinya telah menarik konsekuensi logis dari kebenaran Alkitab, padahal justru dia telah meninggalkan kebenaran Alkitab itu sendiri.

Fokus utama dari artikel ini ialah dinamika dalam doktrin pilihan, di mana kita akan membicarakan tentang pelaksanaan doktrin pilihan itu dalam sejarah manusia, yaitu relasi antara sesuatu yang telah ditetapkan dalam kekekalan dengan manusia sebagai pelaku sejarah yang mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihannya. Apakah manusia mempunyai "andil" dalam proses keselamatan? Apakah pelaksanaan dari pemilihan Allah itu harus berdasarkan kerjasama dari pihak manusia, sehingga ada dua unsur yang bekerjasama untuk terciptanya keselamatan (synergism), ataukah sepenuhnya terletak di dalam tangan Allah (monergism)?316 Kalau hanya satu unsur yang aktif dalam keselamatan, yaitu dari Allah, bukankah dengan sendirinya sudah meniadakan dinamika dalam pemilihan Allah? Seringkali perdebatan antara teolog-teolog Reformed dan non-Reformed dipusatkan pada masalah monergisme vs sinergisme, atau determinisme vs indeterminisme. Kalau ada unsur kerjasama manusia di dalam proses keselamatan, apakah anugerah Allah itu masih dapat dikatakan sebagai pemberian cuma-cuma tanpa jasa manusia di dalamnya. Sebaliknya kalau tidak ada, bagaimana dengan ayat-ayat dengan nada perintah kepada manusia "percayalah,""bertobatlah," lakukanlah," bukankah itu jelas menandakan peran serta manusia di dalamnya?

8. Perdebatan di atas adalah perdebatan klasik yang bukan hanya berlangsung ratusan tahun (Calvinisme vs Arminianisme) melainkan sudah berlangsung hampir 2000 tahun, mulai dari adanya formulasi yang jelas dari teologia Kristen, dan populer sejak perdebatan antara Agustinus vs Pelagius. Dalam lingkaran Reformed sendiri - di mana sinergisme secara bulat ditolak banyak usaha untuk menjelaskan relasi antara pekerjaan Allah dengan kebebasan manusia. Salah satu pendekatan adalah yang dilakukan oleh John Feinberg, yang disebutnya sendiri sebagai "soft determinism" (determinisme yang lunak). Penjelasan sederhana dari posisi ini adalah sebagai berikut; bahwa memang Allah telah menetapkan segala sesuatu, tetapi pelaksanaan dari perwujudan rencana Allah ini tidak begitu saja dipaksakan kepada manusia, melainkan dengan cara persuasif. Karena Allah adalah Allah yang mahatahu, maka Dia bisa memperkirakan segala kemungkinan yang paling baik, sehingga cara persuasifnya bisa berhasil dengan baik, dan manusia dengan kehendaknya sendiri menggenapkan rencana Allah tersebut.317 Pendekatan lain yang sedikit berbeda dengan di atas ialah yang disebut dengan "congruism," pandangan ini belakangan dipopulerkan oleh teolog Injili kontemporer yang bernama M. J. Erickson. Bahwa seseorang melakukan pemilihan sepenuhnya dengan bebas berdasarkan apa yang menurutnya terbaik. Namun apa yang terbaik menurut seseorang ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik yang ada di dalam diri orang tersebut, latar belakangnya, kebudayaannya, sifat bawaannya, "gen"-nya. Siapa yang menetapkan faktor-faktor dasar dalam diri seseorang? Jawabannya ialah Allah. Secara sederhana ini berarti bahwa Allah hanya mengatur unsur-unsur dasar yang ada di dalam alam kehidupan manusia, sehingga apa yang terjadi di dalam satu titik waktu tertentu sesuai dengan perencanaanNya di mana manusia melangkah dan memilih keputusannya dalam kebebasannya yang penuh.318

9. Dua pola pendekatan di atas adalah contoh-contoh dari usaha yang dilakukan oleh para teolog Reformed untuk tetap mempertahankan kedaulatan Allah yang utuh, namun sekaligus memberikan ruang gerak pada kebebasan manusia. Namun bagi pembaca yang sensitif dapat mendeteksi bahwa di balik pola-pola pemikiran tersebut tetap ada bayang-bayang determinisme yaitu pola berpikir sebab akibat - yang mempengaruhinya. Penulis dalam ha! ini memilih alternatif lain yang dikemukakan oleh Berkouwer yang kami sebut dengan Dynamic Monergism (monergisme yang dinamik).319 Untuk mengerti posisi Berkouwer ini, terlebih dahulu harus dicamkan dalam benak kita bahwa pola alternatif Berkouwer ini yang terutama bukanlah suatu analisa secara logis atau rasional mengenai cara kerja anugerah dan kedaulatan Allah dalam sejarah, melainkan suatu pengakuan iman terhadap misteri anugerah Allah, di mana otak manusia yang terbatas ini hanya bisa membuat suatu refleksi - di dalam batas penyataan Allah -- mengenai bekerjanya anugerah Allah dalam gerak sejarah yang dinamik ini.

10. Dari Perjanjian Lama kita mengetahui bahwa hubungan Allah dengan umatNya (Israel) bukanlah seperti bangsa kafir terhadap ilah-ilah mereka -- yaitu sesuatu yang statis dan tidak berubah -- melainkan sesuatu yang hidup di mana manusia memainkan peran yang penting di dalam sejarah. Jadi kedaulatan dan kekuasaan Allah bukan merupakan kekuatan yang meniadakan daya kreasi manusia, sebaliknya kegiatan manusia juga tidak membatasi terwujudnya rencana Allah. Ini tidak berarti sebagai dua kekuatan yang bekerja secara paralel satu dengan lain, melainkan pengaturan Allah dilaksanakan dan diwujudkan di dalam dan melalui diri manusia. Misalnya dari contoh Yusuf dan saudara-saudaranya, memang rencana jahat mereka untuk menjual Yusuf ke Mesir terlaksana, namun rencana Allah yang baik diwujudkan melalui kejahatan manusia tersebut. Belakangan melalui pengalaman Yusuf di Mesir, dia memahami tangan Allah yang bekerja di balik semuanya ini (Kej 45:1-15; 50:15-21). Dalam Perjanjian Baru kita melihat fenomena yang sama, khususnya dalam penyaliban Yesus Kristus. Disana Iblis dan manusia memainkan peranan, bahkan Yesus mengalami "penolakan" Allah Bapa tatkala Ia berada di kayu salib sebagai akibat dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab itu, namun di balik semuanya ini campur tangan Allah secara misterius merangkum semuanya dan mengarahkannya untuk mencapai rencana keselamatannya. Dalam bahasa Inggris istilah yang sering dipakai Berkouwer adalah "interweaving," atau "interlacing,"320 antara pekerjaan Allah dan pekerjaan manusia (bukan sesuatu yang paralel).

11. Salah satu cara untuk mengerti konsep monergisme yang dinamik ini terletak pada pemahaman kita tentang relasi antara kekekalan dan waktu. Untuk itu penulis perlu mengakui bahwa pemahaman kami tentang ide ini banyak dibantu oleh buku Election and Predestination yang ditulis oleh Paul K. Jewett. Pertama, perlu disadari bahwa kekekalan bukanlah suatu segmen yang terpisah jauh dari waktu kita. Misalnya, istilah "pre" dalam predestinasi jangan dimengerti sebagai suatu titik permulaan dari sebuah garis yang dimulai dari masa lampau yang jauh, kemudian melalui proses sebab akibat dalam garis waktu sampai pada titik sekarang ini. Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan tidak sama pengertiannya dengan Raja Daud lahir sebelum Yesus Kristus. Sebab kalau kita terikat dengan pengertian yang demikian, maka segala peristiwa yang terjadi dalam waktu adalah suatu rangkaian sebab akibat yang telah ditetapkan terlebih dahulu, akhirnya kita sampai pada Allah sebagai penyebab pertama (the first cause). Dalam bahasa Jewett sendiri dikatakan;

Janganlah kita menghubungkan pemilihan Allah dan manusia sebagai suatu sebab akibat dalam satu garis lurus waktu, melainkan hubungan itu secara dialektik, yaitu kaitan dinamik yang saling mempengaruhi... ini tidak berarti suatu dualisme, sepertinya kekekalan dan waktu adalah dua jalur yang tidak pernah bertemu, melainkan kekekalan memberi makna pada waktu, sebaliknya waktu terjalin di dalam kekekalan, dan justru karena pemilihan maka apa yang terjadi dalam waktu adalah riil dan penting... Justru karena pemilihan dalam kekekalan Allah menyebabkan pemilihan manusia dalam waktu bukan sebagai sesuatu yang semu, sebaliknya iman kita dalam Kristus adalah masalah mati hidup, masalah surga dan neraka.321

12. Pemahaman antara relasi kekekalan dan waktu yang dinamik secara demikian ini membuat kita melihat doktrin pilihan bukan secara kronologis melainkan dimensional. Bukan sesuatu yang terjadi jauh sebelumnya, melainkan yang dilihat dari dimensi Allah. Ini berarti bahwa predestinasi adalah karya keselamatan Allah yang terjadi dalam sejarah, tetapi sekaligus juga melampaui sejarah karena bebas dari unsur-unsur ketergantungan yang semata-mata didasarkan sejarah. Konsep ini merupakan suatu penerobosan dari doktrin predestinasi tradisional yang sering dikemukakan oleh teolog-teolog Reformed konservatif, karena di dalam pemahaman doktrin pilihan yang kronologis, terkandung bahaya merelatifkan pentingnya keputusan manusia, juga unsur iman dan tanggung jawab dalam diri manusia. Pemberitaan Injil hanya sebagai deklarasi terhadap mereka yang telah dipilih sebelum dunia dijadikan. Sebaliknya pola dari Berkouwer dan Jewett ini memperhitungkan dengan serius respons manusia dalam sejarah, dalam kalimat kami dapat diungkapkan secara demikian; bahwa pola ini "tidak merelatifkan pentingnya sejarah hanya sebagai suatu bagian dari kekekalan, sebaliknya ia juga tidak menjadikan kekekalan hanya sebagai bagian dari sejarah. Keduanya mempunyai signifikansinya sendiri dalam proses yang dinamik antara kekekalan dan waktu.

13. Sebagai kesimpulan perlu kami kemukakan beberapa keuntungan pola monergisme yang dinamik ini dibandingkan pola Calvinisme yang lebih konservatif. Pola monergisme yang dinamik ini bisa menghindarkan masalah pemilihan Allah yang tersembunyi dan semena-mena (hidden and arbitrary) yang sering dituduhkan terhadap teologia Reformed; kehendak Allah itu bukan sesuatu yang beku, statis, segala sesuatu telah ditentukan dalam kekekalan sehingga sejarah tidak lebih daripada realisasi penetapan Allah yang kekal. Allah mempunyai rencana, tetapi realisasi rencana tersebut melalui suatu proses interaksi yang dinamik antara Allah dengan manusia. Pola ini juga bisa membebaskan kita dari masalah filsafati antara determinisme dan indeterminisme yang sering menjadi latar belakang perdebatan antara Calvinisme dan Arminianisme. Secara soteriologis, pola ini bisa sekaligus mengukuhkan segi Allah dan tanggung jawab manusia tanpa menjadikan karya Allah sebagai dualisme. Karya Allah tetap sebagai suatu kesatuan, namun terjalin di dalam dan melalui diri manusia sehingga bagian manusia sama sekali tidak diabaikan dalam proses realisasi kehendak Allah tersebut. Untuk membantu pembaca lebih bisa menyerap konsep ini kami coba membuat diagram perbandingan antara determinisme, sinergisme, dan monergisme yang dinamik (lihat halaman berikutnya).322

Model Linier

1. Determinisme. Kehendak Allah adalah penyebab pertama dari segala sesuatu yang terjadi; manusia adalah alat untuk merealisasikan rencana Allah dalam pola satu garis lurus.

Model Paralel

2. Sinergisme. Kehendak Allah hanya bila direalisasikan dengan cara bekerja sama dengan manusia sebagai satu unsur yang berdiri sendiri.

Model Spiral

3. Monergisme yang dinamik. Karya Allah dan respons manusia saling berinteraksi secara dialektik, sehingga ada keterkaitan yang dinamik di dalam kesatuan rencana Allah tersebut.

 ADAKAH KESELAMATAN DI LUAR KRISTUS
sembunyikan teks
Penulis: Joachim Huang
 MENGENAL APOLOGETIKA KRISTEN KONTEMPORER
sembunyikan teks
Penulis: Dorothy Irene Marx

Alkitab menyaksikan bahwa sejak permulaan zaman musuh Allah dan manusia, yaitu Iblis, selalu berusaha merusak pekerjaan Allah. Dalam kitab Kejadian kita dapat pelajari bagaimana Iblis menggoda Adam dan Hawa sehingga mereka jatuh ke dalam dosa (Kej 3:1-7). Untuk seterusnya ia selalu menggoda dan membawa manusia kepada keraguan akan Allah. Bila perlu ia memutarbalikkan ajaran dan perintah Allah agar manusia pada akhirnya menyangkal Allah.

Pada masa kini Iblis juga melakukan serangan-serangan terhadap kemurnian iman Kristen secara gencar dan hebat, khususnya dalam hal keilahian Kristus dan otoritas Alkitab. Dalam serangannya ia telah mempergunakan pihak-pihak baik dari luar maupun dari dalam Kekristenan yang justru lebih berbahaya. Untuk itu, umat Kristen harus mau dan mampu menangkis setiap serangan terhadap kemurnian dan kebenaran imannya. Tugas ini pernah dilakukan oleh para rasul, misalnya Petrus pada hari Pentakosta (Kis 2). Demikian pula Yudas, saudara Tuhan Yesus, yang didorong semangat membela ajaran para rasul, telah menyurati orang-orang Kristen (Yud 1:3). Upaya-upaya mempertahankan kemurnian dan kebenaran ajaran iman seperti yang mereka lakukan itu disebut "apologetika."

Sebab itu, kita perlu memahami istilah tersebut secara benar dan mendalam; termasuk juga memahami ruang lingkup serta tujuannya. Hal itu akan membuat kita dapat bersikap dan bertindak mempertahankan ajaran iman Kristen sebagaimana mestinya. Selain itu kita pun harus memahami inti, dasar dan latar belakang setiap ajaran pihak penyerang; di samping itu bagaimana Alkitab sendiri menilai ajaran tersebut. Pendeknya, dalam upaya berapologetik kita senantiasa harus bersikap obyektif dan berlandaskan Alkitab.

Tujuan tulisan ini hanyalah memberi sedikit tentang dasar-dasar apologetika Kristen dan mengulas beberapa ajaran yang menyerang kemurnian iman serta bagaimana menjawabnya berdasarkan Alkitab. Tentu saja tulisan yang ringkas ini tidak dapat menampung semua kebutuhan yang diperlukan untuk menjadikan kita pembela ajaran yang tangguh. Minimal, target tulisan ini adalah agar para pembaca mempunyai dasar pijak untuk berpikir dan bertindak dengan benar dalam rangka tugas penting kita yaitu membela kebenaran dan kemurnian ajaran iman Kristen.

 IMPLIKASI KONSEPSI WAKTU DALAM TEORI RELATIVITAS TERHADAP PEMIKIRAN TEOLOGIS
sembunyikan teks
Penulis: Cung Tse Hue323
 HENDAKLAH KITA MENJADI SATU SUPAYA DUNIA PERCAYA
sembunyikan teks
Penulis: Andreas B. Dewanto337
 TAKHAYUL DI SEPUTAR FENGSHUI
sembunyikan teks
Penulis: Lukas Tjandra{*}

Apakah Fengshui itu? Menurut bahasa aslinya yaitu Mandarin Tionghoa, "feng" adalah "angin," sedangkan "shui" adalah "air". Dalam sebuah kamus dijelaskan bahwa Fengshui juga disebut "Kanyu" yang berarti suatu jenis peramalan geomansi berdasarkan penyelidikan dan kajian terhadap garis-garis ataupun gambar-gambar.

Ada suatu takhayul pada Zaman Tiongkok kuno, yang menganggap bahwa lokasi tempat tinggal atau tata letak kuburan berkenaan dengan arah aliran angin dan aliran air sungai di sekitarnya bisa mendatangkan keberuntungan atau sebaliknya kesialan (kecelakaan), baik bagi para penghuninya maupun keturunan dari orang yang telah meninggal dunia. Singkatnya, Fengshui dapat pula digolongkan sebagai ilmu meramal tempat tinggal ataupun kuburan.

Pada masa kini di mana perkembangan zaman telah mencapai teknologi yang serba canggih, justru juga merupakan suatu masa jaya bagi peramalan Fengshui. Banyak orang yang menanyakan nasibnya kepada para peramal Fengshui. Sungguh hal ini menjadi salah satu gejala yang amat aneh pada era modern, sekaligus merupakan suatu tragedi yang ironis pada penghujung akhir abad keduapuluh ini.

Dampak negatif yang merusak dari peramalan Fengshui sudah tak terhitung banyaknya. Misalnya, karena memperdebatkan Fengshui telah menyebabkan timbulnya rupa-rupa permusuhan atau kesenjangan hubungan (gap), bahkan di antara orangtua dan anak, sesama saudara sekandung, maupun yang lebih parah perkelahian massal antar warga sekampung. Sudah barang tentu korban pun berjatuhan. Dahulu pernah terjadi suatu peristiwa satu warga kampung menghalangi pembangunan jalan raya, jalan kereta api dan penggalian tambang; yang semuanya ini merusak rencana perbaikan kota. Banyak proyek-proyek peremajaan kota yang terhambat akibat orang mempercayai Fengshui.



TIP #28: Arahkan mouse pada tautan catatan yang terdapat pada teks alkitab untuk melihat catatan ayat tersebut dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA