Topik : Atribut

19 November 2002

Apakah Saat yang Baik Itu Buruk?

Nats : Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu- ribu orang ... besar dalam rancangan-Mu dan agung dalam perbuatan-Mu (Yeremia 32:18,19)
Bacaan : Yeremia 32:1,2,16-30

Dalam banyak buku dan khotbah, orang-orang kristiani sering kali ditanya apakah iman mereka cukup kuat untuk bertahan di saat-saat yang buruk. Namun, saya mengajukan pertanyaan yang lebih baik pada diri saya sendiri: "Apakah iman saya cukup kuat untuk bertahan di saat-saat menyenangkan?"

Saya sering kali melihat orang-orang yang menjauh dari Tuhan, bukan saat hidup mereka sulit, tetapi justru saat hidupnya berjalan dengan baik. Saat itulah Allah tampaknya tidak diperlukan lagi.

Kita terlalu sering menafsirkan berkat-Nya sebagai tanda atas kebaikan kita, bukan kebaikan-Nya. Kita menganggap diri layak mengalami semua kejadian yang menyenangkan. Namun, kita tidak dapat memahami bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui hal-hal baik yang telah diberikan-Nya untuk kita.

Dalam bukunya The Problem of Pain (Hal Penderitaan), C.S. Lewin menulis, "Allah berbisik kepada kita melalui kesenangan-kesenangan kita ... tetapi Dia berteriak melalui penderitaan kita." Jika kita menolak mendengar bisikan-Nya, Dia mungkin akan berteriak untuk mendapatkan perhatian kita. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Meskipun Allah telah memberi mereka "suatu negeri yang berlimpah- limpah susu dan madunya," tetapi mereka berpaling dari-Nya, sehingga Dia "melimpahkan kepada mereka segala malapetaka ini" (Yeremia 32:22,23).

Kebaikan Allah menjadi alasan untuk menaati-Nya, dan bukan kesempatan untuk tidak mematuhi-Nya. Ketika kita sadar akan hal itu, maka hubungan kita dengan Tuhan tidak melemah, bahkan akan semakin dikuatkan, oleh anugerah dan berkat-Nya –Julie Ackerman Link

4 Maret 2003

Berkat yang Melimpah

Nats : Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga (Efesus 1:3)
Bacaan : Efesus 1:3-14

Saat bencana menimpa, masyarakat menjadi begitu murah hati dalam memberikan bantuan. Setelah serangan teroris yang terjadi di bulan September 2001, kota New York dibanjiri bantuan berupa handuk, selimut, senter, minuman botol, kacang kalengan, sekop, pasta gigi, daging kaleng, radio, sepatu but karet, dan ribuan jenis barang lainnya. Semua bantuan itu diperkirakan seharga 75 juta dolar. Saking banyaknya barang, akhirnya malah tidak semuanya dapat dipakai.

Kejadian itu mengingatkan saya akan apa yang terjadi saat iman kita berbalik dari Kristus, Sang Juruselamat. Kita akan menghadapi bencana pribadi. Dosa yang kita lakukan membuat kita terancam terpisah selamanya dari Allah. Masa depan kita menjadi sangat gelap dan tanpa harapan.

Lalu Yesus masuk dan menawarkan pertolongan. Saat kita percaya kepada- Nya, Bapa kita di surga akan mencurahkan kekayaan rohani-Nya bagi kita. Dengan demikian, kita memperoleh berkat yang begitu banyak sehingga kita mungkin tidak dapat memanfaatkan seluruhnya. Kita adalah anggota keluarga Allah (Efesus 1:5). Kita beroleh “penebusan” dan “pengampunan dosa” (ayat 7). Kita adalah ahli waris dari Dia yang memiliki segalanya (ayat 11). Semua harta warisan kita itu dimeteraikan oleh Roh Kudus (ayat 13,14).

Berkat bagi orang kristiani senantiasa melimpah. Tak ada habisnya. Betapa Allah yang kita layani sungguh murah hati dan penuh perhatian! Mari kita puji Dia atas berkat yang amat banyak dan melimpah dalam hidup kita --Dave Branon

23 Maret 2003

Satu, Bukan Tiga Allah

Nats : Aku dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30)
Bacaan : Yohanes 10:22-33

Alkisah, suatu hari Agustinus (354-430), seorang pemimpin gereja mula- mula, berjalan-jalan di tepi laut sambil memikirkan misteri Trinitas. Di sana ia melihat seorang anak kecil sedang bermain kerang laut. Anak itu menggali lubang di pasir, berjalan ke arah laut, mengisi kerangnya dengan air, lalu menumpahkan air laut itu ke dalam lubang galiannya.

Agustinus lalu bertanya, “Kamu sedang apa?” Anak lelaki itu menjawab, “Saya mau menuangkan laut ke dalam lubang ini.” Lalu Agustinus berpikir, Sama seperti anak tersebut, itulah yang sedang saya coba lakukan. Misteri Trinitas bagaikan lautan yang tak terbatas. Dan saya tengah berdiri di tepi lautan itu, berusaha memasukkan semua misteri yang tak terbatas tersebut ke dalam pikiran saya yang terbatas.

Konsep Trinitas tidak akan muat jika dimasukkan dalam kerangka logika umum. Juga tidak dapat sepenuhnya dianalisa oleh akal kita. Namun tak ada ada alasan untuk menganggap Trinitas sekadar penemuan para ahli teologi. Pernyataan bahwa Allah Yang Esa menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus semata-mata adalah usaha untuk menjelaskan ajaran Kitab Suci (Yohanes 10:29,30; Kisah Para Rasul 5:3,4).

Mempercayakan hidup kita kepada Trinitas Allah berarti mulai memandang kebesaran-Nya sebagai Pencipta, Penebus, dan Penolong kita dengan kacamata iman. Bukankah masuk akal jika Allah tunggal yang kita sembah, tempat kita menyerahkan hidup kita, pastilah jauh lebih besar daripada pengertian kita yang terbatas? --Dennis De Haan

25 Maret 2003

Alfa dan Omega

Nats : Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang (Wahyu 1:8)
Bacaan : Wahyu 22:6-13

Arti kata Alfa dan Omega, istilah yang mengacu pada huruf alfabet Yunani yang pertama dan terakhir, sangat mudah kita pahami. Seperti huruf A dan Z, Alfa dan Omega juga berarti huruf “pertama” dan “terakhir”.

Dalam kehidupan ini, kita dapat memahami konsep ini dengan mudah. Sesuatu dimulai ... dan diakhiri. Pekerjaan dimulai ... lalu diakhiri. Tahun-tahun datang ... kemudian berlalu. Kelahiran ... kematian.

Namun, ada yang istimewa dan unik tentang kata Alfa dan Omega yang tercantum dalam kitab Wahyu (1:8,11; 21:6; 22:13). Yesus Kristus menggunakan istilah itu untuk menggambarkan Dirinya. Istilah itu mengacu pada ketuhanan-Nya.

Dalam Kitab Suci, dua kata tersebut memiliki makna yang sangat dalam sehingga hampir tak dapat dimengerti. Yesus, Sang Alfa tidak memiliki awal. Dia telah ada sebelum semuanya ada dan sebelum dunia ini dijadikan (Yohanes 1:1). Sebagai penyebab utama segala sesuatu yang ada di dunia ini (ayat 2,3), Yesus tidak dapat dibatasi oleh kata Alfa. Dan sebagai Omega, seperti yang kita ketahui, Dia bukanlah “yang akhir”. Dia akan terus hidup di masa mendatang yang kekal dan tanpa akhir.

Sungguh menakjubkan dan menggetarkan hati pandangan tentang Tuhan kita ini. Dia adalah satu-satunya “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Wahyu 1:8). Dia adalah Alfa dan Omega, Allah Yang Mahakuasa. Tidak hanya itu, Dia adalah Juruselamat kita (Titus 2:13). Oleh karena itu, Dia layak menerima pujian, hidup kita, serta segala kepunyaan kita! --Dave Branon

1 April 2003

Kelinci yang Kabur

Nats : Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mazmur 139:7)
Bacaan : Mazmur 139:7-12

Margaret Wise Brown terkenal karena buku cerita anak-anak tulisannya yang sederhana, tetapi bermakna dalam. Salah satu favorit saya berjudul The Runaway Bunny (Kelinci yang Kabur). Buku itu berkisah tentang seekor kelinci kecil yang berkata kepada ibunya bahwa ia memutuskan kabur dari rumah.

“Kalau kamu kabur,” kata ibunya, “aku akan mengejarmu karena kamu adalah kelinci kecilku.” Selanjutnya sang ibu berkata, jika anaknya menjadi ikan di sungai, ia akan menjadi nelayan yang akan menangkapnya. Jika sang anak menjadi bocah lelaki, ia akan menjadi ibu manusia yang akan merengkuh dan memeluknya. Apa pun yang dilakukan anaknya, meski anaknya tetap bersikeras, sang ibu takkan pernah berhenti mengejarnya. Ia tidak akan menyerah dan meninggalkan anaknya.

“Huh,” kata si anak kelinci, “kalau begitu lebih baik aku tinggal di sini saja dan menjadi kelinci kecil Ibu.” “Nah, kalau begitu makanlah wortel ini,” sahut ibunya.

Kisah di atas mengingatkan saya akan perkataan Daud dalam Mazmur 139:7-10, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.”

Marilah kita bersyukur kepada Allah atas kasih-Nya yang tak berkesudahan bagi kita. Dia akan terus-menerus hadir, menyertai, dan membimbing kita --David Roper

10 Mei 2003

Mengagumkan!

Nats : Celakalah aku! Aku binasa! ... namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam (Yesaya 6:5)
Bacaan : Keluaran 33:12-23

Beberapa kilometer dari Gua Carlsbad di New Mexico terdapat Gua Lechuguilla. Para penjelajah yang telah masuk ke gua itu menggambarkan keindahannya seperti sebuah negeri ajaib yang lebih hebat dari hampir segala sesuatu yang pernah mereka lihat.

Seorang geolog mencatat, "Sungguh aneh .... Saya menjelajahi gua-gua yang sedemikian indah, tetapi rasanya saya justru ingin segera pergi dari sana karena tak tahan melihat keindahannya." Sungguh dilema yang menarik bagi para penjelajah, bukan? Mereka dikelilingi oleh keindahan yang begitu memukau hingga seakan-akan menyilaukan mata.

Pengalaman mereka membantu kita memahami betapa sulitnya mengenal Allah yang kudus. Dia tampak begitu agung, kebaikan-Nya begitu murni, dan kepribadian-Nya begitu indah, sehingga mata kita yang digelapkan oleh dosa tidak tahan memandang-Nya. Kita tak tahan melihat kemuliaan-Nya.

Pengalaman seperti inilah yang dirasakan oleh dua orang dalam Perjanjian Lama. Ketika Musa memohon untuk melihat kemuliaan Allah, maka Yang Mahakuasa harus menudunginya supaya ia tidak melihat wajah-Nya (Keluaran 33:18-23). Demikian pula Yesaya ketika sekilas melihat kemuliaan Allah, ia berteriak, "Celakalah aku! Aku binasa!" (Yesaya 6:5).

Tuhan, keagungan-Mu, kebaikan-Mu, dan keindahan-Mu yang mengagumkan menyingkapkan kelemahan dalam diri kami. Kami bersyukur atas kasih dan belas kasih-Mu yang begitu besar, juga atas kesediaan-Mu untuk menyucikan dan melayakkan kami di hadapan-Mu melalui Kristus --Mart De Haan II

27 Juni 2003

Berdiri di Hadapan Allah

Nats : Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus (2Korintus 5:10)
Bacaan : 2Korintus 5:1-11

Selama mempersiapkan diri untuk menjadi juri, saya menyaksikan se- buah video yang menyatakan: "Di seluruh negara bagian Amerika Serikat, dewan juri dibentuk untuk memutuskan perkara orang lain. Suatu kali kelak orang lain pun mungkin akan berkumpul dan menjadi juri atas perkara kita."

Memang belum tentu suatu saat orang-orang yang sebaya dengan saya akan menjadi juri untuk memutuskan perkara saya. Namun, yang pasti adalah suatu saat nanti kita akan berdiri di hadapan Allah Yang Mahakuasa. Di sana segala pekerjaan kita akan dinilai dan upahnya ditentukan oleh Tuhan.

Kita semua akan diselidiki, baik dari sisi moral maupun kerohanian. Tuhan akan memeriksa setiap hal yang tercatat dalam buku kehidupan kita. Tidak hanya mengenai apa yang kita perbuat di dunia ini, tetapi juga alasan mengapa kita melakukan ini dan itu.

Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita mempunyai jaminan bahwa pada saat kita mati, kita akan "menetap pada Tuhan" (2Korintus 5:8). Dengan pemikiran seperti itu Paulus menulis, "Kami berusaha ... supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya ... baik ataupun jahat" (ayat 9,10).

Daripada dibebani rasa takut, lebih baik kita hidup dalam sukacita sementara kita berbuat hal yang menyenangkan Allah dan mengharapkan hadiah surgawi. Marilah kita berjuang agar setiap perbuatan dan motivasi kita dihargai, dan bukannya dinilai tidak berharga, saat kita berdiri di hadapan Allah --David McCasland

10 Juli 2003

Bintangnya Tidak Cukup!

Nats : Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (1Tawarikh 16:34)
Bacaan : Mazmur 147

"Saya suka bermain dengan bintang," kata seorang gadis kecil kepada pendetanya yang datang berkunjung. Gadis kecil ini harus terus berada di tempat tidurnya karena menderita kelainan tulang belakang yang parah. Ia meminta agar tempat tidurnya diletakkan sedemikian rupa sehingga ia dapat melihat langit dan memandangi bintang- bintang. "Saya sering terjaga di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi," katanya kepada sang pendeta, "dan saat itulah saya bermain dengan bintang-bintang."

Karena perkataan si gadis menimbulkan rasa ingin tahu, sang pendeta bertanya kepadanya, "Bagaimana caranya kamu dapat bermain dengan bintang-bintang? Gadis kecil ini menjawab, "Saya memilih satu bintang dan berkata, 'Itu Ibu'. Saya menunjuk bintang lain dan berkata, 'Itu Ayah'. Untuk setiap bintang, saya menyebutkan satu orang atau satu hal yang saya syukuri dalam hidup ini; saudara- saudara saya, dokter saya, teman-teman saya, anjing saya." Ia terus menyebutkan berbagai macam hal, sampai akhirnya ia berseru, "Tapi jumlah bintang di langit tidak cukup untuk menyebutkan semuanya!"

Pernahkah Anda merasakan hal yang sama saat merenungkan berkat- berkat Allah yang tercurah atas diri Anda? Tentu saja Anda tidak akan pernah dapat menyebutkan semua berkat jasmani, rohani, yang bersifat sementara, dan yang kekal. Namun, alangkah baiknya jika dari waktu ke waktu kita mengingat semua karunia-Nya dengan penuh rasa syukur. Ketika Anda melakukannya, seperti gadis kecil itu, Anda juga akan berseru, "Jumlah bintang di langit tidak cukup untuk menyebutkan semuanya!" --Richard De Haan

3 Agustus 2003

Patung yang Pecah

Nats : Lalu Majelis Pengadilan akan duduk, dan kekuasaan akan dicabut dari padanya untuk dimusnahkan dan dihancurkan sampai lenyap (Daniel 7:26)
Bacaan : Daniel 2:36-45

Di Moskow, berdirilah New Tretyakov Gallery, museum yang memamerkan karya seni dan senjata dari zaman bekas Uni Soviet. Di sepanjang Sungai Moskow yang mengalir dekat museum itu terdapat patung-patung para pemimpin yang pernah berkuasa. Patung-patung itu sudah dirusak dan puing-puingnya berserakan di sepanjang sungai itu. Patung Stalin dan Lenin telah kehilangan hidung dan kepalanya terpisah dari tubuhnya.

Pemandangan yang menyedihkan ini mengingatkan kita pada mimpi Raja Nebukadnezar dalam Daniel 2. Ia melihat sebuah patung yang amat besar berkepala emas. Dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi, dan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat (ayat 31-33). Hal ini berturut-turut menggambarkan empat kerajaan besar di dunia. Dari sejarah kita tahu bahwa keempatnya adalah Babilonia, Persia, Yunani, dan Roma. Kemudian "tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung" (ayat 45) menggelinding dan menghancurkan patung itu hingga berkeping-keping. Ini menggambarkan hukuman Allah kepada keempat kerajaan itu dan kuasa-Nya atas seluruh bumi.

Kelak Allah akan menghakimi bangsa-bangsa di dunia, dan karya-karya besar mereka akan berserakan di tanah. Seberapa pun kuatnya bangsa itu, semua akan runtuh di bawah luapan murka Allah yang kudus. Namun, kita yakin bahwa Yesus Kristus, Raja atas segala raja, pada saatnya akan memerintah dalam kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Sungguh suatu masa depan yang gilang-gemilang! --Dave Egner

13 Oktober 2003

Selamanya Berutang

Nats : Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa (Mazmur 23:6)
Bacaan : Mazmur 23

Terkadang sangat membantu bila kita bersedia meluangkan waktu sejenak untuk bersaat teduh, mengingat kembali kehidupan kita yang lalu, dan meninjau betapa kita berutang budi kepada Allah atas kebaikan dan belas kasihan-Nya. Tentu saja tidak ada dua kisah hidup pribadi yang sama. Namun, kita semua dapat menggemakan kata-kata Daud, sang raja penyair, dalam Mazmur 23:6. Daud menulis demikian, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku." Jika kita mempercayai Yesus Kristus, perkataan itu akan merangkum seluruh pengalaman hidup kita.

Kebaikan Allah memberikan apa yang tidak layak kita terima; belas kasihan-Nya menahan apa yang seharusnya kita terima. Dalam kepedihan dan penderitaan, Bapa surgawi dengan setia memenuhi kebutuhan kita, menghibur hati, dan memberi kita kekuatan untuk menanggung beban yang harus kita tanggung. Meskipun kita adalah orang percaya, kita tetap berdosa dan tidak memenuhi standar kudus yang ditetapkan oleh Putra-Nya, Yesus Kristus. Namun, Dia tetap mencurahkan pengampunan- Nya dalam jiwa kita saat kita mengaku dosa. Kita bisa saja menganggap diri sebagai orang yang baik, tetapi kita harus tetap mengakui bahwa "kita telah mengabaikan hal-hal yang seharusnya kita kerjakan, dan telah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan" (The Book of Common Prayer).

Kiranya rasa syukur senantiasa memenuhi hati kita, karena kebaikan dan belas kasihan Allah akan menyertai kita sepanjang jalan menuju kemuliaan. Selamanya kita berutang budi kepada-Nya sepanjang masa --Vernon Grounds

20 Februari 2004

Menakjubkan!

Nats : Mereka semua takjub lalu memuliakan Allah (Markus 2:12)
Bacaan : Markus 2:1-12

Ketika Yesus menyembuhkan seseorang yang lumpuh sebagai bukti kuasa-Nya untuk mengampuni dosa manusia, takjublah orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Lalu mereka "memuliakan Allah, katanya, 'Yang begini belum pernah kita lihat'" (Markus 2:12). Lebih dari dua belas kali dalam injil Markus, kita membaca tentang orang-orang yang memberi reaksi serupa terhadap perkataan dan pelayanan Yesus.

Kata yang diterjemahkan sebagai "takjub" atau "heran", dalam bahasa aslinya mengandung suatu makna "terperosok dalam kondisi terkejut atau takut, atau keduanya". Terkadang kita mungkin merasakan hal yang sama ketika berjumpa dengan Yesus Kristus melalui pembacaan firman Allah. Seperti murid-murid-Nya, kita mungkin heran saat membaca perkataan Yesus, "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Markus 10:23). Kerap kali kita berpikir bahwa dengan memiliki uang banyak, selesailah semua masalah kita.

Orang-orang yang melihat seorang pria dilepaskan dari kerasukan satu legion roh jahat juga menjadi heran (Markus 5:20). Mengapa mereka heran? Apakah mereka berpikir bahwa pria itu tidak terjangkau oleh kuasa Allah yang menyelamatkan? Apakah kita memiliki pikiran yang sama saat Allah menyelamatkan orang tertentu?

Yesus tidak terikat oleh batasan atau harapan kita. Dia berbicara dan bertindak dengan kuasa dan hikmat yang jauh melampaui akal kita. Dengan rasa hormat dan kekaguman, marilah kita mendengar perkataan Yesus dan mencari jamahan tangan-Nya yang berkuasa untuk mengubahkan --David McCasland

7 Maret 2004

Di Balik Takhta

Nats : Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja (Daniel 2:21)
Bacaan : Ester 1

Di sepanjang hidup, saya telah menyaksikan orang-orang jahat bangkit menduduki tampuk kekuatan politik dan militer, membuat banyak kesalahan besar, lalu menghilang di balik layar. Bahkan para pemimpin yang baik pun meninggalkan catatan yang mengandung kesalahan dan kelemahan.

Kitab Ester pasal pertama menunjukkan kesombongan Raja Ahasyweros, pemimpin kerajaan Persia yang sangat besar. Ia menyelenggarakan sebuah pesta besar-besaran untuk memamerkan kekayaan dan kemegahannya. Setelah berpesta selama tujuh hari, raja memerintahkan para pelayannya membawa Wasti, sang ratu, di hadapan pengunjung pesta agar mereka dapat melihat kecantikannya yang luar biasa. Tetapi Ratu Wasti menolak untuk datang, dan penolakannya memalukan raja agung Persia tersebut (ayat 12-18).

Ahasyweros marah besar dan meminta nasihat dari orang-orang bijak di kerajaannya. Mereka menasihatinya untuk mencopot Wasti dari jabatannya sebagai ratu dan “mengaruniakan kedudukannya sebagai ratu kepada orang lain yang lebih baik daripadanya” (ayat 19). Allah memakai berbagai kejadian luar biasa ini untuk menempatkan gadis Yahudi dalam posisi strategis untuk melindungi rakyatnya dari kehancuran.

Nama Allah tidak disebutkan di seluruh kitab Ester, namun pesan dalam pasal 1 itu demikian keras dan jelas: Allah dapat menciptakan kebaikan dari segala sesuatu, bahkan ketika orang-orang yang punya kekurangan dan cenderung melakukan kesalahan terlibat di dalamnya. Dialah kekuasaan yang sesungguhnya di balik setiap takhta —Herb Vander Lugt

30 April 2004

Terangilah Dunia

Nats : Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam (Zakharia 4:6)
Bacaan : Zakharia 4:1-6

Apakah Anda merasa bahwa semangat Anda dalam melayani Allah mulai meredup? Anda mungkin rindu memancarkan cahaya rohani bagi dunia yang gelap hingga akhir hidup Anda, tetapi Anda ragu apakah Anda dapat melakukannya. Semangat Anda tidak akan padam jika Anda memahami dan menerapkan kebenaran dalam Zakharia 4:1-6.

Sang nabi mendapat penglihatan berupa dua pohon zaitun yang terukir pada tempat minyak yang menyalakan tujuh pelita di atas sebuah kandil emas. Saat merenungkan kenyataan di balik simbol ini, kita akan berbesar hati. Anda dan saya bukanlah sumber cahaya yang menerangi dunia. Kita hanya dapat menerima minyak dari Roh Kudus yang menyalakan api kehidupan yang dihasilkan-Nya. Jika kita menyala terus-menerus dalam saat-saat yang gelap dan panjang tersebut, itu semata-mata karena kita telah belajar menyerahkan hidup kepada kekuatan dan kuasa Roh yang tidak terbatas. Ini hanya dapat terjadi melalui persekutuan yang terus-menerus dengan Yesus, Sang Juruselamat kita.

Kita harus mengatakan pernyataan ini berulang-ulang: Bukan apa yang kita lakukan untuk Tuhan, melainkan apa yang Dia lakukan melalui kitalah yang membawa terang dan berkat bagi orang lain. Kita harus puas menjadi lampu yang terang dan bercahaya, dan memiliki sumber minyak tersembunyi yaitu Roh Kristus yang berdiam dalam diri kita. Tugas kita adalah membantu sesama kita untuk melihat kemuliaan cahaya-Nya. Dan setiap hari kita harus ingat bahwa setiap permintaan yang diajukan kepada kita adalah permintaan yang diajukan kepada-Nya –David Roper

10 Mei 2004

Kekristenan Kartu Pos

Nats : Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? (Mazmur 13:2)
Bacaan : Mazmur 13

Saat saya bersama suami mengunjungi Gunung Rainier, yaitu puncak tertinggi di Amerika Serikat, saya berharap dapat melihat pemandangan yang spektakuler. Namun, selama dua hari gunung tersebut tertutup awan. Karena itu, bukannya memotret, saya justru membeli kartu pos.

Liburan tersebut membuat saya mempertanyakan cara saya melukiskan iman kepada orang lain. Apakah saya menyodorkan pemandangan “kartu pos” tentang kekristenan? Apakah saya memberikan kesan yang keliru bahwa hidup saya selalu cerah, dan bahwa pandangan saya terhadap Allah selalu jernih?

Bukan itu yang dilakukan oleh Daud. Melalui puisi yang penuh perasaan di dalam Mazmur 13, ia mengakui bahwa ia tidak dapat memandang Allah dan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan-Nya (ayat 2). Namun di akhir doanya, ia yakin bahwa apa yang tidak kelihatan sebenarnya ada, karena ia telah melihat hal itu sebelumnya di dalam pemeliharaan Allah yang berlimpah (ayat 6).

Orang kristiani adalah seperti orang-orang yang hidup di kaki Gunung Rainier. Mereka telah melihat gunung itu sebelumnya, sehingga mereka tahu bahwa gunung tersebut tetap ada walaupun awan menutupinya.

Saat penderitaan atau kebingungan menghalangi pandangan kita akan Allah, kita dapat berterus terang kepada orang lain tentang keraguan kita. Namun, kita pun dapat mengungkapkan keyakinan kita bahwa Tuhan masih ada, dengan cara mengingat saat-saat ketika kita menyaksikan keagungan dan kebaikan-Nya. Hal itu lebih baik daripada “kekristenan kartu pos” —Julie Ackerman Link

11 Mei 2004

Saat Anda Jatuh

Nats : Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab Tuhan telah mendengar tangisku (Mazmur 6:9)
Bacaan : Mazmur 6

Kadang kala hal-hal kecil dapat membuat kita jatuh, bukan? Komentar yang tidak mengenakkan dari seorang teman, kabar buruk dari montir mobil, kesulitan keuangan, atau anak yang sulit diatur dapat memunculkan awan kemuraman di atas segala hal, bahkan di hari yang cerah sekalipun. Anda sadar bahwa Anda harus bersukacita, namun tampaknya segala sesuatu menentang Anda, sehingga membuat tugas-tugas sederhana menjadi pergumulan berat.

Daud tentu merasakan hal yang sama saat menulis Mazmur 6. Ia merasa lemah dan lesu (ayat 3), bingung (ayat 4), ditinggalkan (ayat 5), lelah (ayat 7), serta berdukacita (ayat 8). Namun, ia tahu apa yang dilakukan saat jatuh. Ia memandang ke atas dan percaya bahwa Allah akan memelihara dan menolongnya.

Saat kita memandang ke atas dan memusatkan perhatian kepada Allah, maka sesuatu yang baik terjadi. Mata kita tidak lagi tertuju kepada diri sendiri dan kita pun memperoleh sikap penghargaan yang baru terhadap Dia.

Jika di kemudian hari Anda jatuh, cobalah memandang ke atas kepada Allah. Dia berdaulat (Mazmur 47:9); Dia mengasihi Anda (1 Yohanes 4:9,10); Dia menganggap Anda istimewa (Matius 6:26); Dia memiliki tujuan yang baik atas pencobaan-pencobaan yang kita alami (Yakobus 1:2-4).

Ya, hidup kerap kali tampak tak tertahankan. Namun, janganlah hal itu membuat Anda terus jatuh. Renungkanlah kebaikan Allah, berbicaralah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Dia mendengarkan Anda (Mazmur 6:10). Semua itu akan memberi Anda kekuatan untuk bangkit saat Anda jatuh —Dave Branon

18 Mei 2004

Buaya yang Tak Diharapkan

Nats : Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad (Matius 13:21)
Bacaan : Matius 13:18-23

Suatu kali, aktris sekaligus komedian Gracie Allen dikirimi temannya seekor buaya hidup yang masih kecil sebagai lelucon. Karena tak tahu apa yang harus diperbuatnya dengan makhluk itu, Gracie menaruhnya dalam bak mandi, lalu pergi untuk memenuhi suatu janji. Ketika pulang, ia mendapati pesan pada secarik kertas dari pembantunya. “Bu Allen, maaf, saya memutuskan keluar. Saya tidak mau bekerja di rumah yang ada buayanya. Mestinya saya mengatakan hal ini kepada Anda saat melamar, tetapi saya sungguh tidak menduga akan ada buaya di sini.”

Sebagian orang yang mengatakan ingin melayani Kristus, dapat segera meninggalkan pelayanan itu saat timbul masalah. Dalam perumpamaan Yesus tentang tanah, Dia menggambarkan beragam tanggapan orang terhadap Injil. Misalnya, seseorang tampaknya menerima kebenaran Allah, tetapi ia segera berpaling dari imannya saat muncul kesulitan (Matius 13:20,21). Kesulitan menguji kesungguhan iman dan menyingkapkan kelemahan komitmen seseorang kepada Kristus.

Namun, mungkin seseorang berkata, “Bukankah Tuhan seharusnya memberi tahu kita apa yang akan kita hadapi apabila mengikuti Dia?” Dia sudah memberi tahu. Dia menyerukan suatu undangan kepada kita, “Percayalah kepada-Ku.” Jika kita membiarkan kesulitan dan kekecewaan mengguncang iman kita, berarti kita menghancurkan roh keyakinan yang membawa kita kepada Kristus.

Bapa, ketika hidup ini membawa kami pada hal-hal yang tak diharapkan dan kami ingin menyerah, tolonglah kami untuk setia kepada-Mu —Mart De Haan

10 Juni 2004

Cukup untuk Apa Saja

Nats : Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu ... berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (2 Korintus 9:8)
Bacaan : 2 Korintus 9:6-15

Randy, anak sulung kami, berangkat ke TK-nya dengan mengantongi sekeping uang 10 sen untuk membeli susu kotak sebagai tambahan makan siangnya. Sepulangnya dari sekolah siang itu, ibunya bertanya apakah ia telah membeli susu kotak. “Tidak,” jawabnya sambil menangis. “Susu kotak harganya lima keping sen, tetapi aku hanya punya satu keping uang sepuluh sen.”

Betapa sering saya menanggapi tuntutan yang dilimpahkan kepada saya dengan pemahaman yang kekanak-kanakan. Menurut firman Allah, saya memiliki semua sumber daya yang saya butuhkan untuk pelayanan saya. Sumber daya itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya, tetapi saya enggan bertindak karena takut kalau tidak cukup. Padahal, Alkitab meyakinkan saya bahwa Allah telah menyediakan berkat yang melimpah bagi saya. Oleh anugerah-Nya, saya memiliki segala sesuatu yang saya perlukan (2 Korintus 9:8).

Rasul Paulus tidak mengatakan bahwa kita memiliki cukup anugerah untuk melakukan segala sesuatu yang ingin kita lakukan. Allah tidak menawari kita cek kosong. Tidak, Paulus memberi jaminan bahwa kita memiliki cukup kasih karunia untuk melakukan apa pun yang diperintahkan Allah kepada kita -- mungkin untuk memberikan uang bagi perkabaran Injil seperti yang dilakukan jemaat Korintus (ayat 7), atau untuk mengasihi seorang remaja yang sulit diatur, pasangan yang acuh tak acuh, atau orangtua yang lanjut usia.

Apa pun tugasnya, Allah akan memastikan kita “berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (ayat 8) —David Roper

13 Juli 2004

Kasih Terbesar

Nats : Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1 Yohanes 4:10)
Bacaan : 1 Yohanes 4:7-11

Pada dinding ruang keluarga kami, di dalam sebuah kotak pajangan kecil, tergantung sebuah “harta” milik istri saya Carolyn. Oh, kami memiliki barang-barang yang sebenarnya lebih berharga, yang terpajang di dinding-dinding rumah kami, seperti selimut buatan tangan dari Blue Ridge Mountain Kentucky, cermin antik, lukisan cat minyak, dan siter yang sangat indah dari seorang seniman di pedalaman Idaho.

Namun, “harta” Carolyn jauh lebih berharga daripada benda-benda itu, karena kotak itu berisi sebuah pemberian dari cucu perempuan kami, Julia. Pemberian itu adalah hadiah untuk neneknya pada hari Valentine beberapa tahun silam ketika Julia berusia enam tahun. Benda itu adalah sebentuk hati kecil berwarna merah yang terbuat dari tanah liat. Pada hati kecil itu terukir tulisan anak kecil seperti cakar ayam, “Aku Sayang Nenek”.

Hati kecil itu kasar buatannya, bagian tepinya tidak rata, dan di sana-sini terdapat bekas jari serta kotor. Namun, Carolyn telah mengabadikan hati itu dalam sebuah pigura yang khusus dibuat untuk memajangnya. Setiap hari benda itu mengingatkannya akan kasih Julia.

Apakah kasih Allah lebih berharga bagi Anda daripada perak, emas, atau segala harta benda lainnya? Dia “telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yohanes 4:9). Dia melakukannya karena Dia mengasihi Anda, bukan karena Anda telah mengasihi Dia. Dan oleh karena kasih-Nya, kelak Anda akan bersama-sama dengan Dia di surga. Tak ada kasih yang lebih besar daripada itu! —David Roper

25 Juli 2004

Menyelamatkan Dylan

Nats : Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:3)
Bacaan : Yohanes 9:1-12

Seorang bayi yang sakit parah terbaring di rumah sakit, berjuang untuk bernapas. Ia menderita radang paru-paru, dan perjuangan untuk bertahan hidup begitu berat bagi bayi yang baru berusia 8 bulan itu. Dokter, perawat, dan keluarganya berjuang untuk menyelamatkan bayi lelaki yang lemah ini.

Sebagian orang mengatakan bayi itu seharusnya tidak perlu bertahan sampai usia 8 bulan. Beberapa orang lain mengatakan anak yang berharga ini mestinya tak usah diberi kesempatan untuk lahir, atau seharusnya dibiarkan mati setelah dilahirkan.

Mengapa mereka berkata begitu? Karena satu alasan sederhana: Dylan menderita sindrom Down. Cucu keponakan saya ini memiliki ekstra kromosom bukan karena kesalahannya sendiri maupun orangtuanya, dan ia akan menghadapi lebih banyak perjuangan di dalam hidupnya.

Tetapi bukankah hidupnya seberharga bayi sakit yang tidak memiliki ekstra kromosom? Bukankah kita semua sama berharganya di mata Sang Pencipta? Bukankah kita semua tidak sempurna? Kekurangan kita seharusnya mengingatkan kita bahwa tak seorang pun berhak menghakimi apakah orang lain berharga atau tidak.

Ketidaksempurnaan kita merupakan kesempatan bagi pekerjaan Allah dalam hidup kita. Itulah jawaban Yesus kepada murid-murid-Nya ketika mereka bertanya mengapa ada seorang pria yang dilahirkan buta. Dia berkata hal itu terjadi karena “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).

Kita sedang melihat Allah bekerja di dalam hidup Dylan. Untuk itulah ia ada di sini, seperti kita semua —Dave Branon

19 Agustus 2004

Kasih dan Kemuliaan

Nats : Kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela (Mazmur 84:12)
Bacaan : Mazmur 84:6-13

Di belakang rumah kami di Boise, Idaho, ada jalan setapak melingkar di sebuah taman tempat saya biasa berjalan-jalan. Bila saya memutarinya tiga kali, berarti saya telah berjalan sejauh satu mil.

Target saya tiga mil, tetapi saya mudah lupa jumlah putaran yang telah saya lewati. Maka setiap pagi saya memungut sembilan batu kecil dan mengantonginya. Setiap kali menyelesaikan satu putaran, saya membuang satu batu.

Saya selalu senang bila tinggal satu batu lagi di kantong. Langkah saya jadi lebih semangat. Saya pun mempercepat langkah.

Saya melihat perjalanan hidup saya memiliki banyak persamaan dengan jalan kaki yang saya lakukan setiap hari. Saya telah menjalani hidup selama tujuh puluh tahun, dan jarak yang harus saya tempuh tinggal sedikit lagi. Hal itu juga membuat saya berjalan lebih semangat.

Saya tidak tergesa-gesa untuk meninggalkan hidup ini, tetapi waktu hidup saya dalam tangan Allah. Ketika tubuh melemah menanggung beban bertahun-tahun, ada anugerah dari dalam yang menopang saya. Kini saya berjalan "semakin lama semakin kuat", dan pada saat yang tepat saya akan "menghadap Allah di Sion" (Mazmur 84:8). Itulah kemuliaan yang akan saya terima.

Tuhan kita memberikan "kasih dan kemuliaan", demikianlah kata pemazmur -- kasih untuk perjalanan hidup duniawi kita, dan kemuliaan ketika kita menyelesaikannya. "Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela" (ayat 12).

Apakah Anda membutuhkan kasih hari ini? Allah memberikannya dengan tangan terbuka. Anda tinggal menerimanya --David Roper

23 Agustus 2004

Kuat Sampai Akhir

Nats : Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Korintus 9:27)
Bacaan : 1Korintus 9:19-27

Delapan puluh tahun yang lalu, Eric Liddell menggemparkan dunia ketika merebut medali emas Olimpiade dalam perlombaan lari 400 meter -- pertandingan yang tidak diduga akan dimenangkannya. Liddell adalah atlet yang diunggulkan untuk lari 100 meter, tetapi ia mengundurkan diri setelah tahu bahwa babak penyisihan diadakan pada hari Minggu, yang baginya adalah hari untuk beribadah dan beristirahat. Ia tidak meratapi kesempatan yang hilang pada lari 100 meter, tetapi ia menghabiskan 6 bulan berikutnya berlatih lari 400 meter. Dan akhirnya ia mencatat rekor Olimpiade baru.

Paulus menggunakan perumpamaan tentang olahraga untuk menekankan perlunya disiplin rohani bagi orang kristiani. "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal" (1 Korintus 9:25), yakni melakukan latihan secara ketat. "Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." Paulus rindu untuk tetap setia kepada Kristus karena ia ingin membawa pesan keselamatan bagi orang lain (ayat 19,27).

Di sepanjang hidupnya, Liddell melatih diri secara rohani setiap hari dengan meluangkan waktu untuk membaca firman Tuhan dan berdoa. Ia tetap setia sampai ia meninggal karena tumor otak yang menyerangnya dalam kamp pengasingan Jepang selama Perang Dunia II.

Karena dikuatkan oleh anugerah dan kuasa Allah, Eric Liddell dapat berlari dengan baik dan tetap kuat saat menyelesaikan pertandingan kehidupan. Kita pun bisa berbuat seperti itu --David McCasland

7 September 2004

Cerminan Citra Allah

Nats : Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2Korintus 3:18)
Bacaan : 2Korintus 3:7-18

Beberapa tahun yang lalu, seorang pebisnis yang sudah senior bertanya kepada saya, "Apakah masalah terbesar Anda?"

Saya merenungkan pertanyaan ini sejenak sebelum menjawab, "Tatkala saya bercermin setiap pagi, saya melihat masalah terbesar saya sedang menatap saya."

Bacaan Kitab Suci hari ini mengajarkan kepada saya bahwa orang kristiani harus seperti cermin. Paulus berkata bahwa kita tidak boleh menutupi wajah kita. Perkataannya itu memang masuk akal. Tidak ada orang yang memasang cermin lalu menutupi cermin itu dengan tirai. Cermin yang berselubung tidak akan dapat menjalankan fungsinya yaitu memantulkan objek yang ada di depannya.

Dalam 2 Korintus 3:18, digambarkan bahwa kita "mencerminkan kemuliaan Tuhan". Apabila kita mencerminkan kemuliaan-Nya, kita akan diubah "menjadi serupa dengan gambar-Nya", yaitu menyerupai Kristus.

Barangkali kita bertanya-tanya mengapa cara berpikir dan perilaku kita masih jauh dari serupa dengan Kristus. Mungkin pertanyaan berikut ini dapat menolong: "Hidup siapakah yang kita cerminkan?"

Umat Allah harus mencerminkan kemuliaan Allah. Untuk itu kita harus membiasakan diri mencerminkan kemuliaan-Nya. Kita harus membaca dan merenungkan firman-Nya. Kita harus berdoa dan memercayai Roh Kudus Allah untuk bekerja di dalam hati kita. Barulah setelah itu kita dapat menaati perintah-Nya dan berpegang pada janji-Nya.

Kemuliaan siapakah yang Anda cerminkan hari ini? --Albert Lee

17 September 2004

Tak Ada yang Tersembunyi

Nats : Dosa beberapa orang mencolok .... Demikian pun perbuatan baik itu segera nyata dan .... ia tidak dapat terus tinggal tersembunyi (1Timotius 5:24,25)
Bacaan : 1Timotius 5:24,25

Seorang wanita dimusuhi dan disalahpahami oleh rekan kerjanya yang iri hati kepadanya. Ia putus asa karena usahanya untuk mengklarifikasi dengan rekan kerjanya secara pribadi hanya memperkeruh keadaan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan keangkuhan rekannya dan membiarkannya. Ia berkata, "Saya lega karena Tuhan mengetahui keadaan yang sebenarnya." Ia menyatakan kebenaran nyata yang mengingatkan sekaligus menghibur.

Paulus menyatakan tak ada yang bisa disembunyikan selamanya (1 Timotius 5:24,25). Ini adalah peringatan serius. Sebagai contoh, laporan berita mengabarkan tentang orang terhormat yang ditangkap karena kejahatan yang diam-diam telah dilakukannya selama bertahun-tahun.

Kenyataan bahwa tak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan juga dapat menjadi penghiburan besar. Saya mengenal orang-orang yang tak pernah menduduki posisi terhormat atau dikenal karena pelayanan mereka. Namun, setelah mereka tiada, saya memerhatikan bahwa melalui perbuatan yang dilakukan dengan diam-diam, mereka telah menjamah hidup banyak orang dengan kata-kata ramah dan perbuatan yang menolong orang lain. Perbuatan baik mereka tidak mungkin tetap tersembunyi.

Kita tak dapat menyembunyikan sesuatu pun dari Allah, ini adalah peringatan serius! Namun ini juga merupakan suatu penghiburan besar, karena Bapa surgawi kita mengetahui setiap senyum yang menyemangati, setiap perkataan yang ramah, dan setiap tindakan kasih yang dilakukan dalam nama Yesus. Kelak Dia akan memberikan penghargaan kepada kita --Herb Vander Lugt

19 September 2004

Memberi Tahu Allah

Nats : Masakan kepada Allah diajarkan orang pengetahuan? (Ayub 21:22)
Bacaan : Mazmur 139:1-6

Kita tak dapat memberi tahu Allah tentang sesuatu yang tidak Dia ketahui. Jika kita berdoa, kita sekadar mengucapkan apa yang telah lama Dia perhatikan.

Itu tidak membuat doa menjadi tak berguna, tetapi justru mendorong kita berdoa. Kita akan lega ketika berbicara dengan Seseorang yang sepenuhnya mengenal dan memahami keadaan kita. Sungguh menghibur mengetahui bahwa jawaban Allah tidak berasal dari informasi yang kita berikan kepada-Nya, tetapi dari pengetahuan-Nya yang sempurna akan keadaan kita. Dia mengetahui semua keadaan -- masa lalu, kini, dan masa depan -- yang berkenaan dengan kesejahteraan kita.

"Bapamu mengetahui," kata Yesus dalam Matius 6:8. Dia tahu berbagai pikiran, maksud, dan keinginan kita; Dia sangat mengenal segala jalan kita (Mazmur 139:3). Dia tahu penderitaan batin, tekanan keputusasaan yang terus-menerus, musuh-musuh di dalam dan di luar yang melawan jiwa kita.

Jadi, dapatkah kita menentukan waktu dan batas kelepasan kita dari pencobaan atau kesulitan? Dapatkah kita berkata bahwa cara kita lebih baik, lebih sesuai untuk mengembangkan jiwa kita? Tidak, kita tak dapat mengajari Allah apa pun. Dia sendiri mengetahui jalan yang membawa kita pada kemuliaan.

Dari semua jalan yang mungkin ditempuh, Dia telah memilih jalan terbaik, jalur yang paling sesuai dengan diri kita dan dengan apa yang telah Dia sediakan bagi kita.

Kita tak dapat mengajarkan pengetahuan kepada Allah, tetapi kita dapat mengasihi dan memercayai-Nya. Itulah yang Dia inginkan dari kita --David Roper

6 Oktober 2004

Allah Gunung dan Jalanan

Nats : Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya (Mazmur 121:8)
Bacaan : Mazmur 121

Mazmur 121 adalah kesukaan ayah saya. Orang Skotlandia menyebutnya "Mazmur Orang yang Bepergian". Ketika seorang anggota keluarga, tamu, atau teman akan menempuh suatu perjalanan, Mazmur ini dibacakan, atau lebih sering dinyanyikan, pada waktu doa keluarga. Saat ayah saya remaja, ia meninggalkan Eropa sendirian untuk pergi ke Amerika Serikat. Ia diantar pergi dengan mazmur ini.

Selama bertahun-tahun, ayah saya menikmati hari-hari yang menyenangkan serta bertahan saat melalui hari-hari yang gelap dan menakutkan. Ia membawa kata-kata di dalam Mazmur 121 ini ketika masuk ke medan perang semasa Perang Dunia I, juga saat ia keluar dari medan perang, yakni ketika ia terbaring di rumah sakit selama hampir setahun dalam proses penyembuhan dari luka granat.

Di dalam ayat 1, pemazmur melayangkan pandangannya melintasi gunung-gunung kepada Allah yang menciptakannya. Ayah saya tinggal di daerah yang paling keras di New York. Walaupun ia jarang melihat pegunungan, ia berpegang pada jaminan bahwa Allah yang menciptakan gunung-gunung adalah Allah yang menciptakan jalanan berbahaya.

Begitu banyak jalan "keluar masuk" yang telah dilalui ayah saya sepanjang 87 tahun hidupnya. Dan ketika ia "keluar" untuk terakhir kalinya, saya percaya ia menyanyikan Mazmur 121 sembari turun ke lembah dan pulang ke "rumah di sisi yang lain".

Kita memiliki jaminan bahwa Allah, yang menciptakan gunung dan jalanan, berjalan di depan setiap orang yang percaya kepada Kristus --Haddon Robinson

17 November 2004

Penderitaan Ada Gunanya

Nats : Dan ini pun datangnya dari Tuhan semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan (Yesaya 28:29)
Bacaan : Yesaya 28:23-29

Di masa-masa susah, saya sering mengeluh, “Siapa yang butuh penderitaan? Saya tidak perlu!” Namun, Yesaya 28 dan pengalaman saya sendiri telah membuktikan bahwa pertanyaan seperti itu merupakan reaksi yang kurang tepat. Kita memang tidak memerlukan kesusahan, tetapi kita perlu diubah dan bertumbuh menjadi dewasa. Di tangan Allah, kesusahan dapat menjadi alat yang efektif untuk memacu pertumbuhan yang kita perlukan.

Di ayat 23-28 kita membaca perumpamaan Nabi Yesaya “yang puitis”. Perumpamaan itu ditulis untuk membantu orang Israel agar dapat memahami bagaimana cara Allah bekerja dan apa yang ingin diwujudkan- Nya dalam hidup mereka ketika melalui masa-masa sukar. Seorang petani digambarkan sedang membajak tanahnya dengan sangat terampil, menabur benih, kemudian mengirik hasil panennya. Jika tanah dapat bicara, mungkin ia akan mengeluh, “Siapa yang mau dibajak dengan menyakitkan seperti ini?” Namun, penderitaan bukannya tidak berguna. Yesaya menceritakan bahwa petani telah diajar Allah untuk bekerja menurut ukuran dan tepat waktu; memperlakukan gandum yang lembut dengan hati-hati dan gandum jenis lain dengan dipukul-pukul. Dan masa panen pun pasti segera tiba.

Saat menghadapi masa-masa sukar, kita mendapatkan jaminan bahwa Allah petani itu adalah Allah kita juga, yang “ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan” (ayat 29). Dia selalu memperlakukan kita secara bijaksana dan mempunyai tujuan, sehingga menghasilkan “buah kebenaran yang memberikan damai” (Ibrani 12:11) —Joanie Yoder

5 Maret 2005

Tanaman Anugerah

Nats : Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad (Yesaya 55:13)
Bacaan : Yesaya 55:6-13

Bacaan hari ini menyatakan bahwa Allah menumbuhkan pohon sanobar dan pohon murad di tempat semak duri serta kecubung pernah tumbuh memenuhi tanah. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa Allah dapat menumbuhkan keindahan dan kebaikan di mana pernah tumbuh kejahatan.

Di mana sinisme pernah tumbuh, di situ juga pengharapan dan optimisme dapat muncul. Di mana sarkasme tumbuh dengan subur, di situ dapat muncul perkataan lembut yang menyembuhkan. Di mana keserakahan pernah tumbuh merajalela dan tak terkendalikan, di situ dapat bersemi kasih murni. Ini—kehidupan yang diubahkan—adalah tanda yang hidup dan kekal dari pekerjaan Allah, suatu tanda peringatan yang didambakan-Nya (Yesaya 55:13).

Apakah Anda merindukan perubahan seperti ini dalam hidup Anda? Maka "Carilah Tuhan selama Dia berkenan ditemui" (ayat 6). Terkadang kita letih oleh kejahatan di dalam diri kita, dan hati kita tersiksa karena merindukan kekudusan. Inilah panggilan Allah yang mengingatkan kita bahwa Dia dekat dengan kita. Di saat-saat seperti itu, kita perlu menancapkan akar kita sedalam-dalamnya pada firman Allah dan memohon agar Dia membentuk kita menjadi serupa dengan-Nya. Dia berkata bahwa "seperti hujan dan salju turun dari langit, dan ... mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan ... demikianlah firman-[Nya] yang keluar dari mulut-[Nya]" (ayat 10,11).

Carilah Tuhan selama Dia berkenan ditemui. Tanaman anugerah dapat menggantikan semak duri dari tabiat kita yang penuh dosa –DHR

13 Maret 2005

Bintang dan Pasir

Nats : Dia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya (Mazmur 147:4)
Bacaan : Mazmur 147:1-11

Sebuah tim yang dipimpin oleh seorang ahli astronomi dari Australia telah menghitung dan mendapatkan bahwa jumlah bintang yang ada di angkasa adalah 70 sextillion—angka 7 diikuti dengan 22 angka nol. Jumlah bintang yang tak terhitung tersebut dikatakan lebih banyak daripada butir-butir pasir di semua pantai dan padang gurun di bumi ini. Penghitungan bintang tersebut hanyalah hasil sampingan dari penelitian tentang perkembangan galaksi. Seorang anggota tim itu berkata, "Menemukan jumlah bintang bukanlah tujuan utama penelitian yang kami lakukan. Namun ini pun merupakan hasil penelitian yang menarik."

Keberhasilan memperkirakan jumlah bintang dapat menolong kita untuk memuji Tuhan dengan penghormatan dan kekaguman yang lebih besar. Mazmur 147 mengatakan, "Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu .... Dia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. Besarlah Tuhan dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga" (ayat 1,4,5).

Mazmur ini tidak hanya mengungkapkan kemuliaan Allah, tetapi juga menegaskan perhatian-Nya kepada kita masing-masing. Dia "menyembuhkan orang-orang yang patah hati" (ayat 3), "menegakkan kembali orang-orang yang tertindas" (ayat 6), dan "senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya" (ayat 11).

Marilah kita kini memuji Allah yang telah menciptakan bintang dan pasir, yang juga mengenal serta memelihara kita satu per satu —DCM

22 Maret 2005

Allah yang Misterius

Nats : Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbi-cara ... maka pada zaman akhir ini Dia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibrani 1:1,2)
Bacaan : Hakim-hakim 13:15-23

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita membaca bahwa seseorang yang misterius dan mengagumkan mengunjungi Manoah beserta istrinya (orangtua Simson). Ketika Manoah bertanya, "Siapakah nama-Mu?" sang pengunjung tidak memberikan jawaban langsung, tetapi "naik ... dalam nyala api mezbah itu" (Hakim-hakim 13:17-20). Kemudian sadarlah Manoah bahwa ia telah melihat Allah dalam rupa manusia.

Siapakah yang dapat memahami Allah seperti ini—yaitu Allah yang menuliskan 3-miliar-huruf kode peranti lunak pada molekul DNA dalam setiap sel manusia? Siapakah yang sanggup memahami sepenuhnya tentang Allah yang mengetahui segala sesuatu, bahkan pikiran-pikiran dalam benak kita? Namun, banyak orang kudus dalam Perjanjian Lama yang mengenal dan mengasihi Allah yang hebat itu. Mereka mengalami sukacita oleh anugerah dan pengampunan-Nya, sekalipun mereka tidak sepenuhnya memahami bagaimana Allah yang kudus dapat mengampuni dosa-dosa mereka.

Sebagai orang kristiani, kita pun berdiri dengan penuh kekaguman di hadapan kemuliaan dan misteri dari Allah yang tak terselami itu. Namun kita mendapatkan keuntungan besar karena kita melihat Allah dinyatakan di dalam Yesus, yang berkata, "Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). Dan ketika Yesus tergantung di kayu salib, Dia menyatakan belas kasih dan cinta Allah, karena Dia mati di sana untuk kita.

Sebuah misteri? Ya. Namun betapa mengagumkannya bahwa kita dapat memahami kasih dari Allah yang tidak dapat diselami itu! —HVL

5 April 2005

Di Mana Keyakinan Anda?

Nats : Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! (Yeremia 17:7)
Bacaan : Yeremia 17:5-10

Marilah kita bicara dengan jujur. Dapatkah kita selalu memercayai diri sendiri dalam segala hal? Bahkan Rasul Paulus berkata dengan tegas tentang dirinya, "Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak" (1 Korintus 9:27). Ia tidak akan memercayai dirinya sendiri untuk melakukan hal yang benar kecuali jika ia menjaga tubuhnya di bawah disiplin yang keras.

Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita tentang "betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?" (Yeremia 17:9). Kita tidak mungkin dapat mengukur tingkat kelicikan hati kita. Maka bagaimanakah kita dapat memercayai diri sendiri atau orang lain sepenuhnya?

Nabi Yeremia memperingatkan raja-raja terakhir Yehuda supaya mereka tidak mengandalkan raja-raja duniawi (ayat 5,6). Akan tetapi, rupanya mereka terus-menerus mencari pertolongan dari Mesir. Alangkah bodohnya mereka! Mereka seharusnya bertobat dari kefasikan mereka dan berbalik mencari pertolongan Allah yang Mahakuasa.

Siapakah yang dapat kita andalkan untuk menolong kita di saat-saat yang sulit dan tidak pasti? Firman Allah mengatakan bahwa mereka yang mengandalkan Allah adalah seperti pohon yang ditanam di tepi air. Bahkan di musim kering mereka tidak akan berhenti menghasilkan buah (ayat 7,8).

Marilah memercayai Allah untuk menghasilkan buah di dalam hidup kita —AL

20 April 2005

Allah yang Mutlak

Nats : Aku, Tuhan, tidak berubah (Maleakhi 3:6)
Bacaan : Maleakhi 3:6-12

Saya meragukan ketepatan timbangan badan yang terletak di kamar mandi kami. Karena itu saya telah belajar untuk memanipulasinya dengan cara saya sendiri. Saya dapat mengubah-ubah tombol kecil di samping timbangan, dan jika hal itu terlalu sulit, saya cukup memiringkan badan ke arah tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh angka yang bagus—semoga saja berkurang beberapa kilogram.

Kita hidup pada zaman di mana banyak orang merasa yakin bahwa tidak ada hal yang mutlak. Sikap melayani diri sendiri merajalela dan menginjak-injak hukum moral yang diberikan bagi perlindungan masyarakat. Budaya kita membanggakan "kebebasan" yang sesungguhnya merupakan perbudakan dari dosa (Roma 6:16,17).

Namun ada Allah yang mutlak dan timbangan-Nya selalu tepat. Bersama Dia, satu kilo adalah satu kilo, benar adalah benar, dan salah adalah salah. Dia berkata, "Aku, Tuhan, tidak berubah" (Maleakhi 3:6).

Bagi kita sebagai orang percaya, hal ini seperti besi baja yang menjadi tulang punggung rohani kita. Kita mendapatkan rasa percaya diri saat menghadapi kesulitan dan memperoleh keyakinan akan penggenapan setiap janji ilahi.

Apabila Allah dapat dengan mudah berubah pikiran, maka kehidupan kekal kita akan terus-menerus berada di dalam situasi yang membahayakan. Akan tetapi, karena Dia merupakan Pribadi Yang Tidak Berubah, maka kita "tidak akan lenyap" (ayat 6). "Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi" (Ratapan 3:22,23) —PRVG

16 Mei 2005

Milik Terbaik Kita

Nats : Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8)
Bacaan : Efesus 2:4-10

Penyair Chili, Pablo Neruda, adalah seorang anak yang kesepian dan tidak bahagia. Ia tidak memiliki saudara dan teman. Suatu hari ia mengamati halaman belakang rumahnya dan menemukan sebuah lubang di pagar yang mengelilingi halaman tersebut. Tiba-tiba sebuah tangan mungil yang membawa sebuah mainan terjulur ke arahnya dari seberang pagar. Tetapi tangan itu tiba-tiba menghilang. Ia mendapatkan domba mainan kecil di tanah.

Pablo kemudian berlari ke dalam rumah dan mengambil benda miliknya yang terbaik, yaitu buah pinus. Ia menaruhnya di tempat yang sama dan berlari sambil membawa domba mainan tersebut. Domba mainan itu akhirnya menjadi benda yang paling ia sukai.

Pertukaran hadiah itu membawanya kepada fakta yang sederhana namun mendalam: Menyadari bahwa Anda dipedulikan oleh seseorang merupakan karunia hidup yang paling berharga. "Pertukaran hadiah kecil dan misterius itu tetap melekat di hati saya," katanya, "tersimpan dalam-dalam dan kekal."

Membaca kisah ini membuat saya memikirkan karunia Allah bagi Anda dan saya—tangan-Nya yang terulur kepada kita dengan penuh kasih mengutus Putra-Nya Yesus untuk mati bagi dosa-dosa kita. Keselamatan merupakan karunia yang "tersimpan dalam-dalam dan kekal" dari Allah, yang diterima karena kasih karunia melalui iman.

Bagaimana tanggapan kita terhadap kasih dan rahmat Allah yang tak terbatas? Mari kita berikan milik kita yang terbaik, yaitu hati kita —DHR

28 Mei 2005

Keindahan yang Berbahaya

Nats : Dari dalam kandungan siapakah keluar air beku, dan embun beku di langit, siapakah yang melahirkannya? (Ayub 38:29)
Bacaan : Ayub 38:22-30

Bunyi keriat-keriut dan kertak-kertuk yang keras memecah kesunyian pagi yang dingin. Hujan yang membuat beku telah membungkam setiap kebisingan akibat ulah manusia. Kabel-kabel listrik lepas dari tiang; rumah dan kantor usaha tidak dialiri listrik. Jalan-jalan tidak mungkin dilewati, membuat ribuan orang mustahil mengerjakan rutinitasnya. Alam menuntut diperhatikan, dan ia memang mendapatkannya. Ketika matahari terbit, keindahannya yang memesona tidak mungkin dilukiskan, tetapi kekuatannya yang destruktif pun tidak dapat dielakkan.

Es bersinar seperti kristal di hadapan langit biru yang cerah. Tetapi es yang membuat cabang pohon berkilau terkena sinar matahari juga membebaninya sehingga patah kelebihan beban.

Hal yang sama dapat dialami oleh orang hidupnya gemerlap. Mereka mencari perhatian dengan kecantikan, bakat, atau kepandaian yang memesona. Orang memerhatikan dan mengagumi mereka. Tetapi akhirnya kesombongan membuat orang retak dan patah. Kenyataannya, Tuhan sajalah yang layak menerima semua pujian.

Teman-teman Ayub mencari perhatian untuk diri mereka sendiri dengan berbicara seakan-akan mereka ahli dalam penderitaan. Ketika Allah sudah muak, Dia menyatakan kepada Ayub bahwa tak seorang pun memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau arti penting jika terlepas dari-Nya. Di kemudian hari, dengan keras Dia menegur teman-teman Ayub, dan mengatakan, "Kamu tidak berkata benar tentang Aku" (Ayub 42:8).

Yang benar adalah memuliakan Allah, bukan diri kita sendiri —JAL

18 Juni 2005

Hubungan Kreatif

Nats : Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita" (Kejadian 1:26)
Bacaan : Kejadian 2:7,8,15-22

Saya merakit mobil balap pertama saya dengan biaya kurang dari 15 dolar. Dengan ketepatan gergaji dan usaha yang tak kenal lelah, saya memahat balok kotak kayu pinus yang kuat menjadi sebuah benda aerodinamis yang mengesankan.

Putra saya yang berusia 9 tahun mengecat produk yang sudah selesai itu dengan cat biru keunguan. Saya memoles rodanya hingga mengilat seperti cermin. Bersama-sama kami menambahkan detail stiker bergambar api dan menamai mobil balap kayu pinus kami "Pembalap Berapi". Putra saya tampak begitu gembira.

Tidak ada perasaan bangga yang dapat menandingi orangtua yang menciptakan sesuatu bersama anaknya. Inilah suasana ketika orang muda dan tua dapat menghargai sukacita kerja tim.

Di dalam Alkitab, kita melihat Allah menunjukkan kegembiraan atas ciptaan-Nya. Kejadian 1 mencatat pencapaian sempurna dari proses kreatif yang bersifat ilahi ini. "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" (ayat 27). Lalu Allah memberi tugas kepada manusia: "Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu" (2:15).

Seperti seorang ayah dengan anaknya, Allah bersukacita dalam kemitraan-Nya dengan kita. Sebagai Pribadi tritunggal yang sempurna, Dia bisa saja bekerja sendiri, tetapi Dia tidak melakukannya. Dia menciptakan kita sesuai dengan gambar-Nya, dan Dia bergembira atas kreativitas kita —DB

20 Juni 2005

Sekokoh Batu

Nats : Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong (Mazmur 34:16)
Bacaan : Mazmur 34:16-23

Hari itu adalah hari yang menyedihkan di bulan Mei 2003 ketika pahatan "The Old Man of the Mountain" hancur berkeping-keping dan meluncur di lereng gunung. Wajah lelaki tua berukuran dua belas meter yang terpahat secara alami di White Mountains, New Hampshire ini telah lama menarik perhatian para turis. Kehadirannya begitu kokoh bagi warganya dan menjadi lambang resmi negara bagian tersebut. Bahkan Nathaniel Hawthorne pernah menulis tentang pahatan ini dalam cerpennya yang berjudul The Great Stone Face.

Beberapa warga setempat merasa sedih ketika pahatan lelaki tua itu runtuh. Seorang wanita berkata, "Saya tumbuh dewasa dengan berpikir bahwa ada seseorang yang menjaga saya. Tetapi kini saya merasa tidak begitu dijagai."

Ada kalanya kehadiran seseorang yang kita andalkan menghilang. Sesuatu atau seseorang yang kita percayai pergi, dan hidup kita terguncang. Mungkin kita kehilangan orang terkasih, pekerjaan, atau tubuh yang sehat. Kehilangan itu membuat kita kehilangan keseimbangan dan labil. Kita bahkan mungkin akan berpikir bahwa Allah tidak lagi menjaga kita.

Namun "mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong" (Mazmur 34:16). Dia "dekat kepada orang-orang yang patah hati" (ayat 19). Dia adalah Gunung Batu yang kehadiran-Nya selalu menjadi tempat kita bergantung (Ulangan 32:4).

Kehadiran Allah begitu nyata. Dia terus-menerus menjaga kita. Dia sekokoh batu —AMC

24 Juni 2005

Perawatan yang Tak Memadai

Nats : Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera (Yeremia 6:14)
Bacaan : Yeremia 6:10-19

Pergelangan kaki yang terkilir adalah hal yang biasa terjadi. Tetapi itu dapat menimbulkan masalah yang tak kunjung usai jika tak ditangani dengan baik. Orang yang terkilir ringan akan lebih baik jika beristirahat, dikompres es, dan kakinya diangkat. Namun, orang yang terkilir tetapi mengabaikannya dan terus beraktivitas meski kesakitan, dapat terkilir lebih parah.

Seorang ahli bedah kaki mengatakan bahwa kita sering terbiasa dengan terkilir dan membiarkannya, padahal "kaki terkilir yang paling ringan seharusnya diobati agar tidak kambuh lagi". Selain itu, luka yang parah tentunya butuh perlakuan layak.

Ketika Yeremia menyampaikan pesan Tuhan untuk menentang para pemimpin Yudea yang jahat, ia berkata, "Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera" (Yeremia 6:14). Ia sekali lagi menyalahkan perawatan yang tak memadai atas luka rohani parah di pasal 18:11, lalu bertanya, "Tidak adakah balsam di Gilead? Tidak adakah tabib di sana? Mengapakah belum datang juga kesembuhan luka putri bangsaku?" (ayat 22).

Pertanyaan Yeremia yang menyelidik, mengilhami rohaniwan tua yang menyatakan pesan pengharapan dan pengampunan yang masih kita perlukan: "Ada balsam di Gilead untuk mengobati semua yang terluka; ada balsam di Gilead untuk menyembuhkan jiwa yang sakit karena dosa."

Balsam itu kuasa Yesus yang menyembuhkan luka kita yang dalam akibat dosa. Sudahkah Anda mengoleskan balsam-Nya? —DCM

31 Agustus 2005

Satu-satunya

Nats : Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong (1Petrus 3:12)
Bacaan : Mazmur 34

Sebagai seorang guru dengan pengalaman mengajar selama bertahun-tahun di SMA dan perguruan tinggi, saya telah memerhatikan berbagai macam tipe siswa. Salah satunya adalah mereka yang saya sebut memiliki perhatian hanya saya dan sang guru. Murid ini membangun percakapan muka-dengan-muka dengan sang guruseakan-akan tidak ada orang lain lagi di kelas. Pertanyaan guru yang retoris, misalnya, akan dijawab secara lisan oleh murid ini, tak peduli akan reaksi orang lain. Walaupun terdapat murid-murid yang lain di dalam kelas, murid yang satu ini sepertinya berpikir bahwa yang ada hanya saya dan sang guru.

Baru-baru ini, ketika saya memerhatikan salah satu murid semacam itu dan melihatnya mengendalikan perhatian guru, saya menjadi berpikir bahwa Allah pasti ingin menunjukkan sesuatu melalui peristiwa tersebut. Murid itu memiliki fokus yang juga perlu dimiliki oleh kita semua saat berdoa.

Pemikiran bahwa ada jutaan orang kristiani lainnya sedang bercakap-cakap dengan Allah sementara kita berdoa, tidak perlu membuat kita merasa kurang penting di hadapan Allah. Tidak, saat kita berbicara kepada Allah yang Mahahadir, Mahatahu, Mahakuasa, kita dapat merasa yakin bahwa Dia sedang memberikan perhatian penuh-Nya. Daud berkata, Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar (Mazmur 34:7). Allah senantiasa mengarahkan perhatian tunggal-Nya kepada pujian, permohonan, dan kekhawatiran kita.

Pada saat Anda berdoa, bagi-Nya Anda adalah satu-satunya orang yang Dia dengarkan JDB

3 September 2005

Firman Terang

Nats : Akulah terang dunia (Yohanes 8:12)
Bacaan : Yohanes 8:12-20

Yesus, rabi pengelana dari kota Nazaret, menyatakan bahwa Dia adalah terang dunia. Itu adalah pernyataan yang luar biasa dari seorang pria yang hidup pada abad pertama di Galilea, wilayah kecil di Kerajaan Romawi. Kota ini tidak memiliki kebudayaan yang dapat dibanggakan dan juga tidak memiliki filsuf terkenal, pengarang yang diakui, maupun pemahat yang berbakat. Kita pun tidak memiliki catatan sejarah bahwa Yesus pernah menjalani pendidikan formal.

Lebih daripada itu, Yesus hidup sebelum penemuan media cetak, radio, televisi, dan surat elektronik. Bagaimana Dia dapat berharap ide-ide-Nya dapat disebarluaskan di seluruh dunia? Semua ucapan-Nya terekam dalam ingatan para pengikut-Nya. Selanjutnya Terang dunia itu menerangi kegelapanatau begitulah tampaknya.

Berabad-abad kemudian kita masih menyimak dengan penuh rasa takjub ucapan-ucapan Yesus, yang telah dipelihara sedemikian rupa oleh Bapa-Nya. Firman-Nya menuntun kita keluar dari kegelapan, dan mengantarkan kita menuju terang kebenaran Allah; firman itu menggenapi janji-Nya, Barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yohanes 8:12).

Saya mendorong Anda supaya membaca perkataan-perkataan Yesus di dalam Injil. Renungkanlah. Biarkan perkataan-perkataan itu meresap dalam akal budi Anda dan mengubah hidup Anda. Maka Anda akan berkata seperti orang-orang yang hidup pada zaman-Nya: Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu! (Yohanes 7:46) VCG

4 Oktober 2005

Sengaja

Nats : Segala sesuatu … mendatangkan kebaikan … bagi mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah (Roma 8:28)
Bacaan : Kejadian 50:15-21

Ketika seorang koboi mendaftar untuk sebuah polis asuransi, sang agen asuransi bertanya kepadanya, “Apakah Anda pernah mengalami kecelakaan?” Setelah merenung beberapa saat, ia kemudian menjawab, “Belum, tetapi pada musim panas yang lalu seekor kuda liar menyepak dan mematahkan dua rusuk saya, dan beberapa tahun yang lalu seekor ular menggigit pergelangan kaki saya.”

“Bukankah itu namanya kecelakaan?” sahut sang agen dengan keheranan. “Bukan,” jawab si koboi, “kedua binatang tersebut melakukannya dengan sengaja!”

Kisah ini mengingatkan saya akan kebenaran Alkitab bahwa tidak ada kecelakaan di dalam kehidupan anak-anak Allah. Dalam bacaan Kitab Suci pada hari ini, kita membaca bagaimana Yusuf memahami suatu pengalaman sulit yang tampaknya seperti bencana besar. Ia dilemparkan ke sumur, kemudian dijual sebagai budak. Ini merupakan ujian yang berat bagi imannya, dan apabila dilihat dari kacamata manusiawi, maka hal ini merupakan kasus ketidakadilan yang tragis, bukan sarana rahmat ilahi. Tetapi, di kemudian hari Yusuf akhirnya mengerti bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kejadian 50:20).

Apakah Anda saat ini sedang melalui badai pencobaan dan kekecewaan? Apakah segala sesuatu sepertinya sedang melawan Anda? Semua kemalangan itu bukanlah kecelakaan. Tuhan mengizinkan hal-hal demikian untuk suatu tujuan yang mulia. Karena itu, percayalah kepada-Nya dengan sabar. Jika Anda betul-betul mengenal Tuhan, suatu hari nanti Anda akan memuji-Nya karena semuanya itu! -RWD

12 November 2005

Kasih Bapa Kita

Nats : Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih (Hosea 11:4)
Bacaan : Hosea 11:1-12:1

Seorang ayah kristiani yang masih muda menjalankan perannya sebagai orangtua secara serius. Ketika putranya masih bayi, ia melindunginya. Saat putranya itu semakin besar, sang ayah bermain bola dengannya, memberikan dorongan, dan berusaha mengajarkan tentang Allah dan kehidupan kepadanya. Tetapi ketika remaja, anak laki-laki itu membuat jarak dan dengan cepat meninggalkannya untuk menikmati kebebasan.

Seperti anak yang hilang dalam Lukas 15, ia menolak nilai-nilai yang diajarkan ayahnya. Ia membuat keputusan bodoh dan terlibat dalam masalah. Ayahnya sangat kecewa, tetapi selalu sabar terhadapnya. “Tak peduli apa pun yang telah ia lakukan,” katanya, “ia tetap anak saya. Saya tidak akan pernah berhenti mengasihinya. Ia akan selalu diterima di rumah saya.” Hari penuh sukacita itu akhirnya tiba ketika ayah dan anak dipersatukan kembali.

Orang-orang pada zaman Hosea mengikuti pola yang serupa. Meskipun Allah telah menyelamatkan mereka dari Mesir dan memelihara mereka, mereka menolak-Nya. Mereka menghina nama-Nya dengan menyembah ilah-ilah orang Kanaan. Akan tetapi Allah tetap mengasihi mereka dan merindukan mereka untuk kembali (Hosea 11:8).

Apakah Anda merasa takut telah menyimpang terlalu jauh dari Allah untuk dapat dipulihkan? Dia yang menyelamatkan dan memelihara Anda rindu agar Anda kembali. Tangan-Nya terbuka dalam pengampunan dan penerimaan. Dia tidak akan pernah membuang Anda.

Betapa kita gembira atas kasih Bapa! -DCE

29 November 2005

Kecelakaan atau Rancangan?

Nats : Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 19:2)
Bacaan : Roma 1:18-20

Alkitab dibuka dengan pernyataan yang hebat ini: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Alangkah sederhananya kata-kata itu. Namun makna yang dikandungnya begitu dalam !

Dyson Freeman, salah seorang ilmuwan brilian masa kini, pernah menulis bahwa hukum-hukum alam ditandai dengan “kesederhanaan dan keindahan matematis yang paling besar”.

Karena saya bukan seorang ilmuwan atau ahli matematika, saya terpesona dengan pernyataan tersebut. Jika tidak ada Sang Perancang-tidak ada Allah Pencipta-bagaimana mungkin alam semesta ini dapat menjadi sebuah sistem yang berjalan menurut hukum, dan ditandai dengan keindahan dan kesederhanaan? Saya bertanya-tanya, mengapa alam semesta kita tidak kacau?

Satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagi saya atas semua ini adalah Allah yang tertulis dalam Alkitab. Seperti tertulis dalam Roma 1:20, “Sebab apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.”

Jika hanya kenyataan keberadaan Allah-lah yang mampu menjelaskan seluruh alam semesta ini, hal itu tentu benar juga untuk kehidupan kita. Kita bukanlah suatu makhluk yang muncul atas ketidaksengajaan, tetapi kita adalah makhluk yang dirancang oleh Pencipta yang memiliki kuasa dan hikmat tanpa batas. Carilah Dia dalam apa yang telah dirancang-Nya-Anda akan melihat-Nya di situ -VCG

19 Februari 2006

Dia Tak Pernah Berubah

Nats : Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun (Mazmur 102:13)
Bacaan : Mazmur 103:11-22

Seorang fotografer bernama David Crocket dari KOMOTV Seattle mengetahui bahwa gunung yang kokoh pun dapat goyah. Pada tanggal 18 Mei 1980, ia tengah berada di kaki Gunung St. Helens yang menjulang tinggi ketika gunung itu meletus. Setelah sepuluh jam berada di situ, ia hampir terkubur reruntuhan batuan. Ketika keadaan sudah cerah, seorang pilot helikopter melihatnya. Ia diselamatkan secara dramatis dan diterbangkan ke rumah sakit.

Ketika menulis tentang pengalamannya yang mengerikan tersebut, ia berkata demikian, "Selama sepuluh jam itu saya melihat sebuah gunung runtuh. Saya melihat hutan menjadi lenyap.... Saya melihat bahwa Allah adalah satu-satunya Pribadi yang tidak dapat goyah.... Entah bagaimana saya merasa bahwa saya diizinkan untuk memulai dari awal apa pun yang dirancangkan-Nya untuk saya."

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini, tidak juga sebuah gunung, yang benar-benar tidak dapat hancur. Hanya Allah yang benar-benar tidak dapat berubah Dia kekal "selamanya" (Mazmur 102:13). Dia "sudah menegakkan takhta-Nya di surga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu" (103:19).

Apabila kita memercayakan diri pada penjagaan Allah, kita akan aman selamanya. Dia menjauhkan dosa-dosa kita "sejauh timur dari barat" (103:12). Dan anugerah-Nya kepada kita "dari selama-lamanya sampai selama-lamanya" (ayat 17). Dia memegang kita dalam tangan-Nya yang perkasa, dan tidak ada yang dapat merebut kita dari genggaman yang Mahakuasa itu (Yohanes 10:28,29) --VCG

18 Juli 2007

"itu Belum Semuanya!"

Nats : Karena mata-Nya mengawasi jalan manusia, dan Ia melihat segala langkahnya (Ayub 34:21)
Bacaan : Yesaya 55:6-9

Ketika pertama kali berkunjung ke Alaska, saya sangat gembira karena bisa menginap di Pondok Gunung McKinley. Saat kami memasuki pondok itu, sekilas saya melihat bongkahan batu besar melalui jendela yang lebar, kemudian saya bergegas keluar ke ruang yang ternyata menghadap pada sebuah gunung.

"Wah," gumam saya pelan ketika menyaksikan pemandangan itu.

Pria yang berdiri tak jauh dari saya berkata, "Oh, ... itu belum semuanya!"

Lalu, tahulah saya bahwa para wisatawan yang berkunjung ke Alaska sering tak dapat melihat "Yang Mahabesar" secara utuh. Gunung setinggi 6.200 m itu tampak menjulang, sehingga sebagian besar gunung itu tertutup saat cuaca berawan. Saya ternyata baru melihat sebagian gunung itu.

Kita sering merasa puas dengan pandangan terbatas akan hidup kita. Namun, Yeremia 29:11 mengingatkan kita, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Dengan pandangan Allah yang luas dan Mahatahu, Dia dapat melihat orang-orang yang Dia ingin kita bantu, hal-hal yang Dia ingin kita capai, sifat-sifat baik yang Dia ingin kembangkan di dalam kita.

Amsal 16:9 berkata, "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya." Pandangan hidup kita dibatasi sifat manusiawi kita, tetapi kita dapat memercayakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang pandangan-Nya tak terbatas! --CHK

26 November 2007

Menyembunyikan Wajahku

Nats : Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan (Habakuk 1:13)
Bacaan : Habakuk 1:1-5

Saya pecandu berita yang senang mengetahui segala yang terjadi di dunia. Namun, kadang kekejaman hidup membuat saya merasa seperti anak kecil yang sedang menonton film horor. Saya tak ingin melihat apa yang terjadi. Saya ingin berpaling agar tak melihat semua itu.

Allah bereaksi terhadap kejahatan dengan cara yang sama. Bertahun-tahun lalu, Dia memperingatkan bangsa Israel bahwa Dia akan memalingkan muka dari mereka jika mereka berpaling pada kejahatan (Ulangan 31:18). Bangsa Israel melakukan kejahatan, dan Dia menyembunyikan wajah-Nya (Yehezkiel 39:24).

Nabi Habakuk tidak meninggalkan Allah, tetapi ia menderita bersama mereka yang telah meninggalkan Dia. "Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan," tanyanya kepada Allah, "sehingga aku memandang kelaliman?" (Habakuk 1:3).

Tanggapan Allah terhadap nabi-Nya yang sedang bingung menunjukkan bahwa ketika kejahatan mengaburkan wajah Allah, ketidakmampuan kita melihat Dia bukan berarti bahwa Dia tidak bekerja demi kebaikan kita. Allah berkata, "Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceritakan" (ayat 5). Allah akan menghakimi Yehuda, tetapi Dia juga akan menghakimi Babel sebagai bangsa penjajah atas kejahatan mereka (lihat Habakuk 2). Melalui semuanya itu, "orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya" (2:4).

Ketika berbagai kejadian dunia membuat Anda putus asa, tinggalkan berita dan bacalah Kitab Suci. Akhir kisahnya sudah dituliskan oleh Allah kita yang kudus. Kejahatan tidak akan bertahan --JAL

27 Maret 2008

Doa Anak Bangsa

Nats : Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit (Nehemia 1:4)
Bacaan : Nehemia 1:1-11

Teks Indonesia Raya karya W.R. Soepratman pertama kali dipublikasikan pada tahun 1928 oleh surat kabar Sin Po. Naskah aslinya terdiri dari tiga bait. Namun, kita biasa menyanyikan bait pertamanya saja yang menyorakkan kemerdekaan. Padahal bait kedua dan ketiga memiliki isi yang begitu penting bagi kelanjutan bangsa ini. Yakni mengajak seluruh masyarakat berdoa bagi Ibu Pertiwi. Berikut adalah cuplikan bait kedua:

Indonesia! Tanah yang mulia,
tanah kita yang kaya.
Di sanalah aku berada
untuk s'lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
pusaka kita semuanya.
Marilah kita berdoa, "Indonesia bahagia!"

Hari ini kita belajar dari Nehemia. Ketika ia mendengar berita tentang bangsanya yang porak poranda, ia segera berpuasa dan berdoa. Ia berkabung untuk bangsanya yang mengalami kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Ia pun mengakui dosa diri dan keluarganya, meski ia bukanlah penyebab kesukaran bangsanya. Nehemia adalah seorang pemimpin yang selalu berdoa. Ia mengenal Tuhan secara dekat. Pengenalan ini mendorongnya untuk berani berdoa bagi bangsanya. Ia pun setia menanti jawaban Tuhan.

Mari kita belajar menjadi Nehemia bagi bangsa ini. Bukan terus-menerus mengkritik, tetapi setia berdoa dan berpuasa bagi negeri ini. Mari kita sehati berdoa bagi Indonesia, karena negeri ini merdeka bukan karena kebetulan. Kita diselamatkan oleh Tuhan untuk menjadi para pendoa yang setia bagi Indonesia. Mari kita mulai dari gereja tempat kita beribadah dan melayani. Mari kita mulai sejak sekarang, tak ada kata tunda -BL

12 Juni 2008

Dapat Dipercaya

Nats : Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar (Matius 25:21)
Bacaan : Matius 25:14-30

Setiap orang pasti ingin dipercaya, apalagi untuk melakukan tanggung jawab yang besar. Namun, bagaimana seseorang dapat dipercaya jika sikapnya tak seperti yang diharapkan? Kalau uang lima puluh ribu rupiah bisa hilang di kamar hotel, berarti ada orang yang tidak dapat dipercaya di hotel itu. Kalau karyawan kerap terlambat datang ke kantor dan pulang lebih cepat dari jam kerja, maka integritasnya sukar dipercaya. Kalau seorang guru Sekolah Minggu biasa membolos mengajar, tidak mungkin ia dapat dipercaya untuk tugas yang lebih besar.

Perumpamaan Yesus tentang talenta mengingatkan kita bahwa yang penting bukan seberapa besar tanggung jawab yang diberikan kepada kita, melainkan seberapa besar tanggung jawab kita dalam mengerjakan pelayanan. Hamba yang menerima satu talenta berpikir tuannya kejam karena hanya memberinya satu talenta. Ia mengira sang tuan akan merampas keuntungannya, sebab itu ia tidak mengerjakan bagiannya. Ia malah menyembunyikan talenta itu di dalam tanah, lalu mengembalikan talenta itu kepada tuannya (ayat 24,25). Jika demikian, bagaimana sang tuan dapat memercayai dan memberi tanggung jawab lebih besar?

Integritas kita diuji ketika tidak ada orang lain yang melihat dan memerhatikan kita. Masih dapatkah kita mengerjakan tanggung jawab kita dengan sepenuh hati sekalipun tidak ada yang mengawasi? Tuhan akan senang bila kita mengerjakan dengan sungguh-sungguh setiap tanggung jawab yang Dia percayakan. Dengan demikian, suatu hari kelak Dia berkata, "Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (ayat 21) —CC

10 Agustus 2008

Sedapat-dapatnya

Nats : Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang! (Roma 12:18)
Bacaan : Roma 12:9-21

Ini curhat seorang teman, "Saya sedang mengalami konflik dengan seorang teman di gereja. Masalahnya cuma sepele, Alkitabnya saya taruh di kotak tempat menyimpan Alkitab-Alkitab yang ketinggalan di gereja. Saya sama sekali tidak tahu kalau itu Alkitabnya. Saya pikir itu Alkitab orang yang ketinggalan karena tergeletak begitu saja di kursi gereja. Namun, ia marah ke saya. Dibilangnya saya mau ngerjain, mau membuatnya susah. Ia menuduh saya membencinya. Saya sudah minta maaf, sudah menjelaskan duduk masalahnya pula, tetapi ia tetap tidak mau terima. Lalu, saya harus bagaimana lagi?"

Dalam berelasi dengan orang lain-di kantor, kampus, atau gereja-mungkin kita juga pernah mengalami hal serupa; bertemu dengan "orang yang sulit". Apa pun yang kita lakukan disalahartikan. Selalu berprasangka buruk terhadap kita. Kadang jadi konflik batin juga. Di satu sisi kita harus mengasihi dan hidup damai dengan orang lain. Namun pada kenyataannya, ada orang yang menganggap kita seperti "kucing melihat anjing"; membenci, sikapnya sinis, bahkan kasar. Sangat menjengkelkan.

Lalu bagaimana? Sebagaimana bertepuk tangan harus dengan dua tangan, begitu juga hidup damai dengan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bersikap sama dengan kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan, "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu" (ayat 18). Jadi, betul, kita harus selalu berusaha hidup damai dengan orang lain, tetapi kalau ternyata orang lain menolaknya, itu di luar kemampuan kita. Janganlah kita terus menyalahkan diri sendiri. Yang penting kita tidak membencinya -AYA

22 Agustus 2008

Mengumpulkan Harta

Nats : Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu (Lukas 12:15)
Bacaan : Lukas 12:13-21

Banyak pengusaha sukses dunia saat ini telah menunjukkan kedermawanan. Mereka menyisihkan sejumlah besar kekayaan yang mereka punya untuk membangun karya kasih bagi kemanusiaan. Sebut saja misalnya Henry Ford-pengusaha otomotif, Bill Gates-pendiri Microsoft, Larry Page dan Sergey Brinn-pemilik Google. Mereka tidak mengumpulkan kekayaan hanya untuk diri sendiri, tetapi mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Mereka telah memberi sumbangsih sangat besar bagi dunia pendidikan, pengentasan kemiskinan, penanggulangan kesehatan, dan bencana alam.

Tuhan Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang bodoh. Orang itu mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, bersikap tamak, dan berpikir bahwa dengan menjadi kaya maka semua urusannya pasti beres. Kepada orang yang demikian, Tuhan Yesus berkata, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ayat 20).

Memang berbahaya kalau kita hanya sibuk mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Sebab betapapun harta kekayaan-seperti juga jabatan dan popularitas-tidaklah abadi. Cepat atau lambat akan kita tinggalkan. Maka, bila kita diberkati dengan kekayaan lebih, baiklah kita menjadikan itu juga sebagai berkat bagi sesama yang membutuhkan. Itu akan jauh lebih berarti. Sebab nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan yang ia kumpulkan, tetapi oleh seberapa besar hidupnya menjadi berkat dan mendatangkan kesukaan bagi sesamanya. Oleh karena itu, jangan biarkan hati kita dijerat oleh ketamakan akan harta benda -AYA

26 September 2008

Taste

Nats : Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang (Matius 5:13)
Bacaan : Matius 5:13-16

Rasa membuat makanan dicari dan dikenang orang, Entah itu pedasnya rica-rica, masamnya mangga muda, manisnya coklat, pahitnya kopi, atau asinnya sayur asin. Manusia menyukai makanan yang punya taste (rasa). Kita tidak suka makanan yang hambar, kecuali terpaksa bila sedang sakit. Taste, walaupun hanya sampai di ujung lidah tetapi menjadi sesuatu yang sangat penting.

Matius 5:13 juga berbicara tentang taste. Tuhan Yesus menyampaikan bahwa para murid-Nya harus memiliki taste di dunia ini, sehingga kehadiran mereka dirasakan dan dikenang oleh orang lain. Orang kristiani yang yang tidak punya taste ibarat garam yang kehilangan rasa alias tidak ada gunanya. Perkataan itu keras dan begitu tajam, tetapi itulah panggilan yang kita terima dari Tuhan sebagai anak-anak-Nya. Harus memiliki taste supaya kehadiran kita dapat dirasakan dan dikenang oleh orang lain.

Oleh sebab itu, hal yang harus selalu kita tanyakan kepada diri kita sendiri, di mana pun kita berada, entah di rumah, sekolah, tempat kerja, gereja atau lingkungan masyarakat adalah "apakah arti kehadiran kita sebagai orang kristiani sudah dapat mereka rasakan? Atau jangan-jangan ada dan tidak adanya kita tidak ada bedanya?" Ingat, Tuhan memanggil kita supaya berguna bagi orang lain. Membuat lingkungan lebih baik. Membawa terang. Memberi sukacita. Menjadi berkat. Jadi mari berdoa sambil terus berusaha untuk menjadi seperti sebuah lagu yang sering kita nyanyikan, "Jadikan aku saluran berkat-Mu". Bila setiap kita menjadi saluran berkat, maka dunia pun akan merasakan "nikmatnya" taste kehadiran anak-anak Tuhan -RY



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA