Daftar Isi
Saat Semuanya Tidak Berarti
Pakaian Baru
Belas Kasih Sang Hakim
Siapa Layak Masuk Surga?
Air Kehidupan
Semua Bisa Selamat!
Anda Berarti Bagi Allah
Tertipu Spam
Tiga Salib
Terlalu Mudah
Dialah Jalan
Berpura-pura
Badai Segera Datang!
Standar yang Salah
Kesedihan Tuhan
Kepedihan di Kalvari
Lebih dari Kontrak
Nama Yesus
Hidup dengan Anugerah
Bukan Supaya Jadi Baik
Rekening yang Besar
Perjalanan Ikan Salmon
Dalam Hadirat-Nya
Apakah Dia Peduli?
Persamaan Misterius
Badai Segera Datang!
Cukup untuk Apa Saja
Hanya untuk Pendosa
Kasih dan Kemuliaan
Siapakah "setiap Orang" Itu?
Hadiah Kasih Karunia
Perang Telah Usai!
Sebagaimana Adanya
Bersyukur dan Mengingat
Bebek Mati
Selingan Menyenangkan
Percaya Itu Yakin Penuh
Merayakan Bayi
Etika Kabar Baik
Pengelolaan Amarah
Tanaman Anugerah
Allah Mampu
Hanya Satu Pintu
Tak Ada Kabar Buruk
Pertanyaan Bagus
Dari Terbenam Hingga Terbit
Terjebak!
Itu Pilihan Anda
Manakah Tujuan Kematian?
Kasih Karunia yang Luar Biasa
Kasih Karunia yang Lebih Besar
Kembali ke Titik Awal
Sinar yang Memudar
Ditarik Oleh Salib
Dapatkan Intinya!
Apakah Anda Merdeka?
"mary Sampah"
"mereka Menolak-ku!"
Tak Dapat Dibeli
Dilepaskan Oleh Salib
Transaksi
Terhindar dari Kematian
"cricket" dan Kekristenan
Pemberian Tanpa Bayaran
5k atau 2k
Agama atau Kristus?
Pahlawan yang Luar Biasa
Apakah Yesus Eksklusif?
Hadiah Dalam Hadiah
Lebah yang Murah Hati
Menatah Kristus
Berani Berdamai
Sakit yang Hebat
Roh-Nya Menguatkan
Sambutan Besar
Jerih Lelah
Blessing In Disguise
Allah, Guru Kita
Bagai Bumerang
Ketenangan Sejati
Menjaga Rahasia
Bukan Aib

Topik : Anugerah

13 Desember 2002

Saat Semuanya Tidak Berarti

Nats : Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (Filipi 3:7)
Bacaan : Filipi 3:7-14

Saat membongkar garasi putra saya, saya menemukan semua trofi yang ia menangkan melalui berbagai macam pertandingan atletik selama bertahun-tahun. Semuanya itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak kardus, dan siap untuk dibuang.

Saya mengenang darah, keringat, dan air mata yang mengucur demi mendapatkan semua penghargaan itu. Namun sekarang ia membuangnya. Semuanya itu tidak berharga lagi baginya.

Saya jadi teringat pada sebuah puisi anak-anak yang aneh karangan Shel Silverstein berjudul "Hector si Kolektor". Puisi itu mengisahkan tentang semua benda yang dikoleksi Hector selama bertahun-tahun. Ia "menyayangi benda-benda itu lebih dari berlian yang bersinar, lebih dari emas yang berkilauan". Lalu Hector mengundang semua temannya, "Kemarilah, aku mau membagikan hartaku!" Lalu semua temannya "datang untuk melihatnya, tetapi mereka menyebut barang-barang itu sampah!"

Seperti itulah nantinya akhir hidup kita. Semua milik kita, semua benda yang kita perjuangkan di sepanjang hidup kita, menjadi tidak berarti apa-apa kecuali sampah. Saat itulah kita diyakinkan bahwa harta bukanlah hal yang paling berharga dalam hidup ini.

Mulai saat ini kita akan memiliki cara pandang yang benar, seperti cara pandang Paulus. "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus"(Filipi 3:7). Kita harus bersikap wajar terhadap harta milik kita, karena sebenarnya kita telah memiliki harta yang paling bernilai, yaitu pengenalan akan Kristus Yesus Tuhan kita -David Roper

19 Januari 2003

Pakaian Baru

Nats : Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor (Yesaya 64:6)
Bacaan : Yesaya 64

Dua orang pria sedang bercakap-cakap, tak lama setelah mereka menjadi orang kristiani yang sungguh-sungguh. Yang satu adalah orang miskin yang sebelumnya memang tidak mengenal Allah. Sedangkan yang satunya lagi berasal dari lingkungan yang sangat religius. Setelah masing- masing menceritakan tentang pertobatannya, pria yang berlatar belakang religius bertanya kepada rekannya, "Bagaimana kau dapat langsung memberikan tanggapan terhadap Injil saat pertama kali mendengarnya, sementara aku memerlukan waktu bertahun-tahun untuk melakukannya?"

Pria miskin itu lalu berkata, "Oh, itu mudah saja. Seandainya seseorang datang dan menawarkan kepada kita masing-masing sebuah baju baru, maka aku akan langsung menerima tawaran itu. Semua pakaianku sudah lama dan usang. Namun lemarimu pasti penuh dengan pakaian bagus. Begitu juga dengan keselamatan. Mungkin kau sudah puas dengan segala kebaikan yang kauterima, jadi kau memerlukan waktu lama untuk mengerti bahwa kau sungguh-sungguh memerlukan 'pakaian kebenaran' yang ditawarkan kepadamu melalui Kristus. Aku sangat sadar akan keadaanku yang penuh dosa, karena itulah aku ingin sekali menerima pengampunan dan pengudusan."

Semua orang benar-benar perlu diselamatkan. Nabi Yesaya berkata bahwa "segala kesalehan kami seperti kain kotor" (64:6). Mereka yang sadar akan kemiskinan rohani mereka dan menerima keselamatan yang tak ternilai harganya melalui iman dalam Kristus, akan diberi "baju baru" kebenaran. Baju apa yang Anda kenakan sekarang? --Richard De Haan

31 Januari 2003

Belas Kasih Sang Hakim

Nats : Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah (1Petrus 3:18)
Bacaan : Roma 5:1-11

Semasa menjabat sebagai walikota New York City, Fiorello La Guardia kadang kala bertindak sebagai hakim dalam pengadilan malam. Dalam suatu kasus, seorang pria dinyatakan bersalah karena mencuri sekerat roti. Ia mohon ampun karena telah mencuri untuk memberi makan keluarganya yang kelaparan. "Hukum adalah hukum," tegas La Guardia. "Karena itu saya harus mendenda Anda 10 dolar." Ketika pria itu dengan sedih mengaku tak punya uang, sang hakim mengeluarkan 10 dolar dari dompetnya dan membayarkan denda itu. Lalu ia juga meminta agar setiap orang dalam ruang pengadilan itu menyumbang 50 sen untuk membantu pria itu.

Inti dari Injil adalah salib Yesus Kristus. Pesannya sangat jelas sehingga anak kecil pun dapat memahaminya: Yesus mengambil alih tempat saya dan mati menggantikan saya. Namun kebenarannya demikian agung sehingga orang paling bijak pun tak dapat menangkap maknanya secara utuh. Alkitab berkata, "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah" (1 Petrus 3:18). Alkitab juga berkata: "Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka" (Roma 5:6).

Saat membaca tentang belas kasih hakim di atas, kita dapat melihat gambaran belas kasih Allah yang tak terukur. Tuntutan hukum terpenuhi. Dan hakim itu sendiri yang membayar denda. Orang yang melanggar hukum dibebaskan, bahkan dianugerahi karunia yang sesungguhnya tak layak ia terima. Sungguh suatu gambaran yang indah tentang Juruselamat kita! --Vernon Grounds

22 Februari 2003

Siapa Layak Masuk Surga?

Nats : Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat (Roma 3:28)
Bacaan : Roma 3:21-28

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan untuk U.S News&World Report menanyakan opini dari 1.000 orang dewasa mengenai siapa yang sekiranya layak masuk surga. Pada urutan teratas, tidak mengejutkan lagi, adalah sosok religius terkenal. Ada pula beberapa selebriti. Namun yang mengejutkan saya, 87 persen responden dari survei tersebut menyatakan bahwa mereka sendiri tampaknya juga layak masuk surga.

Mau tak mau saya menjadi bertanya-tanya, menurut mereka apakah syarat masuk surga sehingga mereka menganggap diri mereka layak untuk masuk surga? Banyak orang memiliki gagasan yang keliru mengenai syarat yang Allah minta.

Seperti apakah yang dimaksud orang saleh itu? Yang dengan murah hati memberikan derma kepada orang miskin? Yang mematuhi kepercayaan ortodoks? Yang ke gereja dan terlibat dalam berbagai aktivitas rohani? Hal-hal itu mungkin layak dipuji, tetapi mereka melupakan satu hal yang terus diminta Allah sebagai syarat untuk masuk surga, yakni komitmen pribadi kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan (Yohanes 1:12; 1 Timotius 2:5). Meskipun iman kepada Yesus akan jelas tercermin dalam perbuatan seseorang (Yakobus 2:14-20), tetapi kemurahan hati ataupun aktivitas rohani tidak dapat menggantikan kepercayaan kita akan pengurbanan Yesus yang telah wafat untuk menebus dosa kita.

Apakah Anda juga merasa yakin dapat masuk surga? Anda dapat masuk surga, hanya jika Anda percaya kepada Yesus Kristus --Vernon Grounds

15 Maret 2003

Air Kehidupan

Nats : Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan (Yesaya 12:3)
Bacaan : Yohanes 4:5-26

Seorang pemandu wisata di Israel sedang bersiap memimpin tur ke padang gurun. Permintaannya kepada kelompok itu sangat sederhana dan jelas, “Jika Anda tidak memenuhi kedua syarat ini, saya tidak mengizinkan Anda bergabung dalam tur. Anda harus membawa topi lebar dan sebotol penuh air. Semua itu akan melindungi Anda dari sengatan matahari dan kehausan yang disebabkan oleh angin dan kekeringan.”

Air sangat diperlukan untuk bertahan hidup. Suatu hari, seorang wanita mendatangi sumur di daerah Samaria (Yohanes 4:7). Ia datang di siang hari, ketika hanya sedikit orang yang pergi ke sana. Namun, ia terkejut ketika seorang laki-laki muda Yahudi meminta air kepadanya. Dengan melontarkan permintaan itu, Yesus meruntuhkan penghalang besar wanita tersebut. Wanita itu sudah berkali-kali menikah, lagi pula ia bukan orang Yahudi.

Yesus menawarkan air yang jauh lebih baik daripada air sumur itu. Dia memiliki “air hidup”, yang hanya dapat diberikan oleh Dia (ayat 10,13,14). Saya yakin perempuan itu mengambil air tersebut dan dibersihkan secara rohani oleh Yesus, karena ia menceritakan kepada setiap orang apa yang telah dialaminya, “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (ayat 29).

Apakah Anda sedang berada di “sumur”? Apakah jiwa Anda haus akan Allah? Apakah Anda membutuhkan pembersihan dan kesegaran yang Dia tawarkan? Dia sedang menunggu di sana untuk memuaskan Anda dengan “air hidup” keselamatan dan kehidupan kekal --Dave Egner

15 April 2003

Semua Bisa Selamat!

Nats : Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur untuk semua orang (1Timotius 2:1)
Bacaan : 1Timotius 2:1-8

Pada hari ini, dan sebenarnya juga pada hari-hari lain, selalu ada kebutuhan mendesak untuk mendoakan “semua pembesar” (1 Timotius 2:2). Namun, apakah yang dimaksud dengan semua itu termasuk pemimpin yang sangat kejam? Adakah orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh yang tak dapat ditolong dengan doa kita?

Jawaban dari pertanyaan di atas dapat ditemukan dengan mencuplik kata pertama-tama dalam ayat 1 yang memfokuskan perhatian kita pada konteksnya. Dalam 1 Timotius 1:12-17, Paulus mengakui bahwa dulunya ia seorang penghujat, penganiaya, dan orang yang ganas (ayat 13). Ia lalu menegaskan bahwa Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Kemudian ia menambahkan ungkapan yang penting: “akulah yang paling berdosa” (ayat 15).

Paulus menjelaskan bahwa ia menerima belas kasih Allah. Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya kepada Paulus, sebagai contoh bagi orang berdosa berikutnya yang akan percaya kepada Tuhan (ayat 16). Pada intinya, Paulus berkata, “Jika aku, orang yang paling berdosa saja dapat diselamatkan, maka siapa pun juga dapat diselamatkan.” Oleh sebab itu Paulus menasihati kita untuk mendoakan semua pembesar, karena Allah Juruselamat kita ingin agar semua orang diselamatkan dan memperoleh kebenaran-Nya (2:4).

Jadi marilah kita tidak hanya berdoa bagi para pemimpin yang disegani, yang memerintah dengan bijaksana, tetapi juga bagi para pemimpin yang tidak saleh, sehingga mereka pun dapat diselamatkan. Ya, Allah dapat menyelamatkan siapa saja --Joanie Yoder

16 April 2003

Anda Berarti Bagi Allah

Nats : Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan (Lukas 15:6)
Bacaan : Lukas 15:3-7

Seorang pengarang Amerika bernama Julia Ward Howe dikenang terutama karena puisinya berjudul Battle Hymn of The Republic (Himne Pertempuran Bagi Republik). Menurut putrinya, Howe pernah mengundang kawannya, senator AS bernama Charles Sumner untuk menemui seorang aktor muda yang sedang naik daun. Namun, kawannya itu menolak undangannya. Ia berkata, “Buat apa saya menemuinya. Tak ada gunanya saya memperhatikan orang lain.” Julia kemudian menulis dalam buku hariannya, “Syukurlah, Allah Yang Mahakuasa tidak seperti kawan saya itu. Dia masih sudi memperhatikan manusia.”

Tidakkah Anda gembira karena Tuhan masih sudi memperhatikan manusia? Bahkan sesungguhnya, Bapa surgawi kita memperhatikan masing-masing pribadi.

Menurut Yesus, Bapa itu seperti gembala yang setia. Dia meninggalkan kawanan dombanya yang berjumlah 99 ekor di tempat yang aman dan terlindung, dan dengan penuh pengurbanan pergi mencari seekor domba- Nya yang tersesat (Lukas 15:4-6). Karena itu, untuk membantu kita memahami kasih Allah yang dalam kepada setiap manusia, Yesus menyatakan bahwa setiap helai rambut di kepala kita pun terhitung oleh-Nya (Matius 10:30). Sungguh luar biasa, Gembala kita yang agung bahkan memberi hidup-Nya bagi kita, domba-domba-Nya (Yohanes 10:11).

Apakah Anda bagaikan seekor domba yang hilang, yang membutuhkan Yesus Sang Gembala untuk menyelamatkan Anda? Berserulah kepada-Nya hari ini juga, dan izinkan Dia menyelamatkan Anda. Ingatlah, Anda sangat berarti bagi Allah --Vernon Grounds

17 April 2003

Tertipu Spam

Nats : Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu (Galatia 1:6)
Bacaan : Galatia 1:1-10

Pernahkah Anda tertipu oleh spam? Spam adalah istilah di dunia komputer bagi “surat-surat sampah” di internet. Itu sudah menjadi masalah biasa bagi orang-orang yang menggunakan komputer pribadi. Terkadang surat-surat seperti itu tidak berbahaya, tetapi kadang ada juga yang berbahaya.

Misalnya, Anda membuka e-mail dan mendapat surat dari seseorang yang ingin menolong Anda. Pesan surat itu mengatakan bahwa kartu kredit Anda sudah tidak berlaku lagi. Untuk mengaktifkannya lagi, Anda harus memasukkan kembali nomor kartu itu. Lalu Anda mengetiknya dan menekan tombol “send”. Anda berpikir telah melakukan hal yang benar. Namun, tak lama kemudian Anda mendapat tagihan atas setumpuk barang yang tidak pernah Anda beli. Nah, Anda telah tertipu oleh spam!

Yang kelihatannya berguna, ternyata sebenarnya tidak berguna. Anda mempercayai pesan itu, melakukan apa yang diminta, tetapi akhirnya dirugikan.

Kita bisa tertipu secara rohani jika ada guru-guru Alkitab yang mengacaukan Injil dan menyampaikan kabar yang keliru, yang menurut mereka benar (keselamatan karena perbuatan, misalnya). Kerap kali mereka mengabarkan “suatu injil lain” (Galatia 1:6).

Bagaimana Anda menghindari tipuan seperti itu? Caranya dengan belajar mengenai Injil yang benar dari Alkitab. Keselamatan kekal hanya terjadi karena anugerah, yaitu dengan beriman kepada Yesus Kristus dan kematian-Nya di kayu salib bagi dosa-dosa kita (Galatia 2:16; Efesus 2:8,9). Jangan lengah. Kabar yang lain adalah tipuan! --Dave Branon

18 April 2003

Tiga Salib

Nats : Lalu ia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:42)
Bacaan : Lukas 23:32-49

Ada tiga salib yang tertancap di bukit Kalvari. Di salah satu salib tergantung seorang pria yang sekarat di dalam dosa karena ia tidak menerima Yesus. Di salib yang lain tergantung seseorang yang sekarat tetapi mau bertobat dari dosanya dengan mempercayai Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan (Lukas 23:40-43). Dan pada salib yang di tengah, tergantunglah Seseorang yang sedang sekarat bagi dosa. Dia dapat mati bagi orang lain karena Dia adalah Anak Allah dan Dia tidak berdosa. Salib yang di tengah menjadi jembatan di antara kedua pria yang tergantung di sisi Yesus, yaitu antara neraka kekal dan surga kekal.

Seluruh dunia ini terwakili oleh kedua penjahat tersebut dan respons mereka terhadap Tuhan Yesus. Saya melihat ketiga orang yang disalib itu menggambarkan pendosa, orang yang disucikan, dan Sang Juruselamat.

Seorang pria diminta untuk menerima Kristus, tetapi ia menolak dan berkata, “Oh, jangan ganggu saya sekarang. Nanti saja kalau saat terakhir sudah tiba. Ingatlah akan penjahat sekarat yang disalib di samping Yesus.” Namun, pria itu sangat terkejut ketika orang kristiani yang setia itu bertanya, “Penjahat yang mana? Ingat, ada dua penjahat yang disalib!” Jawab orang itu, “Benar. Saya lupa. Maksud saya adalah penjahat yang diselamatkan!” Pada malam itu juga, pria itu memutuskan untuk menerima Yesus supaya ia diselamatkan.

Dengan iman, pandanglah Dia yang di surga, yang pernah tergantung pada salib yang di tengah. Anda pun akan mendengar kata-kata pengampunan dan pengharapan dari-Nya --Henry Bosch

31 Mei 2003

Terlalu Mudah

Nats : Kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran (Roma 4:5)
Bacaan : Roma 4:1-8

Saya membaca tentang adonan kue instan yang gagal dipasarkan. Padahal petunjuknya menyebutkan bahwa yang harus dilakukan hanyalah menambahkan air dan memanggangnya. Perusahaan itu tak habis mengerti mengapa produk itu tidak laku. Dari hasil penelitian, mereka mendapati bahwa konsumen merasa tidak yakin karena adonan itu hanya menggunakan air. Orang-orang menganggapnya terlalu mudah. Jadi, pihak perusahaan mengubah petunjuk membuat kue tersebut, yaitu dengan menambahkan sebutir telur ke dalam adonan sebagai tambahan air. Ide ini berhasil. Penjualan produk itu pun melonjak drastis.

Kisah itu mengingatkan saya tentang reaksi sebagian orang terhadap rancangan keselamatan. Bagi mereka, hal itu kedengarannya terlalu mudah dan sederhana untuk dipercaya, meski Alkitab mengatakan, "Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; ... [itu] pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu" (Efesus 2:8,9). Mereka merasa ada hal lain yang harus dilakukan, sesuatu yang harus ditambahkan pada "resep" keselamatan Allah. Mereka pikir mereka harus melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan kemurahan Allah dan hidup kekal. Namun, dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan "bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya" (Titus 3:5).

Tak seperti pabrik adonan kue itu, Allah tidak mengganti "formula"- Nya untuk membuat keselamatan lebih laku di pasaran. Injil yang kita nyatakan harus bebas dari perbuatan, meski mungkin kedengarannya terlalu mudah --Richard De Haan

7 Juni 2003

Dialah Jalan

Nats : Di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul 4:12)
Bacaan : Yohanes 14:1-6

Seorang pilot pesawat terbang militer terpaksa terjun dengan parasut ke sebuah hutan di Asia Tenggara. Bagaimana ia dapat menemukan jalan keluar? Seorang penduduk setempat melihat keja-dian itu dan datang untuk menolong sang pilot dengan menebas semak-semak. Sang pilot yang ketakutan berteriak-teriak, "Mana jalannya? Di mana jalan keluarnya?" Sang penolong balik berteriak, "Tak ada jalan! Sayalah jalannya! Ikuti saya!" Sang pilot mempercayai pria tersebut, yang menuntunnya menembus hutan hingga selamat.

Sebagian orang mengalami kesulitan untuk menerima kata-kata serupa yang diucapkan Tuhan Yesus. Dia berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6). Para kritikus menyebut ajaran ini tidak toleran dan bersifat memecah belah. Namun, karena Anak Allah sendiri mengatakannya, dan firman Allah mencatatnya, perkataan ini benar, tak peduli berapa banyak orang yang menentangnya. Iman di dalam Yesus adalah satu-satunya jalan menuju persekutuan kekal dengan Allah.

Jalan kepada Allah tidak akan ditemukan dengan mengikuti doktrin tertentu, mengembangkan karakter-karakter moral, atau menghadiri kebaktian di gereja, tetapi dengan mempercayai Yesus Kristus yang mengampuni dosa dan mendamaikan kita dengan Allah. Saat kita membuka hati bagi Juruselamat yang telah disalibkan dan dibangkitkan, berarti kita telah berada pada satu-satunya jalan yang akan membawa kita pulang kepada Allah --Vernon Grounds

5 Juli 2003

Berpura-pura

Nats : Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan (Matius 23:28)
Bacaan : Matius 23:1,2, 23-33

Seorang pria dari Massachusetts telah menyembunyikan sebuah rahasia tentang dirinya selama 11 tahun. Tak seorang pun menyangka ia bermasalah. Bahkan di rumah pun perilakunya tampak wajar. Setiap malam setelah makan malam, ia selalu duduk sambil memegang koran, sehingga istrinya pun tidak mengetahui masalah suaminya.

Namun, akhirnya ia tidak sanggup lagi menahan tekanan karena terus- menerus menyembunyikan rahasianya. Setelah bertahun-tahun menjaga rahasia, pria itu pun mengakui bahwa sebenarnya ia buta huruf. Selama ini ia berpura-pura bisa membaca..

Banyak orang juga berpura-pura dalam kehidupan rohani mereka. Mereka tampak seperti seorang kristiani. Mereka berbicara layaknya seorang kristiani, menjadi jemaat di suatu gereja, dan menyembunyikan dosa- dosa mereka dengan hati-hati. Mereka amat saleh dan berusaha memberi kesan yang baik. Banyak orang beranggapan bahwa mereka adalah orang- orang kristiani. Namun jauh di lubuk hati mereka, para aktor rohani ini tahu bahwa mereka tak pernah mengakui kondisi mereka yang penuh dosa kepada Allah dan menaruh pengharapan dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya harapan akan keselamatan. Secara lahiriah mereka "tampak benar", namun secara rohaniah mereka "penuh kemunafikan dan kedurjanaan" (Matius 23:28).

Pernahkah Anda berpura-pura seperti itu? Anda mungkin dapat membohongi orang lain, tetapi tidak dapat membohongi Allah. Dia melihat isi hati Anda. Jangan berpura-pura. Terimalah Anak Allah sebagai Juruselamat Anda. Hadapilah kenyataan --Richard De Haan

19 Juli 2003

Badai Segera Datang!

Nats : Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat (2Petrus 3:10)
Bacaan : 2Petrus 3:1-15

Beberapa tahun yang lalu di Florida, saya memandangi langit yang gelap menakutkan saat angin ribut menderu mendatangkan hujan lebat melintasi air teluk yang bergolak dengan marah. Badai akan segera datang! Sepanjang hari stasiun radio dan televisi sibuk memberikan instruksi penting tentang cara berjaga-jaga terhadap angin yang merusak dan terpaan gelombang pasang dari badai yang segera datang.

Ketika penduduk dengan panik bersiap-siap untuk menghadapi badai, saya bertanya dalam hati, "Mengapa orang-orang menanggapi dengan serius peringatan yang disampaikan biro cuaca, tetapi dengan keras kepala menolak untuk mendengarkan peringatan Allah?" Dalam firman- Nya, Allah menyatakan bahwa bencana yang jauh lebih besar akan datang melanda seluruh dunia. Alkitab berkata, "Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap" (2 Petrus 3:10).

Benar, hari yang menakutkan itu pasti akan datang. Namun, ada satu jalan yang pasti untuk dapat lolos dari penghakiman Allah. Jalan itu ditemukan di dalam Kristus. Orang-orang yang telah beriman dalam Dia akan menikmati kedamaian-Nya di sini, di dunia ini, dan lebih dari itu, mereka dijamin akan hidup kekal bersama-Nya di surga.

Apakah Anda sudah siap? Jika belum, terimalah Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda hari ini juga (Roma 10:9-13) --Richard De Haan

28 Juli 2003

Standar yang Salah

Nats : Celakalah aku! aku binasa! ... Mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam (Yesaya 6:5)
Bacaan : Yesaya 6:1-5

Seorang anak kecil mengumumkan, "Aku seperti Goliat. Tinggi badanku 2,7 meter." "Apa yang membuatmu berkata begitu?" tanya ibunya. Anak itu menjawab, "Aku membuat sebuah penggaris dan mengukur tinggi badanku dengan penggaris itu, dan tinggiku 2,7 meter!"

Banyak orang gagal melihat kebutuhan mereka akan keselamatan karena mereka mengukur diri mereka sendiri dengan standar yang salah. Dengan melihat dan membandingkan tingkah laku mereka dengan orang lain yang telah melakukan hal yang lebih buruk daripada yang telah mereka lakukan, mereka sampai pada kesimpulan bahwa bagaimanapun juga mereka tidak terlalu buruk. Namun, rasa bangga semacam itu dihancurkan ketika orang-orang membandingkan diri mereka dengan standar kebenaran yang sempurna.

Bagaimana kita memenuhi standar yang sesuai dengan pandangan Allah? Ketika Nabi Yesaya melihat Tuhan dalam seluruh kemuliaan-Nya, ia menyatakan, "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, ... namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam" (Yesaya 6:5). Menurut Roma 3:23, kita semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Itulah sebabnya setiap orang perlu diampuni.

Jika Anda mengukur moralitas Anda dengan cara membandingkan diri dengan orang lain, Anda menggunakan standar pengukuran yang salah. Namun, jika Anda mengakui betapa besar kekurangan Anda dalam pandangan Allah, mendekatlah dalam iman kepada Yesus hari ini juga dan terimalah karunia pengampunan dari-Nya --Richard De Haan

2 Agustus 2003

Kesedihan Tuhan

Nats : Dan mereka menjauhkan para allah asing dari tengah-tengah mereka, lalu mereka beribadah kepada Tuhan. Maka Tuhan tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka (Hakim-hakim 10:16)
Bacaan : Hakim-hakim 10:6-16

Kitab Hakim-hakim dalam Perjanjian Lama memuat kisah menyedihkan tentang umat Allah yang terbelenggu dalam "lingkaran setan" pemberontakan, hukuman, pertobatan, dan pengampunan. Siklus ini terulang kembali setiap kali Allah selesai campur tangan. Apabila penderitaan datang menghampiri, barulah mereka berseru-seru kepada Allah: "Kata orang Israel kepada Tuhan, 'Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!'" (Hakim-hakim 10:15).

Dalam kitab Hakim-hakim disebutkan bahwa mereka enam kali berseru kepada Allah, dan Dia selalu datang menolong. Namun sesungguhnya Tuhan sendiri juga bersusah hati melihat umat-Nya menderita. Alkitab mencatat pernyataan yang luar biasa mengenai Allah yang Mahakuasa, "Maka Tuhan tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka" (ayat 16).

Penderitaan yang kita alami sebagai akibat pemberontakan rohani akan selalu membuat Tuhan bersedih hati. Seperti yang ditulis Nabi Yesaya, "Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka" (Yesaya 63:9).

Kesedihan Allah memuncak ketika Putra-Nya, Yesus Kristus, disalibkan dan mati untuk dosa-dosa kita. Kita tidak akan pernah bisa memahami betapa dalamnya kepedihan Allah ketika hubungan Bapa dan Putra terputus (Matius 27:46-50).

Marilah kita senantiasa mengingat bahwa Allah telah bersedih karena kita, bahkan saat kita memuji Dia atas mukjizat keselamatan yang diberikan kepada kita--David McCasland

9 Agustus 2003

Kepedihan di Kalvari

Nats : Tuhan telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6)
Bacaan : Matius 26:36-46

Sesudah membasuh kaki para murid-Nya dan merayakan Paskah bersama, Yesus mengajak mereka ke taman dan "mulailah Ia merasa sedih dan gentar" (Matius 26:37). Setelah membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes lebih jauh masuk ke taman, Dia berkata, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku" (ayat 38).

Kemudian Yesus maju sedikit dan "sujud". Kata-Nya, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (ayat 39). Dan Dia melakukan hal ini tiga kali (ayat 44).

Bagaimana kita dapat menjelaskan dalamnya kepedihan yang dialami Yesus? Hanya dengan memahami arti "cawan" yang Yesus minta agar diambil oleh Bapa. Dengan menerima cawan itu, Dia akan memikul "kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:6). "Cawan" itu dipenuhi oleh dosa-dosa dari semua makhluk di dunia.

Kepedihan hati di Getsemani memuncak di salib, dalam seruan-Nya yang menyayat hati: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Penderitaan fisik Yesus belum seberapa dibandingkan kepedihan terdalam yang sebenarnya terjadi di Kalvari. Di sana Yesus harus mengalami kenyataan yang sangat mengerikan karena ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Allah membuat Yesus "menjadi dosa karena kita" (2 Korintus 5:21), sehingga Bapa harus meninggalkan- Nya.

Pujilah Tuhan karena cinta-Nya yang besar bagi kita!--Herb Vander Lugt

27 Agustus 2003

Lebih dari Kontrak

Nats : Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris (Roma 8:16,17)
Bacaan : Roma 8:14-17

Kita semua sudah terbiasa dengan kontrak. Kita kerap kali harus menandatanganinya; saat mencapai kesepakatan bisnis, mengambil pinjaman bank, membeli mobil, menyewa apartemen, atau membeli peralatan besar. Kontrak, baik formal maupun tidak, memerinci apa yang terjadi jika salah satu pihak gagal memenuhi perjanjian.

Bagaimanapun, percaya kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan lebih dari sekadar menandatangani sebuah kontrak. Pada saat kita percaya, berarti kita masuk dalam hubungan yang mengikat dengan Allah, di mana Dia menjadikan kita anak-anak-Nya melalui kelahiran baru dan pengangkatan anak (1 Petrus 1:23; Efesus 1:5). Oleh karena adanya hubungan keluarga yang erat ini, kita menjadi pewaris tetap dari warisan kekal yang disediakan Allah bagi kita di surga (1 Petrus 1:4).

Kontrak dapat dibatalkan jika salah satu pihak gagal memenuhi janji yang telah disepakati. Namun untung bagi kita, akhir hidup kita dalam kekekalan didasarkan pada sesuatu yang lebih dari sekadar perjanjian yang sah dengan Allah. Kita berada pada posisi yang benar-benar aman karena hubungan kekeluargaan dengan-Nya. Jika seorang anak tidak hadir saat makan malam, bukan berarti kewajiban orangtua tidak berlaku lagi. Namun mereka akan mencari sang anak. Kelalaian seorang anggota keluarga tidak akan pernah memutus hubungan kekerabatan mereka.

Betapa kita sungguh bersyukur karena hidup yang kekal didasarkan pada hubungan kita dengan Allah melalui Kristus --Haddon Robinson

6 September 2003

Nama Yesus

Nats : Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21)
Bacaan : Filipi 2:5-11

Seandainya Anda diharuskan untuk memilih beberapa pribadi yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah, pria dan wanita yang telah mempengaruhi hidup jutaan jiwa, nama siapa sajakah yang akan masuk di dalam daftar Anda? Saya pikir satu nama yang pasti akan muncul dalam semua daftar kita adalah nama Yesus.

Reynolds Price menulis tentang "Yesus Orang Nazaret" dalam majalah Time (Desember, 1999). Ia menyatakan bahwa "sebuah argumen yang serius dapat dibuat, bahwa tak ada seorang pun yang dalam kehidupannya terbukti berkuasa dan tahan uji seperti Yesus". Maka, ketika Laki-laki yang dilahirkan di sebuah desa terpencil dua ribu tahun yang lalu itu menyatakan, "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12) dan "Perkataan-Ku tidak akan berlalu" (Lukas 21:33), Dia telah memprediksi bahwa sejarah akan membuktikan kebenaran perkataan-Nya.

Tak disangkal lagi, Yesus telah menjadi Pribadi yang paling berpengaruh di seluruh dunia. Namun, sudahkah Dia mempengaruhi kehidupan Anda secara pribadi? Apakah Anda menempatkan Dia sejajar dengan sosok berpengaruh lainnya, atau sudahkah Dia mengubah hidup Anda? Tidak seperti orang-orang penting lainnya yang akhirnya mati, dengan menakjubkan Yesus tetap hidup.

Apakah Yesus adalah Juruselamat dan pendamping tetap Anda? Jika Anda menjawab "bukan", Dia dapat menjadi Juruselamat dan pendamping tetap Anda. Panggillah nama-Nya dengan iman dan undanglah Dia untuk masuk ke dalam hidup Anda. Setelah itu, nama Yesus akan menjadi nama yang paling berharga bagi Anda --Vernon Grounds

9 September 2003

Hidup dengan Anugerah

Nats : Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (1Petrus 5:5)
Bacaan : 1Petrus 5:5-11

Kevin Rogers, seorang pendeta gereja di Kanada, telah mengumpamakan anugerah Allah sebagai sekretaris khayalan yang memaksanya untuk memperlakukan orang lain seperti yang Allah lakukan. Rogers menulis, "Grace (dalam bahasa Indonesia: Anugerah) adalah sekretaris saya, tetapi ia membuat saya tidak dapat memenuhi jadwal harian saya sendiri. Ia membiarkan orang asing masuk ruang kerja saya untuk mengusik pekerjaan saya. Entah bagaimana, ia membiarkan semua panggilan telepon tersambung ke saya, padahal saya lebih suka menerimanya pada waktu yang lebih tepat. Tidakkah ia tahu bahwa saya punya jadwal acara? Terkadang saya berharap sekretaris saya itu tidak berada di sini. Akan tetapi, ia punya cara yang menakjubkan dalam menutupi kesalahan saya dan mengubah kantor saya menjadi tempat yang kudus. Ia menemukan kebaikan dalam segala sesuatu, bahkan dalam kegagalan."

Oleh anugerah Allah, kasih dan kebaikan hati-Nya yang tak terbatas, kita telah diampuni di dalam Kristus. Allah berfirman, daripada menjalin relasi dengan sikap meninggikan diri, lebih baik kita mengutamakan orang lain daripada diri kita sendiri. Kita harus mengenakan pakaian kerendahan hati karena Dia "menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (1 Petrus 5:5).

Ketika "Allah sumber segala kasih karunia" (ayat 10) mengontrol hidup kita, Dia mampu mengubah gangguan jadi kesempatan, kesalahan jadi keberhasilan, kesombongan jadi kerendahan hati, dan kesengsaraan menjadi kekuatan. Itulah kuasa Allah yang menakjubkan. Itulah bukti anugerah-Nya! --David McCasland

12 September 2003

Bukan Supaya Jadi Baik

Nats : Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus (Roma 3:24)
Bacaan : Roma 3:21-28

Anda mempunyai dua tetangga terdekat, yaitu Ernestine Bawel dan George Ramah. Ernestine adalah seorang wanita berlidah tajam. Ia segera mengadu kepada Anda saat bola sepak anak-anak Anda nyasar ke halaman rumahnya. Sebaliknya, George, lelaki terbaik yang pernah Anda temui, selalu menunjukkan sikap bersahabat. Ia suka bermain bola dengan anak-anak Anda. Ia memberi Anda sayuran dari kebunnya, dan siap membantu kapan saja Anda membutuhkannya.

Tidakkah menyenangkan jika Bu Bawel suatu saat bersedia menjadi pengikut Kristus? Seandainya Allah bekerja dalam hidupnya, mungkin ia menjadi sebaik Pak Ramah. Sudah jelas bahwa ia butuh Tuhan, maka Anda berdoa untuknya. Tak pernah terpikir bahwa Anda juga perlu berdoa bagi Pak Ramah.

Namun, sadarkah kita ada yang salah dalam hal ini? Yesus mati di kayu salib bukan hanya untuk mengubah orang yang tidak baik menjadi baik. Setiap orang, yang baik maupun tidak baik, butuh keselamatan. Dia datang untuk membayar hukuman atas dosa-dosa kita melalui kematian-Nya yang penuh pengurbanan (Roma 5:6-8). Dia menawarkan pangampunan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya (3:28). Saat seseorang lahir baru, ia seharusnya menjadi orang yang lebih baik. Akan tetapi, bukan itu tujuan utama Tuhan menyelamatkan mereka.

Baik Bu Bawel maupun Pak Ramah membutuhkan Tuhan. Tanpa Dia, mereka terhilang dan membutuhkan penyelamatan-Nya (sama seperti Anda dan saya). Itulah alasan kedatangan Yesus, yaitu untuk menawarkan kepada kita kehidupan baru dari atas --Dave Egner

26 Oktober 2003

Rekening yang Besar

Nats : Kalau ia sudah merugikan engkau ataupun berutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku (Filemon 18)
Bacaan : Filemon 1

Ketika masih kecil, saya melihat Ayah menulis cek dan ingin menirunya. Saya tidak menyadari bahwa harus ada uang di rekening bank untuk dapat melakukannya.

Rasul Paulus tidak pernah menulis cek, namun ia memiliki rekening yang cukup jika sewaktu-waktu perlu membayar tagihan yang tak terduga. Ia menyebutkan hal ini di dalam suratnya kepada Filemon, seorang kristiani kaya, yang budaknya, Onesimus, telah melarikan diri dan mungkin telah mencuri sejumlah uang dari tuannya.

Dalam pemeliharaan Allah, Onesimus bertemu Paulus di Roma dan menjadi pengikut Kristus. Mereka berdua setuju, Onesimus harus kembali kepada tuannya. Paulus menulis surat kepada Filemon (surat atas namanya), dan memintanya untuk menerima Onesimus sebagai saudara. Paulus pun menjamin bahwa ia sendiri yang akan membayar segala utang Onesimus.

Itulah gambaran atas apa yang terjadi dalam penyelamatan. Sebagai orang yang kerap berbuat dosa, kita memiliki utang yang sangat besar. Namun, Yesus menanggung semuanya itu bagi kita. Karena hidup- Nya yang tanpa dosa, Dia memiliki sumber kebajikan yang tak terbatas. Dan dengan mati menggantikan kita, Dia membayar hukuman dosa kita. Kini kita dapat mengambil uang tebusan ini dengan iman. Sebagaimana dikatakan oleh Martin Luther, "Kita semua adalah Onesimus-Onesimus-Nya." Jika kita percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat, dosa-dosa kita dipindahkan ke dalam rekening-Nya dan kita bebas dari segala utang untuk selama-lamanya. Terpujilah Allah! --Dennis De Haan

14 November 2003

Perjalanan Ikan Salmon

Nats : Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28)
Bacaan : Matius 11:25-30

Ikan salmon membuat saya terpesona. Tiap Agustus saya berkendaraan beberapa kilometer ke utara dari rumah saya di Idaho. Saya mengamati perjalanan melelahkan mereka di akhir perjalanan menuju gundukan pasir di sepanjang Danau Creek. Saya selalu memikirkan perjalanan panjang mereka.

Beberapa bulan sebelumnya, kawanan itu meninggalkan Samudra Pasifik dan memulai perjalanan melewati Kolombia menuju Sungai Snake, kemudian berenang di sepanjang cabang Sungai Salmon menuju East Fork, lalu mengarungi arus Sungai Secesh menuju Danau Creek. Mereka menempuh jarak lebih dari 1.126 km.

Didorong naluri, mereka berenang menentang arus, melintasi air terjun, dan mengitari dam-dam pembangkit listrik. Meski menghadapi ancaman elang, beruang, dan banyak predator lainnya, mereka berjuang mencapai tempat yang biasa digunakan para leluhur mereka untuk menaruh telur-telur.

Perjalanan itu mengingatkan saya akan perjalanan manusia. Kita pun punya naluri untuk pulang. "Sebenarnya dalam pikiran manusia ada naluri alamiah untuk mencari Tuhan," kata John Calvin. Kita dilahirkan dan hidup untuk tujuan yang jelas, yaitu mengenal dan mengasihi Allah. Dia adalah sumber kehidupan kita, dan hati kita selalu gelisah sebelum datang kepada-Nya.

Apakah hari ini Anda gelisah karena terdorong ketidakpuasan dan kerinduan akan "sesuatu yang lebih", yang sukar dipahami? Yesus Kristus adalah sumber dan pemenuhan semua yang Anda cari. Datanglah kepada-Nya hari ini juga dan temukan ketenangan bagi jiwa Anda (Matius 11:28) --David Roper

26 November 2003

Dalam Hadirat-Nya

Nats : Maut telah ditelan dalam kemenangan (1Korintus 15:54)
Bacaan : 1 Korintus 15:50-58

Ketika jemaat di sekeliling saya menyanyikan bait terakhir lagu "Ajaib Benar Anugerah" (Amazing Grace), saya tidak mampu ikut bernyanyi bersama mereka. Saya justru menyeka air mata ketika membaca kata-kata John Newton, "Meski selaksa tahun lenyap di surga mulia, rasanya baru sekejap memuji nama-Nya." Saat itu saya tidak tertarik dengan 10.000 tahun (selaksa) di surga. Yang saya pikirkan hanyalah bahwa putri saya yang berusia 17 tahun telah berada di sana. Melissa, yang beberapa bulan kemudian akan masuk sekolah menengah atas, telah berada di surga. Ia telah mengalami kekekalan yang hanya dapat kita bicarakan dan nyanyikan.

Sejak Melissa meninggal karena kecelakaan mobil pada musim semi tahun 2002, surga memiliki arti baru bagi keluarga kami. Karena putri remaja kami yang cerdas dan cantik itu telah mempercayai Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, kami tahu ia telah berada di surga. Seperti yang dikatakan Paulus, "Maut telah ditelan dalam kemenangan" (1Korintus 15:54). Bagi kami, surga bahkan menjadi semakin nyata. Kami sadar bahwa ketika kami berbicara dengan Allah, kami sedang berbicara dengan Dia yang menerima Melissa kami di dalam hadirat-Nya.

Kenyataan tentang surga merupakan salah satu kebenaran Alkitab yang paling mulia. Surga merupakan tempat yang nyata di mana orang-orang yang kita kasihi hidup di dalam hadirat Allah yang Mahabesar. Di sana mereka selamanya melayani dan menyanyikan pujian-pujian untuk-Nya. Semua itu karena anugerah-Nya yang luar biasa! --Dave Branon

5 Februari 2004

Apakah Dia Peduli?

Nats : Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20)
Bacaan : Matius 6:25-34

Jika Anda merasa diri Anda tidak berarti di antara miliaran manusia di bumi ini, pertimbangkanlah hal berikut ini: Masing-masing Anda merupakan ciptaan Allah yang unik (Mazmur 139:13,14). Bahkan saudara kembar identik pun tidak ada yang persis sama. Tidak ada dan tidak akan pernah ada orang yang benar-benar serupa dengan Anda.

Yang lebih penting lagi, Allah menghargai Anda (Matius 6:26-30) dan telah berusaha keras untuk menunjukkan kasih-Nya. Alkitab mengatakan bahwa Putra-Nya, Yesus, sangat mengasihi Anda sehingga Dia rela memberikan hidup-Nya bagi Anda (Galatia 2:20).

Anda akan dianggap aneh bila bertanya kepada seorang ibu yang penuh kasih dan memiliki banyak anak, apakah ia rela menyerahkan salah satu anaknya. Sebagai contoh, Susannah Wesley memiliki 19 orang anak, dan dua di antaranya adalah John dan Charles yang memelopori kebangunan rohani pada abad ke-18 di negara Inggris. Jika Anda membaca surat-surat yang ditulisnya untuk setiap anaknya, Anda akan merasa kagum terhadap perhatian yang diberikannya kepada masing-masing anaknya yang memiliki pribadi dan permasalahan sendiri-sendiri. Susannah memperlakukan anak-anaknya seolah-olah setiap anak adalah satu-satunya anak dan keturunan yang ia miliki.

Demikianlah gambaran kepedulian Allah terhadap Anda. Jika Anda pernah meragukan apakah Dia menyadari keberadaan Anda serta peduli terhadap apa yang menimpa Anda, ingatlah pada yang telah dilakukan Yesus bagi Anda di kayu salib.

Sebesar itulah kasih-Nya bagi Anda --Vernon Grounds

24 Februari 2004

Persamaan Misterius

Nats : Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5:8)
Bacaan : Kolose 1:9-18

Profesor John Nash dari Universitas Princeton adalah seorang yang jenius dalam bidang matematika. Ia menghabiskan sepanjang hidupnya menekuni dunia angka yang abstrak, persamaan-persamaan -- dan khayalan. Padahal Nash menderita schizophrenia, yaitu penyakit mental yang dapat menyebabkan kelakuan aneh dan mengganggu hubungan dengan sesama. Dengan pertolongan medis dan kasih sayang istrinya, ia belajar untuk hidup dengan penyakitnya dan akhirnya memenangkan Hadiah Nobel.

Dalam film tentang kehidupannya, Nash berkata, "Saya selalu percaya pada angka, persamaan, dan logika yang mem-bawa pada jawaban .... Pencarian telah membawa saya melewati dunia fisik, metafisik, khayalan, dan kembali lagi. Dan saya telah membuat penemuan terpenting dalam hidup saya. Semua alasan yang logis hanya dapat terjawab dalam persamaan misterius tentang kasih."

Dalam Kolose 1, kita membaca "persamaan misterius tentang kasih" pada tingkat yang terdalam, yaitu kasih Allah bagi kita dalam Kristus. Yesus adalah gambaran Allah yang tak kelihatan, dan karena kasih, Dia telah menciptakan dan memelihara kita (ayat 16,17). Dia juga telah menyediakan kelepasan dari kuasa kegelapan (ayat 13) dan pengampunan bagi dosa-dosa kita (ayat 14). Tidaklah mengherankan jika Paulus berkata bahwa kasih seperti itu "melampaui segala pengetahuan" (Efesus 3:19). Kasih itu membawa kita melampaui akal menuju pengertian yang sesungguhnya tentang Allah (1Yohanes 4:16).

Kita harus hidup di dalamnya dan menunjukkan kasih itu, setiap saat --Dennis De Haan

23 April 2004

Badai Segera Datang!

Nats : Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27)
Bacaan : Amsal 1:20-33

Kami sedang berada dalam sebuah perahu kecil di seberang danau dan ikan-ikan sedang memangsa umpan pada kail kami, ketika kami mendengar bunyi gemuruh badai di kejauhan. Saat menengadah, kami melihat awan gelap bergumpal-gumpal di sebelah barat.

Saya mengabaikan usul bijak dari teman memancing saya agar kami segera kembali ke penginapan, karena saya masih ingin melanjutkan memancing. Kemudian hal itu terjadi! Tiba-tiba kami sudah terkungkung badai. Kami berusaha menyalakan mesin perahu, tapi gagal! Teman saya berusaha mendayung, tetapi hujan mengguyur kami dan ombak mengombang-ambingkan perahu kecil kami. Kami selamat, dan saya memetik sebuah pelajaran berharga. Jangan menunda jika badai mendekat.

Sebuah badai lain sedang mendekat, yaitu hari penghakiman. Mungkin hari itu tampak masih jauh, dan Anda merasa tak perlu buru-buru menyiapkan diri. Anda mungkin menikmati kesehatan yang baik dan berada di puncak kehidupan. Tetapi dengarlah, badai itu mungkin akan menghampiri Anda secara tak terduga.

Amsal 1 mengatakan bahwa bencana akan menghantam orang yang mengabaikan segala peringatan (ayat 27). Penulis kitab Ibrani memperingatkan, “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (9:27).

Mengindahkan peringatan Allah adalah perbuatan bijaksana. Sudahkah Anda mencari perlindungan dalam Kristus? Jika belum, ini adalah waktu untuk berhenti “memancing” dan mencari keselamatan sebelum terlambat. Berbaliklah dari segala dosa Anda kepada Kristus. Lakukanlah hari ini juga —M.R. De Haan, M.D.

10 Juni 2004

Cukup untuk Apa Saja

Nats : Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu ... berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (2 Korintus 9:8)
Bacaan : 2 Korintus 9:6-15

Randy, anak sulung kami, berangkat ke TK-nya dengan mengantongi sekeping uang 10 sen untuk membeli susu kotak sebagai tambahan makan siangnya. Sepulangnya dari sekolah siang itu, ibunya bertanya apakah ia telah membeli susu kotak. “Tidak,” jawabnya sambil menangis. “Susu kotak harganya lima keping sen, tetapi aku hanya punya satu keping uang sepuluh sen.”

Betapa sering saya menanggapi tuntutan yang dilimpahkan kepada saya dengan pemahaman yang kekanak-kanakan. Menurut firman Allah, saya memiliki semua sumber daya yang saya butuhkan untuk pelayanan saya. Sumber daya itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya, tetapi saya enggan bertindak karena takut kalau tidak cukup. Padahal, Alkitab meyakinkan saya bahwa Allah telah menyediakan berkat yang melimpah bagi saya. Oleh anugerah-Nya, saya memiliki segala sesuatu yang saya perlukan (2 Korintus 9:8).

Rasul Paulus tidak mengatakan bahwa kita memiliki cukup anugerah untuk melakukan segala sesuatu yang ingin kita lakukan. Allah tidak menawari kita cek kosong. Tidak, Paulus memberi jaminan bahwa kita memiliki cukup kasih karunia untuk melakukan apa pun yang diperintahkan Allah kepada kita -- mungkin untuk memberikan uang bagi perkabaran Injil seperti yang dilakukan jemaat Korintus (ayat 7), atau untuk mengasihi seorang remaja yang sulit diatur, pasangan yang acuh tak acuh, atau orangtua yang lanjut usia.

Apa pun tugasnya, Allah akan memastikan kita “berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (ayat 8) —David Roper

12 Juni 2004

Hanya untuk Pendosa

Nats : Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu ... pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8,9)
Bacaan : Efesus 2:1-10

Banyak orang nonkristiani tahu lagu pujian “Sangat Besar Anugerah-Nya” (Amazing Grace), tetapi banyak yang tak tahu arti anugerah. Suatu hari ketika penginjil D.L. Moody mempelajari arti anugerah Allah, ia berlari ke jalan dan berteriak kepada orang pertama yang ia jumpai, “Apakah Anda tahu grace [anugerah]?” Dengan bingung orang itu menyahut, “Grace siapa?” Tanpa ragu Moody lalu menjelaskan anugerah, yakni Allah berbelas kasih kepada orang berdosa dan dengan cuma-cuma menawarkan pengampunan dan hidup baru kepada mereka melalui iman dalam Kristus.

Saya mendengar tentang seorang pria yang hidupnya bermasalah dan meninggal tanpa memahami pesan anugerah Allah. Seorang pendeta berbicara kepadanya dan mendorongnya untuk ke gereja, tetapi jawabnya, “Saya sangat tidak layak.” Ia tak tahu bahwa anugerah Allah diberikan untuk orang yang tak layak menerimanya.

Dalam surat Paulus kepada jemaat Efesus, Paulus secara gamblang menggambarkan hidup pra-kristiani mereka bagaikan orang yang sudah “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (2:1). Kemudian ia menggunakan dua kata yang penuh pengharapan: tetapi Allah (ayat 4). Dua kata itu menunjukkan belas kasih dan anugerah Allah yang menyediakan pengampunan dan hidup baru melalui Kristus. Keselamatan didapat melalui iman, bukan usaha kita, jadi tak seorang pun dapat memegahkan diri (ayat 8,9).

Mari kita bantu orang lain memahami bahwa keselamatan Allah hanya untuk orang berdosa, termasuk kita. Itulah yang membuat anugerah Allah sangat besar! —Joanie Yoder

19 Agustus 2004

Kasih dan Kemuliaan

Nats : Kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela (Mazmur 84:12)
Bacaan : Mazmur 84:6-13

Di belakang rumah kami di Boise, Idaho, ada jalan setapak melingkar di sebuah taman tempat saya biasa berjalan-jalan. Bila saya memutarinya tiga kali, berarti saya telah berjalan sejauh satu mil.

Target saya tiga mil, tetapi saya mudah lupa jumlah putaran yang telah saya lewati. Maka setiap pagi saya memungut sembilan batu kecil dan mengantonginya. Setiap kali menyelesaikan satu putaran, saya membuang satu batu.

Saya selalu senang bila tinggal satu batu lagi di kantong. Langkah saya jadi lebih semangat. Saya pun mempercepat langkah.

Saya melihat perjalanan hidup saya memiliki banyak persamaan dengan jalan kaki yang saya lakukan setiap hari. Saya telah menjalani hidup selama tujuh puluh tahun, dan jarak yang harus saya tempuh tinggal sedikit lagi. Hal itu juga membuat saya berjalan lebih semangat.

Saya tidak tergesa-gesa untuk meninggalkan hidup ini, tetapi waktu hidup saya dalam tangan Allah. Ketika tubuh melemah menanggung beban bertahun-tahun, ada anugerah dari dalam yang menopang saya. Kini saya berjalan "semakin lama semakin kuat", dan pada saat yang tepat saya akan "menghadap Allah di Sion" (Mazmur 84:8). Itulah kemuliaan yang akan saya terima.

Tuhan kita memberikan "kasih dan kemuliaan", demikianlah kata pemazmur -- kasih untuk perjalanan hidup duniawi kita, dan kemuliaan ketika kita menyelesaikannya. "Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela" (ayat 12).

Apakah Anda membutuhkan kasih hari ini? Allah memberikannya dengan tangan terbuka. Anda tinggal menerimanya --David Roper

5 September 2004

Siapakah "setiap Orang" Itu?

Nats : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Bacaan : Yohanes 3:14-21

Henry Moorhouse suka sekali mengkhotbahkan Yohanes 3:16. Ketika membahas kata setiap orang, ia menekankan bahwa siapa saja termasuk di dalam kata itu. Menurutnya, istilah itu menyatakan dengan jelas bahwa semua orang dan setiap orang yang percaya kepada Kristus akan diselamatkan.

Ia merasa gembira karena yang tertulis dalam Yohanes 3:16 adalah kata setiap orang, bukan nama Henry Moorhouse. Jika nama itu tertera di sana, mungkin ia tidak yakin itu adalah namanya. Ia memberi penjelasan bagaimana ia dapat berkesimpulan seperti itu:

"Suatu kali saya membeli sebuah mesin ketik. Tetapi kemudian terjadi kekeliruan. Mesin ketik itu dikirim ke orang lain yang juga bernama Henry Moorhouse di alamat yang berbeda. Jika Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah mengasihi Henry Moorhouse, bisa jadi orang tersebut adalah Henry Moorhouse yang lain. Tetapi karena di sana dikatakan 'setiap orang', pasti tidak akan ada kesalahan!" Ia dapat merasa yakin bahwa ia termasuk di dalamnya.

Ya, setiap orang meliputi semua orang. Jika Anda telah beriman kepada Kristus, bersyukurlah kepada-Nya atas keselamatan Anda. Jika belum, berimanlah kepada Kristus saat ini juga dan terimalah karunia hidup kekal-Nya beserta semua berkat yang menyertainya, yakni pembebasan dari hukuman, pengampunan dosa, perdamaian dengan Allah, dan janji akan surga.

Siapakah yang termasuk dalam frase "setiap orang" itu? Saya. Anda. Semua orang dan siapa saja. Itulah "setiap orang"! --Richard De Haan

20 Oktober 2004

Hadiah Kasih Karunia

Nats : Kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya (2Korintus 8:9)
Bacaan : 2Korintus 8:7-15

Di sekolah menengah atas di Amerika Serikat, terpilih menjadi ratu pada acara temu-alumni merupakan penghargaan besar bagi setiap gadis. Namun ketika sebuah sekolah menengah atas di dekat Houston, Texas, memahkotai Shannon Jones, hal itu merupakan saat istimewa baginya dan bagi semua orang di komunitas tersebut. Shannon yang berusia sembilan belas tahun adalah atlet pemenang penghargaan dan anggota aktif dari kelompok pemuda di gerejanya. Ia menderita sindrom Down sejak lahir.

Shannon tahu bahwa pengalaman sekali-seumur-hidup ini adalah hadiah dari adik perempuannya, Lindsey, yang mengusulkan pemilihan dirinya. Ayah mereka berkata, "Saya sangat bangga dengan Lindsey. Mungkin jauh di lubuk hatinya, ini adalah sesuatu yang ia sendiri inginkan." Namun, ia membuat Shannon dapat mengalami hal ini.

Tindakan-tindakan kasih yang paling mengagumkan dari manusia hanyalah bayangan dari hadiah tak terukur yang telah diberikan oleh Juruselamat kita. Paulus menulis, "Kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya" (2 Korintus 8:9).

Kristus meninggalkan kemuliaan-Nya di surga dan mati di atas kayu salib bagi dosa kita agar kita dapat diampuni melalui iman kepada-Nya. Pengorbanan-Nya didasarkan atas kasih-Nya, bukan atas kebaikan kita. Keberadaan kita dan semua yang kita miliki merupakan hadiah kasih karunia yang penuh kasih dari Sang Juruselamat --David McCasland

7 November 2004

Perang Telah Usai!

Nats : [Yesus] datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat” (Efesus 2:17)
Bacaan : Ibrani 4

Konflik yang menyakitkan antara Utara dan Selatan akhirnya berakhir. Para tentara perang sipil Amerika Serikat memperoleh kebebasan untuk kembali kepada keluarga mereka. Namun sebagian dari mereka tetap bersembunyi dalam hutan, bertahan hidup dengan memakan buah berry. Sebagian dari mereka tidak tahu atau tidak percaya bahwa perang telah berakhir. Mereka terus mengalami situasi yang mengenaskan, padahal seharusnya mereka sudah bisa pulang ke rumah.

Demikian pula yang terjadi pada kehidupan rohani. Kristus telah memperdamaikan manusia dengan Allah, dengan mati menggantikan kita. Dia membayar hukuman dosa di kayu salib. Siapa saja yang menerima pengurbanan-Nya akan diampuni oleh Allah yang kudus.

Sayangnya, banyak orang menolak untuk percaya pada Injil dan tetap hidup sebagai “buronan” rohani. Bahkan kadang kala orang-orang yang telah percaya kepada Kristus tetap tinggal pada level rohani yang sama. Akibat kelalaian atau ketidakrelaan, mereka tidak memperoleh janji-janji dari firman Allah. Mereka tidak mengalami sukacita dan jaminan yang menyertai anugerah keselamatan. Mereka tidak mendapatkan kenyamanan dan kedamaian dari hubungan mereka dengan Allah. Padahal semua itu Dia sediakan bagi anak-anak-Nya. Mereka adalah sasaran kasih, perhatian, dan pemeliharaan Allah, tetapi mereka hidup seperti yatim piatu.

Pernahkah Anda hidup terpisah dari kenyamanan, kasih, dan perhatian Bapa surgawi Anda? Pulanglah ke rumah. Perang telah berakhir! —Richard De Haan

23 November 2004

Sebagaimana Adanya

Nats : Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barang siapa yang datang kepada-Ku, ia tidak akan kubuang (Yohanes 6:37)
Bacaan : Yohanes 6:35-40

Charlotte Elliot mendapat sebuah pelajaran penting tentang Yesus saat ia tak dapat tidur suatu malam, tahun 1834. Ia cacat, sehingga ketika keluarganya mengadakan bazar di Brighton, Inggris, dalam rangka menggalang dana untuk membangun sebuah sekolah, Charlotte hanya dapat menyaksikannya dari kejauhan.

Malam itu, karena sangat tertekan oleh ketidakberdayaannya, ia tidak bisa tidur. Namun, kesedihannya berubah menjadi sukacita ketika ia sadar bahwa Allah menerima dirinya apa adanya.

Pengalamannya tersebut mengilhamkan kata-kata indah berikut: “Sebagaimana adanya / Jiwaku sungguh bercela / Darah-Mulah pembasuhnya / Kudatang Tuhan, pada-Mu” (Just As I Am, terjemahan Yamuger 1983). Ketika ia menerbitkan syairnya tersebut dalam sebuah buku berjudul The Invalid’s Hymn Book, ia juga mengutip Yohanes 6:37.

Yesus selalu menerima setiap orang apa adanya. Dalam Yohanes pasal 6, banyak orang berbondong-bondong datang dari jauh untuk mendengar khotbah Yesus. Ketika mereka semua lapar, dengan mukjizat-Nya Yesus memberi mereka makanan dari pemberian tulus seorang anak laki-laki berupa lima roti dan dua ekor ikan. Lalu Tuhan juga menawarkan diri- Nya sebagai “Roti Kehidupan”, dan berjanji bahwa Dia tidak akan mengabaikan siapa pun yang datang kepada-Nya.

Demikian juga pada saat ini. Tidak seorang pun yang datang kepada Yesus akan diabaikan. Datanglah kepada-Nya dengan segala dosa yang ada pada diri Anda. Dia akan menerima Anda sebagaimana adanya —Dave Egner

24 November 2004

Bersyukur dan Mengingat

Nats : Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah (Ibrani 13:16)
Bacaan : Ibrani 13:1-16

Salah satu kolom surat kabar yang paling populer saat ini adalah “Dear Abby”. Kolom yang berisi nasihat ini dimulai oleh Abigail Van Buren pada tahun 1956, dan saat ini ditulis oleh anaknya Jeanne Phillips. Dalam edisi baru-baru ini, ia memasukkan Doa Ucapan Syukur yang ditulis oleh ibunya bertahun-tahun lalu:

Ya Bapa di surga

Kami berterima kasih untuk makanan kami

sambil mengingat orang yang lapar.

Kami berterima kasih untuk kesehatan kami

sambil mengingat orang yang sakit.

Kami berterima kasih untuk teman-teman kami

sambil mengingat orang yang kesepian.

Kami berterima kasih untuk kebebasan kami

sambil mengingat mereka yang diperbudak.

Semoga ingatan-ingatan ini

menggugah kami untuk melayani.

Semoga anugerah-Mu bagi kami

bermanfaat juga bagi orang lain. Amin.

Kata-kata dalam doa ini menggemakan ajaran Kitab Suci. Syukur kita kepada Allah seharusnya disertai ingatan akan orang-orang yang susah. “Sebab itu,” kata penulis kitab Ibrani, “marilah kita, oleh [Yesus], senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya” (Ibrani 13:15).

Namun, ada yang lebih penting daripada sekadar bersyukur. Kita harus bertindak setelah bersyukur. “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah” (ayat 16). Syukuri semua berkat Allah, dan ingat juga mereka yang kekurangan —David McCasland

1 Desember 2004

Bebek Mati

Nats : Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Roma 7:15)
Bacaan : Roma 7:14-26

Bertahun-tahun silam seorang pria kaya berburu bebek dengan seorang upahan bernama Sam. Mereka menggunakan kuda dan kereta. Di tengah jalan, salah satu pelek bannya terlepas. Ketika Sam memaku pelek itu ke roda, tak sengaja jarinya terpukul. Ia langsung mengumpat kasar. Tetapi ia segera bersujud mohon pengampunan Allah. “Tuhan, kerap kali begitu sulit menjalani kehidupan kristiani,” doanya.

“Sam,” ujar pria itu, “aku tahu kau seorang kristiani, tapi katakan padaku mengapa kau harus berjuang begitu keras dalam hidup kristianimu. Aku orang ateis, dan tidak mempunyai masalah seperti itu.”

Sam tak tahu harus menanggapi bagaimana. Sesaat kemudian ada dua bebek terbang di atasnya. Pria itu mengangkat senjatanya dan meletupkan dua tembakan. “Tinggalkan bebek yang mati dan kejar yang terluka!” teriaknya. Sam menunjuk bebek yang sedang mengepak- ngepakkan sayap dengan putus asa hendak melarikan diri sambil berkata, “Saya sudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaan Anda. Anda mengatakan bahwa kekristenan saya tidak efektif karena saya harus berjuang sedemikian rupa. Ya, saya adalah bebek yang luka itu, dan saya berjuang untuk melepaskan diri dari Iblis. Tapi, Pak, Anda bagaikan bebek yang sudah mati!”

Pemahaman ini sesuai dengan gambaran Paulus tentang peng-alaman kristianinya dalam Roma 7:14-26. Perjuangan adalah bukti bahwa Allah bekerja dalam kehidupan kita. Pengampunan sudah tersedia, jadi jangan putus asa. Ingat, bebek yang mati tidak akan me-ngepakkan sayapnya —Dennis De Haan

11 Desember 2004

Selingan Menyenangkan

Nats : Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (Roma 12:2)
Bacaan : Roma 11:33-12:2

Teman saya mencari gereja untuk beribadah. Lalu ia mengatakan bahwa ia telah menemukan gereja yang ia inginkan, “Saya menyukai gereja ini karena tak harus mengubah gaya hidup saya yang suka berpesta pora. Gereja ini tak membuat saya merasa bersalah atau menuntut apa pun dari diri saya. Saya puas dengan diri saya ketika berada di sana.”

Ceritanya itu membuat saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang berada di situasi semacam itu. “Kekristenan” mereka disebut penulis W. Waldo Beach sebagai “selingan akhir pekan yang menyenangkan”.

Namun, apakah Yesus memanggil kita untuk hidup seperti itu? Beach berkata, “Tak ada AC dan bangku gereja yang empuk di gereja pinggiran kota yang dapat menutupi kebenaran bahwa ... menjadi murid Kristus itu menuntut harga; bahwa bagi pengikut yang setia, selalu ada salib yang harus dipikul. Tak seorang pun dapat memahami kekristenan secara mendalam bila hendak masuk ke dalamnya hanya untuk menikmatinya sebagai selingan akhir pekan yang menyenangkan.”

Menjadi orang kristiani berarti mengenal Yesus secara pribadi. Kita telah menerima-Nya dengan iman sebagai Juruselamat dari dosa, dan kita memberi diri untuk-Nya. Kita menyangkal kehendak kita dan memilih kehendak-Nya. Dia mengubah cara berpikir, nilai-nilai, dan prioritas kita untuk mencerminkan apa yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1,2).

Apakah agama Anda hanya suatu selingan akhir pekan yang menyenangkan? Tak ada yang dapat menggantikan hubungan kita yang sangat penting dengan Yesus! —Anne Cetas

14 Desember 2004

Percaya Itu Yakin Penuh

Nats : Aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16)
Bacaan : Roma 5:1-11

Terkadang saya bertemu orang-orang yang sadar bahwa mereka memiliki kebutuhan rohani, namun enggan berkomitmen secara pribadi kepada Kristus. Meski telah menyaksikan betapa iman di dalam Kristus telah bekerja pada diri orang lain, mereka dibingungkan oleh nasihat yang mereka terima dari beberapa jemaat yang baik.

Seorang pria mengatakan bahwa ia mendapat nasihat untuk bergabung dengan sebuah gereja tertentu supaya diselamatkan. Ia diberi tahu seorang yang lain lagi bahwa ia harus dibaptis di sebuah gereja tertentu. Ada lagi yang mengatakan secara samar mengenai perlunya usaha untuk menaati Khotbah di Bukit. Salah seorang temannya menyatakan ia perlu mengalami suatu periode penderitaan yang mendalam karena dosa sebelum mengharapkan Allah menyelamatkannya.

Sebenarnya, saya tidak menyalahkan bila pria bingung itu berkata kepada saya, “Saya tidak mau membaca pamflet atau traktat apa pun. Tunjukkan kepada saya melalui Alkitab bagaimana saya dapat diselamatkan.” Kami pun mulai membaca bacaan Alkitab di surat Roma dan mendiskusikannya. Ketika kami membaca pasal lima, ia berkata, “Sekarang saya mengerti. Yang saya butuhkan hanyalah menaruh keyakinan saya sepenuhnya kepada Yesus Kristus.” Ia menerima Kristus dan memperoleh damai sejahtera.

Kita memiliki iman yang menyelamatkan bila memercayai apa kata Alkitab tentang kita dan tentang Yesus Kristus. Lalu kita merespons kebenaran itu dengan menaruh keyakinan penuh kepada-Nya.

Jika Anda belum melakukannya, letakkanlah keyakinan Anda sepenuhnya kepada Yesus sekarang —Herb Vander Lugt

23 Desember 2004

Merayakan Bayi

Nats : Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (Lukas 2:11)
Bacaan : Lukas 2:8-14

Mengapa kita merayakan ulang ta-hun Yesus dengan cara yang sangat berbeda dengan ulang tahun orang-orang lain? Ketika tiba saatnya untuk menghormati tokoh bersejarah dengan hari yang dikhususkan baginya, kita tidak menganggap mereka sebagai bayi. Kita tidak memajang gambar Abraham Lincoln kecil yang lucu di rumahnya di Kentucky. Ya, kita mengenang Lincoln karena sumbangannya ketika ia sudah menjadi orang dewasa.

Akan tetapi, kita layak merayakan Yesus sebagai bayi. Coba pikirkan tentang hal ini. Ketika Dia dilahirkan, para gembala datang untuk menyembah-Nya (Lukas 2:15,16). Kemudian, para bijak dari Timur memberi-Nya persembahan (Matius 2:8-12). Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Yesus setelah dewasa. Tetapi tindakan mereka sudah tepat, karena kelahiran Yesus merupakan kejadian yang paling luar biasa dalam sejarah manusia.

Betapa mengagumkan! Allah dalam rupa manusia. Pencipta alam semesta mengunjungi planet ini. Janganlah ada keraguan un-tuk merayakan bayi ini pada Natal kali ini. Kagumilah kelahiran-Nya. Terpesonalah pada bayi mungil yang telah menciptakan umat-Nya. Kemudian mundurlah dalam rasa takjub, karena kisah ini menjadi semakin mengagumkan. Bayi ini kemudian tumbuh dewasa, menjalani kehidupan yang sempurna, dan rela mati untuk menebus dosa-dosa Anda dan saya.

Rayakanlah bayi ini dan percayalah kepada Sang Juruselamat. Begitulah cara untuk membuat perayaan Natal menjadi lengkap —Dave Branon

23 Februari 2005

Etika Kabar Baik

Nats : Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja (2 Raja-raja 7:9)
Bacaan : 2 Raja-raja 7:3-9

Apabila seorang ilmuwan berhasil menemukan obat kanker, kita pasti mengharapkan obat tersebut disebarkan ke seluruh dunia. Etika dasar menuntut agar kabar baik tidak disimpan sebagai rahasia.

Ketika raja Siria mengepung kota Samaria, persediaan makanan dihentikan. Dan empat laki-laki penderita kusta memutuskan bahwa mereka lebih baik mati di tangan bangsa Siria daripada harus mati menahan lapar. Mereka pun akhirnya menyerahkan diri kepada musuh. Akan tetapi, ketika mereka tiba di perkemahan musuh, ternyata tidak ada orang di sana. Rupanya pasukan musuh sudah melarikan diri di malam hari.

Makanan tersebar di mana-mana. Keempat orang itu makan dan minum serta mengumpulkan barangbarang bagi diri mereka sendiri. Mereka sebenarnya tergoda untuk merahasiakan kabar baik ini. Tetapi kemudian mereka ingat terhadap penduduk Samaria yang kelaparan. Mereka berkata satu kepada yang lain, “Tidak patut yang kita lakukan ini” (2 Raja-raja 7:9). Maka mereka pun menjadi penginjil, yaitu pembawa kabar baik. Pada akhirnya, inti penginjilan adalah: satu orang yang kelaparan memberitahukan kepada orang kelaparan yang lain di mana dapat menemukan makanan.

Anda dan saya sudah menemukan bahwa keselamatan itu ada di dalam Yesus Kristus. Menyimpan kebenaran ini bagi diri sendiri merupakan pelanggaran terhadap integritas dasar. Jika kita sudah menemukan obat bagi hati nurani yang bersalah, jika kita telah menemukan makanan kehidupan, kita wajib membagikannya kepada orang lain —Haddon Robinson

25 Februari 2005

Pengelolaan Amarah

Nats : Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? (Yakobus 4:1)
Bacaan : Yakobus 4:1-6

Di Yakobus 4, penulis memotong akar salah satu persoalan kita yang terdalam: tenggelam dalam hawa nafsu kita sendiri—sesuai cara kita sendiri dan menuntut kebutuhan kita terpenuhi. Jika tidak dituruti, hawa nafsu bisa meledak menjadi kemarahan yang merendahkan orang lain dan diri sendiri. Meskipun kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita merasa tidak puas.

Karena itu, lebih baik memohon kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan kita lewat uluran tangan-Nya, menurut waktu-Nya, dan dengan cara- Nya. Lebih baik menyerahkan kehendak kita dalam kendali Allah, dan berdoa seperti Yesus, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendakMulah yang terjadi” (Lukas 22:42).

Tidak baik berpikir terus tentang ketidakadilan, mengatur segala sesuatu menurut rencana kita sendiri, atau membiarkan hawa nafsu menentukan keputusan-keputusan kita. Mencari kesenangan dengan menuruti hawa nafsu akan menimbulkan “sengketa dan pertengkaran” di dalam diri kita dan dengan orang-orang di sekitar kita (Yakobus 4:1).

Sebelum kemarahan kita memuncak, kita dapat undur sejenak dan berjalan bersama Dia yang jauh lebih memahami diri kita daripada diri kita sendiri, yang memedulikan kita lebih daripada yang kita sadari. Kita dapat menceritakan kemarahan kita kepada-Nya dan memikirkan berbagai hal bersama-Nya.

Kita dapat memohon kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan kita menurut cara-Nya. Yakobus menulis, Dia memberikan “kasih karunia ... lebih besar daripada itu” (ayat 6), kasih karunia yang jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa kita bayangkan —David Roper

5 Maret 2005

Tanaman Anugerah

Nats : Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad (Yesaya 55:13)
Bacaan : Yesaya 55:6-13

Bacaan hari ini menyatakan bahwa Allah menumbuhkan pohon sanobar dan pohon murad di tempat semak duri serta kecubung pernah tumbuh memenuhi tanah. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa Allah dapat menumbuhkan keindahan dan kebaikan di mana pernah tumbuh kejahatan.

Di mana sinisme pernah tumbuh, di situ juga pengharapan dan optimisme dapat muncul. Di mana sarkasme tumbuh dengan subur, di situ dapat muncul perkataan lembut yang menyembuhkan. Di mana keserakahan pernah tumbuh merajalela dan tak terkendalikan, di situ dapat bersemi kasih murni. Ini—kehidupan yang diubahkan—adalah tanda yang hidup dan kekal dari pekerjaan Allah, suatu tanda peringatan yang didambakan-Nya (Yesaya 55:13).

Apakah Anda merindukan perubahan seperti ini dalam hidup Anda? Maka "Carilah Tuhan selama Dia berkenan ditemui" (ayat 6). Terkadang kita letih oleh kejahatan di dalam diri kita, dan hati kita tersiksa karena merindukan kekudusan. Inilah panggilan Allah yang mengingatkan kita bahwa Dia dekat dengan kita. Di saat-saat seperti itu, kita perlu menancapkan akar kita sedalam-dalamnya pada firman Allah dan memohon agar Dia membentuk kita menjadi serupa dengan-Nya. Dia berkata bahwa "seperti hujan dan salju turun dari langit, dan ... mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan ... demikianlah firman-[Nya] yang keluar dari mulut-[Nya]" (ayat 10,11).

Carilah Tuhan selama Dia berkenan ditemui. Tanaman anugerah dapat menggantikan semak duri dari tabiat kita yang penuh dosa –DHR

23 April 2005

Allah Mampu

Nats : Jika seorang tidak dilahirkan dari ... Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yohanes 3:5)
Bacaan : Yohanes 3:1-16

Pendeta Craig sedang bercakap-cakap dengan serius di sebuah klub kesehatan dengan seorang teman bernama Jacob. Percakapan itu dimulai setelah Jacob menaiki sepeda olahraga yang berada di sebelahnya. Craig bertanya, "Apakah Anda akan menonton film The Passion of the Christ?" "Tidak!" jawab Jacob dengan cepat. Sementara kedua pria tersebut mengayuh sepeda bersebelahan, mereka pun berdiskusi selama setengah jam mengenai tujuan kematian Yesus. Pada saat mereka berpisah, Jacob berkata, "Saya tetap tidak akan menonton film itu."

Craig merasa frustrasi menghadapi kenyataan itu. Tidak ada hal lain yang dapat membuatnya senang selain melihat Jacob membuka hatinya untuk Kristus. Akan tetapi, ternyata tidak ada tanda-tanda bahwa Jacob akan tergerak untuk melakukan hal itu.

Sebagai orang yang percaya kepada Yesus, kita kadang kala merasa frustrasi saat orang lain menolak untuk percaya kepada-Nya. Jika hal itu terjadi, kita harus ingat bahwa peran kita adalah menaati perintah untuk memberitakan tentang Kristus kepada orang lain; pekerjaan Roh Kudus adalah menyadarkan dan menyelamatkan mereka. Orang-orang perlu dilahirkan dari Roh (Yohanes 3:5,7); kita tidak dapat membuat mereka percaya ataupun menebus mereka. Dialah yang menyadarkan seseorang akan dosa, mengampuni, dan memberikan hidup baru dari surga. Kita tidak mampu berbuat lebih banyak—kecuali berdoa.

Marilah kita bersaksi dengan setia dan berdoa, dan biarlah Allah yang melakukan mukjizat keselamatan —DCE

5 Mei 2005

Hanya Satu Pintu

Nats : Akulah pintu; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat (Yohanes 10:9)
Bacaan : Yohanes 10:7-10

Seorang ahli Perjanjian Lama bernama Sir George Adam Smith mengatakan bahwa ketika ia mengunjungi Tanah Suci, ia melihat seorang gembala dan dombanya berdiri di depan benteng. Tidak ada pintu terlihat di sana. Di situ yang tampak hanyalah sebuah lubang sebesar tubuh manusia.

Smith kemudian bertanya kepada gembala tersebut mengapa di sana tidak ada pintu. Gembala itu menjelaskan, "Sayalah jalan masuknya. Saya berdiri di lubang itu, dan domba lewat di bawah saya memasuki benteng. Apabila mereka semua sudah berada di dalam dengan aman, maka saya akan berbaring melintang pada lubang itu. Tidak akan ada pencuri yang dapat masuk dan juga tidak ada domba yang bisa keluar kecuali melewati tubuh saya. Sayalah jalan masuknya."

Kita seperti domba yang memerlukan Gembala (1 Petrus 2:25). Untuk jalan masuk ke surga, tempat kebahagiaan kekal, Yesus memberikan pernyataan yang mengagumkan ini: "Akulah pintu ke domba-domba itu .... barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat" (Yohanes 10:7-9). Orang-orang yang mendengar-Nya pada saat itu tidak membayangkan pintu dari kayu yang tergantung pada engsel. Mereka memahami bahwa Dia benar-benar mengatakan, "Akulah jalan masuk ke rumah Allah." Dia dapat mengklaim diri-Nya sebagai jalan menuju kebahagiaan kekal, jalan khusus menuju kemuliaan Allah, karena Dialah Putra Allah.

Yesus merupakan satu-satunya jalan menuju surga (Yohanes 14:6). Kita dapat masuk ke sana hanya jika meletakkan iman kepada-Nya —VCG

9 Juli 2005

Tak Ada Kabar Buruk

Nats : Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28)
Bacaan : Ester 1:1-9

Ketidaksediaan mendengar kabar buruk telah terbukti mengakibatkan hal-hal lebih buruk. Mulai dari bencana pesawat ulang alik, kebangkrutan perusahaan, hingga tersebar luasnya terorisme. Tak perlu mengadakan penelitian panjang untuk menentukan mengapa hal ini terjadi. Berita buruk itu menyingkapkan masalah; masalah memerlukan pemecahan; pemecahan masalah memerlukan waktu, uang, dan tenaga yang lebih baik kita gunakan untuk merayakan kesuksesan masa lampau.

Ini bukan hal baru di zaman kita. Pada abad kelima sebelum Masehi, Raja Ahasyweros dari Persia tak mengizinkan orang-orang berkabung memasuki gerbangnya (Ester 4:1,2). Seorang penafsir Alkitab memberi kesan bahwa raja itu lebih senang dikelilingi orang-orang yang kagum dengan kekayaannya dan senang sekali hadir dalam pesta yang mewah (1:4). Keengganannya untuk diganggu oleh berita buruk hampir saja mengakibatkan pemusnahan orang Ibrani.

Kepemimpinan Yesus bertentangan dengan kepemimpinan Ahasyweros. Dia berkata, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28). Ahasyweros memerintah kerajaan dengan mengizinkan orang-orang yang gembira memasuki istananya. Sedangkan Yesus membangun kerajaan-Nya dengan menyambut orang-orang yang berbeban berat dan sedih untuk memasuki hadirat-Nya. Lebih lagi, Yesus tidak saja mengundang kita untuk menyampaikan hal buruk tentang diri kita, tetapi Dia juga memiliki kemauan dan kuasa untuk mengubah keadaan kita yang terburuk menjadi perayaan yang penuh puji-pujian JAL

13 Juli 2005

Pertanyaan Bagus

Nats : Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat? Jawab mereka, Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat (Kisah 16:30,31)
Bacaan : Kisah 16:16-34

Menemukan pertanyaan yang tepat sama pentingnya dengan menemukan jawaban yang tepat, kata Henri Nouwen, seorang penulis buku-buku devosional. Namun, kerap kali begitu mudahnya kita mendahului Roh Allah ketika berbicara mengenai Kristus kepada orang yang belum percaya. Kita sudah memberikan jawaban, padahal kita belum mendengarkan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Kecenderungan ini diperjelas beberapa tahun silam pada saat seseorang menulis Kristus adalah jawaban! dengan tulisan cakar ayam di dinding sebuah bangunan. Seseorang yang sinis lewat dan menambahkan kata-kata: Apa pertanyaannya?

Paulus dan Silas, yang dijebloskan ke penjara karena Injil, membangkitkan pertanyaan rohani yang mendalam di hati kepala penjara. Pertanyaan itu muncul bukan karena mereka menyampaikan khotbah pada orang itu, melainkan karena mereka menyanyikan pujian bagi Allah. Ketika gempa bumi mengakibatkan pintu-pintu penjara terbuka dan memutuskan rantai-rantai mereka, kepala penjara itu hampir saja bunuh diri. Ia takut dihukum mati jika para tawanan melarikan diri. Namun Paulus dan Silas menghentikan tindakan kepala penjara itu dengan memilih untuk tetap tinggal di penjara demi kepentingan kepala penjara tersebut. Karena itulah, ia berteriak, Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?

Pada hari ini, sama seperti dahulu, Roh Kudus akan menciptakan pertanyaan yang tepat di dalam hati manusia dan membuat mereka siap untuk memberikan jawaban yang tepat, yaitu Yesus Kristus JEY

14 Juli 2005

Dari Terbenam Hingga Terbit

Nats : Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya untuk satu kali saja ... demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang (Ibrani 9:27,28)
Bacaan : Ibrani 9:24-28

Kariel sedang dalam perjalanan pulang dari acara anak-anak di gereja dengan teman-teman yang juga tetangganya. Sambil mengagumi matahari terbenam, ia berkata pada Gini, sang pengemudi, Matahari yang terbenam itu indah sekali, seperti surga! Lalu Gini bertanya, Kamu tahu cara masuk surga? Kariel, yang baru berumur 5 tahun, menjawab dengan yakin, Anda harus memiliki Yesus sebagai Juruselamatdan aku memiliki-Nya! Kemudian ia mulai bertanya kepada teman-temannya di dalam mobil itu, apakah mereka juga mengenal Yesus.

Pada sore yang sama, Chantel, kakak perempuan Kariel yang berusia 13 tahun sedang berada di gereja lain, ketika seseorang bertanya apakah ia mengenal Yesus sebagai Juruselamat. Ia berkata bahwa ia mengenal-Nya sebagai Juruselamat.

Pada dini hari berikutnya, api yang berkobar melalap habis rumah Kariel dan Chantel, dan keduanya meninggal secara mengenaskan. Saat matahari terbit, mereka sudah berada di surga bersama Yesus.

Tak ada yang tahu akan hari esok. Pertanyaan yang sangat penting adalah: Sudahkah kita mengakui kebutuhan kita akan pengampunan Allah atas dosa kita dan memercayai Yesus sebagai Juruselamat? (Roma 3:23; Yohanes 1:12). Dosa telah memisahkan kita dari Allah dan kita seharusnya dihakimi, namun Yesus memberikan hidup-Nya untuk menggantikan kita (Ibrani 9:27,28).

Pastikan Anda telah memiliki keyakinan seperti Chantel dan Kariel. Kemudian, ketika Anda meninggal nanti, Anda akan bersama dengan Yesus AMC

27 Juli 2005

Terjebak!

Nats : Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29)
Bacaan : Matius 11:25-30

Seorang pria New York penjual buku dan majalah di jalanan dikeluarkan dari bawah tumpukan kertas di apartemennya setelah dua hari terjebak di sana. Koleksi surat kabar tua milik pria itu, yang ditumpuk di sepanjang dinding dan dari lantai hingga langit-langit, ambruk serta menguburnya hidup-hidup. Para petugas gawat darurat mengisi tumpukan kertas itu ke dalam 50 kantung plastik saat mereka menggali reruntuhan itu untuk menggapainya.

Kita tak memerlukan tumpukan surat kabar tua setinggi Gunung Everest untuk mengetahui bagaimana rasanya terjebak di bawah desakan pekerjaan kita dan tuntutan kerohanian. Namun, pandangan sekilas pada Juruselamat kita akan mengungkapkan ketenangan yang dalam pada diri-Nya. Dalam buku Tyranny of the Urgent, Charles E. Hummel menulis: Penantian dalam doa yang dilakukan Yesus untuk menantikan petunjuk dari Allah ... memberi-Nya pengertian akan arah, mempersiapkan langkah yang mantap, dan membuat Dia sanggup melakukan setiap tugas yang diberikan Allah.

Yesus mengundang orang yang letih lesu untuk datang kepada-Nya. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Matius 11:29).

Ketenangan yang datang bersama dengan keselamatan tidak dapat dicapai dengan usaha, namun harus diterima dengan iman. Di dalam Kristus kita juga dapat terlepas dari tirani urgensi yang membelenggu dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan-Nya untuk dikerjakan DCM

22 Oktober 2005

Itu Pilihan Anda

Nats : Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah (Yosua 24:15)
Bacaan : Yosua 24:1-15

Ketika Yosua hampir mendekati akhir masa hidupnya, ia mengumpulkan semua suku bangsa Israel di Sikhem. Dan di sana, dari bibir orang yang hampir mendekati ajal, muncullah suatu seruan yang telah menggerakkan hati banyak orang selama berabad-abad lamanya. Pada kesempatan itu Yosua berkata demikian, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yosua 24:15).

Tantangan yang diucapkan oleh Yosua ini, apabila dilihat dari sudut pandang Perjanjian Baru, akan menyatakan tiga pelajaran yang penting berkaitan dengan keselamatan kita. Pelajaran yang pertama adalah, kita harus membuat pilihan antara Allah dan setan. Apabila kita menolak Kristus, maka otomatis kita akan berada di pihak setan. Yesus pernah berkata, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku” (Matius 12: 30).

Kedua, pilihan ini merupakan keputusan pribadi. Yosua mengatakan, “Pilihlah … kepada siapa kamu akan beribadah.” Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita bisa dilahirkan kembali dan menjadi anak Allah. Tetapi kita sendiri harus mengambil keputusan secara pribadi untuk percaya.

Ketiga, terdapat desakan di dalam seruan ini. “Pilihlah pada hari ini”, bukan bulan depan, bukan seminggu dari hari ini, bukan besok, tetapi hari ini.

Apakah Anda sudah mengambil keputusan yang sangat penting ini? Apakah Anda memercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat? Jika belum, lakukanlah sekarang! Ingat, pilihan berada di tangan Anda -RWD

26 November 2005

Manakah Tujuan Kematian?

Nats : Sengat maut ialah dosa …. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Korintus 15:56,57)
Bacaan : 1Korintus 15:12-26

Pada tahun 410M, bangsa barbar dari Jerman yang dikenal sebagai bangsa Gotik menjarah kota Roma. Selama penyerbuan itu, banyak orang kristiani dibunuh secara sadis dan kejam.

Di tengah-tengah tragedi ini, ahli teologi ternama Agustinus (354-430) menulis buku klasiknya, The City of God [Kota Allah]. Pikiran-pikirannya masih segar hingga kini, walaupun sudah hampir berusia 16 abad.

Agustinus menulis, “Akhir dari kehidupan ini menyejajarkan kehidupan terlama dengan kehidupan tersingkat …. Kematian menjadi jahat hanya karena hukuman setimpal yang mengikutinya. Karena itu, mereka yang ditentukan untuk mati tidak perlu bertanya tentang kematian macam apa yang akan mereka jalani, tetapi ke mana kematian itu akan mengantar mereka.”

Bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, kematian bukanlah seperti polisi yang menyeret kita ke pengadilan, melainkan seperti hamba yang mengantar kita untuk memasuki hadirat Tuhan yang penuh kasih. Rasul Paulus memahami hal ini. Ia memandang kehidupan dan kematian dari perspektif Kristus. Karena ia mengetahui ke mana kematian akan membawanya, maka ia dengan berani menyatakan, “Maut telah ditelan dalam kemenangan” (1 Korintus 15:54).

Setiap orang kristiani dapat memiliki keberanian yang sama. Karena kematian dan kebangkitan Kristus, kita yang menaruh iman di dalam Dia dapat memandang kematian bukan sebagai sebuah titik, melainkan sebuah koma yang mendahului kemuliaan kekal bersama Tuhan kita -HWR

27 November 2005

Kasih Karunia yang Luar Biasa

Nats : Dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Roma 5:20)
Bacaan : Efesus 2:1-10

Pada tahun 1700-an, John Newton pergi berlayar bersama ayahnya dengan sebuah kapal dagang. Tak lama setelah ayahnya pensiun, Newton terpaksa bekerja di sebuah kapal perang. Akan tetapi, karena menghadapi kondisi yang tak tertahankan, ia pun melarikan diri, kemudian memohon agar dipindahkan ke sebuah kapal budak yang akan segera berlayar ke Afrika.

Kemudian, Newton tanpa perasaan melakukan perdagangan manusia, dan akhirnya ia menjadi kapten kapal budaknya sendiri. Akan tetapi, pada tanggal 10 Mei 1748, hidupnya mengalami perubahan untuk selamanya. Kapalnya mengalami badai yang hebat dan menakutkan. Ketika kapal itu hampir tenggelam, Newton berteriak keras-keras, “Tuhan, kasihanilah kami!”

Pada malam itu di kabinnya, ia mulai merenungkan belas kasih Allah. Melalui iman akan pengurbanan Kristus untuknya, John Newton dapat mengalami kasih karunia Allah yang luar biasa secara pribadi. Akhirnya, ia pun meninggalkan bisnis perdagangan budak dan memasuki pelayanan kristiani. Meskipun ia menjadi seorang pengkhotbah Injil, ia kemudian justru lebih dikenang karena kidung pujiannya yang disukai begitu banyak orang, yaitu lagu Amazing Grace. Lagu ini merupakan kesaksian menakjubkan dari pengalamannya sendiri.

Roh Allah menunjukkan dosa kita dan memberi kita kuasa untuk melepaskannya. Apabila kita menerima Kristus sebagai Juru Selamat, maka Dia melakukan bagi kita hal-hal yang tidak dapat kita lakukan dengan kekuatan sendiri. Itulah kasih karunia yang luar biasa -HDF

30 November 2005

Kasih Karunia yang Lebih Besar

Nats : Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus (Roma 3:23,24)
Bacaan : Roma 3:21-30

Pada suatu pagi, ketika cucu kami Julia masih kecil, ia dan neneknya membaca Alkitab bersama. Mereka sampai pada ayat yang sudah sering dibaca, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

Tiba-tiba Julia melompat dari sofa dan berlari untuk mengambil Alkitab versi King James yang sudah tua dan banyak coretan, milik ayah saya yang saya simpan di rak kantor saya. Saya pernah menunjukkan Alkitab itu kepadanya pada suatu pagi. “Alkitab ini sangat tua,” saya memberitahunya dengan serius.

Ia memegang Alkitab kuno itu dan berlari kembali menghampiri neneknya, dengan sangat senang ia membuka Roma 3:23, dan membacakannya, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

“Ya,” katanya dengan penuh kemenangan, “Alkitab ini juga menyatakan hal yang sama!”

Dosa telah bersama kita sejak dahulu kala dan akan terus bersama kita selama kita hidup di bumi. Tetapi ada yang lebih tua dari dosa-sesuatu yang hidup lebih lama darinya. Menurut penulis pujian Julia Johnston, hal itu adalah “kasih karunia ajaib dari kasih Tuhan kita, anugerah yang melampaui dosa dan kesalahan kita!” Akhir pujian itu berbunyi, “Kasih karunia, kasih karunia, kasih karunia Allah, kasih karunia yang akan mengampuni dan membersihkan hati; kasih karunia, kasih karunia, kasih karunia Allah, kasih karunia yang lebih besar daripada semua dosa kita!”

Apakah pada saat ini Anda telah menerima kasih karunia-Nya?-DHR

3 Desember 2005

Kembali ke Titik Awal

Nats : Adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali (Lukas 15:32)
Bacaan : Lukas 15:11-32

Dalam bukunya yang memesona, Orthodoxy, G.K. Chesterton bercerita bagaimana ia meninggalkan apa yang dianggapnya sebagai iman kristiani, tetapi di kemudian hari ia justru menemukan iman kristiani yang sejati. Untuk mengilustrasikan perjalanan rohaninya, Chesterton menguraikan situasi yang tidak masuk akal mengenai seseorang yang menancapkan bendera Kerajaan Inggris di sebuah pulau asing, namun kemudian menyadari bahwa tempat itu tak lain adalah pantai Inggris.

Dibesarkan di sebuah gereja yang tidak bertumbuh, Chesterton meninggalkan imannya yang dangkal. Namun kemudian ia mulai meragukan ide-ide ateis yang telah membuatnya tidak percaya. Lalu ia pun menemukan kebenaran yang dulu terabaikan olehnya. “Negara baru” itu tidak lain adalah rumahnya sendiri.

Yesus pernah bercerita tentang seorang pemuda yang mening-galkan rumah, namun kemudian ia menyadari bahwa ternyata rumahnya bernilai. Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, si bungsu meminta bagian dari harta bapanya. Ketika berkelana jauh dari rumah, ia terus berfoya-foya. Namun gaya hidupnya yang foya-foya itu justru menjeratnya, sehingga ia jatuh miskin. Akhirnya ia pulang dan mengaku dosa. Berbagai konsekuensi hidup yang menyakitkan telah memaksanya untuk kembali kepada seorang bapa yang penuh kasih.

Kerap kali kita pun merasakan kecenderungan untuk menyimpang dari Pribadi yang telah menebus kita. Bapa kita yang penuh kasih saat ini sedang memerhatikan dan menantikan kita kembali -HDF

2 Januari 2006

Sinar yang Memudar

Nats : Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti (2Korintus 3:10)
Bacaan : 2Korintus 3:5-18

Dalam beberapa hal, hukum Taurat Musa bagi orang kristiani sama seperti kruk bagi seorang atlet. Keduanya baik apabila diperlukan dan digunakan dengan benar. Namun, kruk tidak dapat digunakan untuk memenangkan perlombaan lari cepat 90 meter. Demikian juga bersandar pada sebuah sistem hukum tidak pernah dapat membawa kemenangan rohani bagi kita.

Paulus menekankan penyusutan kebesaran hukum Perjanjian Lama dengan membandingkannya dengan kemuliaan hidup dan kebebasan di dalam Roh yang tiada taranya. Mengacu pada wajah Musa yang bersinar setelah menerima Sepuluh Perintah Allah, Rasul Paulus berkata bahwa memudarnya sinar wajah Musa sama seperti wahyu di Gunung Sinai yang diterimanya. Wahyu itu bersifat sementara dan tidak lengkap. Orang Israel akan segera menyadari bahwa pesan Allah dari gunung itu juga standar yang akan digunakan untuk menghakimi mereka.

Namun, di mana Roh Kudus memerintah, di sana terdapat anugerah yang melimpah, dan keagungan-Nya jauh melebihi keagungan Taurat itu. Bayangkan sebatang korek api yang menyala di dalam sebuah tempat yang gelap gulita. Munculnya nyala api yang tiba-tiba itu memberikan sebuah pertunjukan sinar yang mengesankan. Namun, jika Anda menyalakan sebuah korek api di bawah terik sinar matahari, percikan sinarnya akan tampak tidak berarti.

Kesepuluh perintah tersebut bersifat menuntut dan pada akhirnya menghakimi. Akan tetapi, hidup di dalam Roh membawa pengalaman kuasa Allah yang mengubahkan ke dalam hati kita --MRD

10 Januari 2006

Ditarik Oleh Salib

Nats : Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku (Yohanes 12:32)
Bacaan : Yohanes 12:23-36

Patung Liberty menjulang di atas pelabuhan New York. Patung wanita yang megah itu, dengan obor kebebasan terangkat tinggi, telah memikat jutaan orang yang tercekik oleh tirani dan tekanan. Mereka ditarik kepada apa yang disimbolkan oleh monumen itu kebebasan.

Di atas tumpuan kaki Liberty terukir kata-kata puisi Emma Lazarus "The New Colossus" (Patung Besar yang Baru):


Berikanlah aku orang-orangmu
yang letih dan miskin,
Kumpulan orang banyakmu
yang berjubel
yang rindu untuk menghirup
kebebasan,
Sampah tercela
Dari pantaimu yang padat;
Kirimkanlah mereka ini, yang tunawisma,
yang diombang-ambingkan badai, kepadaku;
Aku mengangkat lampuku di samping pintu emas ini.

Ada sebuah monumen lain yang menjulang di atas sejarah, yang menawarkan kebebasan rohani bagi orang-orang yang diperbudak di mana saja. Monumen itu adalah salib tempat Yesus tergantung 2.000 tahun yang lalu. Pada mulanya pemandangan itu membuat kita jijik. Lalu kita melihat Putra Allah yang tak berdosa mati menggantikan kita, bagi dosa-dosa kita. Dari salib itu kita mendengar kata-kata "Ya Bapa, ampunilah mereka" (Lukas 23:34) dan "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Saat kita percaya kepada Kristus sebagai Juru Selamat, beban rasa bersalah yang berat terguling dari jiwa kita yang lelah oleh dosa. Kita bebas selama-lamanya.

Sudahkah Anda mendengar dan menanggapi undangan salib itu? --DJD

18 Januari 2006

Dapatkan Intinya!

Nats : Tidak ada seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat (Galatia 2:16)
Bacaan : Galatia 2:11-21

Satu hal yang dapat Anda katakan mengenai Paulus adalah ia tidak sungkan mengucapkan kata-kata. Tidak peduli siapa orang yang dihadapi hakim, penguasa, atau rekan sesama rasul, Petrus-Paulus mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Dalam Galatia 2:16, tiga kali ia menegaskan kebenaran yang sama: Tak ada seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat.

Hukum Taurat adalah topik pembahasan yang sangat penting pada masa gereja mula-mula karena sebagian besar pengikut Yesus adalah orang Yahudi. Walaupun mereka percaya kepada Yesus, sebagian di antara mereka sama sekali tidak bersedia meninggalkan tindakan yang didasarkan pada hukum Taurat. Saya membayangkan mereka berkata, "Seseorang tidak dapat diselamatkan kecuali ia disunat dan menolak makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Dan tak seorang Yahudi pun boleh makan bersama-sama dengan orang bukan Yahudi." Namun Paulus berkata dengan tegas bahwa mereka salah. Diperdamaikan dengan Allah adalah hasil dari iman, bukan persyaratan yang ditambahkan gereja atau seseorang.

Sebagai pencipta kebingungan, Setan menemukan segala cara untuk menodai Injil dengan memberi kesan bahwa iman saja tidak cukup. Ia mempermainkan hasrat agar kita memegang kendali dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kita menambahkan apa saja, mulai dari perpuluhan, selalu ke gereja, gaya berpakaian, hingga pilihan hiburan yang diperbolehkan. Masing-masing ini penting bagi orang percaya, namun tak satu pun penting bagi keselamatan.

Intinya: Keselamatan adalah karena iman --DCE

31 Januari 2006

Apakah Anda Merdeka?

Nats : Kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka (Galatia 4:31)
Bacaan : Galatia 4:21-31

Kizzy Kinte kurang beruntung. Putri dari Kunta Kinte di dalam buku puisi kepahlawanan Roots karangan Alex Haley ini ingin melepaskan diri dari ikatan perbudakan dan hidup bebas, seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyangnya di Afrika. Namun ia tidak bisa melakukannya. Karena lahir dari seorang budak wanita, Bell Kinte, pada zaman perbudakan yang mengerikan itu, ia pun hidup sebagai seorang budak.

Silsilah Kizzy yang mana ia tidak memiliki kendali atas hal itu menentukan nasibnya.

Cerita itu hampir mirip dengan Galatia 4:31, di mana Paulus menggunakan analogi dari sebuah cerita Perjanjian Lama untuk menolong kita memahami tentang perbudakan dan kemerdekaan. Dengan menyebut cerita tentang Abraham, Sara, dan Hagar, Paulus menjelaskan perbedaan antara anak seorang hamba perempuan (Hagar) dan anak seorang perempuan merdeka (Sara). Hanya anak dari perempuan merdekalah yang dapat menikmati warisan; anak yang lain ditakdirkan untuk menjadi budak.

Inilah intinya: kita masing-masing pria atau wanita, Yahudi atau bukan Yahudi, hitam atau putih, kaya atau miskin dapat turut ambil bagian dalam warisan Allah. Setiap orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat menjadi "bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka" (ayat 31). Kita dibebaskan dari perbudakan hukum Taurat Allah dan sebaliknya ditawari anugerah Allah. Dan warisan kita adalah kemerdekaan-kemerdekaan mutlak di dalam Kristus.

Sudahkah anugerah Allah memerdekakan Anda? --JDB

10 Februari 2006

"mary Sampah"

Nats : Sebab itu, buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu (Yakobus 1:21)
Bacaan : Efesus 5:1-13

Wanita tersebut berpakaian compang-camping, tinggal di rumah yang ditempati oleh beberapa keluarga di tengah-tengah tumpukan sampah, dan menghabiskan banyak waktu dengan mengais-ngais tong sampah. Surat kabar lokal memuat ceritanya, yaitu setelah wanita yang di lingkungannya dijuluki "Mary Sampah" itu, masuk ke rumah sakit jiwa. Yang mengejutkan, di apartemennya yang kotor, polisi menemukan surat saham dan buku tabungan yang menunjukkan bahwa ia mempunyai sedikitnya uang sebesar satu juta dolar.

Keadaan wanita ini sungguh menyedihkan. Namun, menurut cara pandang Allah ada lebih banyak contoh tragis mengenai orang "kaya" yang hidup di tengah "sampah". Jika orang kristiani dikendalikan oleh nafsu, benci, iri hati, sombong, tidak sabar, atau kepahitan, maka mereka sebenarnya memilih untuk hidup di tengah sampah dunia.

Hal ini mungkin bisa dimengerti jika mereka tidak mempunyai sumber kekuatan yang menolong mereka. Perilaku seperti ini dapat terjadi pada orang yang tidak beriman di dalam Kristus. Namun, hal ini bukan masalah bagi orang percaya. Kita memiliki firman kebenaran dan pertolongan dari Roh Kudus. Kita tidak punya alasan untuk merendahkan diri dalam kekotoran dosa apabila kuasa Allah siap membantu kita.

Ya Bapa, ampunilah kami karena telah memakan "sampah", padahal Engkau sudah mempersiapkan perjamuan untuk kami. Karena itu, tolonglah kami untuk "membuang segala sesuatu yang kotor" (Yakobus 1:21) sehingga kami dapat berpesta dengan kebaikan-Mu --MRD

7 April 2006

"mereka Menolak-ku!"

Nats : Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28)
Bacaan : Matius 11:20-30

Seorang wanita terjebak di lantai atas dari sebuah bangunan yang terbakar. Api dan asap memenuhi semua jalan keluar. Ketika petugas pemadam kebakaran datang, salah seorang dari mereka menaiki tangga menuju jendela tempat wanita itu berteriak minta tolong. Dengan tangan terjulur, petugas itu menawarkan pertolongan kepadanya. Namun, ketika wanita itu memandang ke bawah dan melihat betapa tingginya tempat itu dari atas tanah, ia menjadi panik dan kembali ke dalam ruangan.

Petugas tersebut meminta wanita itu untuk memercayainya demi keselamatannya sendiri, tetapi permintaan itu tidak dipedulikan. Di tengah ketakutan yang bodoh itu ia justru menjauhi uluran tangan petugas tersebut. Akhirnya, setelah usaha petugas itu tak berhasil sampai ia dipaksa turun, dengan berurai air mata ia berkata, "Saya sudah berusaha melakukan apa saja untuk menyelamatkannya, tetapi ia menolak saya!"

Perkataan itu membuat saya berpikir tentang bahaya rohani yang menghadang begitu banyak manusia. Yesus sangat rindu untuk mengampuni dosa-dosa mereka, tetapi mereka ngotot menolak keselamatan yang ditawarkan-Nya. Dengan menolak memercayai-Nya, mereka sama seperti wanita yang mati sia-sia di tengah nyala api tadi, meski sesungguhnya ia dapat meloloskan diri.

Sahabat, percayalah kepada Tuhan Yesus sekarang juga! Dia mengundang Anda untuk datang kepada-Nya (Matius 11:28). Jangan menjadi orang yang kepadanya Tuhan terpaksa berkata, "Aku sudah berusaha melakukan apa saja untuk menyelamatkannya, tetapi ia menolak-Ku!" --RWD

1 Mei 2006

Tak Dapat Dibeli

Nats : Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang (Kisah 8:20)
Bacaan : Roma 6:15-23

Seorang misionaris yang berkarya bagi penduduk Filipina berusaha menjelaskan keselamatan kepada seorang wanita kaya. Akan tetapi, wanita tersebut tidak mengerti bahwa ia tak dapat membeli keselamatan.

Karena itu, sang misionaris memberi sebuah gambaran kepadanya: "Kalau Anda ingin menghadiahkan sebuah rumah besar dan indah kepada anak gadis Anda, bagaimana perasaan Anda bila ia berkata, ‘Ibu, izinkan saya membantu Ibu membayar hadiah itu. Saya memang hanya bekerja di rumah sakit misi dan gaji saya tidak besar. Namun sepertinya saya dapat menyisihkan uang 8 dolar setiap bulan untuk itu.’"

Misionaris itu melanjutkan, "Seperti itulah yang Anda katakan kepada Allah. Anda ingin ikut membayar apa yang telah Yesus lunasi untuk Anda. Rumah di surga adalah hadiah. Tidak sepatutnya Anda berusaha ikut membayarnya."

Di seluruh dunia, orang-orang beriman, yang bermaksud baik -- kaya, miskin, dan di antara kedua golongan itu -- masih berusaha memahami bahwa Yesus telah melunasi semuanya. Karena mengira bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk memperoleh karunia Allah, mereka berusaha sedapat mungkin membayar keselamatan.

Kita perlu memahami bahwa ketika Allah memberikan Putra-Nya Yesus sebagai kurban, utang dosa kita sudah dibayar penuh. Apabila kita berusaha membayar hadiah Allah, ini tentu merupakan penghinaan bagi-Nya. Percaya dengan tulus berarti beriman bahwa Allah sudah menyelesaikan pembayarannya. Kita tidak perlu membeli sesuatu yang sudah dibeli dengan kematian Yesus di kayu salib --JDB

21 Mei 2006

Dilepaskan Oleh Salib

Nats : Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita (Roma 5:8)
Bacaan : Matius 27:33-50

Dalam mitologi Yunani kuno, pahlawan Prometheus ditangkap dan dirantai di puncak gunung. Di sana ia dihukum untuk selama-lamanya. Setiap hari, seekor rajawali raksasa datang untuk memakan hatinya. Hermes datang kepadanya dan berkata, "Jangan harap penderitaanmu akan berakhir kecuali seorang dewa datang menggantikan siksaanmu, dan siap turun bagimu ke dalam kerajaan Hades (dewa kematian)." Menurut mitologi tersebut, hal ini dilakukan oleh Dewa Chiron yang bijak dan adil, yang rela mengorbankan dirinya sendiri bagi Prometheus dan membebaskannya dari siksaan.

Dalam beberapa hal, kisah ini merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada kita saat Yesus mati di kayu salib. Manusia telah terikat oleh dosa, dan tak ada harapan bagi manusia untuk terlepas dari dosa kecuali Allah menggantikan. Dan itulah yang benar-benar terjadi. Yesus Kristus, Putra Allah, mati untuk menggantikan kita dan membayar hukuman dosa kita. Dia menyediakan jalan bagi kita untuk terlepas dari hukuman kekal. Meskipun kita menyediakan diri untuk menulis dalam seribu hari, kita tetap tak dapat mengungkapkan dengan sempurna arti pengurbanan Kristus bagi penebusan dosa seluruh umat manusia. Makna sejatinya jauh melebihi pemahaman kita.

Apakah Anda telah mengakui dosa-dosa Anda dan meminta Yesus Kristus menjadi Juru Selamat pribadi Anda? Jika belum, hari ini adalah saat yang paling tepat. Percayalah kepada-Nya, dan Anda akan tahu apakah artinya terlepas dari rantai dosa karena salib --DCE

3 Juni 2006

Transaksi

Nats : Hari ini adalah hari penyelamatan itu (2Korintus 6:2)
Bacaan : Efesus 2:1-10

Apakah mungkin bahwa lebih dari setengah populasi orang dewasa di Amerika Serikat salah? Sebuah survei oleh Kelompok Peneliti Barna baru-baru ini mengungkapkan, 54 persen penduduk Amerika berkata bahwa orang yang secara umum tampak baik dan melakukan cukup banyak kebaikan bagi orang lain akan mendapat tempat di surga. Hal itu hanyalah salah satu dari sekian banyak cara yang disarankan orang untuk dapat masuk ke dalam kerajaan Allah yang kekal.

Marilah kita pikirkan bagaimana seseorang dapat masuk ke surga, dan mengapa ide "perbuatan baik" tidak cukup.

Pertama, kita harus sadar bahwa kita semua lahir dalam kondisi mati secara rohani. Dalam Efesus 2:1, kita belajar bahwa kita "dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa" kita. Aspek rohani dari keberadaan kita sudah mati saat kita secara jasmani dilahirkan ke dalam dunia ini. Namun, jiwa kita dapat dihidupkan kembali. Paulus menjelaskannya demikian: "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1Korintus 15:22).

Untuk dapat dihidupkan kembali, harus dilakukan sebuah transaksi. Harus terjadi sesuatu yang spesifik untuk mengubah sesuatu yang mati agar menjadi sesuatu yang hidup. Hal tersebut tidak dipicu oleh perbuatan baik, namun itu terjadi hanya ketika Anda menerima karunia keselamatan dari Allah oleh karena iman (2Korintus 6:2; Efesus 2:8).

Apakah jiwa Anda hidup hari ini? Jika tidak, lakukanlah transaksi itu dan terimalah karunia Allah yang indah --JDB

6 Agustus 2006

Terhindar dari Kematian

Nats : Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1Korintus 6:20)
Bacaan : Kolose 1:24-29

Pada 6 Agustus 1945, Kanji Araki, yang waktu itu masih balita, sedang bermain di lantai. Meskipun sirene tanda bahaya akan adanya serangan udara telah berbunyi, hanya sedikit orang yang memedulikannya, sebab Hiroshima sebelumnya sudah pernah terhindar dari pengeboman. Kemudian sebuah kilat yang menyilaukan menerangi langit. Udara yang sangat panas berembus sangat cepat, merobohkan bangunan-bangunan, dan membakar pusat kota. Setelah pengeboman nuklir tersebut, nenek, saudara laki-laki dan perempuan Kanji meninggal dunia karena terkena radiasi.

Ketika Kanji tumbuh besar, ia mengalami konflik batin tentang orang-orang yang menderita dan meninggal dunia karena bom itu. Orangtuanya adalah orang kristiani, tetapi Kanji memilih tidak beragama. Meskipun demikian, ia merasakan kekosongan yang semakin besar di hatinya. Ia kemudian mulai belajar Alkitab untuk menemukan sendiri siapakah Yesus itu. Pada suatu titik balik dalam jiwanya, Kanji pun menaruh iman kepada Kristus, dan seketika hatinya yang kosong dipenuhi oleh jaminan yang sangat indah dari Allah. Pada saat Tuhan menuntunnya untuk melayani, ia mengutip 1Korintus 6:20 dan berkata, "Saya sudah dihindarkan dari kematian supaya hidup saya memiliki makna yang lebih tinggi untuk melayani Allah."

Rasul Paulus juga telah terhindar dari kematian agar dapat melayani Allah. "Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu" (Kolose 1:25). Apakah yang telah Allah percayakan kepada Anda? -HDF

19 Agustus 2006

"cricket" dan Kekristenan

Nats : Pembenaran oleh Allah telah dinyatakan ... melalui iman dalam Yesus Kristus (Roma 3:21,22)
Bacaan : Roma 3:21-28

Ketika mengunjungi Jamaika dalam sebuah perjalanan misi dengan murid-murid SMA, saya melihat bahwa penduduk di sana suka bermain cricket.

Karena itu, saya meminta seorang remaja Jamaika menjelaskan tentang cricket kepada saya. Kami duduk di tanah, dan dengan sebuah batu ia menggambar di pasir untuk membantu saya memahami permainan itu. Kemudian, saat kelompok kami menikmati masakan daging ayam yang lezat, beberapa dari kami melihat pertandingan cricket di televisi, sementara seorang pelatih menerangkan apa yang sedang terjadi. Meskipun sudah 11 hari bersama orang-orang Jamaika itu, saya belum dapat memahami permainan favorit mereka.

Saya yakin beberapa orang Jamaika juga merasakan hal yang sama terhadap sepak bola Amerika, dan jutaan orang di seluruh dunia menganggap permainan bisbol sebagai misteri. Salah satu alasan mengapa kita tidak menyukai olah raga bangsa lain adalah karena kita tidak memahaminya.

Mungkinkah ini juga Anda alami saat memandang kekristenan? Mungkinkah Anda tidak menyukainya karena tampak terlalu rumit? Barangkali Anda melihat kekristenan seperti peraturan-peraturan dan buku tebal besar yang tidak Anda mengerti.

Sebenarnya, kekristenan itu sederhana saja: Kita dapat dibenarkan dalam kemuliaan Allah melalui iman di dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Dosa-dosa kita akan diampuni selama-lamanya (lihat Roma 3:24,28; 10:9,10). Coba Anda teliti. Anda akan tahu mengapa orang-orang beriman mengasihi Yesus, hingga Anda juga akan belajar mengasihi-Nya -JDB

5 September 2006

Pemberian Tanpa Bayaran

Nats : Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? (Yesaya 55:2)
Bacaan : Yesaya 55:1-7

Selama penantian panjang di sebuah bandara, saya memerhatikan sebuah bisnis di terminal utama yang paling menarik perhatian banyak orang dibandingkan bisnis lainnya. Dalam beberapa jam, pembeli terus-menerus datang sambil membawa uang, mengantre, mengadakan transaksi, lalu segera pergi. Tampaknya masing-masing tahu pasti apa yang diinginkan.

Bisnis yang laris itu ternyata agen penjualan lotere. Walaupun kemungkinan menang dalam mesin undian bola jackpot hanya 1 banding 146 juta, tampaknya orang tergoda untuk membeli lotere tersebut dan, hampir terjadi dalam setiap ka-sus, tidak memperoleh apa pun. Inilah gambaran nyata bagaimana kita melakukan pengejaran tanpa henti demi memperoleh kepuasan dan keamanan terhadap harta duniawi.

Ketika Allah bertanya kepada umat-Nya melalui Nabi Yesaya, Dia menanyakan mengapa mereka membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau memuaskan mereka. Tuhan mengundang mereka yang tidak mempunyai penghasilan untuk menerima "anggur dan susu tanpa bayaran ... dan kamu akan menik-mati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu, dan da-tanglah kepada-Ku" (Yesaya 55:1-3).

Allah menawarkan diri untuk memberi sesuatu yang tidak bisa kita beli-belas kasihan, pengampunan, dan perubahan hidup yang terjadi saat Dia hadir. Dia mengundang kita: "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui" (ayat 6).

Berkat anugerah Allah, kita dapat dengan bebas memperoleh sesuatu dari-Nya, tanpa pembayaran apa pun -DCM

9 Februari 2007

5k atau 2k

Nats : Kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela (Mzm. 84:12)
Bacaan : Amsal 30:7-9

Kaum muda di Singapura pada suatu masa teraspirasi untuk memiliki 5K. Uang Kontan di bank. Karier bagi masa depan. Kendaraan (mobil) yang bisa ditumpangi. Kondominium sebagai tempat tinggal. Kartu kredit sebagai bekal perjalanan.

Baru-baru ini sebuah laporan di surat kabar mengindikasikan bahwa sekarang ada versi 5K yang telah diperbarui: Koneksi yang menaikkan gengsi. Kemungkinan (pilihan) yang semakin banyak dan semakin meriah! Kemerdekaan yang tak mau dibatasi. Kebiasaan memberi alasan, karena dapat menyelamatkan diri kita. Konsumen yang berbelanja dulu baru membayar.

Agur, penulis Amsal 30, tidak meminta 5K, tetapi 2K dari Allah: kasih karunia dan kebaikan-Nya. Ia mencari kasih karunia Allah untuk menjauhkan "kecurangan dan kebohongan" darinya (ay. 8). Ia tidak ingin jatuh dalam perangkap kepercayaan yang berpendapat bahwa prinsip, praktik, dan kasih yang rusak itu merupakan hal yang bisa diterima.

Agur juga memohon kebaikan dari Allah untuk menyediakan keperluannya -- tidak kurang atau lebih (ay. 8,9). Ia sadar bahwa kemiskinan dapat menjadikannya rakus dan mencemarkan nama Allah. Akan tetapi, ia juga menyadari betapa mudahnya kekayaan dapat memanjakan dan membuatnya menyangkal Tuhan.

Apa yang lebih Anda inginkan? Kepuasan sesaat dari 5K atau upah berupa kasih karunia dan kebaikan Allah? Apakah Anda berhasrat untuk memuliakan nama Alah di atas segalanya? --AL

Mari kita rayakan bersama,
Naikkan pujian dalam kesatuan,
Bernyanyilah tentang anugerah dan rahmat-Nya
Dan tentang kebaikan Tuhan kita. --Sper

18 Maret 2007

Agama atau Kristus?

Nats : Karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; ... itu ... pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu (Ef. 2:8,9)
Bacaan : Efesus 2:1-10

Mary bekerja keras karena ingin atasannya mengetahui prestasinya dan menghargainya dengan memberi kedudukan yang bergaji lebih tinggi. Nancy mencintai pekerjaannya dan menyukai produk yang dijual perusahaannya. Karena kesetiaannya, ia bekerja keras untuk menghasilkan produk yang semakin baik.

Mary adalah ibarat orang yang berharap supaya perbuatan baiknya akan diberi upah oleh Allah kelak. Orang-orang seperti itu berharap bahwa perbuatan baik mereka akan membawa mereka masuk surga.

Adapun Nancy adalah gambaran orang yang beriman bahwa Allah akan membawa mereka masuk surga. Orang-orang seperti itu berbuat baik sebagai ungkapan syukur dan kasih mereka kepada Allah.

Seseorang yang beragama bisa jadi percaya kepada Allah, pergi ke gereja, berdoa, memperlihatkan kebaikan, dan dipandang sebagai orang baik. Orang beragama memiliki banyak sifat baik, tetapi agama bukan pengganti iman dalam Yesus Kristus.

Orang yang beriman percaya kepada Yesus untuk mendapatkan pengampunan dosa. Mereka mendapatkan jaminan masuk surga dan berusaha menjadi semakin serupa dengan Yesus setiap hari. Rasul Paulus mengatakan bahwa karena anugerah, orang mendapatkan keselamatan oleh iman. Keselamatan diperoleh bukan karena perbuatan kita, melainkan karena pemberian Allah (Ef. 2:8,9).

Satu-satunya jalan menuju Bapa di surga adalah melalui iman di dalam Yesus (Yoh. 14:6)

Mana yang Anda pilih, agama atau Kristus? --AMC

Tak ada banyak jalan ke surga;
Tuhan berfirman ada satu jalan saja;
Mengakui Kristus Sang Juru Selamat,
Percaya kepada Putra tunggal-Nya. --Sper

27 Maret 2007

Pahlawan yang Luar Biasa

Nats : Tuhan membangkitkan hakim-hakim, yang menye-lamatkan mereka dari tangan perampok itu (Hak. 2:16)
Bacaan : Hakim-hakim 2:7-19

Kitab Hakim-hakim adalah kisah tentang umat Allah yang mengabaikan perkara rohani dan memberontak. Setelah kematian Yosua dan rekan-rekan sezamannya, generasi selanjutnya "meninggalkan Tuhan, Allah nenek moyang mereka ... lalu mereka mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka" (Hak. 2:12).

Tampaknya sulit untuk menemukan pahlawan iman di tengah catatan yang buruk tentang kesetiaan ini, tetapi ternyata ada empat pahlawan iman dari zaman Hakim-hakim. Gideon, Barak, Simson, dan Yefta (ps. 4-16) disebutkan dalam Perjanjian Baru di kitab Ibrani (11:32). Bersama dengan Nuh, Abraham, Musa, dan orang-orang terkemuka lainnya, mereka dipuji karena iman mereka.

Namun, kitab Hakim-hakim memperlihatkan orang-orang ini sebagai orang tercela, yang kemudian menanggapi panggilan Allah selama masa kegelapan rohani melanda kebudayaan mereka. Di dalam Alkitab, mereka dihormati karena iman, bukan karena kesempurnaan mereka. Mereka adalah para penerima kasih karunia Allah sama seperti kita.

Dalam setiap generasi, Allah memunculkan orang-orang yang setia terhadap Dia dan firman-Nya. Ukuran hidup mereka dan hidup kita bukan karena tidak pernah gagal, tetapi karena menerima pengampunan penuh kasih dari Allah dan memiliki iman untuk menaati panggilan-Nya. Semua pejuang Allah adalah pahlawan yang luar biasa --DCM

Pahlawan surgawi tak pernah mengukir nama
Di tiang marmer untuk dipuja;
Mereka membangun warisan yang berasal
Dari hidup bagi Raja yang kekal. --Gustafson

2 Oktober 2007

Apakah Yesus Eksklusif?

Nats : Kata Yesus ..., "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6)
Bacaan : Yohanes 14:1-12

Suatu kali saya melihat Anne Graham Lotz, putri Billy Graham, dalam acara bincang-bincang yang populer di televisi. Si pewawancara bertanya, "Apakah Anda termasuk orang yang percaya bahwa Yesus secara ekslusif menjadi satu-satunya jalan ke surga?" Ia menambahkan, "Anda tahu itu menyulut kemarahan orang akhir-akhir ini!" Tanpa berkedip, Anne menjawab, "Yesus tidak eksklusif. Dia mati supaya semua orang bisa datang kepada-Nya untuk menerima keselamatan."

Sungguh jawaban yang luar biasa! Kekristenan bukan klub eksklusif yang terbatas bagi sekelompok orang elit yang memenuhi syarat tertentu. Semua orang disambut, tanpa membedakan warna kulit, kelompok sosial, atau jabatan.

Betapa pun indahnya kebenaran ini, pernyataan Yesus dalam Yohanes 14:6 yang berbunyi bahwa Dialah satu-satunya jalan kepada Allah, masih membuat orang tersinggung. Namun, Yesus memang adalah satu-satunya jalan dan pilihan. Kita semua bersalah di hadapan Allah. Kita adalah pendosa dan tak dapat menolong diri kita sendiri. Permasalahan dosa kita harus diselesaikan. Yesus, sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia, mati untuk membayar hukuman dosa kita, kemudian bangkit dari antara orang mati. Tak ada pemimpin agama lain yang menawarkan apa yang telah Yesus sediakan dalam kemenangan-Nya atas dosa dan maut.

Injil Kristus menyinggung sebagian orang, tetapi itulah kebenaran yang indah, bahwa Allah sangat mengasihi kita, sehingga Dia bersedia datang dan menyelesaikan masalah terbesar kita, yaitu dosa. Dan, selama dosa masih menjadi masalah, dunia masih membutuhkan Yesus! --JMS

6 Desember 2007

Hadiah Dalam Hadiah

Nats : Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! (2Korintus 9:15)
Bacaan : 1Yohanes 5:9-13,20

Hadiah Natal yang paling disukai Sharon dari suaminya, Andy, adalah kotak antik untuk menyimpan perhiasan. Di dalamnya terdapat tiga kotak dengan hadiah tambahan berupa cokelat dan perhiasan. Ia menyukai setiap hadiah yang ada di dalam hadiah itu.

Ketika Allah mengirimkan Putra-Nya Yesus untuk menjadi Juru Selamat dunia, Dia memberi kita banyak hadiah di dalam Hadiah itu. Dan, sejak saat itu, orang-orang yang menerima hadiah Yesus, mereka juga akan menerima hadiah-hadiah khusus berikut:

Pengampunan dosa. "Sebab di dalam Dia [Yesus] kita beroleh penebusan oleh darah-Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah-Nya" (Efesus 1:7).

Pengajaran dari Roh Kudus. Yesus telah memberi janji, "Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu" (Yohanes 14:26).

Hidup kekal dan rumah di surga. Yohanes berkata, "Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup" (1Yohanes 5:12). Yesus berjanji, "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.... Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu" (Yohanes 14:2).

Kasih yang tiada tara. "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu .... Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:9,13).

Sudahkah Anda menerima Hadiah Allah yang tak terkatakan itu? Anda hanya perlu memintanya --AMC

17 Februari 2008

Lebah yang Murah Hati

Nats : Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (Filipi 2:3)
Bacaan : Filipi 2:1-11

Lebah terkenal sebagai serangga sosial. Mereka selalu siap sedia memberi makan sesama lebah, bahkan lebah dari koloni lain. Lebah pekerja memberi makan ratu lebah yang tidak bisa mencari makan sendiri. Mereka memberi makan lebah jantan yang sedang aktif di sarang. Mereka tentu juga memberi makan anak-anak lebah. Naluri saling memberi makan ini melandasi tatanan kehidupan lebah. Dan, mereka tampak menyukainya!

Bukankah ini mirip dengan komunitas tubuh Kristus? Ketika melaporkan kehidupan orang-orang kristiani mula-mula kepada Kaisar Hadrian (76-138), Aristides menulis, "Mereka saling mengasihi. Mereka tidak lalai membantu janda-janda; mereka menolong anak-anak yatim dari orang-orang yang menyakiti mereka. Kalau mereka memiliki sesuatu, mereka memberi dengan sukarela kepada orang yang tak berpunya; kalau mereka melihat orang asing, mereka mengajaknya singgah ke rumah dan menerimanya dengan gembira, seolah-olah orang itu adalah saudara mereka sendiri. Mereka tidak menganggap diri mereka saudara dalam pengertian yang lazim, melainkan saudara oleh Roh, di dalam Allah."

Tuhan rindu gereja menjadi komunitas yang penuh kasih (Filipi 2:1,2), baik kasih di antara sesama anggota maupun kasih kepada warga masyarakat secara luas. Hal itu akan terjadi bila masing-masing anggota berinisiatif untuk saling melayani, bukan menuntut dilayani (ayat 3,4); bila masing-masing anggota memperlakukan sesama seperti Kristus memperlakukan dirinya, bukan sebagai pesaing dalam mengejar ambisi pribadi (ayat 5-7). Hari ini, mari kita teladani lebah-lebah yang murah hati itu --ARS

1 Maret 2008

Menatah Kristus

Nats : Tetapi bukan dengan demikian kamu belajar mengenal Kristus (Efesus 4:20)
Bacaan : Efesus 4:17-32

Pada awal kariernya, Dannecker, seorang pemahat dari Prancis, terkenal karena karyanya yang menampilkan Ariadne dan dewi-dewi Yunani lainnya. Suatu kali ia terdorong untuk mencurahkan segenap energi dan waktunya untuk menghasilkan sebuah adikarya. Jadi, ia bertekad untuk mengukir sosok Kristus. Dua kali usahanya gagal sebelum akhirnya berhasil menatah patung Kristus secara prima. Karyanya begitu elok dan agung, sehingga setiap orang yang memandangnya tak ayal begitu mengagumi dan mencintainya.

Suatu kali ia menerima undangan dari Napoleon. "Datanglah ke Paris," kata Napoleon. "Tolong ukirkan bagi saya patung Venus untuk ditempatkan di Louvre." Dannecker menolak. Jawabannya sederhana, namun telak: "Tuan, tangan yang pernah memahat Kristus ini tak akan dapat lagi menatah dewi kafir."

Sosok Kristus yang sejati, Adikarya yang sesungguhnya, juga tengah "dipahat" di dalam diri setiap anak Tuhan. Kita dipanggil untuk menanggalkan manusia lama yang duniawi dan mengenakan manusia baru yang rohani. Kalau dahulu kita "diukir" menurut pola pikir duniawi yang cenderung egois dan merusak, sekarang kita tengah "ditatah" untuk menjadi manusia baru, serupa dengan karakter Kristus (ayat 22-24). Proses pembentukan ini berlangsung melalui ketaatan kepada pimpinan Tuhan.

Proses itu belum selesai. Dunia akan berusaha merusaknya dan "mencukil" kita kembali menurut polanya. Dannecker menantang kita untuk menolak upaya dunia dengan menyadari bahwa sebuah Adikarya tengah dikerjakan di dalam dan melalui kehidupan kita - ARS

11 Maret 2008

Berani Berdamai

Nats : Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu (Kejadian 50:17)
Bacaan : Kejadian 50:15-21

Seorang ibu sulit menaikkan Doa Bapa Kami, sebab ia tak sudi mengampuni. Semula ia bangga memiliki suami yang setia. Belakangan, ketika sang suami mendadak meninggal karena serangan jantung, baru terkuak sisi gelap hidupnya. Rupanya, sudah lama ia selingkuh. Ibu itu sangat kaget. Rasa kehilangannya berubah menjadi kebencian. Ia sulit mengampuni meski suaminya telah pergi.

Tanpa pengampunan, kesalahan yang kita atau orang lain perbuat akan menjadi sampah di hati. Jika dibiarkan, baik yang berbuat salah atau yang terluka sama-sama menderita. Saudara-saudara Yusuf bertahun-tahun memendam rasa bersalah karena telah merusak hidup Yusuf (Kejadian 50:15). Ketakutan membayangi mereka: kelak Yusuf pasti balas dendam! Nyatanya, Yusuf sama sekali tak menyimpan dendam.

Bertahun-tahun Yusuf dan saudara-saudaranya kehilangan kontak. Selama itu, Yusuf hidup merana tanpa saudara. Semua itu baru berakhir setelah saudara-saudara Yusuf bersujud dan memohon ampun di hadapannya. Yusuf pun menangis haru. Ia mengatakan bahwa ia tak akan mengadili dan menghukum mereka, tetapi ia justru akan memelihara hidup mereka (ayat 18-21). Hari itu, beban berat yang menyelimuti hati bertahun-tahun lenyap! Babak baru hidup mereka dimulai, sebab ada pengampunan dan pemulihan.

Dalam hidup bersama, ada saatnya kita menyakiti atau disakiti. Itu tak terhindarkan. Yang penting, apa yang kita perbuat sesudahnya; memilih untuk membiarkannya lalu hidup dalam dendam atau mengupayakan perdamaian? Hanya dengan berani mengakui dan mengampuni, kita bisa merasakan indahnya pemulihan -JTI

21 Maret 2008

Sakit yang Hebat

Nats : Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53:7)
Bacaan : Ibrani 2:7-16

Dalam risetnya atas penyaliban Kristus, Dr. Frederick Zugibe-mantan kepala tim medis dari Rockland County New York, mengatakan bahwa memaku bagian tengah telapak tangan akan mengakibatkan rasa sakit luar biasa, yang tak dapat ditolong oleh pereda sakit apa pun. Rasanya sangat menyakitkan, membakar, seperti kilat yang menyambar menembus tangan hingga ke tulang belakang. Memaku telapak kaki juga akan memutuskan banyak saraf dan menimbulkan rasa sakit hebat yang serupa. Ditambah pula, posisi tubuh yang diberdirikan di kayu salib membuat seseorang sangat sulit bernapas. Zugibe berpendapat bahwa Yesus meninggal oleh shock karena terlalu banyak kehilangan darah dan cairan, shock yang traumatis atas setiap luka, dan shock pada jantung.

Dan itu hanya sebagian dari penderitaan Yesus! Sungguh tak terbayangkan bila kita mengalami penderitaan dan kesakitan yang serupa. Untuk apakah Yesus bersedia "mengalami maut bagi semua manusia" (Ibrani 2:9)? Bacaan hari ini menuntun kita untuk memahami keputusan besar ini. Dia berketetapan untuk melakukannya demi memimpin kita kepada keselamatan (ayat 10). Dia bersikeras memilih jalan ini agar kita tidak lagi diperhamba dosa (ayat 14). Dia juga tak ragu menyerahkan diri-Nya agar kita lepas dari ketakutan akan maut (ayat 15)!

Yesus telah melakukan misi besar ini bukan hanya untuk sebagian orang, melainkan bagi semua yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16). Tak seorang pun mau dan sanggup berkorban sedemikian besar bagi kita, kecuali Yesus. Sudahkah kita menghargakan pengurbanan-Nya yang di luar akal? -AW

30 Mei 2008

Roh-Nya Menguatkan

Nats : Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak teruca (Roma 8:26)
Bacaan : Roma 8:26-30

Ketika kebakaran besar terjadi di Kalifornia, Oktober 2007, dua ribu rumah habis dilalap api.

Barbara Warden, seorang korban dalam peristiwa itu, hanya sempat menyelamatkan tiga kotak berisi foto dan jam kuno warisan kakeknya. Meskipun hatinya remuk, ia tetap tegar. Dalam kebaktian di gerejanya, ia bersyukur karena tidak ada anggota keluarganya yang cedera. "Di dalam Tuhan, kita selalu menemukan banyak alasan untuk bersyukur -- walau pada masa sulit sekalipun," kata-nya.

Apa yang memampukan Barbara bersyukur di saat sulit? Pimpinan Roh Kudus! Paulus berkata bahwa saat hidup berada di titik terendah, saat itulah Roh Kudus mengirimkan perawatan intensif. Ketika hati begitu sarat beban sampai tak mampu lagi mengucapkan keluhan, Roh berdoa untuk kita kepada Allah. Dia sanggup mengubah bahasa air mata menjadi doa. Dengan cara ini, "keluhan yang tak terucapkan" itu bisa disalurkan (ayat 26), hingga kita mengalami kelegaan di hati, penghiburan ilahi, dan semangat hidup. Kita tidak menjadi panik, tetapi bisa mengamini bahwa apa pun yang terjadi, semua akan mendatangkan kebaikan (ayat 28). Hasilnya, kita tetap memandang masa depan secara positif, meski hari ini semuanya tampak suram. Roh Kudus memampukan kita berjalan dengan iman, bukan penglihatan.

Apakah hidup Anda terasa rumit? Apakah Anda sedang berada di "titik terendah"? Adakah keresahan menyelimuti Anda? Berdiam dirilah di hadapan Allah. Izinkan Roh Kudus menyampaikan keluh-kesah Anda dan mengubah airmata Anda menjadi doa. Anda akan menjadi lega dan tegar -JTI

31 Mei 2008

Sambutan Besar

Nats : Siapa yang menang .... Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya (Wahyu 3:5)
Bacaan : Wahyu 3:1-6

Ketika tsunami menerpa Aceh, seorang siswa SD bernama Martunis sedang asyik bermain sepakbola bersama teman-temannya dengan kostum kebesaran tim sepakbola Portugal. Ia terseret ke laut lepas, namun selama beberapa hari ia bertahan hidup terapung-apung melawan ombak, sengatan matahari, serta dinginnya angin dan air laut. Ia bertahan dengan memungut sisa mi instan dan air kemasan dari hamparan sampah di tengah laut. Beruntung sebuah kapal menyelamatkannya. Dan segera berbagai stasiun televisi dan surat kabar Portugal, Eropa, dan Indonesia, berkali-kali memunculkan wajah dan kisahnya yang menggemparkan dunia sepakbola Eropa.

Martunis diundang ke pertandingan sepakbola antarklub di Spanyol untuk menyemangati kesebelasan Portugal yang dikaguminya. Di sana Martunis dipanggil ke tengah lapangan dan disambut bak pahlawan oleh para pemain sepakbola Portugal kaliber dunia. Semua yang hadir pun berdiri dan bertepuk tangan. Martunis diberi kaos kebesaran kesebelasan Portugal yang baru, dipeluk pelatih dan para pemain, dielu-elukan para penonton, serta dihujani banyak hadiah!

Serupa dengan itu, demikian pula suasana yang kelak akan dialami setiap orang yang menang, yang setia mengikut Kristus sampai akhir hidupnya (ayat 5). Saat sangkakala terakhir berbunyi, Kristus yang bagai pengantin laki-laki diiringi para malaikat yang tak henti memuji nama-Nya, akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menyambut kita. Dan kita akan mengenakan "kostum favorit" surga, yakni jubah putih kesucian dan kesempurnaan surgawi. Anda rindu mengalaminya? Setialah sampai akhir -SST

17 Juni 2008

Jerih Lelah

Nats : Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai (Mazmur 126:5)
Bacaan : Mazmur 126

Beberapa waktu lalu, harian Kompas pernah memuat kisah tentang Mak Tino, seorang perempuan tua berusia 63 tahun asal Cilacap. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengumpul beras sisa yang jatuh dari truk pengangkut beras di pasar induk Cipinang. Rata-rata per hari ia bisa mengumpulkan 5 kilogram beras, yang dijualnya untuk makanan ayam seharga lima ribu rupiah. Dengan pendapatan seadanya itu, ia mampu menyekolahkan tiga anaknya sampai lulus SMP di kampungnya. Mak Tino tidak pernah menyesali jalan hidupnya. Ia sadar betul, itulah "bagian perjuangan" yang harus ia jalani.

Pada dasarnya, hidup adalah perjuangan; yakni perjuangan untuk meraih cita-cita, perjuangan untuk mewujudkan harapan. Selain itu kita juga harus berjuang untuk memenuhi panggilan hidup beriman; yakni menjadi berkat bagi dunia ini, serta membuat dunia di mana kita berada menjadi tempat yang lebih baik (Kisah Para Rasul 13:47). Sebagaimana dalam sebuah perjuangan pada umumnya, berlaku pula pepatah ini: "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."

Jangan berkecil hati kalau karena mengejar cita-cita kita harus berlelah-lelah. Jangan patah hati kalau karena menanti-nanti harapan kita harus berpayah-payah. Dan jangan tawar hati kalau karena memperjuangkan iman kita harus bersusah-susah. Menaburlah terus dengan tekun dan teguh. Jerih lelah kita tidak akan sia-sia. Inilah yang dinyatakan oleh pemazmur dalam bacaan kita. Bahwa akan ada saatnya, kita menuai buah hasil kita "menabur benih" (ayat 6) —AYA

19 Juni 2008

Blessing In Disguise

Nats : Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya (1 Raja-raja 17:15)
Bacaan : 1 Raja-raja 17:7-24

Suatu malam, seorang wanita kulit hitam setengah baya bertahan di tepi jalan tol Alabama dalam guyuran hujan. Mobilnya mogok. Ia berusaha mencari tumpangan. Beruntung seorang pemuda bule berhenti dan membawanya ke pangkalan taksi. Walau tergesa, wanita tadi tak lupa menanyakan alamat si pemuda.

Tujuh hari kemudian, si pemuda mendapat kiriman televisi berwarna besar yang sangat mahal, dengan catatan: "Terima kasih telah menolong saya di jalan tol malam itu. Hujan tak hanya membasahi baju saya, tetapi juga jiwa saya. Untung Anda datang. Jadi, saya masih sempat hadir di sisi suami saya yang sekarat ... hingga wafat. Tuhan memberkati Anda karena tidak mementingkan diri sendiri"—Tertanda: Ny. Nat King Cole (istri penyanyi jazz terkenal tahun 1960-an).

Walaupun kecil, karya kemanusiaan tetaplah menggetarkan hati. Sang janda Sarfat hidup hanya bersama anak perempuannya, di zaman yang sulit karena kemarau panjang dan bencana kelaparan. Ia hanya memiliki sedikit minyak dan segenggam tepung yang tinggal sekali dimasak (ayat 12). Namun karena memercayai Allah, ia mau menolong Elia yang kesulitan. Allah pun memberkati tepung dan minyaknya hingga bencana kelaparan berlalu. Dan bukan cuma berkat jasmani! Ketika putri tunggalnya mati, Tuhan, melalui Elia, membangkitkannya (ayat 22).

Tuhan dapat memakai siapa pun untuk memberkati —- seperti janda miskin di Sarfat yang menjadi saluran berkat bagi Elia. Dan, Tuhan menyediakan berkat tersembunyi bagi setiap hati yang tersentuh akan derita sesamanya. Anda rindu dipakai menjadi jalan berkat-Nya bagi sesama yang membutuhkan? Bertindaklah! —SST

30 Agustus 2008

Allah, Guru Kita

Nats : Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup (Ulangan 8:1)
Bacaan : Ulangan 8:1-3

Seorang guru yang baik tidak akan mendidik secara sembarangan. Ia akan mengemas pendidikannya dengan metode serta evaluasi yang tepat sesuai tujuan yang ditentukan. Lebih plus lagi bila ia kreatif dan mampu memikat hati naradidik dengan memerhatikan konteks hidup mereka. Sulit memang. Itu sebabnya guru yang baik termasuk langka. Lalu jika kemudian kita berpikir tentang Allah ... apakah Allah adalah guru yang baik?

Tentu saja! Bacaan kita berisi nasihat agar umat melakukan firman yang didengar (ayat 1). Ada tujuan pembelajaran di situ: "Supaya kamu hidup ..."; bahkan juga ujian dan metode pembelajarannya: setiap kita perlu mengingat pengalaman kita berjalan bersama Tuhan (ayat 2). Lalu, ada pula evaluasi: bagaimana sikap hati kita pada akhirnya-agar kita mengalami kepenuhan hidup-yakni saat kita menyadari bahwa kita bisa hidup dengan mengandalkan Allah dan firman-Nya saja (ayat 2,3).

Allah mendidik umat di padang gurun agar karakter mereka semakin matang. Padang gurun menjadi lokasi terbaik untuk belajar dalam hidup beriman, agar manusia lebih bergantung pada Allah ketimbang pada roti. Roti adalah simbol dari apa yang kita anggap kebutuhan dasar hidup. Namun dengan roti saja-tanpa Allah-umat akan mati dan tidak "lulus ujian" Allah.

Sudahkah kita mengikuti "kelas-Nya" dengan baik? Kelak, kita akan menghadapi "kelulusan final" saat kita meninggal, namun dalam tiap-tiap hari ada "tes-tes kecil" yang penting untuk kita menangkan. Bila Allah sedang mendidik Anda, bersyukurlah. Sebab melaluinya Anda akan semakin matang dan berbuah! -DKL

31 Agustus 2008

Bagai Bumerang

Nats : Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana (Amsal 22:8)
Bacaan : Esther 7

Seorang bapak membawa anaknya ke sebuah lembah. "Nak, coba kamu teriakkan sebuah kata," ujarnya. "Untuk apa, Pak?" tanya sang anak. "Coba saja," kata bapak itu lagi. Sang anak menurut. Ia beranjak ke ujung lembah. "Hai!" teriaknya. Sejenak sepi. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara gema dari arah lembah, "Hai... hai... hai..." Begitu pula dengan setiap kata yang diteriakkannya setelah itu. Kembali dengan kata yang sama. Bapak itu pun membukakan hikmah yang hendak ia ajarkan. "Nak, seperti itulah hidup kita. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai," katanya.

Bacaan hari ini mencatat kejadian yang membuktikan tentang hukum tabur tuai tersebut. Haman-seorang pejabat tinggi negara, sangat membenci Mordekhai-seorang pria Yahudi (Ester 3:5). Ia pun mendirikan tiang untuk menggantung Mordekhai. Lalu menyarankan kepada raja supaya mengadakan upacara penghormatan bagi orang yang telah berjasa kepada raja (ayat 7-9). Sangka Haman, dirinyalah yang akan dianugerahi kehormatan itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Raja memberikan kehormatan kepada Mordekhai (ayat 10). Sedang tiang yang Haman dirikan, akhirnya justru digunakan untuk menggantung dirinya (Ester 7:10).

Menabur dan menuai adalah dua hal yang saling terkait. Tidak saja dalam dunia pertanian, tetapi juga dalam hidup sehari-hari. Ketika kita menanam benih padi yang baik, biasanya kita pun akan menuai padi yang baik. Bila kita menabur kebaikan, pada saatnya kita akan menuai kebaikan. Sebaliknya bila kita menabur keburukan, maka pada saatnya juga kita akan menuai keburukan. Seperti Haman. Dan semoga bukan seperti kita -AYA

20 September 2008

Ketenangan Sejati

Nats : Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (Mazmur 62:2-3)
Bacaan : Mazmur 62:1-13

Pada tahun 80-an ada sebuah film berjudul Bodyguard yang dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston. Film ini bercerita tentang Houston sebagai artis yang hidupnya dikelilingi oleh para penggemar fanatik yang ingin mencelakai dirinya. Untuk melindungi diri, ia lalu menggunakan jasa pengawal pribadi, seorang veteran angkatan perang. Dalam film itu ditunjukkan bagaimana peralatan canggih digunakan di seluruh rumah Houston untuk membuatnya bisa tidur tenang.

Setiap orang tentunya ingin hidup tenang. Sebab apalah artinya kita memiliki segala sesuatu, tetapi hidup tidak tenang; selalu gelisah, galau, dan selalu dikejar ketakutan? Sayang orang kerap salah mencari sumber ketenangan. Misalnya, dengan menggantungkan hidup pada bodyguard, senjata, uang, atau jabatan.

Ketenangan yang sejati tidak terletak pada semua itu, tetapi pada kedekatan dengan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Pemilik sesungguhnya dari kehidupan ini. Tuhan adalah adalah sumber pengharapan dan perlindungan. Seperti yang disaksikan oleh Daud dalam Mazmur bacaan kita. Daud pernah hidup terlunta-lunta sebagai pelarian ketika dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, dan ia merasakan betul bagaimana kasih dan kuasa Tuhan melindunginya.

Anda mendambakan ketenangan? Kuncinya: jangan jauh-jauh dari Tuhan. Tidak berarti hidup kita kemudian menjadi lurus dan mulus, juga tidak lantas kita bebas lepas dari segala masalah. Tidak. Masalah dan rintangan bisa tetap ada, tetapi seberapa pun besarnya masalah yang mendera dan rintangan yang menghadang, itu tidak akan merenggut ketenangan kita -AYA

27 September 2008

Menjaga Rahasia

Nats : Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara (Amsal 11:13)
Bacaan : Amsal 11:9-13

Ibu Debi jengkel sekali. Dua hari lalu, ia baru saja menceritakan uneg-unegnya pada istri pendeta di gerejanya. Ia menceritakan perihal suaminya yang diduga menyeleweng. Suatu pagi, teman satu gereja menelepon dan bertanya: "Ada masalah apa dengan suamimu?" Ibu Debi kaget sekaligus kecewa. Kabar soal suaminya sudah sampai ke telinga para ibu di komisi wanita. Rupanya, dalam persekutuan doa ibu-ibu kemarin malam, sang istri pendeta memasukkan namanya ke dalam pokok doa. "Doakan Ibu Debi yang sedang punya masalah dengan suaminya," katanya. Walau berniat baik dan tak menyebut masalahnya secara rinci, si istri pendeta telah gagal menjaga rahasia.

Di gereja, banyak orang kecewa karena berhadapan dengan orang yang tak bisa menjaga rahasia. Ini masalah serius. Membocorkan rahasia berarti mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan seseorang. Walaupun tanpa sengaja, dampaknya tetap merusak. Amsal mengingatkan, mulut yang mengucapkan apa yang tidak perlu bisa "membinasakan sesama" (ayat 9), bahkan "meruntuhkan kota" (ayat 10). Selanjutnya, ketidakmampuan menyimpan rahasia juga menandakan bahwa orang itu tidak setia dan tidak bisa mengendalikan diri (ayat 12). Seseorang yang bijak seharusnya tahu kapan saatnya berdiam diri dan kapan saatnya menutupi perkara.

Sekali gagal menjaga rahasia, orang lain akan kapok untuk berbagi rasa lagi dengan kita. Mereka akan menutup diri karena merasa tidak aman. Akibatnya, kita akan kehilangan persekutuan yang akrab dan mendalam. Oleh sebab itu, mulai sekarang kendalikanlah lidahmu! Stop membicarakan yang tidak perlu -JTI

30 September 2008

Bukan Aib

Nats : Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauan (Matius 19:12)
Bacaan : 1Korintus 7:25-40

Sebuah cerita humor. Seorang gadis lajang berdoa begini: "Ya Tuhan, kalau memang ia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau ia bukan jodohku, jangan sampai ia dapat jodoh yang lain, selain aku. Amin."

Status melajang kerap kali dianggap menyusahkan atau bahkan dirasa sebagai aib bagi yang menyandangnya. Perasaan itu muncul biasanya karena si lajang mendengarkan perkataan orang lain. Padahal sebetulnya yang penting bukan statusnya, tetapi sikap dalam menghadapinya. Jika disikapi secara positif, maka sisi-sisi positifnya akan tampak. Bukankah orang yang melajang punya waktu luang dan konsentrasi lebih besar untuk berkarya? Melajang juga bukan berarti hidup sendiri, karena orang yang melajang justru punya kesempatan lebih banyak untuk membangun relasi dengan orang lain.

Mempunyai pasangan hidup atau menikah, tak serta merta membuat segalanya menjadi lebih baik. Paulus malah mengingatkan akan "harga" yang harus dibayar dalam hidup berpasangan (ayat 33-34). Intinya kalaupun berpasangan, janganlah sampai kita terbelenggu perkara duniawi. Jangan sampai riak-riak pernikahan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Jadi baik sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan tetap sama; berkarya memuliakan nama-Nya. Bila menikah, bijaklah membina keluarga. Bila hidup lajang, bajiklah membawa diri. Bagi lajang yang sangat ingin menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada di tangan-Nya. Jalani apa pun hidup Anda dengan rasa syukur. Percayakanlah hidup Anda pada rencana dan kebijaksanaan-Nya. Tuhan tahu yang terbaik -DYA



TIP #27: Arahkan mouse pada tautan ayat untuk menampilkan teks ayat dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA