Topik : Pertobatan

8 November 2002

Buldog Berlipstik

Nats : Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! (Matius 4:17)
Bacaan : Matius 4:17-25

"Dalam banyak organisasi, membuat perubahan bagaikan memoleskan lipstik pada anjing buldog. Anda harus berusaha keras. Sering kali yang Anda dapatkan hanyalah noda lipstik, dan seekor anjing buldog yang marah." Demikian tulis Dave Murphy dalam San Francisco Chronicle (Kronik San Fransisco).

Perubahan yang sejati, entah dalam bisnis, gereja, keluarga, atau dalam diri kita sendiri, mungkin sangat sulit dilakukan dan sukar dipahami. Saat kita merindukan perubahan yang mendalam dan berkelanjutan, sering kali kita hanya dapat melakukan perubahan tambal sulam yang tidak menyelesaikan apa pun serta tidak memuaskan seorang pun.

Kata bertobat digunakan Alkitab untuk menggambarkan awal perubahan rohani yang sejati. Seorang ahli bahasa, W. E. Vine, mengartikan bertobat sebagai "perubahan pikiran atau tujuan seseorang". Dalam Perjanjian Baru, pertobatan selalu melibatkan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu ketika seseorang meninggalkan dosa dan berpaling kepada Allah. Yesus memulai pelayanan-Nya kepada orang banyak dengan berseru, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 4:17).

Saat kita menyesal karena melakukan kesalahan atau karena tertangkap setelah berbuat salah, perasaan ini hanyalah sekadar kosmetik rohani. Pertobatan yang sejati terjadi di lubuk hati kita yang terdalam dan membuahkan perbedaan yang nyata dalam perbuatan kita.

Ketika kita berpaling kepada Kristus dan menyerahkan diri kepada- Nya, Dia mengadakan perubahan yang sejati, bukan sekadar perubahan tambal sulam —David McCasland

22 November 2002

Air Mata yang Kering

Nats : Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur (Matius 5:4)
Bacaan : Matius 5:1-10

Saya membaca sebuah berita tentang seorang wanita yang tidak pernah menangis selama 18 tahun yang disebabkan oleh faktor fisik, bukan emosional. Para dokter mengatakan bahwa ia menderita suatu penyakit langka, yakni sindrom Sjogren. Tanpa diketahui sebabnya, antibodi pada tubuhnya menyerang kelenjar air matanya, seolah-olah kelenjar itu adalah benda asing yang tidak diinginkan.

Itu mengingatkan saya pada masalah kerohanian yang dihadapi umat Allah. Mereka seharusnya dapat menangis, tetapi tidak dapat. Mereka seharusnya belajar dari apa yang dimaksudkan Yesus ketika Dia berkata, "Berbahagialah orang yang berdukacita" (Matius 5:4).

Kadang kala kita berpikir bahwa air mata menandakan kelemahan. Namun, jika benar demikian, mengapa Yesus menangis? (Lukas 19:41). Mengapa Yakobus minta orang-orang kristiani supaya menangisi dosa- dosa mereka? (Yakobus 4:9).

Ya, setiap orang memiliki cara berbeda-beda dalam mengekspresikan emosi. Namun air mata, dalam arti sebenarnya, bukanlah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Yang terpenting adalah sikap hati. Seberapa dalamkah kita merasakan dampak dari dosa kita. Apakah kita benar-benar merasa sedih secara rohani? Apakah kita menderita melihat konsekuensi tragis yang ditimbulkan oleh dosa kita dalam relasi kita dengan orang lain? Yang saya maksudkan bukanlah menunjukkan kesedihan pura-pura, tetapi apakah kita juga merasakan kesedihan yang sama dengan yang dirasakan Allah terhadap kejahatan? Apakah kita bersedia mengubahnya? Ataukah air mata kita juga sudah kering? –Mart De Haan II

12 Desember 2002

Mempersiapkan Natal

Nats : Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat! (Matius 3:2)
Bacaan : Yesaya 40: 1-11

Saya melihat-melihat beberapa majalah dan membaca artikel demi artikel yang membahas ketegangan menghadapi liburan Natal dan memberikan tips-tips untuk mempersiapkan Natal. Mereka memberikan nasihat yang sudah umum: Buatlah kue lebih awal; bungkuslah sekalian hadiah-hadiah saat Anda membelinya; jangan terlalu disibukkan oleh aktivitas. Semua nasihat itu baik, dan saya yakin Anda juga sudah punya pemikiran sendiri tentang beberapa hal yang perlu disiapkan. Secara pribadi, saya ingin berbelanja lewat katalog, kalau sempat.

Orang-orang yang mendengar khotbah Yohanes Pembaptis juga mengadakan persiapan. Bukan untuk merayakan Natal, tetapi untuk mengawali pelayanan Yesus bagi orang banyak (Yesaya 40:3-5; Maleakhi 3:1). Misi Yohanes adalah mempersiapkan jalan bagi Mesias melalui khotbah yang berisi seruan untuk bertobat (Lukas 3:3). Dalam rangka mempersiapkan kedatangan Sang Mesias, orang-orang harus membersihkan hati mereka dengan memohon pengampunan Allah atas dosa-dosa mereka.

Saat kita bersiap-siap merayakan kedatangan Yesus di bumi, seharusnya kita juga memperhatikan seruan Yohanes untuk bertobat (Matius 3:2). Yang terpenting adalah kita menyambut Natal tahun ini dengan hati yang bersih. Untuk mewujudkannya, kita harus mengakui dosa-dosa kita, meninggalkannya, dan memperbarui persekutuan kita dengan Tuhan. Setelah itu barulah kita dapat merayakan Natal dengan penuh sukacita dan kedamaian.

Itulah yang semestinya kita lakukan sebagai persiapan menyambut Natal -Dave Egner

23 Desember 2002

Pesan Nahum

Nats : Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah (Nahum 1:3)
Bacaan : Nahum 1:1-8

Jika Anda pernah membaca kitab Nahum, Anda mungkin akan berkata, "Tidak banyak sukacita dalam kitab ini!" Itu karena Nahum menulis tentang kehancuran Asyur dan ibukotanya, Niniwe.

Nahum menyatakan murka Allah ketika Dia menantang Asyur (2:13,3:5). Beberapa tahun sebelumnya, karena belas kasih-Nya dan demi mewujudkan kehendak-Nya sendiri, Dia telah mengirim nabi yang ogah- ogahan, yakni Yunus, untuk menyampaikan firman Tuhan kepada penduduk Niniwe. Pada saat penduduk kota tersebut bertobat, kota itu terselamatkan.

Hampir tidak ada yang lebih buruk daripada menyesali sebuah pertobatan, dan itulah yang terjadi di Asyur. Generasi mereka yang berikutnya berbalik lagi pada cara hidup nenek moyang mereka yang jahat. Kemudian Asyur menyerang Israel, dan Allah memutuskan untuk menghukumnya.

"Tuhan itu panjang sabar" (1:3). Namun, Dia adil dan tidak akan membebaskan orang yang berdosa dari hukuman (1:3-6). Niniwe akan segera mengetahuinya.

Karena itulah, perasaan saya menjadi tidak enak setelah mendengarkan pengakuan seorang teman lama. Sudah bertahun-tahun ia menjadi orang percaya, tetapi kemudian ia berpaling dari Kristus. Sikapnya itu membuat saya bertanya-tanya: Apakah ia seorang kristiani yang bebal, atau ia tidak sungguh-sungguh percaya? Dalam hal ini, ia juga akan segera mengetahui bahwa Tuhan tidak akan membebaskan orang berdosa dari hukuman.

Tuhan Yesus, lindungilah saya agar saya tidak menyesali pertobatan saya. Amin –Dave Egner

4 Januari 2003

Memperbaiki Keadaan

Nats : Di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa (Kolose 1:14)
Bacaan : Kolose 1:9-14

Pada perayaan Tahun Baru 1929, tim dari University of California di Berkeley bermain football melawan Georgia Tech dalam pertandingan Rose Bowl. Roy Riegels, salah seorang pemain pertahanan California, berhasil menguasai bola yang tak tertangkap oleh tim Georgia Tech. Secepat kilat ia berbalik dan berlari sejauh 59 meter, tetapi ke arah yang salah! Untungnya, salah seorang rekan setim Riegels berhasil merebut bolanya sesaat sebelum ia mencapai garis gol yang keliru. Pada permainan berikutnya, tim Georgia Tech kembali mencetak gol dan menang.

Sejak saat itu, Riegels mendapat julukan "Riegels si salah arah". Bertahun-tahun kemudian, setiap kali ia diperkenalkan, orang akan berseru, "Saya tahu Anda! Anda yang lari ke arah yang salah di pertandingan Rose Bowl itu, kan!"

Kegagalan kita mungkin tidak mencolok seperti kesalahan Riegels, tetapi kita semua pasti pernah menuju arah yang salah, dan kenangan itu terus menghantui kita. Ingatan terhadap dosa dan kegagalan itu akan muncul dan mengejek kita, bahkan pada pukul tiga dini hari. Andaikan kita bisa melupakannya! Andaikan kita bisa memperbaiki keadaan!

Sesungguhnya kita dapat melakukannya. Ketika kita mengakui dosa-dosa kita dan bertobat di hadapan Allah, Dia akan mengampuni dan tidak mengingat-ingat masa lalu kita. Dalam Kristus, "kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa" -- semua dosa kita (Kolose 1:14; 2:13).

Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan --David Roper

28 Maret 2003

Pulanglah!

Nats : Adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali (Lukas 15:32)
Bacaan : Lukas 15:11-32

Beberapa tahun yang lalu, saya dan istri saya Carolyn berkemah dekat kota Brimley, di Semenanjung Atas Michigan. Saat itu hari libur. Kami berjalan santai memasuki kota untuk melihat pawai tahunan. Sungguh, pawai tahunan itu adalah peristiwa menarik yang perlu saya ceritakan pada orang-orang rumah.

Dalam pawai itu ada barisan perwira yang mengendarai kuda, ratu-ratu yang hendak pulang, pengembara, bahkan Beruang Smokey! Ada kendaraan hias yang menampilkan Big Bird dari Sesame Street, dan truk berbak datar yang ditumpangi satu grup musik yang menggunakan alat musik tiup dari kuningan. Mereka mengenakan topi jerami dan berseragam merah, putih, dan biru. Ada bermacam-macam jenis kendaraan: traktor, kereta gandeng, truk, dan sepeda roda tiga anak-anak.

Kendaraan hias terakhir menyedot perhatian kami. Kendaraan itu menampilkan orang tua berambut kelabu yang sedang berlutut di kaki salib. Di bak belakang kendaraan hias itu terbentang tulisan: “PULANGLAH!” --YESUS

Yesus masih memanggil, “Pulanglah!” Anda tidak pernah pergi terlalu jauh atau terlalu parah untuk kembali pada kasih Allah. Dia tetap menunggu, seperti ayah anak yang hilang tersebut. “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (Lukas 15:20). Ia bersukacita karena anak bungsunya telah kembali (ayat 32).

Pulanglah kepada Tuhan. Jangan menjauh. Apa pun yang telah Anda lakukan, atau yang tidak Anda selesaikan, Dia tetap mengasihi Anda -- David Roper

13 Mei 2003

Menabur Benih Baik

Nats : Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari Tuhan (Hosea 10:12)
Bacaan : Hosea 10:12-15

Sebagai penggarap kebun baru, saya belajar bahwa tanah yang belum dipupuk tidak baik untuk menumbuhkan tanaman. Namun, ketika saya menanam benih yang baik pada tanah yang dipupuk dengan baik, matahari dan hujan akan memelihara pertumbuhan sampai saat panen tiba. Tanah yang disiapkan dengan baik, benih yang baik, dan berkat Allah sangatlah penting untuk memperoleh pa-nen melimpah. Itu tidak hanya berlaku dalam berkebun, tetapi juga dalam hidup orang kristiani.

Hosea, nabi Allah, mengajarkan prinsip ini kepada umat Israel. Waktu itu mereka tidak mau berserah kepada Allah. Umat Israel justru menabur kejahatan dan mengandalkan diri sendiri. Kini mereka memakan buah kebohongan, terutama kebohongan bahwa kese-lamatan dan keberhasilan berasal dari kekuatan militer mereka sendiri (Hosea 10:13).

Hosea mendesak bangsa Israel untuk mengikuti jalan Allah, menggemburkan hati mereka yang keras karena dosa dan "mencari Tuhan" (ayat 12). Jika mereka menabur benih kebenaran, maka mereka akan memetik belas kasih Allah dan Dia akan mencurahkan hujan berkat ke atas mereka.

Apakah Anda tidak mau membuka hati bagi Allah serta firman-Nya? Apakah Anda lebih mengandalkan diri sendiri daripada Allah? Jika demikian, kini saat yang tepat bagi Anda untuk mencari Tuhan dengan pertobatan yang jujur, menabur perbuatan dan sikap yang baik, serta setia mengikuti jalan-Nya. Yang terutama, bersandarlah pada kuasa- Nya dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Hidup Anda akan berbuah lebat --Joanie Yoder

22 Agustus 2003

"maafkan Saya"

Nats : Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan (2Korintus 7:10)
Bacaan : Hosea 6:1-6

Dengan berlinang air mata seorang pria berkata kepada saya, "Saya sudah minta maaf kepada istri saya, tapi ia tidak mau hidup bersama saya lagi. Namun 1 Yohanes 1:9 berkata bahwa Allah mengampuni jika kita mengaku dosa kita. Tolong, ajaklah istri saya bicara dan katakan padanya bahwa jika Allah mengampuni, sebaiknya ia juga demikian."

Saya tahu bahwa pria ini telah beberapa kali memutuskan untuk "bertobat", tetapi ia selalu kembali menyiksa istrinya. Sebab itu saya berkata, "Tidak, saya tidak akan mengatakan hal itu kepadanya. Dalam kasus Anda, berkata 'Maafkan saya' tidaklah cukup." Istrinya bersikeras agar ia mengikuti konseling dan membuktikan perubahan yang sungguh-sungguh sebelum kembali ke rumah. Sang istri bertindak benar.

Sekadar mengucapkan "Maafkan saya" juga tidak cukup bagi Allah. Saat para pemimpin Israel menghadapi kesulitan yang diakibatkan oleh dosa, mereka berpikir bahwa kembali memberikan korban persembahan cukup untuk menyelesaikan masalah. Namun, Allah menolak "pertobatan" seperti itu, yang menghilang dengan cepat seperti "kabut pagi" dan "embun yang hilang pagi-pagi benar", yang lenyap dengan terbitnya sinar matahari pagi (Hosea 6:4).

Hanya mengucapkan "Maafkan saya" sebenarnya sama saja dengan melakukan ritual-ritual kosong bangsa Israel. Allah berkata, "Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran" (ayat 6). Dia menginginkan pertobatan yang menghasilkan perubahan hati dan sikap. Itulah "dukacita menurut kehendak Allah" (2 Korintus 7:10) -- Herb Vander Lugt

21 September 2003

Bertobat dan Bersukacita

Nats : Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya ... baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya (Yesaya 55:7)
Bacaan : Mazmur 51

Seorang wanita kristiani menanyakan kabar saudara seimannya. Dengan senyum lebar pria itu menjawab, "Saya sedang bertobat dan bersukacita, Saudariku!"

Saya yakin pria ini berjalan dalam roh pertobatan. Setiap hari ia mengakui dan berbalik dari dosanya, serta bersukacita dalam pengampunan Allah.

Karena pertobatan sejati melibatkan ratapan, kita mungkin lupa bahwa pertobatan menuntun kita pada sukacita. Ketika pertama kali bertobat dan menjadi orang percaya, kita mengalami sukacita besar. Namun, bila kemudian kita memilih untuk hidup di dalam dosa yang tak diakui, sukacita itu pun akan hilang.

Daud percaya sukacitanya dapat dipulihkan. Setelah mencurahkan perasaan dalam doa untuk memohon pertobatan dari Allah, dengan rendah hati Daud memohon, "Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu" (Mazmur 51:14). Saat berbalik kepada Tuhan, Daud memperoleh tujuan hidupnya kembali: "Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu" (ayat 15). Melalui iman kepada Allah Maha Pengampun dan penuh belas kasihan, Daud mulai bersukacita kembali dalam keselamatannya (ayat 16,17).

Apakah Anda terkadang kehilangan sukacita atas keselamatan karena gagal mengatasi dosa? Jika Anda mengakuinya, Allah akan mengampuni Anda (1 Yohanes 1:9). Dia akan memulihkan sukacita Anda dan membantu mengatasi dosa yang meresahkan Anda. Inilah makna menjadi orang kristiani yang "bertobat dan bersukacita" --Joanie Yoder

27 September 2003

Selamat Tahun Baru!

Nats : Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang (Yoel 2:13)
Bacaan : Yoel 2:12-17

Rosh Hashanah adalah Tahun Baru Yahudi yang dipahami sebagai peringatan akan hari penciptaan dunia oleh Allah. Perayaan tersebut diawali dengan peniupan serunai (yang terbuat dari tanduk domba jantan) untuk mengumumkan bahwa Allah pencipta dunia ini masih merupakan Pribadi yang memerintah hingga saat ini. Peniupan serunai ini juga menandakan dimulainya masa introspeksi diri dan pertobatan selama sepuluh hari untuk memasuki hari Yom Kippur atau hari Pendamaian (Imamat 23:23-32, Bilangan 29:1-6).

Nabi Yoel mendorong agar manusia tidak hanya menunjukkan pertobatan secara lahiriah, tetapi juga harus berbalik dari dosanya dan datang kepada Allah (Yoel 2:13). Pada masa itu, tindakan mengoyak pakaian merupakan lambang penyesalan terhadap dosa. Sungguh pertunjukan yang menarik, tetapi hal ini tidak berkesan bagi Allah. Allah lebih memperhatikan hati mereka.

Yang sangat menarik adalah dasar dari ajakan Yoel ini. Ajakannya bukan hanya untuk menghindari murka Allah, melainkan juga untuk menikmati anugerah, belas kasih, dan kasih Allah. Kadang-kadang kita berpikir bahwa Allah itu kejam dalam menghukum dan menghitung-hitung dalam berbelas kasih. Perkataan Yoel ini mengingatkan kita bahwa Allah tidaklah demikian. Tuhan itu lambat dalam menghukum dan selalu bersedia untuk mengampuni.

Tidak ada cara yang lebih baik untuk memuji ciptaan Allah selain membiarkan Dia memperbarui hati Anda melalui iman dalam Yesus Sang Mesias, dan menyerahkan semua keinginan Anda kepada-Nya --Julie Link

20 November 2003

Bertindaklah!

Nats : Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu (Matius 5:29)
Bacaan : Roma 8:12-16

Majalah, bioskop, dan televisi mempertontonkan perilaku yang memalukan. Bahkan pelanggaran susila pun dianggap sebagai lelucon. Dunia sedang mencoba meyakinkan setiap orang bahwa tidak ada lagi yang bersifat dosa. Oleh sebab itu, kita harus waspada terhadap setiap bentuk kompromi dalam hati kita.

Ketika masih bertugas dalam dinas militer, saya menyadari bahwa saya mulai terbiasa dengan kata-kata dan tingkah laku yang jorok dari beberapa teman serdadu. Ketika saya menyadari apa yang sedang terjadi, saya memohon kepada Tuhan untuk memulihkan kepekaan saya terhadap dosa yang memprihatinkan seperti itu.

Sikap yang memaklumi kejahatan akan membawa kita jatuh ke dalam dosa. Karena itu, kita harus menolak dengan tegas setiap bentuk kejahatan.

Bahkan Yesus mengatakan lebih gamblang lagi, yakni bahwa kita harus mencungkil mata kita jika hal itu membuat kita jatuh ke dalam dosa (Matius 5:29). Dia tidak mengatakan bahwa kita harus memuntungkan tubuh kita, tetapi kita harus mengambil tindakan tegas ketika tergoda untuk berbuat dosa. Buku, majalah, atau gambar-gambar video yang membangkitkan hasrat yang tidak benar harus dihindari dengan sadar. Inilah yang ada di benak Paulus ketika ia mengatakan bahwa kita harus "mematikan perbuatan-perbuatan tubuh" (Roma 8:13). Seseorang yang tidak memedulikan dosa yang terjadi di sekitarnya atau bahkan bermain-main dengannya, tengah terancam bahaya besar.

Kita tidak boleh menyepelekan masalah ini. Ini saatnya untuk bertindak! --Herb Vander Lugt

30 Maret 2004

Seruan untuk Waspada

Nats : Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal ... sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku (Wahyu 3:2)
Bacaan : Wahyu 3:1-6

Tanggal 26 Februari 1993 sebuah bom yang dahsyat meledak di parkiran bawah tanah World Trade Center di New York. Bom itu menewaskan enam orang dan melukai lebih dari seribu orang. Peristiwa itu mendorong dilakukannya penyelidikan dan penangkapan terhadap banyak orang. Namun, hanya sedikit penegak hukum yang mengenali kejadian itu sebagai bagian dari rencana teroris internasional. Saat menara World Trade Center dihancurkan teroris tahun 2001, pejabat tinggi departemen kepolisian Raymond Kelly teringat serangan pertama masa silam itu dan berkata, “Hal itu seharusnya menjadi seruan untuk waspada bagi Amerika.”

Tuhan menegur jemaat di Sardis bahwa meski mereka memiliki reputasi yang baik karena memiliki iman yang hidup, sebenarnya iman mereka mati. Dia mengajak mereka untuk berjaga, “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:2,3).

Tiap orang percaya dipanggil Tuhan untuk berjaga, bukannya lalai dan tak peduli. Bila semangat kita telah padam, Dia meminta dengan sangat kepada kita untuk mengobarkan bara api itu kembali.

Tanyakan pada diri Anda sendiri: Adakah panggilan untuk waspada dalam hidup saya akhir-akhir ini yang saya abaikan? Apakah Allah tengah berusaha memberitahukan sesuatu kepada saya? Akankah saya sambut panggilan-Nya untuk berjaga pada hari ini? —David McCasland

27 Mei 2004

Malapetaka

Nats : Atau sangkamu kedelapan belas orang, ... lebih besar kesalahannya ...? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian (Lukas 13:4,5)
Bacaan : Lukas 13:1-5

Sebagian orang kristiani dengan cepat berpendapat bahwa bencana (seperti serangan teroris, gempa bumi, atau banjir) merupakan akibat dari penghakiman Allah. Kenyataannya, terdapat serangkaian faktor yang kompleks di balik sebagian besar bencana.

Dalam Lukas 13, Yesus ditanyai tentang sejumlah orang yang mati mengenaskan dan 18 orang yang tewas tertimpa menara. Orang-orang yang melontarkan pertanyaan tersebut tengah bertanya-tanya dalam hati apakah mereka yang mati itu dosanya lebih besar daripada orang yang lain. “Tidak!” sahut Yesus, “tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (ayat 3,5).

Daripada memandang penghakiman Allah sebagai tragedi, mari kita memandangnya sebagai panggilan untuk bertobat secara pribadi. Hal ini khususnya berlaku bagi orang yang belum percaya, dan juga bagi orang kristiani. Sebagai contoh, tindakan terorisme menantang kita untuk mempelajari ketidakadilan yang turut andil dalam mendorong orang melakukan kekejaman mengerikan semacam itu. Dan kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh untuk pertobatan dan kebaikan para pelaku kejahatan yang putus asa itu.

Malapetaka itu sendiri memang bukanhal yang baik, tetapi dapat dipakai untuk menggenapi rencana Allah dengan menyadarkan orang percaya dan membawa orang yang belum percaya untuk bertobat serta beriman kepada Yesus. Janganlah kita bertanya, “Siapa yang patut disalahkan dalam bencana ini?”, tetapi “Tuhan, apa yang ingin Engkau katakan kepada saya melalui kejadian ini?” —Herb Vander Lugt

25 Agustus 2004

Setengah Matang

Nats : Efraim telah menjadi roti bundar yang tidak dibalik.... Namun mereka tidak berbalik kepada Tuhan, Allah mereka (Hosea 7:8,10)
Bacaan : Hosea 7

Nabi Hosea memakai suku Efraim sebagai gambaran puitis tentang kerajaan Israel utara. Dalam teguran yang indah, ia menulis bahwa Efraim telah menjadi "roti bundar yang tidak dibalik" (Hosea 7:8).

Dalam istilah sekarang, Nabi Hosea mungkin mengatakan bahwa Efraim "setengah matang". Suku Efraim itu seperti kue panekuk yang matang pada satu sisinya, tetapi sisi lainnya masih mentah. Meskipun mereka menikmati kebaikan Tuhan, mereka tidak mencari Dia dengan sepenuh hati. Ketika mereka membutuhkan pertolongan, mereka berpaling kepada ilah-ilah yang lain (ayat 10,11,14-16). Mereka telah menjadi hambar dan tidak berguna di hadapan Allah, sehingga Dia terpaksa menghukum mereka.

Yesus mengulangi perkataan Nabi Hosea tersebut. Meskipun Dia menggunakan perkataan yang lembut kepada para pendosa yang bertobat, Dia menggunakan perkataan yang keras kepada orang-orang sombong dan merasa diri benar, yang ingin hidup semaunya sendiri. Dia geram terhadap para pemimpin agama yang "bermuka dua", yang berkata manis tetapi bersifat munafik dan mengeksploitasi para pengikutnya (Matius 23:13-30).

Allah tidak pernah bersikap lunak terhadap dosa. Dia mengirim Putra Tunggal-Nya untuk menebus kita dari hukuman dosa (Yohanes 3:16). Janganlah kita menjadi orang kristiani yang setengah matang, yang memohon pengampunan dosa dari Allah, tetapi masih hidup semaunya sendiri. Satu-satunya tanggapan yang layak terhadap belas kasih dan anugerah Allah adalah melayani Dia dengan rendah hati dan penuh kasih --Haddon Robinson

10 September 2004

Cara Hidup

Nats : Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu (Efesus 4:26)
Bacaan : Kolose 3:5-9

"Bagaimana semuanya bisa kotor secepat ini?" gerutu saya sembari membersihkan kaca meja. "Padahal baru sebulan yang lalu saya membersihkannya."

"Pembersihan adalah sebuah cara hidup, bukanlah suatu peristiwa," jawab suami saya.

Saya tahu perkataannya benar, tetapi saya benci mengakuinya. Saya ingin membersihkan rumah kami satu kali saja dan ingin agar rumah tetap bersih. Tetapi rupanya kotoran tidak mudah menyerah begitu saja. Butir demi butir debu membuat rumah menjadi kotor kembali. Sedikit demi sedikit, noda pun bertumpuk.

Dosa bagaikan debu dan noda di rumah saya. Saya ingin memusnahkannya dengan sekali berdoa untuk mengakui dosa dan bertobat. Tetapi dosa tidak menyerah semudah itu. Perilaku buruk kembali merasuki pikiran demi pikiran saya. Pilihan demi pilihan yang kita ambil menghasilkan tumpukan berbagai konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Rasul Paulus memerintahkan jemaat di Kolose untuk membuang "marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor" (Kolose 3:8). Lalu ia mengingatkan jemaat di Efesus, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26).

Kematian dan kebangkitan Kristus menghilangkan kewajiban untuk mempersembahkan korban setiap hari. Tetapi pengakuan dosa dan pertobatan masih diperlukan dalam kehidupan orang kristiani setiap hari. Menyingkirkan hal-hal seperti amarah, kegeraman, dan kejahatan adalah cara hidup, bukan peristiwa yang hanya terjadi satu kali --Julie Ackerman Link

3 Desember 2004

Mencari Allah?

Nats : Pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah (Matius 21:31)
Bacaan : Matius 21:28-32

Saya dan istri saya sedang makan ma-lam dengan sepasang suami istri di pondok pemancingan di Montana. Tetapi acara itu terganggu oleh suguhan cerita kasar seorang pemancing mabuk tentang kunjungannya.

Meski komentarnya terdengar bodoh dan menyinggung perasaan, saya menangkap nada belas kasihan dalam suaranya. Kemudian saya teringat ucapan G.K. Chesterton, “Bahkan ketika manusia mengetuk pintu rumah pelacuran, mereka sesungguhnya sedang mencari Allah.”

Chesterton memang benar. Banyaknya hasrat membuktikan adanya kehausan yang mendalam akan Allah. Pria tadi, yang tampaknya jauh dari Allah, sebenarnya tanpa ia sadari lebih dekat kepada Allah.

Setiap orang tahu bahwa ia diciptakan untuk mengejar sesuatu yang tinggi, tetapi dengan santai ia justru berjalan di jalan yang me- rendahkan dirinya. Ia menjadi kurang tangguh dari yang seharusnya, dan ia tahu hal itu. Ada perasaan yang selalu mengganggunya bahwa ia seharusnya lebih dari yang sekarang. Sebagian orang menyembunyikan hal itu dengan menganggap diri paling benar, seperti orang Farisi, atau bersikap tak peduli. Sebagian lagi tahu bahwa mereka telah tersesat. Perasaan yang sukar dimengerti itu bila ditindaklanjuti dapat membawa mereka kepada Allah.

Yesus berkata kepada orang Farisi, “Pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Matius 21:31). Karena itu, saya rasa pemancing mabuk tadi jauh lebih mungkin bertobat daripada kaum Farisi —David Roper

10 Desember 2004

Peribahasa Berbahaya

Nats : [Jika seseorang] hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia—ialah orang benar, dan ia pasti hidup (Yehezkiel 18:9)
Bacaan : Yehezkiel 18:1-9

Peribahasa apa pun mengandung bahaya. Peribahasa adalah prinsip umum—bukan kebenaran mutlak—dan dapat disalahgunakan. Dikatakan, “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, tetapi itu tergantung siapa yang mengatakannya dan apa alasannya. Itu ada benarnya. Tetapi bila orang mengutipnya untuk membenarkan kekacauan yang ia lakukan, maka peribahasa itu dapat digunakan sebagai alasan bahwa ia hanyalah korban dari tindakan orang lain.

Nabi Yehezkiel ingin membawa tawanan Ibrani di Babel untuk tak hanya kembali ke kampung halaman mereka, tetapi juga kepada Allah. Itu adalah tawaran sulit. Mereka merespons dengan berlindung di bawah sebuah peribahasa, “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak- anaknya menjadi ngilu” (Yehezkiel 18:2).

Dengan peribahasa ini para tawanan menyalahkan pendahulu mereka atas penawanan yang mereka alami. “Anda tak mungkin serius minta kami bertobat,” protes mereka. “Ini salah orangtua ka-mi. Mereka makan buah mentah dan kami menanggung akibatnya.”

Maka Allah berbicara melalui Yehezkiel, “Kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini [peribahasa] lagi di Israel” (ayat 3). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati,” Allah berfirman (ayat 4). Namun, “[Jika seseorang] hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan- Ku dengan berlaku setia—ialah orang benar, dan ia pasti hidup” (ayat 9).

Peribahasa adalah alat pembimbing yang baik. Peribahasa tak pernah dapat menjadi alasan perilaku buruk kita —Haddon Robinson

16 Maret 2005

Nurani yang Bersih

Nats : Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia (Kisah Para Rasul 24:16)
Bacaan : Roma 2:12-16

Cerita anak-anak yang sangat digemari, Pinokio, adalah kisah sebuah boneka kayu yang hidungnya akan semakin panjang apabila ia berdusta. Temannya, si Jimmy Jangkrik mengatakan, "Jadikan hati nurani sebagai penuntunmu." Pinokio pun menuruti nasihat temannya. Ia bertobat, lalu kembali kepada Geppetto, penciptanya. Pinokio kemudian berbakti kepada Geppetto dan dibebaskan dari tali-talinya.

Ada sebuah prinsip dalam cerita ini yang pantas diterapkan bagi anak-anak Allah. Jika kita tak mendengarkan suara dari dalam batin kita yang mengatakan apa yang perlu atau tidak perlu kita lakukan, hidup kita akan terbelenggu. Namun, nurani yang murni akan memberi kebebasan.

Beberapa orang tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan yang saleh. Hati nurani mereka lemah, dan mereka dengan mudah diombang-ambingkan sikap orang lain. Dan ada juga orang yang hati nuraninya telah rusak. Ukuran yang mereka pakai untuk menilai yang baik dan jahat telah rusak, tercemar, dan tidak kudus (Titus 1:15). Namun yang paling menyedihkan adalah mereka yang hati nuraninya telah "memakai cap" dusta dan kesesatan (1 Timotius 4:2). Mereka telah sekian lama menolak suara batin mereka, sehingga tidak dapat lagi mendengar bisikan hati nurani.

Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana kita dapat memiliki nurani yang bersih?" Kita harus bertobat dari dosa dan berbalik kepada Pencipta kita. Kita harus meminta Dia memperbarui hasrat dan sikap kita sesuai dengan firman-Nya dan kemudian menaatinya dengan hati-hati —DHR

29 Juni 2005

Kembali

Nats : "Kamu tidak berbalik kepada-Ku," demikianlah firman Tuhan (Amos 4:6)
Bacaan : Amos 4:4-13

Kitab Amos dalam Perjanjian Lama telah memberi kita beberapa frasa yang tak terlupakan: "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?" (3:3). "Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu" (4:12). "Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air" (5:24).

Namun, frasa yang paling sering disebutkan dalam Kitab Amos disebutkan lima kali di dalam pasal 4. Berulang kali Tuhan berbicara mengenai semua hal yang telah dilakukan-Nya untuk menghukum umat-Nya yang suka melawan dan mau menang sendiri, kemudian membawa mereka kembali kepada-Nya. Respons terhadap setiap kasus selalu sama: "‘Kamu tidak berbalik kepada-Ku,’ demikianlah firman Tuhan" (Amos 4:6,8-11).

Saat kita membaca dan heran dengan kekerasan hati mereka, kita juga harus bertanya apakah hal yang sama juga terjadi pada kita. Kita sudah merasa bahwa Tuhan berusaha mendapatkan perhatian kita, bagaimana kita merespons-Nya?

Nubuat Amos terdiri dari peringatan atas penghakiman, penawanan, dan penghancuran. Kendati demikian, tersedia panggilan untuk bertobat dan janji pemulihan: "Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian Tuhan, Allah semesta alam, akan menyertai kamu" (5:14).

Kitab Amos memiliki banyak frasa yang mudah diingat, tetapi seharusnya kita tidak pernah melupakan undangan Allah bagi semua orang yang menjauh dari-Nya: Kembalilah pada-Ku.

Jika Anda belum kembali, maka kembalilah sekarang juga —DCM

2 Agustus 2005

Maafkan Saya

Nats : Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa (Lukas 15:21)
Bacaan : Lukas 15:11-24

Permintaan maaf yang sungguh-sungguh dapat menjadi langkah pertama menuju pengampunan. Colleen O Connor menulis dalam The Denver Post: Permintaan maaf yang berhasil dapat melarutkan amarah, rasa malu, menunjukkan rasa hormat, membangun rasa percaya, dan membantu mencegah kesalahpahaman yang lebih lanjut. Permintaan maaf yang tulus membuat orang jauh lebih mudah mengampuni.

Pengarang Barbara Engel mengatakan bahwa permintaan maaf sejati tergantung pada tiga hal: penyesalan, tanggung jawab, dan perubahan.

Dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang diceritakan bahwa sang pemuda keras kepala yang pulang ke rumah setelah memboroskan harta warisannya, menghampiri bapanya dengan kerendahan hati dan perasaan bersalah, Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa (Lukas 15:21). Ia menunjukkan penyesalan atas luka yang ia timbulkan, bertanggung jawab atas tindakannya, dan siap bekerja sebagai pekerja upahan (ayat 19).

Sebagai pengikut Yesus, kita diperintahkan mengampuni orang lain ketika mereka bertobat dan menyesal (Lukas 17:3,4). Selain itu di dalam roh kerendahan hati dan kasih yang sama, kita harus menolong mereka yang perlu memaafkan kita dengan mengajukan permintaan maaf yang tulus.

Permintaan maaf yang tulus tidak memaksa orang lain untuk mengampuni, namun merupakan hal yang benar untuk dilakukan. Kita harus mengambil langkah pertama menuju kebebasan untuk mengampuni DCM

3 Agustus 2005

Kami Tidak Butuh Engkau

Nats : Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia? (Yeremia 2:5)
Bacaan : Yeremia 2:5-13

Alkisah sekelompok ilmuwan memutuskan bahwa manusia dapat hidup tanpa Allah. Maka salah seorang dari mereka memandang ke atas, kepada Allah, dan berkata, Kami telah memutuskan bahwa kami tidak lagi membutuhkan Engkau. Kami memiliki cukup hikmat untuk mengkloning manusia dan melakukan banyak hal ajaib.

Allah mendengarkan dengan sabar dan kemudian berkata, Baiklah, mari kita mengadakan kontes penciptaan manusia. Kita akan melakukannya persis seperti Aku dulu menciptakan Adam. Para ilmuwan setuju. Kemudian salah satu dari mereka membungkukkan badan dan mengambil sekepal tanah. Allah memandang dia dan berkata, Oh, tidak! Engkau harus membuat tanahmu sendiri!

Pada zaman Yeremia, bangsa Israel hidup seakan-akan tidak lagi membutuhkan Tuhan. Mereka memercayakan diri mereka kepada ilah-ilah lain, sekalipun ilah mereka itu tidak dapat menanggapi kebutuhan-kebutuhan mereka. Yeremia menentang pemberontakan mereka, karena telah meninggalkan Allah yang sejati dan menunjukkan sikap yang tidak hormat terhadap Dia (Yeremia 2:13,19).

Apakah kita berbuat salah karena telah menjalani hidup seakan-akan tidak membutuhkan Allah? Kita mungkin mengenal Dia sebagai Juruselamat, namun memberhalakan hikmat atau kebebasan kita. Mungkinkah Tuhan berkata tentang kita, Mereka menjauh dari pada-Ku? (2:5).

Hidup jauh dari Allah mempermalukan dan tidak menyenangkan Dia, dan tidak akan pernah memenuhi kebutuhan kita yang terdalam. Namun, kita dapat berbalik kepada-Nya hari ini (3:7) AMC

14 September 2005

Marah atau Bersyukur?

Nats : Ketika Allah melihat perbuatan mereka, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah (Yunus 3:10)
Bacaan : Yunus 3:10-4:11

Apa reaksi yang kita lontarkan ketika Allah menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang menurut kita layak untuk dihukum? Apabila kita tidak setuju, hal itu menunjukkan bahwa kita pun telah lupa betapa besar pengampunan Tuhan bagi kita.

Setelah Yunus mengikuti panggilan Allah yang kedua kalinya untuk menyerukan penghakiman-Nya terhadap Niniwe (Yunus 3:1-4), penduduk kota itu berbalik dari cara hidup mereka yang jahat, sehingga Tuhan tidak jadi menghukum mereka (ayat 10). Belas kasih Allah membuat Yunus marah. Ia kemudian berkata kepada Allah bahwa itulah yang ia takutkan akan terjadi, dan karena itulah ia sempat melarikan diri ke Tarsis. Aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang ... yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4:2).

Akan tetapi, Allah berfirman kepada Yunus, Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang? (4:11).

Kasih karunia Allah yang mengagumkan jauh lebih besar daripada dosa kita. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8). Karena kasih karunia-Nya kepada kita, kita harus ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni [kita] (4:32).

Daripada kita marah ketika Allah berbelas kasih kepada orang lain, alangkah lebih baiknya apabila kita mengucapkan syukur DCM

27 September 2005

Ratapan Daud

Nats : Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku akan menjadi tahir, basuhlah aku, aka aku menjadi lebih putih dari salju! (Mazmur 51:9)
Bacaan : 2Samuel 12:1-14

Mungkin Anda sudah tahu cerita berikut ini. Raja Daud, penguasa Israel yang paling terkenal, orang yang dekat dengan hati Allah, menjadi pribadi seorang penggoda, pezina, pendusta, pembunuh. Ia menjadi sangat tidak berbelas kasihan dan tidak tergerak oleh kelakuan jahatnya. Penguasa Israel itu telah dikuasai oleh dosa.

Setahun berlalu setelah Daud berzina dengan Betsyeba dan merencanakan pembunuhan terhadap suaminya. Kondisi Daud secara fisik dan emosional memburuk. Pikirannya yang terganggu membuatnya gelisah dan sedih. Ia tidak dapat tidur nyenyak.

Ketika Daud dihadapkan dengan pelanggarannya, ia tidak dapat melakukan pembelaan diri. Ia kemudian berseru, Aku sudah berdosa kepada Tuhan (2Samuel 12:13). Dan Nabi Natan menjawab, Tuhan telah menjauhkan dosamu itu. Walaupun Daud harus menerima akibat buruk dari perbuatan dosanya, ia menerima jaminan pengampunan dari Allah.

Setelah menyadari betapa besar dosa dan akibat-akibatnya, Daud kemudian menuliskan Mazmur 51, nyanyian pertobatan dan permohonan atas pengampunan Allah. Aku sendiri sadar akan pelanggaranku .... Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju (ayat 5,9).

Apakah Anda tengah menanggung akibat dosa? Jika demikian halnya, akuilah kesalahan Anda dan mintalah agar Allah membersihkan hati Anda. Maka Dia akan menunjukkan belas kasihan dan memulihkan sukacita Anda manakala Anda berbalik kepada-Nya DHR

13 Oktober 2005

Mendapat Tikus?

Nats : Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memerhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan (1 Samuel 15:22)
Bacaan : 1Samuel 15:13-23

Setika sedang memotong rumput, saya melihat gundukan tanah berpasir pada halaman rumput yang selama ini rata. Ternyata rupanya ada satu keluarga tikus pondok yang telah berpindah dari hutan yang terletak di dekat rumah, kemudian tinggal di bawah tanah pekarangan kami. Makhluk-makhluk kecil ini telah merusak halaman rumput kami dengan menggali tanah dan merusak rumput yang indah.

Dalam beberapa hal, aktivitas tikus tersebut menggambarkan sisi gelap hati manusia. Di luar, kita barangkali kelihatan baik dan sopan. Tetapi ketamakan, hawa nafsu, prasangka, dan kecanduan dapat merusak dari dalam. Cepat atau lambat, dosa-dosa itu akan menjadi jelas.

Raja Saul melakukan kesalahan fatal yang telah membusuk di dalam dirinya, yaitu pemberontakan melawan Allah. Ia diperintahkan untuk tidak mengambil jarahan perang dari bangsa Amalek (1 Samuel 15:3). Tetapi sesudah mengalami kemenangan telak, ia membiarkan bangsa Israel menyimpan ternak terbaik untuk mereka sendiri (ayat 9).

Ketika Nabi Samuel menegur raja, Saul berdalih bahwa ia mengambil domba dan lembu tersebut untuk dikorbankan bagi Allah. Tetapi dalih ini hanya untuk menutupi kesombongannya yang penuh dosa, yang kemunculannya bertentangan dengan Allah yang menurut pengakuannya hendak ia layani.

Obat yang ditawarkan Allah bagi pemberontakan adalah pengakuan dan penyesalan. Seperti Saul, Anda mungkin mencari-cari dalih untuk membenarkan dosa Anda. Akui dan tinggalkanlah dosa itu sebelum terlambat -HDF

28 Oktober 2005

Balas Dendam Penebusan

Nats : Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya (Roma 12:20)
Bacaan : Roma 12:17-21

Dalam buku yang berjudul Rumors Of Another World, Philip Yancey menceritakan kisah yang mengilustrasikan jenis “pembalasan dendam” yang dibicarakan oleh Paulus di dalam Roma 12:20, yaitu ketika ia mengatakan bahwa menunjukkan kebaikan kepada musuh akan “menumpukkan bara api di atas kepalanya”.

Ketika Nelson Mandela memegang jabatan sebagai presiden Afrika Selatan, ia menunjuk sebuah komisi untuk menghukum orang-orang yang telah melakukan tindak kekejaman selama berlangsungnya politik apartheid. Setiap pejabat kulit putih yang dengan sukarela menemui pendakwa dan mengakui kesalahannya tidak akan dihukum.

Suatu hari seorang wanita tua dipertemukan secara langsung dengan pejabat yang telah secara brutal membunuh anak laki-laki satu-satunya dan suami yang sangat dikasihi. Ketika ditanya apa yang ingin ia lakukan terhadap pejabat itu, ia menjawab, “Meskipun saya tidak memiliki keluarga, saya masih memiliki banyak cinta untuk diberikan.” Ia kemudian meminta pejabat itu untuk me-ngunjunginya secara teratur supaya wanita itu bisa memperlakukannya dengan penuh kasih. Kemudian ia berkata, “Saya ingin memeluknya supaya ia tahu bahwa pengampunan saya itu nyata.”

Yancey menulis bahwa ketika wanita tua itu menuju tempat saksi, pejabat itu merasa sangat malu dan menyesal sampai ia pingsan. Kepedihan yang ditusukkan wanita itu bukanlah balas dendam yang penuh dosa, melainkan api pemurnian cinta, yang dikaruniakan Allah yang dapat memunculkan penyesalan dan rekonsiliasi. Itulah balas dendam penebusan -HVL

1 Desember 2005

Waktu Saya Takut

Nats : Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (Mazmur 56:4)
Bacaan : Mazmur 56

Saat dikejar Saul, Daud kabur dari rumah imam di Nob. Ia sampai ke Gat, tempat musuh-musuhnya tinggal. Di sana ia langsung dikenali dan dibawa ke hadapan Raja Akhis.

Berbagai kisah dan lagu merayakan kemasyhuran Daud. Ia telah membinasakan ribuan orang Filistin (1 Samuel 21:11). Kemasyhuran itu dicapainya dengan mengorbankan para wanita dan anak-anak Filistin yang kehilangan suami dan ayah mereka. Karena itu, ini adalah kesempatan bagi orang Filistin untuk membalas dendam.

Daud kehilangan keberaniannya. Di dalam ketakutan yang dalam, ia pura-pura “sakit ingatan …, menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya” (ayat 13). Akhis mengusirnya dengan pandangan rendah, “Patutkah orang yang demikian masuk ke rumahku?” (ayat 15). Dengan hati hancur dan merasa sangat terhina, Daud melarikan diri ke Adulam di Yudea. Di dekat situ terdapat sebuah bukit dengan banyak gua. Ia merangkak masuk ke dalam salah satu gua itu-sendirian.

Ketika ia menjalani kesendirian di gua itu, pada titik terendah di hidupnya dan dikelilingi musuh-musuhnya, Daud mulai merenungkan kasih Allah yang lembut dan setia. “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu,” tulisnya (Mazmur 56:4). “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu” (ayat 9).

Mungkin saat ini Anda berada “di dalam sebuah gua”. Anda pun dapat berkata, “Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut” (ayat 12) -DHR

3 Desember 2005

Kembali ke Titik Awal

Nats : Adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali (Lukas 15:32)
Bacaan : Lukas 15:11-32

Dalam bukunya yang memesona, Orthodoxy, G.K. Chesterton bercerita bagaimana ia meninggalkan apa yang dianggapnya sebagai iman kristiani, tetapi di kemudian hari ia justru menemukan iman kristiani yang sejati. Untuk mengilustrasikan perjalanan rohaninya, Chesterton menguraikan situasi yang tidak masuk akal mengenai seseorang yang menancapkan bendera Kerajaan Inggris di sebuah pulau asing, namun kemudian menyadari bahwa tempat itu tak lain adalah pantai Inggris.

Dibesarkan di sebuah gereja yang tidak bertumbuh, Chesterton meninggalkan imannya yang dangkal. Namun kemudian ia mulai meragukan ide-ide ateis yang telah membuatnya tidak percaya. Lalu ia pun menemukan kebenaran yang dulu terabaikan olehnya. “Negara baru” itu tidak lain adalah rumahnya sendiri.

Yesus pernah bercerita tentang seorang pemuda yang mening-galkan rumah, namun kemudian ia menyadari bahwa ternyata rumahnya bernilai. Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, si bungsu meminta bagian dari harta bapanya. Ketika berkelana jauh dari rumah, ia terus berfoya-foya. Namun gaya hidupnya yang foya-foya itu justru menjeratnya, sehingga ia jatuh miskin. Akhirnya ia pulang dan mengaku dosa. Berbagai konsekuensi hidup yang menyakitkan telah memaksanya untuk kembali kepada seorang bapa yang penuh kasih.

Kerap kali kita pun merasakan kecenderungan untuk menyimpang dari Pribadi yang telah menebus kita. Bapa kita yang penuh kasih saat ini sedang memerhatikan dan menantikan kita kembali -HDF

22 April 2006

Tempat Asing

Nats : Berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu (Yunus 2:1)
Bacaan : Mazmur 40:2-9

Suatu hari ketika sedang melewati gudang, saya mendengar kicauan gelisah di dalam. Setelah mencari, saya mendapati seekor bluejay [jenis burung di Amerika Utara] yang sedang memukulmukulkan sayapnya ke kaca jendela. Jika burung itu tidak mengeluarkan jeritan melengking dan keluhan, saya tidak akan mendengarnya. Nada suaranya yang sedih mendorong saya untuk membuka pintu gudang lebar-lebar dan burung itu pun terbang ke luar menuju kebebasan.

Gudang itu merupakan tempat yang asing bagi burung bluejay; seperti Yunus mendapati dirinya berada di tempat yang asing bagi seorang manusia. Karena ketidaktaatannya, Yunus dibuang di laut, ditelan oleh seekor ikan besar, dan terjebak di dalam perut ikan itu. Meski itu karena kesalahan Yunus sendiri, Allah tetap hadir untuk mendengarkan doanya. Ketika Yunus mengakui kesalahannya, Allah membebaskannya dari perut ikan itu.

Kadang kala karena kebodohan mereka sendiri, anak-anak Allah sampai ke tempat-tempat yang asing dan keadaan yang menyedihkan. Apakah saat ini Anda sedang berada di tempat yang asing? Apakah Anda sedang tidak berada dalam persekutuan yang baik dengan Tuhan, merasa kalah, dan tidak bahagia? Berserulah kepada Allah, akui dosa Anda, maka Anda akan dipulihkan dengan belas kasihan-Nya yang berlimpah (1Yohanes 1:9). Allah sedang menanti untuk mendengar seruan lemah Anda dan menerima pertobatan Anda.

Mungkin kini Anda berada di tempat yang asing karena keputusan bodoh Anda sendiri -- tetapi Dia tetap menyertai Anda dan menanti seruan Anda. Jangan tunda lagi --MRD

3 Mei 2006

Perhatikanlah Peringatan

Nats : Semuanya ini ... dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita (1Korintus 10:11)
Bacaan : 1Korintus 10:1,5-11

Beberapa bulan setelah terjadi gelombang tsunami Asia yang sangat merusak di bulan Desember 2004, muncul sebuah kisah mengagumkan tentang penduduk Pulau Simuelue yang selamat. Pulau itu adalah daratan berpenduduk yang paling dekat dengan pusat gempa.

Sebuah berita melaporkan bahwa dari seluruh penduduk pulau terpencil Indonesia yang berjumlah 75.000 jiwa itu, hanya 7 orang yang meninggal ketika gelombang setinggi 9 meter melanda setengah jam setelah terjadi gempa bumi. Selama puluhan tahun, penduduk itu telah mendengar kisah yang diceritakan nenek moyang mereka tentang gelombang-gelombang raksasa yang telah membinasakan ribuan orang di pulau itu pada tahun 1907. Jadi, saat tanah berguncang dan air laut surut dari pantai, para penduduk teringat peringatan nenek moyang mereka dan melarikan diri ke dataran yang lebih tinggi.

Pasal 1Korintus 10 menggambarkan bencana rohani yang dapat kita hindari. Setelah rakyat Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka selalu berpaling dari Tuhan. Paulus mengutarakan lagi kelemahan mereka yang selalu terulang dan akibat-akibat yang mencelakakan mereka, dengan menulis: "Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita .... dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita" (ayat 6,11). Kegagalan mereka dicatat agar kita terhindar dari bencana yang akan terjadi bila kita tidak taat.

Apabila ada tanda-tanda yang memperingatkan hidup kita hari ini, itu berarti sudah saatnya kita lari meninggalkan dosa yang membinasakan diri kita, menuju tempat lebih tinggi, dan memperoleh berkat pengampunan Allah --DCM

27 Juni 2006

Virus

Nats : Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Korintus 10:5)
Bacaan : 2Korintus 10:3-6

Pada hari-hari tertentu, komputer membuat saya terbang seperti rajawali. Akan tetapi pada hari-hari yang lain, ia membuat saya berkubang di lumpur seperti kuda nil. Pada "hari-hari rajawali" saya bersyukur atas komputer saya. Namun, ada pula "hari-hari kuda nil" yang membuat saya menyesal telah membelinya.

Baru-baru ini saya harus bergumul dengan virus yang menyerang komputer saya. Hal yang paling menjengkelkan saya adalah karena virus diciptakan dengan niat jahat. Orang-orang pintar yang memiliki sisi gelap dalam hidup mereka ingin membuat orang lain menderita. Namun lebih parah lagi, virus itu masuk ke komputer saya karena saya membuka e-mail yang saya kira tidak berbahaya.

Dosa itu mirip virus komputer. Iblis ingin menghancurkan orang-orang kristiani dengan menodai pikiran mereka. Namun, Rasul Paulus mengimbau orang-orang percaya di Korintus untuk "menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2Korintus 10:5).

Sama seperti virus yang memasuki komputer kita, kita pun membiarkan kegelapan memasuki hidup apabila kita dengan ceroboh membuka diri terhadap pesan-pesan tidak baik yang menyusup ke dalam kebudayaan kita. Kewaspadaan kita lemah dan kita tidak menyadari dosa yang menodai pikiran kita.

Namun dengan mengaku dosa, membaca firman Allah, dan berdoa, kita membangun "dinding yang tahan api" atau penghalang untuk melindungi pikiran kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat menjaga pikiran agar tamu-tamu yang tidak diinginkan tidak masuk ke dalam diri kita --HWR

28 Juli 2006

Penghapus

Nats : Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehinga Ia akan meng-ampuni segala dosa kita (1Yohanes 1:9)
Bacaan : 1Yohanes 1:5-10

Sejak Joseph Dixon (1827-1869) mulai memproduksi pensil selama Perang Saudara Amerika Serikat, satu-satunya perubahan signifikan pada desainnya adalah adanya tambahan karet penghapus. Renungkan sejenak batang kayu kecil untuk menulis yang unik ini. Di sisi yang satu terdapat ujung yang runcing, keras, dan berwarna hitam. Di sisi satunya lagi terdapat karet penghapus kecil. Alat yang sederhana ini dapat dipakai untuk menulis, membuat sketsa, menghitung rumus-rumus yang rumit, atau membuat puisi yang indah. Namun pensil juga dapat dengan cepat mengoreksi suatu kesalahan, mengubah bilangan, atau memulai semuanya dari awal.

Setiap hari orang kristiani menorehkan perkataan dan perbuatannya pada catatan sejarah pribadinya. Namun tatkala berefleksi pada perkataan dan perbuatannya, ia menjadi sadar bahwa sebagian yang dituliskannya bukanlah sifat yang akan menyenangkan Sang Juru Selamat. Ia teringat pada sikap dan tindakan yang tidak seharusnya menjadi bagian dari kehidupan orang kristiani. Akan tetapi, dosa-dosa ini diampuni dan persekutuan dengan Allah diperbaiki melalui pengakuan yang jujur serta pertobatan.

Dalam surat 1Yohanes, ia memberitahukan cara hidup lurus serta menikmati persekutuan dengan Kristus dan orang lain. Namun, Yohanes adalah seorang realis, yang sadar bahwa sebagian dari catatan kehidupan kita akan ditandai dengan kekurangan dan kegagalan kita setiap hari. Itulah sebabnya 1Yohanes 1:9 merupakan suatu janji yang indah. Ayat ini menyatakan bahwa kita dapat memakai penghapus berupa pengakuan dan memulai kembali dari awal --DJD

8 Agustus 2006

Bangun dan Hiduplah

Nats : Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! (Wahyu 3:1)
Bacaan : Wahyu 3:1-6

Peristiwa tersebut telah terjadi lebih dari 30 tahun yang lalu, tetapi masih terasa menyakitkan. Saat saya sedang mengalami pemberontakan rohani, saya bertemu dengan seorang pemuda yang pernah saya perkenalkan kepada Kristus. Ia terkejut ketika mengetahui saya telah meninggalkan Tuhan dan bukan lagi orang yang dahulu dikenalnya. Hal itu merupakan salah satu pengalaman yang paling saya sesali, dan saya masih berdoa agar diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengannya.

Selama tahun-tahun pengembaraan itu, saya merasa seperti menjadi anggota jemaat pertama di Sardis (Wahyu 3:1-6). Seperti jemaat Sardis saat itu, dilema saya adalah orang-orang mengenal saya sebagai pribadi yang dahulu mereka kenal .

Tuhan yang telah bangkit menantang gereja di Sardis: "Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku" (Wahyu 3:1,2).

Reputasi mereka sebagai jemaat yang hidup tidak sesuai dengan kenyataan. Secara rohani mereka telah mati. Akan tetapi, masih ada harapan. Tuhan mengatakan kepada mereka untuk bangun dan mengipasi bunga api kehidupan rohani yang masih mereka miliki. "Turutilah itu dan bertobatlah!" kata-Nya memperingatkan mereka (ayat 3).

Berpura-pura menjadi pribadi yang lain adalah beban yang berat untuk dipikul. Tuhan memanggil kita untuk meletakkan beban itu, bertobat, kembali kepada-Nya, dan hidup -DCM

26 Agustus 2006

Persembahan Korban

Nats : Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang han-cur; hati yang patah dan re-muk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mazmur 51:19)
Bacaan : Mazmur 51

Dalam kesengsaraan yang dinyatakan di Mazmur 51, Daud tampaknya menyanggah dirinya sendiri. Ia berseru, "Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya" (ayat 18). Lalu tiga ayat kemudian, ia berkata, "Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya" (ayat 21). Sebenarnya, Allah menginginkan persembahan korban kita atau tidak?

Persembahan korban itu seperti bunga yang diberikan seorang suami kepada istrinya setelah pertengkaran yang seru. Si istri tidak memerlukan bunga. Bunga tersebut hanya berharga baginya apabila itu sungguh-sungguh mencerminkan perasaan suaminya. Apabila si istri berpendapat bahwa bunga itu hanya sekadar ritus dan tidak melambangkan penyesalan sang suami, bunga-bunga itu justru akan membuat perpecahan di antara mereka semakin buruk.

Allah tak memerlukan hewan untuk dipersembahkan kepada-Nya. Kitab Ibrani berkata, "Tidak mungkin darah lembu jantan atau darah kambing jantan menghapuskan dosa" (10:4). Korban itu menunjukkan penebusan yang dilakukan Yesus dengan darah-Nya sendiri, sekali untuk selamanya, ketika Dia mati demi dosa-dosa kita.

Sikap orang-orang yang mempersembahkan korban itulah yang sesungguhnya berarti. Apabila persembahan itu diberikan tanpa penyesalan, ritus itu merupakan penghinaan. Itulah sebabnya Daud menulis, "Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah" (Mazmur 51:19) -HWR

10 September 2006

Mengelola Hati

Nats : Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman (Matius 23:28)
Bacaan : Matius 23:23-31

Ketika masih menjadi ibu rumah tang-ga muda, saya sangat senang membersihkan rumah dari atas sampai bawah. Masalahnya adalah, kebersihan rumah itu ternyata tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya, saya mengerti bahwa jika saya menjaga agar rumah cukup rapi, maka rumah itu akan tampak bersih, walaupun sebenarnya tidak demikian adanya. Secara bertahap saya mengutamakan penampilan rumah yang rapi, tetapi saya tidak membersihkannya secara saksama. Kompromi ini tidak hanya menguntungkan, tetapi juga meyakinkan. Terkadang saya pun terkecoh. Namun pada hari yang cerah, rumah yang tampaknya bersih itu menjadi tampak apa adanya-berdebu dan kotor.

Pada zaman Yesus, para ahli Taurat dan orang Farisi berbuat munafik dengan menekankan agar tampil suci, namun mereka mengabaikan kesucian hati (Matius 23:25). Ketika cahaya Yesus menerangi mereka, Dia mengungkapkan kebenaran mengenai kehidupan religius jasmaniah mereka. Dia tidak menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan jasmaniah mereka salah, namun mereka sangat keliru karena menggunakan berbagai kegiatan tersebut untuk menutupi kejahatan. Bagi mereka, pembersihan bagian dalam sudah sangat terlambat.

Menjaga penampilan dalam pekerjaan rumah tangga tidaklah salah, tetapi berpura-pura bahwa kita memiliki hati yang bersih adalah keliru. Hanya orang-orang yang suci hatinya yang akan menyambut Yesus dengan percaya diri ketika Dia datang. Apakah hati Anda siap? Ataukah hati Anda perlu dibersihkan? Sekaranglah saatnya Anda memerhatikan hal itu! -JEY

21 September 2006

Yang Baik dan yang Buruk

Nats : TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan (Nahum 1:7)
Bacaan : Nahum 1

Niniwe memiliki masalah dengan Allah. Masalah besar! Meskipun Nabi Yunus yang pada mulanya merasa enggan, telah bekerja dengan baik, Niniwe kembali ke jalannya yang jahat. Penduduk Niniwe me-nindas negeri-negeri lain, menyembah berhala, dan melakukan berbagai tindakan jahat.

Allah melihat kejahatan ini, dan melalui kata-kata yang diucapkan Nahum, Dia bersabda tentang kehancuran Niniwe di masa depan, dengan menggunakan kata-kata seperti kemurkaan dan pembalasan. Niniwe akan segera menghadapi pengadilan.

Mengapa nabi Allah memberi tahu umat Yudea tentang hal ini? Mampukah kata-kata Nahum yang menakutkan itu membantu mereka yang tinggal di Tanah Perjanjian?

Dalam Nahum 1:7,8 terdapat petunjuk untuk menjawab semua pertanyaan tersebut. Nubuatnya tentang penghancuran bagi orang yang menolak Allah, sangat bertentangan dengan janji Allah kepada "yang percaya kepada-Nya". Orang-orang saleh tidak akan menghadapi pengadilan, namun akan diselamatkan. Mereka dapat berlindung kepada-Nya.

Allah bukanlah Allah yang tidak adil. Dia menyediakan perlindungan, pertolongan, dan penghiburan bagi mereka yang percaya kepada-Nya, tetapi Dia juga mengirimkan penghakiman terhadap mereka yang tidak menaati perintah-Nya.

Pesan yang disampaikan untuk kita sama seperti pesan yang diberikan kepada Yudea. Apabila kita percaya dan taat, kita dapat menikmati penghiburan dalam perlindungan Allah-bahkan dalam masa yang sulit -JDB

28 Desember 2006

Mewaspadai Dosa Terakhir

Nats : Berkatalah Daud kepada Allah: "Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini" (1 Tawarikh 21:8)
Bacaan : 1 Tawarikh 21:1-13

Rasul Paulus mengatakan bahwa kita harus "menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani" (2 Korintus 7:1). Meskipun menurut orang-orang yang berada di sekeliling kita, kita sepertinya menjalani hidup yang bersih dan bermoral, tetapi di dalam roh, kita barangkali masih memiliki sikap yang membuat Tuhan berduka. Karena dosa rohani tidak tampak oleh mata, tetapi tersembunyi di dalam hati, maka kita cenderung mengabaikannya sampai dosa tersebut menimbulkan kejahatan nyata yang mengungkapkan keberadaannya.

Kehidupan Raja Daud menggambarkan kedua aspek dosa ini. Nafsunya terhadap Batsyeba membuatnya melakukan perzinaan dan pembunuhan (2 Samuel 11,12; Mazmur 32:5), sehingga menyebabkan penderitaan yang hebat bagi hidupnya sendiri serta celaan terhadap bangsa Israel. Kemudian, di usia senjanya, ia takluk kepada godaan Setan untuk mengadakan sensus (1 Tawarikh 21:1-6). Tindakan yang tampaknya tidak mengandung dosa apa pun ini ternyata telah membuat Allah berduka (ayat 7,8) karena Daud menyombongkan kekuatan militernya. Ia jelas-jelas telah menyeleweng dari ketaatan total kepada Allah, yang secara ajaib sudah kerap kali menyelamatkan dirinya, untuk kemudian memercayai kekuasaan dan kekuatan dirinya sendiri.

Dari luar, mungkin bagi orang lain sepertinya kita memenangkan peperangan melawan dosa. Namun, kita harus senantiasa waspada terhadap dosa roh, khususnya kesombongan. Dosa ini bisa menyebabkan kita tersandung dan jatuh, bahkan di akhir perjalanan hidup --DJD

21 Februari 2007

Saling Menyalahkan

Nats : Manusia itu menjawab, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan" (Kej. 3:12)
Bacaan : Kejadian 3:1-13

Seorang pegawai di Lodi, Kalifornia, menuntut kota itu atas kerusakan yang terjadi setelah ia memundurkan truk sampah, sehingga menabrak mobilnya sendiri yang sedang diparkir. Pria berusia 51 tahun itu beralasan, "Kendaraan milik kota merusak kendaraan pribadi saya," jadi kota itu berutang padanya 3.600 dolar [kira-kira Rp36.000.000,00]. Walau terde-ngar konyol, menyalahkan orang lain telah menjadi sifat dasar manusia sejak awal.

Ketika Adam dan Hawa makan buah dari pohon terlarang, mata mereka terbuka dan kepolosan mereka pun sirna. Allah mengajukan pertanyaan yang sederhana tetapi tajam kepada Adam, "Di manakah engkau?" (Kej. 3:9). Sebelumnya, Adam memiliki persekutuan yang erat dengan Allah, tetapi sekarang ia menjawabnya dengan takut dan bersembunyi.

Pertanyaan Allah selanjutnya lebih tegas daripada yang pertama, "Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" (ay. 11). Lalu, permainan saling menyalahkan dimulai, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan" (ay. 12). Adam menyalahkan Allah dan perempuan itu atas dosa yang dilakukannya. Si perempuan menyalahkan ular, bukan menyalahkan dirinya sendiri. Sejak hari itu di Taman Eden, kita cenderung menyalahkan orang lain daripada diri kita atas pilihan kita yang penuh dosa.

Bila kita berbuat dosa, kita harus mempertanggungjawabkan-nya. Mari kita berdoa seperti Daud, "Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan" (Mzm. 32:5) --MW

Tuhan, janganlah aku berdalih atas dosaku
Dan malah mempersalahkan orang lain;
Karena kalau tak kuakui kesalahanku,
Dosa justru akan bertambah merusak batin. --Sper

12 Maret 2007

Rubah yang Mengganggu

Nats : Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita (1Yoh. 1:8)
Bacaan : 1 Yohanes 1:5-10

Orang Inggris memiliki masalah dengan rubah. Menurut The Wall Street Journal, makhluk kecil yang lihai ini telah bergerak masuk ke London dan mengganggu. Rubah-rubah ini menggulingkan tempat sampah, mencuri sepatu-sepatu yang sedang dikeringkan di luar, merusak kebun, dan meninggalkan bau busuk. Dengan digesernya batas kota sampai ke luar kota, si kecil pembuat kekacauan ini malah beradaptasi, bukannya ikut pindah sehingga banyak penduduk London merasa frustrasi dan terganggu.

Bila Anda renungkan sejenak tentang hal ini, maka Anda akan menjumpai "rubah-rubah" kecil yang bisa sangat mengganggu para pengikut Kristus yang tengah berusaha menghormati-Nya. Sesuatu yang kita anggap sebagai dosa "kecil" atau "tak berbahaya" dapat menghancurkan kita. Sebagai contoh, "melebih-lebihkan kebenaran" sebenarnya sama dengan berbohong. Gosip sama halnya dengan pembunuhan karakter. Masalahnya, dosa-dosa kecil itu akan berkembang semakin besar tak terelakkan. Sebelum mendapatinya, kita perlu bertobat dan mengaku dosa secara serius.

Jika sebagian "rubah kecil" telah menyusup ke halaman belakang dan kebun kehidupan rohani Anda, maka sekaranglah saatnya untuk menghadapi mereka. Dengan pertolongan Roh Kudus, temukan mereka. Akuilah kesalahan Anda, akuilah praktik-praktik kecil yang mengganggu ini kepada Allah, dan singkirkan semua itu sebelum menghancurkan seluruh kehidupan Anda --DCE

Cabutlah akar kecil hari ini,
Dosa dalam pikiranmu,
Agar jangan suatu saat nanti
Ia menguasai hidupmu. --Anon.

9 Mei 2007

Kebenaran tentang Dosa

Nats : Daud telah melakukan apa yang benar di mata Tuhan ... kecuali dalam perkara Uria, orang Het itu (1Raja 15:5)
Bacaan : 1Raja 15:1-5,11

Salah satu masalah yang dihadapi oleh penulis adalah tantangan untuk menuliskan kejahatan secara jujur. Pada saat menulis, saya ingin orang-orang baik selalu menjadi orang baik. Namun, bahkan orang-orang paling saleh pun dapat berbuat salah. Jadi untuk dapat dipercaya, para penulis harus bersikap jujur untuk menuliskan kejahatan yang tersembunyi dalam diri orang-orang baik.

Satu alasan yang membuat saya meyakini bahwa Kitab Suci itu benar adalah bahwa Sang Penulis tidak menutup-nutupi kekurangan umat pilihan-Nya. Allah bersikap jujur terhadap kegagalan orang-orang yang telah dipilih-Nya sendiri sebagai pemimpin umat-Nya. Dia tidak memaklumi perilaku buruk mereka, meminimalkan kegagalan mereka, atau menganggapnya tidak ada. Dia mengungkapkan kesalahan mereka, menghakiminya, menjatuhkan konsekuensinya, dan mengampuninya.

Contoh yang paling menonjol dalam Kitab Suci adalah Raja Daud. Ia tidak hanya merebut istri orang lain, tetapi ia juga membunuh sang suami untuk menutupi perselingkuhannya. Walaupun telah melakukan perbuatan tercela, ketika ia ditegur, Daud bertobat. Ia menjadi standar bagaimana raja-raja Israel berikutnya akan dihakimi karena hatinya "berpaut kepada Tuhan, Allahnya" (1Raja 15:3,11).

Allah mengetahui isi hati semua orang, dan Dia tidak pilih kasih. Walaupun kebenaran mengenai dosa terasa menyakitkan, jika diakui dan diampuni, semua itu dapat dipakai untuk kembali mendekatkan hati kita kepada Allah --JAL


Mustahil menyembunyikan dosa dari Allah,
Dia tahu segenap isi hatimu;
Pengakuan adalah jalan terindah
Untuk menapaki langkah baru. --Sper

16 Juli 2007

Membuang Sampah

Nats : Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita (Mazmur103:12)
Bacaan : Mazmur 103

Istri saya harus mengingatkan saya untuk membawa sampah ke luar rumah sesuai jadwal hari pemungutan sampah. Ini bukan pekerjaan yang saya sukai, tetapi saya bertekad menyelesaikannya. Maka, saya melakukannya. Setelah sampah itu berada di luar rumah, saya merasa lega, dan saya melupakan pekerjaan itu sampai minggu berikutnya.

Kita memerlukan truk untuk mengangkut sampah yang sudah menimbun di rumah. Mirip dengan hal itu, kita juga perlu mengizinkan Yesus mengambil "sampah" yang tak terelakkan sudah tertimbun di dalam hati kita. Apabila kita lupa membawa "sampah" tersebut ke luar, maka rumah kita akan menjadi tampak kotor. Yesus ingin agar kita rutin membuang sampah dosa kita di kaki salib. Dia telah berjanji untuk membuang dan melupakannya.

Akan tetapi, tunggu sebentar! Apakah kita mengaduk-aduk isi tempat sampah itu lagi, dan berusaha mencari hal-hal yang belum siap kita buang? Misalnya, kebiasaan penuh dosa yang tak ingin kita tinggalkan, khayalan yang masih ingin kita pertahankan, dendam yang masih ingin kita nyalakan? Mengapa kita masih ingin mempertahankan sampah itu?

Tindakan "membuang sampah" dimulai dengan mengakuinya, kemudian menyerahkannya kepada Yesus supaya dibuang. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1Yohanes 1:9).

Hari ini adalah jadwal pemungutan sampah. Keluarkan dan tinggalkanlah sampah dosa Anda di luar sana! --JMS

15 Agustus 2007

Reformasi

Nats : Sesudah itu berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan Tuhan.... Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu (2Raja 23:3)
Bacaan : 2Raja 22:11-23:3

Pada bulan Mei 2001, seorang penginjil Inggris yang bernama J. John berbicara di Liverpool, Inggris, mengenai perintah Allah yang kedelapan: "Jangan mencuri" (Keluaran 20:15; Ulangan 5:19). Hasil khotbahnya begitu dramatis.

Ada banyak hati orang yang diubahkan. Seorang penulis melaporkan bahwa sejumlah barang curian dikembalikan. Barang-barang curian yang dikembalikan itu termasuk handuk hotel, kruk milik rumah sakit, buku perpustakaan, uang, dan masih banyak lagi. Bahkan, seorang laki-laki, yang sekarang berkutat dalam pelayanan, mengembalikan handuk yang diambilnya dari kejuaraan tenis Wimbledon bertahun-tahun lalu ketika ia bekerja di sana.

Peristiwa yang hampir sama juga terjadi pada saat pemerintahan Raja Yosia yang sudah berlangsung selama 18 tahun. Karena terlalu lama diperintah oleh raja-raja yang jahat, catatan hukum Allah pun hilang. Jadi, ketika Hilkia menemukan hukum Allah dan Safan membacakannya untuk Raja Yosia, raja mengoyakkan pakaiannya dalam dukacita kemudian segera membuat reformasi rohani dalam hidupnya sendiri dan seluruh negeri. Hanya dengan satu pembacaan firman Allah, ia mengubah jalan negeri itu (2 Raja-raja 22:8-23:25).

Saat ini, sebagian besar dari kita memiliki Alkitab, tetapi apakah kita diubahkan oleh kebenaran yang tercatat di dalamnya? Kita dipanggil untuk membaca, mendengar, dan menaati firman-Nya. Firman itu akan membuat kita seperti Yosia, yaitu segera mengambil tindakan untuk membawa hidup kita ke dalam harmoni sesuai dengan kehendak Allah --MLW

18 Agustus 2007

Pohon Vs Beruang

Nats : Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya ... tetapi umat-Ku tidak mengetahui hukum Tuhan (Yeremia 8:7)
Bacaan : Yeremia 8:4-12

Kita sangat jarang menemukan seorang polisi yang harus menghentikan percekcokan yang terjadi antara seekor beruang dan sebatang pohon. Perkelahian itu berawal dari ejekan dan tabrakan yang tidak disengaja. Tiba-tiba beruang itu berbicara! Kemudian, sekarang gantian pohon yang bicara! Tidak lama kemudian, orang berkostum beruang bergumul dengan orang berkostum pohon. Polisi harus melerai mereka berdua. Dua maskot dari Stanford serta University of California itu berhenti menghibur dan mereka mulai berkelahi.

Beruang dan pohon tidak diciptakan untuk berkelahi. Begitu juga kita. Namun, di sepanjang sejarah, manusia yang diciptakan supaya saling mengasihi dan melayani sudah terlalu sering saling menyakiti.

Yang luar biasa, menurut Nabi Yeremia, adalah bahwa meskipun semua orang mengerti hukum Allah, mereka tetap bisa saling melukai tanpa penyesalan. "Tidak ada yang menyesal karena kejahatannya," katanya (8:6). "Mereka sama sekali tidak merasa malu" (ayat 12). Yeremia juga menggambarkan keheranan Allah bahwa makhluk yang paling liar sekalipun dapat mencerminkan hikmat melebihi mereka yang mengatakan "damai, damai" tetapi melakukan kejahatan (ayat 7,11)

Pribadi yang merancang burung untuk bermigrasi menurut perintah-Nya (ayat 7) tak hanya meminta kita untuk menaruh perhatian atas kesalahan kita. Dia menawarkan untuk mengisi kekosongan diri kita dengan kepenuhan akan diri-Nya. Pilihannya sangat menarik: anugerah menggantikan kepahitan, hikmat menggantikan kebodohan, damai menggantikan perselisihan --MRD II

23 November 2007

Penipu

Nats : Hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh (Yakobus 5:16)
Bacaan : Kejadian 27:19-33

Ketika seorang pelayan di Ohio menanyakan SIM seorang pelanggan, ia sangat terkejut saat melihat foto di kartu tersebut. Itu adalah fotonya sendiri! Pelayan itu telah kehilangan kartu identitasnya sebulan sebelumnya, dan wanita muda tadi menggunakannya supaya punya "bukti" bahwa ia sudah cukup umur untuk minum alkohol. Pelayan itu memanggil polisi dan si pelanggan ditangkap atas tuduhan pencurian kartu identitas. Karena berusaha untuk mendapatkan keinginannya, wanita muda itu berpura-pura menjadi orang yang bukan dirinya.

Yakub, dalam Perjanjian Lama, juga berpura-pura. Dengan bantuan ibunya, Ribka, ia menipu ayahnya yang hampir meninggal supaya mengira ia adalah kakaknya, yaitu Esau, sehingga ia bisa mendapatkan berkat anak sulung (Kejadian 27). Usaha penipuan Yakub terbongkar, tetapi Esau sudah terlambat untuk menerima berkat tersebut.

Kini kepura-puraan juga kerap kali terjadi di gereja. Beberapa orang menunjukkan penampilan yang palsu. Mereka menggunakan kata-kata "kristiani," pergi ke gereja hampir setiap Minggu, dan bahkan berdoa sebelum makan. Mereka berpura-pura "melakukan semuanya itu" hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Namun di dalam hati, mereka bergumul dengan kehancuran, rasa bersalah, keraguan, kecanduan, atau dosa lain yang tidak bisa dilepaskan.

Allah menempatkan kita di antara sekumpulan orang percaya supaya saling menguatkan. Terimalah kenyataan bahwa Anda tidak sempurna. Kemudian, mintalah nasihat kepada saudara yang saleh dalam Kristus --AMC

8 Desember 2007

Apakah Kita Menjual Habis?

Nats : Jagalah supaya jangan ada seorang pun .... Janganlah ada orang yang ... mempunyai nafsu rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan (Ibrani 12:15,16)
Bacaan : Ibrani 12:12-17

Apakah kita "menjual habis" seperti yang dilakukan oleh Esau? (Ibrani 12:16). Apakah godaan kekayaan, kekuasaan, gengsi, kedudukan, keamanan, gaya, atau pengakuan dan pujian dari orang lain membuat kita menukarkan kekayaan Allah dengan sepiring makanan?

Esau berusaha mengubah pikiran ayahnya dan memperoleh warisan yang telah direnggut darinya karena ia meremehkan hak kesulungannya, tetapi ia tidak bisa lagi memperbaiki keadaan yang telah dirusaknya. Ia harus hidup dengan keputusan yang diambilnya. Kita juga tidak dapat memutar waktu dan memperbaiki kesalahan yang kita lakukan kepada diri kita sendiri atau kepada orang lain.

Meskipun masa lalu tidak dapat diulang kembali, ada hari baru di hadapan kita, yang dipenuhi berbagai kesempatan dan harapan baru. Allah tidak akan mengubah masa lalu kita, tetapi bila kita bertobat, Dia dapat dan bersedia mengampuni kita serta menaruh kita di jalan yang baru.

Tuhan dapat memberi kita berbagai kesempatan untuk menunjukkan betapa kita sungguh-sunguh menyesali keputusan masa lampau, dan betapa kita ingin melayani-Nya dalam berbagai keputusan kita di hari-hari mendatang. Dia tidak akan pernah mengungkit perbuatan-perbuatan kita yang mempermalukan orang lain dan kita sendiri; perbuatan-perbuatan itu sudah diampuni dan dilupakan untuk selama-lamanya.

Allah akan memberi kita tempat untuk memulai lagi -- untuk mengasihi, melayani, menyentuh orang lain secara mendalam dan kekal bagi-Nya. Ini menunjukkan kebesaran kasih pengampunan Bapa di surga bagi kita -- DHR

4 Februari 2008

Awas Serigala!

Nats : Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan (Efesus 4:31)
Bacaan : Efesus 4:17-32

Seorang pemuda Indian bertanya kepada kakeknya, mengapa dirinya begitu gampang tersinggung dan cepat marah. Ia ingin tahu cara mengubah perangainya. Sang kakek bercerita bahwa dalam diri manusia ada "dua serigala". Serigala yang satu selalu berpikiran negatif, mudah marah, dan suka berprasangka buruk. Adapun serigala yang lain selalu berpikiran positif, baik hati, dan suka hidup damai. Setiap hari kedua serigala ini berkelahi. "Lalu serigala mana yang menang?" tanya si pemuda. "Serigala yang setiap hari kamu beri makan."

Dalam diri kita ada sisi baik dan sisi buruk. Sisi mana yang kemudian menjadi dominan sangat ditentukan oleh makanan rohani yang kita makan. Baik makanan rohani itu berasal dari pola asuh dan lingkungan kita, maupun makanan rohani yang kita sendiri upayakan.

Sebagai manusia baru di dalam Tuhan, kita perlu terus-menerus membuang segala sifat buruk; dengki, iri hati, prasangka, dan lain-lain. Sebaliknya kita harus terus memupuk segala sifat baik; sabar, suka berdamai dengan kenyataan, menyebar kasih dan kebaikan. Dengan semakin banyak memupuk sisi baik, lama-lama sisi buruk kita akan tenggelam.

Bagaimana kita dapat mengendalikan dua sisi itu? Bagaimana kita dapat memberi makan "serigala" yang baik? Dengan evaluasi dan introspeksi diri. Dengan kemauan untuk belajar. Dan terutama, dengan menekuni firman Tuhan. Hanya dengan cara itulah, kita dapat mengikis sisi-sisi buruk kita. Membuatnya tidak dominan, apalagi menguasai kita. Sekaligus menyuburkan sisi-sisi baik kita --AYA

13 Februari 2008

Cinta Marlin

Nats : Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya (Mazmur 139:16)
Bacaan : Mazmur 139

Marlin dan Coral, sepasang ikan badut, sedang menanti telur-telur mereka menetas. Mereka asyik membicarakan nama anak-anak mereka nanti. Mereka juga mengenang masa indah pertemuan mereka dulu. Namun, rupanya bahaya mengintai mereka. Seekor barakuda berkelebat dan menerjang sarang mereka! Akibatnya, Marlin kehilangan Coral dan seluruh telur mereka. Seluruhnya? Oh, ternyata masih tertinggal satu butir! Dengan penuh sayang Marlin melindungi telur itu, dan bertekad untuk selalu melindunginya. Nemo, nama ikan dari telur yang tersisa itu, sudah dicintai ayahnya, bahkan sebelum ia menetas.

Cinta Marlin dalam film Finding Nemo mengingatkan kita akan kasih ilahi. Namun kasih-Nya jauh lebih besar! Mari kita perhatikan. Manusia baru bisa menyambut bahagia seorang anak saat mereka tahu ada janin yang hadir dalam kandungan seorang wanita. Namun sungguh luar biasa Allah. Dia telah mencintai kita bahkan sebelum kita hadir di rahim ibu kita (ayat 13)!

Selanjutnya, orang mungkin menyukai kita karena berwajah cantik atau tampan, berdompet tebal, berbakat mengagumkan, berkedudukan tinggi, atau berjasa baik. Dengan kata lain, kita dicintai karena kinerja atau kebaikan kita. Namun, Allah mengasihi kita jauh sebelum kita mampu melakukan sesuatu bagi Dia (ayat 16). Allah bahkan tetap mengasihi sekalipun kita kerap memberontak kepada-Nya, karena Dia telah memutuskan untuk mengasihi kita.

Hari ini, sejak kita bangun di pagi hari, kasih Allah sudah menyambut kita. Mari kita menghambur ke dalam pelukan-Nya dan mengucap syukur! -- ARS

26 Februari 2008

E-mail Buat Marlena

Nats : Lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria (Lukas 17:16)
Bacaan : Lukas 17:11-19

Liviu Lebrescu, adalah profesor matematika dari Virginia Tech yang terkenal lewat riset aeronotikanya. Pada bulan April 2007, ia tewas mengenaskan dalam tragedi penembakan di kampusnya. Namun, dalam peristiwa itu Librescu menyelamatkan para mahasiswanya dengan menghadang si penembak di depan pintu ruang kuliah, dan menyuruh para mahasiswa menyelamatkan diri melalui jendela. Setelah kematiannya, sebagian mahasiswa yang selamat mengirim e-mail kepada Marlena, istri Lebrescu, untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka. Namun, hanya beberapa. Banyak yang lain tak berbuat apa-apa.

Ada sepuluh orang kusta. Mereka terbuang dari lingkungannya, dan harus berteriak, "Najis, najis!" bila berpapasan dengan orang lain. Ketika bersua dengan Yesus, Dia menyembuhkan mereka. Namun, hanya seorang yang kembali untuk memuliakan Allah. Itu pun seorang Samaria yang dianggap fasik oleh orang Yahudi pada zamannya. Mengapa ia bersungkur di bawah kaki Yesus dan memuliakan Allah? Karena ia sungguh sadar bahwa mukjizat itu ia alami semata karena kemurahan Allah.

Dengan kembalinya orang Samaria ini untuk mengakui kemurahan Allah, ia menerima mukjizat ganda! Mukjizat pertama ialah kesembuhan tubuh jasmaninya. Mukjizat kedua ialah keselamatan jiwa karena imannya kepada Yesus (ayat 19). Yesus juga sudah mati untuk kita. Dia tak menghendaki seorang pun binasa (1Timotius 2:3,4). Mari kita datang bersyukur di hadapan-Nya; sebab dengan begitu murah hati Dia telah memberikan keselamatan dan setiap kebutuhan kita yang terdalam! --SST

19 Juni 2008

Blessing In Disguise

Nats : Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya (1 Raja-raja 17:15)
Bacaan : 1 Raja-raja 17:7-24

Suatu malam, seorang wanita kulit hitam setengah baya bertahan di tepi jalan tol Alabama dalam guyuran hujan. Mobilnya mogok. Ia berusaha mencari tumpangan. Beruntung seorang pemuda bule berhenti dan membawanya ke pangkalan taksi. Walau tergesa, wanita tadi tak lupa menanyakan alamat si pemuda.

Tujuh hari kemudian, si pemuda mendapat kiriman televisi berwarna besar yang sangat mahal, dengan catatan: "Terima kasih telah menolong saya di jalan tol malam itu. Hujan tak hanya membasahi baju saya, tetapi juga jiwa saya. Untung Anda datang. Jadi, saya masih sempat hadir di sisi suami saya yang sekarat ... hingga wafat. Tuhan memberkati Anda karena tidak mementingkan diri sendiri"—Tertanda: Ny. Nat King Cole (istri penyanyi jazz terkenal tahun 1960-an).

Walaupun kecil, karya kemanusiaan tetaplah menggetarkan hati. Sang janda Sarfat hidup hanya bersama anak perempuannya, di zaman yang sulit karena kemarau panjang dan bencana kelaparan. Ia hanya memiliki sedikit minyak dan segenggam tepung yang tinggal sekali dimasak (ayat 12). Namun karena memercayai Allah, ia mau menolong Elia yang kesulitan. Allah pun memberkati tepung dan minyaknya hingga bencana kelaparan berlalu. Dan bukan cuma berkat jasmani! Ketika putri tunggalnya mati, Tuhan, melalui Elia, membangkitkannya (ayat 22).

Tuhan dapat memakai siapa pun untuk memberkati —- seperti janda miskin di Sarfat yang menjadi saluran berkat bagi Elia. Dan, Tuhan menyediakan berkat tersembunyi bagi setiap hati yang tersentuh akan derita sesamanya. Anda rindu dipakai menjadi jalan berkat-Nya bagi sesama yang membutuhkan? Bertindaklah! —SST

18 Agustus 2008

Dukung Pemimpin Kita

Nats : "Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!" Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi (Keluaran 32:26)
Bacaan : Keluaran 32:21-35

Dalam perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008 lalu, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, secara khusus menciptakan sebuah lagu penyemangat. Judulnya "Majulah Negeriku". Sebuah lagu yang mengajak seluruh komponen bangsa untuk bangkit dan berjuang, bersama mengubah masa depan, demi kesejahteraan anak cucu. Sebuah lagu yang sarat keyakinan, bahwa Indonesia bisa bangkit menjadi negara yang makmur! Sebuah semangat dan kerinduan seorang pemimpin, yang hanya bisa terwujud jika didukung dan dilaksanakan bersama-sama oleh seluruh bangsa.

Musa, sebagai pemimpin yang ditunjuk oleh Allah untuk membawa Israel keluar dari Mesir, suatu kali merasa sangat sedih sekaligus marah. Betapa tidak? Bangsa yang dipimpinnya tidak mendukung apa yang ia perjuangkan di hadapan Allah Yang Mahabesar. Mereka malah membuat anak lembu tuangan untuk disembah. Ini sangat mendukakan Allah. Setelah kejadian itu, Musa menantang Israel untuk menentukan sikap; hendak mendukung Musa dan tetap menyembah Allah, atau tidak (ayat 26). Ya, sebagai pemimpin, Musa membutuhkan dukungan penuh dari bangsa yang dipimpinnya. Hanya dengan begitu ia akan mampu menjalankan fungsi kepemimpinanya dengan maksimal, sehingga dapat membawa bangsanya mencapai tujuan, yaitu tanah yang Tuhan janjikan.

Demi kebangkitan bangsa Indonesia tercinta, kita pun perlu mendukung penuh perjuangan para pemimpin kita; entah melalui doa, atau pun usaha-usaha sesuai peran dan kemampuan kita masing-masing. Jauhkan dari pada kita segala sikap yang akan menyusahkan serta menghambat jerih dan juang para pemimpin kita -AW



TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA