Topik : Kejatuhan dalam Dosa/Keduniawian

24 November 2002

'pengkhotbah' Ceroboh

Nats : Janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Matius 23:3)
Bacaan : Matius 23:1-3,27,28

Orang-orang yang memusuhi kekristenan mungkin lebih menentang kemunafikan daripada menentang Yesus. Ironisnya, mereka tidak sadar kalau sebenarnya tak ada orang yang lebih menentang kemunafikan selain Kristus sendiri.

Kita semua pernah mendengar para pencela yang sering berkata, "Gereja itu penuh dengan kemunafikan!" Namun, alangkah baiknya jika kita menanggapinya dengan akal sehat dan tidak menolak mentah-mentah ungkapan semacam itu tanpa membuktikannya terlebih dahulu. Siapa tahu mereka memang benar.

Kita cenderung berpikir bahwa ungkapan seperti itu tidak benar. Namun, marilah kita renungkan kembali. Berapa kali kita bersikap seperti seorang wanita yang mengintip lewat jendela, sekadar untuk melihat tetangga cerewet dan suka merumpi berjalan mendekati pintu rumahnya? Anak-anaknya yang masih kecil dan mudah terpengaruh mendengar ia menggerutu, "Uh, lagi-lagi dia!" Kemudian, ia membukakan pintu dan dengan basa-basi berkata, "Senang sekali berjumpa dengan Anda!"

Perkataan dan perbuatan kita sering kali tidak sejalan. Yesus menggambarkan kemunafikan para ahli Taurat dan memperingatkan para murid-Nya, "Janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya" (Matius 23:3).

Allah memperingatkan kita bahwa orang-orang yang memusuhi Kristus akan terpengaruh oleh kemunafikan ceroboh yang kita lakukan. Tuhan, mampukan kami untuk menjadi "pengkhotbah" yang berhati-hati –Joanie Yoder

5 Desember 2002

Menolak Jalan yang Mudah

Nats : Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya (Daniel 1:8)
Bacaan : Daniel 1:1-8

Dari balik jendela pesawat terbang, Anda dapat melihat alur sungai yang berkelok-kelok di bawah Anda. Semua sungai, kecuali sungai buatan manusia, memiliki satu kesamaan yaitu semuanya berkelok- kelok. Penyebabnya sederhana saja. Sungai-sungai itu mengikuti alur yang paling sedikit hambatannya. Sungai-sungai tersebut berbelok untuk menghindari apa saja yang menghalangi lajunya air untuk mencari jalan yang lebih mudah.

Sebagian orang juga melakukan hal yang sama. Karena gagal melawan iblis, mereka menyerah pada godaan dan menyimpang dari jalan yang direncanakan Allah bagi mereka. Tidak seperti Daniel yang "berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya" (Daniel 1:8), mereka malah tunduk pada tekanan-tekanan dunia dan berkompromi terhadap apa yang mereka anggap benar.

Dalam tulisannya kepada para pengikut Kristus, Yohanes mengatakan bahwa kita dapat memenangkan pergumulan kita melawan kejahatan, sebab "Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia" (1 Yohanes 4:4). Bukannya ditaklukkan, tetapi kita bisa menjadi penakluk. Tak satu pun yang dapat menghalangi kita untuk melalui jalur yang sudah ditetapkan Allah bagi kita. Kita tidak boleh menyerah pada godaan atau musuh apa pun. Roh Kudus yang tinggal di hati kita akan menguatkan kita sehingga kita dapat tetap berdiri teguh.

Jalan kita tidak akan "bengkok" jika kita memtuskan untuk tidak mengikuti begitu saja alur yang paling sedikit hambatannya -Richard De Haan

15 Desember 2002

Pasir Dalam Sepatu

Nats : Janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya (Amsal 4:14,15)
Bacaan : Amsal 4:14-27

Bayangkan rintangan-rintangan yang harus diatasi saat seseorang berjalan kaki dari New York ke San Fransisco. Karena itu ia menjadi pemecah rekor. Ketika ditanya mengenai rintangan terbesar yang dihadapinya, ia mengatakan bahwa tantangan terberat yang ia jumpai bukanlah perjalanan mendaki gunung atau menyeberangi hamparan gurun pasir yang panas, kering, dan tandus. "Yang hampir-hampir membuat saya menyerah dalam perjalanan ini," akunya, "adalah pasir dalam sepatu saya."

Kisah tersebut mengingatkan bahwa kita juga dapat dikalahkan secara rohani oleh apa yang awalnya hanya berupa hal kecil yang mengganggu. Kita membiarkan kata-kata yang kasar dan merendahkan, atau kesalahpahaman, mengecewakan kita. Atau kita membiarkan orang-orang di sekitar kita memberikan pengaruhnya yang meskipun kecil, tapi tidak benar. Bukannya berkomitmen untuk menghindari yang jahat, baik itu kecil ataupun besar (Amsal 4:14-27), kita malah berkompromi dengan hal-hal itu. Kita lupa untuk datang kepada Tuhan, memohon pengampunan dan pertolongan.

Sir Francis Drake, penjelajah asal Inggris di abad ke-16, telah berlayar keliling dunia. Namun, saat menyeberangi Sungai Thames, badai besar mengancam akan membalikkan kapalnya. Lalu ia berseru, "Akankah saya yang telah berhasil menghadapi badai di lautan akan tenggelam di sebuah selokan?"

Alangkah bijaksana jika kita bertanya pada diri sendiri, "Akankah saya, yang telah sampai sejauh ini menjalani hidup dengan iman, akan dikalahkan oleh ‘pasir dalam sepatu saya’?" Kita harus menjawab dengan pasti, "Tidak!" -Dave Branon.

8 Februari 2003

Jerat Iblis

Nats : Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu (1Yohanes 2:15)
Bacaan : 1Yohanes 2:15-17

Saya pernah membaca tentang suatu cara menarik yang digunakan orang Afrika Utara untuk menangkap kera. Untuk menangkap kera seorang pemburu akan mengeluarkan isi sebuah labu lalu membuat lubang yang hanya cukup dimasuki tangan kera di salah satu sisi labu itu. Kemudian labu itu diisi dengan kacang dan diikatkan pada sebatang pohon.

Kera yang penasaran itu akan tertarik dengan bau kacang, sehingga ia memasukkan tangannya ke dalam labu dan meraup kacang itu. Namun, lubang pada labu itu terlalu kecil baginya, sehingga ia tidak dapat mengeluarkan tangannya karena genggamannya penuh berisi kacang. Karena tidak mau melepaskan kacang dalam genggamannya, kera itu akhirnya dapat dengan mudah ditangkap oleh si pemburu. Kera itu sebenarnya menjerat dirinya sendiri karena tak mau melepaskan genggamannya!

Setan menggunakan cara yang sama untuk menjerat kita. Iblis mencobai kita supaya kita terus mengejar kekayaan duniawi yang kita pikir sebagai sesuatu yang dapat memberikan keamanan kepada kita. Selama kita menggenggam kuat-kuat kekayaan tanpa mau melepaskannya, kita akan diperbudak oleh kekayaan itu. Dengan demikian tepatlah peringatan dalam Alkitab itu, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya" (1 Yohanes 2:15). Rasul Yohanes juga berkata bahwa "dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (ayat 17).

Ingatlah akan apa yang dialami kera itu. Jangan mau dijerat iblis! --Richard De Haan

9 Februari 2003

Gurun Penyimpangan

Nats : Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! (Wahyu 2:4,5)
Bacaan : Wahyu 2:1-7

Dahulu, Muynak merupakan kota pelabuhan nelayan yang berkembang pesat di tepi Laut Aral. Namun kini Muynak hanyalah kota di tepi gurun pasir. Keadaannya menyedihkan dan berbau amis. Lambung kapal yang sudah rusak dan berkarat berderet menutupi bukit-bukit pasir. Padahal dulunya semua kapal itu berlayar di atas permukaan sumber mata air kehidupan di Asia Tengah.

Perubahan itu mulai terjadi sekitar tahun 1960. Saat itu perencana kota pemerintah Uni Soviet mulai membelokkan sumber mata air Laut Aral untuk mengairi perkebunan kapas terbesar di dunia. Tak seorang pun tahu bahwa kelak kebijakan itu ternyata menimbulkan kerusakan lingkungan. Cuaca di situ berubah menjadi sangat panas. Musim bertanam menjadi dua bulan lebih pendek, dan 80 persen tanah perkebunan hancur diterjang oleh badai garam yang berasal dari dasar laut.

Kejadian yang menimpa kota Muynak itu sama seperti dengan apa yang terjadi pada jemaat Efesus. Pada saat jemaat itu mengalami perkembangan rohani yang pesat, para orang percaya di kota Efesus malah mengalihkan perhatian mereka dari Kristus dan menyibukkan diri dengan berbagai pelayanan yang dilakukan atas nama-Nya (Wahyu 2:2-4). Mereka tidak lagi memperhatikan hal terpenting dalam hubungan mereka dengan Kristus, yaitu kasih mereka kepada-Nya.

Tuhan, tolonglah kami untuk segera mengenali dan bertobat dari berbagai hal yang mengalihkan perhatian kami untuk mengasihi-Mu. Alirilah jiwa kami yang gersang ini dengan air hidup-Mu --Mart De Haan II

3 Maret 2003

Masalah Hidup dan Mati

Nats : Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup (Roma 8:13)
Bacaan : Roma 8:12-18

Alam di dunia ini kejam. Hidup dan mati menjadi hukum yang berlaku di padang rumput, sungai, dan rimba. Seekor singa mengintai kijang. Burung bangau bersiaga di tepi kolam, dan ia siap untuk membunuh dengan paruhnya yang tajam. Jauh di atas langit, seekor rajawali berekor merah menyiapkan cakar yang mematikan, sambil mengawasi gerakan di padang rumput di bawahnya. Sekawanan macan tutul mampu bertahan hidup dengan memangsa zebra. Di alam ini, setiap hewan mampu bertahan hidup jika hewan lain mati. Hal seperti ini tampak wajar, sekalipun kejadianyang sebenarnya bisa jauh lebih mengerikan daripada yang dapat kita bayangkan.

Prinsip bahwa tak ada makhluk yang hidup jika yang lain tidak mati, ternyata tidak hanya berlaku di alam ini. Saat kita berjalan bersama Allah setiap hari, keinginan daging kita harus dimatikan oleh keinginan Roh. Jika tidak, keinginan Roh akan dimatikan oleh keinginan daging (Roma 8:13). Di dalam rimba, padang rumput, dan sungai hati kita, harus selalu ada yang dimatikan supaya yang lain dapat hidup.

Kita tidak mungkin menyerahkan diri kepada Kristus dan sekaligus menyerahkan diri pada dunia. Roh-Nya tidak akan dapat memenuhi hati kita jika kita terus mempertahankan kehidupan yang penuh dengan keinginan egois. Karena itu, Tuhan menunjukkan dengan amat jelas bahwa jika kita ingin mengikut Dia, kita harus mematikan keinginan daging kita setiap hari (Lukas 9:23,24). Kita harus terus memilih apa yang mesti kita matikan, supaya Kristus dapat senantiasa hidup dengan bebas dalam diri kita --Mart De Haan II

18 Juli 2003

Pelikan yang Mengenaskan

Nats : Sebab barang siapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya (Galatia 6:8)
Bacaan : Galatia 6:6-10

Burung pelikan terlihat aneh dengan paruhnya yang sangat besar. Namun, saya melihat seekor yang super aneh. Paruhnya saling menyilang, seolah-olah ada yang menarik bagian atas dan bawah paruh itu ke arah yang berlawanan. Pelikan itu terlihat sangat mengenaskan!

Saya teringat bahwa pelikan biasanya meluncur dari tempat yang cukup tinggi dengan kepala lebih dahulu menuju sekawanan ikan yang akan menjadi santapan mereka. Saya menduga mungkin dulu pelikan aneh itu melihat mangsa yang sedemikian menggiurkan, maka ia nekad menyelam ke dalam sungai yang terlalu dangkal sehingga paruhnya membentur dasar sungai. Saya tidak tahu apakah benar demikian kejadiannya. Namun, ini membuat saya berpikir tentang konsekuensi dan (terkadang) akibat permanen dari berbagai pilihan buruk.

Banyak orang di zaman ini membawa serta parut dosa mereka. Meskipun benar bahwa, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yohanes 1:9), masalah kedagingan dan emosi kerap kali tetap tinggal. Mereka yang hidup gegabah dan tak terkendali akan menanggung bekas luka dari gaya hidup mereka yang merusak sampai hari kematian mereka, meskipun kelak di tahun-tahun mendatang mereka akan diselamatkan secara menakjubkan.

Ketika Anda tergoda untuk berbuat dosa, ingatlah pelikan dengan paruh yang bengkok itu. Allah akan mengampuni dosa jika Anda mengakuinya, namun konsekuensinya takkan hilang di sepanjang hidup Anda --Richard Dee Haan

21 Juli 2003

Batas Muatan

Nats : Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu (1Korintus 10:13)
Bacaan : 1Korintus 10:1-13

Kita semua pasti pernah melihat rambu-rambu batas muatan yang banyak dipasang di jalan-jalan raya, jembatan, dan lift. Para insinyur mengetahui bahwa tekanan yang terlalu besar dapat menyebabkan kerusakan berat atau keruntuhan, maka mereka pun menentukan batas tekanan yang tepat, dan yang dengan aman dapat ditahan oleh berbagai macam alat tersebut. Untuk itulah berbagai peringatan dipasang untuk memperingatkan kita agar tidak melebihi muatan maksimum.

Manusia juga memiliki batas beban yang bervariasi antara orang yang satu dengan yang lainnya. Sebagian orang, misalnya, mampu menahan tekanan ujian dan pencobaan lebih baik daripada orang lain; namun setiap orang memiliki batas daya tahannya masing-masing dan hanya dapat menahan sebatas itu.

Kadang-kadang keadaan dan orang-orang tampaknya menekan kita sehingga melebihi batas yang dapat kita tanggung. Namun, Tuhan mengetahui batas kekuatan kita dan Dia tidak pernah membiarkan kesulitan yang melebihi kekuatan dan kemampuan kita masuk ke dalam kehidupan kita. Hal ini terasa kebenarannya, terutama ketika kita terbujuk oleh dosa. Menurut 1 Korintus 10:13, "Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu."

Maka, ketika ujian dan pencobaan menekan Anda, beranikanlah diri Anda untuk menghadapinya. Ingatlah, Bapa di surga mengetahui batas kemampuan Anda untuk bertahan terhadap tekanan hidup. Berserahlah pada kekuatan Allah; tidak akan ada pencobaan yang melebihi kekuatan-Nya! --Richard De Haan

23 Agustus 2003

Mendua Hati

Nats : Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu (Mazmur 86:11)
Bacaan : Hosea 7:8-12

Bangsa Israel pada zaman Hosea mencoba untuk menyembah berhala sekaligus satu-satunya Allah yang hidup dan benar. Oleh karena itu, Nabi Hosea menggunakan tiga perumpamaan untuk menggambarkan hati mereka yang mendua.

Pertama, mereka seperti roti setengah matang, artinya mereka tidak akan diterima baik oleh Allah maupun orang-orang kafir (7:8). Kedua, mereka seperti pria sombong yang tidak dapat melihat tanda-tanda penuaan dirinya, artinya mereka tidak menyadari kemunduran rohani mereka (ayat 9,10). Ketiga, mereka seperti merpati tolol, yang terbang dari satu bangsa kafir kepada bangsa kafir lainnya dalam usaha yang sia-sia untuk mencari pertolongan (ayat 11).

Saat ini, kita sebagai orang-orang kristiani juga kerap kali mengalami sindrom mendua hati. Kita percaya kepada Yesus, namun enggan menyerahkan setiap bidang kehidupan kita kepada-Nya. Kita pergi ke gereja, tetapi tidak mau hidup sesuai dengan iman kita jika hal itu menghalangi untuk memperoleh kesuksesan atau kesenangan duniawi. Hati yang mendua menyebabkan beberapa akibat serius. Pertama, kita tidak membuat Allah senang dan tidak menarik orang- orang yang belum percaya kepada Kristus. Kedua, mungkin krisis harus terjadi supaya kita sadar akan kemunduran rohani kita yang sebenarnya. Dan ketiga, kita menjalani kehidupan yang tidak penuh, sekalipun kita selalu berusaha mencari kesenangan duniawi.

Marilah kita setiap hari berdoa, "Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu" (Mazmur 86:11)--Herb Vander Lugt

24 Oktober 2003

Remote Control

Nats : Hiduplah sebagai anak-anak terang ..., dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan (Efesus 5:8,10)
Bacaan : Efesus 5:1-17

Klik. "Nantikan malam ini jam 8 di Saluran ABC." Klik. "Saat ini tekanan udara sedang tinggi." Klik. "Tendangannya melebar ke samping gawang!" Klik. "Saya pilih kategori 'Sejarah Dunia' untuk memenangkan 600 dolar, Alex." Klik. "Dalam berita hari ini ...." Klik!!

Apa yang sedang terjadi? Seorang penonton TV sedang memainkan remote control dengan jarinya, memilih acara terbaik untuk ditonton dari sekian banyak pilihan yang ada.

Setiap kali kita berhenti pada sebuah saluran TV, sebenarnya kita telah membuat sebuah pilihan. Kita telah mengambil keputusan untuk mengizinkan program tersebut mempengaruhi kita melalui berbagai cara. Namun, apakah kita telah membuat pilihan yang bijaksana? Apakah kita menggunakan waktu dengan baik dan bermanfaat? Apakah tontonan yang kita pilih akan membangun atau justru menjatuhkan iman kita? Semua ini adalah pertanyaan penting bagi orang kristiani, karena kita telah diperintahkan untuk melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).

Salah satu petunjuknya ada dalam Efesus 5. Kita harus menghindari percabulan, kecemaran, perkataan yang kotor dan sembrono (ayat 3,4). Dan kita pun tidak boleh "mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa" maupun "menyebutkan apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi" (ayat 11,12).

Kita harus senantiasa mencari apa yang "berkenan kepada Tuhan" (ayat 10). Dan kadang kala hal itu berarti mengambil remote dan mematikan TV --Dave Branon

24 November 2003

Tekanan Orang Sekitar

Nats : Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati daripada membagi rampasan dengan orang congkak (Amsal 16:19)
Bacaan : 1 Raja-Raja 12:1-17

Keinginan untuk memperoleh persetujuan dari orang lain membuat kita melakukan hal-hal aneh. Kita mengenakan pakaian yang modis entah kita suka atau tidak, mendatangi berbagai undangan yang sebenarnya ingin kita tolak, dan bekerja jauh lebih keras daripada yang kita inginkan untuk mencapai suatu tingkat keberhasilan finansial yang tak kita butuhkan. Namun yang paling disesalkan, kita kerap memilih bergabung dengan suatu kelompok yang mendorong kita melakukan kesalahan.

Dalam 1 Raja-Raja 12, kita membaca kisah Raja Rehabeam, yang juga menyerah terhadap tekanan rakyatnya. Ia menolak nasihat baik dari orang-orang tua bijak, yang telah mengenal Salomo ayahnya, dan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya ketika menjadi raja. Sebaliknya, Rehabeam justru mendengarkan nasihat orang sebayanya yang mendampingi dia. Mereka agaknya terdorong oleh kesombongan dan keinginan untuk mendapatkan kedudukan. Selain itu, tampaknya Rehabeam goyah karena pengaruh mereka. Namun, betapa besar harga yang harus ia bayar untuk kesalahannya!

Kita semua dipengaruhi oleh tekanan orang-orang sekitar. Tekanan itu mengimpit dari segala arah. Namun, kita bebas memilih jalan yang akan kita tempuh. Jika kita goyah karena orang-orang sombong, yang mencintai uang, yang hidup untuk kesenangan, atau yang menginginkan kedudukan, maka tekanan mereka akan membuat kita hancur. Namun, jika kita memerhatikan nasihat orang-orang rendah hati, baik, dan saleh, maka kita akan mengikuti jalan yang menyenangkan hati Allah --Herb Vander Lugt

18 Januari 2004

Kenyataan atau Ilusi?

Nats : Kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata Tuhan" (Maleakhi 2:17)
Bacaan : Maleakhi 2:13-17

Saya mulai memundurkan mobil van saya dari tempat pemuatan barang. Melalui kaca spion, saya melihat dua truk yang parkir berdampingan. Saya masih mempunyai cukup ruang. Namun kemudian, salah satu truk itu tampaknya bergerak ke arah saya. Saya menghentikan mobil. Kemudian saya menyadari bahwa ternyata truk sebelahnyalah yang sebenarnya berjalan mundur, sehingga hal itu menciptakan ilusi bahwa truk yang sedang parkir tersebut seolah-olah bergerak maju.

Menurut kamus, ilusi adalah sebuah "persepsi yang salah tentang kenyataan". Para pesulap memanfaatkan ilusi untuk "melakukan hal yang tidak mungkin". Kebanyakan ilusi memang tidak berbahaya, tetapi beberapa di antaranya bisa berakibat fatal. Di padang pasir, mengejar fatamorgana yang tampak seperti air bisa mengakibatkan kematian.

Namun, ilusi-ilusi yang paling berbahaya adalah ilusi rohani dan moral yang cenderung dipercayai orang. Dalam Maleakhi 2, bangsa Israel telah melanggar janji nikah mereka (ayat 14-16). Mereka tahu Allah membenci perceraian (ayat 16), namun mereka berkata, "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata Tuhan" (ayat 17).

Bukankah hal itu mirip dengan budaya zaman sekarang? Karena alasan yang tidak alkitabiah, banyak orang percaya bahwa hal-hal seperti aborsi, seks di luar nikah, dan perceraian dapat dibenarkan secara moral. Bahkan sebagian orang kristiani memercayai ilusi-ilusi seperti itu.

Kita perlu menempatkan Alkitab sebagai standar agar dapat membedakan kenyataan dengan ilusi! Dennis De Haan

19 April 2004

Mempertahankan Karakter

Nats : Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (Roma 12:2)
Bacaan : Roma 12:1-21

Meliput berita adalah sebuah pekerjaan yang berat sehingga cenderung membuat para reporter menjadi orang yang keras dan tak berperasaan. Itulah yang dikatakan Barbara Bradley, seorang koresponden National Public Radio, kepada para calon wartawan. Tetapi ia juga percaya bahwa tidak selalu demikian. “Ketika pertama kali jatuh cinta pada dunia jurnalisme, saya membuat keputusan strategis,” kata Bradley, “jika saya mendapati hati saya mulai mengeras, saya akan meninggalkan pekerjaan ini. Ini hanyalah sebuah karier, untuk apa menggadaikan karakter Anda demi sebuah karier? Mempertahankan karakter itu perlu, dan Anda dapat melakukannya; Anda hanya perlu membuat keputusan.”

Dalam situasi yang sangat menekan, kita dapat bereaksi seperti kebanyakan orang atau kita dapat memilih untuk melakukan hal yang berbeda. J.B. Phillips menerjemahkan Roma 12:2 demikian: “Jangan biarkan dunia di sekelilingmu membentuk engkau sesuai ukurannya, tetapi izinkan Allah membentuk kembali pikiranmu dari dalam, sehingga engkau dapat membuktikan secara nyata bahwa rencana Allah bagimu adalah baik, sesuai kehendak-Nya, dan mengarah pada satu tujuan yaitu kedewasaan penuh” (The New Testament in Modern English).

Ketika kita mengalami tekanan untuk menyesuaikan diri, maka dengan karakter yang teguh di atas batu karang keyakinan, kita dapat berkata, “Ini adalah jalan Allah, dan inilah yang terbaik.” Dibutuhkan sebuah keputusan untuk mengawali atau melanjutkan upaya kita dalam mempertahankan karakter. Mari kita ambil keputusan hari ini juga —Davic McCasland

25 Mei 2004

Siapa Wasitnya

Nats : Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? (Ayub 39:35)
Bacaan : Ayub 39:34-40:9

Dalam suatu pertandingan bisbol di sore hari, ketika wasit Liga Amerika Bill Guthrie menempati posisinya di belakang home plate, sang penangkap bola yang merupakan anggota dari tim pendatang berulang kali memprotes keputusan penjuriannya.

Menurut kisah di dalam St. Louis Post Dispatch, Guthrie membiarkan dirinya diprotes selama tiga babak. Namun pada babak yang ke-4, ketika sang penangkap bola mulai mengeluh lagi, Guthrie menghentikannya. “Nak,” ujarnya lembut, “kau memang sudah sangat membantu saya dalam menentukan mana lemparan yang benar dan mana yang tidak. Saya menghargai itu. Tetapi saya sudah mengetahui semua itu. Karenanya, lebih baik kamu pergi ke ruang ganti dan mengajari orang-orang di sana bagaimana caranya mandi.”

Ayub juga mengeluhkan keputusan-keputusan Tuhan yang ia anggap tidak adil. Dalam kasusnya, sang wasit adalah Allah. Setelah mendengarkan keberatan-keberatan Ayub, akhirnya Tuhan memberi penjelasan dari dalam badai. Tiba-tiba Ayub dapat memahami segalanya. Allah itu lembut, tetapi juga tegas dan terus terang. Tuhan menanyai Ayub dengan pertanyaan yang membuat manusia yang terbatas mengakui keterbatasannya. Ayub mendengarkan, menghentikan keluh kesahnya, dan merasakan kedamaian melalui sikap berserah kepada Allah.

Bapa, kami tidak mengerti ketika mengeluhkan keadilan-Mu. Tolonglah kami agar dapat menjadi seperti Putra-Mu Yesus, yang memercayai-Mu tanpa mengeluh, bahkan hingga Dia wafat di kayu salib —Mart De Haan

21 Juni 2004

Kaum “apateis”

Nats : Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Wahyu 3:16)
Bacaan : Wahyu 3:14-19

Banyak orang mengaku bahwa mereka percaya akan Allah. Itu berarti mereka adalah orang-orang teis. Orang yang benar-benar ateis, sangatlah jarang ditemukan.

Saat ini, tampaknya kita perlu menambahkan istilah baru untuk sejumlah besar orang yang mengaku percaya kepada Allah, tetapi tidak peduli akan Allah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sepatutnya mereka disebut orang-orang apateis. Kata ini terbentuk dari kata benda apati yang berarti “kemasabodohan”, yaitu suatu bentuk ketidakpedulian. Dan sayangnya, kepercayaan apa pun yang dianut seseorang, ia tetap hidup sebagai orang “apateis”. Imannya hanya menghasilkan perbedaan kecil dalam perilakunya.

Rasul Yohanes mencatat bahwa Yesus menggambarkan gereja di Laodikia sebagai gereja yang tidak dingin atau tidak panas (Wahyu 3:16). Mereka suam-suam kuku, atau dapat kita sebut sebagai orang-orang “apateis”.

Bagaimana dengan kita yang mengaku percaya kepada Yesus? Apakah kita suam-suam kuku? Kita berdoa, tetapi doa kita hanyalah sebagai kewajiban? Kita ke gereja dan mungkin terlibat dalam berbagai pelayanan kristiani, tetapi semua itu hanyalah suatu rutinitas, seperti menyikat gigi atau membersihkan rumah? Apakah kita telah kehilangan kasih yang mula-mula, suatu semangat yang kita miliki pada awal perjalanan rohani kita?

Hari ini, marilah kita jadikan doa pemazmur sebagai doa kita: “Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?” (Mazmur 85:7) —Vernon Grounds

23 Juni 2004

Mengatasi Semak Duri

Nats : Lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah mengimpit firman itu sehingga tidak berbuah (Markus 4:19)
Bacaan : Markus 4:13-20

Eceng gondok adalah tumbuhan air yang menarik, yang tampak seperti hutan cemara kecil yang tumbuh di atas permukaan air. Pada musim semi tumbuhan ini menghasilkan hamparan bunga kecil berwarna putih. Tetapi sebenarnya ini adalah tumbuhan yang berbahaya. Tumbuhan ini menutupi permukaan danau dan kolam, mengimpit tumbuhan lainnya dan mematikan ikan serta kehidupan air lainnya.

Baru-baru ini saya berjalan di dekat sebuah danau kecil di negara bagian Washington yang ditutupi oleh tumbuhan air ini. Lalu saya berpikir, seperti halnya tumbuhan air itu, kekhawatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, dan berbagai keinginan akan hal-hal lain masuk mengimpit firman Allah sehingga tidak berbuah (ayat 19). Inilah yang diajarkan Yesus dalam Markus 4:13-20.

Yesus memang sedang berbicara tentang bagaimana seorang yang tidak percaya menerima Injil, tetapi firman-Nya ini juga berlaku bagi kita semua. Kadang kala ketika kita membaca firman Tuhan, pikiran kita dipenuhi oleh berbagai permasalahan, kekhawatiran, dan ketakutan. Tekanan karena banyaknya hal yang perlu dikerjakan hari ini serta kekhawatiran akan hari esok merupakan “semak duri” yang dapat mengimpit firman Tuhan dan membuatnya tidak berbuah.

Untuk mengatasi semak duri, kita harus memohon agar Allah menenangkan hati kita sehingga kita dapat memusatkan perhatian kepada-Nya (Mazmur 46:11). Saat kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah, kita akan bebas menikmati hadirat-Nya dan mendengarkan suara-Nya —David Roper

24 Juli 2004

Pengampunan Ketidaktaatan

Nats : Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela (Hosea 14:5)
Bacaan : Hosea 14:2-10

Saya tak akan pernah melupakan pelajaran menyakitkan yang saya dapat semasa kecil tentang ketidaktaatan. Ayah saya yang tengah memotong rumput, menghentikan sejenak pekerjaannya untuk berbelanja. Ia meninggalkan mesin pemotong rumput dorong itu di dekat beberapa kuntum bunga dan melarang saya menyentuhnya selagi ia pergi. Tetapi saya tidak taat dan mendorongnya. Saya kaget ketika pemotong rumput itu berbelok dan melindas beberapa bunga.

Ketika Ayah kembali, saya melapor sambil terisak, “Aku tidak sengaja!” Dengan bijak Ayah menjawab, “Lalu mengapa kamu melakukannya?” Saya tahu yang sebenarnya -- saya sengaja mendorong alat pemotong rumput itu. Saya berdosa, bukan karena melindas bunga, tetapi karena tidak taat.

Pelajaran masa kecil ini menjadi alat pengingat bagi saya untuk menyesali ketidaktaatan, dan bukan hanya akibatnya. Daripada berkata sambil terisak kepada Tuhan, “Saya tidak sengaja,” saya melakukan seperti yang diperintahkan Hosea kepada bangsa Israel yang suka melawan: “Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan!” (Hosea 14:3). Saya mengaku dengan jujur kepada Tuhan bahwa meski saya tahu kehendak-Nya, tetapi saya memilih untuk tidak taat, dan saya berseru memohon belas kasihan-Nya. Puji Tuhan, Dia mengampuni!

Apakah Anda sedih karena memilih tidak taat, dan tidak semata-mata menyesal karena akibatnya? Maka “bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan” hari ini. Dia berjanji untuk mengampuni dosa Anda, karena Dia mengasihi Anda dengan sukarela (ayat 5) —Joanie Yoder

25 Agustus 2004

Setengah Matang

Nats : Efraim telah menjadi roti bundar yang tidak dibalik.... Namun mereka tidak berbalik kepada Tuhan, Allah mereka (Hosea 7:8,10)
Bacaan : Hosea 7

Nabi Hosea memakai suku Efraim sebagai gambaran puitis tentang kerajaan Israel utara. Dalam teguran yang indah, ia menulis bahwa Efraim telah menjadi "roti bundar yang tidak dibalik" (Hosea 7:8).

Dalam istilah sekarang, Nabi Hosea mungkin mengatakan bahwa Efraim "setengah matang". Suku Efraim itu seperti kue panekuk yang matang pada satu sisinya, tetapi sisi lainnya masih mentah. Meskipun mereka menikmati kebaikan Tuhan, mereka tidak mencari Dia dengan sepenuh hati. Ketika mereka membutuhkan pertolongan, mereka berpaling kepada ilah-ilah yang lain (ayat 10,11,14-16). Mereka telah menjadi hambar dan tidak berguna di hadapan Allah, sehingga Dia terpaksa menghukum mereka.

Yesus mengulangi perkataan Nabi Hosea tersebut. Meskipun Dia menggunakan perkataan yang lembut kepada para pendosa yang bertobat, Dia menggunakan perkataan yang keras kepada orang-orang sombong dan merasa diri benar, yang ingin hidup semaunya sendiri. Dia geram terhadap para pemimpin agama yang "bermuka dua", yang berkata manis tetapi bersifat munafik dan mengeksploitasi para pengikutnya (Matius 23:13-30).

Allah tidak pernah bersikap lunak terhadap dosa. Dia mengirim Putra Tunggal-Nya untuk menebus kita dari hukuman dosa (Yohanes 3:16). Janganlah kita menjadi orang kristiani yang setengah matang, yang memohon pengampunan dosa dari Allah, tetapi masih hidup semaunya sendiri. Satu-satunya tanggapan yang layak terhadap belas kasih dan anugerah Allah adalah melayani Dia dengan rendah hati dan penuh kasih --Haddon Robinson

27 Juni 2005

Menyempurnakan Kekudusan

Nats : Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani (2Korintus 7:1)
Bacaan : Galatia 5:16-26

Yunus 1-4

Sudah beberapa minggu ini saya tidak mengurus pekarangan saya, dan saya tertegun melihat betapa cepatnya ilalang tumbuh dan memenuhi pekarangan tersebut. Ilalang memang tidak perlu dipelihara; tampaknya mereka suka tumbuh dengan cepat bagi siapa pun yang membiarkannya. Sebaliknya, sepetak bunga yang indah perlu disiram, dipupuk, dan tentu saja disiangi. Bunga-bunga berkembang dengan subur jika dipelihara oleh orang yang tidak takut kukunya kotor oleh tanah.

Kehidupan kristiani juga membutuhkan usaha. Dibutuhkan komitmen penuh dari seseorang kepada Yesus—baik tubuh, pikiran, emosi, dan kehendak—untuk memiliki hidup yang penuh, menarik, membangun sesama, serta menyempurnakan orang itu. Bahkan setelah semua itu ada, "ilalang" sikap egois dan tindakan dosa dapat tumbuh dengan cepat dan menutupi buah-buah Roh (Galatia 5:22,23).

Itulah masalah yang dihadapi banyak jemaat di Korintus. Mereka telah dipenuhi oleh iri hati dan perselisihan (1 Korintus 3:1-3). Oleh karena itu, Paulus menyuruh mereka membersihkan diri dari "semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah" (2 Korintus 7:1). "Kekudusan" yang ia maksudkan di sini bukan berarti bebas dari dosa, melainkan tak bercela.

Tuhan, bantulah kami untuk mencabut "ilalang" jasmani dan rohani sebelum hal itu menjadi kebiasaan yang buruk. Biarlah keindahan karakter Yesus yang dilihat oleh orang lain di dalam diri kita —DJD

23 September 2005

Pakaian Kotor

Nats : Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis (Imamat 10:10)
Bacaan : Imamat 10:8-11, 1Korintus 2:13-16

Setiap kali saya dan suami meninggalkan rumah, anjing kami Maggie suka mengendus-endus sepatu-sepatu usang dan pakaian kotor. Ia mengelilingi dirinya dengan apa pun yang dapat ia temukan dan tidur dengan benda itu di dekat hidungnya. Bau yang tidak asing baginya itu memberi rasa nyaman padanya sampai kami kembali.

Tentu saja Maggie tidak sadar bahwa ia harus mengikuti perintah imamat untuk membedakan antara ... yang najis dengan yang tidak najis [yang tidak bersih dan yang bersih] (Imamat 10:10). Ia juga tidak tahu bahwa ia telah melanggar perintah itu.

Di dunia yang masih berkutat dengan dosa, jauh setelah benturannya yang mengerikan dengan kejahatan, Allah memerintahkan para pengikut-Nya untuk hidup kudus (Imamat 11:45). Membedakan mana yang najis dan tidak najis adalah tugas yang penting.

Pembedaan itu menuntut lebih dari sekadar kepekaan lahiriah yang baik. Rasul Paulus menulis bahwa manusia duniawiyaitu manusia yang berada dalam keadaan berdosatidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah ..., sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1Korintus 2:14). Roh Kudus-lah yang memberikan hikmat ini (ayat 13).

Sama seperti Maggie yang merasa nyaman di dekat sepatu dan kaus kaki usang, banyak orang juga mencari kenyamanan dalam dosa. Kita harus memahami bahwa kenyamanan dan penghiburan berasal dari Allah, yang mengasihi kita dan yang menetapkan kita dalam pekerjaan dan perkataan yang baik (2Tesalonika 2:16,17) JAL

26 September 2005

Percayalah!

Nats : Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)
Bacaan : Galatia 6:1-10

Sbuah buku anak-anak yang berjudul The Chance World menggambarkan sebuah planet khayalan di mana segala sesuatu terjadi secara tidak terduga. Misalnya saja, matahari bisa terbit sehari penuh atau bahkan tidak terbit sama sekali, dan bisa muncul pada jam berapa saja. Bulan dapat bersinar selama beberapa hari. Suatu hari Anda dapat melompat dan tidak jatuh lagi ke tanah. Tetapi kemudian keesokan harinya gravitasi menjadi begitu kuat sehingga Anda bahkan tidak dapat mengangkat kaki.

Seorang pakar biologi yang berasal dari Skotlandia, Henry Drummond, berkomentar bahwa di tempat seperti itu, di mana hukum alam tidak berlaku, logika akan menjadi hal yang mustahil diterapkan. Tempat itu akan menjadi dunia yang gila, yang dihuni oleh orang-orang gila.

Kita harus mensyukuri ketergantungan atas hukum-hukum alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Hukum alam adalah keuntungan besar bagi kita jika kita mengenali dan menghargainya. Tetapi jika kita melanggar hukum alam, kita akan menanggung akibatnya.

Hal itu juga berlaku untuk hukum rohani Allah, misalnya pada bacaan hari ini. Orang yang mengabaikan standar Allah dan kemudian melayani keinginan dosa akan mengalami kehancuran. Tetapi orang yang mengikuti tuntunan Roh Kudus akan mengalami berkat hidup yang kekal.

Hukum Allah tidak pernah gagal. Apa pun yang terjadi, entah baik atau buruk Anda akan menuai apa yang Anda tabur. Percayalah! RWD

8 Mei 2006

Menjarah Perkemahan

Nats : Bukankah hatiku ikut pergi ...? Maka sekarang, engkau telah menerima uang dan pakaian ...? (2Raja 5:26, versi King James)
Bacaan : 2Raja 5:15-27

Pada saat mengunjungi medan tempat terjadinya perang saudara Amerika di Virginia, saya tertarik pada kisah tentang sebuah kesatuan militer yang terlambat tiba di pertempuran. Mereka terlambat karena berhenti dulu untuk menjarah perkemahan yang ditinggalkan musuh. Dengan mengambil barang-barang yang mereka rasa perlu, mereka akhirnya tak dapat menunaikan tugas.

Kisah ini sepertinya dapat menggambarkan kegagalan Gehazi, pelayan Nabi Elisa, yang meminta uang dan pakaian dari Naaman, panglima raja Syria (2Raja 5:20-25). Elisa memberi tahu Naaman bagaimana ia dapat sembuh dari penyakit kustanya, tetapi Elisa menolak segala hadiah atau pembayaran darinya (ayat 16). Namun, Gehazi memutuskan untuk mengambil sesuatu bagi dirinya sendiri (ayat 20). Dengan kecaman pedas, Elisa berkata kepada Gehazi, "Maka sekarang, engkau telah menerima uang dan pakaian ...? Tetapi penyakit kusta Naaman akan melekat kepadamu dan kepada anak cucumu untuk selama-lamanya" (ayat 26,27).

Keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi dapat menjadi jerat dalam pelayanan kita bagi Tuhan. Jerat itu dapat berupa daya pikat halus untuk memperoleh pengakuan atau daya tarik mematikan untuk memperoleh imbalan uang. Semua alasan yang mengubah fokus kita dari sikap memberi kepada Allah menjadi mengambil sesuatu dari-Nya dapat menjadi bahaya rohani yang nyata.

Keserakahan membuat kita percaya bahwa kita berhak menerima apa yang kita inginkan. Pikiran ini mengarahkan kita ke jalan yang salah. Kiranya Allah memberi kita hikmat untuk menghindari dosa yang diperbuat oleh Gehazi --DCM

8 Agustus 2006

Bangun dan Hiduplah

Nats : Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! (Wahyu 3:1)
Bacaan : Wahyu 3:1-6

Peristiwa tersebut telah terjadi lebih dari 30 tahun yang lalu, tetapi masih terasa menyakitkan. Saat saya sedang mengalami pemberontakan rohani, saya bertemu dengan seorang pemuda yang pernah saya perkenalkan kepada Kristus. Ia terkejut ketika mengetahui saya telah meninggalkan Tuhan dan bukan lagi orang yang dahulu dikenalnya. Hal itu merupakan salah satu pengalaman yang paling saya sesali, dan saya masih berdoa agar diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengannya.

Selama tahun-tahun pengembaraan itu, saya merasa seperti menjadi anggota jemaat pertama di Sardis (Wahyu 3:1-6). Seperti jemaat Sardis saat itu, dilema saya adalah orang-orang mengenal saya sebagai pribadi yang dahulu mereka kenal .

Tuhan yang telah bangkit menantang gereja di Sardis: "Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku" (Wahyu 3:1,2).

Reputasi mereka sebagai jemaat yang hidup tidak sesuai dengan kenyataan. Secara rohani mereka telah mati. Akan tetapi, masih ada harapan. Tuhan mengatakan kepada mereka untuk bangun dan mengipasi bunga api kehidupan rohani yang masih mereka miliki. "Turutilah itu dan bertobatlah!" kata-Nya memperingatkan mereka (ayat 3).

Berpura-pura menjadi pribadi yang lain adalah beban yang berat untuk dipikul. Tuhan memanggil kita untuk meletakkan beban itu, bertobat, kembali kepada-Nya, dan hidup -DCM

23 Agustus 2006

Tuhan Bertarung Melawan Kita

Nats : Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat (Yoel 2:14)
Bacaan : Yoel 2:12-17

Dalam kitab nubuat Yoel, Allah menyatakan: "Aku ini ada di antara orang Israel ... umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya" (2: 27). Namun di bagian yang lebih awal pada pasal tersebut, Allah berjanji untuk bertarung melawan bangsa-Nya sendiri. Wabah belalang akan turun kepada bangsa itu seperti pasukan yang sangat kelaparan (ayat 2-11).

Sungguh berat menduga Tuhan akan bertarung melawan bangsa pilihan-Nya. Namun, Israel telah memberikan cinta mereka kepada dewa-dewa lain.

Sebenarnya, Allah pernah bertarung melawan mereka. "Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka" (Hakim-hakim 2:15).

Saya telah belajar bahwa bila hati saya menjauh dari Allah, berarti saya akan membuat Dia bertarung untuk membawa saya kembali kepada-Nya. Apabila saya menjadi sombong dan mengandalkan diri sendiri, serta apabila membaca firman Tuhan dan meluangkan waktu untuk berdoa seakan-akan membuang-buang waktu, maka Allah akan campur tangan dan berurusan dengan saya.

Allah akan bertarung dengan kita demi kebaikan kita. Dia memperkenankan kita mengalami kegagalan sehingga kita akan mendengarkan-Nya apabila Dia berkata, "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia" (Yoel 2:13).

Jangan tunggu sampai Allah bertarung melawan Anda sebelum Anda melihat wajah-Nya. Kembalilah kepada-Nya hari ini -AL

29 September 2007

Hikmat Penanda

Nats : Hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh (Efesus 5:16,17)
Bacaan : Efesus 5:8-21

Seorang pasien berada di rumah sakit di Florida untuk menjalani amputasi guna menyelamatkan hidupnya. Namun saat ia terbangun, ia justru mendapati bahwa kakinya yang sehat telah diamputasi. Di rumah sakit yang sama, pasien lain juga menjalani operasi pada lutut yang salah.

Para pembela sistem perawatan kesehatan mengatakan kasus malapraktik tragis seperti itu menyerupai tabrakan pesawat terbang, yang patut dijadikan berita karena langka terjadi. Para pejabat tinggi rumah sakit itu menanggapi kasus tersebut dengan membuat strategi untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekeliruan lagi: Para staf kini menulis kata "BUKAN" dengan spidol hitam pada anggota tubuh pasien yang sehat.

Alkitab juga mendorong kita untuk berbuat lebih daripada sekadar mengakui kesalahan masa lalu kita; kita harus mengambil langkah-langkah tegas untuk menghindari si jahat. Paulus memperingatkan orang kristiani di Efesus, "Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa" (Efesus 5:11). Kristus membebaskan kita dari penghukuman, tetapi kita masih bisa mengalami bahaya dan kerugian yang bersifat sementara karena kecenderungan kita yang penuh dosa. Kedagingan kita masih kerap membawa kita pada kesalahan dan bahaya (Galatia 5:16,17).

Namun, kini banyak hal telah berubah. Hubungan kita dengan Allah telah berubah. Masa depan kita yang dulunya tidak berpengharapan, kini diterangi oleh janji Allah. Kita memiliki kesempatan untuk tunduk pada Roh-Nya dan berjalan bersama Pribadi yang melakukan kebaikan, bukan kesalahan yang ceroboh --MRD II

29 Maret 2008

Mengelola Negeri

Nats : Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau" (Kejadian 41:39)
Bacaan : Kejadian 41:25-46

Saat itu, status Yusuf masih narapidana. Namun karena hikmatnya, ia dapat berdiri di hadapan Firaun dan para pegawainya. Raja yang putus asa karena tak seorang ahli pun tahu makna mimpinya (ayat 24), kini mendapat jawaban hebat dan tepat dari narapidana Ibrani ini. Yusuf mengartikan mimpi Firaun bahwa akan ada 7 tahun kelimpahan dan 7 tahun kelaparan. Namun, ia juga segera memberi jalan keluarnya: sebagian hasil bumi harus disimpan dalam lumbung selama masa kelimpahan, agar di masa kesusahan ada persediaan. Agaknya Yusuf layak disebut ahli ekonomi dan ahli strategi sosial.

Ternyata, berada di negeri asing tak menghalangi kecemerlangan hikmatnya. Ia menabrak batas politis. Dalam tahuntahun berikutnya Yusuf menunjukkan bahwa pilihan Firaun tidak salah. Ia terbukti mumpuni (ayat 53-57). Ini menarik untuk direnungkan. Bukan hanya peningkatannya dari narapidana ke penguasa Mesir, melainkan juga sikap Yusuf yang sungguh memberikan hati untuk mengelola tugas berat di tanah asing. Dengan itu, ia pertama-tama berguna bagi Mesir. Namun kemudian, ia juga berguna bagi Israel, yang pada masa kelaparan tertolong oleh kemakmuran Mesir.

Yusuf melihat bahwa hidupnya yang naik turun-dijual sebagai budak, masuk penjara, sengsara, hingga dimuliakan di Mesir-sebagai karya Allah: "sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu" (45:5). Mari belajar dari Yusuf yang mengelola hidup demi membawa sejahtera bagi orang lain, masyarakat, dan bangsanya. Mari gunakan hikmat yang Allah karuniakan kepada kita dalam bidang masing-masing, untuk memberkati komunitas di tempat kita hidup -DKL



TIP #33: Situs ini membutuhkan masukan, ide, dan partisipasi Anda! Klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA