Topik : Kejujuran

3 Februari 2003

Tak Perlu Bohong

Nats : Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya (Kolose 3:9)
Bacaan : Kolose 3:9-17

Seorang pelatih football universitas memutuskan untuk mengundurkan diri setelah mengaku telah memalsukan ijazah akademis dan ijazah olahraganya. Seorang perwira militer profesional mengaku bahwa lencana tanda jasa yang ia pakai bukan miliknya. Seorang pelamar pekerjaan menyatakan bahwa pengalamannya sebagai "pengawas makanan dan minuman" yang ia tulis sebenarnya hanyalah pengalaman membuatkan kopi di pagi hari di kantornya.

Kita semua cenderung melebih-melebihkan kebenaran supaya orang lain terkesan. Baik dalam resume pekerjaan maupun percakapan biasa, sikap melebih-lebihkan tampak wajar, padahal tindakan seperti itu sebenarnya berisiko. Kebohongan kecil akan berkembang menjadi besar saat kita mencoba menutupinya. Lalu kita pun bertanya-tanya mengapa kita bisa terjerumus dalam situasi sulit seperti itu.

Dalam Alkitab tertulis, "Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (Kolose 3:9,10). Dengan kata lain, jika kita mengimani Yesus sebagai Juruselamat kita, maka kebohongan bukanlah apa yang Allah harapkan dari kita. Penangkal sikap menyombongkan diri sendiri adalah dengan bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus yang penuh belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kesabaran, pengampunan, dan kasih (ayat 12-14).

Jika kita mau memperhatikan sesama kita dengan tulus, maka kita tidak perlu lagi berusaha membuat mereka terkesan dengan cara apa pun --David McCasland

31 Juli 2003

Saya Mendapat Tiket

Nats : Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya (Kolose 3:9)
Bacaan : Kolose 3:1-9

Setibanya di rumah setelah melakukan perjalanan, saya memberi tahu istri saya, "Aku mendapat tiket [Ing: ticket, dapat berarti surat tilang] saat berkendaraan melintasi Indiana." Istri saya tampak akan marah saat saya melanjutkan, "Tunggu! Akan kujelaskan semuanya."

Saya menceritakan kepadanya bahwa saya baru saja menyusuri jalan tol Indiana. Setiap orang yang memasukinya menerima sebuah "tiket". Tiket itu diberikan bukan karena pelanggaran lalu lintas, melainkan untuk menentukan biaya tol yang harus dibayar berdasarkan jarak tempuh.

Ini mengingatkan saya bahwa kita mungkin mengatakan kebohongan saat membuat pernyataan yang benar. Ini terjadi jika kita menggunakan kata-kata bermakna ganda, atau membuat pernyataan tak lengkap untuk meninggalkan kesan yang salah.

Orang sering menceritakan kebenaran secara setengah-setengah dan menggunakan beberapa istilah tertentu untuk menyesatkan orang lain. Sebagai contoh, saat menjual sebuah TV bekas, si penjual mungkin menekankan kualitas gambar yang sangat bagus, tetapi tidak memberi tahu si pembeli bahwa kontrol volumenya tidak berfungsi dengan semestinya. Si penjual lalu mencari-cari alasan dan berkata, "Saya berkata jujur. Saya berkata kepadanya bahwa gambarnya sangat bagus. Ia tidak bertanya tentang suaranya." Padahal ini hanyalah bentuk lain dari kebohongan.

Daripada melebih-lebihkan atau membelokkan kebenaran demi memuaskan keinginan kita sendiri, marilah kita memperhatikan kata-kata dalam Kitab Suci, "Jangan lagi kamu saling mendustai" (Kolose 3:9) --Richard De Haan

1 September 2003

Manusia di Atas Keuntungan

Nats : Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di surga (Kolose 4:1)
Bacaan : Kolose 3:22-4:1

Saat Truett Cathy memulai usaha restoran pertamanya pada tahun 1946, restoran selalu itu tutup pada hari Minggu untuk memberi waktu bagi para karyawannya berkumpul bersama keluarga dan pergi ke gereja. Hal itu masih berlaku sampai sekarang, pada lebih dari 1.000 gerai cepat saji Chick-fil-A milik perusahaan Cathy.

Semboyan Cathy adalah "utamakan orang dan prinsip dulu, baru keuntungan". Semboyan ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri, baik saat memberikan perintah maupun saat mempekerjakan seseorang.

Dalam Kolose 3:22-4:1, Rasul Paulus berpesan kepada para majikan dan hamba. Menurutnya, kita perlu ingat bahwa kita mempunyai Tuan di surga (4:1). Kita harus bekerja dengan segenap hati untuk menyenangkan-Nya, bukan hanya untuk menyenangkan orang yang mengawasi kita (3:22-24).

Truett Cathy berusaha untuk senantiasa menerapkan prinsip alkitabiah dalam menjalankan usahanya. Larry Julian, pengarang God Is My CEO, sebuah buku tentang Cathy dan para pemimpin usaha lainnya, berkata, "Allah tidak menjanjikan keuntungan nyata atas investasi, tetapi Dia menjanjikan buah Roh, yakni kasih dan kedamaian dan sukacita, dalam kehidupan pribadi seseorang. Cathy tidak hanya mengalami kedamaian dan sukacita dan kasih dalam kehidupan pribadinya, tetapi juga membuat perbedaan dalam hidup para anak asuh, anak-anak, cucu-cucu, dan para karyawannya. Ia meninggalkan warisan tentang bagaimana melakukan segala sesuatu dengan benar."

Inilah teladan yang dapat kita terapkan --David McCasland

17 Februari 2004

Kebijakan Terbaik

Nats : Neraca yang betul, batu timbangan yang betul ... haruslah kamu pakai; Akulah Tuhan, Allahmu (Imamat 19:36)
Bacaan : Imamat 19:32-37

Mantan ketua Institut Akuntan Publik Bersertifikat Amerika mengatakan bahwa etika dalam bekerja merupakan dasar dari kesuksesan bisnis. Ketika berbicara di hadapan para pemimpin bisnis dan pemimpin komunitas, Marvin Strait berkata, "Orang-orang ingin berbisnis dengan rekan yang dapat mereka percaya. Kepercayaanlah yang membuat bisnis berjalan. Itu merupakan landasan bagi sistem perusahaan bebas."

Di tengah berkembangnya skandal korporat dan menipisnya kepercayaan publik, pernyataan Marvin tersebut mengingatkan kita akan nilai kejujuran. Tanpa kejujuran, hidup dan pekerjaan kita tidak akan pernah sesuai dengan rancangan Allah.

Hukum dalam Perjanjian Lama mengatakan, "Neraca yang betul, batu timbangan yang betul ... haruslah kamu pakai; Akulah Tuhan, Allahmu" (Imamat 19:36). Selain itu Perjanjian Baru mengajarkan bahwa kebenaran dan kejujuran dalam segala perkataan dan perbuatan seharusnya menjadi ciri orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus (Efesus 4:25-28).

Salah satu cara untuk menguji pilihan-pilihan kita setiap hari adalah dengan bertanya kepada diri sendiri, "Akan malukah saya seandainya membaca berita mengenai perbuatan saya di surat kabar, atau jika keluarga dan teman-teman saya mengetahui perbuatan saya itu? Apakah saya membiarkan atau malah mencari keuntungan dari tindakan tidak etis yang dilakukan orang lain?"

Kejujuran bukan hanya kebijakan terbaik, melainkan kebijakan Allah bagi setiap aspek kehidupan kita. Hidup berintegritas berarti menghormati dan memuliakan Dia --David McCasland

26 Juli 2005

Kejujuran dan Kebaikan

Nats : Sifat yang diinginkan pada seseorang adalah kesetiaannya; lebih baik orang miskin daripada seorang pembohong (Amsal 19:22)
Bacaan : Keluaran 23:1-13

Seorang pria yang jujur dan baik hati mengendarai mobil menyusuri sepanjang jalanan San Fransisco lebih dari satu jam. Ia hendak menemukan seorang wanita pemilik dompet berisi uang 1.792 dolar yang tertinggal di kursi belakang taksinya. Saya menyukai hal yang dikatakannya pada saat beberapa rekannya sesama sopir taksi mengolok-olok dirinya karena tidak mengambil uang itu. Ia menjawab mereka, Saya adalah pembawa kartu anggota iman kristiani. Apa gunanya ke gereja jika kalian tidak mempraktikkan apa yang sudah dikhotbahkan?

Dalam kitab Keluaran 23, prinsip kejujuran dan kebaikan diberikan secara bersamaan bagi bangsa Israel dalam hukum yang diberikan Allah untuk mereka. Mereka harus cukup jujur untuk mengembalikan ternak yang tersesat kepada pemiliknya, meskipun orang itu adalah musuh (ayat 4). Mereka harus cukup baik hati kepada musuh mereka untuk menolong keledai yang keras kepala agar berdiri (ayat 5). Mereka harus sangat perhatian sehingga orang miskin diperlakukan secara adil dan diberi pertolongan, meski jika hal itu dilakukan dapat mendatangkan kerugian (ayat 6-9). Para pemilik tanah harus membiarkan lahan mereka pada tahun yang ketujuh, dan mengizinkan orang-orang miskin dengan bebas mengumpulkan sedikit hasil dari ladang tersebut (ayat 10,11).

Orang yang jujur bisa menjadi orang yang kejam. Orang yang baik hati mungkin lembek dan tak terlalu memerhatikan kebenaran. Namun, jika Anda menempatkan kejujuran dan kebaikan bersama-sama, keduanya akan menjadi pasangan hebat yang menghormati Allah dan memberkati sesama HVL

29 Oktober 2005

Apa yang Anda Katakan?

Nats : Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela (Mazmur 15:1,2)
Bacaan : Mazmur 15

Pada Santa Clara University di Kalifornia, seorang peneliti melakukan penelitian terhadap 1.500 orang manajer di bidang bisnis, yang menunjukkan nilai yang paling dihargai oleh karyawan dari seorang pemimpin. Para karyawan tersebut mengatakan bahwa mereka menghargai pemimpin yang dapat menunjukkan kompetensi, mampu memberikan inspirasi kepada para pekerja, dan pandai memberikan arahan.

Akan tetapi, ada sifat keempat yang lebih mereka kagumi, yaitu integritas. Lebih dari segalanya, para pekerja menginginkan seorang manajer yang memiliki perkataan yang baik, yang terkenal dengan kejujurannya, dan yang dapat dipercaya.

Walaupun temuan dari hasil penelitian ini sangat penting bagi para manajer kristiani, temuan ini juga menyampaikan sesuatu bagi setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Integritas harus menjadi ciri semua orang yang percaya kepada Kristus, apa pun posisi mereka.

Menurut kitab Mazmur 15, kebenaran menjadi inti setiap perkataan dan perbuatan orang kudus. Karena Allah selalu menepati kata-kata-Nya, maka wajar kiranya apabila orang kudus dikenal sebagai orang yang tindakannya sesuai dengan apa yang ia katakan.

Kita semua perlu lebih hati-hati dalam menjaga integritas kita. Apakah orang-orang di sekitar kita mengagumi kejujuran kita? Apakah Tuhan melihat kita dengan setia melakukan apa yang kita katakan-bahkan apabila hal itu akan menyakitkan bagi kita? (Mazmur 15:4) -MRD II

26 April 2006

Setia Dalam Perkataan

Nats : Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak (Matius 5:37)
Bacaan : Matius 5:33-37

Tak lama sebelum kematian menjemputnya, Duke dari Burgundy memimpin Dewan Kabinet Perancis. Pada saat itu, para menteri membuat sebuah proposal yang akan melanggar sebuah perjanjian, namun akan mendatangkan berbagai keuntungan penting bagi negara. Ada banyak alasan yang diberikan untuk membenarkan perbuatan itu. Duke mendengarkan dengan diam, dan ketika semua orang telah menyampaikan pendapatnya, ia kemudian menutup rapat tanpa memberikan persetujuan. Sambil meletakkan tangannya di atas salinan perjanjian yang asli, ia berkata dengan suara tegas, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!"

Orang kristiani memang perlu bertindak dan berbicara agar Sang Juru Selamat dimuliakan. Bila Anda berjanji, tepatilah janji itu. Jika Anda membuat suatu komitmen, hormatilah itu. Jika Anda menerima suatu tanggung jawab, jalankanlah. Yesus berkata dalam Matius 5:37, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya."

Kejujuran dan kredibilitas kita harus dibuktikan sehingga kita dapat dipercaya dalam perjanjian apa pun yang kita buat. Kesaksian indah yang dapat dikatakan tentang orang kristiani adalah "Ia berjanji; itu sudah cukup bagi saya". Dan jika orang-orang nonkristiani dapat memercayai kita dalam perkara-perkara bisnis, maka mereka akan semakin mungkin memercayai kita ketika kita berbicara tentang Injil.

Jika Anda tergoda untuk ingkar janji, pikirkanlah kembali perkataan Duke dari Burgundy tadi, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!" --RWD

6 Mei 2006

Ban yang Mana?

Nats : Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (Kisah 5:4)
Bacaan : Kisah 5:1-11

Pada suatu hari yang cerah, empat orang siswa SMA tidak dapat menahan godaan untuk membolos sekolah. Keesokan harinya mereka menjelaskan kepada guru mereka bahwa mereka tidak masuk sekolah karena salah satu ban mobil mereka kempes. Mereka lega ketika guru itu tersenyum dan berkata, "Ya, kalian ketinggalan mengikuti kuis kemarin." Namun kemudian ia menambahkan, "Duduklah dan keluarkan pensil serta kertas. Pertanyaan pertama: Ban mana yang kempes?"

Tidak seorang pun dapat lolos karena berbohong. Dalam Kisah Para Rasul 5, Ananias dan Safira mengira mereka hanya berbohong kepada Petrus dan jemaat lainnya. Namun rasul itu berkata, "Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah" (ayat 4).

Kebenaran adalah salah satu sifat Allah. Jadi apabila kita berdusta, kita menyakiti hati-Nya. Dan cepat atau lambat Dia akan mengungkapkan semua kepalsuan -- bila tidak dalam kehidupan saat ini, maka akan terungkap pada saat pengadilan terakhir, ketika kita masing-masing memberi pertanggungjawaban atas perbuatan kita sendiri kepada Allah (Roma 14:10-12).

Kita hidup dalam dunia persaingan yang ketat, dan terkadang kita dapat begitu tergoda untuk menggelapkan kebenaran agar dapat terus maju. Akan tetapi, kenikmatan sesaat karena berbohong tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan keuntungan jangka panjang karena mengatakan kebenaran.

Bila Anda menipu seseorang, akuilah itu kepadanya dan kepada Tuhan. Memang kita harus merendahkan diri, tetapi ini adalah langkah awal untuk mengembalikan kejujuran dalam hidup Anda --DJD

13 Maret 2008

Semerah Kirmizi

Nats : "Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku (Mazmur 32:5)
Bacaan : Mazmur 32:1-5

Banyak produk kosmetik menawarkan solusi bagi mereka yang ingin membuat kulit wajah lebih putih, lebih cerah. Lalu, ada juga banyak merek pasta gigi yang mengandung whitening untuk memutihkan gigi, agar lebih bersinar. Memutihkan warna yang sudah kusam atau pekat tentu tak mudah. Namun, lebih dari semua iklan "pemutih", Tuhan menawarkan kepada kita sesuatu yang dapat "memutihkan" dosa: "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju" (Yesaya 1:18). Warna semerah kirmizi (scarlet, merah tua seperti ungu) tentu tidak mungkin diubah menjadi putih. Namun, oleh pengampunan-Nya, dosa semerah kirmizi bisa menjadi seputih salju.

Dosa semerah kirmizi, menyiratkan betapa pekatnya sebuah dosa, atau begitu lamanya satu dosa mengendap dalam diri kita. Siapa yang tahan menyimpannya? Daud tak tahan berkubang dalam dosa. Ia merasa dosa membuat tulang-tulangnya menjadi lesu (Mazmur 32:3). Ia merasa siang dan malam tangan Tuhan menekannya begitu berat (ayat 4). Daud tak ingin dosa menjauhkannya dari Tuhan. Ia tak mau menyembunyikan kesalahannya. Ia harus memberitahukan dosanya kepada Tuhan, "Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku" (ayat 5). Daud mengakui dosanya, memohon pengampunan, dan Tuhan meng-ampuninya.

Jika dosa kita sepekat kirmizi, masih sanggupkah kita bersembunyi di hadapan Tuhan? Tidakkah hidup ini akan lebih ringan jika kita tidak menyembunyikan kesalahan dan dosa kita, terhadap siapa pun, terlebih kepada Tuhan? Akuilah dosa itu. Dan, seperti Tuhan mengampuni Daud, Dia pasti mengampuni kita AGS

9 September 2008

Tuli Rohani

Nats : Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN? (Yesaya 42:19)
Bacaan : Yesaya 42:18-25

Doof indie atau tuli gaya Hindia merupakan sikap kaum pribumi yang banyak dikritik oleh para menir Belanda pada zaman penjajahan dulu. Kaum pribumi yang bekerja sebagai pembantu para menir itu sering berpura-pura tidak mendengar perintah tuannya. Kalau dimarahi, mereka berkilah, "Maaf saya tidak dengar, Tuan." Namun, apabila tuannya adalah Tuhan semesta alam, ceritanya bisa lain.

Yesaya 42 berisi teguran Tuhan kepada umat-Nya. Awalnya, Israel punya julukan hebat: hamba Tuhan. Namun, sang nabi menyindirnya sebagai hamba Tuhan yang buta dan tuli. Bahkan satu-satunya bangsa yang buta dan tuli: "Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh?" (ayat 19). Bermata, tetapi tidak melihat. Bertelinga, tetapi tidak mendengar. Intinya, nabi menohok dengan mengatakan si hamba Tuhan ini berindra, namun indranya tak berfungsi. Mendengar itu bukan sekadar untuk menangkap bunyi yang datang, melainkan juga untuk menyimak dan memahami. Begitu juga terhadap perintah Tuhan (ayat 23). Bila sungguh-sungguh mendengarkan, kita akan tahu maksud Tuhan; baik dalam peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu, maupun peristiwa yang sekarang. Dan menjadikan itu sebagai modal untuk mengantisipasi apa yang akan datang.

Dunia ini begitu bising dengan suara, teori, pendapat, serta gagasan kita sendiri tentang banyak hal. Mungkin itu sebabnya kita sedikit mendengarkan suara Tuhan. Kini, sediakan diri untuk berdiam, mendengarkan, dan melihat realitas hidup. Lalu bersiaplah untuk mendengarkan dengan telinga yang peka menangkap suara dan kehendak-Nya -DKL



TIP #20: Untuk penyelidikan lebih dalam, silakan baca artikel-artikel terkait melalui Tab Artikel. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA